Tag Archives: pura pura

Masa Lalu

“Sssttt, Egi sekarang pacaran sama Alena lho.”

Dan sesi gosip dimulai. Di kantor yang mayoritas isinya cewek, selalu ada ruang dan waktu untuk bergosip.

“Tahu dari mana lu?” selidik Dina.

Tia, yang mencetuskan kalimat pertama tadi, segera menyambung, “Kemarin gue kan ke mejanya Egi. Pas dia lagi whatsapp sama Alena.”

“Kalau whatsapp, sama gue juga tuh.”

“Yahhh, sama lu nggak pakai emo-emo love-love gitu kan? Pokoknya gue yakin bener deh, Egi sama Alena. Sayang bener ya, padahal si Alena itu kan nakal. Serigala berbulu domba!”

“Kok bisa?” tanya Dina. Mukanya mendekat, diikuti oleh teman-teman lain yang berada di Pantry itu.

Maka Tia mulai bercerita, panjang dan lebar hingga panjang kali lebar. Segala sesuatu yang ia ketahui tentang masa lalu Alena. Sesuatu yang mudah untuk diceritakan karena Alena adalah orang yang pernah merebut kekasih Tia, jauh di masa lalu. Bahwa semestalah yang mempertemukan keduanya kembali di satu kantor. Sebuah kehendak yang kadang menjadi sebuah retorika. Bukan karena sudah jelas jawabannya, tapi karena memang tidak perlu dijawab.

“Kasihan ya temen gue,”bisik Dina. Ya, sejak sama-sama masuk ke kantor ini dalam 1 batch penerimaan, Dina dan Egi menjadi teman yang sangat akrab. Terlebih ketika rekan-rekan di batch mereka satu per satu resign dan hinggap di perusahaan lain. Dan percaya atau tidak, memang tinggal Dina dan Egi yang tersisa dari 20 orang yang pernah masuk sebagai Trainee, 3 tahun silam.

* * *

“Ciee, yang punya pacar nggak bilang-bilang,” goda Dina sambil menepuk bahu Egi yang sedang asyik dengan kotak dan angka di layar laptop.

“Apaan?”

“Halah, pura-pura bodoh ah. Katanya lu udah punya pacar baru bro?”

“Siapa bilang?”

“Ya tahu aja.”

“Lu percaya?”

Dina diam saja sambil berjalan ke kubikelnya, tapi sejenak kemudian ia mengangguk perlahan.

“Hahahahaha.. Din.. Din.. Yang ngawur dipercaya,” ujar Egi sambil tetap asyik menatap laptopnya. Tak lama, handphone-nya bergetar dan sebuah whatsapp muncul. Alena Puspita.

Dina melirik Egi yang beralih asyik ke handphone, lalu berkata, “Tuh kan, pacaran.”

Egi tersenyum simpul saja. Tidak bertindak lain.

* * *

Kedai kopi di sudut foodcourt ini selalu jadi tempat curhat Dina dan Egi setidaknya seminggu sekali sepulang kantor. Suasana yang hectic di kantor nyatanya bisa diredakan dengan minum segelas kopi atau teh. Dan kini, di hari Jumat, keduanya asyik dengan gelas dan handphone-nya masing-masing.

“Susah ya punya bos kayak sekarang ini,” ujar Egi.

“Kurang ajar bener lu, Gi.”

“Iya dong. Ya gimana ceritanya gue minta review kerjaan gue bener apa kagak, yang dikoreksi cuma typo-typo-nya doang. Padahal yang lebih penting kan action plan yang gue kasih. Kagak dikomen sama sekali.”

“Udah, sabar aja,” kata Dina, “Trus ngomong-ngomong gimana Alena?”

Egi sedikit tersedak mendengar Dina menyebut nama Alena.

“Kenapa emang?”

“Udah bro, kita temenan juga udah lama. Jujur aja, lu pacaran sama Alena kan?”

“Hmm, kalau iya kenapa, kalau nggak kenapa? Lagian kenapa bisa nama itu lu sebut sih. Perasaan dia kerjanya dimana, gue dimana, ketemu di kantor juga kagak.”

“Ya gue ngerti kalau Alena kerjanya di lantai 8, kita lantai 3. Ngerti banget gue mah. Tapi, gimana ya, gosip-gosip yang beredar sudah bilang begitu.”

“Buset, uda ada gosipnya juga?”

“Makanya sekali-sekali main ke pantry! Haha.. Kerja melulu sih.”

“Iya dong, pegawai teladan.”

Dina menunduk sedikit, perkataan Tia masih terngiang di benaknya dan sebagai teman yang baik, ia hendak menyelamatkan sahabatnya ini.

