All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Perjalanan Keputusan

“Bruummmm…”

Raungan sepeda motor begitu membahana begitu memasuki ruang sempit di kos-kosan Ray. Bahwasanya Tuhan tidak lagi menciptakan tanah adalah sebuah kendala tersendiri buat anak kos. Kenapa? Ya, pemilik kos-kosan dengan asoy geboy membuat kos-kosan dengan fasilitas tempat parkir yang minim abis. Dan karena faktor biaya, tetap saja ada anak kos yang akan menyewa tempat meski parkirnya minimalis begitu.

Ray turun dari sepeda motornya dengan gontai lantas memarkir kendaraan miliknya itu mepet-mepet. Ya memang harus mepet karena ada 10 sepeda motor lain yang ada di kos ini. Semua perlu tempat.

Bahwa tempat parkir kos ini adalah anomali di hati Ray. Ketika disini ada muatan tapi minim tempat, maka di hati lelaki menjelang dewasa itu berlaku sebaliknya. Ada tempat yang luas, tapi tidak ada muatan.

Mirip dengan parkiran kos yang sudah menempatkan bahwa di sudut dekat pintu itu adalah kapling punya Ray, maka di hatinya juga sudah ada pemilik kapling itu.

Ada tempat, ada pemilik kapling, tapi tempat itu kosong, tidak bertuan.

Ray menyeret langkahnya menuju kamarnya, empat meter dari tempatnya parkir sepeda motor. Serenteng kunci dikeluarkan dari saku, masuk ke lubang kunci, pintu segera terbuka.

Tas yang disandangnya segera terlempar ke sudut kamar, sementara pemilik tas itu dengan pasrah terjun ke kasur yang terhampar di lantai. Seragam masih melekat di badan. Tangan Ray segera menuju ke saku celana, mengambil handphone dan melihat isi tampilan layar dalam posisi tidur terlentang.

Inilah keseharian Ray sepulang kerja, terkapar manis bersama linimasa. Ya, linimasa yang spesifik, merujuk pada sebuah nama yang ada di Twitter, di Facebook, dan di Blogspot. Linimasa yang punya 3 ID berbeda tapi dimiliki oleh satu orang. Persona yang sama dengan pemilik kapling luas di hati Ray.

“Hehmmm.. Kapan kelarnya niy?” gumam Ray.

Agaknya ia sudah ada dalam posisi lelah. Stalking nyata-nyata melelahkan. Selain tentunya jiwa tersiksa. Stalking kadang menjadi kebodohan, apalagi ketika dengan santainya Ray membuka ‘view conversation’ pada twit yang nongol di timeline si pemilik kapling hati itu.

Sebut saja itu kebodohan yang (kadang-kadang) indah.

Ray terpejam sejenak. Tangannya mengepal dan nafasnya ditarik dalam-dalam. Seluruh oksigen yang sejatinya sudah minimalis masuk ke dalam paru-paru.

“Ini harus diselesaikan,” bisiknya.

Ray lalu membuka aplikasi kalender di handphone-nya, menatap tanggal-tanggal yang tertera disana. Ia lantas mengetik dua kata pada kotak yang menunjuk tanggal 30 April.

Perjalanan Keputusan

Jemarinya masih ada di handphone itu, menuju aplikasi burung biru. Kali ini Ray mengetik sebuah kalimat singkat.

“Mohon bantuannya pada semesta.”

Lalu Ray terlelap, dengan handphone di tangan, dengan seragam di sekujur tubuh, dengan ID Card perusahaan masih menggantung di leher. Sebuah lelap yang lelah.

* * *

sumber: ecosalon.com

“Magelang? Ada?”

Ray beringsut dari kursi yang sudah membawanya ratusan kilometer dari tempatnya berasal. Selimut yang semalaman menempel di tubuhnya segera lepas. Sudah saatnya ia turun, untuk memenuhi segala bentuk pencarian keinginan semesta dalam perjalanan keputusan.

Kaki kiri Ray menapak manis di depan Armada Town Square alias Artos. Masih pagi hari, dan kota ini dingin sekali. Ray melempar pandang ke sekeliling. Selintas, merk-merk yang ada di depan Artos ini mengingatkannya dengan hiruk pikuknya ibukota. Ah, sampai juga mereka di kota kecil ini.

Tangan Ray menyambar handphone di saku jaketnya. Powerbank dan kabel masih menjadi satu dengan handphone itu. Sungguh mudahnya teknologi sehingga nge-charge handphone-pun bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja.

Dan teknologi menjadi semakin mudah ketika kemudian Ray membuka GPS. Diketiknya nama sebuah hotel dan segera peta Magelang plus petunjuk arah ada di kotak kecil bernama handphone itu. Semuanya tampak begitu sederhana. Sesuatu yang dahulu dibayangkan saja tidak bisa. Begitulah dunia.

Jarak hotel yang dimaksud nyatanya tidak terlalu jauh. Ray lantas berjalan mengikuti petunjuk yang ada di GPS-nya. Pagi ini menjadi tidak lagi dingin karena seluruh sel di tubuh Ray bergerak mengikuti arah GPS itu. Tidak jauh benar memang, karena 15 menit kemudian ia sampai di hotel yang namanya persis sama dengan yang tertera di GPS.

Tidur di dalam bis sungguh tidak lelap meski Ray sudah mengambil bis yang paling oke, Super Executive. Maka, begitu kamar hotel itu dibuka, tubuhnya segera terkapar manja.

Tangannya mengetik sebuah pesan singkat, sesaat sebelum ia tertidur.

Dua jam kemudian, Ray terbangun sejenak. Ia segera melihat ke handphone-nya dan tidak ada SMS masuk. Ray melanjutkan tidurnya.

Empat jam berikutnya, Ray akhirnya benar-benar terjaga. Sudah siang di Magelang dan lapar mulai terasa. Ketika ia terduduk di ranjang hotel, tangannya kembali menggapai handphone-nya. Tidak ada SMS masuk.

“Satu poin dari semesta,” ujar Ray sambil melihat ke kotak kecil sejuta fungsi itu. Ya, sebuah pesan singkat yang tidak berbalas.

* * *

“Patas AC ngendi Pak?” tanya Ray pada seorang bapak yang berdiri dengan memegang setumpuk kertas kecil warna biru.

“Disini, Mas.”

“Sudah lewat?”

“Nanti lewat lagi.”

Ray pun melakukan transaksi pembelian tiket bis Patas AC dengan bapak yang berdiri di depan warung itu. Transaksi kilat khusus yang bahkan semenit pun tidak sampai. Ray lantas berlalu dan menunggu, sambil sesekali melihat transaksi yang sama terjadi di depan matanya.

“Semarang?”

Orang-orang yang sedang asyik duduk dan berdiri segera bersiap. Rokok dimatikan, minuman dihabiskan, tas-tas segera disandang, pun handphone segera dimasukkan ke kantong.

Ray mengikuti orang-orang yang menaiki bis Ramayana yang muncul dari arah kanan. Ia mengambil posisi idealnya, kebetulan masih ada. Yup, nomor 4 dari depan, di sisi tempat supir berada. Entahlah, posisi itu adalah kesukaannya ketika naik bis. Kecuali busway tentunya.

Perjalanan keputusan itu berlanjut, dan baru ada satu poin dari semesta. Ray mencatat itu dengan baik, sambil berharap ada pertanda lain yang memungkinkannya untuk segera memutuskan.

Lelap menjadi teman Ray sepanjang perjalanan melewati Secang, Ambarawa, Ungaran, dan seterusnya. Ia mulai terjaga ketika deretan kaleng biskuit ukuran raksasa tampak di sepanjang jalanan.

“Mau sampai,” bisiknya.

Pandangan Ray menuju ke langit, mendung menggantung manja disana. Dalam hati ia berdoa semoga hujan tidak akan cepat-cepat turun.

“Banyumanik!” teriak kondektur bis Patas AC itu.

Ray dan beberapa orang lain bergegas turun. Dan ketika kakinya menapak di tempat yang bernama Semarang itu, ia mulai keder. Bukan keder karena ia baru pertama kali menginjakkan kaki ke kota dan tempat ini. Tapi keder pada tanda yang hendak semesta tunjukkan padanya.

