Category Archives: Pertandingan

Sesekali mencoba menguji karya :)

Peta ASEAN

Topik #10daysforASEAN yang mengambil topik Singapura ini sungguh sensitif. Bukan karena topiknya lagi PMS lho ya, kalau itu mah wanita. Sensitif soalnya membahas tentang batas-batas kedaulatan yang terejewantahkan via tanah dan air yang diakui di suatu negara.

Perihal batas-batas wilayah sebenarnya merupakan hal yang harus benar-benar diselesaikan sebelum Komunitas ASEAN 2015 dijalankan. Yah, kita harus belajar dari pengalaman rebutan Sipadan-Ligitan yang dimenangkan oleh Malaysia. Tensi antar kedua negara memanas. Bayangkan saja kalau ngakunya sudah Komunitas ASEAN, tapi masuk ribut memasang kapal perang di pulau-pulau sengketa.

Kayak anak kecil ajah.

Nggak apa-apa, yang penting nggak kayak anak galau.

Sejatinya keputusan Mahkamah Internasional soal batas-batas dan klaim wilayah adalah suatu keputusan yang dianggap tetap. Pertama, tentu saja karena proses peninjauannya sudah di tingkat internasional. Kedua, Mahkamah ini adalah pihak ketiga yang semestinya bebas nilai sehingga bisa lebih tepat dalam memutuskan klaim mana yang benar dari pihak-pihak yang bersengketa. Ya, orang ketiga nggak selalu mengganggu layaknya orang pacaran kok. Tenang saja.

Saya jadi kepikiran saja, kalau di zaman sesudah merdeka dahulu, Indonesia melakoni aneka perjanjian, mulai dari Linggarjati, Roem-Royen, Renville, hingga ujungnya Konferensi Meja Bundar. Itu posisinya satu penjajah, satu yang dijajah, tapi bisa kok melakukan perjanjian.

Atau nggak usah jauh-jauh, persoalan Aceh akhirnya bisa diselesaikan dengan perjanjian yang dilakukan di Helsinki. Meski harus jauh-jauh ngadem ke Finlandia, tapi masalah jadi selesai, dan sekarang eks orang GAM sudah dua periode memimpin Aceh.

Nah, kenapa di era modern masa kini yang handphone sudah bisa nge-path, ng-instagram, dan nge-tweet, masak sih perjanjian semacam itu tidak bisa diselenggarakan? Kalau di zaman dahulu perlu Kapal Renville jauh-jauh datang untuk jadi lokasi perjanjian, ada banyak negara ASEAN yang sudah punya kapal yang bagus-bagus. Atau kalau dulu di Linggarjati, sekarang Nusa Dua malah sudah ada tol tengah laut-nya. Bisa kok dipakai sebagai tempat perjanjian.

Banyak orang bilang jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kalau dulunya orang bisa melakukan perjanjian batas-batas wilayah, sekarang mestinya lebih bisa kan. Keluaran dari perjanjian yang mungkin namanya Vientiene Agreement atau Singapore Agreement atau Aek Latong Agreement itu nantikan akan menelurkan sebuah PETA ASEAN yang diterima oleh seluruh negara di ASEAN. Kalau konteksnya perjanjian kan sebenarnya enak karena ada banyak pihak ketiga. Jadi nggak perlu kawatir berantem sampai jambak-jambakan.

Eh, ini level petinggi ding, bukan level anak alay.

Peta ASEAN adalah sebuah bekal bagus dalam menjalani Komunitas ASEAN 2015 yang tentunya akan menghilangkan batas-batas dalam konteks masif. Dan siapa tahu peta ASEAN dapat digunakan oleh Dora sambil bilang, “aku peta… aku peta…”

Salam Dora!

Laos: Sungai Mengalir Sampai Jauh

Bicara Laos tentu saja tidak jauh-jauh dengan ketumbar. Mengingat Laos adalah salah satu bumbu dapur.

Sebentar-sebentar, ini ngomongin apa sih?

Oh iya, ini ngomongin ASEAN. Berarti bukan ketumbar. Jadi, mari kita ulangi lagi.

