All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Sebuah Perjalanan Yang Amat Panjang

Perjalanan itu tentang dua tempat dan sebuah jarak yang memisahkan

1997.

Saya berumur 10 tahun lewat setengah ketika sebuah informasi dari orang tua segera menaikkan energi eksitasi saya sampai puncak. Ya, sebuah perjalanan panjang yang jamak disebut mudik akan saya lakoni, tentunya bersama keluarga. Mudik yang tidak sembarangan karena menyangkut jarak ribuan kilometer antara Bukittinggi dan Jogjakarta. Hal ini menjadi sebuah kejadian besar terutama jika mengingat milestones keluarga ini.

1986, kedua orang tua saya menikah.
1987, saya lahir.
1988, adik saya lahir.
1989, perjalanan mudik ke Jogja yang pertama.
1990, adik saya lahir.
1995, ompung (nenek dari Mamak) meninggal.
1995, adik saya lahir.

Apakah yang terlihat dari milestones itu? Ya, sejak Bapak dan Mamak menikah, sesuatu yang berjudul “mudik ke Jogja” itu baru terlakoni satu, ya satu kali saja. Itu ketika saya berumur 2 tahun. Bahkan saya hanya ingat secuil cerita dari perjalanan yang tampaknya seru itu. Sungguh seru karena saya melihat diri saya ada di Candi Borobudur, saya mendapat cerita bahwa saya masuk Pekan Raya Jakarta, dan yang paling penting saya diberi tahu bahwa saya pernah naik pesawat.

Sejak tahun itu, keluarga kami bertambah besar, dan tidak pernah pulang lagi ke Jogja. Jadi jelas, kedua adik saya yang lahir sesudah 1989, belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke kampung halaman Bapak saya.

Durasi waktu tidak mudik yang teramat panjang, ditambah heroisme bertajuk “berlibur ke rumah nenek”, plus rasa ingin tahu terhadap tempat bernama Jogja menjadi sedemikian lengkap dengan agenda utama. Sesuai umur saya yang sudah 10 tahun, saya akan segera melakoni hal yang menjadi wajib untuk orang Jawa: sunat.

Segala hal dipersiapkan oleh orang tua saya. Ini mudik massal, melibatkan enam orang. Dua orang tua akan membawa 4 anak yang notabene masih kecil-kecil. Saya yang paling tua saja masih berumur 10 tahun. Adik saya yang paling kecil bahkan baru lewat ulang tahun yang ke-2. Saya sudah merasa ini tidak akan mudah.

Dan bukanlah jatah anak usia 10 tahun untuk mempertanyakan rute dan bekal perjalanan. Semua sudah menjadi tanggungan orang tua saya. Semua baju dan segala kelengkapan lainnya juga. Dan kebetulan, kami adalah anak-anak yang sangat penurut sehingga bahkan tidak terpikir sedikitpun untuk (misalnya) membawa mainan kami dalam perjalanan yang akan sangat panjang ini. Dua buah tas besar-besar berisi pakaian dan kelengkapan lainnya, ditambah dengan sebuah keranjang hijau yang penuh dengan makanan, plus beberapa kardus oleh-oleh sudah siap pada malam sebelum kami berangkat.

Pagi hari tiba!

Anak-anak tidak berpikir panjang soal perjalanan. Ya, meski saya sudah mengenal Geografi dari 1 tahun sebelumnya, saya tidak benar-benar paham bahwa perjalanan yang akan kami tempuh ini jauhnya minta ampun. Yang saya tahu, kami akan berlibur di sebuah kota bernama Jogja. Titik.

Senyum masih merekah di bibir kami, anak-anak kecil yang belum tahu banyak. Keluarga saya mencarter sebuah angkutan kota ternama di kota Bukittinggi bernama Mersi. Ini tentu bukan Mersi yang berasal dari Mercedes Benz. Ini hanyalah angkutan kota yang dimiliki oleh koperasi bernama Merapi-Singgalang. Nama yang diambil dari dua buah gunung yang mengitari kota mungil tempat kelahiran saya itu. Merapi dan Singgalang itulah yang kemudian disingkat menjadi Mersi.

Ketika Mersi carteran sampai di pool bis Gumarang Jaya di daerah Jambu Air, saya dan adik-adik turun dengan riang. Sebuah bis besar warna kombinasi hitam, merah, dan putih sudah berdiri gagah di parkiran tempat yang cukup luas itu. Akan tetapi, karena belum waktunya berangkat, maka saya dan keluarga hanya duduk-duduk di tempat yang sudah disediakan. Tentunya bersama penumpang lainnya. Dan tentu saja, tidak ada penumpang lain yang komponen rombongannya seperti keluarga kami.

Mamak dengan sigap sudah menyiapkan perkakas anti mabuk. Salonpas sudah menempel di pusar kami masing-masing sedari rumah tadi. Dan kini sebungkus obat anti mabuk paling ternama se-Indonesia sudah siap masuk ke mulut bocah-bocah dengan naluri liburan membuncah ini.

Ketika setengah tablet obat berisi Dimenhidrinat itu masuk ke perut kami, tepat ketika panggilan untuk masuk bis muncul. Bis dengan formasi duduk 2-3, dengan sebuah jendela geser. Ah! Waktu itu saya tidak pernah berpikir soal kelas bis. Di kemudian hari baru saya kenali bahwa bis itu adalah kelas terbawah dalam stratifikasi bis lintas Sumatera.

Tentu saja demikian, terbawah. Nanti saya ceritakan penyebab utamanya.

Ini bukan pertama kalinya saya naik bis karena sebelumnya beberapa kali naik ANS atau NPM untuk rute Bukittinggi-Padang. Akan tetapi seluruh perjalanan itu dilakukan dalam rombongan. Artinya, baru kali ini saya menaiki bus dalam konteksnya sebagai angkutan umum, bukan sewaan rombongan.

Perjalanan di Sumatera, manapun, akan banyak diwarnai oleh jalan menanjak-menurun-berkelok. Saya berani bilang begitu setelah menikmati enak dan lurusnya Pantura, belasan tahun kemudian. Eksitasi untuk sampai tujuan masih tinggi ketika bis lepas landas dari pool.

Dan perlahan, itu sirna.

Belum tiga jam ketika muka-muka riang kami berubah menjadi kantuk yang berat. Saya bahkan terlelap ketika bis dengan lugas melibas setiap tikungan ketika menyisir Danau Singkarak. Mamak mulai mengeluarkan satu per satu perbekalan guna menambal lapar yang mulai terasa dalam perjalanan ini.

Tidak ada lagi senyum ketika sesekali kami terbangun. Ini belum seberapa jauh dan bocah-bocah kecil yang tadinya bersemangat tinggi sudah menjadi bocah yang sebenarnya, lelah dan mengantuk.

Saya duduk di sisi kiri bis, bagian depan, persis di dekat pintu masuk. Maka saya punya dua sudut pandang. Depan dan samping kiri. Kepala lelah saya mulai bersandar ke dinding bis dan kemudian asyik terpaku pada deretan benda yang dilewati. Mulai dari pohon, rumah, restoran, pasar, dan lainnya. Mulai dari tempat yang penuh manusia hingga tempat yang bahkan tidak ada manusia yang tampak sama sekali.

Saya mulai menikmati perjalanan ini.

“Tuh, Bang. Masih berapa kilo?” tunjuk Bapak ke sebuah benda kuning yang tampak di sebelah kiri jalan. Sebuah benda berwujud tiang kecil dengan tiga sisi yang bertuliskan huruf dan angka. Satu tiang kecil itu lewat saja ketika Bapak selesai menunjuk.

“Apa toh Pak?”

“Nanti lihat lagi.”

Saya setia menanti, dan syukurlah tidak lama. Benda yang sama kembali terlihat. Saya mulai mengenali benda itu. Benar ada tiga sisi disana. Dari sudut pandang saya melihat, saya bisa membaca sebuah rangkaian tiga huruf di bagian atas dan deretan angka persis di bawahnya. Profil serupa saya dapati ketika bis besar ini persis melewati benda itu. Dan bentuk serupa saya intip sekilas ketika bis sudah melewati benda itu.

Benda itu berlalu lagi, dan saya menanti lagi.

Ah! Saya mulai mendapati polanya. Angka yang tampak dari sisi bis ini melaju berkurang 1 setiap kali melewati benda kuning itu. Pastilah itu penunjuk arah. Dan 3 huruf di atasnya baru saya pahami ketika mencocokkan gapura yang saya lihat dengan tiga huruf di benda itu.

Ya, saya berhasil menyimpulkan bahwa Sawah Lunto masih berjarak 20 kilometer lagi, setelah mengamati lebih dari sebelas benda kuning itu.

Angka inilah yang memperkenalkan saya pada jarak. Bahwa dalam setiap putaran roda bis ini, ada sebuah jarak yang dibunuh dan sebuah perjalanan akan segera sampai tujuan. Ya, jarak hanya akan mati jika ia dilalui. Tidak ada gunanya diam dalam sebuah perjalanan, kecuali untuk merenunginya.

Bis itu akhirnya berhenti di sebuah restoran. Seluruh penumpang turun, demikian pula keluarga kami. Saya menoleh sedikit ke belakang dan menemukan ada orang yang berdiri, lalu membereskan papan tempatnya duduk, meletakkannya di pinggiran kursi, lalu berjalan ke arah luar.

Saya mulai paham kelas kendaraan ini. Dua buah kursi yang ada di bagian gang menjadi landasan untuk sebuah papan, dan ada orang duduk disana. Ternyata ini yang namanya bangku tembak. Dan tidak hanya satu orang yang berlaku demikian. Well, saya yang duduk manis di kursi saja sudah cukup lelah, bagaimana dengan mereka?

Inilah konsekuensi naik bis ekonomi.

Restoran ini ternyata juga menjadi tempat istirahat banyak bis lainnya. Tidak hanya arah Padang-Jakarta, tapi juga sebaliknya. Maka saya melihat ratusan orang dengan aktivitasnya masing-masing.

Seorang ibu yang bergegas muntah persis di sebelah bis, segera sesudah ia menginjakkan kaki ke tanah. Seorang anak yang menangis–tampak baru selesai muntah juga. Banyak ornag yang berdiri sambil merokok. Orang-orang yang sibuk ber-wudhu. Orang-orang yang setengah berlari menuju toilet. Semuanya melengkapi kehadiran manusia-manusia yang tampak sangat nyaman setelah membasuh muka, yang tampak puas sesudah menyantap sepiring nasi berikut lauknya, yang tampak sumringah karena sudah semakin dekat dengan tujuan.

Manusia-manusia itu adalah bagian dari perjalanan, bagian dari penakluk jarak. Makhluk hidup yang hendak berpindah, melakukan sesuatu yang sesuai dengan tujuannya. Dan semuanya menyikapi situasi dengan berbeda.

Saya mengamati itu dengan otak saya yang masih kecil. Saya adalah pengamat murni sedari kecil. Saya adalah anak kecil yang hafal 11 nama pemain Inter Milan hanya dengan sekali menyaksikan pertandingan Inter vs Bologna di tahun 1995. Saya mengamati dan menyimpan itu di dalam otak saya. Itulah sebabnya saya orang yang sangat jarang bertanya.

Keluarga kami lantas memasuki restoran. Mamak sudah membawa nasi yang cukup untuk 1-2 kali makan keluarga. Yang kami butuhkan hanya lauk dan sayur. Dan orang tua saya mengajari tips hemat makan di restoran Padang, utamanya dalam perjalanan.

Ya, Mamak mengambil piring kecil berisi cancang (daging yang diolah dengan bumbu khas dan tentunya santan) dan membagi rata ke seluruh anggota keluarga. Ya, sepiring itu saja. Kami bahkan tidak diperkenankan menyentuh dua potong ayam goreng yang terkapar manis menggoda di sebelah piring cancang itu.

Tidak ada pula memesan minuman sejenis es teh, apalagi es campur. Yang diminum hanya air putih yang merupakan paket dari sepaket nasi dan lauk yang disediakan.

Konsep restoran Padang di jalur bis memang sama dengan kebanyakan. Ketika pelanggan masuk, meja kosong. Sejurus kemudian, dengan atraksi membawa banyak piring dalam 1 kali perjalanan, pelayan akan meletakkan berbagai macam lauk pauk di atas meja. Pelayan lain akan datang membawa nasi, dan pelayanan lainnya lagi meletakkan segelas air putih dan semangkok kecil air pencuci tangan.

