All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Macam-Macam HTS

Semakin labil anak muda masa kini, semakin banyak istilah bermunculan. Salah satunya adalah HTS. Ini tentu saja bukan Heka Teki Silang atau Henyakit Tenular Seksual *garing* tapi Hubungan Tanpa Status. Seorang teman pernah menyebutnya sebagai intimate friend. Ya, teman yang lebih intim.

Parameternya?

Tentu intensitas komunikasi. Logisnya, dua orang berlawanan jenis akan berkomunikasi sepanjang hari jika dia (1) punya hubungan keluarga, (2) PDKT pada level hampir diterima, (3) lagi janjian di mall dan nggak ketemu-ketemu, saking gede-nya mall tempat janjian, dan (4) berteman.

Ehm, berteman.

Jadi mari kita bahas jenis-jenis HTS ini.

Mantan yang masih saling cinta

Ada kalanya dua insan saling mencintai tapi terpaksa meluputkan komitmen yang sudah ada karena faktor eksternal. Misalnya perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan. Hal ini pedih banget. Ya, namanya juga masih cinta, masih perhatian, masih curhat kalau sakit, masih nanya sudah makan apa belum. Ehm, nanya siapa tuh? Pacar bukan, mantan iya.

Satu berharap, satu belum dulu

Nah, misal si cewek yang habis putus karena perbedaan tadi. Begitu lepas jadi jomblo, datanglah seorang cowok mendekati, menawarkan kedekatan, keintiman, ciee.. ciee…, dan lainnya. Hasilnya? Ya, komunikasi tiap hari lancar. SMS, telepon, BBM, Whatsapp lanjut terus. Tapi si cowok pasti menemukan tembok besar ketika mau nembak. Kenapa? Ya, si cewek jelas menerima rekan curhat, teman, tapi belum berkehendak lebih. Si cowok menunggu waktu yang tepat, dan terbentuklah HTS.

Sama-sama malas berkomitmen

Hal yang parah dari status ‘pacaran’ adalah komitmen. Ada pergaulan yang harus dibatasi, baik di linimasa maupun di dunia nyata, semata-mata menghormati komitmen. Buat saya sih ini bisa didiskusikan. Tapi ada saja kalanya dua orang saling suka, tapi tidak hendak terkendala komitmen, cemburu, dan lainnya. Hingga kemudian memilih dekat, tapi tidak dalam naungan komitmen.

Sudah punya pacar

Well, bagaimanapun ada yang begini. Kadang nih, cewek butuh teman cowok untuk curhat tentang masalah cowok. Kenapa? Karena perkara perspektif. Nah, namanya juga COWOK mennn.. dekat sama cewek (apalagi kalo lagi LDR) pasti ada harapan untuk mengisi ruang yang kosong disana. Ini nggak selingkuh kok, karena nggak ada komitmen diantara mereka berdua. Kan cuma teman. Teman tapi kok ngingetin makan, teman macam apa itu?

Temen Kos

Di era kos campur merajalela, ada aja yang namanya hubungan dekat karena teman kos. Ya, secara, kadang perlu pinjem gunting kuku, nebeng nonton, tukar-tukaran DVD terbaru, sampai nonton bareng di bioskop. Kadang nih, ya sedekat itu saja, jadian kagak. Padahal tinggal serumah. Eleuhh..

Teman Sejenis

Namanya cinta kadang nggak mandang jenis kelamin. Dan di era yang masih sok menabukan ‘perbedaan dari kelogisan’ tentunya persoalan ‘sejenis’ ini belum hendak dikomitmenkan. Apalagi dipublish ke social media (meskipun Facebook sudah memfasilitasinya). Jadinya? Ya, seperti saya melihat dua pria belai2an di TransJogja. *no comment*

Yah, sekian saja. Semoga tidak membantu. Sekian dan selamat sampai tujuan.

Menjelang Lomba

Bahwa saya mungkin nekat ketika mengiyakan ajakan kawan2 lama saya di CF untuk ikut lomba Choir. Ya, nekat.

Pertama, karena kebanyakan mereka berbasis di Tangerang dan sebagian lain Jakarta. Tapi begitu ada 1 orang Bekasi dan 1 orang Bogor ikutan, saya lalu berbisik, “Mosok sih aku nggak ikut?”

Kedua, dengan personel yang ting jlentreng di Jabodetabek, tentu intensitas latihannya nggak sering, dan harus pula berkualitas. Well, soal kualitas, tentu saya percaya kualitas teman-teman saya yang digembleng dengan batako di CF dulu. Hahaha..

Pada akhirnya saya setujui, dan saya sukses bolos beberapa latihan. Saya ikut 1 kali latihan di Taman Suropati, 1 kali di Gereja Theresia (Sarinah), dan 1 kali di Sekolah Stella Maris Gading Serpong. See? Hanya 3 kali! Kalau mau membandingkan dengan yang saya alami ketika ikut KPS Unpar IV tentu jauhhhh banget. Tapi, ya begitulah adanya.

Itu saja, saya sudah gila-gilaan. Ya, perjalanannya nggak semudah itu. Cikarang ke tempat-tempat itu bukan pula mudah. Ada cerita saya nunggu K67 di Blok M sampai 1,5 jam. Ada kisah saya menyaksikan hujan di dalam Agra Mas untuk perjalan Tangerang-Cikarang. Ada pula cerita dikasih tarif ojek yang alamakjang.

Dan lusa lombanya.

Dan pas pula, sudah 2 hari ini saya cumleng nggak karuan. Asli, langsung teringat kejadian lima tahun yang lalu.

2007.

Saya masih jadi panitia Titrasi dan sukses jatuh sakit di Sinolewah. Lalu? Ya, saya tetap berangkat menuju Bandung untuk lomba. Waktunya pas banget. Jadi pas lomba saya hanya perlu OBH untuk ekspektoran (sisa-sisa batuk).

Lha ini?

Entahlah. Memang sedang musimnya, karena seminggu ini saya sudah hujan-hujanan beberapa kali. Nanti juga sembuh.

Sebagai apoteker, saya sudah mendapat banyak pelajaran tentang sakit. Satu hal, sakit selalu ada penyebabnya. Sakit juga selalu memberikan dampak pada tubuh manusia. Dan tidak semua sakit bisa disembuhkan. Sakit bagi saya adalah keadaan tidak setimbang yang terjadi pada tubuh.

Misal, ketika sekarang, common cold menyerang saya. Ya ini karena si virus itu masih hidup. Nanti juga mati (kan self limiting). Sakit menjadi terasa benar karena kemudian saya HARUS kerja dan saya menjelang lomba.

Ya, semoga saya bisa. Ini lomba pertama sejak terakhir kali Desember 2007, alias sudah 5 tahun berlalu. Ini juga pertama tampil (lagi) sejak Maret 2011. Nyaris 2 tahun silam.

Sesungguhnya saya rindu menjadi berkualitas.
Semoga bisa 🙂

“Aku Ingin Keterima Farmasi USD”

Salah satu keseharian saya dengan si lappy adalah mengecek dashboard blog ini. Lalu melihat berapa kali blog ini dilihat dalam sehari, posting mana saja yang dilihat, dan sesekali melihat search engine terms yang digunakan orang di Google, Yahoo, Bing, atau apapun hingga kemudian masuk atau (mungkin) kesasar ke blog saya ini.

