Valentine Yang Sebenarnya

Dylon sedang berdiri mematung dengan mata menggantung nanar. Namanya orang jatuh cinta diam-diam itu sebenarnya nggak sulit ditelaah. Cari saja makhluk yang mematung dengan pandangan kosong sambil pura-pura senyum dan ekspresi sedatar kaca. Yah, orang jatuh cinta diam-diam itu akan selalu demikian ketika ada yang dijatuhi cinta di tempat yang sama. Persis dengan Dylon saat ini.

“Duarrrrr…”

Dinamika berlanjut. Ini sebenarnya lagi malah keakraban. Maka dinamika adalah bagian dari keakraban. Sayang, Dylon berada di tempat yang jauh dengan Lana. Alias, berada di dinamika yang terpisah. Maka metode yang pas memang hanya mematung menatap menahan, kata orang 3M. Namanya juga jatuh cinta diam-diam.

Saking mematung diam setengah senyumnya, Dylon sampai tidak sadar kalau Lana sedang mendekati dia.

“Oi… Ngelamun?” kata Lana.

“…….” Dylon mendadak gelagapan, menjelang serangan jantung, eh jatuh, jatuh cinta tepatnya.

“Pin berapa?”

“3487”

“Pin apaan tuh?”

“ATM.”

Lana pingsan, tidak menyangka ada pria oon di hadapannya.

“Pin BB monyonggg…”

“Ohhhhh… ngomong dong.. hehehehe..” Dylon masih gelagapan sambil kemudian menyebut deretan huruf dan angka, eh angka dan huruf mungkin.

Dalam tiga empat kutak kutik Dylon dan Lana sudah terkoneksi. Ini mungkin yang namanya durian runtuh dalam posisi terbuka dengan buah menghadap ke atas. Barang enak datang dengan posisi yang juga enak, alias tinggal leppp.. tinggal leepppp…

Maka, di malam itu, sambil bobo macam ikan pepes di ruangan yang tidak begitu lebar, Dylon lebih sibuk mengamati BB-nya, hanya memandang profil BBM si Lana. Sosok makhluk yang sebenarnya ada lima meter di tenggaranya, dan sedang asyik bersama rekan gang-nya.

Namanya juga orang jatuh cinta diam-diam, kalau ngomong cinta, maka tidak diam-diam namanya. Dylon lebih percaya bahwa jatuh cinta diam-diam adalah bentuk terindah dalam mencintai, meski ia paham bahwa itu adalah benda yang sama dengan bentuk paling sakit dalam aspek mencinta. Dylon paham benar, hanya sesudah kejatuhan cinta Lana.

Pin BB adalah akses. Para pecinta masa kini harus bersyukur pada penemu BB. Karena para pemalu bisa mudah melakukan PDKT, tanpa perlu surat cinta, tanpa perlu belajar gitar guna bernyanyi lagu romantis, tanpa perlu bertemu bapak dan emak yang mungkin galak. Semua berjalan dengan deretan huruf, angka, plus karakter. Serba digital. Termasuk percakapan Dylon dan Lana kemudian.

“Malemmmm…” ketik Dylon.

Tunggu.

Tunggu.

Tunggu.

BB tidak bergetar.

Pantas saja, Dylon belum menekan tombol untuk memasukkan deretan kata-katanya ke dalam percakapan. Maklum, pecinta diam-diam.

“Yuppp..”

“Bole main?”

“Main apaan?”

“Main ke kosmu. Boleh ya.. ya.. ya…”

“Wkwk.. Ngapain euy? Nggak apa-apa sih. Lagi ada temen juga disini.”

“Capcussss…”

Dylon dengan semangat empat lima bagi lima alias sembilan, bergegas berangkat ke kos Lana yang jaraknya sepelemparan batu kerikil oleh meriam. Sebuah kerumitan untuk menjelaskan kesederhanaan: agak jauh.

Hari itu 13 Februari, menjelang hari kasih sayang.