“Udah jauh-jauh juga. Lanjut!” katanya dengan lembut sambil berjalan ke arah utara.

Kembali GPS menjadi andalan. Ia lagi-lagi mengetik nama sebuah hotel dan kali ini tampaknya GPS kurang berjodoh dengannya. Tempat itu tidak cukup dekat, plus mendung yang kali ini menggantung tapi tidak sambil manja.

Ray memutuskan untuk berjalan kaki, kali ini dengan tempo yang lebih cepat. Langkahnya terus menyapu jalanan yang baru pertama kali diinjak seumur hidupnya itu. Melewati Museum Rekor Indonesia, Jamu Jago, Carrefour, dan kemudian KFC.

Ketika sampai persis di depan ADA, air mulai menetes perlahan dari langit.

“Ups…,” gerutu Ray sambil mempercepat jalannya. Ia bisa saja berlari, tapi akan menjadi pemandangan yang aneh di jalanan itu.

Air yang menetes itu mulai bertambah, sementara pengendara sepeda motor satu persatu berhenti untuk mengenakan jas hujan masing-masing. Sementara Ray masih saja terus berjalan.

Hingga kemudian, air di langit itu benar-benar tumpah. Ray menuju tempat berteduh terdekat, sebuah gapura. Ah! Tapi atapnya kecil sekali.

Ray melihat sekeliling dan melihat sebuah pos ojek, dan seorang tukang ojek melambaikan tangan padanya.

“Teduhan kene wae, Mas,” teriak tukang ojek itu.

Bahwa keras dan mirisnya ibukota mampu membuat Ray lupa bahwa kebaikan itu sejatinya masih ada, meski tidak di ibukota.

Tanpa buang waktu, Ray berlari ke pos ojek. Persis di saat yang sama, seorang tukang ojek dengan ponco masuk ke pos ojek itu. Maka, seketika sebuah ide terlintas di benak Ray, meminta untuk dieksekusi.

“Mas, ke hotel yang disana itu ya,” ujar Ray.

“Di belakang?”

“Di hotelnya, Mas.”

Ray langsung menelusup masuk ke dalam lindungan ponco. Sepeda motor itu melaju dan air yang tumpah dari langit masih pada eksistensinya. Sepeda motor itu melaju pelan, entah kemana. Sungguhpun Ray tidak tahu tempat itu, dan tidak tahu sejauh mana lagi hotel yang ia maksud.

Nyatanya memang dekat, tak sampai 5 menit sepeda motor ojek itu berhenti di sebuah tempat yang teduh. Tidak ada air menetes dari langit, tertahan oleh atap.

Ray membayar lebih untuk jasa ojek ini. Setidaknya jasa ojek masih JAUH lebih manusiawi daripada ojek yang pernah ia rasakan di kawasan industri, yang mematok harga gila untuk jarak yang teramat pendek.

Dengan tubuh basah, Ray masuk ke hotel. Secara muka dan aroma, ia jelas tidak tampak seperti orang yang mampu menginap di hotel. Tapi terlepas dari itu sesungguhnya ia mampu.

Sebuah kamar dengan harga yang cukup mahal ia ambil. Ray ingin menikmati perjalanan keputusannya dengan nyaman. Kalaulah pertanda semesta itu masih dalam tanda tanya, setidaknya ia masih bisa menikmati hidup. Kalaulah pertanda semesta itu lantas buruk, setidaknya ia masih bisa menghibur diri.

Lelah berjalan cukup jauh, tubuh Ray kembali terkapar manis di ranjang yang jauh lebih empuk. Tentu tidak lupa mengetik sebuah pesan singkat.

Dua jam berlalu.

Ray bangkit, menyalakan TV dan AC yang sedari tadi belum menjalankan fungsinya. Sesudahnya, tangannya kembali ke handphone yang ternyata…. tidak ada pesan singkat apapun.

Tidak berbalas.

Ray beranjak ke WC. Menikmati setiap fasilitas di hotel itu penting karena sejatinya itu semua dibayar. Ray akan selalu mengeksplorasi semuanya jika itu adalah hotel yang dibayar sendiri. Kalau hotel yang dibayari kantor, tentu tidak terlalu jadi beban di pikiran.

Ray kembali, dan masih berharap ada sesuatu di handphone-nya.

Tangannya membuka lock tombol.

1 Unread Message

Ray hampir bersorak sebelum kemudian ia sadar kalau kamarnya terletak di dekat sisi ramai hotel ini. Sebuah pesan balasan yang diharapkan tadi diterima juga!

Dengan harapan yang lebih tinggi, Ray mengirimkan pesan lagi, ke tujuan yang sama.

Harapannya tinggi dan terus membumbung naik seiring terkirimnya pesan singkat itu. Ray duduk tidak jauh-jauh dari handphone yang sedang diisi power-nya itu sambil menonton televisi.

Lima belas menit, tidak ada pertanda dari handphone itu.

Tiga puluh menit.

Satu jam.

Dua jam.

Dan hari sudah jam 9 malam. Harapan yang tadinya tinggi itu perlahan menurun, jatuh, dan lantas terkubur.

Ray terlentang di kasur yang empuk sambil berkata, “dua poin dari semesta.”

* * *

Pagi hari di hotel yang dibayar sendiri tentunya bernama breakfast semaksimal mungkin. Ray segera turun, menuju tempat breakfast di pinggir kolam renang dan meminta segala yang mungkin dipesan. Ada dua hal, ia benar-benar lapar atau itu hanyalah kamuflase atas dua pertanda dari semesta yang muncul dua hari sebelumnya.

Sesudah mengisi perut, Ray lantas menuju kamar kembali lalu bergegas mandi. Tidak cukup lama, ia kemudian sudah siap menempuh perjalanan yang mungkin akan menjadi pertanda kemenangan semesta atas perjalanannya.

Ray keluar hotel dan berjalan ke arah selatan. Sebuah pemandangan unik ada di depan markas tentara di seberang jalan. Bukan markas tentaranya, tapi beberapa pohon dan banyak hewan–entah burung entah angsa–yang berumah dan berkeliaran di atas sana.

Ini indah.

Langkah Ray terus melaju di pinggiran jalanan yang penuh kendaraan melaju kencang itu. Kaki-kakinya terus menuju sebuah tempat yang dianggapnya peraduan terakhir dalam perjalanan keputusan ini. Jika kali ini semesta juga berkata TIDAK, maka sampailah Ray pada penantian kesimpulan.

Semakin dekat dengan rumah yang ia tuju, hatinya semakin deg-degan. Langkahnya menjadi pelan dan gontai. Tapi sepelan-pelannya langkah itu akhirnya sampai juga pada tujuan. Mendadak jarak menjadi sedemikian dekat.

Ray berdiri di depan sebuah rumah. Hanya berdiri.

Pandangannya terlempar ke sekeliling dan memastikan bahwa rumah ini sama persis dengan sebuah alamat yang pernah masuk sebagai pesan singkat di handphone-nya. Ia tak perlu mengeceknya karena sudah hafal benar alamat rumah itu pada kali pertama membacanya.

Bahwa cinta kadang membuat logika berantakan.

Ray masih berdiri, langkahnya berhenti. Niatan untuk masuk dan mengetuk pintu tercekat hanya 2 meter dari depan pintu. Dua meter yang ternyata jauh lebih sulit daripada ratusan kilometer yang dilaluinya sebelum sampai ke tempat ini.

Hingga kemudian keberanian itu secuil muncul. Langkahnya menembus dua meter yang sulit itu hingga kemudian tangannya mengayun ringan.

“Tok.. Tok.. Tok..”

Ketukan halus, tanda lemas. Satu kali percobaan tanpa jawaban.

“Satu lagi, berarti tidak,” bisik Ray sambil kemudian mengayun tangannya untuk percobaan kedua.

“Tok.. Tok.. Tok..”

Satu menit.

Lima menit.

Tujuh menit.

Dan sunyi masih ada disana.

Ray mundur teratur dan membalikkan tubuhnya. Ia menengadah ke langit dan bergumam, “Sudah tiga dalam tiga hari. Oke semesta menang.”

Semesta menang, keputusan itu akhirnya dibuat.

* * *

“Mangkang habis!”