Dan hari ini saya melihat sebuah search engine terms yang unik.

Beneran nih?
Beneran nih?

Ya, sebuah search engine terms berbunyi “aku pengen ketrima farmasi usd”.

Sebegitu dahsyatnyakah almamater saya itu sehingga kemudian sampai ada orang yang memasukkan terminologi itu ke search engine?

Waktu saya masuk kuliah tahun 2004, saya mungkin kurang kontemplasi. Saya hanya merasa agak terjebak oleh nama dan kemudian atas dasar nama itu, saya lalu memilih fakultas yang termahal karena biasanya termahal itu terbaik. Ya, so simple. Dan pada akhirnya saya masuk, berkuliah di tempat yang kemudian ditulis di search engine itu.

2004 itu 8 tahun yang lalu. Dan selama 8 tahun tentu banyak yang berubah dan berkembang. Kebetulan, saya ikut serta di beberapa kesempatan pertumbuhkembangan almamater saya itu. Mulai dari akreditasi (2005) ketika saya diwawancara asesor dengan pertanyaan pertama “kenapa kamu suka Inter Milan?” dan percakapan kedua “kemarin abis menang lho lawan Roma (bukan Irama)”. Lalu juga ikutan beberapa rapat-rapat persiapan program hibah. Dan ikut juga dalam assessment hibah. Ya meskipun saya lulus dengan IP yang teramat sangat pas-pasan *hiks* tapi saya menikmatinya.

Dan tentunya ikut bangga, sampai segitunya ada yang desperate menulis search engine terms seperti judul tulisan ini. Hehehe..

Ya sudah, begitu saja kok. 🙂

Siapa Itu Nil Maizar?

Hari-hari gini banyak tuh yang apriori melihat sosok yang SELALU berdiri di tepi lapangan kala tim nasional Indonesia bermain. Ya, tentu saja. Setelah melihat deretan bule dari tahun ke tahun, termasuk bule yang hobinya NULIS (tebak siapa!), kini ada orang lokal yang melatih tim nasional Indonesia.

Kening pasti berkerut. Secara orang ini kurus, tidak seperti Bung Bendol. Orang ini berkumis, tidak klimis seperti Coach RD. Lalu siapa orang ini?

Sosok itu adalah NIL MAIZAR.

sumber: yiela.com

Ya, kalau sekarang banyak yang heran dengan nama ini, saya sih sudah sempat terheran-heran dengan nama yang sama pada tahun 2010 silam. Waktu itu, tahun 2009, tim Semen Padang sedang berbenah. Didatangkanlah pemain-pemain hebat dan pelatih terkenal, Arcan Iurie.

Hasilnya? Semen Padang kembali ke kasta utama Liga Indonesia. Saya kembali menyimak sepak terjang tim favorit saya ini. *ehm, aslinya sih PSKB Bukittinggi, tapi berhubung nggak ada gaungnya, ya sudah geser ke ibukota saja*

Lah kok pelatihnya bukan Arcan Iurie lagi?

Yak, manajemen Semen Padang dengan berani menunjuk Nil Maizar menjadi pelatih, dan hasilnya? Tidak ada yang bisa mencoreng rekor SP di Agus Salim. Bahkan kalau tidak karena beberapa hasil tandang yang buruk, SP sebenarnya bisa juara. You know lah Liga Indonesia. Hehehe..

Permainan SP sebenarnya standar, bahkan bisa ditebak. Ya, SP waktu itu, di musim yang itu mengandalkan formasi 4-4-2. Pergantian pemainnya sudah sangat jelas. Striker Suheri Daud hampir pasti masuk, lalu Elie Aiboy hampir pasti diganti. Edward Wilson nggak akan tergantikan. Ya, semacam itulah.

SP kemudian join ke IPL dalam kekisruhan sepakbola kita. Dan persis pasca Indonesia dibabat 10-0 sama Bahrain (bisa lebih karena ada 2 penalti yang ditepis), Aji Santoso mundur dan datanglah Nil Maizar ke tim nasional.

Hal simpel dan sederhana, siapa sih pelatih yang mau ngelatih tim nasional yang tidak utuh, yang lagi kisruh? Dia mempertaruhkan namanya sendiri untuk prestasi yang buruk. Tapi Nil Maizar, yang lahir 2 Januari 1970, ini memilih mendengarkan panggilan tim nasional alih-alih menolak. Putra Minang asli Payakumbuh ini positif memegang tim nasional Indonesia.

Kalau dulu suka baca Singgalang dan Haluan, pasti tahu dengan nama Nil. Ya, selepas jadi skuad PSSI Garuda II di awal 1990-an, Nil Maizar bergabung ke Semen Padang (1992-1997) dan kemudian pindah ke klub tetangga (1997-1999). Ini jaman-jaman saya baru bisa baca koran, dan kebetulan Haluan itu hampir pasti ada di meja Bapak. Hehehe..

Selepas jadi pemain, Nil Maizar bergabung di tim kepelatihan Semen Padang sebelum kemudian mencuat menggantikan Arcan Iurie, sesuai cerita di atas.

Yang unik ternyata pelatih ini sangat filosofis sekali. Coba lihat kutipan ini:

Salah satu yang paling favorit bagi pelatih yang punya koleksi ratusan buku ini adalah kisah heroik Jabal Al-Tarik saat menaklukan Andalusia. Saat mendarat di pantai  Andalusia, Jabal Al-Tarik memerintahkan serdadunya untuk membakar kapal-kapal mereka, sehingga tidak ada pilihan lain bagi serdadunya, selain maju bertempur dan memenangkan peperangan.

“Inti yang ingin saya berikan dari kisah itu kepada pemain, kalau kita sudah di lapangan tak ada lagi hal lain yang dipikirkan, kecuali fokus pada pertandingan dan berjuang keras memenangkan pertandingan,” katanya.

Lalu juga kutipan ini:

“Saya sadar itu (melatih timnas) adalah sebuah risiko. Banyak yang bilang, ‘Ngapain saya ke timnas? Lebih baik tetap di Semen Padang. Apalagi Semen Padang sedang onfire. Tapi, saya selalu bilang, saya melatih timnas dengan sebuah kejujuran. Saya juga mencoba menapak tangga yang lebih tinggi,” beber Nil.

Saya sebagai fans, sebenarnya menyayangkan, karena kemudian SP agak gamang meski kembali di bawah asuhan mentor-nya Nil, Suhatman Imam. Untung akhirnya tetap juara 🙂

Pernyataan ini juga menarik:

“Jangan pernah meremehkan tim ini. Ingat salah satu kunci kehidupan ini. Jangan pernah menganggap remeh suatu hal yang tidak Anda ketahui. Percayalah, suatu saat orang akan lebih dari yang Anda bayangkan. Kalau Anda menzalimi orang, Anda akan mendapatkan hal yang sama,” saran Nil.

Sungguh sebuah profil yang dalem, maklum, Capricorn. Hahaha..

Tapi, melihat tingkah Nil Maizar dari dulu selalu unik. Satu hal, dia hampir pasti pakai kemeja lengan panjang. Lalu aktif bergerak mengarahkan pemain, dan itu terjadi sepanjang pertandingan. Dan yang paling asyik kelihatan ketika lawan Singapura kemarin, dia tetap ada di tepi lapangan. Ikut berhujan-hujan ria. Asli, kalau begini saya jadi ingat pelatih timnas yang hobinya NULIS. *sensi amat yak*

Ya, sungguhpun Nil Maizar mungkin bukan pilihan terbaik dari sekian pelatih TOP di Indonesia, tapi dia membuktikan kalau MAU berada di kondisi semacam ini. Yang bahkan–maaf–coach RD pun mundur karena alasan pemilihan pemain.

