Apresiasi

Teman-teman sekalian yang sering terpaksa klik link di facebook dan lantas nongol di blog ini, saya mau bilang terima kasih banyak atas kesediaan teman-teman untuk nge-klik dan membaca tulisan-tulisan saya.

Sebagai makhluk yang baru belajar (kembali) menulis, memang kadang tulisan-tulisan saya jadi agak GEJE. Hehe. Secara umum, tulisan saya memang nggak sedetail dan semanis punya Tere. Atau juga tidak se-sentimentil Yola. Apalagi sebijak Bos DP dan segila Pak Enade. Tapi namanya juga baru belajar (kembali) menulis. Hehehe.

Setiap teman-teman yang membaca adalah berkah buat saya. Sebuah tulisan hanya akan jadi paparan huruf tak bertuan tanpa ada yang membaca. Lebih baik lagi, jika memang ada feedback. Saya sangat senang jika ada yang bilang “bagus”, “menarik”, “galau”. Dan saya juga sangat senang apabila komentarnya ada buntutnya “bagus sih, tapi…”, “boleh juga, tapi lebih mantap kalau…”

Apapun itu teman-teman, setiap feedback adalah masukan yang berharga buat saya. Jadi, mohon, kalau ada sanggahan atau apapun ketika membaca tulisan-tulisan saya, silahkan di-feedback. Saya bukan orang yang mudah menerima kritik, pada dasarnya. Tapi dalam hal ini, saya memilih untuk terbuka pada apa saja karena saya sadar hanya cara itulah yang dapat mengembangkan saya.

Sekali lagi, terima kasih. Dan nantikan kisah-kisah sentimentil-melankolis berikutnya. Tapi btw, saya sudah berusaha menyisipkan komedi lho. Terasa nggak ya? 🙂

Salam!

Selamat Ulang Tahun, Na!

Lyona Sutanto/0809745
Hari gini jaman modern bro. Segala yang terkomputerisasi itu biasa 🙂 Do it with your hand!

Martin Yorizlavino/0905543
Bikin handmade gitu? Macam apa?

Lyona Sutanto/0809745
Apa kek, prakarya, sketsa, rumah-rumahan, atau simple, cukup surat cinta. Pakai tangan dong!

Martin Yorizlavino/0905543
Yeyeahh.. Nice idea my sist. Hahaha 🙂 OK. Thanks advisenya. Let’s continue our work. Zzzzzz….

Lyona Sutanto/0809745
Sleepy?

Martin Yorizlavino/0905543
Kalo ga sleepy bukan saya namanya hohoho.

Telepon berdering, layar memperlihatkan sumber telepon. Bos.

“Halo..”

“Yo, ke saya sebentar.”

“Siap pak.”

Martin Yorizlavino/0905543
Udah yak. Dipanggil bos.

Lyona Sutanto/0809745
Haha. Sip. Bonus gede tuh ntar 🙂

Chatting itu berhenti. Yo mengganti status aplikasi chatting internal itu dengan segera, “On Duty”. Hari gini semua bisa dikasih status, entah Facebook, BBM, Whatsapp, bahkan chatting internal kantor macam ini.

Yo beranjak ke ruang bos yang sebenarnya hanya 7 meter dari tempat duduknya. Perinciannya 5 meter lurus dan 2 meter lagi belok kiri. Pintu kaca  dengan tulisan COMPLIANCE MANAGER sudah terpampang jelas disana. Yo adalah anak bagian compliance, sehingga sesekali dia dipanggil su-comply alias sukomplai jika di-Indonesia-kan.

Skip. Nggak perlu tahu apa yang dibicarakan Yo dengan bos. Itu rahasia perusahaan.

Jam lima tepat, bel sudah berbunyi. Ini kantor apa sekolahan memangnya? Entahlah, yang jelas itu tandanya untuk slow down dari pekerjaan, meski Yo baru dapat meninggalkan kursi cokelatnya beberapa jam lagi. Yo anak kesayangan bos, maksudnya kesayangan adalah semua pekerjaan dikasih ke Yo. Dalam dunia kerja ini makna anak kesayangan, beda dengan konsep anak kesayangan ala orang tua kandung.