Dylon tiba di kos Lana yang memang gelap. Mungkin ini bagian dari Cost Reduction Program di kos tersebut. Maklum, hari gini, penghematan itu harus dilakukan oleh rakyat. Catet, oleh rakyat doang loh ya..

Sebuah sepeda motor besar disana. Tidak, tidak, ini tidak sebuah sepeda motor sebesar mobil jeep. Sebutlah ini motor lelaki, berkopling, dan dinaiki dengan jantan. Sebagai pecinta diam-diam, Dylon agak paham soal ini. Ada deg-degan yang aneh, bukan deg-degan senang, tapi deg-degan khawatir. Dylon tahu karena nadanya beda. Yang khawatir pakai kunci minor.

Dan benarrrrr..

Untaian nada minor membahana di relung hati si pecinta diam-diam. Lana sedang bersama seorang pria. Hanya berdua saja. Betul, berdua di remangnya ruang tamu kos.

Dylon mundur teratur, teratur sekali, sampai dia perlu beraba-aba “balik kanan, grakkkk…” sebelum mengalihkan pandangan matanya.

* * *

Bilangan tahun berlalu.

Dylon kembali ke tempat yang sama. Berharap menemukan Lana. Tentu tidak ada lagi. Lana sudah tidak kos di tempat yang sama, bahkan sudah tidak di kota yang sama.

Bilangan tahun berlalu.

Dylon masih seorang pecinta diam-diam. Seorang pengharap yang bermimpi 13 Februarinya akan diikuti 14 Februari bersama Lana. Ya, Lana, valentine Dylon yang sebenarnya.

Sang Guru

Entah mengapa, tiba-tiba teringat sebuah quote bagus dari Bapak Uda waktu saya mudik kemarin.

“Bapak si Alex ini pasti ada yang kenal di jalan…”

Simple.

Bapak Uda memang jadi saksi ketika hanya untuk mengisi angin mobil saja, bapak dan mamak sudah menyapa setidaknya 3 orang.

Bapak saya lebih dari 34 tahun mengajar, kalau mamak sekitar 27 tahun. Suatu angka yang wajar untuk mengenal banyak manusia. Misal 1 tahun ajaran ada 100 anak baru, maka bapak saya setidaknya sudah kenal 3.400 orang dan mamak 2.700 orang. Itu baru muridnya, dengan orang tuanya waktu terima raport, taruhlah separuh yang diwalikelasi oleh bapak dan mamak, maka bapak kenal 1.700 orang wali murid dan mamak punya 1.350 wali murid.

Hitungan sederhana yang mungkin berkurang karena banyak kasus 1 orang tua punya 3 anak yang muridnya bapak mamak semua. Dan ada juga yang sampai anak beranak diajar sama bapak atau mamak.

Hitung deh berapa RIBU?

Yak, betul! Ribuan!

Ini sih nggak sebanyak follower Raditya Dika yang sekitar 2 juta. Apalagi sebanyak follower Lady Gaga. Tapi kalau saya jalan-jalan di Bukittinggi, NYARIS nggak pernah bapak atau mamak TIDAK menyapa seseorang.

Kalau ditanya, “siapa pak?”

“Wali murid..”

“Murid…”

“Orang dinas..”

“Orang gereja..”

“Teman kuliah..”

Yak, selain di sekolah, bapak dan mamak juga kuliah di kota yang sama (sambil momong anak plus sambil kerja). Jadi sudah nggak kehitung temannya ada berapa banyak.

Itulah ENAKnya guru. Saya nggak usah ngomong nggak ENAKnya ya. Enaknya jelas sekali, banyak RELASI. Nggak terhitung dampak dari per-wali murid-an ini. Simpel saja, saya dulu mudik, lalu di sekolah ketemu wali muridnya mamak, yang mana anaknya sudah bertahun-tahun lolos dari kelasnya mamak. Dan saya dikasih duit, lumayan, cepek.

Nggak ada dampak ke dunia pendidikan, karena anaknya sudah jauh lewat dari kuasa mamak saya. Tapi dampak relasi? Masih terus berjalan.