Jangan salah, Nil Maizar mungkin memegang rekor buruk yakni GAGAL MENANG lawan Laos. Tapi ingat, Thailand pun di 2010 juga ditahan imbang Laos. Dan ingat lagi, sederet pelatih sejak 1998 tidak ada yang bisa membawa Indonesia mengalahkan Singapura. Lihat apa yang dilakukan Nil dan skuadnya semalam? 1-0 untuk Indonesia 🙂

Lepaskan kebencian, semua demi satu. GARUDA!

*meskipun saya yakin, kalah dan menang selalu akan jadi kontroversi nggak mutu di forum, di dunia maya, hingga di televisi*

Ah, sudahlah..

Selamat berjuang, Uda!

Tipe-Tipe Perubahan Status Teman

Hari gini, umur udah mau 26, nggak punya pacar pulak. Let’s say ini ngenes. OKE!!!! *asemmm*

Nah, ternyata hal semacam ini banyak terjadi. Ya, pacaran luamaaaaaaa dan berujung bukan ke pernikahan tapi perpisahan. Ya, nikah sama putus itu beda lho. Termasuk ketika ditambahi imbuhan per-an. Dan biasanya, yang macam ini, nggak semudah itu sosialisasi kayak anak-anak labil masa kini. Modelnya? Begini kira-kira.

Perubahan Aktivitas

Biasanya jam 8 malam masuk kamar lalu asyik teleponan atau biasanya malam minggu keluar dengan pacar, eh sekarang jam 8 malam malah nyangkruk di depan tivi atau pas malam minggu juga ada di depan tivi. Lalu ketika ditanya, kok nggak keluar, dijawab sekenanya, “nggak aja”. Lalu juga biasanya asyik sama handphone, sekarang asyik dengan kalkulator. Lalu headset yang biasanya terkapar di dekat tempat tidur kini disimpan di kamar tetangga. Asli, ini tanda-tanda teman punya status baru: JOMBLO.

Misteri ini akan bertahan 2-3 minggu sebelum kemudian dibuka perlahan ke teman-teman.

Perubahan Raut Muka

Biasanya mukanya cerah ceria macam kos-kosan di Paingan *jalan kanigoro*, eh sekarang raut mukanya banyak diam merengut berlipat bak perut penuh lemak. Ya, semacam ini sudah pertanda yang sederhana. Sebagaimananyapun seseorang menyimpan masalah pasti ada pengaruh dengan penampakan di muka umum.

Perkecualian untuk yang mukanya sudah rata-rata bawah *kayak saya*

Status di FB Menghilang

Ada opsi untuk menyembunyikan status relationship di FB. Nah, kadang ada yang sudah membuat dengan MANTAP “engaged with ANU” di FB dan tentunya dikomen panjang lebar sama teman-teman FB. Begitu ada status baru bernama jomblo, itu status baru disembunyikan dulu. Sesudah beberapa lama disembunyikan baru deh status itu diganti ke single. Dalam posisi tersembunyi, mau diganti apapun yang tetap tidak mengundang komentar dari khalayak ramai.

Pengecualian untuk yang pengen jadi artis sejenak untuk menjawab pertanyaan seperti ini “Ciyus?” atau “KENAPA?? *tanda tanya banyak*” atau “Ah, paling ntar balik lagi”.

Mulai Sering Buka Social Media

Sesudah perubahan status ini, maka tahap berikutnya adalah MOVE ON! Untuk itu diperlukan sarana untuk move yaitu target berikutnya. Nah, salah satu cara modern masa kini adalah dengan buka-buka FB, lalu main add yang profpic-nya cakep-cakep, dan tiba-tiba temannya bertambah banyak. Untuk yang emang online rajin kayak saya tentu nggak masuk kategori ini. HAHAHAHAHAHA… *ngeles*

Yah begitulah…

*tulisan ini juga semata-mata gojek kere.. jangan dianggap serius.. hehehehe..

 

Guna “Teman” Dalam LDR

LDR alias PJJ alias hubungan jarak jauh merupakan salah satu romansa percintaan yang asoy geboy. Yah, asik-asik gimana gitu. Dalam hal kangen-kangenan bakal asyik karena kangennya ditumpuk, lalu dicurahkan pada beberapa hari bersama. Nah, masalahnya, manusia itu hidup 24 jam. Dan dalam sebuah hubungan, ada aja dinamika dalam 24 jam hidup itu. Salah satu yang jamak ada adalah “teman”. Hmmm, dalam terkadang “teman” dari si pacar itu berasal dari jenis kelamin yang sama dengan si pacar. Berikut beberapa kegunaan “teman” dalam hubungan LDR.

Handphone Bebas Air Mata

Kadang kan cewek itu ada dapat masalah yang berat. Dan curhat ke pacar adalah solusi umum. Tapi namanya PJJ, curhatnya paling ya via telepon genggam entah BBM, whatsapp, SMS, telepon, atau Call Me. Kadang sambil curhat itu sambil nangis. Tahu sendiri namanya air mata itu berasal dari kelenjar yang ada di dalam tubuh, selain air juga terkandung bahan lain yang bisa mengotori handphone.

Solusinya? Datanglah “teman” menawarkan bahu dan pelukannya untuk si cewek curhat, plus tangan untuk menghapus air mata itu. Asikkkk.. Dan si cowok? Paling mentok hanya bisa bilang “Sabar ya, sayang…”

*pletakkkk*

Antar Jemput Gratis

Ini juga. Secara si cowok ada jauh banget disana, sementara si cewek tentu kadang butuh orang untuk menemani, misalnya servis laptop atau jenis yang lain yang butuh advice dan bantuan dari golongan cowok. Si cowok paling mentok hanya bisa googling dan kasih beberapa masukan.

Sementara si teman? Dengan senang hati menawarkan diri untuk mengantarkan, menunggui, dan mengantar pulang kembali si cewek ke tempat kediaman.

Si Cowok? Paling cuma bisa nanya “Laptopnya udah beres kan?”

Ada Di Kala Sakit

Kali aja ada cewek yang menderita vertigo macam saya, kalau sudah parah, jangan harap bisa nyetir kendaraan sendiri untuk berobat. Tentunya butuh orang yang bisa menemani, mengantarkan dan menunggui, serta merawat si cewek kala sakit. Cowok yang jauh disana hanya akan bisa bertanya, “masih sakit?” atau “udah minum obat?”

Sementara si “teman”? Dengan senang hati akan menawarkan diri, “mau dibawain apa besok?” atau “kalau periksa, ntar aku temenin deh”. Hmmm, jauh lebih dekat dan intim kan?

Pada akhirnya, si cowok hanya bisa bertanya, “udah jadi periksa? sama siapa?” Dan itu akan menjadi sebuah pertanyaan yang (mungkin) sulit untuk dijawab.

Pemberi Faktor Keamanan

Misal si cewek digodain preman kampung atau preman pasar, apalah daya yang bisa dilakukan oleh si cowok yang nun jauh di sana? Bahkan Edward Cullen saja kudu naik Volvo untuk bisa menyelamatkan Bella Swan dari preman. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang jaraknya dekat.