Yo mulai tergelitik mengunjungi Mbah Dukun paling ternama di dunia yang paling tahu semuanya, Mbah Google. Jemarinya menari mengetik handmade, handycraft, hand gift, dan segala yang berbau hand. Tampaknya chat dengan Lyona sesudah makan siang tadi masih membekas di kepalanya.

Gambar-gambar di Google Image perlahan masuk ke otak Yo.

“Just make a special gift. Handmade!” bisiknya sambil mematikan komputer. Kasihan sekali komputer itu dibunuh sia-sia.

Yo melangkah cepat menuju mobilnya. Dibukanya pintu belakang dan dilemparnya laptop kantor itu ke atas jok. Yo sudah tidak sabar hendak bermain-main dengan tangannya.

* * *

Jam 8 malam. Yo sudah siap dengan semangat 45 dan beberapa gulung kertas. Selama 25 tahun karier hidupnya, baru kali ini dia membuat prakarya di luar tugas sekolah. Dan baru kali ini dia membuat prakarya untuk seorang gadis. Rekam jejak dengan mantan-mantannya tidak mencatat hal ini. Paling mentok mug dan kaos dengan desain photoshop sederhana. Udah, mentok disitu.

Jari-jarinya menari manis bersama cutter, kertas, pensil, spidol, yang semuanya sungguh-sungguh baru. Tak lupa beberapa tumpuk koran lama juga duduk manis di dekatnya. Ada apa gerangan?

Yo tampak semakin serius, bahkan ketika jam sudah menunjuk angka 11. Tangan yang biasanya gesit di atas mouse itu kini kena noda-noda lem dan sedang asyik bergaul bersama kertas asturo berikut alat-alat pemotongnya. Jelas sekali, Yo sedang berusaha membuat karya, yang benar-benar handmade.

* * *

Martin Yorizlavino/0905543
Zzzz… Ngantuk.. Handmade-nya sudah jadi. Gimana cara ngasihnya sist?

Lyona Sutanto/0809745
Hahaha. Kasih sendiri dong.

Martin Yorizlavino/0905543
Lha kan gue dinas besok pas dia ulang tahun.

Lyona Sutanto/0809745
Bagusnya sih lu kasih sendiri. Saia tidak tanggung dampaknya jika tidak.

Martin Yorizlavino/0905543
Jiahhh.. Gue yang tanggung kalau kagak berangkat besok ini.

Lyona Sutanto/0809745
Up to you bro. Ekspedisi juga ada kan. Susah amat. Make it special tapi. Hahaha.

Lyona memang teman curcol dan pemberi tips paling jitu bagi Yo. Meski temannya itu punya nama semacam Singa, tapi dalam hal memberi solusi, Lyona tak kalah cerdik dari kancil.

* * *

Malam belum menjelang tapi Yo sudah sampai di mobilnya, satpam pada heran. Ini mungkin keajaiban dunia ke-8 kalau Yo pulang sebelum gelap. Tapi Yo kudu mengejar waktu ekspedisi tutup. Lagipula besok Yo harus berangkat pagi-pagi buta. Namanya juga dinas.

Yo dalam kegalauan maksimal. Sebenarnya akan sangat baik kalau dia menyerahkan sendiri. Tapi kendala teknis memaksanya berbuat dengan bantuan jasa pengiriman. Nah, perlukah Yo menulis namanya di sampul kadonya?

Menurut SOP-nya ekspedisi, itu wajib. Dan Yo merasa malu dengan itu. Pergumulan ini menemani Yo menyusuri jalan-jalan kecil menuju kantor ekspedisi. Keputusan akhirnya diambil terpaksa, daripada disangka pengirim paket kaleng, maka Yo, mau tidak mau, harus mencantumkan alamatnya sendiri. Ah, biarlah, sekali-kali.

* * *

Deg-deg-deg-ser, itulah suasana hati Yo malam ini. Di kamar hotelnya dia berguling kesana-kemari. Orang yang dikiriminya paket kemarin tidak memberi kabar apapun. Sudah sampai terima kasih, atau ini apa buat apa ngapain kamu kirim pun tidak ada. Sepi. Sebagai makhluk compliance yang biasa mengkonfirmasi banyak orang maka Yo harus memastikan. Meski dengan hati sepenuhnya deg-deg-deg-ser.