Kaki kiri Ray menginjak terminal Mangkang. Sebuah tempat yang menjadi jalannya untuk pulang, kembali ke rutinitasnya, dengan sebuah keputusan.

Ray menatap lurus menerawang di jalur bis tempatnya menanti. Seketika bak ada pemutaran film layar lebar disana.

Terlintas tahun-tahun yang berlalu bersama si pemilik kapling hati itu. Mulai dari pertama kali bertemu, berkenalan, dan akhirnya Ray jatuh cinta.

Semuanya terjadi dengan sederhana meski tidak berdampak sama sederhananya. Jatuh cinta itu adalah kecelakaan yang indah, yang mungkin akan jadi buruk jika terjadi pada saat atau objek yang tidak tepat.

Ya, ini memang tidak tepat.

Ray sadar soal ketidaktepatan itu dan kemudian memilih menyimpan rasa itu hingga bertahun lamanya, hingga membatu dalam hatinya.

Sebuah rasa yang kemudian tidak bisa dibunuh karena ia tidak pernah dilahirkan. Tidak lahir, tapi sudah hidup dan menghuni ruang besar di hati Ray.

Segala momen kebersamaan itu berseliweran bersama bis-bis yang silih berganti lewat. Satu per satu.

“Bejeu!”

Sebuah bis warna hitam yang dinanti akhirnya tiba. Ray bergegas berdiri dan film yang diputar tadi seketika selesai. Ray masuk via pintu tengah dan menuju kursi yang kali ini bukan favoritnya.

Ia duduk, mengatur kursi, dan lantas memejamkan mata.

“Aku memang tidak boleh mencintai kamu. Dan semesta sudah memberi pertanda itu. Sekarang, aku tidak lagi orang yang mencintaimu. Aku hendak menjadi orang yang PERNAH mencintaimu.”

Sebuah lafal dalam hati Ray. Sebuah lafal yang menjadi kesimpulan dari perjalanan keputusan. Tak lupa Ray memberi catatan khusus dalam kesimpulannya.

Tapi tempat di hati ini tetap milikmu.”

Polbek – Prolog

Jogja panas walaupun sudah sore-sore sendu. Sebuah kipas angin dari jaman batu masih setia bertiup ke satu arah. Yah, benda itulah satu-satunya penyejuk di kamar kosku yang sebenarnya nggak kecil-kecil amat, tapi mendadak kecil karena seluruh kenangan hampir 8 tahun disimpan di ruangan yang sama. Kipas itu aku beli di pekan pertama aku menjadi penghuni Jogja, itu sudah hampir 8 tahun yang lalu. Waktu itu aku baru masuk SMA, sekarang sudah lulus kuliah. What a long time.

Sebuah kemeja hitam lengan panjang terhampar manis di depanku. Sebuah setrikaan model jadul juga sudah mengambil posisi siap sedia. Kipas, kemeja, setrika, dan aku. Oh, kelupaan. Ada juga sebuah monitor yang merangkap layar televisi dengan bantuan TV Tuner. Sungguh sebuah sore hari yang kelam bagi anak kos.

Aku melihat jam, dan sudah mendekati angka 6. Aku lantas mulai mengintimkan hubungan kemeja hitam dengan setrikaanku. Dalam suasana yang hangat mereka bercumbu. *ini apaan sih?*

Dalam waktu yang tidak lama lagi, aku yang adalah seorang PENGANGGURAN, akan berangkat ke Bandung dalam rangka wawancara kerja. Minggu lalu aku ditelepon sebuah perusahaan yang lumayan wahid, kurang dari 24 jam sesudah aku memasukkan aplikasi via seorang kakak kelas. Ya, namanya juga usaha cuy!

“Peluklah diriku dan jangan kau lepas….”

Sebuah lagu dari Alexa yang berjudul “Jangan Kau Lepas” tiba-tiba terdengar. Itu sudah pasti dari handphone baruku yang sebenarnya berwujud lebih mirip remote AC karena kecil dan warnanya putih. Untung nggak ada AC di kamar ini, jadi nggak akan ada kejadian tertukar antara HP dengan remote AC.

Kucari-cari HP yang kubeli karena merupakan HP Slide yang paling murah itu. Tubuhnya tertindih bantal di atas kasurku. *ini apa pula sih?*

Sebuah nomor, 021, meneleponku sore-sore begini. Ada apa gerangan?

“Selamat sore.”

“Iya, Mbak. Selamat sore.”

“Maaf menelepon sore-sore.”

“Sudah saya maafkan, Mbak.”

“……”

Oh, oke. Yang sebenarnya bukan begitu. Lagian mana berani saya bilang begitu? *yang bener aja*

“Mau memberitahukan, setelah kami diskusikan dengan user hasil wawancara kemarin, maka kamu diterima. Sekarang bisa kita jadwalkan untuk medical check up?”

Berasa dunia ini berputar. Yah, 3 minggu yang lalu aku interview di sebuah perusahaan dan sepulang dari sana, aku tergolek lemah seharian gegara nggak ada telepon konfirmasi dari perusahaan itu. Ya sudah, aku bermaksud pasrah dan tawakal pada kegagalan yang kesekian itu. Ketika aku sudah lupa, sudah tidak berharap, eh dia nongol lagi. Lebih oke lagi ketika harapan itu kembali persis ketika aku sedang menyetrika baju guna interview besok di Bandung.

Ini kerjaannya semesta pastinya.

Telepon sore itu adalah pembuka semua jalan yang lantas ada di depan. Aku menerima tawaran itu dan bergabung dengan perusahaan farmasi yang terkemuka, di sebuah kota bernama Palembang.

* * *

Aku punya cukup banyak aset ketika jadi anak kos. Sebuah sepeda motor yang umurnya baru 1,5 tahun tersedia. Sebuah desktop lengkap juga ada. Tapi aku juga punya adik yang butuh desktop itu, dan adik lainnya yang butuh sepeda motor itu.

Maka, kutinggalkan semuanya di Jogja.

Dan aku memulai semuanya di Palembang, nyaris tanpa apa-apa. Aku menjadi pelanggan rutin warnet di dekat kos-kosan. Aku juga pelanggan setia angkot hijau Ampera-Lemabang. Aku tentunya juga menjadi nebengers sejati. Ya, nyaris nggak modal pokoknya. Aku menjalani hari-hari yang sulit tanpa segala fasilitas yang bisa memudahkan itu, dan syukurlah kalau aku akhirnya masih bisa SURVIVE.

Sampai suatu hari tiba: gajian plus bonus tahunan.

Sejumlah uang yang cukup besar bagiku, kini siap memberiku kelengkapan hidup. Sebuah nominal yang sudah kurencanakan peruntukannya, sebuah angka yang akan mengubah hidupku.

Maka aku memulai perjalanan dengan membeli sebuah TAS.

Macam Macam Settingan HP Kaum Jomblo

Pernah nggak sih ngelihat handphone seseorang bergetar sepanjang hari? Pernah melihat handphone yang bersuara (juga) sepanjang hari? Atau ada yang sepanjang waktu asyik dengan handphone-nya? Nah, jangan salah, diantara manusia-manusia yang sedang asyik dengan benda mini itu, sejatinya banyak juga yang jomblo.

Dannn… hal itu bisa juga diketahui dari setting yang dibuat di HP-nya.

Loud Pake Banget

Settingan ini berlaku untuk jomblo yang saking lamanya tidak melakukan pendekatan atau didekati sama orang lain. Saking lamanya, kadang-kadang lupa kalau punya HP. Nah, dalam rangka agar tidak lupa kalau punya HP, maka dibuatlah setting yang Loud maksimal. Model begini juga ditujukan agar orang sekitar tahu kalau dia menggunakan HP-nya, selain sebagai ganjalan pintu atau untuk melempar anjing galak.

