Memang Harus Jakarta

Jakarta, kotaku indah dan megah
disitulah aku dilahirkan
rumahku di salah satu gang
namanya gang kelinci

Lagu “Gang Kelinci” adalah satu dari satu-satunya lagu lawas yang nangkring di MP3 andalan saya sejak dibeli tahun 2007. Sudah ada 6 tahun lamanya lagu itu ada disana dan selalu saya dengar setiap kali perjalanan. Utamanya sih perjalanan ke Jakarta. Maklum, anak Cikarang, jadi kalau mau gaul sedikit, ya kudu ke Jakarta, naik 121, dan biar asyik yang mendengarkan MP3.

Nah, dari lagu jadul itu saja kita sudah tahu kalau Jakarta adalah kota yang indah dan megah. Kota yang dahulu bernama Batavia ini juga merupakan pusatnya Indonesia. Hanya di Jakarta ini saya pernah menggunakan bahasa Jawa, bahasa Minang, dan bahasa Palembang dalam 1 jam menjelajah. Sederhananya, semuanya ada disini.

Soal Jakarta sebagai Diplomatic City of ASEAN seharusnya tidak perlu ditanya lagi karena gedung Sekretariat ASEAN saja sudah sejak lama ada di Jakarta. Dengan mekanisme simpel saja sebenarnya penetapan Jakarta sebagai ibukotanya ASEAN adalah hal yang mudah karena faktor lokasi sekretariat itu.

Atau kalau kita mau adil bahwa 40% alias mayoritas penduduk ASEAN itu adanya ya di Indonesia. Jadi dari sisi majority ini juga, sudah layak dan sepantasnya Jakarta, sebagai ibukotanya Indonesia, juga dijadikan sebagai ibukotanya ASEAN.

Okelah secara historis memang Jakarta beda sama Bangkok, soalnya Bangkok mencatatkan diri ketika Adam Malik, Narsisco Ramos, Tun Abdul Razak, Thanat Khoman, dan S. Rajaratnam berkumpul dan menghasilkan Deklarasi Bangkok. Tapi toh setidaknya, nama Adam Malik ada disana. Indonesia adalah 1 dari 5 pemrakarsa terbentuknya ASEAN.

Sekretariat di Jakarta, penduduk terbanyak di Indonesia, plus Indonesia adalah pendiri ASEAN bersama 4 negara lainnya. Nggak ada alasan untuk tidak menaruh ibukota ASEAN di Jakarta kan?

Nah, masalahnya sekarang, siapkah Jakarta?

Sungguh suatu kebetulan yang menarik ketika menjelang persiapan Komunitas ASEAN 2015 ini Jakarta dipegang oleh 2 pemimpin yang mumpuni. Seluruh Jakarta bahkan Indonesia sudah bisa melihat hasil karya sepasang anak bangsa pada ibukotanya dalam rentang waktu yang bahkan belum lama. Mereka adalah Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama. Simpelnya tentu saja Jokowi dan Ahok.

Sekretariat ASEAN terletak di Jalan Sisingamangara yang dekat betul dengan Sudirman-Thamrin, yang tentu saja sudah macet sejak zaman pra-sejarah. Apa iya nanti ibukota ASEAN akan identik dengan macet?

Sejatinya Jakarta sudah terbeban berat dengan proses yang ada sekarang, tapi menjadi pusat ASEAN adalah kesempatan yang tidak boleh dilepaskan. Paralel dengan itu, adalah tugas pemerintah daerah di bawah pimpinan Jokowi dan Ahok untuk melakukan pembenahan. Kebetulan juga aksi mereka ditunjang oleh Dahlan Iskan dengan sinergi bandara ke Jakarta via kereta api pimpinan Ignasius Jonan. 

Akses dari langit akan mudah karena bandara di Cengkareng sana juga akan diperbesar. Kalau-kalau memang kapasitas penuh, sudah disiapkan di Karawang, yang tidak jauh-jauh banget dari Jakarta.

Apalagi kalau nanti MRT sudah tersedia. Okelah sekarang kita sudah tertinggal puluhan tahun dengan Singapura soal MRT dan Malaysia dengan monorail-nya. Tapi di tangan Jokowi-Ahok sepertinya sudah mulai ada titik terangnya.

Satu hal yang pasti, isu keamanan menjadi penting. Setiap lewat kedutaan besar, saya selalu heran dengan pagarnya yang tinggi-tinggi, tebal-tebal, plus kawat duri. Yang paling ekstrim tentu saja milik Australia dan Amerika Serikat. Sedangkan Thailand, Kamboja, dan lainnya yang kebetulan bersebelahan memang tidak tampak tinggi sekali pengamanannya. Cuma, melihat bentuk yang begini, itu pertanda ada ketakutan kan? Tentu saja bom Kedubes Australia bertahun silam tidak mudah untuk dilupakan. 

