Cermat Finansial Bersama cermati.com

Hidup memang makin susah. Loh, kok malah ngeluh. Mengeluh memang aktivitas beberapa manusia yang belakangan baru ngerti Yunani dan kemudian buru-buru menyimpulkan bahwa negeri ini bisa bangkrut kayak Yunani, tanpa tahu apapun. Hihi. Nah, biar ngerti, salah satu yang perlu kita baca–selain berita yang benar–adalah cermati.com!

Kok gitu?

Dengan membaca cermati.com kita bisa mengetahui aneka produk keuangan mulai dari Kartu Kredit, Kredit Tanpa Agunan (KTA), Kredit Multi Guna (KMG), tabungan, deposito, hingga kredit motor sekalipun. Dengan mengetahui itu semua kita tahu bahwa dunia perbankan negeri ini masih sangat kompetitif satu sama lain. Kok bisa? Bisa dong, karena di cermati.com kita bahkan bisa membandingkan antar produk satu sama lain, misal tabungan dari bank yang satu dengan bank lainnya. Keren kan?

Nah, tak kenal maka tak pacaran. Jadi mari kita kenalan dulu sama Cermati. Cermati adalah perusahaan startup yang bergerak di bidang teknologi finansial Indonesia, didirikan oleh para teknologis dari Silicon Valley dengan tim yang sudah berpengalaman di perusahaan-perusahaan terknologi global terkemuka kayak Google, LinkedIn, Microsoft, sampai enabler PPIC saya tercinta, Oracle. Cermati punya visi untuk menjadikan informasi finansial lebih mudah diakses dan lebih berguna bagi setiap orang dengan menggunakan platform teknologi. Dan produk-produk yang ada memungkinkan kita-kita untuk membuat keputusan finansial yang paling tepat dan cermat untuk situasi finansial sendiri karena kesuksesan finansial selalu bermula dari keputusan yang cermat, selain warisan yang banyak.

Untuk manusia dengan gaji 1,9 juta (dan nggak naik-naik) kayak saya, keberadaan cermati.com lantas menjadi penting karena saya bisa membandingkan dan mengajukan Kredit Tanpa Agunan dengan pilihan yang terbaik. Kenapa, gitu? Yes, karena di cermati.com ada pilihan pencarian yang bermacam-macam. Mau yang dana cepat? Ada. Fee rendah, tenor panjang, bisa bayar awal, hingga yang plafon tinggi tinggal klik dan kita akan ditunjukkan pilihan-pilihan produk keuangan dari berbagai bank. Ini penting karena untuk aspek keuangan ini banyak orang yang kadang nekat tapi nggak tahu, banyak juga yang lantas melewatkan banyak hal karena takut ambil risiko, ya, karena nggak tahu itu tadi.

Dengan pencarian di Cermati, kita bisa mengetahui suku bunganya, total pembayaran, bahkan termasuk cicilan per bulannya. Jadi kita sebagai calon pengaju KTA bisa benar-benar memilih dan tidak karena terpaksa diteror mantan–yang kebetulan jadi telemarketer.

cermatiJika ingin mengetahui lebih jauh, bisa banget. Startup cermati.com ini juga membuat kita bisa melakukan simulasi kredit. Mau simulasi tenor kreditnya atau jumlah kreditnya, bisa-bisa saja. Tidak hanya itu, ketakutan bahwa KTA ini banyak biaya silumannya bakal sirna dengan mudah karena di cermati.com ditampilkan juga biaya-biaya yang menyertai,termasuk biaya pembayaran awal, asuransi, dan lainnya.

Dan guna melengkapi informasi itu, cermati.com juga memuat sampai kepada persyaratan dan ulasan. Misal, usia pemohon berapa tahun? Ada. Mininum gaji? Ada juga. Jadi, dengan gaji saya yang 1,9 juta saya bisa memilih KTA yang relevan untuk modal kawin. Lha iya toh? Kurang apa lagi? Cermati berhasil menjadi solusi untuk lebih cermat mengelola gaji 1,9 juta, eh, mengelola keuangan utamanya yang terkait dengan penggunaan produk-produk keuangan yang kalau nge-Google satu-satu bisa menyebabkan harga cabe naik duluan, saking lamanya.