Settingan ini ternyata juga berguna agar tampak heroik di depan khalayak. Semisal nih, untuk sebuah SMS, dibuat ringtone lagu “Jatuh Cinta” full utuh. Jadi, meskipun itu cuma SMS dari operator atau sekadar nawarin kartu kredit, tetap berasa ada yang nelpon *soalnya ringtone-nya lamaaaaa dan gedeeeeee*

Getar Kagak, Bunyi Apalagi

Ini berlaku untuk jomblo-jomblo yang baru putus, atau yang jadi korban PHP, atau yang mulai pasrah pada kejombloannya. Kalau yang baru putus tentunya karena biasanya itu HP nggak pernah berhenti bergetar, eh tahu-tahu sepi. Guna menghilangkan kesan itu, maka mode getar-nya juga di off sekalian. Sunyi banget mengandalkan backlight jadinya. Mode ini sangat irit sama batere. Tapi jadi nggak irit karena meskipun sudah diset tanpa getar dan bunyi, pasti itu tangan dikit-dikit langsung pegang HP dan sekadar mengecek apakah ada BBM atau Whatsapp atau SMS atau–yang paling diharap–panggilan telepon dari mantan pacar/mantan PHP/mantan gebetan.

HP Off Dengan Sendirinya

Ini karena benar-benar jomblo, nggak ada gebetan, nggak ada yang didekatin, nggak ada yang di-sepik, nggak perlu HP-lah pokoknya. Jadi itu HP akan mati ketika batere-nya habis. Maklum, nggak pernah diapa-apain, jadi nggak rajin juga yang nge-charge. Nanti giliran ada yang nyari, mau ngajak arisan misalnya, baru deh sadar kalau “lu kok ga bisa dihubungin?”. Sesudahnya, ya bakal sama lagi.

Homescreen Foto

Rerata jomblo ngenes akan menggunakan teknik pemujaan jenis ini. Jomblo biasa tidak sampai ke level ini sih, karena memang spesial untuk jomblo ngenes. Jomblo ngenes adalah kolektor foto yang handal dari FB dan Twitter dan kemudian memilih salah satu foto dan lantas dijadikan homescreen. Ini juga berlaku untuk jomblo yang kangen/masih sayang sama mantannya. Jadi deh itu foto mantan dijadikan homescreen. Hmmm, jadi bisa dengan mudah melihat masa lalu yang ‘kelam’ itu.

Akses Cepat Untuk BBM/Whastapp

Kan ada nih, kalau di Android memindahkan beberapa menu ke homescreen. Jadi deh, aplikasi BBM dan Whatsapp itu ditaruh di depan, jadi kalau pengen lihat kapan terakhir kali gebetan/mantan buka BB atau WA, bisa segera menuju aplikasi itu. Dannn, biasanya lagi gebetan/mantan ada di list paling atas. Dan paling ngenes adalah rerata pesan BBM atau Whatsapp itu dikirim, diterima, dibaca, dan TIDAK dibalas.

Yah, demikian macam-macam settingan HP kaum jomblo. Tulisan ini hanya hiburan semata *kalau dianggap menghibur*

Cemungudhh Kk…

Pilihan Hati

“Lu putus bro?”

Panji hanya mengangguk pelan dengan tatapan mata menerawang ke langit ke tujuh.

“Ngapain lu pake acara putus segala?”

Berondongan pertanyaan masih nggak berhenti keluar dari mulut Bara yang semakin tajam melotot ke muka Panji. Padahal Panji-nya matanya ke langit. Ini semacam pandangan tak berguna.

“Udah nggak cocok bro!”

“Jiah, gue sebagai yang merekomendasikan lu sama Cindy, merasa terhina nih. Dari nama aja udah cocok tuh. Pan dan Ji, Cin dan Dy. Mukanya dia juga bukannya pasaran, cakep abis.”

“Gue yang putus kenapa lu yang rempong, Bar?”

“Lha, abisnya, gue kan ikut andil, tanggung jawab nih.”

“Udahlah, bro. Udah putus, selesai, titik.”

“Nggak ngerti gue,” ujar Bara sambil berdiri dan meninggalkan Panji sendirian dengan tatapan mata yang masih ke langit, entah mencari apa ia disana.

Panji terdiam, tangan kanannya memegang tepat di depan heparnya.

Sementara Bara, masih bergumam sepanjang jalan, “Kurang capek apa coba, kurang baik apa pula, bodoh banget tu bocah.”

* * *

“Dapat salam tuh, dari Chika,” ujar Bara sambil melihat telepon genggamnya, “Salam balik nggak?”

“Nggak usah,” jawab Panji, singkat-dalam-tenang.

“Songong banget jadi laki boz!”

“Biarinlah.”

Dan Bara hanya garuk-garuk kepala, tak habis pikir.

* * *

“Ini pada ngomong apa sih? Gue yang jomblo aja biasa wae,” kata Panji sambil menyeruak dari balik kerumunan lelaki-lelaki yang bersuat-suit pada rombongan gadis-gadis manis yang baru lewat.

“Ya iyalah, lu jomblo songong,” timpal Bara.

“Apa coba?”

“Nah, yang mau banyak, nggak mau. Punya pacar oke, diputusin. Labil ah.”

“Ah, itu perasaan Om Bara saja.”

“Huuuu….”

Panji, Bara, dan yang lainnya menikmati saat-saat pemandangan bagus ciptaan Tuhan itu lewat. Semuanya tampak biasa saja sampai kemudian lewatlah Atha.

Panji tetap berupaya mengimbangi teman-teman lainnya, tapiiii… tatapan matanya tidak bisa menipu kalau ia lebih dari sekadar mengamati seorang gadis yang sedang lewat. Tatapan ini punya kandungan nilai yang jauh lebih dalam.

“Cieeee, yang mantannya lewat,” teriak Bara sambil menyenggol Panji.

Yang disenggol hanya terdiam.

* * *

“Daripada perkara hati kita berkelanjutan, lebih baik kita sudahi saja ya Mas.”

Kalimat miris itu terucap dari bibir manis Atha, diselingi suara hujan, dan hawa panas kopi yang baru saja mampir di meja.

“Bener juga sih, Tha.”

“Ya, gimana Mas. Aku sayang sama kamu, banget. Tapi faktanya kan kita nggak bisa bersatu. Daripada kita memupuk cinta ini sampai besar, nanti akhirnya dipotong juga. Berbahaya jika diteruskan.”

Panji terdiam selagi aroma kopi menembus hidungnya, menuju alveoli di paru-parunya dan memberikan makna lain terhadap pehamaman sebuah perkataan.

“Semoga demikian, Tha. Semoga perkara hati ini bisa kita atasi. Kadang dia nggak bisa dibohongi soalnya,” ujar Panji sambil tersenyum.

“Yah, semoga ya Mas.”

Keduanya tersenyum, perbedaan ini memang tidak bisa disatukan. Kadang jadi lucu ketika perbedaan yang adalah ciptaan Tuhan justru menjadi hal yang tidak bisa mempersatukan sesama ciptaan Tuhan. Apa yang telah direncanakan Tuhan untuk dipersatukan, nyatanya bisa dipisahkan oleh perbedaan yang mendasar.

* * *

“Kalau mau jujur, aku nggak bisa melupakanmu, Tha.”

Panji menarikan jemarinya di atas keyboard, menuliskan sebuah pesan pribadi di Direct Message Twitter

Jari-jarinya menari lagi di kolom Tweet, baris-baris kata kembali terbentuk, “Ada banyak hal yang mudah, tapi hati memilih yang sulit.”

Tweet!

Dan kalimat ini muncul di timeline.

Sebuah notifikasi masuk ke Twitter Panji, dan sebuah balasan DM.

“Aku juga, Mas. Mungkin hati kita memang sudah memilih yang sulit.”

Panji tersenyum membaca balasan itu. Sederhana, punya makna dalam di hati, tapi nyatanya tak akan memiliki makna di realita. Kadang hati memang seperti itu. Dan kebetulan, kini Panji yang mengalami perkara bernama “pilihan hati”.

* * *

Kontraktor

Sesungguhnya saya punya masa kecil yang maha asyik. Kenapa? Karena saya punya banyak kenangan dengan banyak rumah, sejak lahir hingga kelas 3 SD. Ah, cuma 8 tahun kan ya? Well, 8 tahun mungkin sebuah rentang waktu yang singkat, dan saya bersyukur itu bisa berhenti di angka 8. Tapi dalam 8 tahun tumbuh kembang saya, kemudian muncul berbagai cerita.

Kenapa saya punya banyak kenangan dengan banyak rumah? Ya, semata-mata karena orang tua saya memilih untuk mengontrak rumah sebagai pemenuhan kebutuhan primer keluarga. Sesederhana itu kok.