Dan saya menangkap, inilah KEKAYAAN dari guru. Relasi!

Dan sesekali saya bandingkan itu dengan apa yang saya alami di sebuah kawasan industri sebagai tempat mencari nafkah.

🙂

Kita kan punya jalan hidup masing-masing to?

BRB, CMIIW, dan Kepo

Sebagai manusia rajin twitter, saya sering melihat timeline. Lebih sering cek TL alih-alih cek muka sendiri. Yah, itu sih karena ketiadaan cermin. Harap maklum. Nah, di dunia maya itu, ada beberapa diksi menarik di TL, yang sering tak baca.

Kepo
Disebutkan secara etimologis berasal dari kata KAYPOH, bahasa Hokkian, jamak di Singapura dan sekitarnya. Artinya sih ingin tahu-mencampuri urusan orang lain. Jelas kan? “Dia lagi kerjain apa sih?” “Kepo banget sih lo!”. Ada juga yang bilang itu singkatan dari KNOW EVERY PARTICULAR OBJECT. Nah, entahlah yang mana yang benar.

brb
Ini banyak tampil di manusia-manusia yang saya follow. BRB, apaan coba? Berabe? Ternyata, BRB adalah singkatan dari Buka Rok Bentar atau Be Right Back! Semacam, tunggu sebentar, akan segera kembali.

CMIIW
downloadx
ini yang paling dahsyat. Singkatan apa sepanjang ini. Hmmm.. Ternyata artinya adalah Correct Me If I’m Wrong. Nah loh! Semacam apa itu? Koreksi saya, jika saya salah. Hmmm..

Terlalu luas 26 huruf itu untuk dikembangkan. Maka, update adalah upayanya. Saya kurang update, jujur saja. Nah, jadi saya harap dengan baca blog ini, bisa nggak kuper macam saya. Lha saya juga baru tahu.

Jalan Alternatif Jababeka-Lippo Cikarang

Judul di atas adalah sebuah keyword yang masuk ke blog saya. Tampaknya ada yang pengen tahu, jadi saya kasih sedikit yang saya tahu.

Pada intinya, jalur utama Jababeka ke Lippo adalah via Jalan Cikarang-Cibarusah. Cuma kalau minggu pagi, suka ada cegatan selektif di jembatan Tegalgede. Kalau hari biasa, muacettttt e rek..

Nah, beberapa jalur yang bisa dilewati adalah via Kalimalang.

Jadi menyusur Kalimalang lewat exit Jababeka II, kita bisa menemukan beberapa jembatan yang melintasi Kalimalang. Ada yang sebelum pintu 11, dari pintu 10. Ada juga yang sesudah pintu 11. Nah, yang sebelum pintu 11 ini akan masuk jalan kampung dan nanti ketemu di Gemalapik, sebelah CTC kira-kira.

Demikian pula dengan belokan pertama sesudah pintu 11. Tembusnya sama.

Nah, ada lagi via jalan berikutnya yang akan tembus ke sekitar Cibiru, Lippo Cikarang. Tembusnya sih di bundaran depan Taman Beverli.

Jalannya?

Ya, namanya juga alternatif. Hehehehe.. Klaskon saya pernah mati gara-gara lewat jalan belum jadi. Penanda kalau kita benar sih gampang, asal sudah lewat jembatan kecil yang melintas di atas jalan tol, itu berarti kita sudah benar, karena sebenarnya Jababeka dan Lippo dibelah oleh Tol Cikampek.

Jalan yang di atas sudah ditutup euy. Jadi sekarang langsung aja lewat Delta Mas melalui jembatan Tegal Danas, lalu jangan ke kiri karena itu ke Delta Mas, tapi ke kanan, nanti akan masuk kawasan Delta Silicon yang baru. Disitu nanti ada pabrik besar macam Kumon dan yang paling kelihatan Hankook. Nanti akan tembus di dekat Elysium. Jalannya cukup enak, maklum baru dan kawasannya juga masih terhitung sepi.

