Tag Archives: keluarga saya

Pentingnya Nama Bagi Orang Batak

Kalau William Shakespeare itu orang Batak, pasti dia nggak akan mengeluarkan pernyataan “apalah arti sebuah nama”. Ya, untungnya pujangga ternama itu bukan orang Batak. Coba kalau dia orang Batak, nggak mungkin cerita Romeo dan Juliet akan begitu kan?

Mungkin cerita Romeo dan Juliet akan jadi semacam yang dilakukan Opung saya yang mengejar anaknya yang kawin lari dengan naik kendaraan roda dua. Ya pada akhirnya yang kawin lari itu juga nggak terus bunuh diri biar romantis kok. Keduanya langgeng sampai kakek-nenek.

Jadi apa ini maksudnya?

Maksudnya adalah…

Suami Bunuh Istri dan Orang-Orang yang Ingin Jadi Suami

Judul macam apa itu?!?!

Judul macam itu ditulis oleh orang yang ngakunya sudah nulis di 3 antologi? Iye.. iye.. Kalau judul saya rada bagusan, saya mah udah nggak nulis di antologi, tapi bikin antologi sendiri. Udah bisa bikin buku sendiri. Udah kaya dari buku. Susah amat.

Tapi intinya gini. Tadi saya nonton berita soal pembunuhan istri oleh suaminya. Berita dan penyebabnya macam-macam. Misal disini, disini, dan disini.

Dalam kejombloan saya, pikiran ini kemudian terusik. Lha saya ini ya, yang namanya mukul wanita itu nggak pernah (paling mentok nepok jidatnya si cici). Buat saya, wanita itu bukan makhluk untuk dikuasai dan dikasari secara fisik, tapi disayangi. Sengegemesin dan sebikinemosinya mereka.

Tentu saja ni disebabkan oleh masa kecil keluarga saya yang baik-baik. Syukur kepada Tuhan. Seingat saja, dari jaman saya bisa mengingat, nggak pernah ada cerita Bapak menyentuh Mamak saya sambil marah-marah. Jadi saya nggak pernah lihat adegan suami nampar istri, nggak pernah adegan suami memarahi istri dengan frontal, nggak pernah lihat adegan istri lempar piring ke suami, dan lainnya. Yang saya lihat adalah rumah tangga yang penuh dengan perjuangan dan penuh dengan kesabaran. Proud to be part of that!

Which is, saya pernah menjadi saksi ketika di pagi buta seorang saudara datang. Saya bukain pintu, dan tidak menduga kalau dia datang. Awalnya saya kira berkunjung, eh ternyata kabur karena takut sama suaminya. Sampai sekarangpun saya masih mendengar bahwa kekerasan itu masih ada. Bahkan sampai saking frontalnya, ada anak mereka yang bilang ke Bapaknya, “kalau sampai kau pukul Ibuku, kubunuh kau!”

Hey, itu anak yang ngomong ke Bapaknya lho! Sangar e rek..

Hidup ini memang sungguh semakin keras. Saya mulai merasakan pembenaran kepada orang-orang yang kemudian nggak tahan lalu bunuh diri. Saking kerasnya, kadang kesabaran pun nggak cukup untuk menghadapinya.

Cuma, dalam kaitan dengan perkawinan. Apakah membunuh istri itu hal yang masuk akal? Bahwa membunuh saja sudah salah, apalagi ini membunuh orang yang kita bawa ke depan Tuhan dan kita minta untuk dipersatukan seumur hidup dengan kita. Ini orang yang bersama-sama dengan kita mengucap segala macam janji di hadapan Tuhan untuk selalu bersama. Dan… dibunuh?

Saya ada di usia ketika teman-teman bergantian menikah (bukan berganti-ganti menikah loh yaaa…)

Saya ada di lingkungan yang memutuskan untuk menikah itu mikir berkali-kali. Bahkan ada nih teman yang akhirnya menikah setelah kena skak dengan pertanyaan, “emang kowe bakal siap kapan?”