“Ehm, mungkin lu belum mau ngomong, Gi. Tapi andaikan iya nih, lu sama Alena Puspita itu. Gue dengar banyak hal yang nggak baik soal dia.”

“Maksud lu?”

“Ya, dari riwayat ngerebut pacar orang, terus suka pulang malam, dan yang sejenis-sejenis itu lah.”

“Hahahaha…”

“Ketawa lu, Gi?” tanya Dina dengan muka bengong.

“Dina.. Dina.. Lu tahu kan kalau gue manusia?”

“Kalau lu setan, gue nggak bakalan ngopi sama lu, dodol!”

“Nah itu dia,” ujar Egi sambil mengaduk kopi di hadapannya, “Gue, lu, bahkan Alena itu juga manusia.”

“Lalu?”

“Dan setiap manusia punya masa lalu, Din. Plus, nggak semua masa lalu itu baik. Lu tahu kalau di masa lalu gue ini perokok berat?” tanya Egi. Konsep yang satu ini ia lontarkan karena Egi tahu kalau Dina amat sangat tidak suka dengan pria perokok.

“Tahu, kan lu pernah cerita.”

“Terus, kenapa lu nggak memperlakukan gue kayak lu sebel banget sama si Herman? Jarak dua meter dari dia aja lu udah kabur?”

“Ya, kalau itu, kan lu tahu gue nggak suka cowok yang merokok.”

“Thats! Gue, dulu, dulu nih ya, lebih ganas dari Herman ngerokoknya, kenapa lu ama gue sahabatan?”

“Kan lu nggak ngerokok bro!”

“Ya itu dia. Gue punya masa lalu yang sebenarnya lu nggak suka kan? Terus kita akrab begini, artinya lu menerima masa lalu gue yang nggak oke itu.”

“Hubungannya dengan Alena?”

Ya, kalau lah, gue bener deket sama Alena. Gue kenal dia juga udah lima tahunan kali, Din. Udah cukup lama. Gue tahu beberapa masa lalunya dia juga. Jadi, kalau emang gue mau dan bisa dekat sama dia, pasti karena gue udah mengesampingkan masa lalu itu.”

Dina terdiam mendengarkan perkataan Egi.

“Lagian gue juga dulu kan bajingan. Ngedeketin cewek orang, ngajak ngedate cewek orang, sampai jadi pemberi harapan palsu juga pernah. Gue sih mikir aja, kalau gue mikir masa lalu orang yang mau gue deketin, itu bisa saja dilakukan orang terhadap masa lalu gue kan?”

“Iya juga sih.”

“Gue pernah baca status temen gue di FB. Bilang gini nih.. ‘Setiap orang punya masa lalu.. Kalo ingin pasangan dengan masa lalu yg 100% bersih, silahkan cari anak baru lahir dan awasi sampai gede baru jadiin pasangan..’,” kata Egi sambil melihat handphone-nya.

sumber: armstrongismlibrary.blogspot.com

“Ehm, iya ya. Tumben lu pinter, Gi?”

“Dari dulu gue pinter kali.”

“Jadi, lu beneran sama Alena?”

“Hahahaha, benar atau tidak. Belum saatnya gue bilang sesuatu soal hubungan pribadi gue, Din. Lu tahu kan sakitnya gue yang putus kemarin ini.”

“Hmmm, baiklah. Gue tunggu kabar bahagia dari lu deh.”

“Sip.”

Handphone Egi bergetar, sebuah pesan whatsapp dari Alena.

“Udah makan sayang?”

Bahwa setiap orang memiliki masa lalu

–o–

Valentine Yang Sebenarnya

Dylon sedang berdiri mematung dengan mata menggantung nanar. Namanya orang jatuh cinta diam-diam itu sebenarnya nggak sulit ditelaah. Cari saja makhluk yang mematung dengan pandangan kosong sambil pura-pura senyum dan ekspresi sedatar kaca. Yah, orang jatuh cinta diam-diam itu akan selalu demikian ketika ada yang dijatuhi cinta di tempat yang sama. Persis dengan Dylon saat ini.

“Duarrrrr…”

Dinamika berlanjut. Ini sebenarnya lagi malah keakraban. Maka dinamika adalah bagian dari keakraban. Sayang, Dylon berada di tempat yang jauh dengan Lana. Alias, berada di dinamika yang terpisah. Maka metode yang pas memang hanya mematung menatap menahan, kata orang 3M. Namanya juga jatuh cinta diam-diam.