Semoga membantu 🙂

Bertanya

Mungkin ini perspektif saya saja sih.
Tapi begini, dalam bekerja, ada banyak hal yang kita nggak tahu.

Persoalannya, apakah setiap ketidaktahuan itu harus kita tanyakan?

Kalau saya bilang sih nggak.

Kenapa? Dalam bekerja, kita HARUS punya waktu untuk menangkap fenomena. Rutinitas kerja itu fenomena hari-hari, kalau kita menangkap semuanya, nanti pasti ketemu hal-hal yang perlu DIKONFIRMASI. Nah itu baru ditanyakan.

Karena kadang-kadang kita bertanya itu tidak ke orang yang tepat. Dan ingat, ini kerja, tekanan beda, bisa jadi kita bertanya tidak pada WAKTU yang tepat. Dampaknya? Emosi terpendam dalam jawaban.

Pertanyaan diperlukan ketika kita berhasil menemukan hal-hal yang perlu DIKONFIRMASI. Jangan setiap tidak ketemu pertanyaan, langsung ditanyakan. Pertanyaan beruntun bukan hal yang disukai di area kerja dengan tekanan dan rutinitas.

Usahakan cari sendiri, terlebih dahulu. Dan asal tahu, kalau mencari sendiri itu beneran lebih nempel di hati. Nggak mudah lupa. Sama persis waktu saya belajar VLOOKUP ketika awal-awal jadi PPIC.

Tapi satu hal yang harus DITANYAKAN adalah ketika terkait dengan EKSEKUSI. Pencet tombol mana, setting mesin bagaimana, itu jelas harus ditanyakan.

Saya memang baru 2 tahun sekian bulan kerja, tapi setidaknya itulah pengalaman yang saya punya. Saya kadang nggak tahu, saya kadang dapat jawaban emosi, dan saya juga pernah menjawab dengan emosi.

Bahwa ketidaktahuan tidak selalu relevan dengan bertanya. Kadang ketidaktahuan bisa relevan dengan kecermatan kita menangkap fenomena.

 

Sebuah Jalan Tanpa Arah

Aku Repa, sebuah jalan tanpa arah.

Aku baru saja keluar dari sebuah rumah, tempat dimana aku cukup lama tinggal. Ya, sebenarnya waktu itu niatnya mau mampir, tapi ketiduran, jadi mampirnya agak lama. Nggak apa-apa. Ini mohon dimaklumi. Aku sebenarnya hendak menuju ke Hera di sebelah sana. Tapi selalu tampak sedang sibuk atau tidak mau diganggu. Aku belum sempat kontak dia sebenarnya, apakah dia mau ditemui atau tidak. Karena hanya tampak saja, jadi ya aku mampir dulu. Minum-minum lalu mabuk.

Ketika sudah sadar, aku bangun dan sesekali melihat ke luar jendela. Aku agak pusing, jadi belum berani keluar rumah. Kebanyakan minum tuak soalnya. Di jendela, aku masih menemukan hati yang di sebelah sana itu. Masih sibuk juga dia. Jadi biarlah aku tinggal dulu sebentar.

Hmmm.. Tapi lama-lama waktu mendesakku untuk menuju ke Hera yang ada disana. Ya sudah, aku keluar dari rumah, lalu beranjak. Karena aku nggak bayar, jadi aku nggak boleh menginap lagi di rumah itu. Nggak apa-apalah, aku sudah sadar ini.

Bukan hal yang mudah ternyata. Hera masih sendiri dengan rumah terbuka. Tapi di papan yang nangkring di depan tempat tinggalnya tertulis “sedang menunggu”. Wah, payah juga ini. Ini menunggu siapa, dan kapan aku bisa masuk menemui Hera. Mau nunggu sampai kapan aku disini? Padahal aku sudah nggak nginap di rumah itu lagi loh.

Baiklah, aku tunggu deh. Kalau memang kelamaan, aku duluin saja. Kelamaan menunggu itu nggak baik, tapi tanpa menunggu itu juga sama tidak baiknya.

Dan ini hari ke dua ribu aku menanti, dalam panas dan hujan, dalam siang dan malam. Berharap papan “sedang menunggu” itu bisa dilepas.

