Jelajah Pulau Timor Bersama Skyscanner

Screenshot_1352

[Blog|Ariesadhar.com] Pulau Timor adalah satu dari tiga pulau di Indonesia yang berbatasan darat dengan negara tetangga. Dua lainnya adalah Kalimantan (dengan Malaysia) dan Papua (dengan Papua Nugini).

Pulau Timor yang masuk dalam Provinsi NTT ini berbatasan langsung dengan Timor Leste. Uniknya, di Pulau Timor juga, ada sempalan daerah yang menjadi bagian Timor Leste. Hasil referendum yang menyebabkan hal ini terjadi. Tadinya, seluruh Pulau Timor adalah milik Indonesia hingga kemudian Provinsi Timor Timur berubah menjadi negara sendiri, Timor Leste.

jelajah-pulau-timor-skyscanner-artflakes.jpg

Sebentar. Kok gambarnya buaya?

Heuheu. Begini, dari cerita rakyat diketahui bahwa Pulau Timor secara mitologi tidak bisa dijauhkan dari buaya. Berbagai versi berkembang, namun intinya adalah persahabatan manusia dengan buaya. Sang buaya kemudian mati dan tubuhnya menjelma menjadi Pulau Timor. Dipikir-dipikir, lekuk Pulau Timor memang nggak jauh-jauh dari buaya. Termasuk juga kerasnya tanah berbatu yang juga tidak beda dengan kerasnya kulit buaya.

Apalagi, Pulau Timor menyimpan beraneka ragam tempat wisata ciamik! Tinggal mengurutkan lokasi dari Kupang, SoE, hingga ke Atambua, kita dapat menemukan beragam tempat untuk dikunjungi dan melepas lelah.

Lantas bagaimana caranya menuju Pulau Timor?

Akses utama menuju Pulau Timor tentu saja melalui Kota Kupang yang merupakan ibukota Provinsi NTT dan berada di ujung barat Pulau Timor. Bandara di Kupang, El Tari, terbilang mudah dijangkau dan cukup dekat dengan kota serta sudah bisa disebut bandara modern.

Cukup banyak pesawat menuju Kota Kupang, ada yang transit Denpasar, ada juga yang transit Surabaya. Rata-rata, pesawat pasti mendarat di Kupang sebelum kemudian melanglang buana ke kota-kota lain di NTT. Semua rutenya bisa diperoleh lewat Skyscanner, situs pencarian tentang travel yang terdepan secara global dan merupakan tempat para petualang merencanakan perjalanan serta melakukan pemesanan langsung pada harga terbaik. Saya sendiri tiba di Kupang menggunakan Tiket Pesawat Garuda dengan pilihan penerbangan yang paling pagi dan armadanya pesawat yang tidak besar namun nyaman.

jelajah-pulau-timor-skyscanner-idcorners-info.jpg

Informasi yang kita peroleh dari Skyscanner terbilang komprehensif karena adanya teknologi unik yang menghubungkan pengguna pada semua hal yang ditawarkan oleh industri travel serta dengan adanya 1.200 partner untuk produk bisnis. Kita jadi tahu kota-kota yang ada penerbangan langsung dari Kupang–dan kota-kota lainnya juga. Dengan demikian kita bisa menghemat waktu dengan mempersempit pencarian. Lumayan waktunya bisa buat ganti pokok Istoyama.

Skyscanner sendiri telah didirikan tahun 2003, merupakan bagian dari grup Ctrip dan mempekerjakan 900 staf pada kantor-kantor yang berada di Barcelona, Beijing, Budapest, Edinburgh, Glasgow, London, Miami, Shenzen, Singapura, hingga Sofia. Seperti layaknya organisasi yang berkembang, Skyscanner memiliki visi menginspirasi para traveler di seluruh dunia untuk melakukan pencarian semudah mungkin melalui teknologi berkelas dunia.

Oya, satu hal yang menarik sebelum mendarat di Bandara El Tari adalah jika beruntung kita dapat menikmati keindahan Pulau Semau, sebuah pulau kecil di seberang Kota Kupang. Ini adalah preview sebelum kita menikmati keindahan pantai-pantai lain di Pulau Timor.

jelajah-pulau-timor-semau-skyscanner.jpg

Continue reading

Advertisements

5 Perjalanan Serba Pertama

Sudah cukup lama saya nggak nulis bab lain dari blog ini selain ‘hanya mau menulis’. Sekarang pengen meneruskan serial 5 perjalanan sesudah paling absurd dan jadi teman yang baik.

Kali ini saya mau menuliskan 5 perjalanan ketika saya cupu sangat jadi orang. Kecupuan itu tentu saja terjadi karena itu pertama kali saya melakukan perjalanan tersebut.