Dan datanglah “teman” dengan pengawalan sepanjang waktu sehingga kemudian memberi rasa aman.

Si cowok? Paling mentok nyuruh si cewek untuk hati-hati, atau separah-parahnya minta si cewek untuk nabok si preman. Dalam hal ini tidak ada daya yang bisa diperbuat si cowok, dan percayalah itu salah satu penderitaan terbesar cowok, ketika tidak bisa ada di samping orang terkasihnya saat sulit.

Solusi Yang Paling Dekat

Namanya juga LDR, ada aja kan masalahnya. Kadang itu bikin bete. Nah, biasanya biar nggak bete, perlu katarsis, cerita ke orang lain.

Untuk itu datanglah “teman” yang dengan senang hati bertanya, “kamu ada masalah dengan cowokmu?” Dan akan disambut dengan sukacita dengan berbagai cerita yang didengarkan dengan saksama oleh “teman”.

Dan mungkin pada ujungnya memberi solusi, “udah, putus ajalah”. :p

Nah, hubungan itu komitmen. Jarak adalah pembunuh yang mampu menggugurkan komitmen yang telah dibangun bersama. Apalagi jika kemudian jarak itu diberi tambahan “teman”. Jadi, apapun yang terjadi, jalinlah hubungan pertemanan dengan baik, pun jalinan kasih. Percayalah, diantara sekian “teman” ada yang dengan setia menanti celah kosong di hati cewek-cewek yang LDR.

Fiuhhh.. Untung saya nggak tergolong “teman”… Hahahaha…

*Tulisan ini hanya gojek kere semata, silahkan diambil yang baik-baik saja. Dan bagi yang LDR, percayalah ini hanyalah langkah awal untuk semua persatuan yang tidak terpisahkan, kecuali oleh maut 🙂

Menurutmu?

Menurutmu..
Apakah yang aku lakukan kalau kamu mengabariku sedang apa kamu disana?
Pastinya, aku akan tersenyum lebar mengetahui kamu masih mengingatku.

Menurutmu..
Apakah yang aku rasa ketika kamu marah kepadaku?
Terbersit sedikit riang, karena marah itu menandakan kedekatan hati kita
Meski aku juga kelimpungan untuk meredam amarahmu.

Menurutmu..
Apakah yang aku lakukan jika kamu tidak membalas pesanku?
Aku menanti dengan sabar, tentunya sambil berkali-kali memandang layar telepon, berharap ada balasan darimu.

Menurutmu..
Apa yang ada di benakku saat kamu mengeluh sakit?
Sesungguhnya, aku sangat ingin berlari kesana dan ada di sampingmu, mungkin itu bisa meredakan sakitmu.

Menurutmu..
Apa yang kupikirkan ketika mendengarmu sedang menangis?
Aku hanya ingin berada di sisimu, membenamkan tangismu dalam pelukku dan memastikan semuanya akan baik-baik saja.

Menurutmu..
Apakah aku mencintaimu?

Kalau aku boleh memberi jawab
Iya, aku mencintaimu.

* * *

Apik Iki! (Dari Gado Gado Rujak)

Iseng blogwalking, ketemu blog gadogadorujak.blogspot.com

Isine apik.. Jadi saya coba copas ke blog sini ya..

Versi Cowok

Kami Pria tau, kalian para wanita sungguh sebenarnya menghargai usaha yang kami lakukan, dan yang kalian harus tau, kami selalu bersungguh-sungguh untuk orang yang kami sayangi.! hanya saja kami butuh kalian tersenyum ketika kami merasa lelah, hampir putus asa, dan sungguh kami akan kembali mengerjakan itu untuk kalian. semua! hanya karena kalian..

dan ya! kami pun tau. bahwa ketika kalian hanya diam dan memperlihatkan bahwa kalian bosan, kalian ingin kami tetap sabar. tapi kami tidak mau terlihat tidak bisa mengerti kalian dengan mengajukan pertanyaan “jadi maunya gimana.?”. kami akan diam sesaat, dan berpikir apa yang bisa membuat senyum kalian kembali lagi.? karena senyum kalian yang menghidupkan hidup kami, sungguh.! semua hanya karena kalian..

Kami sebenarnya pun tau. bahwa kalian senang jika kami menulis kata-kata romantis seperti di film2 Korea yang kalian tonton. kalian berangan-angan bahwa hal yang terjadi di film itu terjadi dalam kehidupan kalian? (*ya kan?). tapi justru karena kalian sering mengangan-angankan hal itu, kami tidak melakukan itu untuk kalian, kami berpikir keras, memutar otak menyiapkan kejutan yang bahkan tidak terpikir di angan2 kalian, untuk melihat kalian tersenyum, sungguh.! semua hanya karena kalian..

Kami pun tau, kalian menerima kami di samping kalian bukan semata2 kami tampan. ketika kalian mengidolakan seseorang yang tampan maka kami akan memasang tampang tidak peduli, dan mencoba mengalihkan pembicaraan, bukan kami tidak peduli, sebenarnya kami cukup muak dengan cara kalian menyanjung lelaki yang bahkan mengenal kalian saja tidak, tapi kami harus menjadi pemimpin yang baik untuk kalian. dan menjadikan kami bersikap lebih bijaksana di depan kalian. Sungguh.! semua itu hanya karena kalian..

Kami cukup mengerti bahwa kalian menghargai setiap usaha yang kami lakukan untuk membantu kalian mengerjakan tugas kalian, ketika kalian mengatakan dalam kesulitan, sungguh kami akan berusaha sebisa kami untuk membantu kalian. dan ketika kami datang kerumah kalian dengan makanan, tanpa tugas yang kalian butuhkan, artinya kami tidak mendapatkan apa yang kalian cari dan yang ada dipikiran kami saat itu hanyalah bahwa usaha terakhir yang dapat kami lakukan hanya menemani kalian.! hingga tugas itu selesai, meyakinkan bahwa kalian tidak lupa untuk mengisi perut kalian, kami sungguh khawatir pada kesehatan kalian. Sungguh, semua itu hanya karena kalian..

Kami pun tau kalian menilai kami minus ketika tau kami merokok, dan ketika itu juga kami berusaha menghilangkan kebiasaan kami. ketika kami tidak berhasil, maka kami akan berusaha menguranginya. menghilangkan kebiasaan itu sedikit demi sedikit. namun ketika tidak berhasil juga maka kami tidak akan merokok di depan kalian. namun, ketika kalian trus menekan kami, maka dengan sangat terpaksa kami akan berbohong pada kalian, walaupun kami tau hal itu salah, namun itu kami lakukan hanya untuk membuat kalian nyaman di samping kami. sungguh, semua itu hanya karena kalian..

Kami tau, kalian kesal ketika kami mengacuhkan kalian hanya untuk bermain game bersama teman2 kami. tapi ketika itu, ketika ada sedikit waktu, kami mencari handphone kami dan menanyakan kabar kalian, karena kami ingin mengetahui kabar kalian. dan taukah kalian.? sebelum kami bermain game itu, kami membicarakan pasangan kami masing-masing, membanggakan bahwa kami memiliki pasangan terbaik di dunia! atau membicarakan masalah-masalah yang timbul pada hubungan kami, dan masing masing akan memberikan sarannya untuk menyelesaikan masalah kita, itu kami lakukan hanya karena kami ingin mendengarkan pendapat orang yang dekat dengan kami mengenai keputusan yang akan kami buat. kadang memang kami mematikan handphone kami, namun ketika kami mengetahui kalian menelpon atau membaca sms dari kalian, maka kami akan meletakkan game itu dan berlari ke pojok kamar menelepon kalian. tidakpeduli teman2 kami bersorak sorak menggoda kami, sungguh, semua itu hanya karena kalian..