Nah, kemarin waktu mudik sejenak, saya mencoba menapaktilasi beberapa kenangan yang saya punya dalam rentang waktu hidup 8 tahun itu.

Rumah pertama keluarga kami ada di Inkorba, saya pernah sekali ditunjukkan rumah itu tapi tidak bisa mengingat letak rumah itu sebenarnya karena ya memang saya terlalu kecil untuk ingat. Jadilah saya tidak pergi ke rumah itu, karena memang tidak tahu.

Rumah kedua yang dikontrak oleh orang tua saya terletak di dekat kantor walikota Bukittinggi. Saya aslinya ya nggak ingat, tapi ketika Bapak bilang bahwa rumah di Belakang Balok ini nggak jauh dari kantor walikota, saya pun segera ke tempat itu, dan ada lah sedikit memori yang masih nyangkut. Setahu saya, periode tinggal disini sekitar 1988-1989. Well, umur yang belum bisa mengingat apapun. Hehehe.. Dan karena itu saya juga nggak tahu pasti rumahnya yang mana, saya coba ambil foto salah satu rumah saja, karena lainnya mirip kok.

image
dokumentasi pribadi

Kemudian keluarga kami pindah ke sebuah rumah di jalan Guru Hamzah. Fotonya ada di bawah ya nanti. Rumah ini terdiri atas 2 bagian, depan dan belakang. Pada sesi 1, sekitar 1990-an, kami tinggal di rumah bagian depan (lihat fotonya di bawah nanti). Tidak cukup lama juga sih.

Rumah berikutnya tidak jauh dari rumah lama, letaknya tak jauh dari Simpang Tarok. Di rumah ini saya mulai merekam berbagai memori. Bagian terburuk dari semuanya adalah, dari sederet rumah yang ada, hanya ada 1 tempat buang air besar. Sungguh saya harus bilang WOW kalau sekarang, tapi kalau dulu ya biasa aja. Tempatnya bahkan teramat mungil hingga berdiri pun tidak bisa. Di rumah ini pula keluarga kami berbagi sumur dengan tetangga. Pernah pula ada kasus pintu tidak bisa dibuka, dan yang terjadi kemudian adik saya masuk ke rumah melalui sumur tetangga. HEBAT! Oya, di rumah ini pula saya terserang vertigo untuk pertama kalinya 😦

image
dokumentasi pribadi

Nah, rumah di bawah ini adalah rumah yang dikontrak (berikutnya). Kalau dulu di bagian depan, ya yang ada seng hijau itu. Itu rumah depan. Pada sesi dua disini keluarga kami mengontrak di bagian belakang dengan kondisi yang *ehm* mungkin bisa dibilang parah. Hal yang paling saya ingat adalah ketika malam hari, mati lampu, dan ember berserak dimana-mana karena atap pada bocor.

image
dokumentasi pribadi

Rumah kontrakan terakhir keluarga kami ada di Kompleks Kehutanan Bukittinggi. Saya berputar-putar dulu sebelum akhirnya sampai ke tempat ini kemarin. Tentunya karena kondisinya sudah sama sekali lain. Jalan masuk kompleks yang dulu luas semakin menyempit oleh pembangunan pasar. Nggak ada lagi akses langsung ke ‘tabek’ tempat warungnya nenek si Sari. Setahu saya, kami tinggal disini sekitar 1994 karena ingat bener bahwa mulai nonton Piala Dunia disini, dan saya menyaksikan Roberto Baggio menendang ke atas gawang (gagal masuk). Itu kan final Piala Dunia 1994?

Rumah ini mungkin paling ironis, atau mungkin menjadi ironis karena usia saya sudah semakin besar untuk bisa mengingat sesuatu. Ya, di rumah ini saya kenalan sama lipan karena seringnya hewan ini masuk rumah. Di rumah ini juga saya kembali bertemu dengan kondisi WC bersama untuk buang air besar. Bahkan sering kejadian WC bersama itu mampet. Dan, terjadilah, harus cari akses lain untuk sekadar buang air besar. Hufftttt… Di rumah ini juga saya punya 1 ruangan yang saya takuti, letaknya antara kamar dan dapur, dan digunakan untuk meletakkan rak sepatu. Entah kenapa, saya ngeri setiap kali memasuki ruangan itu.

Tapi, di kompleks inilah saya menemukan makna berteman. Satu-satunya pergaulan publik yang terjadi selama tinggal di rumah, ya di kompleks ini. Saya ingat dulu tetangga depan rumah punya warung, saya suka beli godok atau permen yang bungkusnya mirip rokok.. Hehe.. Tapi yang paling diingat tentu saja tetangga sebelah rumah, namanya Ade, yang cantik jelita pada usia itu. Hahahahaha..

Saya sempat pangling dengan suasana rumah sebelum kemudian saya melihat ke bagian belakang rumah. Dan benar, saya ingat benar, pernah tinggal di tempat ini setelah melihat bentuk di bawah ini.

image
dokumentasi pribadi

Tahun 1995, keluarga kami pindah ke sebuah rumah kecil, yang syukurlah, milik sendiri. Cicilannya belasan tahun, dan sepertinya sih belum 2-3 tahun ini lunasnya. Hehe..

Saya mencoba menapaktilasi semuanya, karena ini adalah milestones diri saya dan keluarga. Saya berada dalam posisi membangun semuanya, seperti yang dialami oleh orang tua saya dulu. Saya ingat bagian-bagian perjuangan orang tua saya mempertahankan kehidupan anak-anaknya, dengan gaji yang (waktu itu) nggak seberapa.

Well, ketika kemudian orang-orang selalu menuntut gaji jauh lebih besar, saya lantas teringat proses saya bisa menjadi sarjana, lalu apoteker, lalu seperti sekarang ini. Semuanya proses yang tidak mudah, tapi nyatanya bisa. Lalu saya bertanya, apakah kita harus selalu menuntut tanpa kemudian memilih berusaha terlebih dahulu?

Kontraktor adalah kisah masa kecil saya, dan saya ingat ketika adik saya pernah bilang, “Mak, ini terakhir kali kita pindah kan?”

Ah! Sebuah masa lalu memang untuk DIKENANG, bukan untuk DIULANG.

🙂

Yang Berbeda Hanya Waktu

Ini tentang rasa itu
Ini soal  rasa yang kusebut cinta
Ini soal hati yang telah memilih

Ini juga tentang semua yang telah terjadi
Ini juga soal semua yang telah kita lewati
Ini masih mengenai hubungan rasa dan waktu

Percayakah kamu, kalau tidak ada yang berubah?

Rasa itu tetap ada, tidak sedikitpun hilang
Bahkan ia membesar

Aku masih sama, Sayang!
Aku masih disini dengan rasa yang sama
Aku masih disini untuk mencintaimu

Entahlah
Aku hanya bisa menerka
Aku hanya bisa berharap
Aku bahkan sering bermimpi
Bahwa hal yang sama terjadi padamu

Kalaulah itu terjadi
Aku masih sama
Kamu masih sama

Yang berbeda kini hanyalah waktu
Dulu dan sekarang
Kini dan nanti

Ketika dalam mimpiku
Di dalam nanti itu
Akan ada “KITA”

-Senin Pagi, 081012-

Tulang Rusuk

Aku hanyalah pria yang hendak memberikan cinta yang sepenuhnya
Aku hanyalah pria yang selalu ingin kamu tersenyum
Aku hanyalah pria yang berharap kesedihan akan jauh dari dirimu

Aku hanyalah pria yang tidak meyakini kamu sempurna
Aku hanyalah pria yang meyakini jika kamu adalah yang terbaik
Aku hanyalah pria yang juga manusia biasa yang punya banyak salah
Aku hanyalah pria yang selalu berharap ada maaf untuk setiap ketidaksempurnaan

Aku hanyalah pria yang membayangkan masa depan bersamamu
Aku hanyalah pria yang selalu khawatir pada dirimu
Aku hanyalah pria yang rindu gelak tawamu
Aku hanyalah pria yang rindu suara kantukmu
Aku hanyalah pria yang membenci setiap tetes air mata kesedihan menetes dari bola matamu

Aku hanyalah pria yang berharap dapat mendekapmu dalam pelukku hingga kamu tertidur lelap disana
Aku hanyalah pria yang telah menemukan tulung rusukku, yang adalah kamu

🙂

Teman

Apa yang harus disyukuri dalam hidup? Pasti banyak, bahkan bisa hidup itu harus disyukuri dalam setiap tarikan nafas. Tapi terkait kemajuan zaman, saya bersyukur berada pada masa yang tepat.

