Lagi Mikir

Kemaren, mendadak mikir *biasanya ga mikir*

Dulu di Jogja, ketika tempat tinggal saya sangat dekat dengan gereja Banteng, saya bahkan ke gereja saja jarang. Pada masa itu, saya memahami rasanya jadi Katolik NaPas (Natal Paskah). Hingga pada suatu ketika, saya kemudian menjadi aktif, justru di tempat yang jauh dari gereja Banteng. Tempat itu Kapel Robertu Bellarminus Mrican.

Ada kali 2 tahun saya cukup aktif disana, sampai ketika sebuah statement dari Suster Gracia bikin saya sakit hati. Jadi ceritanya lagi latihan lektor, pas ngetes, eh saya dikomentarin, “begini nih kalo nggak biasa nyanyi..”

*jeger*

Komentar itu kemudian termasuk mengompori saya untuk masuk PSM. Dan kemudian masuk beneran. Nah, sejak itulah, saya mulai jarang aktif lagi di gereja. Padahal, saya sempat sampai pada tataran gawe umat bosan soale nek ora lektor, kolektan, misdinar, atau mentok2nya jualan teks misa. Pasti ada saya di misa Minggu pagi itu.

Sampai bertahun-tahun kemudian saya pindah ke Palembang. Tempat kos pertama saya sangat dekat dengan Seminari. Pernah sekali ikut tugas koor, tapi terus malas karena pekerjaan rasanya kok sudah berat banget. Pada akhirnya ya saya hanya jadi Katolik biasa saja, yang setiap pekan ke gereja. Padahal, kalau mau aktif ya bisa, wong gereja dekat. Bahkan sejak 2010, saya punya sepeda motor. Kalau mau ke Yosef, San Frades, apa Seminari, itu hal mudah. Mana semacet-macetnya Palembang, kalau hanya mau ke San Frades sih nggak akan nemu macet.

Tapi entah ya, niat ada, tapi kok nggak jalan.

Hingga kemudian saya kesasar ke Cikarang. Di tempat yang untuk radius 20 km hanya ada 1 gereja, yang kalau mau dicapai harus menemui jalanan ganas penuh kontainer.

Dan, kok ya aneh, disini saya koor ikut, lektor ikut, balai kesehatan ikut (walau statusnya panggilan). Aneh aja, justru di tempat yang butuh effort lebih hanya untuk sekadar ke gereja, saya malah begini.

Mungkin karena ini faktor pencarian jodoh? Rasanya kok nggak juga. Wong di balkes nggak ada juga yang bisa digebet, di koor apalagi.

Atau faktor apa ya?

Mboh ki. Lagi mikir.

Advertisements

Happy Wedding!

Entah ini kebetulan atau tidak, tapi semester 1 2012 diawali dan diakhiri oleh kondangan.

1 Januari 2012, saya lari-lari (baca: terbang) dari Padang menuju Jogja untuk menghadiri #1 pernikahan Dolaners atas nama Boris, dan 30 Juni 2012, saya ngesot (baca: nyepur) dari Jakarta menuju Jogja untuk menghadiri #2 pernikahan Dolaners atas nama Budi alias Yoyo.

Tapi saya nggak percaya ini kebetulan, karena ini adalah singgungan berbagai peristiwa pada titik yang tepat. Kenapa?

Karena dua teman yang habis nikah ini, sama2 JB nikah sama GNB. Hehehe..

Oke, bukan itu inti posting ini.

Kadang menjadi pertanyaan bagi emak saya tentang saya yang berkeliaran semata-mata kondangan. Ehm, bukan karena saya hendak mencuri bunga di keris atau pula menangkap bunga yang dilempar. Tidak sama sekali. Ini semata-mata soal pertemuan kembali.

Kalau di Januari berasa kurang unik karena saya sendirian dari Padang. Nah yang kemarin ini, karena yang nikah adalah anak 2004 dan 2005, maka berangkatlah belasan manusia dari Stasiun Senen dengan Senja Utama Solo. Belum cukup, yang Taksaka juga ada loh. Masih ada pula yang dari Bandung menuju Jogja. Semuanya akhirnya ketemu di Balai Desa Jatiayu (kalau nggak salah) untuk resepsi.