Lantas, apakah menikah itu kemudian hanya dimaknai sebagai legalisasi seks di muka agama dan negara? Apakah menikah itu kemudian hanya menjadi hal yang terjadi karena desakan lingkungan? Apakah kemudian menikah itu dilihat sebagai sebuah institusi yang tidak sakral sampai partnernya kemudian bisa dibunuh?

Saya tetap ingin menjadi suami bagi seorang wanita kelak. Dan saya akan belajar dari keluarga tempat saya ditumbuhkembangkan. Meski jelas darah Batak di arteri saya tentu akan buat saya nggak sesabar Bapak saya sih. Saya juga tetap ingin menjadi Bapak yang baik bagi beberapa orang anak.

Tapi pertanyaannya, sama siapa?, siapkah saya? Kalau siap, mana calonnya? Kalau nggak siap, kapan siapnya? Nggak tahu. Tapi entah kenapa, saya meyakini akan mendapatkan jawaban-jawaban itu dalam waktu yang tidak lama. Ini keyakinan saya saja sih. Sangat mungkin untuk keliru.

Yang jelas, keluarga itu adalah sakral, dan mengakhirinya dengan membunuh, apalagi dengan sebab yang sepele, buat saya adalah bentuk pengingkaran terhadap apa yang terucap di hadapan Tuhan. Kalau Tuhan tidak pernah mengingkari janjinya pada manusia, pantaskah kita untuk ingkar?

Jawabannya dalam hidup kita masing-masing *ala Romo Hari*

πŸ˜€

Menghormati Prinsip

Kemarin, Sabtu, dapat telepon dari Bapak saya yang awesome πŸ™‚ Selain pertanyaan mendasar seperti sehat dan lagi ngapain, tentunya ada pertanyaan soal pasangan hidup. Yah, namanya kemarin itu lagi nyari, masih aja ditanyain. Hedeh. Tapi satu yang pasti, Bapak menekankan, SEIMAN kan?

Itu satu.

Nah barusan ini telepon lagi sama Mamak saya yang tak kalah awesome. Rada hebat ya saya punya dua orang tua yang sangat-sangat awesome, hebat, dan terkadang gila. Gila-gila nekat malah. Mamak sih nggak nanya soal ada atau belum. Ya, tampaknya sudah tahu perasaan saya yang ogah ditanyai begituan. Tapi intinya, Mamak menekankan lagi, harus SEIMAN dan Mamak maunya UMURNYA di bawah saya (lebih muda).

Well, meski saya termasuk ngeyelan, tapi untungnya dalam hal ini orang tua saya berhasil membuat saya tidak membantah mereka. Saya menerima syarat mereka dengan tanpa protes. Yak, SEIMAN dan LEBIH MUDA. Nggak banyak syarat lain. Mungkin karena Bapak dan Mamak berasal dari dua suku yang berbeda, mereka nggak mempermasalahkan suku mana. Toh, kalau dari suku selain Batak dan Jawa, maka keluarga saya akan menjadi sangat meng-Indonesia. Iya kan?

Yang saya heran, adalah orang lain di luar saya dan keluarga. Pertama, kalau saya single, apa coba urusannya? Okelah, even saya pun kadang menjodoh-jodohkan, tapi saya selalu berusaha melihat respon. Kalau yang dijodoh-jodohkan nggak suka, ngapain diterusin? Bikin orang sakit hati, nambah dosa malah. Huhuhu…

Dan kedua, ketika DENGAN TERPAKSA saya berkoar tentang dua kriteria utama tadi, masih ada saja yang MEREMEHKAN.

“Halah, nanti kan juga bisa berubah kriteriamu.”

“Nanti kan juga bisa diajak.”

Sungguh ya, saya nggak habis pikir soal ini. Soal Agama, saya angkat jempol dengan orang-orang yang mampu memfasilitasi perbedaan mendasar itu. Bos DP misalnya, dengan sip menceritakan itu di berbagai posting blognya. Masalahnya, secara psikis saya nggak bisa. Jadi mosok ya kudu dipaksakan? Soal ajak mengajak juga, wah, secara psikis saya nggak bisa. Itu aja masalahnya.

Lalu soal ketidakmauan saya menjadi brondong, itu juga mendasar kan? Salut deh buat yang bisa memfasilitasi perbedaan usia itu, tapi lagi-lagi, saya pribadi nggak bisa. Lha kalau saya nggak bisa, masak mau dipaksa?