Bicara soal Laos tentu saja tidak lepas dari negara-negara di sekitarnya. Mengingat Laos sendiri sudah tergabung di dalam organisasi ASEAN sejak 1997. Laos adalah negara yang tergolong baru masuk ASEAN karena waktu zaman saya SD, Laos belum masuk ASEAN. Sebenarnya saya SD waktu zaman wakil presidennya masih Umar Wirahadikusumah sepertinya.

Laos adalah negara dengan identitas yang berbeda dengan mayoritas ASEAN, apalagi Indonesia. Kalau Indonesia berkelimpahan pantai dan laut, Laos justru nggak punya sama sekali. Laos dibatasi kanan bawah kiri atas dengan daratan negara ASEAN yang lainnya. Penghidupannya adalah di Sungai Mekong yang legendaris.

Saya sendiri tidak terlalu mengenal Laos karena diantara negara-negara ASEAN yang pernah saya layani proses ekspornya, negara ini tidak termasuk. Kalau ekspor ke Myanmar, Thailand, sampai Vietnam sih pernah. Jadi, saya memang perlu kenalan dulu dengan Laos.

Begitu kira-kira.

Langsung ke topik #10daysforASEAN saja deh. Jadi apa sih yang sebaiknya dilakukan oleh Laos dalam hal kerjasamanya dengan negara-negara lain di ASEAN?

Hal yang dilakukan oleh Laos dengan menjadi tuan rumah SEA Games adalah sebuah kemajuan besar yang merupakan pintu gerbang ke kerjasama yang lebih intensif di ASEAN terutama mengingat penyelenggaraan SEA Games biasanya ya di negara situ-situ saja. Kita tentu tahu bahwa SEA Games sendiri terkait dengan pembangunan fasilitas, kunjungan banyak orang antar negara, dan pembangunan relasi yang baik antar warga sesama ASEAN.

Okelah kita belum memetik buah dari SEA Games secara prestasi.Tetapi apa yang dilakukan oleh Laos dengan menjadi tuan rumah SEA Games sudah menjadi semacam awalan yang dilarung di sungai yang kemudian akan mengalir sampai jauh…

…akhirnya ke laut.

Dalam proses komunitas ASEAN tentu keterbukaan dan interkoneksi antar negara menjadi penting. Mengingat Laos punya kebijakan visa yang tidak seketat Myanmar, maka tidak ada yang ditakutkan. Wong kalau Myanmar begitu saja juga nggak ada yang perlu ditakutkan. Satu-satunya yang perlu ditakutkan di dunia itu hanya kalau jodoh kita mengubah nasibnya sehingga tidak menjadi jodoh kita lagi.

#apasih

Potensi yang khas dan berbeda milik Laos tentu harus dikelola dengan pendekatan yang berbeda dibanding dengan Indonesia. Jadi, buat saya tidak ada yang perlu ditambahkan. Arah kebijakan Laos saat ini sudah sesuai untuk tendensi ke Komunitas ASEAN 2015.

Salam Jauh!

Kopi ASEAN 2015?

Saya lagi merebahkan diri setelah semalaman nggak bisa tidur di atas Kereta Api Senja Utama Solo. Lagi tidur-tiduran gini mata saya liar mencari jodoh…

…eh, bukan. Mata saya liar ke segala sisi yang ada di kamar adek saya. Dan saya ketemu kopi. Kebetulan menjadi indah ketika kemudian saya buka aseanblogger.com dan melihat bahwa topik #10daysforASEAN hari ini adalah kopi.

Sruput lanjutannya

Indonesia, A Tropical Paradise

Perkara branding ini seharusnya bukan pekerjaan seorang apoteker merangkap penulis galau kayak saya. Tapi #10daysforASEAN hari ketiga ini memberi tantangan unik kepada blogger-blogger ASEAN yang kece-kece ini.

Yup, tantangan soal branding nation.

Selengkapnya

Borobudur & Angkor Wat: Sebuah Perspektif Sederhana

Kalau menyebut Candi Borobudur, yang terlintas di benak saya adalah…

…tempat ketika saya jalan-jalan sama keluarga mantan, dua tahun silam.

Ah, tapi kan saya harus berpikir sesuai falsafah Jawa yang direkayasa oleh anak UKF Dolanz-Dolanz:

Duren duren, roti roti
Mbiyen mbiyen, saiki saiki
Durian durian, roti roti
Dulu dulu, sekarang sekarang

Jadi, biarlah masa lalu menjadi masa lalu.

