Category Archives: Soal Sesuatu

Sesuatu kata itu selalu ada tentangnya..

Membeli Liberty Reserve

Liberty Reserve?

Apaan tuh? Semacam patung Liberty?

Nggak kali.. Liberty Reserve adalah salah satu bentuk uang versi dunia maya. Jadi begini, dalam hal mau main-main di Forex misalnya, ataupun hendak investasi di HYIP luar negeri, kita agak susah kalau mau transfer via bank lokal. Salah satu cara yang paling enak adalah memasukkan uang kita ke Forex atau investasi via LR ini.

Nah, LR ini bisa dicek di google. Cara masuknya agak rempong. Sumpah! Tapi wajar karena ini untuk menjamin bahwa entry dilakukan sepenuhnya oleh manusia dan orang yang sama.

Karena, bahkan IP beda saja, dideteksi lain oleh LR. Padahal modemnya bisa jadi sama, tapi kan IP bisa berubah-ubah.

Saya sarankan kalau mau buka LR ini, pakai email tersendiri. Atau, buat file dengan proteksi, simpan data-data LR disana. Karena kalau mau sign in, repot bukan main, dengan data-data dan variasi karakter yang berbeda-beda.

Pertanyaannya, bagaimana caranya kita bisa mengisi duit ke LR?

NAH!

Ada cara mudah dengan cara model membeli pulsa. Iya, beli pulsa. Kita menyetor sejumlah yang yang kita butuh untuk membeli sejumlah dollar/euro guna dimasukkan ke LR.

Ada banyak provider jasa ini, kita bisa menggunakan yang terpercaya. Sila googling saja, kalau mau beli via online.

Tentu ada fee. Jadi kalau beli 14 dollar misal, maka yang masuk ke LR kita paling 13.86 dollar. Namanya juga biaya jasa.

Yak, semoga membantu untuk yang mau investasi di level luar negeri.

Salam!

Investasi

Sekali-sekali mau nulis soal investasi ah.. Setelah tahun-tahun galau yang hanya habis untuk tiket pesawat, dan pada akhirnya tiket-tiket itu lantas tidak berguna.. Upsss..

Bagaimanapun kita itu hidup BUTUH duit. Percaya kan? Kalau kita hidup bukan untuk duit, saya setuju sekali. Tapi bagaimanapun, duit itu diperlukan.

Dulu waktu kecil kenalnya menabung. Ini kan menyisihkan uang, kecenderungannya tidak berharap lebih. Ingat, jangan berharap lebih. Apalagi bank jaman sekarang. Saya pernah, dengan saldo lima juta (jaman kapan itu? Biasanya nggak sampai 1 juta.. hehehe..) hanya dapat bunga seribu seratus sembilan puluh sembilan rupiah. Luar biasa. Ini sih semacam menggantikan celengan saja. Soalnya dulu waktu kecil, saya jadi tersangka maling koin dari celengan di atas kulkas. Nyolong tabungan sendiri. Hehehe.. Sampai celengan berbentuk rumah itu rusak tak berbentuk saking seringnya dibongkar.

Nah, kalau investasi ini semacam berharap ada kenaikan nilai uang dari nilai yang kita punya pada saat ini.

Dalam investasi, ada dua jenis asset yakni finasial dan riil. Nah, berhubung ini investasi, bagaimanapun resiko kehilangan modal itu jadi teman seperjuangan.

Aset riil sesuai namanya, tentulah yang memiliki bentuk. Macam? Yah, emas, rumah, tanah, dan sejenisnya. Berhubung Tuhan tidak lagi menciptakan tanah, maka harga tanah itu hampir pasti naik dari masa ke masa. Sama persis dengan emas. Kecenderungannya naik jauh. Mamak pernah cerita kalau sepertiga gajinya ketika baru kerja bisa beli satu emas (entah satuan apa ini). Ketika sudah beranak 4? Seluruh gajinya baru bisa beli satu emas. Artinya? Kenaikan harga emas melebihi kenaikan gaji.

Aset finansial adalah yang tidak terlihat tapi punya nilai. Inilah yang dipermainkan di Bursa Efek. Jenisnya? Obligasi, saham, atau reksadana.