MarKiMul, mari kita mulai!

1. Batavia Air (medio 2004)

Saya pulang kampung naik ALS sesudah saya lulus SMA. Cuma, di perjalanan saya mengalami traveler diarrhea yang menyebabkan hidup saya semengenaskan jomblo ngenes sepanjang perjalanan Lampung-Bukittinggi. Walhasil sampai rumah saya jatuh kurus, yang mana daripada sebelumnya saya sudah kurus kering.

Nah, begitu kembali ke Jogja, emak saya nggak tega saya kena traveler diarrhea lagi, jadi dibeliin deh tiket pesawat ke Jogja. Dan itu adalah almarhum Batavia Air. Waktu itu berangkatnya masih dari Tabing. Dan itu adalah penerbangan koneksi.

Usia saya 17 tahun dan belum pernah naik pesawat setelah tahun 1989. Mana ngerti saya suasana bandara kayak apa? Dan lagi, saya sama sekali nggak pegang HP kala itu. Lengkap sudah.

Dengan ngenes saya sudah harus merelakan seat pinggir jendela saya kepada seorang kancut yang tega bilang kalau bangku saya yang di gang, padahal jelas-jelas A. Saya yang pengen melihat awan kan langsung garuk-garuk rok pramugari.

Bagian ngenesnya adalah waktu transit, bahwa saat itu saya asli ngenes tanpa alat komunikasi apapun di bandara itu. Waktu itu bandara Soekarno-Hatta belum digital. Ganti jadwalnya masih yang model kayak mesin ketik itu.

Ada sekitar 2 jam saya nunggu dengan gamang di ruang tunggu terminal 1, lupa A-B-C. Dan syukurlah pada akhirnya sampai juga ke Jogja dengan selamat.

2. Merpati (2008)

Bagian dari project 9 hari saya yang tahu-tahu mewarnai hidup saya dengan segera dan memusnahkan kemungkinan saya dapat penghargaan kelulusan apoteker, tapi tidak pernah saya sesali karena nilai pengalamannya LUAR BIASA.

Jadi waktu itu saya naik pesawat bareng Pak Lanto dan Pak siapa gitu saya lupa dari Jogja, transit Jakarta, lanjut Medan. Nah, sesudah dari Medan mau ke Gunungsitoli ini yang bikin deg-degan.

Ini adalah pertama kalinya saya naik pesawat kecil, isi 28 penumpang kalau nggak salah. Begitu lihat bahwa tangga naiknya itu dilipat jadi pintu, udah berasa kecilnya ini pesawat. Belum lagi lihat sepasang baling-baling di sayapnya yang tidak kalah mungil, semungil hatiku *uopoooo*

Mengingat saya cupu, jadi saya ikut saja Pak Lanto pilih di gang. Untungnya itu pilihan benar karena ternyata cukup ngenes juga di jendela. Semacam menakutkan gitu.

Tapi seru sih.

3. Taksi di Bandung (2008)

Ini sontoloyo-nya supir taksi di Bandung. Ncen asli sompret. *lah malah misuh-misuh*

Jadi kisahnya, dalam rangka liburan semester dan memberikan support penuh kepada dedek bungsu yang hendak meniup puluik pupuik dan menabuh tampelong talempong, saya dan dua adek langsung menuju Bandung Lautan Asmara.

Rencananya, mau menginap di rumah saudara yang memang ada di Bandung. Kontak kita waktu itu hanya si Petra, sepupu saya yang sepantaran sama si Cici, sekarang sudah jadi lawyer, sementara saya masih jadi officer *separuh curhat*

Terakhir kali ketemu Petra adalah tahun 1997, waktu itu dia masih SD. Dan di dalam perkembangan wanita tentu saja ada perbedaan besar.

Begitu taksi yang diorder sampai ke kompleks yang dituju, mulai deh itu supir kampret belagak nggak ngerti jalan. Berhubung saya juga nggak ngerti jalan, apalagi dua adek saya pun demikian, ya ikut manut patuh begitu supir bilang kagak ngarti. Jadilah taksi dibawa muter-muter nggak karuan.

Pada saat ini juga, Cici menelepon Petra, suruh keluar rumah. Permintaan absurd juga, lha emang kalau Petra keluar rumah kita ngerti bentuknya Petra di tahun 2008 kayak apa?

Ujungnya sih ketemu, dengan cost membengkak dan seringai jahanam ala David Luiz dari supir taksi. Yeah!

4. Solo (2005)

Ada 3 kali saya ke Solo. Eh, 4. Yang terakhir sendirian.

Nah ini yang pertama. Detailnya ada di sisi lain blog ini. Jadi kisahnya si Coco itu pengen naik sepur. Ndeso tenan nggak pernah naik sepur ya. Karena kita, teman-temannya, baik hati dan rajin menabung, maka kita temanilah dia ber-15 semata mau naik Pramex.