Yah, saya baru punya FB dan HP yang bisa internet 3G (bukan 3gp) pada Desember 2008. Pada saat itu di FB baru ada bule-bule gila. Kalimat itu milik Lussy Dugonk yang waktu itu jadi 1 dari sedikit teman FB saya. Pada Desember 2008 saya memasuki masa-masa akhir studi.

Kenapa tepat?

Karena saya nggak kebayang kalau saya dalam masa studi dan saya sudah punya ponsel pintar plus akses linimasa. IP saya di kuliah yang sudah jongkok akan semakin jongkok, bisa tiarap malah.

Berikutnya, ya, memang saya termasuk kurang mengikuti zaman. Kalau yang lain sudah ber-BB ria, saya malah nggak. Saya setia pada sebuah benda yang saya beli di IP Palembang seharga 1,4 juta bernama LG GW300. Benda itu saya pakai terus sampai kemudian godaan muncul.

Era Android sudah masuk, dan saya termasuk ketinggalan. Nah, teman-teman saya mulai menggunakan aplikasi Whatsapp. Interaksi saya dengan teman-teman memang tidak banyak. Kenapa? Ya karena saya memilih untuk kerja di Palembang, jauh dari teman-teman di Pulau Jawa. Pada awal-awal kerja, sekitar Juli 2009, sempat ada sebuah forum bernama ‘Ngalor Ngidul’ yang isinya email-email kantor berbagai perusahaan farmasi di Indonesia dan isinya ngomongin nggak jelas *halah*

Forum itu perlahan punah seiring pindahnya beberapa orang sehingga mengurangi member forum.

Lalu beralih ke FB, ada sebuah pesan FB isi banyak bernama ‘Jangan Sampai Putus Kontak’, sempat ramai, lalu musnah lagi.

Ketika saya mendengar ada Grup Whatsapp antar teman-teman yang nggak jelas ini, saya mulai goyah. Memang sih, keypad si GW300 sudah memintanya untuk diganti. Akhirnya dengan uang arisan (yang untungnya masih selamat) saya membeli sebuah HP Android, paling murah.

Akhirnya saya join grup Whatsapp. Hore juga. Memang timbul tenggelam, kadang ada, kadang nggak. Wajar, orang kan punya kesibukan masing-masing.

Pas lagi di mobilnya Boriz, saat berhenti menunggu Robert di perbatasan kota Wonosari, dibuatkan sebuah grup Whatsapp bernama UKF DLN2. Dari mana aja udah kelihatan kalau yang buat malas, namanya aja ngasal. 🙂

Tapi kemudian di grup itulah, saya bisa tertawa ngekek sendirian di kamar, atau bahkan di kantor. Hanya sebatas kata-kata yang tertulis, tapi kemudian mampu menyunggingkan senyum hingga membuat tawa terbahak-bahak. Asli ngekek.

Yah, ada yang di Pangkalpinang, ada yang di Pontianak, dan berbagai tempat lainnya, tapi bisa bersatu bercanda bersama di sebuah layanan yang disediakan Whatsapp. Ini hiburan ketika hidup mlai semakin pelik. Membaca sebaris dua baris kalimat di grup itu setidaknya mampu membuat ngekek. Yah, hinaan itu paralel dengan tawa dan canda plus paralel dengan kebersamaan. Jadi satu, tidak terpisahkan. Mungkin inilah yang namanya teman.

Bukan begitu? 🙂

Kisah Kedua

Aku sedang asyik dengan ponselku ketika kudengar bunyi pintu dibuka. Kulihat seorang gadis masuk dan berdiri dua meter dari pintu. Aku bergegas menutup semua aplikasi yang kubuka dengan ponsel Android-ku dan kemudian bergegas memegang kertas order.

Gadis itu menuju sebuah meja di pinggir jendela. Aku melihat itu dari kejauhan dan bergegas menyusulnya. Bagaimanapun pelayanan kepada pelanggan itu sangat penting. Bagiku, kalau perlu pelanggan tidak perlu memanggil pelayan jika hendak melakukan pemesanan, biarlah pelayan yang mengerti maunya pelanggan.

“Selamat sore, Mbak,” sapaku ramah pada seorang gadis yang baru saja duduk. Aku segera menghampiri tempat dengan nomor 7 itu untuk menyambut pelanggan yang datang sendirian ini.

“Sore,” balasnya tak kalah ramah.

“Mau pesan apa?”

“Caffee Latte. Satu.”

Dengan sigap aku menuliskan pesanannya di kertas order yang kupegang. Sesudah selesai menulis ‘Caffe Latte’ aku bertanya kembali, “Ada lagi?”

“Itu dulu.”

“Baik, ditunggu ya Mbak.”

Aku segera berlalu dari meja nomor 7 itu dengan memegang sehelai kertas order. Aku melangkah pasti ke dapur untuk meletakkan kertas order. Sementara itu, aku kembali berdiri tegak di pos jagaku.

Aku seorang pemilik Café yang memposisikan diriku sebagai pelayan di tempat yang sudah dua tahun aku kelola ini. Tidak semua orang tahu kalau aku adalah pemilik, karena kalau briefing aku selalu memposisikan diri sebagai supervisor yang seolah-olah punya atasan lagi. Aku memang terbiasa melakoni itu sejak masih bekerja sebagai supervisor di perusahaan farmasi. Lima tahun melakoni aktivitas yang sama membuat pola itu terpatri dalam benakku sebelum kemudian aku keluar dan mendirikan Café ini.

Café yang aku kelola ini kunamai Cafi Café. Syukurlah, tempat ini cukup laris. Setidaknya aku selalu terkapar kelelahan setiap malam setelah Café tutup. Itu berarti aku memang banyak bergerak untuk melayani pembeli.

“Kringggg.”

Petugas di dapur membunyikan lonceng yang terpasang di tempat serah terima pesanan. Aku menoleh sedikit dan melihat sebuah gelas putih dengan asap yang mengepul tipis ada di tempat itu. Itu tanda pesanan sudah tersedia. Aku segera berjalan ke tempat pesanan diletakkan dan mengambil nampan serta kelengkapan lain untuk melayani pelanggan di meja nomor 7.

Sembari menyiapkan nampan dan kelengkapan lainnya aku melihat ke pelanggan di meja nomor 7. Sekilas kulihat ia adalah sesosok gadis muda yang lumayan cantik. Rambutnya lurus tergerai sampai ke pundaknya. Sebuah bando warna biru menempel dengan cocok di kepalanya. Kulitnya putih bersih membalut tubuhnya yang agak kurus. Dari tadi ia sendirian di meja nomor 7.

Perihal pengunjung yang sendirian, buatku bukan hal yang aneh. Itu pula sebabnya aku menyediakan lebih banyak meja yang hanya memiliki dua kursi daripada empat atau enam kursi. Aku mencoba memahami pelanggan. Sekarang begini, kalau kita naik bus formasi 2-2 pun, pasti kecenderungannya kita akan mencari tempat yang kosong terlebih dahulu agar bisa sendirian, meskipun itu letaknya jauh di belakang. Aku mencoba mengerti itu dan nyatanya memang tidak sedikit pengunjung yang datang ke Café ini hanya untuk duduk sendirian, minum kopi, merokok, asyik dengan laptopnya, dan kemudian membayar lalu pulang. Aku tidak dalam kapasitas hendak mencari tahu segala kegiatan pengunjung. Aku hanya mengamati segala sesuatu yang terjadi di Café ini.

Kuletakkan gelas putih dengan asap tipis penanda pesanan ini masih panas ke atas nampan. Kusiapkan sedotan kecil, sendok, dan dua bungkus kecil gula. Tidak lupa kuletakkan tisu berwarna putih dan bertuliskan Cafi Café di atas nampan. Pesanan ini sudah siap untuk diantarkan.

