Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

Tentang Beras Plastik: Mari Belajar Menempatkan Sesuatu Pada Tempatnya

Oke, negara ini memang super. Super sekali, bahkan. Banyak makanan absurd–selain makan teman–yang boleh jadi pada akhirnya meningkatkan jumlah penderita penyakit aneh-aneh. Pewarna pakaian jadi pewarna es, boraks jadi barang yang justru wajib ada supaya kenyal, dan pacar harus ada meskipun tidak cinta. Pelik sekali. Semakin pelik ketika lantas muncul yang namanya OOM ALFA, eh, beras plastik.

Seperti biasa, begitu sudah masuk soal beginian, maka segera telunjuk, kelingking, jari tengah, sampai jempol kaki menunjuk pada Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM). Sampai ada judul-judul nan super bingit, semisal yang ini:

Picture1

Selengkapnya!

(Mencoba) Menelaah SKP Apoteker

Ini ceritanya mau nulis agak serius sedikit, jadi tolong pembaca blog ini yang biasa menikmati pedihnya LDR maupun yang berasal dari kalangan jomlo menahun yang berkerak bisa klik lambang X di pojok kanan atas daripada kuciwa. Sengaja saya nulisnya di blog ini, bukan di blog lain karena jiwa dari posting ini sejalan dengan tagline blog ini: sebuah perspektif sederhana. Selain itu, saya nggak mau cuma menjadi Apoteker yang mentertawakan kegilaan masa kuliah via tulisan 97 Fakta Unik Anak Farmasi tanpa lantas memberikan masukan positif.

Entah bagaimana mulanya, tetapi beberapa hari terakhir grup-grup WhatsApp yang berisi apoteker-apoteker harapan bangsa dan mertua mulai menggelar diskusi berat tentang SKP. Salah satunya yang memicu–kalau di linimasa saya–adalah status FB dari seorang bapak yang fotonya terpampang di ruang rapat pimpinan Badan POM. Rasanya nggak perlu saya jelaskan disini karena toh sudah beredar di sebuah website. Hiks, saya gagal menangkap peluang, bahwa cukup copy paste status FB Pak Sampurno saja sudah lebih dari cukup menarik viewer dan disharingkan kemana-mana, Alexa naik, invoice berdatangan.

Selengkapnya!