Kisahnya panjang banget, jadi monggo dihaturi mampir kesini ya.

5. Ngangin-Ngangin (2007)

Dari namanya saja sudah absurd, tapi itulah desa terpilih untuk melakoni skripsi. Pertama kali saya kesana adalah bonceng Pipin, dan dikasih tahu bahwa tempatnya lumayan nyelempit.

Dimulai dari melewati Kali Progo. Mengingat Ngangin-Ngangin ada di Kulonprogo, alias baratnya Progo. Terus sesudah lewat Progo dan sekian tikungan, masuklah kita ke kanan, dengan sawah membentang.

Sampai di ujung jalan ketika jalan aspal habis, dimulailah petualangan baru dengan jalan berbatu.

Demikianlah pada akhirnya saya sampai di sebuah desa, yang anehnya, jalannya mulus. *jangan-jangan ada akses lainnya ini?*

Pertama kali itu pula langsung ngider dusun, langsung ikut PKK sambil bernyanyi, “hidup gotong royong sehat sandang dan pangan…”

Ehm, begitulah, 5 perjalanan serba pertama saya yang penuh kecupuan dan kebingungan. Maaf kalau nggak lucu, kan cuma berniat ngelucu. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

Untuk yang Rajin Menawari

Hehehehehe… *ngguyu sik*

Jadi pada intinya, beberapa waktu belakangan–di usia 26–saya mulai concern pada asuransi dan investasi. Why? One and the only adalah karena dunia ini ganas, sobat!

Dan, sama halnya dengan yang sudah saya alami sejak bertahun-tahun silam, ada saja orang yang menawari saya unitlink. Kalau dulu, saya memang menolak semata-mata karena saya nggak mau. Lha gimana nggak mau? Wong teman saya yang punya asuransi plus unitlink saja bilang kalau kita nggak untung (dalam jangka kurang dari 10 tahun), masak tetap mau join? *catet, teman saya bukan agen, hanya pembayar premi*

Kemudian sejak membaca goresan seorang teman, salah satunya disini, saya mulai ngeh soal keberadaan unitlink ini. Dan kemudian saya melihat ke blog salah satu perencana keuangan yang saya ikuti di Twitter disini.

Kebetulan, kok satu jalan pikiran dengan saya ๐Ÿ™‚

Saya pernah membaca, tapi lupa dimana, dan saya setuju bahwa dalam keuangan, aspek yang penting adalah meletakkan keuangan di 4 kaki, yakni:

1. Tabungan
2. Instrumen investasi semacam reksadana
3. Instrumen investasi semacam logam mulia
4. Properti

Agak menyesal bahwa duit saya kerja hampir 4 tahun habis semacam tidak terasa, dan habisnya ke hal-hal yang sifatnya ya hilang, misal: tiket pesawat buat LDR lalu LDR-nya putus *eh curcol*

Tapi, ya sudah. Mari kita melihat ke depan saja.

Hal paling kurang ajar dalam ganasnya dunia sudah kelihatan di dunia properti. Harga rumah (bekas) di kawasan jadi di Cikarang ini sudah gila-gilaan, buat saya cenderung tidak masuk akal untuk bisa dicapai oleh gaji karyawan–level staf ke atas sekalipun. Saya memantau ketika tetangga kos mencari-cari rumah dan mendapati bahwa ditinggal 2 bulan saja, harganya sudah lompat. *busettt*

Meski ada sepertiga penyesalan, fakta bahwa nilai properti itu gila-gilaan membuat saya belum cukup menyesal sempurnapernah memutuskan berinvestasi ke sana ๐Ÿ™‚

Nah, dan untuk teman-teman agen, saya sungguh menghargai mereka yang juga menghargai pendirian saya soal unitlink. Maksudnya, kalau saya bilang nggak tertarik, ya sudah. Begitu loh. Kan sama-sama enak.

Masalahnya, ada saja yang kemudian masih melanjutkan penawaran dengan berbagai tambahan lainnya. Sebagai orang usaha, saya harus paham, tapi kasusnya saya sudah pernah bilang nggak tertarik dengan penjelasan yang detail, penawaran berikutnya buat saya–sejujurnya–adalah gangguan.

Ya begitulah ๐Ÿ™‚

Investasi

Sekali-sekali mau nulis soal investasi ah.. Setelah tahun-tahun galau yang hanya habis untuk tiket pesawat, dan pada akhirnya tiket-tiket itu lantas tidak berguna.. Upsss..

Bagaimanapun kita itu hidup BUTUH duit. Percaya kan? Kalau kita hidup bukan untuk duit, saya setuju sekali. Tapi bagaimanapun, duit itu diperlukan.