Nah, masalahnya, di kebanyakan tempat, perhitungannya agak rumit. Ya, misalkan seorang pelanggan mengambil 1 dari 2 potong ayam yang ada, berikut cancang, maka ia harus membayar 2 potong ayam dan 1 piring cancang. Kenapa? Karena yang dihitung buat jumlahnya, tapi piringnya. Ketika ada piring yang berkurang isinya, itulah yang dibayar.

Sebuah fakta akhir 1990-an yang saya pahami sendiri dalam perjalanan lain berikutnya.

Setelah kira-kira 1 jam bergelut dalam cuaca panas terik, akhirnya para penumpang kembali diminta masuk ke bis via panggilan yang dilakukan dengan microphone. Itulah sebabnya nomor bis harus menjadi acuan penumpang untuk setiap perjalanan jauh yang butuh istirahat makan, karena personil restoran hanya akan menyebut merk bis dan nomor lambungnya. Sebuah masalah ketika ada 10 bis dengan merk yang warna yang sama ada di tempat yang sama pula.

Tebak lanjutan perjalanan ini?

Tentu saja! Tidur panjang!

Saya sesekali terbangun dan melihat deretan pohon lewat, lalu tidur lagi. Berulang-ulang demikian hingga kemudian saya melihat langit mulai gelap. Dalam situasi yang mulai temaram saya mengintip ke arah luar dan mencari-cari papan nama yang mungkin ada.

Dan saya temukan itu. Ini sudah di JAMBI.

Perjalanan malam, apalagi dalam posisi saya duduk sungguh merupakan sebuah nuansa baru. Saya menyaksikan dengan jelas lampu-lampu besar dari arah berlawanan. Yah, ini jalan lintas propinsi, sesuatu yang di pelajaran Geografi saya kenal sebagai Jalan Lintas Sumatera. Saya tidak sedang ada di peta, saya sedang melaluinya. Itu yang ada di benak saya, tidak ada yang lain.

Perhentian kedua dilakukan di Jambi. Hari sudah malam dan penumpang sudah semakin lusuh bentuknya. Terang saja, keringat dan lelah menjadi perpaduan yang cocok di bis ini. Orang-orang yang pagi tadi cantik dan tampan sekarang bentuknya serupa, lusuh. Tentu saja termasuk saya.

Meski di Jambi, tapi tetap saja yang disambangi adalah restoran dengan menu Padang. Ini juga fakta lain yang baru saya ketahui. Ya, di sepanjang Jalan Lintas Sumatera ada banyak restoran yang sama, dan rerata bis akan mampir di restoran jenis ini. Semuanya telah menyediakan fasilitas toilet dan mushala. Meski memang terkadang tidak manusiawi.

Tidak manusiawi?

Seperti yang saya dapati di Jambi, entah kota mana ini. Saya harus buang air kecil di tempat beratapkan langit di sebuah tempat yang tidak berair. Hanya sebuah semen berlubang dan, ehm, lubang itu langsung menuju sungai yang memang terdengar mengalir deras dari tempat saya buang air kecil. Tapi siapa yang peduli tempat kalau memang sudah kebelet? Bahkan di rimbunnya dedaunan-pun hal ini bisa dilakukan.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Sudah malam pula, saatnya anak kecil untuk tidur. Tapi sebelum saya masuk ke alam mimpi penuh goncangan itu, saya diberi tahu untuk menutup gorden jendela. Saya melakoninya tanpa tahu alasan yang pasti.

Tidur saya tentu tidak cukup pulas. Anak kecil yang biasanya lelap di ranjang harus tidur sambil duduk, dan sungguh saya tidak terbiasa dengan ini. Maka saya pun kadang terbangun. Dan dalam satu sesi terbangun, saya melihat kondektur meminta seorang penumpang untuk merapikan gorden hingga menutup sempurna.

“Lahat-Lubuk Linggau.”

Itu yang terdengar oleh saya, masih tanpa mengerti maknanya.

Dan saya melanjutkan lelap hingga subuh, saya mengintip ke jendela dan menyaksikan bahwa saya sudah berada di Palembang.

“Untung lancar tadi ya,” ujar kondektur kepada supir yang membawa bis ini melaju.

Dan saya juga belum mengerti makna dari gorden menutup, Lahat-Lubuk Linggau, dan lancar. Ini bak misteri yang meminta dipecahkan.

Ketika matahari akhirnya meninggi kembali, bis ini akhirnya berhenti. Dan tahu-tahu ini sudah di Lampung. Waw! Kami sudah hampir sampai di ujung Sumatera. Pantat saya sudah cukup lelah untuk terus-terusan duduk sedari kemarin pagi. Tapi saya tidak bisa melakukan apapun selain, ya, tetap duduk.

Terang membantu saya melihat pagar khas orang Lampung. Hampir setiap rumah di pinggir jalan itu memakai gapura dengan “kepala” yang sama. Dengan tulisan “bertapis” di sebelah kiri. Awalnya saya mengira kata kedua yang ada di sebelah kanan akan sama. Tapi menjadi tidak ketika sudah memasuki daerah Lampung Tengah. Gapuranya sama, tulisan “bertapis” juga sama, tapi gapura kanan memuat kata yang berbeda. Saya mencoba mencernanya sebagai sebuah slogan kabupaten.

Siang hari yang terik, bis berhenti di sebuah tempat yang tampak seperti bukan restoran. Ya, ini mungkin pool bis area Lampung karena ada banyak teknisi disini. Kami pun hanya makan di tempat yang lebih mirip kantin alih-alih restoran. Bis besar yang kami tumpangi mendapat perawatan di tempat ini, dan durasinya lumayan lama. Ditunjang cuaca Lampung yang panas bukan main (ingat, kami dari Bukittinggi yang dingin bukan main), lengkaplah sudah rasa malas yang membuncah.

Bahkan dalam waktu 24 jam, sesuatu yang membuncah dari dalam diri sudah bisa berbeda.

Perjalanan dilanjutkan kembali dan saya mulai merasakan hawa penyeberangan. Kenapa? Karena di sepanjang jalan, saya menemukan berbagai tulisan “persewaan kapal”. Dan lebih menggelitik lagi ketika nama-nama persewaan kapal itu malah semacam membentuk trivia suku Batak. Ya, di sini adalah persewaan “Pasaribu”, tidak jauh ada persewaan “Situmorang”, dan berbagai marga Batak lainnya.

Saya, yang setengah Batak, tersenyum simpul melihat itu. Mamak saya, yang asli Batak, malah ketawa melihat deretan papan nama marga di sepanjang jalanan itu.

Persis ketika matahari ada di atas kepala, sampailah bis di sebuah tempat yang bernama Bakauheni. Syukur tersirat dalam hati ketika sampai di tempat ini. Sebuah perjalanan yang terhitung sangat lancar karena bisa sampai di Bakauheni tepat tengah hari. Dua puluh tujuh jam dari keberangkatan di Bukittinggi. Waw, lama sekali!

Ehm, dan nyatanya sebuah perjalanan tidaklah semudah yang barusan dilalui. Kita tidak pernah tahu hal yang ada di depan mata. Dan itu yang saya dapatkan, persis ketika memasuki kapal. Sebuah langkah menuju pulau seberang.

Ya, pada mudik edisi pertama, saya memang pernah naik kapal. Bahkan kapal yang jauh lebih besar dari sekadar kapal penyeberangan Selat Sunda. Tahun 1989 itu perjalanannya melalui pelabuhan Teluk Bayur nan kesohor dengan lagu galaunya. Menyusuri pantai barat Sumatera dan berlabuh di Tanjung Priok. Masalahnya, saya sama sekali tidak sadar soal pengalaman itu. Siapa pula yang hendak merekam memori sedemikian baik di usia 2 tahun?

Panas terik sekali di Bakauheni hari itu. Tentu saja, ini pertengahan tahun, saat memang sedang panas-panasnya. Pedagang dengan berbagai macam bawaan silih berganti naik ke bis yang saya naiki. Sebagai orang yang duduknya paling depan sendiri, tentu mengamati hal itu dengan sangat jelas.

Bis bergerak sangat perlahan, dan secara perlahan pula saya mulai merasakan perih di mata. Ah! Ini pasti kelakuan dan perbuatan dari asap knalpot setiap kendaraan yang ada di antrian. Bis-bis besar, dan sebagian lagi mobil pribadi berkumpul di satu tempat, semuanya dalam posisi menyala dan otomatis mengeluarkan gas buangnya masing-masing. Saya mulai ‘menangis’ dengan kondisi ini. Suatu tangisan yang terjadi bukan karena perasaan, tapi sebenar-benarnya faktor fisik.

Penderitaan dan tangisan itu akhirnya berakhir ketika seluruh penumpang bis diminta turun untuk naik ke kapal berwarna putih yang dengan gagahnya mengambang di lautan. Mata mulai berhenti mengeluarkan air dan yang terasa kemudian adalah hembusan kencang angin pelabuhan.

Saya dan keluarga sampai di sebuah tempat penuh kursi. Ya, itulah tempat penumpang bis akan duduk di kapal sepanjang perjalanan ke Pulau Jawa. Sebuah kursi putih segera saya duduki dan belum ada perasaan apapun. Tentu saja, heroisme ‘berlibur ke rumah nenek’ masih terpatri jelas di dalam otak.

Ada sekitar 10 menit saya duduk diam mengamati suasana, sambil sesekali menikmati sisa-sisa makanan yang dibawa oleh orang tua saya dalam keranjang hijau andalan. Tentulah tinggal sisa karena sudah lebih dari 24 jam kami meninggalkan rumah untuk sebuah perjalanan yang nyata-nyata sangat panjang ini. Saya tetap duduk hingga kemudian suara sirene terdengar. Hmm, agaknya kapal ini hendak berangkat.

Dan dimulailah sebuah derita perjalanan.

Sesungguhnya saya tangguh di darat. Sudah terbukti dalam perjalanan dari rumah ke Bakauheni, saya tidak muntah sama sekali. Ya, saya tidak mabuk dalam perjalanan darat. Goyangan jalanan bisa ditutupi oleh hijaunya sawah atau rindang pepohonan yang tampak di sisi kanan-kiri jalan. Dan celakanya, saya tidak setangguh itu di lautan.

Lantai kapal yang saya duduki mulai bergoyang. Sebuah mekanisme yang sangat bisa dijelaskan secara fisika mengingat benda yang saya naiki mengambang di perairan. Ini tentu saja sama dengan kapal-kapalan kertas yang saya ambangkan di atas Tambuo. Juga sama dengan bungkus kacang koro yang saya ambangkan di bandar (selokan gede dalam terminologi Minang) dan saya ikuti perjalanannya sambil pulang sekolah. Ya, sama persis. Hanya kali ini saya ada di benda yang mengambang itu.

Anggap saja ini pelajaran hidup. Ada masanya kita melakoni suatu peristiwa yang sering kita lihat sebagai hal yang sepele. Dan nyatanya itu tidaklah cukup sepele.

Dan goyangan itu perlahan sampai ke otak saya. Lebih lanjut lagi, otak saya tidak merespon dengan baik. Maka, terjadilah. Kepala saya mulai pusing, perut bergolak, dan isi di dalamnya nyaris saja keluar. Saya menahan diri dengan duduk diam dan menyandarkan kepala ke kursi yang ada di depan. Sementara dua adik saya yang lain dengan lincahnya beredar di sekitar ruangan kapal. Sesekali bahkan ke luar ruangan.

Ya, saya tidak terbiasa dengan suasana ini.

Lagipula tidak ada pengalih perhatian yang benar-benar asyik. Kalau di darat, saya bisa melihat kiri kanan dengan warna yang berbeda. Kalau memang sudah mentok banget, saya akan menghitung mundur benda kuning yang memuat angka kilometer terhadap tujuan terdekat. Kalau di laut?

Yang saya lihat ya cuma air, warna biru. Tidak ada yang lain. Walaupun demikian, saya tetap mencoba untuk melangkahkan kaki dan berdiri di pinggir kapal. Angin laut bertiup kencang sekali, tapi saya coba melawan guna mencari pengalih fokus. Satu hal yang disyukuri adalah karena ini musim kemarau. Maka laut biru yang terhampar luas ini sedang tenang-tenang saja. Ya, betul-betul tenang. Sekali kesempatan saya mengintip ke bagian bawah kapal dan yang saya lihat hanyalah hempasan air di lambung kapal.

Tidak ada benda kuning yang bisa saya hitung di lautan ini. Jadi saya hanya mengamati arah depan dan berharap akan tampak daratan dengan segera. Persislah kalau manusia dapat masalah, inginnya segera ada solusi di depan mata. Meski nyata-nyata tidak selalu akan begitu.

