5 Hal yang Bikin Nggak Jadi Resign

“Kalau gini terus, lama-lama gue resign juga nih!”

Siapapun yang pernah kerja di perusahaan pasti pernah mendengar kalimat macam ini. Saking seringnya didengar, soalnya ternyata yang mengucapkan kalimat adalah orang yang sama, selama 35 tahun, dan sebenarnya ya dia nggak resign-resign. Memang pada umumnya orang yang kebanyakan berkoar inilah yang nggak resign-resign nantinya.

images (8)

Begitulah kelakuan karyawan. Sudah susah-susah apply, kemudian ujungnya resign juga.

Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Ber-apply-apply dahulu
Lalu resign kemudian

Eh tapi resign ya nggak semudah itu juga. Kayak saya ini, walaupun disenggol sama beberapa PMA, tapi ya masih teguh kukuh berlapis baja untuk bertahan pada panji-panji yang sama (waktu itu). Ada banyak pemikiran yang kemudian menyebabkan munculnya pernyataan di awal tulisan ini. Berikut lima diantaranya.

1. Nggak Dapat Company yang Cocok Tempatnya

Kayak saya nih, waktu di Palembang, pabrik yang bergerak di bidang itu ya cuma satu itu. Kalau udah kebetulan menetap disana, sudah KPR rumah, sudah ini dan itu, mau pindah kemana lagi dong? Namanya pekerjaan dengan ilmu spesifik apalagi. Jadilah kadang ada orang sarjananya Apoteker, kerjanya di Bank. Sarjananya Enjinir, kerjanya di Bank. Kalaupun jadi pindah, ya harus mempertimbangkan aneka faktor termasuk KPR rumah lagi, cari rumah lagi, hingga cari istri lagi.

images (9)

Dan ada teman juga yang sudah nyariiiiisss banget pindah, dan baru ngeh kalau kantor pusatnya ada di tengah kota Jakarta. Mengingat macet sudah begitu menggila, maka yang nyaris tadi berubah menjadi nggak jadi. Pada dasarnya tempat memang sangat krusial.

2. Merasa Akan Sama Saja di Company Berikutnya

Kadang sudah interview, sudah ditanya-tanya, sudah akan oke. Tapi kok perasaan bilang lain ya. Ini yang disebut intuisi. Ada nih teman sudah interview dan pengen pindah karena di tempat lama isinya lembur melulu. Begitu interview, ketahuan kalau bakalan lembur juga.

Jadi ya sudah. Nggak resign deh. Tetap saja lembur di tempat yang lama dengan segala kepastian indahnya jadi karyawan tetap.

3. Apply-an Nggak Ada yang Tembus

Ini nasib. Sudah berencana pengen resign, lalu masukin apply-an kemana-mana, dan pada akhirnya.. nggak ada yang manggil.

images (10)

Daripada jadi pengangguran, ya sudah deh, resign-nya kapan-kapan aja.

4. Dapat Pacar di Company Sekarang

Satu hal yang bisa mempertahankan keadaan adalah ketika tiba-tiba dapat pacar di lokasi yang nggak enak sekarang. Bermula dari pengen resign, akhirnya lupa kalau pernah pengen resign. Ya kurang enak apa kalau sekantor sama pacar? Bisa berkasih-kasihan dengan indah dibawah naungan owner. Misalnya, memadu kasih bisa dilakukan di dalam gudang, di atas pallet pada level ke-7.

images (11)

Resign-nya ntar aja kalau salah satu diantaranya nikah. Atau kalau memang tidak ada peraturan company yang melarang nikah sesama, ya terusin aja. Kapan lagi bisa sekantor sama laki atau bini, sementara jutaan orang lain LDR?

5. Sukses Dirayu Petinggi

“Kamu yakin? Saya bisa naikkan gaji kamu loh.”

Awalnya begitu. Maka kemudian keyakinan tinggi berlapis emas ketika maju ke bos bilang resign, kandas seketika. Apalagi kalau kemudian gajinya sebelas dua belas juga. Yah akhirnya bilang ke calon Company baru. Nggak jadi ya. Huiks. Tapi kalau yang begini nggak akan berlaku buat yang resign jadi PNS. Company juga bingung mau nawarin apa. Nggak akan tega juga nawarin gaji 1,7 juta, dari aslinya 8 juta. Simpel to?

Jrenggggggg…. poin-poin untuk resign itu tergantung kekerasan hati yang mau resign. Kalau memang sudah mentok, ya sudahlah. Apalagi kalau sudah disingkirkan sama teman selevel. Memberi ruang karier pada orang lain itu kadang-kadang tergolong berbuat baik kok.

Semangat!

5 Hal yang Disia-siakan Karena Terlalu Memilih

pablo

Alhamdulilah yah. Seburuk-buruknya tampang saya ini, kok ya masih saja ada yang ngefans. Cihui. Mungkin orang-(orang) yang nge-fans itu sedang terbutakan mata hatinya oleh cinta. Tsahhh. Bukan sotoy lho ini, tapi mendapat input dari orang-orang yang bisa dipercaya. Saya pas dikasih tahu juga kaget. Kok bisa-bisanya?