78 Hal Yang Tidak Boleh Dilakukan Ketika Prajab

1. Melakukan demo agar prajab dipindah ke villa di Puncak.

2. Yang penjaganya kuplukan dan senteran.

3. Membawa setrika, milik tetangga, tanpa ijin.

4. Membawa hewan peliharaan.

5. Membawa pasangan baik sah maupun belum sah ke dalam kamar.

6. Mempersilakan rekan sekamar membawa pasangan sah maupun belum sah ke dalam kamar.

7. Memesan pasangan ke RA dengan tarif 80 juta short time.

8. Menyuruh rekan sekamar nge-BBM RA untuk minta diskon agar 80 juta bisa semalam suntuk.

9. Menurut ngana, CPNS sanggup bayar?

10. Gaji wae 1,8 juta sebulan. Heu.

11. Berdemo minta sekamar dengan lawan jenis.

12. Membawa kompor gas, milik tetangga, yang dagang nasi goreng.

13. Membawa tabung gas 3 kilogram, 1 lusin.

14. Anda sedang Prajab, bukan bakulan!

15. Membawa meja biliar ke dalam kamar.

16. Makan pagi-siang-malam dengan hanya memakai sandal jepit

17. Makan pagi-siang-malam dengan sebelah kaki diangkat ke kursi

18. Lu kate warteg!

19. Membungkus sisa makan pagi-siang-malam.

20. Membungkus snack sisa coffee break dan tidak membagi-baginya kepada rekan satu kamar.

21. Ijin ke bank untuk menyekolahkan SK.

22. Woi! SK PNS aje belum dapat, lu mo ngegadaiin SK apaan?

23. Ijin ke Korea untuk ketemu Won Bin.

24. Ijin ke Jepang untuk berfoto bersama Rin Sakuragi.

25. Atau Maria Ozawa.

26. Bermain voli pantai, lengkap dengan bikininya.

27. Memanggil Berty Tilarso untuk senam.

28. Tenang, sudah ada instruktur senam sendiri di lembaga diklat.

29. Datang dan pergi sesuka hatimu.

30. Uwow! Kejamnya dikau. Kejamnya dikau.

31. Menggunakan sepatu berduri Farhat Abbas.

32. Memanjangkan rambut seperti Ki Joko Bodo.

33. Memakai kupu-kupu sebagai dasi.

34. Mengenakan rok itu dilarang, terutama jika anda adalah lelaki.

35. Cinta lokasi, dengan peserta lain yang sudah jadi bini orang.

36. Cinta lokasi dengan Widyaiswara yang adalah emaknya orang.

37. Ijin keluar kelas untuk menyimpan ASI, padahal kamu kawin juga belom.

38. Merokok di dalam kelas.

39. Mengambil InFocus dan menjualnya.

40. Menatap mata Widyaiswara dengan belas kasihan.

41. Membawa umbul-umbul.

42. Ngobrol dengan Widyaiswara pada saat orang lain presentasi. Helo! Etika lo dimana?!

43. Makan sambil kayang.

44. Apalagi makan teman sambil kayang.

45. Menuliskan kenangan di papan tulis, tanpa disuruh oleh Widyaiswara.

46. Menyatakan cinta pada Widyaiswara.

47. Menyatakan cinta pada Mamang Bakso.

48. Membeli bakso kemudian lari tanpa membayar.

49. Melakukan tawuran dengan peserta prajab lainnya.

50. Mengukur tinggi rok peserta yang di atas lutut, tanpa ngajak saya.

51. Memakai celana training, kemeja, dasi, dan sandal jepit pada saat bersamaan.

52. Melepas nametag saat beredar di sekitar lokasi Prajab.

53. Berharap bahwa sepulang dari prajab, tanpa diurus, status sudah naik jadi PNS.

54. RAUSAH NGIMPI!!!!

55. Melakukan akad nikah di ruang kelas.

56. Melakukan resepsi di ruang kelas.

57. Melakukan malam pertama di ruang kelas.

58. Menyembelih kambing domba di ruang kelas.

59. Melakukan demo karena ternyata prajab pola baru nggak perlu botak.

60. Bergerak senam sajojo ketika musiknya poco-poco

61. Atau bergerak poco-poco ketika musiknya Senam Jantung Sehat Seri 2

62. Gantung diri dengan dasi.

63. Menggunakan sesi bertanya di forum selama 1 jam hanya untuk menanyakan tugas sendiri. Ingat teman yang lain, cuy!

64. Menggadaikan laptop rekan sekamar.

65. Mandi bersama sambil membandingkan ukuran, sebaiknya jangan.

66. Memilih tidur lagi ketika dibangunkan oleh piket. IT’S A BIG O! Eh, NO!

67. Menyalakan sirine piket pada pukul 1 pagi, lagi prengas-prenges bilang nggak sengaja.

68. *sambit sepatu pantofel 3 senti*

69. Membicarakan kementerian/lembaga lain sambil bisik-bisik di depan CPNS yang bekerja di kementerian/lembaga tersebut.

70. Tidak mengikuti kelas lebih dari 9 JP (1 hari).

71. Mengisi lembar ujian dengan sesuka hati, apalagi menggambar bentuk alat kelamin.

72. Copy Paste rancangan aktualisasi dari teman yang berbeda kementerian.

73. Copy Paste slide rancangan aktualisasi dari teman yang berbeda lembaga.

74. Meminta cheerleader pada saat seminar rancangan aktualisasi.

75. Meminta seminar rancangan aktualisasi ditayangkan live streaming via YouTube.

76. Membiarkan hawa nafsu berkembang liar.

77. Melupakan nilai-nilai dasar ANEKA, terutama ketika mendapatkan sertifikat keikutsertaan.

78. Dan malah mengenang nilai-nilai dasar OOM ALFA.

4 Sisi Melankolis Lorong Cinta

Bagi anak Universitas Sanata Dharma alias Sadhar, tepatnya penguasa teritori Paingan, Maguwoharjo, Depok, Sleman tentu sangat paham tempat yang bernama Lorong Cinta. Saya sendiri tidak tahu sejak kapan Lorong Cinta dibangun, pun Bapak Penunggu Pentingsari yang mengaku dulu ikut menggarap Kampus III Sadhar tidak cerita kapan Lorong Cinta dibangun, dia malah cerita tentang ular-ular yang dulu menghuni lahan calon kampus. Heu.