Yo mengetik sebuah nomor di telepon genggam sentuh paling ternama yang ada di pelukan jemarinya. Dia hafal nomor gadis itu.

“Tuttttttt…. Tuttttttt…”

“Halo?”

“Na?”

“Ya.. Kenapa Yo?”

“Ada terima kiriman paket dari aku?”

“Iya Yo. Uda kok. Makasih ya. Bagus banget. Dalam rangka apa tuh?”

Jegggeerrrrrr… Ini gadis nggak ngerti atau hanya mau konfirmasi.

“Seperti yang aku tulis, Na. Selamat ulang tahun dan kepentingan khusus. Hehe.”

“Yang mana sih yang khusus?”

Ya ampun. Inilah susahnya menghadapi makhluk unik bernama wanita.

“Kamu bukanlah biasa, karena kamu istimewa. Kamu tidak layak disiakan, karena kamu pantas diperjuangkan. Selamat ulang tahun, tetaplah menjadi si cantik yang tiada dua. Dan, ada sambungannya..”

“Nggak ada kok Yo. Cuma sampai tiada dua doang?”

“Eh.. eh.. Gimana ya? Hmmmm.. Dan bolehkah aku memperjuangkan diriku untuk kamu?”

Yo sudah pucat pasi. Segenap keberaniannya tumpah dalam sepotong kalimat barusan.

“Heh?”

Yah, inilah wanita. Faktanya, mereka memang butuh yang JELAS dan LUGAS. Tidak bertele-tele.

“Baiklah… Aku sayang sama kamu, Na. Bertahun-tahun aku menikmati indahnya jatuh cinta tanpa tendensi memiliki. Dan itu kepada kamu. Cinta tanpa upaya memperjuangkan. Ternyata indah, sebenarnya. Tapi aku sampai pada satu titik, Na. Bahwa kamu itu istimewa. Aku tidak sekadar jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada gadis yang istimewa. Dan aku ingin menghabiskan masa depanku bersama gadis yang istimewa. Jadi, ehm, kamu mau jadi pacarku?”

Yo semacam orang yang orgasme, lega selega-leganya. Tahanan menahun di dalam hati lepas pula. Hasilnya? Ah, biarkan, pikir Yo. Lebih penting untuk menyelamatkan hati alih-alih sirosis daripada yang lainnya.

“Hihihi.. Yo.. Yo…”

“Kok ketawa, Na? Ini serius loh..”

“Iya Yo, aku tahu. Sebenarnya masanya sudah lewat. Coba kalau kamu bilang begini dari dua tahun yang lalu. Pasti langsung tak terima dengan senang hati.”

Mampus. Menumpuk perasaan dan menahannya terlalu lama itu bisa punya konsekuensi logis, TERLAMBAT. Telat kok dua tahun?

“Kalau sekarang?”

“Sebenarnya hatiku belum sepenuhnya kosong Yo. Cuma, melihat cara kamu, ehmm.. ada yang bisa dipertimbangkan.”

“Jadi, Na?”

“Buktikan kalau kamu memang memperjuangkan diri untuk aku. Then, I will tell you the answer.”

Jawaban yang penuh teka-teki, tapi Yo kadung semangat dan lantas menjawab, “Mulai detik ini, Na. Janji!”

“Buktikan saja, Yo.”

Dan percakapan berakhir. Sebuah konfirmasi kado yang menjadi konfirmasi perasaan. Ah, gawat juga kalau berkelanjutan macam itu.

* * *

Martin Yorizlavino/0905543
Sist, happy birthday ya!!!!! Kapan dapat jodoh? Haha.

Lyona Sutanto/0809745
Asem. Btw, thanks eaaa.. Gimana kemarin?

Martin Yorizlavino/0905543
Cukup lancar. Gue disuruh membuktikan omongan dulu, baru tahu.

Lyona Sutanto/0809745
Hahayyy.. Okelah. Itu mah tanda-tanda.