Well, kita nggak bicara soal nominal uang disini, meski itu juga penting. Sebagian dari peserta kondangan itu, hari Minggu pagi ini sudah balik ke lokasi meraup rupiah masing-masing. Intinya? Ya datang karena mau kondangan.

Yang menjadi note disini adalah ketika kita melihat teman di pelaminan, itu ada sensasi juga. Sensasi pengen? Ehm, ya iya juga sih. Hahaha.. Tapi ketika kita bertemu dengan teman-teman semasa kuliah, berkisah soal masa lalu, bercerita kembali soal masa silam, tertawa mengenang tragedi, dan semua aktivitas lain yang campur aduk jadi satu. Itu priceless. Sungguh.

Apalagi ketika yang manten kemaren, menganggap saya comblang-nya. Hahaha.. Padahal ya saya biasa wae sih. Itu dulu kan kenakalan masa muda. Kalau pas jadi (pacaran) ya syukur. Tapi ada senangnya juga sih melihat pasangan yang mana kita terlibat dalam prosesnya, bisa berada di pelaminan. Turut berbahagia untukmu kawan.

Dan untuk pertanyaan: kamu kapan? saya punya refleksi tersendiri berdasarkan guyon bawah pohon.

Jadi gini, piala Donalers itu difoto lalu dipasang di DP BBM. Nah karena ada kode #2, maka teman lain komen, ” kir0-kiro aq nomor piro yo?”

Sebuah jawaban gojek kere: yo nek ora 17 yo 18 lah..

What a long time! Hahaha..

Tapi namanya juga guyon Dolaners, nggak boleh sakit hati. Kapan itu hanya akan dijawab oleh kesiapan. Kesiapan? Ini akronim, KEmauan untuk SIAP menempuh tANtangan. Kita nggak bisa menunggu, karena bakal lama juga. Yang penting mau untuk siap. Sisanya biarlah jalan ke depan. *Hasil obrol sambil sarapan*

Dan kini saya mengetik posting ini dari sebuah warnet di Paingan, sebuah desa penuh kenangan. Sentimentil sekali. Sebentar lagi bakal menuju tempat meraup rupiah, bertahan hidup. Sebuah siklus hidup mendasar manusia yang sejatinya sederhana.

Happy Wedding my friends!

Jalan Alternatif Jababeka-Lippo Cikarang

Judul di atas adalah sebuah keyword yang masuk ke blog saya. Tampaknya ada yang pengen tahu, jadi saya kasih sedikit yang saya tahu.

Pada intinya, jalur utama Jababeka ke Lippo adalah via Jalan Cikarang-Cibarusah. Cuma kalau minggu pagi, suka ada cegatan selektif di jembatan Tegalgede. Kalau hari biasa, muacettttt e rek..

Nah, beberapa jalur yang bisa dilewati adalah via Kalimalang.

Jadi menyusur Kalimalang lewat exit Jababeka II, kita bisa menemukan beberapa jembatan yang melintasi Kalimalang. Ada yang sebelum pintu 11, dari pintu 10. Ada juga yang sesudah pintu 11. Nah, yang sebelum pintu 11 ini akan masuk jalan kampung dan nanti ketemu di Gemalapik, sebelah CTC kira-kira.

Demikian pula dengan belokan pertama sesudah pintu 11. Tembusnya sama.

Nah, ada lagi via jalan berikutnya yang akan tembus ke sekitar Cibiru, Lippo Cikarang. Tembusnya sih di bundaran depan Taman Beverli.

Jalannya?

Ya, namanya juga alternatif. Hehehehe.. Klaskon saya pernah mati gara-gara lewat jalan belum jadi. Penanda kalau kita benar sih gampang, asal sudah lewat jembatan kecil yang melintas di atas jalan tol, itu berarti kita sudah benar, karena sebenarnya Jababeka dan Lippo dibelah oleh Tol Cikampek.

Jalan yang di atas sudah ditutup euy. Jadi sekarang langsung aja lewat Delta Mas melalui jembatan Tegal Danas, lalu jangan ke kiri karena itu ke Delta Mas, tapi ke kanan, nanti akan masuk kawasan Delta Silicon yang baru. Disitu nanti ada pabrik besar macam Kumon dan yang paling kelihatan Hankook. Nanti akan tembus di dekat Elysium. Jalannya cukup enak, maklum baru dan kawasannya juga masih terhitung sepi.

Semoga membantu 🙂