Akan tetapi, penantian selalu akan membuahkan hasil. Kapal ini pasti akan sampai. Dan ketika sudah hampir 1 jam saya melongo memandang laut lepas akhirnya tampak daratan. Secuil. Kecil sekali.

“Itu Bang, Merak,” kata Bapak.

Sebuah pernyataan yang cukup melegakan hati. Ya, setidaknya derita sepanjang perjalanan ini akan segera berakhir di tempat yang secuil itu tadi.

Mendadak waktu menjadi terasa amat sangat lama sekali.

Saya terus-terusan melihat daratan itu dan tetap saja kecil. Penambahan ukurannya tidak signifikan. Bahkan kapal malah berjalan ke arah yang tampaknya lain, semacam menjauhi daratan tersebut. Saya sudah semakin pusing dan akhirnya memilih untuk kembali duduk. Berharap perjalanan penuh goyangan ini segera berakhir. Kalau tidak, target saya untuk tidak muntah sepanjang perjalanan ‘berlibur ke rumah nenek’ ini tidak akan tercapai.

Duduk sambil menyanggakan kepala di kursi putih yang ada di depan. Itu saja yang saya lakukan. Kepala ini rasanya sudah sangat berat. Well, sebuah kondisi yang mungkin sangat biasa untuk bocah berusia 10 tahun dengan riwayat imunitas rendah. Ya, saya termasuk anak lemah. Saya bahkan satu-satunya anak di keluarga ini yang pernah menderita step. Suatu kondisi panas tinggi yang sampai membuat bola mata yang berwarna hitam tidak kelihatan lagi. Suatu keadaan antara hidup dan mati. Dan syukurlah, saya masih bisa hidup. Mengingat kejadian sekitar 9 tahun silam itu sesungguhnya memberi makna lebih untuk hidup. Saya masih bisa bertahan meski dengan fisik yang lemah. Bukankah bertahan itu jauh lebih penting? Lemah masih bisa diperkuat bukan?

Keramaian mulai tampak ketika penumpang-penumpang mulai mengemasi barang bawaan masing-masing dan bersiap turun ke dek terbawah, tempat kendaraan terparkir. Ramai sekali. Dan sesungguhnya hal itu membuat kepala pusing ini jadi bertambah pusing. Tapi, ya sudahlah. Perjalanan kan harus dilanjutkan.

Saya ikutan turun. Anak usia 10 tahun harus taat dan patuh pada orang tua. Maka, saya meniti tangga satu per satu untuk kemudian sampai di tempat yang luas sekali, di dek terbawah. Banyak kendaraan besar terparkir di tempat ini. Satu hal yang langsung terbayangkan adalah kalau sampai kapal ini tenggelam, maka bis dan truk ini adalah yang pertama sampai ke dasar laut. Ngeri.

Sambil berjalan di antara bis-bis dan truk-truk, saya mendengar deru perlahan. Hmm, seluruh kendaraan ini sedang dalam posisi menyala. Saya sempat terpikir sesuatu, tapi segera lewat begitu saya menoleh ke sebuah jendela kecil di dinding kapal.

Biru, bergoyang. Itu air laut. Dan saya sangat dekat dengan air laut.

Yak, persis di bawah saya adalah air laut. Segera, bayang-bayang tenggelam kembali mengemuka dalam benak saya. Entahlah, saya selalu berpikir negatif terlebih dahulu alih-alih berpikir tentang kesenangan.

Dalam ketakutan yang mendadak muncul, kedua bola mata yang sempat jadi kasus 9 tahun lalu ini kembali terasa perih. Nafas saya juga mulai terasa sesak. Tubuh kecil saya masih sangat dekat dengan knalpot dan asapnya begitu perkasa keluar menyergap orang-orang yang ada di dek ini.

Mungkin tidak ada yang peduli, atau mungkin sudah sangat terbiasa. Tapi nyaris tidak ada orang yang mempermasalahkan keadaan ini selain tiga anak kecil di bis bagian depan. Saya dan adik-adik mengeluh mata pedih pada orang tua kami. Adik saya mungkin masih terlalu kecil. Ehm, ternyata tidak, dia tidur. Pantas saja.

Derita ini belum berakhir juga ternyata. Saya menahan nafas yang sudah sangat jelas berbau asap knalpot. Mata perih. Bis ini bis kelas ekonomi pula. Kalaulah jendela saya tutup, jendela yang lain masih memberikan ruang untuk asap knalpot masih ke dalam bis. Ya, ada harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang murah. Jangan pernah abaikan itu.

Ada rasa yang jauh lebih penuh dengan eksitasi daripada sebuah tas baru ketika kenaikan kelas. Rasa yang baru saja saya pahami. Apa itu? Melihat pintu besar kapal di ujung sana terbuka. Cahaya yang perlahan tampak di depan mata itu menandakan harapan yang sangat besar untuk segera lepas dari derita goyang-goyang di kapal plus mata perih ditambah asap yang memenuhi hidup. Ah!

Pak supir menginjak pedal gas dan kopling secara perlahan. Bis ini melaju secara perlahan pula. Sementara kemuakan saya tidak bisa dijadikan perlahan. Saya sudah sangat ingin keluar dari tempat ini. Saya muak, tapi saya diam.

Ya, itulah saya. Dalam kondisi di tempat umum, saya akan tampak sangat penurut. Sejak kecil saya dibiasakan demikian. Saya tidak seperti seorang anak kecil yang menangis meraung-raung karena kebelet pipis di bis yang tidak ada toiletnya. Kalau saya, ya saya tahan. Kalau itu sudah amat sangat parah dan benar-benar tak tertahankan, baru saya bilang. Nyatanya, saya dengan polosnya bertahan sepanjang perjalanan dari Bukittinggi ke Bakauheni.

Roda bis berputar terus, dan pintu terang di depan itu semakin dekat. Air mata semakin deras mengucur, hidung sudah semakin susah bernafas dengan benar. Sebuah harapan sederhana tampak di depan mata. Saya hanya ingin keluar dari kapal ini. Itu saja kok.

Syukurlah, permohonan sederhana itu segera terkabul. Perlahan terang melingkupi dan jelas ini sudah sampai. Ini di Merak, dan itu pertanda, saya sudah berada di Pulau Jawa. Pikiran kecil saya berkata, “Rumah simbah sudah dekat!”

Benar?

Tentu tidak.

Ternyata derita di kapal itu sesungguhnya baru awal. Yah, itu hanya secuil dari derita lain yang muncul kemudian. Dalam perjalanan kami di tanah Jawa. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Perjalanan Keputusan

“Bruummmm…”

Raungan sepeda motor begitu membahana begitu memasuki ruang sempit di kos-kosan Ray. Bahwasanya Tuhan tidak lagi menciptakan tanah adalah sebuah kendala tersendiri buat anak kos. Kenapa? Ya, pemilik kos-kosan dengan asoy geboy membuat kos-kosan dengan fasilitas tempat parkir yang minim abis. Dan karena faktor biaya, tetap saja ada anak kos yang akan menyewa tempat meski parkirnya minimalis begitu.

Ray turun dari sepeda motornya dengan gontai lantas memarkir kendaraan miliknya itu mepet-mepet. Ya memang harus mepet karena ada 10 sepeda motor lain yang ada di kos ini. Semua perlu tempat.

Bahwa tempat parkir kos ini adalah anomali di hati Ray. Ketika disini ada muatan tapi minim tempat, maka di hati lelaki menjelang dewasa itu berlaku sebaliknya. Ada tempat yang luas, tapi tidak ada muatan.

Mirip dengan parkiran kos yang sudah menempatkan bahwa di sudut dekat pintu itu adalah kapling punya Ray, maka di hatinya juga sudah ada pemilik kapling itu.

Ada tempat, ada pemilik kapling, tapi tempat itu kosong, tidak bertuan.

Ray menyeret langkahnya menuju kamarnya, empat meter dari tempatnya parkir sepeda motor. Serenteng kunci dikeluarkan dari saku, masuk ke lubang kunci, pintu segera terbuka.

Tas yang disandangnya segera terlempar ke sudut kamar, sementara pemilik tas itu dengan pasrah terjun ke kasur yang terhampar di lantai. Seragam masih melekat di badan. Tangan Ray segera menuju ke saku celana, mengambil handphone dan melihat isi tampilan layar dalam posisi tidur terlentang.

Inilah keseharian Ray sepulang kerja, terkapar manis bersama linimasa. Ya, linimasa yang spesifik, merujuk pada sebuah nama yang ada di Twitter, di Facebook, dan di Blogspot. Linimasa yang punya 3 ID berbeda tapi dimiliki oleh satu orang. Persona yang sama dengan pemilik kapling luas di hati Ray.

“Hehmmm.. Kapan kelarnya niy?” gumam Ray.

Agaknya ia sudah ada dalam posisi lelah. Stalking nyata-nyata melelahkan. Selain tentunya jiwa tersiksa. Stalking kadang menjadi kebodohan, apalagi ketika dengan santainya Ray membuka ‘view conversation’ pada twit yang nongol di timeline si pemilik kapling hati itu.

Sebut saja itu kebodohan yang (kadang-kadang) indah.

Ray terpejam sejenak. Tangannya mengepal dan nafasnya ditarik dalam-dalam. Seluruh oksigen yang sejatinya sudah minimalis masuk ke dalam paru-paru.

“Ini harus diselesaikan,” bisiknya.

Ray lalu membuka aplikasi kalender di handphone-nya, menatap tanggal-tanggal yang tertera disana. Ia lantas mengetik dua kata pada kotak yang menunjuk tanggal 30 April.

Perjalanan Keputusan

Jemarinya masih ada di handphone itu, menuju aplikasi burung biru. Kali ini Ray mengetik sebuah kalimat singkat.

“Mohon bantuannya pada semesta.”

Lalu Ray terlelap, dengan handphone di tangan, dengan seragam di sekujur tubuh, dengan ID Card perusahaan masih menggantung di leher. Sebuah lelap yang lelah.

* * *

sumber: ecosalon.com

“Magelang? Ada?”

Ray beringsut dari kursi yang sudah membawanya ratusan kilometer dari tempatnya berasal. Selimut yang semalaman menempel di tubuhnya segera lepas. Sudah saatnya ia turun, untuk memenuhi segala bentuk pencarian keinginan semesta dalam perjalanan keputusan.

Kaki kiri Ray menapak manis di depan Armada Town Square alias Artos. Masih pagi hari, dan kota ini dingin sekali. Ray melempar pandang ke sekeliling. Selintas, merk-merk yang ada di depan Artos ini mengingatkannya dengan hiruk pikuknya ibukota. Ah, sampai juga mereka di kota kecil ini.

Tangan Ray menyambar handphone di saku jaketnya. Powerbank dan kabel masih menjadi satu dengan handphone itu. Sungguh mudahnya teknologi sehingga nge-charge handphone-pun bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja.

Dan teknologi menjadi semakin mudah ketika kemudian Ray membuka GPS. Diketiknya nama sebuah hotel dan segera peta Magelang plus petunjuk arah ada di kotak kecil bernama handphone itu. Semuanya tampak begitu sederhana. Sesuatu yang dahulu dibayangkan saja tidak bisa. Begitulah dunia.

Jarak hotel yang dimaksud nyatanya tidak terlalu jauh. Ray lantas berjalan mengikuti petunjuk yang ada di GPS-nya. Pagi ini menjadi tidak lagi dingin karena seluruh sel di tubuh Ray bergerak mengikuti arah GPS itu. Tidak jauh benar memang, karena 15 menit kemudian ia sampai di hotel yang namanya persis sama dengan yang tertera di GPS.

Tidur di dalam bis sungguh tidak lelap meski Ray sudah mengambil bis yang paling oke, Super Executive. Maka, begitu kamar hotel itu dibuka, tubuhnya segera terkapar manja.

Tangannya mengetik sebuah pesan singkat, sesaat sebelum ia tertidur.

Dua jam kemudian, Ray terbangun sejenak. Ia segera melihat ke handphone-nya dan tidak ada SMS masuk. Ray melanjutkan tidurnya.

Empat jam berikutnya, Ray akhirnya benar-benar terjaga. Sudah siang di Magelang dan lapar mulai terasa. Ketika ia terduduk di ranjang hotel, tangannya kembali menggapai handphone-nya. Tidak ada SMS masuk.

“Satu poin dari semesta,” ujar Ray sambil melihat ke kotak kecil sejuta fungsi itu. Ya, sebuah pesan singkat yang tidak berbalas.

* * *

“Patas AC ngendi Pak?” tanya Ray pada seorang bapak yang berdiri dengan memegang setumpuk kertas kecil warna biru.