Martin Yorizlavino/0905543
Semoga. Hati gue sudah kepentok sama Ina Sist. Hehehe.

Lyona Sutanto/0809745
Mantap! 🙂

Yo riang gembira, keputusan tidak final dari Ina adalah nafas. Penantian bertahun akan dibuktikan dengan perjuangan. Apapunlah. Apapun buat Ina.

* * *

@LyonaS: dan hatiku terdampar di pulau yang bertuan.

Lyona menaruh BB-nya. Sebuat twit diharapkannya dapat meredakan bulir air mata yang siap menetes begitu Yo menyampaikan kabar setengah gembiranya. Yo, tempat hati Lyona terdampar. Dan Yo sudah punya tuan. Sebuah silogisme sederhana yang bersangkut paut menimbulkan getir.

Ah, bahwa gembira dan getir memang bermula dari titik yang sama.

Mimpi Yang Tersisa

Binaka, sebuah bandara mini yang dikelilingi hutan. Macam inikah bandara? Ah, itu pertanyaanku dulu, waktu pertama kali menjejak di tempat ini. Dulu benar, ketika aku masih bekerja di tempat ini. Sebuah dulu yang memang sudah berlalu. Aku datang kembali ke tempat ini hanya hendak berwisata, bagaimanapun Pulau Nias ini indah.

Handphoneku yang setengah pintar berdering. Ya benar berdering, aku lupa menggantinya dengan nada dering yang lebih masa kini. Malas. Buat apa?

“Dimana pak?”

“Sedang nunggu bagasi.”

“Oke. Saya di luar, pakai Avanza hitam.”

“Sip.”

Dari pemilik mobil sewaan yang sudah kupesan dari beberapa hari yang lalu. Bandara ini lumayan jauh dari Kota Gunungsitoli. Meski ada angkutan on the spot, sebagai orang yang hendak berwisata, dan sebagai pemilik private time, lebih baik aku mengeluarkan uang lebih.

“Dari mana dik?” tegur seorang ibu dengan usia kutaksir di atas setengah abad.

“Jakarta bu. Ibu sendiri?”

“Sama kalau begitu. Langsung atau nginap dulu tadi?”

“Berangkat paling pagi bu, dari Jakarta.”

“Ohh.. Ini mau kemana dik?”

“Jalan-jalan bu. Hehe.. Ibu sendiri?”

“Mau tengok anak dik. Kerja disini.”

Ibu ini, sudah tidak cantik, tapi tampaknya dahulu cantik. Prediksi saja. Suaranya tidak mencerminkan orang Nias atau Batak sekalipun, halus sekali.

“Ke kota naik apa bu?” tanyaku.

“Paling naik itu mobil yang biasanya.”

“Ikut saya saja bu, saya sewa jemputan.”

“Tidak menyusahkan dik?”

“Nggak lah bu. Kota Gusit kan nggak gede-gede banget. Hehe.”

Aku dan ibu itu masih berdiri menunggu bagasi kami masing-masing. Maklum bandara kecil, metodenya juga masih sederhana. Dan tentunya, umpek-umpekan padat merayap tanpa harapan. Aku sendiri, karena dulu sudah biasa, memilih untuk mengambil jarak. Toh, pada akhirnya akan giliran kita juga.

Lima belas menit menanti, aku dan ibu itu mendapat gilirannya juga. Dua tas terakhir itu kemudian beralih kepada pemiliknya.

Mobil Avanza hitam sudah menanti di depan, sudah sepi parkirannya.

“Silahkan bu..” Aku mempersilahkan ibu yang tidak aku tahu namanya itu masuk duluan. Ini katanya harkat lelaki. Aku mengikuti masuk, dan mobil berjalan.

Perjalanan ini termasuk sepi. Apalagi untukku yang penat dengan hiruk pikuk Jakarta. Ada pohon tinggi di tepi jalan sudah membuatku shock, jangan-jangan ini pohon mau tumbang.

“Anaknya kerja dimana bu? Proyek ya?” Aku membuka pembicaraan.

“Iya dik. Kok tau?”

“Biasanya yang ke Nias kalau dari luar pulau, ya ngerjain proyek bu. Hehe. Dulu saya juga anak proyek.”