Obligasi apaan? Ini adalah surat utang. Diterbitkan, bisa oleh pemerintah atau perusahaan tertentu dengan jangka waktu utang lebih dari 1 tahun. Kalau kita beli surat utang ini, kita akan dapat bunga yang dibayar dalam periode tertentu. Temennya obligasi? Hehehe.. Tentulah ketika yang menerbitkan obligasi tidak bisa bayar. Dan ini lebih susah daripada nagih tetangga yang belum bayar 20 ribu lho…

Saham, sering kita dengar kan? Ini semacam bukti kepemilikan terhadap suatu organisasi. Karena milik, jadilah untungnya dibagi, dan inilah yang disebut dividen. Dan harga saham tentunya mengikuti kinerja perusahaan. Resiko? Banyakkkk.. Sering lihat kan di tivi-tivi. Makanya kalau mau investasi ini, jangan ngasal pilih perusahaan. Itulah juga banyak perusahaan menampilkan laporan tahunan di dunia maya dan bisa diakses dengan bebas.

Kalau reksadana adalah tempat penghimpunan dana orang-orang dalam badan hukum tertentu. Ibarat naik angkot deh. Si supir akan membawa uang kita ke asset lainnya dan disimpan di tempat bernama bank Kustodian. Ini jelas solusi praktis buat yang mau investasi, tapi cekak. Macam siapa? Macam saya! Hahaha.. Buat sambilan juga oke karena kita nggak perlu memantau saham perusahaan dari waktu ke waktu untuk kemudian jual dan beli. Kata salah satu bos di kantor saya, reksadana adalah wahana yang pas menyimpan uang kita. Ups, nggak menyimpan ding. Menggunakan uang kita!

Selain reksadana ada juga model yang agak mirip. Ini dia HYIP. Detailnya dibahas terpisah ya. Hehehe.. Intinya sih masukkan uang dan tunggu berkembang.

Sekarang, tinggal pilih. Untuk jangka panjang, properti bisa menguntungkan. Bayangkan, dalam 1-2 tahun, harga rumah yang sama bisa naik hingga 100 juta, tergantung lokasi. Apa nggak ngeri itu? Hehehe..

Jangka menengah, katanya sih obligasi. Ya itu tadi, karena secara periodik memberikan hasil.

Jangka pendek, bagaimanapun tabungan itu perlu. Duit jangan dihabiskan semua. Ini nih penyakit saya sampai-sampai kerja bertahun-tahun nggak punya tabungan. Hiks. Udah gitu investasinya minimalis sekali pula. Haduh.

Nggak apa-apa, kata Ciputra dalam salah satu Tweet-nya, umur 25 itu pas untuk mulai wirausaha. Saya pelesetin dikit, umur 25 itu pas untuk mulai SADAR. Hehehe..

 

Bagaimana Membangun Sistem?

Huahahahaha..

Mari ketawa dulu.

Mungkin tulisan ini patut dan layak ditertawakan. Siapa saya? Berani-beraninya menulis tentang BAGAIMANA MEMBANGUN SISTEM. Haikss.. Kerjaan aja  cuma ngurusin c***** wkwwkwk..

Tapi sempat diskusi dengan rekan apoteker di kantor lama, soal bagaimana memulai membangun sistem. Jadi ini kisahnya sekadar sharing doang.

Dalam membangun sistem itu yang pertama-tama diperlukan adalah pemetaan proses-proses yang ada di suatu organisasi. Misal, saya kasih contoh usaha es mambo di keluarga saya dulu aja. Ada bagian pembelian, ada bagian produksi, ada bagian formulasi es mambo, ada bagian pengembangan bisnis, ada bagian penyimpanan, ada bagian kualitas, dan ada bagian penjualan. Yah, pada umumnya mamak saya semua sih yang ngelakuin, kecuali produksi-packaging.

Kalau sudah dipetakan, maka lanjutannya adalah pembuatan peta dalam gambar, lebih baik begitu. Ini yang kalau di teori dikenal dengan Business Process Mapping (BPM), yang kalau training itu 3 hari 5 juta rupiah. Hehehe..

Sesudah itu, kalau sudah ketemu proses-prosesnya, maka buatlah detail flow per proses. Jadi misal formulasi es mambo itu dimulai dari masukan dilanjutkan dengan trial dilanjutkan lagi dengan evaluasi, hingga pada keputusan es mambo yang enak macam apa. Gitu saja kok. Nggak repot-repot. Kalau es mambo nggak repot, maksudnya gitu.