Yup, segitu dulu. Ini saya lantas jadi sibuk mau cari-cari KTA, soalnya. Buat apa? Yang jelas, bukan buat beli batu akik. Salam cermat!

Advertisements

Jadi Anak Sulung, Enak Nggak?

Anak itu tercipta lewat pertemuan sel telur dan sperma yang lagi iseng pengen main-main ke ovarium. Nah, anak pertama adalah sperma pertama yang kebetulan ketemu dan jodoh dengan sel telur yang ditemuinya. Anak kedua? Tentu saja adalah sperma kedua yang sukses bertemu jodohnya di dalam sana.

Nah, jadi bisa dipastikan bahwa nggak ada satupun anak di dunia yang bisa memilih pengen jadi anak nomor sekian. Jadi semisal si sperma X ini punya angka favorit 7 karena menggemari Cristiano Ronaldo, dia nggak bisa milih bakal jadi anak ke-7, soalnya orangtuanya sudah KB. Bakal susah juga kalau dia penggemar JKT48, karena di era modern ini nggak ada orangtua yang anaknya sampai 48.

Yup, menjadi anak sulung adalah sebuah fakta, kenyataan yang kudu dihadapi. Siap atau tidak siap. Saya sendiri mungkin bisa dibilang nggak siap jadi anak sulung. Salah satu yang pernah dikisahkan oleh ahli-ahli sejarah kepada saya adalah bahwa saya pernah dengan tangisan maksimal meminta orangtua membuang adik saya.

“BUANGGG!!!”

Apakah yang terjadi?

Merekomendasikan tintusfar.wordpress.com

Semalam, sebuah whatsapp masuk ke My Y, minta saran saja sih, untuk menulis artikel bab orang muda dan wirausaha.

Maka, otak saya melayang ke dua blog. Yang satu punya Merry Riana, satunya lagi punya Tintus.

Kalau Merry Riana ini semacam perspektif finansial. Idenya bagus, hanya kurang dekat. Yah, Merry lulusan NTU, memang sempat tertatih, tapi dia menjalani hidup dengan baik di Singapura. Oke sih, inspiratif, tapi mungkin saya butuh contoh yang jauh lebih dekat.

Maka saya lantas merekomendasikan blognya Tintus. Toh, Tintus juga terinspirasi dari Merry Riana. Merekomendasikan blog yang ini malah bermakna dapat dua-duanya. Bukan begitu?

Ini blog sebenarnya isinya simpel. Betul-betul tentang sehari-hari. Beda dengan blog ini yang separuh berat dan separuh lagi galau. *astaga*

Tintus berkisah dengan mengalir, habis bangun, mencuci, habis itu mandi, dan seterusnya sampai tidur. Betul-betul sederhana. Mengalahkan nama blog saya yang sebuah perspektif sederhana tapi banyak biasnya.

Kolom about-nya juga simpel: Hanya seorang laki-laki kecil. Bercita-cita memiliki kebebasan dalam segala hal.

That’s the point!

Tintus betul-betul membuat blognya simpel, bahkan tanpa mengganti judul blognya. Itu masih asli pemberian wordpress. Hehehehe. Tapi blog berdesain bagus ya nggak bermakna kalau tidak berisi. Pastinya demikian.

Satu hal yang penting adalah ketika seseorang mampu memutuskan pilihannya, dan lantas menjalaninya. Itu bagus. Poin itu yang saya harap bisa ditangkap oleh pengirim whatsapp, ketika saya merekomendasikannya membuka tintusfar.wordpress.com

Sekadar review, sila cek di daftar blog teman di sebelah kiri blog ini, kalau memang berminat 🙂