“Oh begitu. Memangnya adik lulusan apa?”

“Saya sastra sih bu.”

“Kok ngerjain proyek?”

“Hehe. Nggak apa-apa bu.”

“Kayaknya sekolahnya nggak sesuai cita-cita ya?”

Ups, jleb.. jleb.. jleb.

“Iya sih bu. Dulu mau jadi apoteker, tapi nggak kesampaian. Jadi daftar lagi. Nggak apa-apa, dari meracik obat jadi meracik kata-kata.”

“Dik.. dik.. sudah berkeluarga?”

“Calonnya aja nggak ada bu.” kilahku.

“Gebetan? Masak anak muda sukses, bisa plesir ke Nias, nggak ada bayangan kesitu.”

“Dalam bayangan bu.”

Ibu itu geleng-geleng sambil tersenyum simpul.

“Dik, dalam hidup ini ada 2 hal yang harus kita capai. Hidup kita hanya 24 jam sehari. Sebagian untuk apa?”

“Tidur sama kerja bu?”

“Sisanya?”

“Ya, sisanya bu. Macem-macem.”

“Sebagian kerja, kamu benar dik. Sebagian lagi yang masuk hidup kita ya orang yang akan bersama kita. Sepanjang hayat. Jodoh dik.”

Aku tertegun.

“Hidup yang indah itu kalau kita menjalani hidup sesuai mimpi kita dik. Maaf saya cerita ya. Saya dulu kerja di kantoran, tapi saya nggak nyaman dengan tembok-temboknya, sampai saya beranak dua dik. Hidup rasanya menderita sekali.”

“Ehm, maaf, lalu ibu keluar?”

“Sulit kalau sudah berkeluarga, sudah beranak dua apalagi. Untuk ada suami. Jadinya sebagian hidup saya masih tetap indah dik. Itulah, saya kalau ketemu anak muda, apalagi yang seperti adik ini, pasti akan ngomong hal yang sama.”

“Jadi maksudnya bu?” Aku garuk-garuk tanda tak mengerti.

“Kamu sudah terjun di bidang yang bukan mimpimu kan dik? Walaupun menikmati, pastilah tidak penuh. Nah, hidup ini singkat. Jangan sampai hidupmu musnah dari mimpi. Kalau yang pekerjaan sudah sirna, jodoh tadi itu, kejarlah, sampai dapat.”

Aku lagi-lagi tertegun.

“Ini kalau kamu mau hidup yang sebenarnya ya dik. Kadang kita harus realistis, tapi asal kamu tahu dik, realistis itu sejatinya tidaklah hidup. Hidup bergantung pada mimpi-mimpi kamu.”

Perjalanan mulai masuk ke kota Gunungsitoli. Dan aku masih tercenung nikmat.

“Iya ya bu.. Hehehe.. Baru sadar saja.. Ibu turun dimana?”

“Di Rumah Sakit saja. Anak saya tinggalnya dekat situ.”

Mobil Avanza hitam pun mulai menuju ke Rumah Sakit. Tidak banyak yang berubah, jalan-jalannya masih menantang maut disini. Maklum, bukit dan pantai bersatu, pastilah ada tikungan dan turunan.

Mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah sakit. Ibu itu lantas turun.

“Makasih banyak ya dik. Jangan lupa mimpinya dikejar ya.” kata ibu itu seketika turun dari mobil sewaan ini.

“Makasih banyak juga bu. Salam buat anaknya.”

Pintu tertutup, perjalanan berlanjut ke Hotel tempatku menginap. Yang punya hotel adalah saudaranya yang punya mobil sewaan ini. Tak perlu kusebut, mobil ini memang akan mengarah kesana. Debur ombak terdengar sesekali karena jalan menuju hotel memang dekat dengan pantai.

Kukeluarkan handphoneku, jemarimu menyentuh beberapa kali sampai muncul sebuah foto. Seorang gadis dari masa lalu. yang selalu membayangi dan menjadi mimpiku, tapi tak pernah dekat denganku. Jemariku menyentuh kembali, sampai ke deretan kontak dan lantas pada sebuah nomor. Ehm, sebenarnya aku hafal sih nomor itu, tanpa perlu melihat ke kontak.