Lorong Cinta sejatinya adalah sebuah bangunan biasa. Namun sama halnya dengan kampus-kampus lain dimanapun berada, pun mungkin di negerinya PK, salah dua atau salah tiga tempat akan menjadi sebuah monumen yang tercipta dengan sendirinya. Di Paingan, monumen itu adalah Lorong Cinta, bukan OOM ALFA.

Bagi anak Sadhar Paingan, Lorong Cinta bukanlah semata-mata bangunan yang dibuat untuk menghubungkan gedung yang kebanyakan isinya laboratorium dengan gedung yang isinya kantor dan ruang kuliah. Lorong Cinta menjelma menjadi sebuah tempat yang penuh nyawa karena dihidupkan oleh sisi-sisi melankolis manusia yang tumpah pada dirinya. Dalam skema kesentimentilan yang penuh bumbu melankolisme, saya mencoba menelaah Lorong Cinta dalam perspektif khusus, maka muncullah 4 sisi itu.

Menunggu

Lorong Cinta terletak persis di depan sekretariat Fakultas Farmasi di ujung satu, dan sekretariat lainnya di ujung sananya lagi. Di masing-masing ujung Lorong Cinta ada tangga, dan ada lift. Ketika mahasiswa Farmasi kelar kuliah, mereka akan turun ke lantai dasar dan pasti akan memandang Lorong Cinta. Pun dengan yang akan kuliah, atau akan praktikum, pasti akan sangat intim bersama Lorong Cinta.

IMG_0037

Letaknya yang demikian ini lantas bersisian dengan sisi melankolis bernama ‘menunggu’.

Lorong Cinta adalah saksi sebuah aktivitas biasa. Kuliah jam 9, datang jam 8.30, kemudian duduk-duduk manis di Lorong Cinta sambil menunggu kuliah. Itu aktivitas dasarnya. Kalau mau dibongkat, aktivitas sederhana itu kemudian bisa dijelmakan dalam aneka rupa fantasi.

Lorong Cinta bisa menjadi saksi ketika malam sebelumnya sepasang kekasih memutuskan untuk berpisah, namun setelah merenung semalam sang lelaki lantas menanti sang mantan kekasih yang baru udahan kuliah untuk kemudian membicarakan hal tertentu. Bisa jadi, kan?

Lorong Cinta juga adalah tempat bagi mahasiswa tingkat lanjut dan secara semester juga berusia lanjut untuk sekadar menanti. Kuliah sudah nggak, ngasdos juga jarang-jarang. Ke kampus mencari dosen, mencari literatur, dan sejenisnya. Karena pas di dekat sekretariat, ya menanti dosen paling pas adalah di Lorong Cinta.

Pertemuan

Ada suatu kala ketika sepasang calon kekasih menghabiskan pertemuan pertama mereka yang berdua saja di Lorong Cinta, hari Sabtu, ketika kampus sepi. Angin yang bertiup agak kencang tidak dipedulikan, pun si cicak yang nggak kelar-kelar membaca.

Lorong Cinta juga menjadi tempat yang tepat untuk janjian, untuk rapat, untuk bertemu asisten dosen, hingga untuk janjian COD. Apalagi Lorong Cinta memberikan nuansa yang tepat untuk sebuah pertemuan. Bayangkan ketika sedang duduk menanti, lantas dari kejauhan muncul seseorang yang kita nanti-nanti, ketika dia menjelang tiba dan lantas merapat. Entah itu teman, entah itu mantan, entah itu kekasih, semua punya sisi yang menarik untuk dicerna.