Kalau isu keamanan di Jakarta perlahan bisa diperbaiki, plus jaminan tata kota yang baik dari duo kotak-kotak, akhirnya saya bisa bilang bahwa kota indah dan megah bernama Jakarta ini memang harus menjadi pusatnya ASEAN.

Salam Jakarta!

Indonesia, A Tropical Paradise

Perkara branding ini seharusnya bukan pekerjaan seorang apoteker merangkap penulis galau kayak saya. Tapi #10daysforASEAN hari ketiga ini memberi tantangan unik kepada blogger-blogger ASEAN yang kece-kece ini.

Yup, tantangan soal branding nation.

Selengkapnya

Aku Ingin Jatuh Cinta

Jemariku belum lepas dari telepon genggam yang agak pintar ini. Sudah dua jam lebih aku terkapar di kasur sambil memegangi benda hitam mungil yang kubeli dari Tunjangan Hari Raya tahun lalu ini. Aplikasi yang dibuka sebenarnya tidak banyak, hanya Facebook, Twitter, dan beberapa portal berita. Ketika aku bosan, maka aku akan mengulang kembali aplikasi yang sama. Selalu ada yang baru di newsfeed FB dan timeline Twitter, jadi biasanya mampu membuatku tidak bosan.

Beginilah aktivitasku sehari-hari. Sepulang dari kantor, aku hanya terpakar di kasur dan akrab dengan aplikasi yang tidak banyak. Aku tahu ini hanya upayaku untuk mengalihkan diri dari masa lalu tapi tampaknya aku bertindak dengan cara yang salah. Aku masih tetap memegang benda hitam mungil ini. Aku memang membuka aplikasi, tapi mata dan jariku sangat awas pada notifikasi Whatsapp di pojok kiri atas. Lingkaran hijau itu yang selalu mengingatkanku tentang masa lalu yang indah.

Nyatanya, lingkaran hijau notifikasi itu tidak pernah ada lagi. Hidupku memang tidak pernah sama lagi. Sejak aku dan dia memutuskan untuk berpisah karena perbedaan yang tidak lagi dapat menyatukan dua hati yang rindu, hidupku memasuki babak baru. Menurutku, ini babak baru yang suram.

Aku tidak lagi mampu mengerjakan sebuah laporan dengan cepat. Aku jauh lebih sibuk melihat telepon genggam yang nyata-nyata tidak pernah berbunyi lagi. Dalam setiap pandanganku ke layar monitor, aku tidak melihat forecast dan rencana produksi. Angka-angka itu, di mataku, menjelma menjadi teks percakapan Whatsapp plus emoticon yang menyertai.

Aku tidak lagi menempuh perjalanan dengan riang karena tidak ada lagi yang berpesan padaku seperti yang dia selalu lakukan dulu, “hati-hati ya”. Malah wajahnya terbayang di berbagai kejadian, entah itu lukisan di belakang truk hingga sekadar orang lewat. Aku selalu merasa sedang melihat wajahnya.

“Brakkkk.”

Terdengar suara pintuku dipukul keras. Ah, itu pasti Rian yang baru pulang kerja. Sudah menjadi kebiasaannya untuk berbuat barbar macam itu. Sudah hampir pasti juga kamarku menjadi sasaran karena terletak paling depan.

“Apa?” teriakku sambil tetap terguling sempurna.

“Nggak apa-apa. Makan?”

“Nanti.”

“Ya. Mandi dulu.”

“Ya.”

Aku serasa hidup di hutan kalau sedang ngobrol dengan Rian dalam posisi ini. Aku tergolek lesu di kamar, Rian duduk asyik di depan televisi yang jaraknya lima belas meter dari tempat aku berbaring sekarang. Rian tertawa riang karena baru jadian, aku tertunduk lesu karena baru putus.

Hawa panas di dalam kamar yang pengap ini akhirnya mampu membuatku bergerak. Dua jam terkapar dengan masih mengenakan seragam kantor adalah tabiat buruk yang tidak layak ditiru. Seragam kantorku—berikut kelengkapannya—sangat cocok untuk kantorku yang dingin ber-AC, tapi tidak untuk kamarku yang pengap dan lembab.

Aku bangkit, tapi tetap lemas. Mataku masih awas pada sudut kiri atas telepon genggamku, berharap notifikasi Whatsapp muncul. Satu menit mataku menatap awas ke arah itu, dan nihil. Segera kulepas seragam kantorku dan berganti dengan baju rumah.