Dengan jemari bergetar, kugeser layar sentuh itu ke kanan, Call.

Tutttt.. Tutttt… Tutttt..

“Halo?”

Bahwa aku harus mengejar mimpiku yang ini, yang tersisa.

 

Sesimpel Retweet

Saya join Twitter mid 2009, daftar di warnet di Palembang di masa-masa saya tidak punya apa-apa. Laptop belum ada, motor apalagi. Hiks. Dan parahnya, twit saya selama itu hanya 2000-an, baru 2123 tadi sore, sementara rekan lain sudah sampai 7000, meski daftar sesudah saya.

Okelah.

Tapi hari ini dapat pengalaman unik. Hehe. Dulu pernah di Retweet plus Mentions sama Sujiwo Tejo untuk pengamen yang membawakan monolognya. Sekarang, saya yang follow anggota DPR dan bekas aktivis Budiman Sudjatmiko, ikut serta dengan hashtag #SBY dengan pertanyaan ‘Apa Pendapatmu Tentang #SBY?”

Jujur, saya takut neko-neko. Makanya saya cari twit yang netral dan realistis. Ngeri saya terlibat dalam kegalauan politis, maka saya ikutan dengan menjawab ‘Bapak 2 anak dgn menantu yang cantik cantik’. Bagi saya, Pak Presiden SBY itu memang punya menantu yang ayu minta ampun.

Eh, malah di Retweet dan dijawab: Sepakat..

Dan twit saya juga di-RT 4 orang lain. Syukurlah.

Pentingkah?

Balik lagi, bagi seorang penulis pencari jatidiri, pengakuan adalah yang terpenting. Dan ketika Budiman melakukan RT pada twit saya, itu termasuk pengakuan, apalagi tidak semua twit dibalas, kebanyakan di RT saja.

Yang belum tembus di RT itu Raditya Dika sama Alberthiene Endah sekarang. Kapan-kapan ya.. 🙂

Salam-Salaman!

Ramalan, Mari Diramal

Ramalan Jodoh Lahir Maret
Buat orang yang lahir di Bulan Maret ini biasanya berkharisma, pemalu, agak penuntut, dan egois tapi menarik. Yeup!! para pasangan untuk Bulan maret harus ekstra sabar menghadapi kelakuan si dia yang kadang super bawel. Makanya orang – orang yang paling pas buat Bulan Maret adalah orang yang lahir di bulan Januari, April, Mei, Juni , Juli, Oktober dan Januari.

Dikutip disini

Wahhhhhh… Januarinya sampai disebut dua kali…

Siapa ya?

Hahahaha…

Jet Lag (Simple Plan Feat Kotak)

Lagi tergila-gila sama lagu ini, walaupun, ehm, nggak ada subjek yang real sih.. Tapi ya gpp, namanya mengagumi lagu..

Lanjut! Ini lirik hasil mencerna kata-kata loh.. Semoga benar.. 🙂

What time is it where you are?
I miss you more than anything
Back at home you feel so far
Waitin’ for the phone to ring
It’s gettin’ lonely livin’ upside down
I don’t even wanna be in this town
Tryin’ to figure out the time zones makin’ me crazy

You say good morning
When it’s midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it’s driving me mad
I miss you so bad
And my heart, heart, heart is so jetlagged
Heart, heart, heart is so jetlagged
Heart, heart, heart is so jetlagged

What time is it where you are?
Five more days and I’ll be home
I keep your picture in my car
I hate the thought of you alone
I’ve been keepin’ busy all the time
Just to try to keep you off my mind
Tryin’ to figure out the time zones makin’ me crazy

You say good morning
When it’s midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it’s drivin’ me mad
I miss you so bad
And my heart, heart, heart is so jetlagged
Heart, heart, heart is so jetlagged
Heart, heart, heart is so jetlagged
Is so jet lagged

I miss you so bad
I miss you so bad
I miss you so bad
I miss you so bad
I miss you so bad
I wanna share your horizon
I miss you so bad
And see the same sunrising
I miss you so bad
Turn the hour hand back to when you were holding me.

