Valentine Yang Sebenarnya

Dylon sedang berdiri mematung dengan mata menggantung nanar. Namanya orang jatuh cinta diam-diam itu sebenarnya nggak sulit ditelaah. Cari saja makhluk yang mematung dengan pandangan kosong sambil pura-pura senyum dan ekspresi sedatar kaca. Yah, orang jatuh cinta diam-diam itu akan selalu demikian ketika ada yang dijatuhi cinta di tempat yang sama. Persis dengan Dylon saat ini.

“Duarrrrr…”

Dinamika berlanjut. Ini sebenarnya lagi malah keakraban. Maka dinamika adalah bagian dari keakraban. Sayang, Dylon berada di tempat yang jauh dengan Lana. Alias, berada di dinamika yang terpisah. Maka metode yang pas memang hanya mematung menatap menahan, kata orang 3M. Namanya juga jatuh cinta diam-diam.

Saking mematung diam setengah senyumnya, Dylon sampai tidak sadar kalau Lana sedang mendekati dia.

“Oi… Ngelamun?” kata Lana.

“…….” Dylon mendadak gelagapan, menjelang serangan jantung, eh jatuh, jatuh cinta tepatnya.

“Pin berapa?”

“3487”

“Pin apaan tuh?”

“ATM.”

Lana pingsan, tidak menyangka ada pria oon di hadapannya.

“Pin BB monyonggg…”

“Ohhhhh… ngomong dong.. hehehehe..” Dylon masih gelagapan sambil kemudian menyebut deretan huruf dan angka, eh angka dan huruf mungkin.

Dalam tiga empat kutak kutik Dylon dan Lana sudah terkoneksi. Ini mungkin yang namanya durian runtuh dalam posisi terbuka dengan buah menghadap ke atas. Barang enak datang dengan posisi yang juga enak, alias tinggal leppp.. tinggal leepppp…

Maka, di malam itu, sambil bobo macam ikan pepes di ruangan yang tidak begitu lebar, Dylon lebih sibuk mengamati BB-nya, hanya memandang profil BBM si Lana. Sosok makhluk yang sebenarnya ada lima meter di tenggaranya, dan sedang asyik bersama rekan gang-nya.

Namanya juga orang jatuh cinta diam-diam, kalau ngomong cinta, maka tidak diam-diam namanya. Dylon lebih percaya bahwa jatuh cinta diam-diam adalah bentuk terindah dalam mencintai, meski ia paham bahwa itu adalah benda yang sama dengan bentuk paling sakit dalam aspek mencinta. Dylon paham benar, hanya sesudah kejatuhan cinta Lana.

Pin BB adalah akses. Para pecinta masa kini harus bersyukur pada penemu BB. Karena para pemalu bisa mudah melakukan PDKT, tanpa perlu surat cinta, tanpa perlu belajar gitar guna bernyanyi lagu romantis, tanpa perlu bertemu bapak dan emak yang mungkin galak. Semua berjalan dengan deretan huruf, angka, plus karakter. Serba digital. Termasuk percakapan Dylon dan Lana kemudian.

“Malemmmm…” ketik Dylon.

Tunggu.

Tunggu.

Tunggu.

BB tidak bergetar.

Pantas saja, Dylon belum menekan tombol untuk memasukkan deretan kata-katanya ke dalam percakapan. Maklum, pecinta diam-diam.

“Yuppp..”

“Bole main?”

“Main apaan?”

“Main ke kosmu. Boleh ya.. ya.. ya…”

“Wkwk.. Ngapain euy? Nggak apa-apa sih. Lagi ada temen juga disini.”

“Capcussss…”

Dylon dengan semangat empat lima bagi lima alias sembilan, bergegas berangkat ke kos Lana yang jaraknya sepelemparan batu kerikil oleh meriam. Sebuah kerumitan untuk menjelaskan kesederhanaan: agak jauh.

Hari itu 13 Februari, menjelang hari kasih sayang.

Dylon tiba di kos Lana yang memang gelap. Mungkin ini bagian dari Cost Reduction Program di kos tersebut. Maklum, hari gini, penghematan itu harus dilakukan oleh rakyat. Catet, oleh rakyat doang loh ya..

Sebuah sepeda motor besar disana. Tidak, tidak, ini tidak sebuah sepeda motor sebesar mobil jeep. Sebutlah ini motor lelaki, berkopling, dan dinaiki dengan jantan. Sebagai pecinta diam-diam, Dylon agak paham soal ini. Ada deg-degan yang aneh, bukan deg-degan senang, tapi deg-degan khawatir. Dylon tahu karena nadanya beda. Yang khawatir pakai kunci minor.

Dan benarrrrr..

Untaian nada minor membahana di relung hati si pecinta diam-diam. Lana sedang bersama seorang pria. Hanya berdua saja. Betul, berdua di remangnya ruang tamu kos.

Dylon mundur teratur, teratur sekali, sampai dia perlu beraba-aba “balik kanan, grakkkk…” sebelum mengalihkan pandangan matanya.

* * *

Bilangan tahun berlalu.

Dylon kembali ke tempat yang sama. Berharap menemukan Lana. Tentu tidak ada lagi. Lana sudah tidak kos di tempat yang sama, bahkan sudah tidak di kota yang sama.

Bilangan tahun berlalu.

Dylon masih seorang pecinta diam-diam. Seorang pengharap yang bermimpi 13 Februarinya akan diikuti 14 Februari bersama Lana. Ya, Lana, valentine Dylon yang sebenarnya.

Advertisements

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s