Baiklah, aku akan terus menanti.

Menemukan Pada Kehilangan

Sebuah email masuk di pushmail saya (sok-sokan ceritanya):

Hi,
All advertisements and affiliate links currently active on your site need to be removed, please. These are not permitted at WordPress.com, as per our advertising policy

Ini datang dari Anthony atas nama WordPress. Segera saya nyalakan laptop, buka alamat blog ini, dan..

https://ariesadhar.wordpress.com sudah terbuka kembali. Ditandai dengan dua bola mata yang masih menatap dengan penuh misteri.

Ahhhhh.. Akhirnya….. Blog ini aktif lagi…

Baru sadar ternyata Bu Yuli memantau blog saya juga. Sampai nge-wall kok ga bisa dibuka.. hehehehe..

Pelajarannya? Ini bukan sekadar You Don’t Know What You Have Until You Loose It, tapi lebih lagi. Apa sih makna kehilangan? Kehilangan blog ini berarti banyak. Ketika saya cerita ke beberapa teman muncul komentar-komentar macam, “sayang loh, kan udah banyak…” atau “pasti karena pasal terlalu galau” dan lainnya. Kehilangan blog terasa lebih menyedihkan. Hasil permenungan saya, karena blog ini adalah karya saya sendiri, dan sudah banyak, tanpa back up pula. Mau dibawa kemana kisah-kisah penggalauan ini kalau blog ini hilang? Saya langsung bikin di blogspot sih, tapi mendadak mood menulis hilang total. Saya masih merasa kehilangan.

Dan email barusan sungguh menjadi makna menemukan. Baiklah, semua link soal bisnis saya non aktifkan. Mungkin ada cara lain cari referral. Yang penting sepasang mata itu masih bisa memandang penuh misteri di kepala blog ini.

Welcome Back!

😀

 

Membeli Liberty Reserve

Liberty Reserve?

Apaan tuh? Semacam patung Liberty?

Nggak kali.. Liberty Reserve adalah salah satu bentuk uang versi dunia maya. Jadi begini, dalam hal mau main-main di Forex misalnya, ataupun hendak investasi di HYIP luar negeri, kita agak susah kalau mau transfer via bank lokal. Salah satu cara yang paling enak adalah memasukkan uang kita ke Forex atau investasi via LR ini.

Nah, LR ini bisa dicek di google. Cara masuknya agak rempong. Sumpah! Tapi wajar karena ini untuk menjamin bahwa entry dilakukan sepenuhnya oleh manusia dan orang yang sama.

Karena, bahkan IP beda saja, dideteksi lain oleh LR. Padahal modemnya bisa jadi sama, tapi kan IP bisa berubah-ubah.

Saya sarankan kalau mau buka LR ini, pakai email tersendiri. Atau, buat file dengan proteksi, simpan data-data LR disana. Karena kalau mau sign in, repot bukan main, dengan data-data dan variasi karakter yang berbeda-beda.

Pertanyaannya, bagaimana caranya kita bisa mengisi duit ke LR?

NAH!

Ada cara mudah dengan cara model membeli pulsa. Iya, beli pulsa. Kita menyetor sejumlah yang yang kita butuh untuk membeli sejumlah dollar/euro guna dimasukkan ke LR.

Ada banyak provider jasa ini, kita bisa menggunakan yang terpercaya. Sila googling saja, kalau mau beli via online.

Tentu ada fee. Jadi kalau beli 14 dollar misal, maka yang masuk ke LR kita paling 13.86 dollar. Namanya juga biaya jasa.

Yak, semoga membantu untuk yang mau investasi di level luar negeri.

Salam!

Investasi

Sekali-sekali mau nulis soal investasi ah.. Setelah tahun-tahun galau yang hanya habis untuk tiket pesawat, dan pada akhirnya tiket-tiket itu lantas tidak berguna.. Upsss..