Eh, ini kok malah ngomongin masa lalu sih?

Kembali ke topik

Salon Thailand? Siapa Takut?

Mendapat kesempatan mengikuti sosialisasi perihal ASEAN Economic Community (AEC) 2015 ternyata adalah sebuah hal berharga buat saya. Dalam rangka mengamalkan ilmu-ilmu yang saya dapat hari Sabtu kemarin di Caraka Loka, dan mengingat saya sudah dapat kaos dan flashdisk, maka saya mencoba mengikuti #10daysforASEAN via ariesadhar.com ini.

Lebih lanjut klik disini

“Handphone Untuk Adikku”

Judulnya cakep ya? Udah mirip judul film (apa sinetron? malah lupa) semacam “Hari Untuk Amanda”. Iya, judul cakep diperlukan untuk membuat penulis yang tidak cakep menjadi cakep.

*apa-apaan ini?*

Beberapa hari yang lalu iseng kembali buka website Tokopedia. Kok ya kebetulan ketemu ada kontes berbagai cerita. Berhubung saya punya sedikit cerita dengan Tokopedia, jadi mari dituliskan disini.

Disini loh..

Kala Nyaris 2

“Hmmm…”

Kalau kamu sudah mengetik bagian ini, aku berasosiasi kamu pasti hendak menulis sesuatu yang penting.

“Kenapa?”

“Gpp.”

“Yakin?”

“Hmmm, ya nggak penting juga.”

“Nggak penting bukan berarti nggak boleh disampaikan loh.”

“Hmmm, yah kadang berasa kangen aja.”

Aku terbelalak, tapi kamu kan tidak tahu ekspresiku saat itu.

“Sama kalau begitu.”

Yah, setelah keputusan kita untuk tidak lagi berusaha menyatukan hati, sejatinya aku kehilangan. Tapi bagaimanapun aku harus sadar kalau kita berada di sisi yang berbeda.

Sebuah jurang besar, yang ironisnya bukanlah agama, terbentang diantara kita. Sebuah jurang besar yang pasti akan sulit kita seberangi satu sama lain. Aku menikmati kala kita berjalan di sisi jurang untuk bersama-sama mengikat rasa. Tapi, ah, jurang itu.

Aku kehilangan kamu, sungguh. Kebersamaan kita memang hanya singkat, tapi aku mendapatkan banyak hal. Aku paham rasanya berbagi resah, aku mengerti indahnya berbagi cerita, dan aku tahu pahitnya perpisahan.

Sebenarnya aku salah jawab tadi. Ini tidak sama . Kamu mungkin kangen. Aku? Sebentar, biarlah aku mencari diksi yang tepat untuk menggambarkan rindu yang membuncah, meluber, dan meruah padamu. Ya, kamu.

“Sudah tidur?”

“Belum.”

“Hmmm..”

“Kenapa?”

“Gpp.”

Dan percakapan kita kembali dingin. Ini nyaris dua bulan kita berpisah, sebuah waktu yang kita pilih ketika kita nyaris 2 bulan bersama.

Arrggghh!!!

Rindu Gila

Sekelebat tampak benda manis lewat di depanku.

“Oke juga,” pikirku.

Dan entah kenapa ada dorongan aneh dari dalam diriku. Kuikuti sosok manis itu dari belakang. Entah, ada semacam rindu yang aneh muncul tiba-tiba. Tapi aku memilih mengikuti naluri.

Kuikuti terus, tanpa upaya memanggil. Kubuntuti sosok itu berjalan. Dan aku merasakan rindu yang benar-benar gila. Sejak kapan rindu oleh sekelebat sosok manis ini tiba? Dan kenapa dia tiba?

Sudah hampir sampai lorong ujung kampus. Aku sudah capek juga mengikutinya. Maka kupercepat jalanku. Kukeluarkan kartu nama yang selalu jadi andalanku. Yah, gadis mana yang bisa abai dengan kartu namaku, seorang yang terkenal di kampus ini.

Aku berlari, kugapai sosok manis itu. Ia berbalik dan seketika aku sadar mengapa aku rindu.

“Kamu to?”

“Iya. Kok disini?”

Sedari tadi aku mengikuti mantan pacarku, pantas saja aku merasa rindu.

🙂