Kami pun sadar, kami bukan bayi yang harus kalian ingatkan untuk sembahyang, atau makan. kadang kami akan bersikap tak peduli. namun ketika kami membaca sms kalian atau mendengarkan suara kalian ketika mengingatkan kami untuk makan, maka pada saat itu kami pasti tersenyum dan berterima kasih (walaupun tidak kami ucapkan), dan ketika kami membalas dengan kata-kata “iya, kamu juga ya..”, maka kami benar2 tulus mengatakannya.. sungguh, semua itu hanya karena kalian..

Ketika kami acuh pada kalian, maka pada saat yang sama kami sedang menyiapkan kejutan untuk kalian. dan ketika kami memberikan barang milik kami pada kalian waktu mengantarkan kalian hingga pintu dan pamit pada orang tua kalian, maka kalian harus tau bahwa barang itu adalah barang yang berharga untuk kami. (walaupun barang itu terlihat biasa untuk kalian) tolong tersenyumlah untuk kami, karena senyum itu yang menghidupkan hidup kami.! sungguh, semua itu hanya karena kalian..

Dan ketika kalian bersedih, lalu kami melakukan hal-hal konyol, melontarkan lelucon-lelucon yang mungkin tidak lucu. maka kami sungguh tidak bermaksud memperkeruh suasana, kami ingin melihat kalian kembali tersenyum. hanya itu. dan ketika kalian melihat kami dengan pandangan tidak suka, maka ketika itu kami sungguh merasa bersalah. jalan terakhir yang akan kami lakukan adalah meminta maaf. berharap itu dapat sedikit mengurangi beban kalian. sungguh, semua itu hanya karena kalian..

Sejujurnya kami tidak menyukai pujaan hati kami menangis. sungguh itu membuat kami bingung setengah mati.! maka tolong jangan salahkan kami, ketika kami meminta kalian berhenti menangis. namun kami pasti akan mendengarkan apa yang kalian ucapkan dalam tangis kalian, dan percayalah, kami akan tetap disamping kalian walaupun kalian menangis hingga tertidur di depan kami. maka, kami akan membawa kalian masuk kerumah dan pamit pulang pada ayah ibu kalian. dan tunggulah, maka kami akan menelepon kalian keesokan harinya untuk menanyakan kabar kalian. atau datang ke rumah membawakan coklat untuk melihat senyum kalian lagi. sungguh, itu hanya karena kalian..

Bagi kami, kalian tetap yang tercantik! ketika kalian bertanya mengenai berat badan kalian yang naik.? atau baju kalian yang mulai tidak cukup.? maka dalam hati kami tertawa. namun yang keluar dari mulut kami hanya senyuman. kami akan berkata tidak, bukan untuk membohongi kalian, tapi karena di mata kami kalian tetap paling indah!! karena kami sebenarnya tidak mencari malaikat yang tanpa cela, atau bidadari yang paling cantik sedunia, kami mempunyai peri kecil yang selalu ada di samping kami. ya! itu adalah kalian.. mengertilah, sungguh, itu hanya karena kalian..

Ketika kalian berkata baik2 saja, maka kami akan tersenyum dan berkata, “ok, kalo ada apa2 bilang ya”. karena kami tidak ingin memaksa kalian mengatakan sesuatu yang tidak ingin kalian katakan pada kami, dan tanpa kalian minta kami akan bertanya pada sahabat kalian apakah kalian benar2 baik2 saja.? jika sahabat kalian tidak mau menceritakannya maka kami tidak akan mencari tau lagi. karena kami berharap kalian cukup mempercayai kami untuk menceritakan semuanya.. bukan karena kami memaksa kalian, sungguh, itu semua hanya karena kalian..

Dan ketika kalian membutuhkan kami, yakinlah bahwa kami akan selalu ada untuk kalian. ketika kalian mengatakan “tidak usah” pun, kami akan selalu ada di samping kalian. karena kalian adalah orang yang kami sayangi, percayalah..!! sungguh, semua ini hanya karena kalian..

Jika kami sudah memilih kalian, maka yakinlah, kalian adalah peri kecil kami, setidaknya itu yang kami pikirkan saat itu..

Ketika kalian (mungkin tanpa kalian sadari) menyakiti hati kami dan meninggalkan kami, kami mungkin akan marah. tapi itu hanya sesaat, dan yang kalian harus tahu, ketika kami benar2 telah memilih kalian untuk menemani kami, maka walaupun hubungan itu berakhir, separuh ruangan hati kami sudah kalian tulis menjadi ruangan kalian, maka ketika kami mempunyai kekasih yang lain, maka mereka hanya akan mengisi ruang di sisi yang lain, datang, dan pergi pada sisi itu. ruangan kalian akan tetap kosong untuk kalian, ketika kalian kembali untuk kami..

Tapi tolong, jangan khianati kami dengan lelaki yang lain.! karena itu akan sangat menyakitkan untuk kami.! Dan maaf, kami mungkin akan meninggalkan kalian selamanya..

terima kasih untuk mengerti kami..

Lalu, ada juga yang Versi Cewek

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian para lelaki bukanlah tokoh romantis yang dapat melukis seperti Jack Dawson dalam Titanic, maka itu kami tidak pernah minta kalian melukis wajah kami dengan indah, paling tidak saat kami minta kalian menggambar wajah kami, gambarlah, meskipun hasil akhirnya akan seperti Jayko adik perempuan Giant dalam film Doraemon, tapi kami tahu, kalian berusaha..

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukan peramal seperti Dedi Corbuzier yang dapat menebak isi pikiran kami atau apa yang kami inginkan saat kami hanya terdiam dan memasang wajah bosan, tapi saat itu kami hanya ingin tau, sesabar apakah kalian menghadapi kami jika kami sedang sangat menyebalkan seperti itu, kami tidak minta kalian mampu menebak keinginan kami, setidaknya bersabarlah pada kami dengan terus bertanya “jadi sekarang maunya gimana.?”

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukanlah penyair sekaliber Kahlil Gibran atau yang mampu menceritakan kisah romantis seperti Shakespear, maka itu kami pun tidak meminta kalian mengirimi kami puisi cinta berisi kalimat angan-angan nan indah setiap hari atau setiap minggu, tapi setidaknya mengertilah bahwa setelah menonton film Korea yang amat romantis itu, kami sangat berandai-andai kekasih kami dapat melakukan yang sama, meskipun isi puisi tersebut tidak sebagus kahlil Gibran, kami akan sangat senang –sungguh- jika kalian mengirimkannya dengan tulus dan niat. (bahkan meskipun ujungnya terdapat “hehe, aneh ya.?”, kami akan benar-benar melayang)

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian tidaklah setampan Leonardo Dicaprio, tapi tolong mengertilah itu sama sekali bukan masalah bagi kami, saat kami memuja-muja pemuda seperti itu, itulah pujian dan pujaan, tapi hati kami sungguhnya telah terikat oleh kalian. Mungkin saat itu kami hanya ingin tau apa pendapat kalian jika kami jatuh cinta pada orang lain, semacam mengukur tingkat kecemburuan kalian..