Nah kalau sudah, cocokkan flow proses alias Standar Operating Procedure (SOP) itu ke BPM. Sesuai? Kalau sudah mari kita lanjut lagi.

Kemudian kita beranjak pada struktur dokumen. Biasanya ada beberapa level. Ujung pertama namanya MANUAL. Hasil mapping dan flow tadi dibahasakan dan disesuaikan dengan standar yang berlaku. Misal kita mau ngacu ke ISO 9001, ya sesuaikanlah manual dengan map dan flow tadi. Sampai di tahap ini maka kita sampai pada jejaring yang makin rumit. Sesekali saya hendak muntah kalau membahas ini. Penyesuaian diperlukan karena sejatinya kita harus berangkat dari MANUAL itu. Cara yang saya paparkan disini semata agar kita nggak buta pada keadaan saja.

Kalau sudah juga, turunkan ke instruksi kerja alias kalau kerennya Working Instruction (WI). Bagaimana membungkus es mambo yang baik, dan sejenisnya.

Dilengkapi pula dengan form, misal kartu stok karet atau kartu stok plastik. Atau juga checklist pembersihan baskom es mambo.

Voila, jadilah sistem sederhana kita.

Untuk memastikan, ada yang namanya proses AUDIT yang bertujuan memverifikasi sistem dengan aktual prosesnya.

Sejatinya ya begini saja. Tapi semakin besar jaringnya, maka semakin pusinglah kepala. Semakin mau muntah juga saya. Hehehehe..

Semoga bisa menjadi informasi yang berguna 🙂

Sudah jadi?

 

Tes Kepribadian

Teman-teman pasti sudah tahu soal tes kepribadian, yang isinya melankolis, sanguin, dan kawan-kawannya.. Nah, ini ada file, yang bisa diunduh dan sedikit bisa memberikan gambaran tentang kepribadian yang dimaksud.

Hehehe..

Monggo cedikot.

TES KEPRIBADIAN

Semoga bisa membantu menggalaukan.. #halah

Beringsut

Sekadar komentar, diksi saya memang agak aneh, mohon dimaklumi.

Kalau di posting sebelumnya ada istilah beringsut, ini dia. Dikutip dari sini.

ing·sut v, ber·ing·sut v bergeser sedikit-sedikit; beralih perlahan-lahan: dia ~ ke kiri dan ke kanan; meng·ing·sut v beringsut; bergeser; meng·ing·sut·kan v menggeserkan (memindahkan) perlahan-lahan: anak itu ~ duduknya ke samping ibunya; ing·sut·an n hasil mengingsut; ~ fase Fis sudut fase antara sinyal masukan dan keluaran pd suatu gejala atau sistem

Mohon dipahami ya.. 😀

Damri Cikarang – Bandara

Untuk akses ke bandara dari Cikarang sebenarnya mudah, tapi khusus penghuni Jababeka II.. hehehe.. Pool bus Damri arah Bandara ada di Plaza Jababeka. Jadi dekat patung kuda. Mungkin boleh tanya si kuda kalau kesasar, dari posisinya, sang kuda melihat terus itu halte. Hehehe..

Tarif mendasar, kalau nggak salah bulan Desember kemarin 30 apa 35 ribu begitu. Busnya lumayan, karena memberikan tempat untuk tas. Cuma ya sempit sih kalau duduk.

Bus ini berangkat dari jam 04.00, 05.00, 06.00, 07.00, 08.00, 09.00, 10.00, 11.00, 12.00, 13.00, 14.00, 15.00, 16.00, 17.00, 18.00 alias setiap jam dimulai dari jam 4.

Ya nggak tepat-tepat amat sih.. Normalnya, bus akan lewat patung kuda, lalu masuk ke jalan Cikarang-Cibarusah, lalu masuk tol. Jadi, bisa juga nunggu di tepi-tepi jalan itu daripada capek ke Plaza JB. Berharap saja tidak penuh. Bus juga akan masuk di Grand Wisata, putar sekali lalu masuk tol lagi.

Kalau berangkat jam 5, belum sampai jam 7 sudah sampai Bandara. Selainnya, saya nggak pernah naik, jadi mohon maaf lahir batin kalau infonya kurang memadai.