“Disini, Mas.”

“Sudah lewat?”

“Nanti lewat lagi.”

Ray pun melakukan transaksi pembelian tiket bis Patas AC dengan bapak yang berdiri di depan warung itu. Transaksi kilat khusus yang bahkan semenit pun tidak sampai. Ray lantas berlalu dan menunggu, sambil sesekali melihat transaksi yang sama terjadi di depan matanya.

“Semarang?”

Orang-orang yang sedang asyik duduk dan berdiri segera bersiap. Rokok dimatikan, minuman dihabiskan, tas-tas segera disandang, pun handphone segera dimasukkan ke kantong.

Ray mengikuti orang-orang yang menaiki bis Ramayana yang muncul dari arah kanan. Ia mengambil posisi idealnya, kebetulan masih ada. Yup, nomor 4 dari depan, di sisi tempat supir berada. Entahlah, posisi itu adalah kesukaannya ketika naik bis. Kecuali busway tentunya.

Perjalanan keputusan itu berlanjut, dan baru ada satu poin dari semesta. Ray mencatat itu dengan baik, sambil berharap ada pertanda lain yang memungkinkannya untuk segera memutuskan.

Lelap menjadi teman Ray sepanjang perjalanan melewati Secang, Ambarawa, Ungaran, dan seterusnya. Ia mulai terjaga ketika deretan kaleng biskuit ukuran raksasa tampak di sepanjang jalanan.

“Mau sampai,” bisiknya.

Pandangan Ray menuju ke langit, mendung menggantung manja disana. Dalam hati ia berdoa semoga hujan tidak akan cepat-cepat turun.

“Banyumanik!” teriak kondektur bis Patas AC itu.

Ray dan beberapa orang lain bergegas turun. Dan ketika kakinya menapak di tempat yang bernama Semarang itu, ia mulai keder. Bukan keder karena ia baru pertama kali menginjakkan kaki ke kota dan tempat ini. Tapi keder pada tanda yang hendak semesta tunjukkan padanya.

“Udah jauh-jauh juga. Lanjut!” katanya dengan lembut sambil berjalan ke arah utara.

Kembali GPS menjadi andalan. Ia lagi-lagi mengetik nama sebuah hotel dan kali ini tampaknya GPS kurang berjodoh dengannya. Tempat itu tidak cukup dekat, plus mendung yang kali ini menggantung tapi tidak sambil manja.

Ray memutuskan untuk berjalan kaki, kali ini dengan tempo yang lebih cepat. Langkahnya terus menyapu jalanan yang baru pertama kali diinjak seumur hidupnya itu. Melewati Museum Rekor Indonesia, Jamu Jago, Carrefour, dan kemudian KFC.

Ketika sampai persis di depan ADA, air mulai menetes perlahan dari langit.

“Ups…,” gerutu Ray sambil mempercepat jalannya. Ia bisa saja berlari, tapi akan menjadi pemandangan yang aneh di jalanan itu.

Air yang menetes itu mulai bertambah, sementara pengendara sepeda motor satu persatu berhenti untuk mengenakan jas hujan masing-masing. Sementara Ray masih saja terus berjalan.

Hingga kemudian, air di langit itu benar-benar tumpah. Ray menuju tempat berteduh terdekat, sebuah gapura. Ah! Tapi atapnya kecil sekali.

Ray melihat sekeliling dan melihat sebuah pos ojek, dan seorang tukang ojek melambaikan tangan padanya.

“Teduhan kene wae, Mas,” teriak tukang ojek itu.

Bahwa keras dan mirisnya ibukota mampu membuat Ray lupa bahwa kebaikan itu sejatinya masih ada, meski tidak di ibukota.

Tanpa buang waktu, Ray berlari ke pos ojek. Persis di saat yang sama, seorang tukang ojek dengan ponco masuk ke pos ojek itu. Maka, seketika sebuah ide terlintas di benak Ray, meminta untuk dieksekusi.

“Mas, ke hotel yang disana itu ya,” ujar Ray.

“Di belakang?”

“Di hotelnya, Mas.”

Ray langsung menelusup masuk ke dalam lindungan ponco. Sepeda motor itu melaju dan air yang tumpah dari langit masih pada eksistensinya. Sepeda motor itu melaju pelan, entah kemana. Sungguhpun Ray tidak tahu tempat itu, dan tidak tahu sejauh mana lagi hotel yang ia maksud.

Nyatanya memang dekat, tak sampai 5 menit sepeda motor ojek itu berhenti di sebuah tempat yang teduh. Tidak ada air menetes dari langit, tertahan oleh atap.

Ray membayar lebih untuk jasa ojek ini. Setidaknya jasa ojek masih JAUH lebih manusiawi daripada ojek yang pernah ia rasakan di kawasan industri, yang mematok harga gila untuk jarak yang teramat pendek.

Dengan tubuh basah, Ray masuk ke hotel. Secara muka dan aroma, ia jelas tidak tampak seperti orang yang mampu menginap di hotel. Tapi terlepas dari itu sesungguhnya ia mampu.

Sebuah kamar dengan harga yang cukup mahal ia ambil. Ray ingin menikmati perjalanan keputusannya dengan nyaman. Kalaulah pertanda semesta itu masih dalam tanda tanya, setidaknya ia masih bisa menikmati hidup. Kalaulah pertanda semesta itu lantas buruk, setidaknya ia masih bisa menghibur diri.

Lelah berjalan cukup jauh, tubuh Ray kembali terkapar manis di ranjang yang jauh lebih empuk. Tentu tidak lupa mengetik sebuah pesan singkat.

Dua jam berlalu.

Ray bangkit, menyalakan TV dan AC yang sedari tadi belum menjalankan fungsinya. Sesudahnya, tangannya kembali ke handphone yang ternyata…. tidak ada pesan singkat apapun.

Tidak berbalas.

Ray beranjak ke WC. Menikmati setiap fasilitas di hotel itu penting karena sejatinya itu semua dibayar. Ray akan selalu mengeksplorasi semuanya jika itu adalah hotel yang dibayar sendiri. Kalau hotel yang dibayari kantor, tentu tidak terlalu jadi beban di pikiran.

Ray kembali, dan masih berharap ada sesuatu di handphone-nya.

Tangannya membuka lock tombol.

1 Unread Message

Ray hampir bersorak sebelum kemudian ia sadar kalau kamarnya terletak di dekat sisi ramai hotel ini. Sebuah pesan balasan yang diharapkan tadi diterima juga!

Dengan harapan yang lebih tinggi, Ray mengirimkan pesan lagi, ke tujuan yang sama.

Harapannya tinggi dan terus membumbung naik seiring terkirimnya pesan singkat itu. Ray duduk tidak jauh-jauh dari handphone yang sedang diisi power-nya itu sambil menonton televisi.

Lima belas menit, tidak ada pertanda dari handphone itu.

Tiga puluh menit.

Satu jam.

Dua jam.

Dan hari sudah jam 9 malam. Harapan yang tadinya tinggi itu perlahan menurun, jatuh, dan lantas terkubur.

Ray terlentang di kasur yang empuk sambil berkata, “dua poin dari semesta.”

* * *

Pagi hari di hotel yang dibayar sendiri tentunya bernama breakfast semaksimal mungkin. Ray segera turun, menuju tempat breakfast di pinggir kolam renang dan meminta segala yang mungkin dipesan. Ada dua hal, ia benar-benar lapar atau itu hanyalah kamuflase atas dua pertanda dari semesta yang muncul dua hari sebelumnya.

Sesudah mengisi perut, Ray lantas menuju kamar kembali lalu bergegas mandi. Tidak cukup lama, ia kemudian sudah siap menempuh perjalanan yang mungkin akan menjadi pertanda kemenangan semesta atas perjalanannya.

Ray keluar hotel dan berjalan ke arah selatan. Sebuah pemandangan unik ada di depan markas tentara di seberang jalan. Bukan markas tentaranya, tapi beberapa pohon dan banyak hewan–entah burung entah angsa–yang berumah dan berkeliaran di atas sana.

Ini indah.

Langkah Ray terus melaju di pinggiran jalanan yang penuh kendaraan melaju kencang itu. Kaki-kakinya terus menuju sebuah tempat yang dianggapnya peraduan terakhir dalam perjalanan keputusan ini. Jika kali ini semesta juga berkata TIDAK, maka sampailah Ray pada penantian kesimpulan.

Semakin dekat dengan rumah yang ia tuju, hatinya semakin deg-degan. Langkahnya menjadi pelan dan gontai. Tapi sepelan-pelannya langkah itu akhirnya sampai juga pada tujuan. Mendadak jarak menjadi sedemikian dekat.

Ray berdiri di depan sebuah rumah. Hanya berdiri.

Pandangannya terlempar ke sekeliling dan memastikan bahwa rumah ini sama persis dengan sebuah alamat yang pernah masuk sebagai pesan singkat di handphone-nya. Ia tak perlu mengeceknya karena sudah hafal benar alamat rumah itu pada kali pertama membacanya.

Bahwa cinta kadang membuat logika berantakan.

Ray masih berdiri, langkahnya berhenti. Niatan untuk masuk dan mengetuk pintu tercekat hanya 2 meter dari depan pintu. Dua meter yang ternyata jauh lebih sulit daripada ratusan kilometer yang dilaluinya sebelum sampai ke tempat ini.

Hingga kemudian keberanian itu secuil muncul. Langkahnya menembus dua meter yang sulit itu hingga kemudian tangannya mengayun ringan.

“Tok.. Tok.. Tok..”

Ketukan halus, tanda lemas. Satu kali percobaan tanpa jawaban.

“Satu lagi, berarti tidak,” bisik Ray sambil kemudian mengayun tangannya untuk percobaan kedua.

“Tok.. Tok.. Tok..”

Satu menit.

Lima menit.

Tujuh menit.

Dan sunyi masih ada disana.

Ray mundur teratur dan membalikkan tubuhnya. Ia menengadah ke langit dan bergumam, “Sudah tiga dalam tiga hari. Oke semesta menang.”

Semesta menang, keputusan itu akhirnya dibuat.

* * *

“Mangkang habis!”

Kaki kiri Ray menginjak terminal Mangkang. Sebuah tempat yang menjadi jalannya untuk pulang, kembali ke rutinitasnya, dengan sebuah keputusan.

Ray menatap lurus menerawang di jalur bis tempatnya menanti. Seketika bak ada pemutaran film layar lebar disana.

Terlintas tahun-tahun yang berlalu bersama si pemilik kapling hati itu. Mulai dari pertama kali bertemu, berkenalan, dan akhirnya Ray jatuh cinta.

Semuanya terjadi dengan sederhana meski tidak berdampak sama sederhananya. Jatuh cinta itu adalah kecelakaan yang indah, yang mungkin akan jadi buruk jika terjadi pada saat atau objek yang tidak tepat.

Ya, ini memang tidak tepat.

Ray sadar soal ketidaktepatan itu dan kemudian memilih menyimpan rasa itu hingga bertahun lamanya, hingga membatu dalam hatinya.

Sebuah rasa yang kemudian tidak bisa dibunuh karena ia tidak pernah dilahirkan. Tidak lahir, tapi sudah hidup dan menghuni ruang besar di hati Ray.

Segala momen kebersamaan itu berseliweran bersama bis-bis yang silih berganti lewat. Satu per satu.

“Bejeu!”

Sebuah bis warna hitam yang dinanti akhirnya tiba. Ray bergegas berdiri dan film yang diputar tadi seketika selesai. Ray masuk via pintu tengah dan menuju kursi yang kali ini bukan favoritnya.

Ia duduk, mengatur kursi, dan lantas memejamkan mata.

“Aku memang tidak boleh mencintai kamu. Dan semesta sudah memberi pertanda itu. Sekarang, aku tidak lagi orang yang mencintaimu. Aku hendak menjadi orang yang PERNAH mencintaimu.”

Sebuah lafal dalam hati Ray. Sebuah lafal yang menjadi kesimpulan dari perjalanan keputusan. Tak lupa Ray memberi catatan khusus dalam kesimpulannya.

Tapi tempat di hati ini tetap milikmu.”

Polbek – Prolog

Jogja panas walaupun sudah sore-sore sendu. Sebuah kipas angin dari jaman batu masih setia bertiup ke satu arah. Yah, benda itulah satu-satunya penyejuk di kamar kosku yang sebenarnya nggak kecil-kecil amat, tapi mendadak kecil karena seluruh kenangan hampir 8 tahun disimpan di ruangan yang sama. Kipas itu aku beli di pekan pertama aku menjadi penghuni Jogja, itu sudah hampir 8 tahun yang lalu. Waktu itu aku baru masuk SMA, sekarang sudah lulus kuliah. What a long time.