Saking mematung diam setengah senyumnya, Dylon sampai tidak sadar kalau Lana sedang mendekati dia.

“Oi… Ngelamun?” kata Lana.

“…….” Dylon mendadak gelagapan, menjelang serangan jantung, eh jatuh, jatuh cinta tepatnya.

“Pin berapa?”

“3487”

“Pin apaan tuh?”

“ATM.”

Lana pingsan, tidak menyangka ada pria oon di hadapannya.

“Pin BB monyonggg…”

“Ohhhhh… ngomong dong.. hehehehe..” Dylon masih gelagapan sambil kemudian menyebut deretan huruf dan angka, eh angka dan huruf mungkin.

Dalam tiga empat kutak kutik Dylon dan Lana sudah terkoneksi. Ini mungkin yang namanya durian runtuh dalam posisi terbuka dengan buah menghadap ke atas. Barang enak datang dengan posisi yang juga enak, alias tinggal leppp.. tinggal leepppp…

Maka, di malam itu, sambil bobo macam ikan pepes di ruangan yang tidak begitu lebar, Dylon lebih sibuk mengamati BB-nya, hanya memandang profil BBM si Lana. Sosok makhluk yang sebenarnya ada lima meter di tenggaranya, dan sedang asyik bersama rekan gang-nya.

Namanya juga orang jatuh cinta diam-diam, kalau ngomong cinta, maka tidak diam-diam namanya. Dylon lebih percaya bahwa jatuh cinta diam-diam adalah bentuk terindah dalam mencintai, meski ia paham bahwa itu adalah benda yang sama dengan bentuk paling sakit dalam aspek mencinta. Dylon paham benar, hanya sesudah kejatuhan cinta Lana.

Pin BB adalah akses. Para pecinta masa kini harus bersyukur pada penemu BB. Karena para pemalu bisa mudah melakukan PDKT, tanpa perlu surat cinta, tanpa perlu belajar gitar guna bernyanyi lagu romantis, tanpa perlu bertemu bapak dan emak yang mungkin galak. Semua berjalan dengan deretan huruf, angka, plus karakter. Serba digital. Termasuk percakapan Dylon dan Lana kemudian.

“Malemmmm…” ketik Dylon.

Tunggu.

Tunggu.

Tunggu.

BB tidak bergetar.

Pantas saja, Dylon belum menekan tombol untuk memasukkan deretan kata-katanya ke dalam percakapan. Maklum, pecinta diam-diam.

“Yuppp..”

“Bole main?”

“Main apaan?”

“Main ke kosmu. Boleh ya.. ya.. ya…”

“Wkwk.. Ngapain euy? Nggak apa-apa sih. Lagi ada temen juga disini.”

“Capcussss…”

Dylon dengan semangat empat lima bagi lima alias sembilan, bergegas berangkat ke kos Lana yang jaraknya sepelemparan batu kerikil oleh meriam. Sebuah kerumitan untuk menjelaskan kesederhanaan: agak jauh.

Hari itu 13 Februari, menjelang hari kasih sayang.

Dylon tiba di kos Lana yang memang gelap. Mungkin ini bagian dari Cost Reduction Program di kos tersebut. Maklum, hari gini, penghematan itu harus dilakukan oleh rakyat. Catet, oleh rakyat doang loh ya..

Sebuah sepeda motor besar disana. Tidak, tidak, ini tidak sebuah sepeda motor sebesar mobil jeep. Sebutlah ini motor lelaki, berkopling, dan dinaiki dengan jantan. Sebagai pecinta diam-diam, Dylon agak paham soal ini. Ada deg-degan yang aneh, bukan deg-degan senang, tapi deg-degan khawatir. Dylon tahu karena nadanya beda. Yang khawatir pakai kunci minor.

Dan benarrrrr..

Untaian nada minor membahana di relung hati si pecinta diam-diam. Lana sedang bersama seorang pria. Hanya berdua saja. Betul, berdua di remangnya ruang tamu kos.

Dylon mundur teratur, teratur sekali, sampai dia perlu beraba-aba “balik kanan, grakkkk…” sebelum mengalihkan pandangan matanya.

* * *

Bilangan tahun berlalu.

Dylon kembali ke tempat yang sama. Berharap menemukan Lana. Tentu tidak ada lagi. Lana sudah tidak kos di tempat yang sama, bahkan sudah tidak di kota yang sama.

Bilangan tahun berlalu.

Dylon masih seorang pecinta diam-diam. Seorang pengharap yang bermimpi 13 Februarinya akan diikuti 14 Februari bersama Lana. Ya, Lana, valentine Dylon yang sebenarnya.