Aku melangkah perlahan di sela-sela meja-meja lainnya yang ada di Café ini dan segera sampai di meja nomor 7.

“Selamat sore, Mbak. Caffee Latte?” tanyaku ramah. Meskipun ini terkesan retorika karena aku juga yang menuliskan pesanan itu di kertas order, bagiku proses konfirmasi keinginan pelanggan adalah hal yang tidak kalah penting.

“Iya, betul.”

Kuletakkan nampan di atas meja dan mulai menyajikan segelas Caffee Latte di depan gadis itu. Sekilas kulihat sebuah bungkusan kecil terletak di kursi yang tidak ia duduki. Kulihat juga dua buah ponsel tergeletak di meja tempat aku menyajikan pesanan. Salah satu ponsel tampak masih menyala karena baru saja diletakkan oleh gadis itu ketika aku datang. Aku melihat home screen ala anak muda. Sebuah foto pasangan ada disana.

Masih dengan sekilas pandang aku menerjemahkan bahwa gadis itulah yang ada di home screen ponsel itu. Parasnya jelas mirip meski objek yang ada di home screen tidak mengenakan bando biru. Aku bisa melihat kesamaannya dari mata, hidung, dan bibir.

Foto home screen itu juga memuat sesosok lelaki yang menurutku tidak tampan. Kulitnya hitam, berbeda bermakna apabila kubandingkan dengan gadis manis di sebelahnya. Tangan si lelaki memeluk bahu si gadis. Latar belakang foto itu perlahan kukenali sebagai Sungai Musi karena aku melihat dengan jelas tulisan Ampera di antara dua kepala yang ada di foto itu.

Aku tidak asing dengan pemandangan itu karena aku pernah dua tahun bermukim di daerah yang terkenal dengan hidangan pempek itu. Berfoto dengan latar belakang Sungai Musi dan Jembatan Ampera adalah keasyikan tersendiri. Aku sendiri hendak bertanya latar belakang ke-Palembang-an gadis ini, tapi tentu tidak layak karena itu berarti aku sudah melihat home screen dari ponsel pengunjung. Aku menganggap ini sebenarnya tindakan kurang ajar. Jadi daripada aku harus bermasalah dengan pelangganku sendiri, biarlah aku melakukan penyimpulan atas sesuatu yang sejatinya tidak penting-penting amat ini.

Demikian yang tertangkap oleh mataku sebelum kemudian layar ponsel itu padam dengan sendirinya dan memasuki fungsi lock. Aku mengecek kembali layanan yang telah kuberikan kepada pelanggan di meja nomor 7 ini. Sepertinya tidak ada yang tertinggal.

“Sudah, Mbak. Ada lagi yang bisa dibantu?”

“Belum, Mas. Terima kasih.”

“Mari, Mbak. Selamat menikmati.”

Gadis itu tersenyum. Manis juga senyumnya. Setelah ia tersenyum padaku, belum pula aku berlalu, tangannya sudah kembali meraih ponsel yang sempat aku intip home screen-nya itu. Aku mencoba berdiri diam sebentar sambil mundur dua langkah menjauh dan melihat senyum yang lebih manis merekah dari bibir gadis itu sembari asyik dengan ponselnya.

Aku geleng-geleng kepala saja melihat ekspresinya. Sungguh riang dan sulit dijelaskan dengan kata-kata. Senyum tidak lupa menyertai gelengan kepalaku menyikapi kejadian sederhana yang baru saja aku lihat.

Badanku kembali berdiri di tempat aku seharusnya menunggu. Aku melihat pelanggan keluar dan masuk dari pintu koboi yang kupasang di Café yang aku kelola ini. Tempat ini memang mampu membuatku melihat banyak hal. Aku sering menemukan pasangan yang tentu saja berlainan jenis kelamin datang dan kemudian duduk berhadap-hadapan. Kadangkala keduanya bisa diam selama berjam-jam sampai beberapa kali melakukan pemesanan ulang minuman. Ada pula yang sampai berteriak lepas karena tampaknya terlalu gembira. Kutaksir itu sebuah proses penembakan atau bahkan lamaran. Sesekali juga kulihat tangis dari beberapa pelanggan sesudah obrolan panjang berjam-jam yang menghabiskan beberapa gelas kopi. Sungguh, berbagai macam suasana.

Suasana itulah yang menghidupiku di Café ini. Perlahan aku sadar kalau Café ini menjadi penanda penting bagi beberapa orang. Ya, ada beberapa pengunjung belia yang bilang kalau mereka baru saja jadian di Café ini. Aku juga sering mendengar kata “putus” ketika berjalan melewati sepasang kekasih yang sedang tegang. Ekspresi sejatinya memang tidak bisa menipu.

Aku juga pernah melihat proses lamaran informal di depan mataku sendiri. Waktu itu Café sudah hendak tutup sebelum kemudian seorang lelaki berlutut di depan pasangannya yang sedang berdiri kaku di dekat pintu Café. Ah, ada-ada saja dunia ini.

Itulah hal-hal manusiawi yang membuatku tetap menjadi manusia. Melihat hal-hal yang manusiawi sungguh mampu mempertahankan jadi diri kemanusiaaan kita. Aku sadari benar hal itu dan aku mencoba mempertahankannya dengan melihat kejadian-kejadian di Café ini. Hal-hal yang mungkin buat orang lain tidak penting, tapi menjadi sangat penting bagi yang melakoninya. Bukankah hidup memang seperti itu adanya?

Tampaknya Café sedang agak sepi, sehingga aku bisa berdiri agak lebih lama disini. Pandangku ternyata belum puas menyikapi objek di meja 7. Aku melempar pandangan ke sekeliling dan kenyataannya memang tidak ada objek lain yang bisa diperhatikan kecuali gadis yang memesan segelas Caffee Latte tadi. Tentu saja, aku memandangi lingkungan Café ini setiap hari selama lebih dari 8 jam. Setiap sudut dari Café ini sudah kuhafal. Jadilah aku butuh pemandangan baru untuk menyegarkan pandangku.

Ia cantik, aku sangat mengakui itu, setelah melihat wajahnya pada jarak yang lebih dekat dan sekaligus melihat fotonya. Hawa ceria jelas tampak begitu aku mendekatinya. Entahlah, tapi yang pasti pipinya menjadi merah merona, pandangannya menjadi terang benderang, sedangkan bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah ekspresi yang bernama senyum. Satu hal yang menjadi pertanyaan bagiku adalah ‘mengapa ia sendirian?’.

Gadis itu kini masih tersenyum, tapi dengan posisi yang berbeda. Ponsel yang dari tadi melekat di tangannya kini ada di atas meja. Tangan kirinya ada di atas meja sedangkan tangan kanannya menopang dagunya. Kepalanya beredar ke kiri dan ke kanan ditopang oleh tangan kanannya. Senyum masih tidak lepas dari bibir itu. Matanya seperti sedang mengamati satu demi satu objek di Café ini.

Kepalanya bergerak kecil tanpa tergelak begitu mengamati karikatur yang ada di atas pintu masuk. Itu karyaku sendiri yang kukerjakan selama semalam suntuk. Oh iya, semua pajangan yang melekat di dinding Café ini adalah karyaku sendiri. Aku betul-betul ingin Café ini penuh dengan sentuhan yang asli dari pemiliknya.

Kepalanya kiri semakin ke kiri. Lagi-lagi gadis itu tergelak melihat patung badut berdasi yang kuletakkan di sudut Café. Patung itu kubuat dengan posisi memegang sebuah papan. Disitulah aku biasa menulis promo-promo yang aku buat di Café ini.

Sudut kepalanya tampak sudah mentok ke kiri. Kini kepala itu beralih ke sebelah kanan. Gadis itu duduk di tepi jendela sehingga begitu ia melempar pandang ke kanan, maka yang terlihat adalah halaman Café. Satu hal yang kulihat tidak lepas dari kepala itu adalah senyum yang mengembang di bibirnya.

Tiba-tiba pintu masuk Café bergerak, seorang lelaki dan seorang perempuan masuk. Aku segera bersiap untuk melayani pesanan. Dua orang pengunjung itu masuk sambil bergandengan tangan. Ketika dua meter dari pintu, pengunjung perempuan berhenti dan memandang mesra pada pengunjung yang kutaksir adalah pasangannya itu.