Sebuah kemeja hitam lengan panjang terhampar manis di depanku. Sebuah setrikaan model jadul juga sudah mengambil posisi siap sedia. Kipas, kemeja, setrika, dan aku. Oh, kelupaan. Ada juga sebuah monitor yang merangkap layar televisi dengan bantuan TV Tuner. Sungguh sebuah sore hari yang kelam bagi anak kos.

Aku melihat jam, dan sudah mendekati angka 6. Aku lantas mulai mengintimkan hubungan kemeja hitam dengan setrikaanku. Dalam suasana yang hangat mereka bercumbu. *ini apaan sih?*

Dalam waktu yang tidak lama lagi, aku yang adalah seorang PENGANGGURAN, akan berangkat ke Bandung dalam rangka wawancara kerja. Minggu lalu aku ditelepon sebuah perusahaan yang lumayan wahid, kurang dari 24 jam sesudah aku memasukkan aplikasi via seorang kakak kelas. Ya, namanya juga usaha cuy!

“Peluklah diriku dan jangan kau lepas….”

Sebuah lagu dari Alexa yang berjudul “Jangan Kau Lepas” tiba-tiba terdengar. Itu sudah pasti dari handphone baruku yang sebenarnya berwujud lebih mirip remote AC karena kecil dan warnanya putih. Untung nggak ada AC di kamar ini, jadi nggak akan ada kejadian tertukar antara HP dengan remote AC.

Kucari-cari HP yang kubeli karena merupakan HP Slide yang paling murah itu. Tubuhnya tertindih bantal di atas kasurku. *ini apa pula sih?*

Sebuah nomor, 021, meneleponku sore-sore begini. Ada apa gerangan?

“Selamat sore.”

“Iya, Mbak. Selamat sore.”

“Maaf menelepon sore-sore.”

“Sudah saya maafkan, Mbak.”

“……”

Oh, oke. Yang sebenarnya bukan begitu. Lagian mana berani saya bilang begitu? *yang bener aja*

“Mau memberitahukan, setelah kami diskusikan dengan user hasil wawancara kemarin, maka kamu diterima. Sekarang bisa kita jadwalkan untuk medical check up?”

Berasa dunia ini berputar. Yah, 3 minggu yang lalu aku interview di sebuah perusahaan dan sepulang dari sana, aku tergolek lemah seharian gegara nggak ada telepon konfirmasi dari perusahaan itu. Ya sudah, aku bermaksud pasrah dan tawakal pada kegagalan yang kesekian itu. Ketika aku sudah lupa, sudah tidak berharap, eh dia nongol lagi. Lebih oke lagi ketika harapan itu kembali persis ketika aku sedang menyetrika baju guna interview besok di Bandung.

Ini kerjaannya semesta pastinya.

Telepon sore itu adalah pembuka semua jalan yang lantas ada di depan. Aku menerima tawaran itu dan bergabung dengan perusahaan farmasi yang terkemuka, di sebuah kota bernama Palembang.

* * *

Aku punya cukup banyak aset ketika jadi anak kos. Sebuah sepeda motor yang umurnya baru 1,5 tahun tersedia. Sebuah desktop lengkap juga ada. Tapi aku juga punya adik yang butuh desktop itu, dan adik lainnya yang butuh sepeda motor itu.

Maka, kutinggalkan semuanya di Jogja.

Dan aku memulai semuanya di Palembang, nyaris tanpa apa-apa. Aku menjadi pelanggan rutin warnet di dekat kos-kosan. Aku juga pelanggan setia angkot hijau Ampera-Lemabang. Aku tentunya juga menjadi nebengers sejati. Ya, nyaris nggak modal pokoknya. Aku menjalani hari-hari yang sulit tanpa segala fasilitas yang bisa memudahkan itu, dan syukurlah kalau aku akhirnya masih bisa SURVIVE.

Sampai suatu hari tiba: gajian plus bonus tahunan.

Sejumlah uang yang cukup besar bagiku, kini siap memberiku kelengkapan hidup. Sebuah nominal yang sudah kurencanakan peruntukannya, sebuah angka yang akan mengubah hidupku.

Maka aku memulai perjalanan dengan membeli sebuah TAS.

Macam Macam Settingan HP Kaum Jomblo

Pernah nggak sih ngelihat handphone seseorang bergetar sepanjang hari? Pernah melihat handphone yang bersuara (juga) sepanjang hari? Atau ada yang sepanjang waktu asyik dengan handphone-nya? Nah, jangan salah, diantara manusia-manusia yang sedang asyik dengan benda mini itu, sejatinya banyak juga yang jomblo.

Dannn… hal itu bisa juga diketahui dari setting yang dibuat di HP-nya.

Loud Pake Banget

Settingan ini berlaku untuk jomblo yang saking lamanya tidak melakukan pendekatan atau didekati sama orang lain. Saking lamanya, kadang-kadang lupa kalau punya HP. Nah, dalam rangka agar tidak lupa kalau punya HP, maka dibuatlah setting yang Loud maksimal. Model begini juga ditujukan agar orang sekitar tahu kalau dia menggunakan HP-nya, selain sebagai ganjalan pintu atau untuk melempar anjing galak.

Settingan ini ternyata juga berguna agar tampak heroik di depan khalayak. Semisal nih, untuk sebuah SMS, dibuat ringtone lagu “Jatuh Cinta” full utuh. Jadi, meskipun itu cuma SMS dari operator atau sekadar nawarin kartu kredit, tetap berasa ada yang nelpon *soalnya ringtone-nya lamaaaaa dan gedeeeeee*

Getar Kagak, Bunyi Apalagi

Ini berlaku untuk jomblo-jomblo yang baru putus, atau yang jadi korban PHP, atau yang mulai pasrah pada kejombloannya. Kalau yang baru putus tentunya karena biasanya itu HP nggak pernah berhenti bergetar, eh tahu-tahu sepi. Guna menghilangkan kesan itu, maka mode getar-nya juga di off sekalian. Sunyi banget mengandalkan backlight jadinya. Mode ini sangat irit sama batere. Tapi jadi nggak irit karena meskipun sudah diset tanpa getar dan bunyi, pasti itu tangan dikit-dikit langsung pegang HP dan sekadar mengecek apakah ada BBM atau Whatsapp atau SMS atau–yang paling diharap–panggilan telepon dari mantan pacar/mantan PHP/mantan gebetan.

HP Off Dengan Sendirinya

Ini karena benar-benar jomblo, nggak ada gebetan, nggak ada yang didekatin, nggak ada yang di-sepik, nggak perlu HP-lah pokoknya. Jadi itu HP akan mati ketika batere-nya habis. Maklum, nggak pernah diapa-apain, jadi nggak rajin juga yang nge-charge. Nanti giliran ada yang nyari, mau ngajak arisan misalnya, baru deh sadar kalau “lu kok ga bisa dihubungin?”. Sesudahnya, ya bakal sama lagi.

Homescreen Foto

Rerata jomblo ngenes akan menggunakan teknik pemujaan jenis ini. Jomblo biasa tidak sampai ke level ini sih, karena memang spesial untuk jomblo ngenes. Jomblo ngenes adalah kolektor foto yang handal dari FB dan Twitter dan kemudian memilih salah satu foto dan lantas dijadikan homescreen. Ini juga berlaku untuk jomblo yang kangen/masih sayang sama mantannya. Jadi deh itu foto mantan dijadikan homescreen. Hmmm, jadi bisa dengan mudah melihat masa lalu yang ‘kelam’ itu.

Akses Cepat Untuk BBM/Whastapp

Kan ada nih, kalau di Android memindahkan beberapa menu ke homescreen. Jadi deh, aplikasi BBM dan Whatsapp itu ditaruh di depan, jadi kalau pengen lihat kapan terakhir kali gebetan/mantan buka BB atau WA, bisa segera menuju aplikasi itu. Dannn, biasanya lagi gebetan/mantan ada di list paling atas. Dan paling ngenes adalah rerata pesan BBM atau Whatsapp itu dikirim, diterima, dibaca, dan TIDAK dibalas.

Yah, demikian macam-macam settingan HP kaum jomblo. Tulisan ini hanya hiburan semata *kalau dianggap menghibur*

Cemungudhh Kk…

Pilihan Hati

“Lu putus bro?”

Panji hanya mengangguk pelan dengan tatapan mata menerawang ke langit ke tujuh.

“Ngapain lu pake acara putus segala?”

Berondongan pertanyaan masih nggak berhenti keluar dari mulut Bara yang semakin tajam melotot ke muka Panji. Padahal Panji-nya matanya ke langit. Ini semacam pandangan tak berguna.

“Udah nggak cocok bro!”

“Jiah, gue sebagai yang merekomendasikan lu sama Cindy, merasa terhina nih. Dari nama aja udah cocok tuh. Pan dan Ji, Cin dan Dy. Mukanya dia juga bukannya pasaran, cakep abis.”

“Gue yang putus kenapa lu yang rempong, Bar?”

“Lha, abisnya, gue kan ikut andil, tanggung jawab nih.”

“Udahlah, bro. Udah putus, selesai, titik.”

“Nggak ngerti gue,” ujar Bara sambil berdiri dan meninggalkan Panji sendirian dengan tatapan mata yang masih ke langit, entah mencari apa ia disana.

Panji terdiam, tangan kanannya memegang tepat di depan heparnya.

Sementara Bara, masih bergumam sepanjang jalan, “Kurang capek apa coba, kurang baik apa pula, bodoh banget tu bocah.”

* * *

“Dapat salam tuh, dari Chika,” ujar Bara sambil melihat telepon genggamnya, “Salam balik nggak?”

“Nggak usah,” jawab Panji, singkat-dalam-tenang.

“Songong banget jadi laki boz!”

“Biarinlah.”

Dan Bara hanya garuk-garuk kepala, tak habis pikir.

* * *

“Ini pada ngomong apa sih? Gue yang jomblo aja biasa wae,” kata Panji sambil menyeruak dari balik kerumunan lelaki-lelaki yang bersuat-suit pada rombongan gadis-gadis manis yang baru lewat.

“Ya iyalah, lu jomblo songong,” timpal Bara.

“Apa coba?”

“Nah, yang mau banyak, nggak mau. Punya pacar oke, diputusin. Labil ah.”

“Ah, itu perasaan Om Bara saja.”

“Huuuu….”

Panji, Bara, dan yang lainnya menikmati saat-saat pemandangan bagus ciptaan Tuhan itu lewat. Semuanya tampak biasa saja sampai kemudian lewatlah Atha.

Panji tetap berupaya mengimbangi teman-teman lainnya, tapiiii… tatapan matanya tidak bisa menipu kalau ia lebih dari sekadar mengamati seorang gadis yang sedang lewat. Tatapan ini punya kandungan nilai yang jauh lebih dalam.

“Cieeee, yang mantannya lewat,” teriak Bara sambil menyenggol Panji.

Yang disenggol hanya terdiam.

* * *

“Daripada perkara hati kita berkelanjutan, lebih baik kita sudahi saja ya Mas.”

Kalimat miris itu terucap dari bibir manis Atha, diselingi suara hujan, dan hawa panas kopi yang baru saja mampir di meja.

“Bener juga sih, Tha.”

“Ya, gimana Mas. Aku sayang sama kamu, banget. Tapi faktanya kan kita nggak bisa bersatu. Daripada kita memupuk cinta ini sampai besar, nanti akhirnya dipotong juga. Berbahaya jika diteruskan.”

Panji terdiam selagi aroma kopi menembus hidungnya, menuju alveoli di paru-parunya dan memberikan makna lain terhadap pehamaman sebuah perkataan.

“Semoga demikian, Tha. Semoga perkara hati ini bisa kita atasi. Kadang dia nggak bisa dibohongi soalnya,” ujar Panji sambil tersenyum.

“Yah, semoga ya Mas.”

Keduanya tersenyum, perbedaan ini memang tidak bisa disatukan. Kadang jadi lucu ketika perbedaan yang adalah ciptaan Tuhan justru menjadi hal yang tidak bisa mempersatukan sesama ciptaan Tuhan. Apa yang telah direncanakan Tuhan untuk dipersatukan, nyatanya bisa dipisahkan oleh perbedaan yang mendasar.

* * *

“Kalau mau jujur, aku nggak bisa melupakanmu, Tha.”

Panji menarikan jemarinya di atas keyboard, menuliskan sebuah pesan pribadi di Direct Message Twitter

Jari-jarinya menari lagi di kolom Tweet, baris-baris kata kembali terbentuk, “Ada banyak hal yang mudah, tapi hati memilih yang sulit.”