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian tidaklah semenakjubkan John Nash atau sebrillian Isaac Newton, namun kami sebenarnya sangat menghargai bantuan kecil dari kalian meskipun hanya membantu mencarikan artikel dari internet, kami ingin menunjukkan pada kalian bahwa kalian lebih kami percayakan daripada Newton atau Galileo..

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian tidaklah segagah Achilles pada film Troy, maka itu kami tidak pernah minta kalian mengikuti program peng-six-pack-an tubuh atau kontes L-men. Namun dengan kalian berhenti dan tidak pernah merokok, kami sangat akan memilih kalian dari Achilles manapun. Menyuruh kalian berhenti merokok adalah untuk meyakinkan diri kami bahwa kalian lebih gagah dari Achilles (karena tentu kalian akan kalah beradu pedang dengan Achilles bukan.?)

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukan Pangeran dengan kuda putih yang akan melawan naga demi kami, karena kami pun bukan putri tidurnya, dan maka dari itu kami tidak pernah minta kalian melawan preman pasar yang pernah menggoda kami, tapi setidaknya, mengertilah tanpa kami harus minta, saat hujan lebat datang dan dirumah sedang mati lampu dan ayah ibu belum datang, kami hanya dapat mengandalkan kalian, maka itu temani kami walau hanya dengan sms dan telepon, karena menurut kami, berbincang dengan kalian adalah melegakan, maka itu jangan tradeoff (tukar) keadaan seperti itu dengan Game PS 2010 terbaru kalian itu (sangat mengesalkan.!)

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukanlah bayi yang harus diingatkan hal ini dan itu setiap waktunya, tapi mengertilah bahwa kami sangat merisaukan anda, kenapa kami mengingatkan kalian makan atau sembahyang, itu karena tepat saat itu, kami baru saja hendak makan atau sembahyang, maka itu saat kalian bertanya kembali atau mengingatkan kembali, kami akan jawab “iya, bentar lagi nih”..

Kami, para wanita tau kalian bukanlah Romi Rafael yang pandai menyulap saputangan menjadi bunga, maka itu kami tidak pernah meminta hal semacam itu, namun mengertilah bahwa melihat bunga rose di pinggiran jalan itu menggoda hati kami, bahkan meski kami tidak suka bunga, pemberian kalian akan menjadi hal yang kami sukai, karena kami sebenarnya hanya sangat ingin menyimpan kalian saat itu, setelah malam kalian antar kami pulang, namun kami tahu kita harus berpisah saat itu..

Kami, para wanita tau kalian bukanlah Mr. Bean yang dapat membuat kami tertawa terbahak saat sedang bosan, maka itu jangan coba-coba menjadi juru selamat untuk mencoba membuat kami tertawa saat itu, karena kami tau kalian tidak mampu sekocak Mr. Bean dan malah hanya akan memperkeruh suasana, yang kami inginkan saat itu hanyalah memastikan kalian ada disamping kami saat masa-masa sulit meski hanya dengan senyuman menenangkan..

Kami, para wanita juga tau kalian bukanlah pemuda seperti Edward Cullen yang akan segera datang dengan Volvo saat kami diganggu oleh preman jalanan, namun setidaknya, pastikan kami aman bersama kalian saat itu dengan tidak membawa kami pulang terlalu larut dan mengantarkan kami sampai depan pintu rumah dan bertemu ayah ibu, (jangan hanya sampai depan gang, hey.!)
Kami, para wanita tau kalian tidak akan bisa seperti ibu kami yang dapat menghentikan tangisan kami, namun tolong mengerti, saat kami menangis dihadapanmu, kami bukan sedang ingin dihentikan tangisannya, justru kami sangat ingin kalian dihadapan kami menampung berapa banyak air mata yang kami punya, atau sekedar melihat apa reaksi kalian melihat kami yang –menurut kami- akan terlihat jelek saat menangis..

Kami, para wanita tau sebenarnya, bahwa kalian tidak akan punya jawaban yang benar atas pertanyaan, “aku gendut ya.?”, kami sungguh tau, tapi saat itu kami hanya ingin tau, apa pendapat kalian tentang kami yang pagi tadi baru bercermin dan sedang merasa tidak secantik Kristen Stewart..

Kami tau, kalian adalah makhluk bodoh yang tidak peka dan terlalu lugu untuk percaya pada setiap hal yang kami katakan, tapi mengertilah bahwa saat kalian bertanya “baik-baik aja.?” dan kami jawab “iya, aku baik-baik aja” itu adalah bahasa kami untuk menyatakan keadaan kami yang sedang tidak baik namun kami masih menganggap kalian adalah malaikat penyelamat yang mampu mengatasi ketidak-baik-baikan kami saat itu tanpa kami beritau, (tentu mestinya kalian sadari jika kami memang benar sedang baik-baik saja kami akan menambahkan perkataan seperti “iya aku baik-baik aja, malah tadi aku di kampus ketemu dengan dosen yang itu lho….*bla.bla.bla”)

Iya, kami sepertinya tau apa yang kalian pikirkan tentang kami yang begitu merepotkan. Tapi begitulah kami, akan selalu merepotkan kalian. Hal ini bukan sesuatu yang kami banggakan, namun inilah bahasa kami untuk mempercayakan hati kami pada kalian, jika kalian bukanlah pemuda yang kami percayakan dan kami butuhkan, tentu saja yang kami repotkan dan persulitkan bukan kalian. Kami makhluk yang amat perasa dan gampang merasa “tidak enak”. Kami enggan merepotkan “orang lain”..

Jika kami merepotkan dan menyusahkan, berarti kami menganggap anda bukanlah orang lain..

Kami tidak senang bermain-main. Maka tolong jaga hati yang kami percayakan ini. Kami mungkin mudah berbesar hati atau “geer”, tapi sekali kami menaruh hati kami pada satu pemuda, butuh waktu yang lebih lama dari menemukan lampu bohlam untuk menghilangkannya (bukan melupakan)..

Kami akan sulit menerima hati baru setelah itu, karena kami harus membiasakan diri lagi. Padahal kami sudah terbiasa dengan anda, terbiasa melakukan semuanya dengan anda. Maka tolong, mengertilah. Karena kami, wanita sungguh sangat tau sebenarnya kalian, pemuda, dapat mengatasi semua tingkah kami yang merepotkan ini..

* * *

Ya begitulah.. Bahwa cowok dan cewek itu sebenar-benarnya beda. Dan justru itu perlu dipersatukan.. 🙂

*Dalam hal copas konten blog, ariesadhar selalu menyertakan link ke sumber asli. Blogger yang baik harus begitu ^_^

Opname: Sebuah Cerita

Hari itu hari KAMIS, saya dengan pede datang ke meja bos hendak minta cuti karena orang tua saya akan datang ke Jogja guna mengantar adik saya masuk SMA. Sebuah momen langka, kumpul keluarga, harus bisa dikejar. Maka saya lantas mengajukan cuti.

Di saat yang sama, load di kantor memang lagi tinggi. Sangat tinggi malah. Bukan load nya yang terutama, tapi sebuah tuntutan karena adanya perubahan menjadikan bos menganggap sebaiknya saya tetap di kantor.