Untuk pulangnya, alias dari Bandara ke Cikarang, tertulis sih ada dari jam 6.00 sampai 21.00

Masalahnya, leadtimenya kadang lama. Dulu pernah nunggu 3 jam. Itu ditambah bus putar-putar cari penumpang 3 kali, baru berangkat. Tapi yang pasti sih ada. Makanya, kalau hendak ke Cikarang usahakan sampai jam siang, sehingga waktu menunggu bisa lama dan pasti ada kendaraan ke Cikarang dengan harga terjangkau.

🙂

Shuttle Bus Lippo Cikarang – Jakarta (PP)

Lippo Cikarang katanya adalah kota terlengkap di timur Jakarta. Iyakah? Hmmmm.. Yah, mungkin lengkap juga sih. Karena Lippo Cikarang adalah kiblat menghibur diri, bagi warga Cikarang. Kalau mau ke Bekasi kadang jauh bin malas, jadi ya sudah ke daerah selatan saja.

Lippo juga punya bus Shuttle ke Blok M yang agak enakan, dengan tarif terkini Rp. 13.000,- yang sesudah BBM naik, tarifnya jadi Rp. 15.000,- Habis BBM naik lagi, kabarnya jadi 22.000, tapi saya belum nyoba lagi.

Bus yang digunakan adalah Bus AO dengan jadwal sebagai berikut:

sumber: blognyarumah.wordpress.com

Lewatnya biasa sih, Senayan dan sekitarnya sampai blok M.

Bus tidak masuk terminal, tapi berhenti di Jalan Palatehan, dekat lapangan. Kalau mau naik dari Palatehan, cek dulu, karena juga ada shuttle bus ke Sentul. Demikian juga yang di terminal Lippo, cek dulu ke Sentul atau ke Blok M. Soalnya itu nyasarnya krusial.

Ada juga shuttle internal dengan jadwal kayaknya antara jam 6-9 kemudian 12-15 dan rasanya ada satu lagi. Shuttle-nya dua jenis, satunya ke arah Lembah Hijau, satunya Cibiru-Cibodas. Jangan tertukar ya. Lumayan juga kalau jalan kaki itu. Soal tarif? Kemaren saya Googling katanya 2500, tapi kok pas bayar malah ditagih 5000. Makanya, saya bingung.

Belajar Bahasa Palembang (versi Sederhana)

Ini mungkin posting paling nekat sejagad ariesadhar.wordpress.com. Lha iya, wong saya itu cuma 2 tahun sekian hari di Palembang kok nekat ngajari bahasa Palembang?

Edan!

Nggak sih. Saya bersyukur diberi karunia agak mudah mempelajari bahasa ketika terjun langsung didalamnya. Setidaknya dalam 1-2 bulan pertama di Palembang, saya sudah bisa menawar harga sepatu di toko olahraga sepanjang sudirman, yang notabene isinya orang keturunan Hindustan semua.. hehehe..

Bahasa Palembang bagi saya adalah pertemuan antara Minang dan Jawa. Kenapa? Mungkin kaitan Sriwijaya juga kali ya. Yang pasti kecenderungan meng-o-kan suasana masih ada. Tapi ingat, itu kecenderungan saja lho. Dan beberapa vocab sangat Jawa sekali.

Beberapa huruf konsonan dari Bahasa Indonesia bisa hilang. Misal ari (hari) atau asil (hasil). Sebenarnya ini terkait ke pengucapan saja sih bahwa H dan A berurutan itu agak tidak terdengar. hehe..

Pertemuan Minang-Jawa ada di awak, karena kata ini bisa bermakna anda, bisa juga badan.

Untuk menyapa, ingatlah bahwa KAKAK itu mengacu kepada laki-laki yang lebih tua. Kalau di Jawa itu Mas. Sementara saudara perempuan lebih tua adalah AYUK. Jadi bukan Mas-Mbak tapi Kakak-Ayuk. Jadi jangan emosi dulu buat yang cowok, kalau di jalan dipanggil “Kak”. Kalau paman dan bibi, jadinya Mangcek dan Bicek. Gampang to? Mamang kecik dan Bibi kecik. Hehehehe..
Ada vocab yang bagus di Palembang buat saya yakni Baseng. Ini artinya semacam terserah. Bisa dipakai menangkal gosip. “Kamu mau kawin ya?” “Apo dio o? Baseng be..”. Ya kira-kira demikian. Atau begini, “nak milih yang mano?” “Basenglah..”
Kata lain yang oke adalah Beguyur. Ini bukan berarti diguyur air ya. hehe.. Beguyur bermakna mulai tapi pelan-pelan. Lalu kalau berusaha, namanya berejo.
Lalu kalau ada yang bilang kita BELAGAK, maka senanglah. Jangan malah emosi. BELAGAK ini bukan bermakna banyak lagak, tapi bermakna TAMPAN atau CAKEP. Mantap kan?