You say good morning
When it’s midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it’s drivin’ me mad
I miss when you say good morning
But it’s midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it’s drivin’ me mad
I miss you so bad
And my heart, heart, heart is so jetlagged
Heart, heart, heart is so jetlagged
Heart, heart, heart is so jetlagged
Is so jetlagged
Is so jetlagged

Musiknya Simple Plan sekali, josss!!!!

Tentang Tweet #gombal

C: kamu anak farmasi kan? | D: iya, knp? | C: tolong ukur kadar cintaku padamu dong #analisis #gombalfarmasi

Kenapa dengan percakapan di atas? Kalau bukan anak farmasi, atau kimia, atau sejenisnya, mungkin sulit paham. Inilah yang membuat saya mencoba membuat beberapa jenis twit gombal. Bisa dicek dengan hashtag #gombalpabrikobat, #gombalapotek, #gombalgudang, #gombalauditor, dan #gombalfarmasi.

Sebenarnya semua dimulai dengan iseng ini:

Gombal pabrik obat:
A: kamu kerja di lini injeksi ya?
B: kok tahu?
A: soalnya mau masuk ke hatimu susah banget, banyak prosedurnya..

Setelah mengetik gombalan di atas yang ngenes ini, saya mulai merasa bahwa ilmu ini bisa dihantarkan dalam wahana yang beda. Bagaimana mencerna lini injeksi pabrik obat? Mulai kurang samar karena ada pernyataan bahwa mau masuk ke lini injeksi itu banyak prosedurnya. Lanjutnya? Ya monggo dicerna sendiri.

Saya nggak hendak mengejek seseorang, sumpah tidak. Justru itu saya pilih ilmu dan bidang yang saya tahu di berbagai jenis #gombal di atas. Saya nggak pakai latar pabrik metal, orang retail, dll. Saya pakai bidang saya, farmasi, gudang, hingga ke pabrik obat secara umum.

Membuat tweet macam ini, meski tidak dibaca orang banyak, tapi penting untuk refresh ilmu saya yang mulai hilang. Sekaligus mencerna kelakuan sehari-hari menjadi senyum orang lain.

Demikian sedikit tentang twit-twit saya hari ini 🙂

Senja Di Matamu

Batu kali yang sedikit tajam dan tidak licin adalah peraduan yang tampak pas sore ini. Aliran sungai yang masih jernih terdengar gemericik penuh dilema. Aku memasrahkan pantatku pada batu sebagai tempat bersandar. Mataku menerawang ke sekeliling.

Tempat ini sudah berbeda.

Masih kuingat ketika kita menikmati masa bersama-sama di aliran sungai ini. Ya, bersama-sama dengan yang lain tentunya. Sebuah kebersamaan yang indah dibungkus oleh kenyataan bahwa aku tidak bisa mendekatimu. Ironi dibalik senyuman. Tak apa, sejauh aku bisa dekat denganmu, itu adalah kebahagiaan terbesar.

“Rrrrttttttttttt….”

BB-ku bergetar. Mentions. Ah, hari gini, bahwa mentions di Twitter saja sudah dibuat sepenting SMS dan telepon. Mentions itu paling menarik, tapi kurang menarik kalau semata RT tanpa komen. Yah, tak apa juga sih, RT itu kan bentuk apresiasi. Sayangnya, kamu tidak bisa RT semua Tweetku, karena tidak ada namaku di Timeline-mu. Mau mentions kamu, aku malu. Jadi ya sudahlah. Mengecek timeline-mu adalah bentuk hiburan yang tak kalah indahnya dari duduk di batu kali ini.

Sehelai daun jatuh, aku melihatnya dengan jelas. Aliran air membawanya turun mengikuti gravitasi. Tampaknya daun ini bisa sampai ke laut kalau beruntung. Mungkin di laut dia bisa bertemu dengan dunia yang lebih luas. Dia bisa menikmati hidupnya sambil santai kayak di pantai.

Tapi lebih baik kalau kusapa sejenak.