Dan perpaduan dua paragraf di atas menghasilkan kesimpulan: saya nggak boleh cuti.

Saya lalu galau. Tapi hidup kan terus berjalan. Masalahnya, saya itu melankolis yang hobi galau. *halah*

Maka kemudian saya tetap ikut melihat anak kedua Pak Fiks yang baru lahir. Nggak ada masalah sesudah itu. Saya yang kelaparan juga lantas mengorder mie tek-tek yang kebetulan lewat di depan mess. Lagipula pikiran saya sudah di pertandingan sepakbola melawan Stripping, dimana dua pekan sebelumnya saya–untuk pertama kalinya–ada di bawah mistar dengan hasil clean sheet.

Tapi, ya itu, keluarga buat saya penting. Meski saya berusaha tenang, nyatanya itu masuk dalam pikiran. Dan entah dipadukan dengan mie tek-tek atau tidak, maka terjadilah rangkaian peristiwa absurd di JUMAT pagi.

Saya bangun. Semuanya beputar.

PUSING. PUSING sekali.

Saya lalu mencoba fokus pada 1 titik, dan gagal. Saya lalu memejamkan mata, dan semuanya masih terasa bergoyang. Semua berputar dan saya mulai tidak kuat. Saya mencoba seperti biasa, keluar, nonton tivi, mandi. Teman saya kebetulan lagi di mess, keluar kamar dan menyapa saya.

Saya diam, bukan sombong ya, tapi karena saya berusaha fokus pada televisi yang saya tonton. Dan percaya atau tidak, televisi itu lagi tampak berputar. Matek dah!

Dan akhirnya tubuh saya nggak kuat, sesuatu mendesak dari dalam perut, dan saya… muntah.

Om Markus yang melihat saya begitu akhirnya membawa informasi saya ke orang GA, dan tidak lama kemudian mobil GA sudah datang dan saya diantar ke Rumah Sakit Charitas. Believe or not, tidak ada GA yang seperhatian itu pada staf yang sedang sakit. Setahu saya, dibandingkan kantor-kantor lainnya.

Saya menahan muntah dalam perjalanan dan berhasil. Saya lalu akhirnya masuk ke UGD RS Charitas Palembang sebagai pasien, setelah sebelumnya hanya menemani teman yang bergantian menjadi pasien. Seorang dokter jaga menyuntikkan sesuatu yang saya duga sebagai anti-vomit karena rasa mual mau muntah saya hilang dengan segera.

Tapi, dunia ini masih berputar.

Sebuah keputusan dibuat, OPNAME. Dan saya akan opname, ditinggal seorang diri di UGD RS Charitas. MANTAPPP!!!

Saya akhirnya antri, dengan pemandangan yang nggak oke. Seorang bapak yang DM (terlihat dari kakinya) sedang menggigil, persis di ranjang sebelah saya. Ini saya sakit tapi saya yang kasihan loh. *apa coba*

Hingga kemudian, bos saya dan tim datang. Persis jam makan siang saya akhirnya mendapat kamar. Sebuah penantian yang tidak panjang. Untung saya sudah karyawan tetap sehingga punya kartu asuransi. Tapi yang level saya penuh, maka saya di-up dulu 1 sebelum menanti yang level saya kosong.

Saya cuma modal pakaian di badan dan sebuah HP kala itu. Dan masuk ruangan ya begitu. Dan seumur-umur, inilah opname pertama kali yang saya dapat ingat. Iya, dulu saya pernah opname, tapi jaman bayi. Mengingat saya adalah bayi labil dengan penyakit step. Terima kasih Tuhan sudah menyelamatkan nyawa saya dulu itu.

Ketika terbangun, seorang adik kelas dan seorang kakaknya teman, kebetulan karyawan sana, sudah nangkring di dekat ranjang saya. Huffttt.. Kok bisa-bisanya tahu ya? Hahaha..

Tak lama, Mas Sigit dan Jack datang membawa perbekalan saya. Entah bagaimana mereka bisa menemukan semuanya itu di kamar saya yang jelas-jelas berantakan. Tapi setidaknya saya punya cawet untuk beberapa hari ke depan.

Sore harinya, mengingat itu hari Jumat, harinya anak mess menggila malam hari, datanglah anak-anak mess, bergantian. Waktu itu Om Markus datang sama, ehm, ada deh.. hahahaha..

Akhirnya saya menghabiskan malam sendirian di kamar Elisabeth (kalau nggak salah) 14 itu. Ya, sendirian. Tidak ada yang perlu menunggui saya karena toh saya sadar, cuma PUSING.

Dan satu hal penting, saya memang tidak memberi tahu orang tua saya karena belum lama adik saya sakit DBD dan dengan secepat kilat Mamak saya sudah ada di Jogja. Saya nggak mau aja, tiba-tiba Mamak nongol di Palembang dan saya bikin repot orang tua yang punya tanggungan pekerjaan disana. Kalau adik saya mungkin perlu karena urusannya duit opname. Kalau saya toh saya ada asuransi dan duit gaji. Jadi masih bisa. Lagipula, si Boni bisa opname dengan sukses tanpa ditunggui, masak saya nggak?

Dan lima hari saya ada disana, dengan kunjungan silih berganti dari teman-teman. Serta kebaikan hati sesama sebatang kara di Palembang. Really thanks a lot for  Mas Sigit, Jack, dan Boni. Tentunya juga really thanks to Pak Bos yang bahkan datang membawakan sate kambing. *opo ora edan ki?*

Saya pulang dengan mengurus administrasi sendiri, ya benar-benar sendiri. Saya hanya minta tolong Jack menjemput karena saya takut pusing kalau naik angkot. Saya naik sendiri ke ruang pembayaran dengan sekali tersandung di tangga terakhir. Maklum, masih pusing.

Sampai di mess, saya menulis cerita di FB Notes. Waktu itu blog ini belum bangkit. Dan sejurus kemudian, saya bilang ke Mamak kalau saya baru saja pulang opname. Hehehe..

Yah, demikianlah. Secuil cerita kehidupan saya di salah satu kota rantau. Selalu ada cerita dalam kehidupan rantau. Dan percaya atau tidak, entah ada hubungannya atau tidak, cuti saya di-approved.

Jadi sebenarnya saya pusing itu karena mie tektek, karena nggak boleh cuti, atau karena kerjaan yang berat? Bahkan sampai sekarang saya bingung. Dan mengingat itu kali kedua dalam hidup saya seperti itu, maka resmilah saya menjadi penderita VERTIGO.

Astaga!

Masa Lalu

“Sssttt, Egi sekarang pacaran sama Alena lho.”

Dan sesi gosip dimulai. Di kantor yang mayoritas isinya cewek, selalu ada ruang dan waktu untuk bergosip.

“Tahu dari mana lu?” selidik Dina.

Tia, yang mencetuskan kalimat pertama tadi, segera menyambung, “Kemarin gue kan ke mejanya Egi. Pas dia lagi whatsapp sama Alena.”

“Kalau whatsapp, sama gue juga tuh.”

“Yahhh, sama lu nggak pakai emo-emo love-love gitu kan? Pokoknya gue yakin bener deh, Egi sama Alena. Sayang bener ya, padahal si Alena itu kan nakal. Serigala berbulu domba!”