Tahu Benteng Kuto Besak? Nah, Besak tentunya bermakna Besar. Pola ini rutin dipakai di Palembang. Besak nean… Kalau kecil? Tentu saja KECIK. hehe..

Kemudian soal jenis kelamin. Janganlah marah kalau dipanggil Betino (buat yang cewek), karena memang panggilannya lanang dan betino untuk laki dan perempuan. Lalu kalau dibilang Budak, ya biasa saja, orang itu artinya adalah anak. Tahu kan kak Ros di Upin-Ipin, “budak ni….”

Waspada pada pengggunaan kata Lolo. Ini sepenuhnya bermakna tolol. Makanya heran dulu ada pemain SFC namanya Lenglolo. Gimana itu ya? Hehehe.. Lebih parah lagi ada yang namanya Buyan. Kalau pernah nonton Liga Champion Asia, seorang kiper SFC lama pernah diteriaki hal ini sama penonton saking seringnya blunder.

Dan pertanyaan standar biasa dimulai dengan Cakmano alias Bagaimana. Standar dong? Cakmano ni? Bagaimana ini?

Mau agak Jawa? Adalah beberapa kata misal Buri atau Dewean. Itu beneran bermakna belakang dan sendirian. Lalu kalau agak mirip ada namanya Galak. Ini kata Palembang pertama yang saya tahu. Galak itu artinya Gelem = Mau. Hehehe.. Masih ada juga Metu alias keluar.

Lalu, yang paling ternama tentu WONG KITO GALO. Artinya? Orang Kita Semua. Galo ini banyak dipakai di pasar. “Beli brapo?” “Galonyo.” “Kapan nak beli?” “Kagek..” Hehehe.. yang ini artinya nanti.

Kalau mau berantem, ada istilah goco alias tonjok. “Goco kagek…” Selevel lebih tinggi adalah tujah alias tusuk pakai pisau. Ya inilah profil Palembang di halaman belakang koran daerah. Pasti ada itu tiap hari. Ngeri euy…

Ada lokasi bernama Kambang Iwak alias kolam ikan. Ngerti kan? Memang sih karena kolamnya butek, jadi tidak kejingokan ikannya. Tapi kalau dimakan LEMAK nian. Nah, lemak itu bermakna sedap, wuenaakkk.. Memang lemak itu bikin sedap ya? hehehe.. Nak Melok idak? Mau ikut tidak. Itulah artinya.
Nah, ini agak riskan. Mau ngenjuk? Upps.. itu artinya memberi. Mau nyingok? itu artinya melihat. Ado pacak? Itu artinya apa bisa?
Kalau orang Palembang nyebut Pucuk akan jadi seolah-olah POCOK. Itu artinya di atas. Pas ngajak, ayo itu jadi Payo. Cak inilah, seperti inilah orang Palembang. Kalau lagi ramai disebut rami. Apalagi kalau lebaran, musimlah SANJO alias bertamu.
Sengsara dipotong menjadi SARO. Lalu tidur itu jadi tiduk. Kalau tabrak jadi tumbur.
Dan jangan kaget kalau di pasar ditanya, “nak beli berapo ikok?” bilang saja sikok, itu artinya satu.
Masih banyak informasi lain soal belajar bahasa Palembang, tapi semoga ini dapat membantu 🙂

Perjalanan Pulang dari Kompasiana Blogshop

Sungguh tidak saya sangka bahwa keberangkatan ke Telkomsel Kompasiana Blogshop ini akan memberi banyak pelajaran hidup. Saya sih nggak berharap tulisan ini HL, tapi sungguh, saya merasa perlu membagi hal ini kepada Kompasianer semua. Makanya, alih-alih mengerjakan tugas dari Kang Pepih, saya memilih menulis tentang Perjuangan Pulang Dari Kompasiana Blogshop ini dulu.

1319896755336690749sumber: pribadi

Saya tinggal di Cikarang, sebuah kawasan yang isinya pabrik semua. Maaf agak lebai bin alay. Ketika berangkat untuk ikut Telkomsel Kompasiana Blogshop ini, saya tidak punya firasat apa-apa. Saya masih bisa dapat bus 121A seharga 9000, duduk manis pula.