Bagi para alumni yang sudah tidak kenal siapapun, nongkrong di Lorong Cinta adalah kegiatan yang tepat untuk sekadar bertemu dosen yang sedang berkeliaran. Tampak simpel, namun melihat dosen kemudian salaman dan lantas dosennya masih ingat nama si alumni, itu pasti keren. Masalahnya, diingat itu kontekstual, bisa diingat karena nakal, bisa pula diingat karena ketemu di perkuliahan 4 kali untuk materi dan nama kuliah yang sama. Pertemuan yang pedih.

Berharap

Lorong Cinta memang tidak menyimpan suatu monumen yang tampak untuk mencerminkan harapan. Namun, berada di Lorong Cinta, sejatinya adalah bentuk harapan yang akan terwujud. Ya, sesederhana berharap jadi sarjana kemudian dalam proses yang melelahkan itu, duduk merenung, beria-ria, dan kemudian berpikir bahwa masih ada harapan untuk menuntaskan perjalanan yang panjang itu.

Lorong Cinta juga menjadi tempat ketika nilai-nilai ujian dikeluarkan dan dipampang serta dibagikan. Semuanya akan mengumpulkan, menghitung, kemudian berharap bahwa nilai baik yang dimimpi-mimpikan itu kemudian muncul. Lorong Cinta juga menjadi saksi harapan baru ketika orang yang ulang tahun mengeringkan badan pasca menjadi korban hijaunya kolam Paingan.

Harapan nyatanya kebanyakan ada di dalam hati. Ada saja mahasiswa yang duduk di Lorong Cinta tanpa arah dan tujuan, hanya berharap bisa melihat Sang Pujaan Hati dari kejauhan, berlari imut menuju laboratorium dengan tas hitam dan sepatu ketsnya, kemudian sudah. Ah, ini pasti cinta. Derita yang tiada akhir. Apalagi itu cinta diam-diam, sebuah akhir yang tidak memiliki awal.

Bahagia

Ketika saya selesai ujian skripsi terbuka tanggal 22 Januari, persatuan tim Swamedikasi dan tim Teh lantas menghelat peringatan kebahagiaan dengan tumpengan persis di tengah-tengah Lorong Cinta. Lulus ujian skripsi adalah bentuk kebahagiaan dan itu sungguh kami rayakan di tempat kami menunggu, di tempat kami berharap, dan di tempat kami saling bertemu untuk saling menguatkan.

Lorong Cinta adalah saksi bahagia ketika praktikum selesai dan data diperoleh dengan baik. Lorong Cinta juga merupakan tempat yang didatangi oleh sepasang kekasih dengan manisnya, lantas duduk bersama di kursi kayu sepanjang lorong, dan keduanya memamerkan senyum bahagia.

Image(128)

Namun, sebenarnya bahagia paling utama terjadi ketika seseorang yang memiliki harapan untuk sekadar bisa melihat sang pujaan hati yang tidak bisa dimiliki menunggu dengan sabar di Lorong Cinta kemudian justru bertemu dan bertukar sapa sebelum sang pujaan hati kembali berlalu dari depan mata. Sebenarnya, bahagia memang hanya sesepele itu.

Menuju Puncak

Sejak dua bulan yang lalu saya dikasih tahu sama Dokter Riani bahwa akan ada rekoleksi tim pelayanan PITC. Dari aneka grup yang tersedia, saya membaca sekilas tempatnya, namun yang teringat di kepala hanya Sindanglaya. Ya, sudah, booking jadwal pribadi dan meniadakan agenda #KelilingKAJ serta latihan bareng CFX di Kolese Kanisius.

IMG_6474 copy

Mengingat hidup saya sangat tergantung jadwal dinas, mulailah saya deg-degan ketika minggu lalu ada wacana dinas ke Kupang. Tapi seperti pernah saya tulis di blog ini juga bahwa entah kenapa kalau urusannya untuk pelayanan, hawa-hawa lancar itu selalu terasa. Pada akhirnya saya ke Kupang tanggal 17 sampai 19 Maret. Tanggal terakhir ini ulang tahun pacar, dan ketika pacar ulang tahun saya malah sibuk berusaha mencapai kos dari El Tari.