“Kok bisa?” tanya Dina. Mukanya mendekat, diikuti oleh teman-teman lain yang berada di Pantry itu.

Maka Tia mulai bercerita, panjang dan lebar hingga panjang kali lebar. Segala sesuatu yang ia ketahui tentang masa lalu Alena. Sesuatu yang mudah untuk diceritakan karena Alena adalah orang yang pernah merebut kekasih Tia, jauh di masa lalu. Bahwa semestalah yang mempertemukan keduanya kembali di satu kantor. Sebuah kehendak yang kadang menjadi sebuah retorika. Bukan karena sudah jelas jawabannya, tapi karena memang tidak perlu dijawab.

“Kasihan ya temen gue,”bisik Dina. Ya, sejak sama-sama masuk ke kantor ini dalam 1 batch penerimaan, Dina dan Egi menjadi teman yang sangat akrab. Terlebih ketika rekan-rekan di batch mereka satu per satu resign dan hinggap di perusahaan lain. Dan percaya atau tidak, memang tinggal Dina dan Egi yang tersisa dari 20 orang yang pernah masuk sebagai Trainee, 3 tahun silam.

* * *

“Ciee, yang punya pacar nggak bilang-bilang,” goda Dina sambil menepuk bahu Egi yang sedang asyik dengan kotak dan angka di layar laptop.

“Apaan?”

“Halah, pura-pura bodoh ah. Katanya lu udah punya pacar baru bro?”

“Siapa bilang?”

“Ya tahu aja.”

“Lu percaya?”

Dina diam saja sambil berjalan ke kubikelnya, tapi sejenak kemudian ia mengangguk perlahan.

“Hahahahaha.. Din.. Din.. Yang ngawur dipercaya,” ujar Egi sambil tetap asyik menatap laptopnya. Tak lama, handphone-nya bergetar dan sebuah whatsapp muncul. Alena Puspita.

Dina melirik Egi yang beralih asyik ke handphone, lalu berkata, “Tuh kan, pacaran.”

Egi tersenyum simpul saja. Tidak bertindak lain.

* * *

Kedai kopi di sudut foodcourt ini selalu jadi tempat curhat Dina dan Egi setidaknya seminggu sekali sepulang kantor. Suasana yang hectic di kantor nyatanya bisa diredakan dengan minum segelas kopi atau teh. Dan kini, di hari Jumat, keduanya asyik dengan gelas dan handphone-nya masing-masing.

“Susah ya punya bos kayak sekarang ini,” ujar Egi.

“Kurang ajar bener lu, Gi.”

“Iya dong. Ya gimana ceritanya gue minta review kerjaan gue bener apa kagak, yang dikoreksi cuma typo-typo-nya doang. Padahal yang lebih penting kan action plan yang gue kasih. Kagak dikomen sama sekali.”

“Udah, sabar aja,” kata Dina, “Trus ngomong-ngomong gimana Alena?”

Egi sedikit tersedak mendengar Dina menyebut nama Alena.

“Kenapa emang?”

“Udah bro, kita temenan juga udah lama. Jujur aja, lu pacaran sama Alena kan?”

“Hmm, kalau iya kenapa, kalau nggak kenapa? Lagian kenapa bisa nama itu lu sebut sih. Perasaan dia kerjanya dimana, gue dimana, ketemu di kantor juga kagak.”

“Ya gue ngerti kalau Alena kerjanya di lantai 8, kita lantai 3. Ngerti banget gue mah. Tapi, gimana ya, gosip-gosip yang beredar sudah bilang begitu.”

“Buset, uda ada gosipnya juga?”

“Makanya sekali-sekali main ke pantry! Haha.. Kerja melulu sih.”

“Iya dong, pegawai teladan.”

Dina menunduk sedikit, perkataan Tia masih terngiang di benaknya dan sebagai teman yang baik, ia hendak menyelamatkan sahabatnya ini.

“Ehm, mungkin lu belum mau ngomong, Gi. Tapi andaikan iya nih, lu sama Alena Puspita itu. Gue dengar banyak hal yang nggak baik soal dia.”

“Maksud lu?”

“Ya, dari riwayat ngerebut pacar orang, terus suka pulang malam, dan yang sejenis-sejenis itu lah.”

“Hahahaha…”

“Ketawa lu, Gi?” tanya Dina dengan muka bengong.

“Dina.. Dina.. Lu tahu kan kalau gue manusia?”

“Kalau lu setan, gue nggak bakalan ngopi sama lu, dodol!”

“Nah itu dia,” ujar Egi sambil mengaduk kopi di hadapannya, “Gue, lu, bahkan Alena itu juga manusia.”

“Lalu?”

“Dan setiap manusia punya masa lalu, Din. Plus, nggak semua masa lalu itu baik. Lu tahu kalau di masa lalu gue ini perokok berat?” tanya Egi. Konsep yang satu ini ia lontarkan karena Egi tahu kalau Dina amat sangat tidak suka dengan pria perokok.

“Tahu, kan lu pernah cerita.”

“Terus, kenapa lu nggak memperlakukan gue kayak lu sebel banget sama si Herman? Jarak dua meter dari dia aja lu udah kabur?”

“Ya, kalau itu, kan lu tahu gue nggak suka cowok yang merokok.”

“Thats! Gue, dulu, dulu nih ya, lebih ganas dari Herman ngerokoknya, kenapa lu ama gue sahabatan?”

“Kan lu nggak ngerokok bro!”

“Ya itu dia. Gue punya masa lalu yang sebenarnya lu nggak suka kan? Terus kita akrab begini, artinya lu menerima masa lalu gue yang nggak oke itu.”

“Hubungannya dengan Alena?”

Ya, kalau lah, gue bener deket sama Alena. Gue kenal dia juga udah lima tahunan kali, Din. Udah cukup lama. Gue tahu beberapa masa lalunya dia juga. Jadi, kalau emang gue mau dan bisa dekat sama dia, pasti karena gue udah mengesampingkan masa lalu itu.”

Dina terdiam mendengarkan perkataan Egi.

“Lagian gue juga dulu kan bajingan. Ngedeketin cewek orang, ngajak ngedate cewek orang, sampai jadi pemberi harapan palsu juga pernah. Gue sih mikir aja, kalau gue mikir masa lalu orang yang mau gue deketin, itu bisa saja dilakukan orang terhadap masa lalu gue kan?”

“Iya juga sih.”

“Gue pernah baca status temen gue di FB. Bilang gini nih.. ‘Setiap orang punya masa lalu.. Kalo ingin pasangan dengan masa lalu yg 100% bersih, silahkan cari anak baru lahir dan awasi sampai gede baru jadiin pasangan..’,” kata Egi sambil melihat handphone-nya.

sumber: armstrongismlibrary.blogspot.com

“Ehm, iya ya. Tumben lu pinter, Gi?”

“Dari dulu gue pinter kali.”

“Jadi, lu beneran sama Alena?”

“Hahahaha, benar atau tidak. Belum saatnya gue bilang sesuatu soal hubungan pribadi gue, Din. Lu tahu kan sakitnya gue yang putus kemarin ini.”

“Hmmm, baiklah. Gue tunggu kabar bahagia dari lu deh.”

“Sip.”

Handphone Egi bergetar, sebuah pesan whatsapp dari Alena.

“Udah makan sayang?”

Bahwa setiap orang memiliki masa lalu

–o–