Singkat cerita, Telkomsel Kompasiana Blogshop yang saya hadiri kelar. Saya mendapat banyak hal. Mulai dari kaos Telkomsel Kompasiana Blogshop, ilmu-ilmu dari Kang Pepih, Mas Iskandarjet, dan Uda Ahmad Fuadi, sampai teman-teman baru yang ternyata gokil-gokil macam Latip pake P, Yonathan, dan Cornelius Ginting.

Jam 5. Langit di Sarinah masih terang. Saya mulai menyebrang ke Sarinah lanjut naik jembatan menuju shelter bus TransJakarta Sarinah. Disitu saya berkumpul dengan banyak Kompasianer. Tolong yang ikut serta kumpul bersama saya bisa komen disini.. hehehe.. 1 bus lewat, 2 bus juga, lama-lama sampai 5. Wah, lama nih, pikir saya. Seorang ibu nyeletuk, “nanti kita booking 1 gerbong Kompasianer semua!”.

Eh bener. Bus ke-6 datang dengan kondisi agak sepi. Maka masuklah semua Kompasianer di halte itu ke dalam bus. Masih lancar posisinya, turun pula satu persatu, mulai dari Halte Setiabudi, Bundaran HI, dan seterusnya. Saya aslinya hendak mencoba turun di Blok M dengan asumsi bisa dapat bus 121 yang masih kosong karena kalau nunggu di Semanggi biasanya penuh. Tapi karena teman Kompasianer Izha Aulia turun di Benhil, maka saya mendadak ikut turun. Mungkin ini yang disebut firasat. Sudah kayak lagu Marsel saja ya. Hehehe…

Saya lantas melalui rute biasa, dari halte Benhil jalan sampai depan Plaza Semanggi, berharap ada bus menuju Cikarang disana. Leadtime menunggu bus Cikarang memang lama. Ibarat kata, kalau mau nunggu bus di Semanggi itu harus sabar, tawakal, dan rajin menabung. Setengah jam berlalu, firasat mulai buruk karena orang yang ada disana sudah saking banyaknya. Bus Bekasi yang biasanya ramai lewat, kali ini tidak.

Perasaan mulai nggak enak.

Saya yang biasa menunggu di bawah tangga, pelan-pelan geser ke arah Semanggi. Perasaan makin tidak enak waktu bus 121 lewat tapi ada tulisan PARIWISATA. Makin galau lagi waktu bus Lippo juga lewat bablas dengan kondisi penuh. Dengar punya dengar, katanya ada sebuah partai yang menyewa habis seluruh bus ke Cikarang.

Seorang bapak mulai tampak galau, demikian pula bapak yang lain.

“Cikarang pak?” tanya saya.

“Iya, Cikarang?” Bapak itu bertanya sama bapak yang lain.

Mulailah sang bapak bercerita kalau info yang dia dapat bus 121 memang tidak jalan karena ada yang sewa. Benar atau tidak saya kurang tahu, itulah info yang saya dapat. Hingga kemudian satu lagi bus Lippo muncul dan bablas, akhirnya ada tindakan. Seorang bapak dengan tas besar bertanya pada bapak yang saya sapa tadi, “Bapak mau nunggu, saya mau ambil mobil dulu di Apartemen, paling 15 menit, gimana?”

Hayukkk pak.. Jerit saya dalam hati.

Jangan salah, si bapak yang saya sapa pertama tadi itu sebenarnya juga punya mobil, cuma ditinggal di parkiran terminal yang ada di Lippo Cikarang.

Akhirnya, kami bertiga dan seorang wanita karier yang juga sudah menanti lama, bersepakat berangkat bersama. Bapak yang punya mobil tadi kembali ke apartemennya. Sejurus kemudian 3 orang ibu nongol. “Pak, saya dari jam 2 nunggu disini, nggak ada bus ke Cikarang?”

What? Saya setengah tidak percaya, jam segitu saya masih dengan Dhisa nyanyi di Telkomsel Kompasiana Blogshop dan ibu ini sudah nunggu bus ke Cikarang?

Bapak tadi kembali dengan mobil bagus, Avanza baru! Kami masuk dengan cepat, keburu diklakson yang lain. Eh, tahu-tahu ada satu anak cowok tanggung yang ikut masuk. Ada kisah soal anak ini, nanti saya tambahkan.