Bagaimanapun kita itu hidup BUTUH duit. Percaya kan? Kalau kita hidup bukan untuk duit, saya setuju sekali. Tapi bagaimanapun, duit itu diperlukan.

Dulu waktu kecil kenalnya menabung. Ini kan menyisihkan uang, kecenderungannya tidak berharap lebih. Ingat, jangan berharap lebih. Apalagi bank jaman sekarang. Saya pernah, dengan saldo lima juta (jaman kapan itu? Biasanya nggak sampai 1 juta.. hehehe..) hanya dapat bunga seribu seratus sembilan puluh sembilan rupiah. Luar biasa. Ini sih semacam menggantikan celengan saja. Soalnya dulu waktu kecil, saya jadi tersangka maling koin dari celengan di atas kulkas. Nyolong tabungan sendiri. Hehehe.. Sampai celengan berbentuk rumah itu rusak tak berbentuk saking seringnya dibongkar.

Nah, kalau investasi ini semacam berharap ada kenaikan nilai uang dari nilai yang kita punya pada saat ini.

Dalam investasi, ada dua jenis asset yakni finasial dan riil. Nah, berhubung ini investasi, bagaimanapun resiko kehilangan modal itu jadi teman seperjuangan.

Aset riil sesuai namanya, tentulah yang memiliki bentuk. Macam? Yah, emas, rumah, tanah, dan sejenisnya. Berhubung Tuhan tidak lagi menciptakan tanah, maka harga tanah itu hampir pasti naik dari masa ke masa. Sama persis dengan emas. Kecenderungannya naik jauh. Mamak pernah cerita kalau sepertiga gajinya ketika baru kerja bisa beli satu emas (entah satuan apa ini). Ketika sudah beranak 4? Seluruh gajinya baru bisa beli satu emas. Artinya? Kenaikan harga emas melebihi kenaikan gaji.

Aset finansial adalah yang tidak terlihat tapi punya nilai. Inilah yang dipermainkan di Bursa Efek. Jenisnya? Obligasi, saham, atau reksadana.

Obligasi apaan? Ini adalah surat utang. Diterbitkan, bisa oleh pemerintah atau perusahaan tertentu dengan jangka waktu utang lebih dari 1 tahun. Kalau kita beli surat utang ini, kita akan dapat bunga yang dibayar dalam periode tertentu. Temennya obligasi? Hehehe.. Tentulah ketika yang menerbitkan obligasi tidak bisa bayar. Dan ini lebih susah daripada nagih tetangga yang belum bayar 20 ribu lho…

Saham, sering kita dengar kan? Ini semacam bukti kepemilikan terhadap suatu organisasi. Karena milik, jadilah untungnya dibagi, dan inilah yang disebut dividen. Dan harga saham tentunya mengikuti kinerja perusahaan. Resiko? Banyakkkk.. Sering lihat kan di tivi-tivi. Makanya kalau mau investasi ini, jangan ngasal pilih perusahaan. Itulah juga banyak perusahaan menampilkan laporan tahunan di dunia maya dan bisa diakses dengan bebas.

Kalau reksadana adalah tempat penghimpunan dana orang-orang dalam badan hukum tertentu. Ibarat naik angkot deh. Si supir akan membawa uang kita ke asset lainnya dan disimpan di tempat bernama bank Kustodian. Ini jelas solusi praktis buat yang mau investasi, tapi cekak. Macam siapa? Macam saya! Hahaha.. Buat sambilan juga oke karena kita nggak perlu memantau saham perusahaan dari waktu ke waktu untuk kemudian jual dan beli. Kata salah satu bos di kantor saya, reksadana adalah wahana yang pas menyimpan uang kita. Ups, nggak menyimpan ding. Menggunakan uang kita!

Selain reksadana ada juga model yang agak mirip. Ini dia HYIP. Detailnya dibahas terpisah ya. Hehehe.. Intinya sih masukkan uang dan tunggu berkembang.

Sekarang, tinggal pilih. Untuk jangka panjang, properti bisa menguntungkan. Bayangkan, dalam 1-2 tahun, harga rumah yang sama bisa naik hingga 100 juta, tergantung lokasi. Apa nggak ngeri itu? Hehehe..