Tweet!

Dan kalimat ini muncul di timeline.

Sebuah notifikasi masuk ke Twitter Panji, dan sebuah balasan DM.

“Aku juga, Mas. Mungkin hati kita memang sudah memilih yang sulit.”

Panji tersenyum membaca balasan itu. Sederhana, punya makna dalam di hati, tapi nyatanya tak akan memiliki makna di realita. Kadang hati memang seperti itu. Dan kebetulan, kini Panji yang mengalami perkara bernama “pilihan hati”.

* * *

Kontraktor

Sesungguhnya saya punya masa kecil yang maha asyik. Kenapa? Karena saya punya banyak kenangan dengan banyak rumah, sejak lahir hingga kelas 3 SD. Ah, cuma 8 tahun kan ya? Well, 8 tahun mungkin sebuah rentang waktu yang singkat, dan saya bersyukur itu bisa berhenti di angka 8. Tapi dalam 8 tahun tumbuh kembang saya, kemudian muncul berbagai cerita.

Kenapa saya punya banyak kenangan dengan banyak rumah? Ya, semata-mata karena orang tua saya memilih untuk mengontrak rumah sebagai pemenuhan kebutuhan primer keluarga. Sesederhana itu kok.

Nah, kemarin waktu mudik sejenak, saya mencoba menapaktilasi beberapa kenangan yang saya punya dalam rentang waktu hidup 8 tahun itu.

Rumah pertama keluarga kami ada di Inkorba, saya pernah sekali ditunjukkan rumah itu tapi tidak bisa mengingat letak rumah itu sebenarnya karena ya memang saya terlalu kecil untuk ingat. Jadilah saya tidak pergi ke rumah itu, karena memang tidak tahu.

Rumah kedua yang dikontrak oleh orang tua saya terletak di dekat kantor walikota Bukittinggi. Saya aslinya ya nggak ingat, tapi ketika Bapak bilang bahwa rumah di Belakang Balok ini nggak jauh dari kantor walikota, saya pun segera ke tempat itu, dan ada lah sedikit memori yang masih nyangkut. Setahu saya, periode tinggal disini sekitar 1988-1989. Well, umur yang belum bisa mengingat apapun. Hehehe.. Dan karena itu saya juga nggak tahu pasti rumahnya yang mana, saya coba ambil foto salah satu rumah saja, karena lainnya mirip kok.

image
dokumentasi pribadi

Kemudian keluarga kami pindah ke sebuah rumah di jalan Guru Hamzah. Fotonya ada di bawah ya nanti. Rumah ini terdiri atas 2 bagian, depan dan belakang. Pada sesi 1, sekitar 1990-an, kami tinggal di rumah bagian depan (lihat fotonya di bawah nanti). Tidak cukup lama juga sih.

Rumah berikutnya tidak jauh dari rumah lama, letaknya tak jauh dari Simpang Tarok. Di rumah ini saya mulai merekam berbagai memori. Bagian terburuk dari semuanya adalah, dari sederet rumah yang ada, hanya ada 1 tempat buang air besar. Sungguh saya harus bilang WOW kalau sekarang, tapi kalau dulu ya biasa aja. Tempatnya bahkan teramat mungil hingga berdiri pun tidak bisa. Di rumah ini pula keluarga kami berbagi sumur dengan tetangga. Pernah pula ada kasus pintu tidak bisa dibuka, dan yang terjadi kemudian adik saya masuk ke rumah melalui sumur tetangga. HEBAT! Oya, di rumah ini pula saya terserang vertigo untuk pertama kalinya 😦

image
dokumentasi pribadi

Nah, rumah di bawah ini adalah rumah yang dikontrak (berikutnya). Kalau dulu di bagian depan, ya yang ada seng hijau itu. Itu rumah depan. Pada sesi dua disini keluarga kami mengontrak di bagian belakang dengan kondisi yang *ehm* mungkin bisa dibilang parah. Hal yang paling saya ingat adalah ketika malam hari, mati lampu, dan ember berserak dimana-mana karena atap pada bocor.

image
dokumentasi pribadi

Rumah kontrakan terakhir keluarga kami ada di Kompleks Kehutanan Bukittinggi. Saya berputar-putar dulu sebelum akhirnya sampai ke tempat ini kemarin. Tentunya karena kondisinya sudah sama sekali lain. Jalan masuk kompleks yang dulu luas semakin menyempit oleh pembangunan pasar. Nggak ada lagi akses langsung ke ‘tabek’ tempat warungnya nenek si Sari. Setahu saya, kami tinggal disini sekitar 1994 karena ingat bener bahwa mulai nonton Piala Dunia disini, dan saya menyaksikan Roberto Baggio menendang ke atas gawang (gagal masuk). Itu kan final Piala Dunia 1994?

Rumah ini mungkin paling ironis, atau mungkin menjadi ironis karena usia saya sudah semakin besar untuk bisa mengingat sesuatu. Ya, di rumah ini saya kenalan sama lipan karena seringnya hewan ini masuk rumah. Di rumah ini juga saya kembali bertemu dengan kondisi WC bersama untuk buang air besar. Bahkan sering kejadian WC bersama itu mampet. Dan, terjadilah, harus cari akses lain untuk sekadar buang air besar. Hufftttt… Di rumah ini juga saya punya 1 ruangan yang saya takuti, letaknya antara kamar dan dapur, dan digunakan untuk meletakkan rak sepatu. Entah kenapa, saya ngeri setiap kali memasuki ruangan itu.

Tapi, di kompleks inilah saya menemukan makna berteman. Satu-satunya pergaulan publik yang terjadi selama tinggal di rumah, ya di kompleks ini. Saya ingat dulu tetangga depan rumah punya warung, saya suka beli godok atau permen yang bungkusnya mirip rokok.. Hehe.. Tapi yang paling diingat tentu saja tetangga sebelah rumah, namanya Ade, yang cantik jelita pada usia itu. Hahahahaha..

Saya sempat pangling dengan suasana rumah sebelum kemudian saya melihat ke bagian belakang rumah. Dan benar, saya ingat benar, pernah tinggal di tempat ini setelah melihat bentuk di bawah ini.

image
dokumentasi pribadi

Tahun 1995, keluarga kami pindah ke sebuah rumah kecil, yang syukurlah, milik sendiri. Cicilannya belasan tahun, dan sepertinya sih belum 2-3 tahun ini lunasnya. Hehe..

Saya mencoba menapaktilasi semuanya, karena ini adalah milestones diri saya dan keluarga. Saya berada dalam posisi membangun semuanya, seperti yang dialami oleh orang tua saya dulu. Saya ingat bagian-bagian perjuangan orang tua saya mempertahankan kehidupan anak-anaknya, dengan gaji yang (waktu itu) nggak seberapa.

Well, ketika kemudian orang-orang selalu menuntut gaji jauh lebih besar, saya lantas teringat proses saya bisa menjadi sarjana, lalu apoteker, lalu seperti sekarang ini. Semuanya proses yang tidak mudah, tapi nyatanya bisa. Lalu saya bertanya, apakah kita harus selalu menuntut tanpa kemudian memilih berusaha terlebih dahulu?

Kontraktor adalah kisah masa kecil saya, dan saya ingat ketika adik saya pernah bilang, “Mak, ini terakhir kali kita pindah kan?”

Ah! Sebuah masa lalu memang untuk DIKENANG, bukan untuk DIULANG.

🙂

Yang Berbeda Hanya Waktu

Ini tentang rasa itu
Ini soal  rasa yang kusebut cinta
Ini soal hati yang telah memilih

Ini juga tentang semua yang telah terjadi
Ini juga soal semua yang telah kita lewati
Ini masih mengenai hubungan rasa dan waktu

Percayakah kamu, kalau tidak ada yang berubah?

Rasa itu tetap ada, tidak sedikitpun hilang
Bahkan ia membesar

Aku masih sama, Sayang!
Aku masih disini dengan rasa yang sama
Aku masih disini untuk mencintaimu

Entahlah
Aku hanya bisa menerka
Aku hanya bisa berharap
Aku bahkan sering bermimpi
Bahwa hal yang sama terjadi padamu

Kalaulah itu terjadi
Aku masih sama
Kamu masih sama

Yang berbeda kini hanyalah waktu
Dulu dan sekarang
Kini dan nanti

Ketika dalam mimpiku
Di dalam nanti itu
Akan ada “KITA”

-Senin Pagi, 081012-

Tulang Rusuk

Aku hanyalah pria yang hendak memberikan cinta yang sepenuhnya
Aku hanyalah pria yang selalu ingin kamu tersenyum
Aku hanyalah pria yang berharap kesedihan akan jauh dari dirimu

Aku hanyalah pria yang tidak meyakini kamu sempurna
Aku hanyalah pria yang meyakini jika kamu adalah yang terbaik
Aku hanyalah pria yang juga manusia biasa yang punya banyak salah
Aku hanyalah pria yang selalu berharap ada maaf untuk setiap ketidaksempurnaan

Aku hanyalah pria yang membayangkan masa depan bersamamu
Aku hanyalah pria yang selalu khawatir pada dirimu
Aku hanyalah pria yang rindu gelak tawamu
Aku hanyalah pria yang rindu suara kantukmu
Aku hanyalah pria yang membenci setiap tetes air mata kesedihan menetes dari bola matamu

Aku hanyalah pria yang berharap dapat mendekapmu dalam pelukku hingga kamu tertidur lelap disana
Aku hanyalah pria yang telah menemukan tulung rusukku, yang adalah kamu

🙂

Teman

Apa yang harus disyukuri dalam hidup? Pasti banyak, bahkan bisa hidup itu harus disyukuri dalam setiap tarikan nafas. Tapi terkait kemajuan zaman, saya bersyukur berada pada masa yang tepat.

Yah, saya baru punya FB dan HP yang bisa internet 3G (bukan 3gp) pada Desember 2008. Pada saat itu di FB baru ada bule-bule gila. Kalimat itu milik Lussy Dugonk yang waktu itu jadi 1 dari sedikit teman FB saya. Pada Desember 2008 saya memasuki masa-masa akhir studi.

Kenapa tepat?

Karena saya nggak kebayang kalau saya dalam masa studi dan saya sudah punya ponsel pintar plus akses linimasa. IP saya di kuliah yang sudah jongkok akan semakin jongkok, bisa tiarap malah.

Berikutnya, ya, memang saya termasuk kurang mengikuti zaman. Kalau yang lain sudah ber-BB ria, saya malah nggak. Saya setia pada sebuah benda yang saya beli di IP Palembang seharga 1,4 juta bernama LG GW300. Benda itu saya pakai terus sampai kemudian godaan muncul.

Era Android sudah masuk, dan saya termasuk ketinggalan. Nah, teman-teman saya mulai menggunakan aplikasi Whatsapp. Interaksi saya dengan teman-teman memang tidak banyak. Kenapa? Ya karena saya memilih untuk kerja di Palembang, jauh dari teman-teman di Pulau Jawa. Pada awal-awal kerja, sekitar Juli 2009, sempat ada sebuah forum bernama ‘Ngalor Ngidul’ yang isinya email-email kantor berbagai perusahaan farmasi di Indonesia dan isinya ngomongin nggak jelas *halah*

Forum itu perlahan punah seiring pindahnya beberapa orang sehingga mengurangi member forum.

Lalu beralih ke FB, ada sebuah pesan FB isi banyak bernama ‘Jangan Sampai Putus Kontak’, sempat ramai, lalu musnah lagi.

Ketika saya mendengar ada Grup Whatsapp antar teman-teman yang nggak jelas ini, saya mulai goyah. Memang sih, keypad si GW300 sudah memintanya untuk diganti. Akhirnya dengan uang arisan (yang untungnya masih selamat) saya membeli sebuah HP Android, paling murah.

Akhirnya saya join grup Whatsapp. Hore juga. Memang timbul tenggelam, kadang ada, kadang nggak. Wajar, orang kan punya kesibukan masing-masing.

Pas lagi di mobilnya Boriz, saat berhenti menunggu Robert di perbatasan kota Wonosari, dibuatkan sebuah grup Whatsapp bernama UKF DLN2. Dari mana aja udah kelihatan kalau yang buat malas, namanya aja ngasal. 🙂

Tapi kemudian di grup itulah, saya bisa tertawa ngekek sendirian di kamar, atau bahkan di kantor. Hanya sebatas kata-kata yang tertulis, tapi kemudian mampu menyunggingkan senyum hingga membuat tawa terbahak-bahak. Asli ngekek.

