[Blog Review] darfiansyah’s notes

Oke, lanjut.. Kalian luar biasa… *salah fokus*

Review blog berikutnya adalah milik teman sekantor saya, Irfan, dalam darfiansyah’s notes.

Dalam catatannya, Irfan banyak berkisah soal sehari-hari juga, tapi arahnya (menurut saya) lebih dari perspektif keagamaan. Tentu saja, karena saya lihat di kantor dia orang yang agamanya oke. Hehe.. Lihat saja di posting-postingnya, setiap hal sederhana bisa dikaitkan dengan kacamata yang lain karena dilingkupi konteks Tuhan.

Hal simpel misalnya tertulis di beberapa posting tentang tafsir kitab suci. Mengambil konsep audit, temuan berulang di beberapa bagian adalah observasi besar. Irfan juga menemukan temuan sejenis, misal soal tafsir, dan menuliskannya di beberapa bagian. Artinya, dia punya pengertian tentang itu. Boleh juga.

Blog ini juga banyak bercerita tentang masa-masa menempuh pelajaran hidup sejak dahulu kala dan dituliskan dalam konteks bersyukur. Yah, kalau bacanya, kadang adem sendiri, walaupun saya dari kepercayaan yang berbeda. Hehe..

Silahkan dikunjungi 🙂

 

5 Show Yang Harus Dilupakan

Okelah, masih dengan pertanyaan, siapa saya sampai harus MELUPAKAN sebuah show. Ehm, ya begini-begini saya ini pernah-lah tampil di depan umum, mulai dari depan papan pengumuman sampai depan WC umum. Jadi adalah beberapa koleksi penampilan yang BENAR-BENAR HARUS DILUPAKAN. Lha, dilupakan kok malah ditulis disini.

Sebut saja itu anomali. Hehehehe..

So, ini dia..

1. Senandung Masa Puber (antara 2000 hingga 2001)

Sudah jelas lagi puber, sudah jelas tone suara menurun, masih pede jaya memilih lagu tinggi pas sesi menyanyi di kelas. Mau tahu lagunya? Yakin mau tahu? Bener?

“Kita jadi bisa, menulis dan membaca, karena siaaaaapaaaa…”

Dan di bagian terakhir yang meninggi itulah, saya slip sakpole ngisin-ngisini. Malu, malu, malu. Hahaha..

2. Anak Yang Hilang (juga sekitar 2000 hingga 2001)

Ide lomba dramatisasi kisah anak yang hilang versi kitab suci bagi saya merupakan ide yang terkutuk. Lebih terkutuk lagi ketika kemudian rayon St. Matheus yang notabene mengambil nama santo pelindung ketua rayon yang sejatinya adalah Bapak saya sendiri, kemudian memilih SAYA sebagai lakon utama: SI ANAK YANG HILANG!

Dan memang dasar saya nggak bisa akting, penampilan di aula yayasan prayoga itu kemudian menjadi derita sepanjang hayat. Mana nggak menang pulak. Sesudah turun panggung, rasanya saya mau hilang dari peredaran dunia saja.

3. Tentara Ora Cetho (tahun 1996)

Ini ceritanya class meeting, lalu bikin drama-dramaan gitu. Nah, kelas VA waktu itu juga ikut bikin drama perang. Dan syukur alhamdulilah saya didaulat main, SEBAGAI FIGURAN.

Dan yang paling mengenaskan dari penampilan ini adalah… saya sendiri nggak nemu inti ceritanya apa, kenapa saya ada, kenapa saya lewat, dan kenapa tanpa ditembak tiba-tiba tangan saya terbalur obat merah tanda habis kena tembak.

Sebuah misteri sampai sekarang, beneran!

4. Romo Ono Maling (sepertinya sih 2008)

Tampil total dengan make up di event sebuah kelompok agama di kampus, saya takjub melihat ekspresi masyarakat yang nonton dengan penampilan don dap dap yang dibawakan. Lha, sebagai kelompok paduan suara yang punya fans, kita nggak biasa mendapati orang melongo diam tanpa tepuk tangan ketika tampil *songong session dimulai kembali*

Makin parah ketika kemudian disuruh tampil lagi, dan dibawakanlah lagu ROMO ONO MALING.

Masih suram suasananya. Lha saya bingung, ini pada pernah nonton paduan suara belum je? Akhirnya lagu ROMO ONO MALING ini diakhiri dengan akting Budi sebagai maling yang lari dan dikejar sama yang lain. Nah, sesi berlari ke belakang ini benar-benar dimanfaatkan sebenar-benarnya untuk lari. Lari malu. Huhuhuhu…

5. Victorious (Oktober 2009)

Jauh-jauh diongkosi ke Jakarta untuk nyanyi, dikasih baju bagus, diinepin di hotel Shantika. Untuk apa? Untuk nyanyi. Ini kemajuan besar karena selama ini paling mentok saya nginap di rumah retret. Jadi begitu nemu hotel yang pintunya pakai kartu, berasa ajaib gitu.

Sebenarnya sudah gamang karena tampil tanpa dirigen. Tapi karena personel dikit jadilah. Tampil di sebuah teater baru milik kantor. Membawakan lagu karangan manager Finance dalam rangka ultah ke-40 kantor yang baru 5-6 bulan saya masuki.

Sebenarnya sudah oke. “Thanks to God, today we celebrate… bla..bla…”

Tetap oke sampai kemudian ketika sebuah interlude menjelang refren penutup tiba-tiba berubah menjadi ending. Ini ibarat ngejar kereta lalu tiba-tiba keretanya cling ilang, bukan lari. Musiknya benar-benar stop pas interlude dan dinamika lagu jadi buyar. Mood buyar pula. Dan ya sudah. BUBAR JALAN.

Maka lagu berikutnya “Cup Mailang” kemudian menjadi pelengkap performa yang sempat membuat saya trauma menyanyi di depan umum itu. MALUNYA ITU LHO!

Yah, sudahlah.. Namanya juga harus dilupakan.. Hehehehe…