Di mobil Avanza itu, kami ber-8, termasuk yang punya mobil. Tujuh orang nebengers sepakat membayar 15 ribu buat tambah-tambah uang bensin dan tol. Bagi kami nggak masalah, yang penting SAMPAI KE CIKARANG! Mulailah cerita macam-macam, mulai dari nunggu jam 2, jam 5, jam 6, bus yang nggak datang-datang, dan lain-lain.

Tidak sampai 1 jam, karena tol lancar jaya, kami sampai di Pintu Tol Cikarang Barat. Saya yang jurusan Jababeka turun di jembatan layang. Si ABG tanggung tadi ikut turun juga. Ucapan terima kasih teramat sangat saya ucapkan pada bapak yang punya mobil Avanza yang bahkan pelat nomornya pun saya tidak sempat hafal.

Selesai? Belum.

Si ABG tadi sayaajak jalan untuk naik angkot ke Jababeka tapi dia berkata, “Saya itu mau ke BEKASI barat mas”.

Saya jantungan.

“Lho, kok naik ini tadi? Memangnya nggak tahu kalau ini ke Cikarang. Masuk Pintu Tol CIKARANG barat?” tanyaku.

“Tahu sih, tapi tadi saya kira nganter ke Lippo dulu lalu balik ke BEKASI barat”.

Saya diamkan saja. Silahkan pergi nak dengan jalanmu sendiri. Dalam hati saya mau bilang, “memangnya ini mobil bapakmu po? Ini masih mending itu bapak berbaik hati mengantar sampai ke Cikarang, mau mbok suruh balik ke Bekasi barat?”

Saya akhirnya sampai ke Jababeka dengan selamat. Jababeka masih seperti saya tinggalkan tadi pagi. Maaf kalau lebai bin alai ya.. hehehe..

Oke, pelajaran yang saya ambil:

1. Bapak yang pertama dari Lippo ke Jakarta meninggalkan mobilnya. Ada itikad baik tidak menggunakan mobil pribadi, seperti himbauan pemerintah untuk memakai angkutan umum. Bapak yang punya mobil tadi juga hendak ke Cikarang naik bus dengan meninggalkan mobilnya. TAPI APA? Mereka mendapatkan kekecewaan! Angkutan umum yang disarankan itu tidak ada, malah katanya disewa oleh partai tertentu. Ini dua orang sudah dikecewakan lho, saya nggak yakin mereka bakal naik angkutan umum lagi dengan pengalaman macam ini. Jujur saya nggak habis pikir dengan keberpihakan kepada rakyat kecil macam saya dan penumpang Avanza tadi. Huh..

2. Ada 8 orang di mobil Avanza itu dan semuanya TIDAK SALING KENAL. Dengan bekal kesamaan tujuan saja, kami berhasil mendapatkan solusi bersama. Apa artinya? Jiwa apatisme di negeri ini ternyata belum sepenuhnya berkuasa. Masih ada kepedulian, masih ada rasa persaudaraan, masih ada gotong royong, masih ada kerjasama, dan semua hal yang diajarkan bapak saya di kelas pendidikan Pancasila, masih ada. Dan saya membuktikan sendiri. Ini aktual, ini asli, ini fakta, dan saya saksinya.

3. Mengomentari ABG labil tadi. Harap kalau ada ramai-ramai, cek dulu. Benarkah mobil ini hendak membawa ke tujuan yang benar? Jangan lantas menganggap mobil yang datang atas nama kebaikan itu dianggap mobil bapaknya sendiri. Kenapa saya lantas agak emosi? Karena di belakang ABG tadi, ada bapak yang hendak ke Cikarang yang terpaksa kami tolak karena mobil sudah full. Ini pelajaran untuk lebih teliti lagi ya.. 😀

Kira-kira begitulah perjuangan saya sampai kembali ke kamar kost tercinta setelah bertualang ke Telkomsel Kompasiana Blogshop hari ini. Sekarang saya mau kerjain tugas dari Kang Pepih dulu karena saya sudah ngimpi punya tablet. Harap maklum karena sebagai Apoteker, saya sudah biasa dengan tablet Paracetamol, Amoxicillin, dan lainnya, jadi mau variasi dengan tablet jenis lain.. hehehe..

Salam Kompasiana Blogshop!

asli dikopi dari Kompasiana saya.