Yah, ada yang di Pangkalpinang, ada yang di Pontianak, dan berbagai tempat lainnya, tapi bisa bersatu bercanda bersama di sebuah layanan yang disediakan Whatsapp. Ini hiburan ketika hidup mlai semakin pelik. Membaca sebaris dua baris kalimat di grup itu setidaknya mampu membuat ngekek. Yah, hinaan itu paralel dengan tawa dan canda plus paralel dengan kebersamaan. Jadi satu, tidak terpisahkan. Mungkin inilah yang namanya teman.

Bukan begitu? 🙂

Kisah Kedua

Aku sedang asyik dengan ponselku ketika kudengar bunyi pintu dibuka. Kulihat seorang gadis masuk dan berdiri dua meter dari pintu. Aku bergegas menutup semua aplikasi yang kubuka dengan ponsel Android-ku dan kemudian bergegas memegang kertas order.

Gadis itu menuju sebuah meja di pinggir jendela. Aku melihat itu dari kejauhan dan bergegas menyusulnya. Bagaimanapun pelayanan kepada pelanggan itu sangat penting. Bagiku, kalau perlu pelanggan tidak perlu memanggil pelayan jika hendak melakukan pemesanan, biarlah pelayan yang mengerti maunya pelanggan.

“Selamat sore, Mbak,” sapaku ramah pada seorang gadis yang baru saja duduk. Aku segera menghampiri tempat dengan nomor 7 itu untuk menyambut pelanggan yang datang sendirian ini.

“Sore,” balasnya tak kalah ramah.

“Mau pesan apa?”

“Caffee Latte. Satu.”

Dengan sigap aku menuliskan pesanannya di kertas order yang kupegang. Sesudah selesai menulis ‘Caffe Latte’ aku bertanya kembali, “Ada lagi?”

“Itu dulu.”

“Baik, ditunggu ya Mbak.”

Aku segera berlalu dari meja nomor 7 itu dengan memegang sehelai kertas order. Aku melangkah pasti ke dapur untuk meletakkan kertas order. Sementara itu, aku kembali berdiri tegak di pos jagaku.

Aku seorang pemilik Café yang memposisikan diriku sebagai pelayan di tempat yang sudah dua tahun aku kelola ini. Tidak semua orang tahu kalau aku adalah pemilik, karena kalau briefing aku selalu memposisikan diri sebagai supervisor yang seolah-olah punya atasan lagi. Aku memang terbiasa melakoni itu sejak masih bekerja sebagai supervisor di perusahaan farmasi. Lima tahun melakoni aktivitas yang sama membuat pola itu terpatri dalam benakku sebelum kemudian aku keluar dan mendirikan Café ini.

Café yang aku kelola ini kunamai Cafi Café. Syukurlah, tempat ini cukup laris. Setidaknya aku selalu terkapar kelelahan setiap malam setelah Café tutup. Itu berarti aku memang banyak bergerak untuk melayani pembeli.

“Kringggg.”

Petugas di dapur membunyikan lonceng yang terpasang di tempat serah terima pesanan. Aku menoleh sedikit dan melihat sebuah gelas putih dengan asap yang mengepul tipis ada di tempat itu. Itu tanda pesanan sudah tersedia. Aku segera berjalan ke tempat pesanan diletakkan dan mengambil nampan serta kelengkapan lain untuk melayani pelanggan di meja nomor 7.

Sembari menyiapkan nampan dan kelengkapan lainnya aku melihat ke pelanggan di meja nomor 7. Sekilas kulihat ia adalah sesosok gadis muda yang lumayan cantik. Rambutnya lurus tergerai sampai ke pundaknya. Sebuah bando warna biru menempel dengan cocok di kepalanya. Kulitnya putih bersih membalut tubuhnya yang agak kurus. Dari tadi ia sendirian di meja nomor 7.

Perihal pengunjung yang sendirian, buatku bukan hal yang aneh. Itu pula sebabnya aku menyediakan lebih banyak meja yang hanya memiliki dua kursi daripada empat atau enam kursi. Aku mencoba memahami pelanggan. Sekarang begini, kalau kita naik bus formasi 2-2 pun, pasti kecenderungannya kita akan mencari tempat yang kosong terlebih dahulu agar bisa sendirian, meskipun itu letaknya jauh di belakang. Aku mencoba mengerti itu dan nyatanya memang tidak sedikit pengunjung yang datang ke Café ini hanya untuk duduk sendirian, minum kopi, merokok, asyik dengan laptopnya, dan kemudian membayar lalu pulang. Aku tidak dalam kapasitas hendak mencari tahu segala kegiatan pengunjung. Aku hanya mengamati segala sesuatu yang terjadi di Café ini.

Kuletakkan gelas putih dengan asap tipis penanda pesanan ini masih panas ke atas nampan. Kusiapkan sedotan kecil, sendok, dan dua bungkus kecil gula. Tidak lupa kuletakkan tisu berwarna putih dan bertuliskan Cafi Café di atas nampan. Pesanan ini sudah siap untuk diantarkan.

Aku melangkah perlahan di sela-sela meja-meja lainnya yang ada di Café ini dan segera sampai di meja nomor 7.

“Selamat sore, Mbak. Caffee Latte?” tanyaku ramah. Meskipun ini terkesan retorika karena aku juga yang menuliskan pesanan itu di kertas order, bagiku proses konfirmasi keinginan pelanggan adalah hal yang tidak kalah penting.

“Iya, betul.”

Kuletakkan nampan di atas meja dan mulai menyajikan segelas Caffee Latte di depan gadis itu. Sekilas kulihat sebuah bungkusan kecil terletak di kursi yang tidak ia duduki. Kulihat juga dua buah ponsel tergeletak di meja tempat aku menyajikan pesanan. Salah satu ponsel tampak masih menyala karena baru saja diletakkan oleh gadis itu ketika aku datang. Aku melihat home screen ala anak muda. Sebuah foto pasangan ada disana.

Masih dengan sekilas pandang aku menerjemahkan bahwa gadis itulah yang ada di home screen ponsel itu. Parasnya jelas mirip meski objek yang ada di home screen tidak mengenakan bando biru. Aku bisa melihat kesamaannya dari mata, hidung, dan bibir.

Foto home screen itu juga memuat sesosok lelaki yang menurutku tidak tampan. Kulitnya hitam, berbeda bermakna apabila kubandingkan dengan gadis manis di sebelahnya. Tangan si lelaki memeluk bahu si gadis. Latar belakang foto itu perlahan kukenali sebagai Sungai Musi karena aku melihat dengan jelas tulisan Ampera di antara dua kepala yang ada di foto itu.

Aku tidak asing dengan pemandangan itu karena aku pernah dua tahun bermukim di daerah yang terkenal dengan hidangan pempek itu. Berfoto dengan latar belakang Sungai Musi dan Jembatan Ampera adalah keasyikan tersendiri. Aku sendiri hendak bertanya latar belakang ke-Palembang-an gadis ini, tapi tentu tidak layak karena itu berarti aku sudah melihat home screen dari ponsel pengunjung. Aku menganggap ini sebenarnya tindakan kurang ajar. Jadi daripada aku harus bermasalah dengan pelangganku sendiri, biarlah aku melakukan penyimpulan atas sesuatu yang sejatinya tidak penting-penting amat ini.

Demikian yang tertangkap oleh mataku sebelum kemudian layar ponsel itu padam dengan sendirinya dan memasuki fungsi lock. Aku mengecek kembali layanan yang telah kuberikan kepada pelanggan di meja nomor 7 ini. Sepertinya tidak ada yang tertinggal.

“Sudah, Mbak. Ada lagi yang bisa dibantu?”

“Belum, Mas. Terima kasih.”

“Mari, Mbak. Selamat menikmati.”

Gadis itu tersenyum. Manis juga senyumnya. Setelah ia tersenyum padaku, belum pula aku berlalu, tangannya sudah kembali meraih ponsel yang sempat aku intip home screen-nya itu. Aku mencoba berdiri diam sebentar sambil mundur dua langkah menjauh dan melihat senyum yang lebih manis merekah dari bibir gadis itu sembari asyik dengan ponselnya.

Aku geleng-geleng kepala saja melihat ekspresinya. Sungguh riang dan sulit dijelaskan dengan kata-kata. Senyum tidak lupa menyertai gelengan kepalaku menyikapi kejadian sederhana yang baru saja aku lihat.

Badanku kembali berdiri di tempat aku seharusnya menunggu. Aku melihat pelanggan keluar dan masuk dari pintu koboi yang kupasang di Café yang aku kelola ini. Tempat ini memang mampu membuatku melihat banyak hal. Aku sering menemukan pasangan yang tentu saja berlainan jenis kelamin datang dan kemudian duduk berhadap-hadapan. Kadangkala keduanya bisa diam selama berjam-jam sampai beberapa kali melakukan pemesanan ulang minuman. Ada pula yang sampai berteriak lepas karena tampaknya terlalu gembira. Kutaksir itu sebuah proses penembakan atau bahkan lamaran. Sesekali juga kulihat tangis dari beberapa pelanggan sesudah obrolan panjang berjam-jam yang menghabiskan beberapa gelas kopi. Sungguh, berbagai macam suasana.

Suasana itulah yang menghidupiku di Café ini. Perlahan aku sadar kalau Café ini menjadi penanda penting bagi beberapa orang. Ya, ada beberapa pengunjung belia yang bilang kalau mereka baru saja jadian di Café ini. Aku juga sering mendengar kata “putus” ketika berjalan melewati sepasang kekasih yang sedang tegang. Ekspresi sejatinya memang tidak bisa menipu.

Aku juga pernah melihat proses lamaran informal di depan mataku sendiri. Waktu itu Café sudah hendak tutup sebelum kemudian seorang lelaki berlutut di depan pasangannya yang sedang berdiri kaku di dekat pintu Café. Ah, ada-ada saja dunia ini.

Itulah hal-hal manusiawi yang membuatku tetap menjadi manusia. Melihat hal-hal yang manusiawi sungguh mampu mempertahankan jadi diri kemanusiaaan kita. Aku sadari benar hal itu dan aku mencoba mempertahankannya dengan melihat kejadian-kejadian di Café ini. Hal-hal yang mungkin buat orang lain tidak penting, tapi menjadi sangat penting bagi yang melakoninya. Bukankah hidup memang seperti itu adanya?

Tampaknya Café sedang agak sepi, sehingga aku bisa berdiri agak lebih lama disini. Pandangku ternyata belum puas menyikapi objek di meja 7. Aku melempar pandangan ke sekeliling dan kenyataannya memang tidak ada objek lain yang bisa diperhatikan kecuali gadis yang memesan segelas Caffee Latte tadi. Tentu saja, aku memandangi lingkungan Café ini setiap hari selama lebih dari 8 jam. Setiap sudut dari Café ini sudah kuhafal. Jadilah aku butuh pemandangan baru untuk menyegarkan pandangku.

Ia cantik, aku sangat mengakui itu, setelah melihat wajahnya pada jarak yang lebih dekat dan sekaligus melihat fotonya. Hawa ceria jelas tampak begitu aku mendekatinya. Entahlah, tapi yang pasti pipinya menjadi merah merona, pandangannya menjadi terang benderang, sedangkan bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah ekspresi yang bernama senyum. Satu hal yang menjadi pertanyaan bagiku adalah ‘mengapa ia sendirian?’.

Gadis itu kini masih tersenyum, tapi dengan posisi yang berbeda. Ponsel yang dari tadi melekat di tangannya kini ada di atas meja. Tangan kirinya ada di atas meja sedangkan tangan kanannya menopang dagunya. Kepalanya beredar ke kiri dan ke kanan ditopang oleh tangan kanannya. Senyum masih tidak lepas dari bibir itu. Matanya seperti sedang mengamati satu demi satu objek di Café ini.

Kepalanya bergerak kecil tanpa tergelak begitu mengamati karikatur yang ada di atas pintu masuk. Itu karyaku sendiri yang kukerjakan selama semalam suntuk. Oh iya, semua pajangan yang melekat di dinding Café ini adalah karyaku sendiri. Aku betul-betul ingin Café ini penuh dengan sentuhan yang asli dari pemiliknya.

Kepalanya kiri semakin ke kiri. Lagi-lagi gadis itu tergelak melihat patung badut berdasi yang kuletakkan di sudut Café. Patung itu kubuat dengan posisi memegang sebuah papan. Disitulah aku biasa menulis promo-promo yang aku buat di Café ini.