Jangka menengah, katanya sih obligasi. Ya itu tadi, karena secara periodik memberikan hasil.

Jangka pendek, bagaimanapun tabungan itu perlu. Duit jangan dihabiskan semua. Ini nih penyakit saya sampai-sampai kerja bertahun-tahun nggak punya tabungan. Hiks. Udah gitu investasinya minimalis sekali pula. Haduh.

Nggak apa-apa, kata Ciputra dalam salah satu Tweet-nya, umur 25 itu pas untuk mulai wirausaha. Saya pelesetin dikit, umur 25 itu pas untuk mulai SADAR. Hehehe..

 

Bagaimana Membangun Sistem?

Huahahahaha..

Mari ketawa dulu.

Mungkin tulisan ini patut dan layak ditertawakan. Siapa saya? Berani-beraninya menulis tentang BAGAIMANA MEMBANGUN SISTEM. Haikss.. Kerjaan aja  cuma ngurusin c***** wkwwkwk..

Tapi sempat diskusi dengan rekan apoteker di kantor lama, soal bagaimana memulai membangun sistem. Jadi ini kisahnya sekadar sharing doang.

Dalam membangun sistem itu yang pertama-tama diperlukan adalah pemetaan proses-proses yang ada di suatu organisasi. Misal, saya kasih contoh usaha es mambo di keluarga saya dulu aja. Ada bagian pembelian, ada bagian produksi, ada bagian formulasi es mambo, ada bagian pengembangan bisnis, ada bagian penyimpanan, ada bagian kualitas, dan ada bagian penjualan. Yah, pada umumnya mamak saya semua sih yang ngelakuin, kecuali produksi-packaging.

Kalau sudah dipetakan, maka lanjutannya adalah pembuatan peta dalam gambar, lebih baik begitu. Ini yang kalau di teori dikenal dengan Business Process Mapping (BPM), yang kalau training itu 3 hari 5 juta rupiah. Hehehe..

Sesudah itu, kalau sudah ketemu proses-prosesnya, maka buatlah detail flow per proses. Jadi misal formulasi es mambo itu dimulai dari masukan dilanjutkan dengan trial dilanjutkan lagi dengan evaluasi, hingga pada keputusan es mambo yang enak macam apa. Gitu saja kok. Nggak repot-repot. Kalau es mambo nggak repot, maksudnya gitu.

Nah kalau sudah, cocokkan flow proses alias Standar Operating Procedure (SOP) itu ke BPM. Sesuai? Kalau sudah mari kita lanjut lagi.

Kemudian kita beranjak pada struktur dokumen. Biasanya ada beberapa level. Ujung pertama namanya MANUAL. Hasil mapping dan flow tadi dibahasakan dan disesuaikan dengan standar yang berlaku. Misal kita mau ngacu ke ISO 9001, ya sesuaikanlah manual dengan map dan flow tadi. Sampai di tahap ini maka kita sampai pada jejaring yang makin rumit. Sesekali saya hendak muntah kalau membahas ini. Penyesuaian diperlukan karena sejatinya kita harus berangkat dari MANUAL itu. Cara yang saya paparkan disini semata agar kita nggak buta pada keadaan saja.

Kalau sudah juga, turunkan ke instruksi kerja alias kalau kerennya Working Instruction (WI). Bagaimana membungkus es mambo yang baik, dan sejenisnya.

Dilengkapi pula dengan form, misal kartu stok karet atau kartu stok plastik. Atau juga checklist pembersihan baskom es mambo.

Voila, jadilah sistem sederhana kita.

Untuk memastikan, ada yang namanya proses AUDIT yang bertujuan memverifikasi sistem dengan aktual prosesnya.

Sejatinya ya begini saja. Tapi semakin besar jaringnya, maka semakin pusinglah kepala. Semakin mau muntah juga saya. Hehehehe..

Semoga bisa menjadi informasi yang berguna 🙂

Sudah jadi?

 

Bapak Millennial