Setiap orang kan punya levelnya sendiri-sendiri.

Ini mungkin yang bikin saya bergerak perlahan, secara ya, di dunia kerja sekarang yang saya temui hanya kayu manis dan cacing tanah. Hahahahaha..

Satu hal, dialog, gojeg, dan sejenisnya itu sangat diperkenankan, TAPI kalau sudah menyinggung soal prinsip, buat saya pribadi, ini bukan hal yang layak untuk diperbincangkan. Saya hormati prinsip situ, jadi kita sama-sama menghormatilah. Nggak susah sebenarnya, kalau sama-sama mau.

Ehm, terlepas dari itu, saya bangga pada ORANG TUA SAYA yang LUAR BIASA! πŸ™‚

Bagaimana Membangun Sistem?

Huahahahaha..

Mari ketawa dulu.

Mungkin tulisan ini patut dan layak ditertawakan. Siapa saya? Berani-beraninya menulis tentang BAGAIMANA MEMBANGUN SISTEM. Haikss.. Kerjaan ajaΒ  cuma ngurusin c***** wkwwkwk..

Tapi sempat diskusi dengan rekan apoteker di kantor lama, soal bagaimana memulai membangun sistem. Jadi ini kisahnya sekadar sharing doang.

Dalam membangun sistem itu yang pertama-tama diperlukan adalah pemetaan proses-proses yang ada di suatu organisasi. Misal, saya kasih contoh usaha es mambo di keluarga saya dulu aja. Ada bagian pembelian, ada bagian produksi, ada bagian formulasi es mambo, ada bagian pengembangan bisnis, ada bagian penyimpanan, ada bagian kualitas, dan ada bagian penjualan. Yah, pada umumnya mamak saya semua sih yang ngelakuin, kecuali produksi-packaging.

Kalau sudah dipetakan, maka lanjutannya adalah pembuatan peta dalam gambar, lebih baik begitu. Ini yang kalau di teori dikenal dengan Business Process Mapping (BPM), yang kalau training itu 3 hari 5 juta rupiah. Hehehe..

Sesudah itu, kalau sudah ketemu proses-prosesnya, maka buatlah detail flow per proses. Jadi misal formulasi es mambo itu dimulai dari masukan dilanjutkan dengan trial dilanjutkan lagi dengan evaluasi, hingga pada keputusan es mambo yang enak macam apa. Gitu saja kok. Nggak repot-repot. Kalau es mambo nggak repot, maksudnya gitu.

Nah kalau sudah, cocokkan flow proses alias Standar Operating Procedure (SOP) itu ke BPM. Sesuai? Kalau sudah mari kita lanjut lagi.

Kemudian kita beranjak pada struktur dokumen. Biasanya ada beberapa level. Ujung pertama namanya MANUAL. Hasil mapping dan flow tadi dibahasakan dan disesuaikan dengan standar yang berlaku. Misal kita mau ngacu ke ISO 9001, ya sesuaikanlah manual dengan map dan flow tadi. Sampai di tahap ini maka kita sampai pada jejaring yang makin rumit. Sesekali saya hendak muntah kalau membahas ini. Penyesuaian diperlukan karena sejatinya kita harus berangkat dari MANUAL itu. Cara yang saya paparkan disini semata agar kita nggak buta pada keadaan saja.

Kalau sudah juga, turunkan ke instruksi kerja alias kalau kerennya Working Instruction (WI). Bagaimana membungkus es mambo yang baik, dan sejenisnya.

Dilengkapi pula dengan form, misal kartu stok karet atau kartu stok plastik. Atau juga checklist pembersihan baskom es mambo.

Voila, jadilah sistem sederhana kita.

Untuk memastikan, ada yang namanya proses AUDIT yang bertujuan memverifikasi sistem dengan aktual prosesnya.

Sejatinya ya begini saja. Tapi semakin besar jaringnya, maka semakin pusinglah kepala. Semakin mau muntah juga saya. Hehehehe..

Semoga bisa menjadi informasi yang berguna πŸ™‚

Sudah jadi?