Sudut kepalanya tampak sudah mentok ke kiri. Kini kepala itu beralih ke sebelah kanan. Gadis itu duduk di tepi jendela sehingga begitu ia melempar pandang ke kanan, maka yang terlihat adalah halaman Café. Satu hal yang kulihat tidak lepas dari kepala itu adalah senyum yang mengembang di bibirnya.

Tiba-tiba pintu masuk Café bergerak, seorang lelaki dan seorang perempuan masuk. Aku segera bersiap untuk melayani pesanan. Dua orang pengunjung itu masuk sambil bergandengan tangan. Ketika dua meter dari pintu, pengunjung perempuan berhenti dan memandang mesra pada pengunjung yang kutaksir adalah pasangannya itu.

Benar saja, begitu pengunjung yang laki-laki mendekat, pengunjung perempuan segera menggelayutkan tangannya ke leher pengunjung laki-laki sambil bertanya, “duduk mana, honey?”

Tidak bisa diragukan lagi, kalaulah bukan sepasang suami istri, keduanya adalah sepasang kekasih. Sapaannya sudah memperlihatkan kemesraan yang terjadi.

“Di situ aja, honey?” ujar pengunjung yang laki-laki sambil menunjuk meja nomor 6. Persis di sebelah gadis yang memesan Caffee Latte tadi.

“Boleh,” jawab pengunjung perempuan sambil menggandeng pasangannya menuju meja yang ditunjuk.

Pengunjung laki-laki itu segera menuju meja nomor 6 dan menarik kursi sambil mempersilahkan pasangannya duduk. Wah, romantis sekali, pikirku.

Thanks, honey,” kata pengunjung perempuan dengan suara yang terdengar manis.

Pengunjung laki-laki itu tidak menjawab, hanya langsung memegang dagu pengunjung perempuan itu selama sedetik. Ia kemudian menarik kursinya sendiri dan lantas duduk. Aku bergegas mendekati pasangan itu.

Sembari berjalan menuju meja nomor 6, aku melihat ke gadis di meja nomor 7. Paras ayunya menyiratkan sesuatu melihat pasangan yang sedang duduk di meja nomor 6. Senyum masih ada disana, tapi aku melihat hal yang lain. Semacam perasaan iri atau sejenisnya. Aku sedang berupaya mendefinisikan itu.

Aku pun sampai di meja nomor 6 dan segera melayani pelanggan yang tampaknya sedang dimabuk asmara itu.

“Selamat sore,” sapaku dengan ramah, “Mau pesan apa?”

“Kamu pesan apa, honey?” tanya pengunjung perempuan.

“Aku coklat panas aja. Kamu apa?”

“Apa ya? Aku bingung.”

Aku diam. Hal ini sangat biasa dalam pelayanan terhadap pengunjung perempuan. Seringkali mereka sulit memutuskan minuman yang hendak dipesan. Aku pun melirik sekilas ke gadis di meja nomor 7. Kulihat lirikan kecil di matanya. Ia melirik pengunjung di meja nomor 6. Bibirnya komat kamit menyebutkan sesuatu.

Mataku mencoba fokus pada gerak bibir manis itu. Kucerna sedikit demi sedikit. Ah! Akhirnya aku bisa menyimpulkan sesuatu. Dalam penafsiranku, komat kamitnya berbunyi, “mau pesan aja repot.”

Senyum simpulku keluar ketika berhasil mencerna ucapan gadis di meja nomor 7. Sungguhpun sejak keduanya masih di pintu, aku sudah merasa bahwa gadis di meja nomor 7 ini berpikir kurang baik. Bisa jadi kemesraan berlebihan ini menimbulkan iri hati, atau perasaan lain yang sejenis. Dan kini aku menemukan kalimat ketus yang sedikit banyak nyambung dengan konteks yang aku pikirkan.

“Apa?” tanya pengunjung laki-laki itu kepada pasangannya.

“Apa ya?”

“Sama aja ya?” tawar pengunjung laki-laki itu. Aku merasa ia sudah tidak nyaman membuatku berdiri diam selama lima menit sejak ia menyebut pesanannya.

“Iya deh,” ujar pengunjung perempuan dengan mata masih melihat ke menu. Aku—sedikit banyak—tahu perihal ini dan langsung melirik ke pengunjung laki-laki. Kudengar ia bergumam, “dari tadi kenapa?”

Aku kembali tersenyum dengan kejadian yang aku lihat. Yah, hal-hal semacam ini memang mampu menyunggingkan senyum. Untunglah pengunjung Café belum terlalu ramai sehingga aku masih bisa mengamati fenomena yang terjadi.

“Coklat panas dua ya Mas,” ujar pengunjung laki-laki.

“Ada lagi?”

“Itu dulu deh.”

“Baik, ditunggu ya Mas.”

Aku berlalu dengan membawa kertas order bertuliskan dua Hot Chocolate. Pesanan yang simpel tapi mampu membuat senyumku tersungging beberapa kali. Kertas order itu kuletakkan di meja serah terima. Aku—seperti biasa—kembali tegak di tempat semula dan kembali memandangi gadis cantik di pinggir jendela yang duduk manis di meja nomor 7 itu.

Kulihat ponselnya kini kembali ke tangannya. Jemarinya dengan lincah menekan keypad di ponselnya tersebut dan lantas memindahkannya segera ke telinganya. Oh, ia sedang melakukan panggilan telepon.

Satu kali, kulihat ponsel itu kembali ke tangan. Dua kali, jemari itu kembali menekan keypad yang ada di ponsel dan ponsel itu kembali berada di dekat telinga. Tidak lama, gadis itu kembali meletakkan ponselnya.

“Paling nggak diangkat,” gumamku. Lama-lama aku menjadi pengamat beneran dalam kondisi yang seperti ini.

Tampaknya gadis itu tidak lelah berjuang dan berusaha. Diambilnya ponsel yang satu lagi, dilakukannya hal yang sama, dan ponsel itu kembali berada di dekat telinganya, kali ini di dekat telinga kiri. Tidak lama kulihat secercah senyum muncul.

“Nyambung kalau begini,” bisikku ringan.

“Dimana lu?” Suaranya ternyata cukup besar untuk bisa kudengar di tempatku berdiri. Kulirik sedikit ke meja nomor 6, kali ini pengunjung perempuan yang merasa terganggu dengan suara panggilan telepon yang cukup besar itu.

“Oh, gitu. Iya nih, gue udah bawa hadiahnya kok. Sesuai yang lu bilang waktu itu.”

Aku masih mencoba mendengarkan dengan saksama. Badanku bersandar ke meja yang ada di depanku guna menunjang badanku yang agak condong ke depan.

“Kringggg.”

Bel di meja serah terima berbunyi. Dua gelas coklat panas sudah tersedia disana. Aku bergegas menyiapkan nampan dan berbagai kelengkapan lainnya. Di sela-sela itu aku masih mencoba mendengarkan percakapan gadis di meja nomor 7.

“Ya iyalah. Tiga tahun. Itu kalau umur anak udah masuk TK kali,” kata gadis di meja nomor 7 itu sambil lantas tergelak besar sekali. Aku yakin pengunjung di meja nomor 6 sudah semakin terganggu dengan percakapan telepon ini.

Apapun, itu hak setiap pelanggan.

Kubawa dua gelas coklat panas dengan nampan, berikut kelengkapan lainnya. Sedotan, tisu, sendok, hingga gula sudah ada di atas nampan itu.

“Nggak tahu tuh. Katanya sih sudah berangkat tapi ini gue BBM belum dibaca,” cerocos gadis di pinggir jendela dengan volume suara yang masih besar.

“Coklat panas?” tanyaku begitu sampai di meja nomor 6.

“Iya.”

Kuletakkan nampan di atas meja dan segera kupindahkan dua gelas berisi coklat panas ke depan masing-masing pengunjung Café itu. Tidak lupa sedotan, sendok, tisu, dan gula segera menyertai. Kulihat sekilas, dan aku merasa seluruhnya sudah terlayani, lalu aku bertanya, “Ada yang lagi bisa dibantu?”

“Sudah, Mas.”

“Baik, selamat menikmati,” tutupku sambil meninggalkan pasangan yang sedang asyik berbincang sendiri, namun volume suaranya kalah dengan meja sebelahnya itu.

Aku berjalan perlahan memutari meja nomor 6 dan menuju meja nomor 9 karena pelanggan yang sebelumnya ada disana sudah pulang. Aku perlu memberesi meja itu. Letak meja ini masih cukup dekat dengan percakapan telepon yang terang benderang terdengar dari meja nomor 7.

“Iya. Doakan saja. Siapa tahu aja gue langsung dapat cincin. Jadi gue bisa nyusul lu deh.”

Aku masih asyik dengan aktivitas mengelap meja nomor 9 dan mulai mencerna makna dari beberapa hal yang kulihat dan kudengar dari tadi. Senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, sebuah home screen ponsel, dan beberapa konteks percakapan membuatku kembali berusaha meyimpulkan sesuatu.

“Iya deh. Iya. Tenang aja. Eh, baby lu apa kabar? Nggak mau nambah?”

Percakapan telepon masih berlanjut, kali ini soal bayi. Ah, makin bingung aku. Lebih baik aku memang tidak menyimpulkan apapun dari percakapan ini. Daripada aku berpikir terlalu keras untuk hal yang sepertinya kurang penting.

Meja 9 sudah selesai kubereskan. Aku segera kembali ke meja tempatku menanti. Entah bagaimana ceritanya, percakapan telepon dari pengunjung di meja nomor 7 itu masih saja membuat kepalaku berputar. Yah, aku memang sering memikirkan hal-hal yang tidaklah perlu aku pikirkan.

“Oh begitu. Ya udah kalau begitu. Makasih ya. Bye.”

Gadis itu akhirnya menutup percakapan teleponnya. Ponsel hitamnya kembali mendarat di meja, bersebelahan dengan gelas putih yang kini tidak lagi mengepulkan asap tipis. Sudah ada durasi waktu yang cukup untuk membuat hidangan itu dingin dan bisa dinikmati. Kopi panas memang mempunyai pesona tersendiri, termasuk ketika kopi itu dicampur dengan berbagai varian yang menciptakan berbagai variasi rasa. Itulah yang aku jual di Café ini.

Aku melempar pandang lagi ke sekeliling. Sesekali berada di tempat ini hanya untuk mengedarkan mata ke kiri dan kanan bisa membuatku bosan. Tapi tidak kali ini. Setidaknya aku mendapatkan suatu puzzle sederhana yang bisa membuatku kehilangan rasa bosan.

Pandanganku sedang asyik menatap karikatur yang kubuat persis di atas pintu koboi ketika pintu itu terbuka. Seorang laki-laki mendorong pintu itu dengan keras dan masuk ke dalam Café. Hampir sama seperti pengunjung lainnya, ketika masuk ke dalam Café, yang pertama kali dilakukan adalah berdiri dua meter dari pintu dan memandang ke sekeliling. Laki-laki yang baru masuk ini pun melakukan hal yang serupa.

Aku mulai bersiap-siap untuk melayani pengunjung yang satu ini. Seperti aku bilang tadi, aku terbiasa dengan pelanggan perorangan. Mereka inilah yang biasanya menghabiskan lebih banyak waktu di Café alih-alih orang yang datang berdua atau lebih. Mereka ini biasanya mencoba menikmati hidupnya dengan kesendirian. Setidaknya itu kesimpulanku hingga saat ini.

Pengunjung lelaki itu kemudian menatap terpaku ke meja nomor 7. Edar pandangnya berakhir di titik itu, persis di tepi jendela. Badannya terdiam selama beberapa detik sebelum kemudian kulihat senyum terbentuk di wajahnya.

Aku mulai merasa aneh. Perasaanku bilang kalau aku pernah melihat orang ini. Tapi perasaanku juga gagal menjawab pertanyaan perihal tempat aku pernah melihat orang ini. Aku malah jadi bingung sendiri.

Lelaki itu kemudian berjalan bergegas menuju meja nomor 7. Pengunjung di meja nomor 6 melirik sedikit, tapi sepertinya mereka sedang asyik dengan dunianya sendiri. Gadis di meja nomor 7 mendongak dari keasyikannya dengan ponsel yang sedari tadi melekat di tangan. Mulutnya sedikit membuka, pandangannya kosong. Perlahan mulut itu melengkung membentuk senyum yang sama manisnya dengan yang kulihat sedari tadi.

Hal yang kulihat memang sederhana. Pandangan mata itu menjadi ceria. Pipi gadis itu menjadi merah merona. Senyumnya menjadi merekah indah. Aku masih berusaha menyimpulkan semuanya.

* * *

Bahkan saya sendiri nggak paham apa inti cerita sepanjang ini -___-“