Dua malam di hotel, lalu semalam nggak kerasa di kosan, saya kemudian akan mendapatkan dua malam lainnya di Sindanglaya. Sungguh, hidup sebagai petualang itu indah. Asal bukan petualang cinta.

Selengkapnya!

11 Fakta Tentang Anak Paduan Suara Mahasiswa

Kiranya hampir semua universitas punya Paduan Suara Mahasiswa alias padus alias PSM atau apalah namanya. Paduan Suara Mahasiswa kiranya merupakan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau apalah namanya yang sejenis. Suka-suka yang punya kampus, toh? Nah, sebagai mantan anak Paduan Suara Mahasiswa saya lantas mengerutkan kening untuk mengenang apa-apa aja sih yang unik dari anak Paduan Suara Mahasiswa itu. Mengingat saya sudah lulus kuliah sejak zaman Boedi Oetomo, maka kerutan kening saya lumayan berlipat sehingga bisa membentuk partitur lagu galau.

CF

Daripada kelamaan, baiklah, sesudah rada sering menulis kisah perjalanan #KelilingKAJ, ada baiknya kita refresh sejenak dengan beberapa fakta unik tentang anak Paduan Suara Mahasiswa versi ariesadhar.com

1. Anak Paduan Suara Mahasiswa biasanya adalah hasil seleksi. Namun biarpun sudah diseleksi, tetap ada seleksi alam.

Namanya juga Paduan Suara Mahasiswa yang membawa nama kampus, rekrutmen jadi nggak sembarangan ketimbang koor-koor biasa yang bahkan–kayak yang pernah saya lakukan–nyaut orang lewat yang penting rame. Anak-anak yang mau ikut Paduan Suara Mahasiswa harus dihadapkan pada persaingan ketat. Biasanya anak-anak semacam ini sudah ikutan paduan suara sejak dari TK, SD, SMP, atau SMA. Atau kalau ada yang nggak ikut sama sekali, lalu daftar jadi PSM ada juga kok. Saya. Padahal saat daftar saya itu nggak bisa membaca not. Membaca saja sulit, bagaimana mungkin diterima?

Selengkapnya!

Kisah Klasik Bersama Lion Air

Hari-hari ini ramai sekali soal Lion Air. Sebuah maskapai yang begitu super power. Kenapa super power? Bahkan Emirsyah Satar sekalipun tidak pernah menandatangani perjanjian jual beli di depan Francois Hollande dan Barrack Obama. Bos Lion Air? Pernah. Bahkan saking super power-nya, maskapai yang sudah amat sangat dikenal dengan delay-nya–sampai orang YLKI bilang di tivi perihal jargon Late Is Our Nature–ini tetap laku, tetap laris, tetap digemari.

IMG_3947

Kenapa saya bilang begitu? Karena saya adalah pengguna setia maskapai lokal ini. Ibarat orang pacaran, saya ini sudah setia minta ampun. Disakiti, diselingkuhi, dipermalukan, tapi tetap balik-balik juga. Yup, sampai tulisan ini ditulis, saya sudah naik Lion Air sebanyak 44 kali dari total 92 penerbangan yang telah saya jalani. Nyaris 50% kan? Dari 44 kali penerbangan itu, aneka problematika khas Lion Air tentu sudah saya alami.

Pertama kali saya naik Lion Air adalah Desember 2006, dilanjutkan Januari 2007. Sampai penerbangan keempat di tahun 2008, masih selamat dari cerita orang soal Lion Air. Demikian seterusnya sampai penerbangan ke-16 di tahun 2010 pun saya masih bebas dari cerita delay dan aneka bunyi-bunyi nggak enak tentang Lion Air. Saya baru kena di Mei 2010, delay nyaris 2 jam saat hendak ke Jogja dari Jakarta. Menjadi cukup krusial karena waktu itu mau ketemu pacar LDR yang sudah 9 bulan nggak ketemu. Cieh.

Continue Reading!

My Awesome Boss

Saya adalah orang yang tidak pernah setuju pada novel “My Stupid Boss”, makanya saya tidak pernah membeli buku kondang itu, pun tidak mengirim naskah ke salah satu edisinya yang membuka peluang kontribusi dari pembaca. Ini sikap saja, setiap orang boleh berbispak, eh, bersikap berbeda. So, no offence buat penggemar MSB ya.

