Tag Archives: merokok

Selamat Ulang Tahun, Bapak!

Hari ini, 14 April 2013, Bapak saya genap berusia 59 tahun (versi yang saya tahu). Ealah, bahkan ulang tahun Bapak sendiri saja simpang siur. Maklum, orang lama.. hehehehehehe..

Sebuah usia yang cukup matang memang. Dan saya amat sangat bersyukur punya Bapak yang kayak Bapak saya. *uopooo maksudeee…*

Maksud saya gini, ya bersyukur punya Bapak yang di usia 59 tahun masih amat sangat bugar. Punya Bapak yang mengajari saya gaya hidup sehat lewat dua hal sederhana: tidak merokok dan rajin berjalan. Di era dari 3 pria, 2 adalah perokok macam ini, punya Bapak yang tidak merokok adalah sebuah kebahagiaan besar. Setidaknya hal itu bisa jadi dasar bagi saya untuk tidak merokok.

Bersyukur juga punya Bapak yang jujur kayak beliau. Ehm, kalau Bapak saya nggak jujur, mungkin hidup saya nggak gini-gini amat. Kalau ingat Bapak, saya ingat seorang teman yang tahu benar Bapaknya (seorang pejabat di kementrian) bertendensi korupsi dan dia lawan mati-matian. Iya, tanpa perlu saya melawan, Bapak bahkan mengajarkan kejujuran itu pada saya.

Jadi ingat jaman dulu pernah nyolong duitnya orang tua, kalau Mamak berapi-api marahnya, Bapak nggak. Saya cuma diajak ngobrol berdua doang, dan rasanya… jlebbbb… Poin integritas itu memang sungguh luar biasa.

Bersyukur juga punya Bapak yang tidak suka bergadang, karena bergadang di usia segitu kurang baik juga. Ya iyalah, gimana mau bergadang kalau nempel kursi dikit udah molor.. *pisss pak..*

Kalaupun ada role model dalam hidup saya, ya Bapak saya ini. Meski memang satu hal yang saya anggap kurang dari beliau. Iya, hanya satu. Ambisi. Tapi entahlah, kalau tak pikir-pikir, jika saja Bapak punya ambisi berlebihan, bisa-bisa beliau sudah tersangkut perkara uang ke uang dari dulu. Apalagi mengingat posisinya sekarang yang bisa dibilang puncak karier seorang guru.

Satu hal yang memang belum bisa SAYA penuhi adalah perkara menantu dan cucu. Salah sendiri nikah di usia matang (32), dan punya anak di usia lebih matang (33) *lalu ditabok…*

Karena Bapak menikah di usia segitu, maka udah jelas kalau teman-temannya sudah pada punya menantu dan cucu. Mengingat teman-temannya menikah 5-7 tahun lebih dulu. Jadi nih, bebannya di saya. Mana jomblo pula.

Oya, Bapak saya juga ketua lingkungan abadi. Bahkan saking abadinya, nama lingkungan (rayon) dua di gereja saya itu sudah memakai nama Bapak. Rayon Santo Matheus. Kami, anak-anaknya, bahkan sering menyebut nama rayon itu dengan nama lengkap Bapak. Saking lamanya Bapak jadi ketua rayon. Hahahaha…

Selamat ulang tahun, Bapak!

Tetap sehat, tetap jujur, tetap lurusssss… (asli, Bapak saya ini beneran pria lurus.. saking lurusnya, kalo nyimpen-nyimpen duit tambahan dan nggak bilang Mamak, tetap bilang ke saya… hihihihi…)

Semoga cepat dapat menantu, dan kemudian cucu. Jangan dibalik.

😀

Farewell Bruder

Ada satu masa saya gagal paham apa beda bruder dan pastor. Sampai kemudian, pada 1997 saya bertemu dengan adik mbah saya, seorang bruder. Beliau ini yang membawa pakde saya, menjadi seorang romo. Ceritanya katanya begitu.

Dan barusan saya dikasih tahu bapak, kalau bruder sudah meninggal.

Bagaimanapun kalau ada saudara meninggal, pasti ada rasa sedih.

Faktanya memang, mbah bruder sudah gaek. Dan terbiasa merokok entah dari kapan. Pun dilanjut meski sudah operasi jantung. Rokoknya Minak Djinggo pulak.

Tetap sedih.

Jujur saya nggak connect kalau ngobrol sama bruder, karena kadang pertanyaannya diulang-ulang dan ya semacam cucu dengan mbah-nya. Sesimpel itu saja.

Tapi satu hal yang menarik dari statement bruder ini, “nggak usah neko-neko buat tanda salib di tempat umum.”

Yang ngomong bruder loh ini!

Dalam hati, ada benarnya juga. Sebagai minoritas kadang kita nggak perlu menunjukkan sisi itu. Mestinya dari perbuatan dan karya, kita bisa menunjukkan ke-Katolik-an. Isn’t it?

Selamat Jalan Mbah Bruder Justinus Samidi, OSC. Salam ya buat Mbah Kakung disana.

Rest In Peace 🙂