Daun itu kuambil, kuangkat setengah meter dari permukaan air, kubersihkan, dan kupandangi. Ini daun sendirian, terlepas dari batangnya, hendak mencari kehidupan di tempat lain. Mirip sekali denganku. Huh…

Senja mulai turun. Aku suka sekali ini. Menikmati senja di atas batu dibantu gemericik aliran air. Sungguh alunan melodi alam yang tiada duanya. Senja sekali mengingatkanku pada hari itu.

Sebuah senja, bertahun-tahun silam, aku dan kamu, berdua di tempat ini, dalam keramaian teman-teman kita. Aku dan kamu yang duduk terdiam menanti senja. Sesekali saling menatap. Sebuah senja yang sederhana, penuh diam, dan terbenam pada perasaan yang tidak terungkapkan.

“Kita akan selalu jadi teman baik kan?” katamu.

Aku hanya menganggukkan kepala.

Aliran airnya masih sama. Senjanya juga demikian. Hanya satu yang beda, aku sendirian di tempat ini, menikmati keadaan di sekitarku. Alunan air bisa mengingatkanku bahwa air tidak setiap kali akan masuk muara dan laut. Air bisa saja menunggu lama sebelum sampai ke laut. Di jalan bisa diambil orang. Seperti itulah aku memendam rasa kepadamu.

Dan senja bersiap menutup hari. Aliran air membasuh kakiku yang berjalan ke tepian. Aku berharap air ini akan sampai ke laut. Janganlah seperti aku, hanya mengikuti aliran air itu, menanti di titik yang sama ketika diambil orang, lalu berjalan kembali ketika orang sudah membuang air itu. Air ini berhak diperlakukan lebih berharga. Kamu juga.

Dan senja menutup hari, ketika aku tidak dapat lagi melihat aliran sungai itu.

 

 

Santo Alexander

Santo Alexander merupakan uskup dan martir. Alexander merupakan mahasiswa di sekolah Kristen terkenal pada awal 200-an. Ia menjadi uskup  Kapadokia dan selama musim penganiayaan, ia dipenjara pada 204 sampai 211. Sesudah bebas, ia pergi ke Yerusalam dan menjadi uskup pembantu disana. Di Yerusalem, Alexander mengembangkan perpustakaan teologis. Ia ditangkap lagi pada masa Decius, tentunya dipenjara lagi.

Ia mengakui Tuhan Yesus, dan kemudian diserahkan pada hewan buas yang kemudian TIDAK MAU menyerangnya. Alexander lantas dibawa masuk ke Kaisarea tempat ia meninggal dalam balutan rantai pada 251.

Santo Alexander adalah pembesar gereja dengan kelembutan hati. Ia juga teguh dalam iman dan bersedia mati dalam imannya. Ketika kita dikritik oleh teman-teman dan masyarakat untuk ajaran moral Iman, Santo Alexander menjadi contoh untuk kita tentang menghadapi ejekan dan pengucilan.

* * *

Nama yang BERAT.. Tapi saya bangga dengan nama itu 🙂

 

 

 

Pantai-Pantai Yang Pernah Saya Kunjungi

Mau absen dulu pantai-pantai yang penah saya kunjungi:

1. Pantai Air Manis, Padang
2. Pantai Padang, Padang
3. Pantai Pasir Jambak, Padang
4. Pantai Caroline, Padang
5. Pantai Parangtritis, Jogja
6. Pantai Depok, Jogja
7. Pantai Ngobaran, Jogja
8. Pantai Ngrenehan, Jogja
9. Pantai Ancol, Jakarta
10. Pantai Teluk Dalam, Nias Selatan
11. Pantai-Pantai Di Gunungsitoli (ada beberapa dan lupa namanya wkwkwkwk…), Nias
12. Pantai Kalangan, Sibolga
13. Pantai Samudera Baru, Karawang
14. Pantai Tanjung Pakis, Karawang
15. Pantai Pandansimo (kalo ga salah..), Jogja
16. Pantai di Merak dan Pantai di Bakauheni (wakakakaka…)
17. Pantai di Cirebon (di taman Ade Irma)
18. Pantai Musi (masuk nggak ya? 😀 )
19. Pantai Glagah, Jogja

Sebagai anak gunung, kira-kira begitu.. Ini masih mengingat-ingat apalagi.. Hehehe..

Bapak Millennial