20606044-cartoon-boss-man-set-angry

Karena saya baru sadar bahwa posting bulan ini baru sebiji, kebetulan pula habis ber-WA-ria dengan seorang kawan berlatar belakang sama, eks company besar, tetiba saya ingat bos-bos yang pernah saya ladeni. Dalam karier saya yang hampir 5 tahun, tidak banyak memang jumlah bos yang pernah saya rasakan kepemimpinannya. Hanya 3, dan itu lelaki semua. Tapi, entah kenapa, saya memang selalu dianugerahi bos unik. Bukan bos yang lempeng saja. Menjadi unik, karena karier saya pada akhirnya jadi lebih berwarna. Berikut saya mencoba mengulas ketiga eks bos saya itu, namun dengan inisial saja ya. Yang pernah sekantor sama saya pasti langsung paham.

Continue Reading!

Tulisan ariesadhar.com di Laman Pertama Google

Tulisan ini sekalian promosi buat siapapun yang ingin bekerjasama dengan saya perihal blog. Hehe. Soalnya, kemaren saya iseng mengetik beberapa kata kunci dan agak kaget juga mengetahui bahwa beberapa tulisan yang ada di blog ini nangkring di laman pertama pencarian via Mbah Google. Tidak selalu nomor 1, sih, tapi ada deh di halaman 1 Google. Apakah itu pertanda saya sudah mulai bisa SEO? Ah, saya mah nggak mikir. Blog ini kan buat suka-suka-hore-hore, kalau ada pendapatan itu bonus.

Tulisan yang greng (mengutip bahasa dari seorang petinggi yang kelakuannya tidak bisa diprediksi) di blog ini umumnya adalah tentang fakta-fakta. Itu tentunya sejak saya menulis 77 Fakta Unik Mahasiswa Sanata Dharma. Maka jelaslah ada beberapa kata kunci yang terkait fakta-fakta itu yang nangkring di laman pertama Google, seperti:

Fakta Sadhar

Itu si nomor 2 sebenarnya tulisan saya yang dicopas orang (#akurapopo). Terus yang nomor 3, itu turunan dari si nomor 1, lumayan dong, menginspirasi sesama.

Continue Reading!

Selamat Ulang Tahun, Mamak!

Kalah set sama si Cici yang sudah duluan ngepost yang semacam ini. Nggak apa-apa. Toh ya ini soal Mamak yang sama. Kebetulan Mamak saya dan Mamak Cici sama. Kan dia adek saya, gimana, sih? Posting ini juga perlu karena tahun 2013 saya pernah menulis posting ucapan yang sama kepada Bapak. Salah-salah saya dikutuk jadi Malin Kundang. Ampun.

Hari ini, Mamak saya genap berusia 52 tahun. Sebuah usia yang masih so-so, dalam kategori menimang cucu. Sebagai wanita karier yang beranak di usia 24 tahun, kiranya umur segini masih segar. Ya kan, Mak? Jadi cucunya kapan-kapan saja kan? *uhuk*

foto1

Sebenarnya, saya paling sering ribut sama Mamak saya nan asli Batak ini. Tidak seperti Bapak saya nan bijak tiada tara, kalau sama Mamak, saya bisa tinggi-tinggian nada. Kadang kalau pakai telepon, berasa ingin membanting handphone kalau nggak sadar bahwa harga handphone-nya melebihi gaji saya sebulan. Cuma, saya yakin ini dinamika keluarga belaka. Anak yang ribut dengan orangtuanya kiranya lebih mending daripada anak yang menuntut Ibu-nya di pengadilan. Kadang ributnya nggak penting. Ingat sekali ketika tahun 2004 saya menangis di Bandara Tabing. Tangisan yang kalau dipikir sekarang adalah kurang krusial. Saya menangis karena menurut saya cukup ndeso untuk makan dengan bekal yang dibawa jauh-jauh dari Bukittinggi, di Bandara Tabing. Kalau dipikir-pikir lagi, itu kan tanda sayang? Begitulah.

Continue Reading!