“Jokowi atau Foke?” tanyaku pada Rian yang sedang asyik duduk di depan televisi, menonton Quick Count Pilkada DKI.

“Ini lagi nonton.”

“Nggak phonesex?”

“Belum.”

Tepat ketika Rian selesai menyebut “belum”, Blackberry-nya berbunyi. Rian bergegas masuk kamar, dan aku langsung menyimpulkan itu adalah pacarnya.

Perihal istilah phonesex, memang agak vulgar. Meski tidaklah ada diksi yang cukup kurang ajar di sebuah kos-kosan cowok yang berisi staf-staf muda di berbagai pabrik. Rian yang mencetuskan istilah itu ketika ia sering tiba-tiba berada di depan kamarku dan mendengarkan pembicaraan teleponku.

Kini dunia berbalik. Rian sering senyum-senyum sendiri. Staf di pabrik otomotif ini juga bisa berjam-jam bertelepon ria di dalam kamar. Dalam beberapa kali percakapan, ia mulai sering menyebut diksi “bojoku”.

Ah, ini pasti pertanda jatuh cinta. Sebuah keadaan yang mampu mengaduk-aduk emosi manusia. Sebuah perasaan yang mampu meningkatkan kadar senang dan sedih dalam hitungan detik. Sebuah kondisi yang bisa menyunggingkan senyum dan menorehkan luka lebih cepat dari membalik telapak tangan.

sumber: iamalittlemorethanuseless.blogspot.com

Rian sedang menikmati indahnya. Ia tersenyum sepanjang hari. Kalau jam 10 malam ia sudah keluar dari kamar, senyumnya bisa lebih mengembang. Saat main PES 2012 pun, ia hampir selalu menang karena bermain dengan riang gembira. Ketika mandi, ia bernyanyi paling keras, bahkan sampai terdengar ke kamarku. Indah sekali hidup seperti Rian ya?

Aku masuk ke kamar mandi, tetap dengan gontai. Kuletakkan peralatan mandi di pinggir bak dan kugantung handuk pada tempatnya. Kedua tanganku masuk ke bak dan basah seketika. Kuusap kedua belah tangan itu ke wajahku. Pikiranku melayang ke berbagai tempat. Sekelebat tampak Rian yang sedang riang gembira. Sedetik berikutnya  terbayang kesendirianku di dalam kamar. Sejurus kemudian berganti ke masa silam, ketika aku berada pada posisi yang sama dengan Rian.

Bahwa jatuh cinta itu indah, aku paham benar soal ini. Bahwa ada konsekuensi lain dari jatuh cinta, aku juga harus mengerti soal itu. Maka pikiranku melayang ke sebuah percakapan yang masih melekat erat di hidupku.

“Mas, aku mau kita udahan.”

“Kenapa?”

“Ya, kamu tahu kan. Kita nggak bisa bersatu.”

Aku terdiam, berpikir, dan mengeluarkan kata-kata yang menurutku ajaib bisa meluncur dari mulutku sendiri, “Kalau memang itu yang terbaik buat kamu, nggak apa-apa kok.”

Senyum tersungging kecil di bibirku, berharap itu dapat menyunggingkan senyum yang sama dari bibir lawan bicaraku.

“Aku sayang kamu, Mas. Tapi sepertinya memang harus begini. Ini bukan yang terbaik untukku. Akupun menangis karena ini.”

“Ini fakta kok, kita itu sukunya berbeda. Ya nggak ada yang bisa diubah.”

“Mas?”

“Iya?”

Dan yang kudengar selanjutnya ada isak tangis, dari gadis yang sangat kucintai ini. Perbedaan suku berhasil memisahkan dua hati ini.

Kusandarkan dua tanganku pada bak mandi, kupandang air yang menggenang di bak itu. Kulihat wajah gembira Rian disana, kulihat kebersamaanku dengan gadis manis yang aku cintai, kulihat tubuhku terkapar di dalam kamar.

Ah, seandainya aku bisa seperti Rian, yang sedang menikmati indahnya jatuh cinta. Seandainya waktuku menikmati indahnya jatuh cinta itu bisa lebih lama. Berbagai pengandaian lain mendadak bermunculan, sekaligus berupaya menepis kenyataan. Sebuah kesia-siaan, karena kenyataan tidaklah musnah oleh pengandaian. Ini tetaplah kenyataan.

Aku ingin jatuh cinta lagi, tapi nyatanya aku tidak bisa. Aku sudah jatuh terlalu dalam di hatinya.