Tapi menjadi masalah buat saya ketika kemudian perfeksionisnya Capricorn Melankolis nongol. Mintanya yang sempurna. Padahal muka sendiri sudah jelas jauh dari standar, apalagi sempurna, gimana cara mau minta yang sempurna. *lempar kaca*

Ketika menggalau berjomblo ria, sudah nyaris setahun ini, hal yang kemudian jadi soal adalah: apakah saya terlalu memilih? Dipadukan dengan berbagai pengalaman orang lain, berikut lima hal yang disia-siakan oleh manusia akibat terlalu memilih pasangan.

1. Status Aman

Orang-orang yang terlalu memilih itu ya bakalan jadi jomblo. Mereka lupa bahwa jomblo itu adalah status yang tidak aman. Iya dong. Jomblo adalah status yang mempermudah orang untuk menjodoh-jodohkan. Which is, saya amat sangat tidak suka dijodoh-jodohkan. Jomblo juga bisa dengan mudah menjadi bahan cerita orang, bahkan ketika hanya sekadar pergi makan berdua dengan lawan jenis. Para jomblo–apalagi kantoran–juga cenderung akan jadi korban rayuan dan pendekatan dari orang-orang lain yang mengetahui bahwa mereka jomblo. Status taken sejatinya adalah perisai (emangnya kapten Amerika?) untuk pendekatan tahap awal dari orang-orang nakal. Hiyuh.

2. Kesempatan Belajar

Orang terlalu memilih karena ada yang tidak sesuai. Kalau saya misalnya, punya 2 patokan utama. Usia dan Agama. Itu nggak bisa ditawar-tawar lagi. Itu sebab saya pernah jadi bajingan yang melewatkan seorang gadis hanya karena ternyata dia beda agama sama saya. -___-“

Atau juga karena ketidaksesuaian sikap. Ada kan cewek nggak suka kalau cowoknya terlalu polos. Ada cowok nggak suka kalau ceweknya terlalu mudah dekat lelaki.

Padahal kalau mau ditelaah nih, bukankah itu kesempatan belajar yang besar? Seorang posesif begitu bertemu seorang yang berpikiran bebas, akan ada pembelajaran yang besar disana. Sama halnya dengan seorang yang tepat waktu, ketemu yang suka moloran. Saya belajar banget dari ketidaksesuaian karakter kedua orang tua saya. Satu Jawa, satu Batak. How come? Tapi nyatanya, perbedaan itu bisa menjadi kesempatan belajar yang baik untuk membentuk rumah tangga yang sa-ma-ra.

3. Kemungkinan Belaian

Jomblo-jomblo itu kalau di FB apa Twitter aja nggaya ngeluh kesepian. Giliran ada yang deketin, eh dicuekin. Giliran ada yang nyuekin, eh digalauin. Susah jadi jomblo yah.

Kalau tidak terlalu memilih, maka jomblo-jomblo itu tidak akan kekurangan belaian. Yah minimal belaian si Brown LINE (ala LDR).

4. Jodoh yang Dilewatkan

Ada kalanya orang terlalu memilih, saking kelewatnya, ternyata itu jodoh yang dilewatkan. Biasanya ini karena faktor prinsip. Misal suku dan agama. Dalam menjaring kandidat jodoh penghapus jomblo, apalagi usia 25 ke atas, maka suku dan agama menjadi faktor yang sangat penting. Soalnya, pikirannya udah ke kapan kawin, gimana bisa kawin, dll. Nggak ada tuh, “mari kita jalani dulu.”

Nah, begitu ketemu, beda suku misalnya. Langsung dilewatkan. Padahal, bisa jadi dialah sebenarnya jodoh kita. Emak saya dulu, juga dapat resistensi ketika menikah dengan orang Jawa. Kalau mau langsung memilih saklek kriteria, ya nggak jadi sama Bapak saya dong. Padahal nyatanya jadi.

Hayo, siapa yang sudah merasa melewatkan jodohnya cuma gara-gara suku dan agama? Hehehehe.

5. Kesempatan Bahagia Lebih Muda

Ada yang bilang, ketika sudah berdua, dan kemudian memutuskan untuk saling menerima, maka itu adalah jalan bahagia. Ada juga yang bilang ketika sudah berdua(an), dan kemudian memutuskan untuk saling berpelukan, maka disitu ada kemungkinan kejadian yang berlanjut pada organogenesis *halah*

Tapi ya gitu, apakah yakin kalau kita menunggu, akan dapat yang lebih baik? Atau malah akan dapat yang seadanya? Apakah yakin bahwa yang kita lewatkan sekarang itu tidak baik? Padahal, kalau dipilih sekarang, siapa tahu kesempatan bahagia lebih muda itu bisa diperoleh. Nggak urus lagi menggalau di FB dan Twitter kan?

Fiuh. Ini nggak lucu. Masuk kategorinya supaya sama dengan yang lain saja. Semoga jadi refleksi bersama. Amin.

πŸ˜€ πŸ˜€