Dulu waktu kecil kenalnya menabung. Ini kan menyisihkan uang, kecenderungannya tidak berharap lebih. Ingat, jangan berharap lebih. Apalagi bank jaman sekarang. Saya pernah, dengan saldo lima juta (jaman kapan itu? Biasanya nggak sampai 1 juta.. hehehe..) hanya dapat bunga seribu seratus sembilan puluh sembilan rupiah. Luar biasa. Ini sih semacam menggantikan celengan saja. Soalnya dulu waktu kecil, saya jadi tersangka maling koin dari celengan di atas kulkas. Nyolong tabungan sendiri. Hehehe.. Sampai celengan berbentuk rumah itu rusak tak berbentuk saking seringnya dibongkar.

Nah, kalau investasi ini semacam berharap ada kenaikan nilai uang dari nilai yang kita punya pada saat ini.

Dalam investasi, ada dua jenis asset yakni finasial dan riil. Nah, berhubung ini investasi, bagaimanapun resiko kehilangan modal itu jadi teman seperjuangan.

Aset riil sesuai namanya, tentulah yang memiliki bentuk. Macam? Yah, emas, rumah, tanah, dan sejenisnya. Berhubung Tuhan tidak lagi menciptakan tanah, maka harga tanah itu hampir pasti naik dari masa ke masa. Sama persis dengan emas. Kecenderungannya naik jauh. Mamak pernah cerita kalau sepertiga gajinya ketika baru kerja bisa beli satu emas (entah satuan apa ini). Ketika sudah beranak 4? Seluruh gajinya baru bisa beli satu emas. Artinya? Kenaikan harga emas melebihi kenaikan gaji.

Aset finansial adalah yang tidak terlihat tapi punya nilai. Inilah yang dipermainkan di Bursa Efek. Jenisnya? Obligasi, saham, atau reksadana.

Obligasi apaan? Ini adalah surat utang. Diterbitkan, bisa oleh pemerintah atau perusahaan tertentu dengan jangka waktu utang lebih dari 1 tahun. Kalau kita beli surat utang ini, kita akan dapat bunga yang dibayar dalam periode tertentu. Temennya obligasi? Hehehe.. Tentulah ketika yang menerbitkan obligasi tidak bisa bayar. Dan ini lebih susah daripada nagih tetangga yang belum bayar 20 ribu lhoโ€ฆ

Saham, sering kita dengar kan? Ini semacam bukti kepemilikan terhadap suatu organisasi. Karena milik, jadilah untungnya dibagi, dan inilah yang disebut dividen. Dan harga saham tentunya mengikuti kinerja perusahaan. Resiko? Banyakkkk.. Sering lihat kan di tivi-tivi. Makanya kalau mau investasi ini, jangan ngasal pilih perusahaan. Itulah juga banyak perusahaan menampilkan laporan tahunan di dunia maya dan bisa diakses dengan bebas.

Kalau reksadana adalah tempat penghimpunan dana orang-orang dalam badan hukum tertentu. Ibarat naik angkot deh. Si supir akan membawa uang kita ke asset lainnya dan disimpan di tempat bernama bank Kustodian. Ini jelas solusi praktis buat yang mau investasi, tapi cekak. Macam siapa? Macam saya! Hahaha.. Buat sambilan juga oke karena kita nggak perlu memantau saham perusahaan dari waktu ke waktu untuk kemudian jual dan beli. Kata salah satu bos di kantor saya, reksadana adalah wahana yang pas menyimpan uang kita. Ups, nggak menyimpan ding. Menggunakan uang kita!

Selain reksadana ada juga model yang agak mirip. Ini dia HYIP. Detailnya dibahas terpisah ya. Hehehe.. Intinya sih masukkan uang dan tunggu berkembang.

Sekarang, tinggal pilih. Untuk jangka panjang, properti bisa menguntungkan. Bayangkan, dalam 1-2 tahun, harga rumah yang sama bisa naik hingga 100 juta, tergantung lokasi. Apa nggak ngeri itu? Hehehe..

Jangka menengah, katanya sih obligasi. Ya itu tadi, karena secara periodik memberikan hasil.

Jangka pendek, bagaimanapun tabungan itu perlu. Duit jangan dihabiskan semua. Ini nih penyakit saya sampai-sampai kerja bertahun-tahun nggak punya tabungan. Hiks. Udah gitu investasinya minimalis sekali pula. Haduh.

Nggak apa-apa, kata Ciputra dalam salah satu Tweet-nya, umur 25 itu pas untuk mulai wirausaha. Saya pelesetin dikit, umur 25 itu pas untuk mulai SADAR. Hehehe..