Benar saja, begitu pengunjung yang laki-laki mendekat, pengunjung perempuan segera menggelayutkan tangannya ke leher pengunjung laki-laki sambil bertanya, “duduk mana, honey?”

Tidak bisa diragukan lagi, kalaulah bukan sepasang suami istri, keduanya adalah sepasang kekasih. Sapaannya sudah memperlihatkan kemesraan yang terjadi.

“Di situ aja, honey?” ujar pengunjung yang laki-laki sambil menunjuk meja nomor 6. Persis di sebelah gadis yang memesan Caffee Latte tadi.

“Boleh,” jawab pengunjung perempuan sambil menggandeng pasangannya menuju meja yang ditunjuk.

Pengunjung laki-laki itu segera menuju meja nomor 6 dan menarik kursi sambil mempersilahkan pasangannya duduk. Wah, romantis sekali, pikirku.

Thanks, honey,” kata pengunjung perempuan dengan suara yang terdengar manis.

Pengunjung laki-laki itu tidak menjawab, hanya langsung memegang dagu pengunjung perempuan itu selama sedetik. Ia kemudian menarik kursinya sendiri dan lantas duduk. Aku bergegas mendekati pasangan itu.

Sembari berjalan menuju meja nomor 6, aku melihat ke gadis di meja nomor 7. Paras ayunya menyiratkan sesuatu melihat pasangan yang sedang duduk di meja nomor 6. Senyum masih ada disana, tapi aku melihat hal yang lain. Semacam perasaan iri atau sejenisnya. Aku sedang berupaya mendefinisikan itu.

Aku pun sampai di meja nomor 6 dan segera melayani pelanggan yang tampaknya sedang dimabuk asmara itu.

“Selamat sore,” sapaku dengan ramah, “Mau pesan apa?”

“Kamu pesan apa, honey?” tanya pengunjung perempuan.

“Aku coklat panas aja. Kamu apa?”

“Apa ya? Aku bingung.”

Aku diam. Hal ini sangat biasa dalam pelayanan terhadap pengunjung perempuan. Seringkali mereka sulit memutuskan minuman yang hendak dipesan. Aku pun melirik sekilas ke gadis di meja nomor 7. Kulihat lirikan kecil di matanya. Ia melirik pengunjung di meja nomor 6. Bibirnya komat kamit menyebutkan sesuatu.

Mataku mencoba fokus pada gerak bibir manis itu. Kucerna sedikit demi sedikit. Ah! Akhirnya aku bisa menyimpulkan sesuatu. Dalam penafsiranku, komat kamitnya berbunyi, “mau pesan aja repot.”

Senyum simpulku keluar ketika berhasil mencerna ucapan gadis di meja nomor 7. Sungguhpun sejak keduanya masih di pintu, aku sudah merasa bahwa gadis di meja nomor 7 ini berpikir kurang baik. Bisa jadi kemesraan berlebihan ini menimbulkan iri hati, atau perasaan lain yang sejenis. Dan kini aku menemukan kalimat ketus yang sedikit banyak nyambung dengan konteks yang aku pikirkan.

“Apa?” tanya pengunjung laki-laki itu kepada pasangannya.

“Apa ya?”

“Sama aja ya?” tawar pengunjung laki-laki itu. Aku merasa ia sudah tidak nyaman membuatku berdiri diam selama lima menit sejak ia menyebut pesanannya.

“Iya deh,” ujar pengunjung perempuan dengan mata masih melihat ke menu. Aku—sedikit banyak—tahu perihal ini dan langsung melirik ke pengunjung laki-laki. Kudengar ia bergumam, “dari tadi kenapa?”

Aku kembali tersenyum dengan kejadian yang aku lihat. Yah, hal-hal semacam ini memang mampu menyunggingkan senyum. Untunglah pengunjung Café belum terlalu ramai sehingga aku masih bisa mengamati fenomena yang terjadi.

“Coklat panas dua ya Mas,” ujar pengunjung laki-laki.

“Ada lagi?”

“Itu dulu deh.”

“Baik, ditunggu ya Mas.”

Aku berlalu dengan membawa kertas order bertuliskan dua Hot Chocolate. Pesanan yang simpel tapi mampu membuat senyumku tersungging beberapa kali. Kertas order itu kuletakkan di meja serah terima. Aku—seperti biasa—kembali tegak di tempat semula dan kembali memandangi gadis cantik di pinggir jendela yang duduk manis di meja nomor 7 itu.

Kulihat ponselnya kini kembali ke tangannya. Jemarinya dengan lincah menekan keypad di ponselnya tersebut dan lantas memindahkannya segera ke telinganya. Oh, ia sedang melakukan panggilan telepon.

Satu kali, kulihat ponsel itu kembali ke tangan. Dua kali, jemari itu kembali menekan keypad yang ada di ponsel dan ponsel itu kembali berada di dekat telinga. Tidak lama, gadis itu kembali meletakkan ponselnya.

“Paling nggak diangkat,” gumamku. Lama-lama aku menjadi pengamat beneran dalam kondisi yang seperti ini.

Tampaknya gadis itu tidak lelah berjuang dan berusaha. Diambilnya ponsel yang satu lagi, dilakukannya hal yang sama, dan ponsel itu kembali berada di dekat telinganya, kali ini di dekat telinga kiri. Tidak lama kulihat secercah senyum muncul.

“Nyambung kalau begini,” bisikku ringan.

“Dimana lu?” Suaranya ternyata cukup besar untuk bisa kudengar di tempatku berdiri. Kulirik sedikit ke meja nomor 6, kali ini pengunjung perempuan yang merasa terganggu dengan suara panggilan telepon yang cukup besar itu.

“Oh, gitu. Iya nih, gue udah bawa hadiahnya kok. Sesuai yang lu bilang waktu itu.”

Aku masih mencoba mendengarkan dengan saksama. Badanku bersandar ke meja yang ada di depanku guna menunjang badanku yang agak condong ke depan.

“Kringggg.”

Bel di meja serah terima berbunyi. Dua gelas coklat panas sudah tersedia disana. Aku bergegas menyiapkan nampan dan berbagai kelengkapan lainnya. Di sela-sela itu aku masih mencoba mendengarkan percakapan gadis di meja nomor 7.

“Ya iyalah. Tiga tahun. Itu kalau umur anak udah masuk TK kali,” kata gadis di meja nomor 7 itu sambil lantas tergelak besar sekali. Aku yakin pengunjung di meja nomor 6 sudah semakin terganggu dengan percakapan telepon ini.

Apapun, itu hak setiap pelanggan.

Kubawa dua gelas coklat panas dengan nampan, berikut kelengkapan lainnya. Sedotan, tisu, sendok, hingga gula sudah ada di atas nampan itu.

“Nggak tahu tuh. Katanya sih sudah berangkat tapi ini gue BBM belum dibaca,” cerocos gadis di pinggir jendela dengan volume suara yang masih besar.

“Coklat panas?” tanyaku begitu sampai di meja nomor 6.

“Iya.”

Kuletakkan nampan di atas meja dan segera kupindahkan dua gelas berisi coklat panas ke depan masing-masing pengunjung Café itu. Tidak lupa sedotan, sendok, tisu, dan gula segera menyertai. Kulihat sekilas, dan aku merasa seluruhnya sudah terlayani, lalu aku bertanya, “Ada yang lagi bisa dibantu?”

“Sudah, Mas.”

“Baik, selamat menikmati,” tutupku sambil meninggalkan pasangan yang sedang asyik berbincang sendiri, namun volume suaranya kalah dengan meja sebelahnya itu.

Aku berjalan perlahan memutari meja nomor 6 dan menuju meja nomor 9 karena pelanggan yang sebelumnya ada disana sudah pulang. Aku perlu memberesi meja itu. Letak meja ini masih cukup dekat dengan percakapan telepon yang terang benderang terdengar dari meja nomor 7.

“Iya. Doakan saja. Siapa tahu aja gue langsung dapat cincin. Jadi gue bisa nyusul lu deh.”

Aku masih asyik dengan aktivitas mengelap meja nomor 9 dan mulai mencerna makna dari beberapa hal yang kulihat dan kudengar dari tadi. Senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, sebuah home screen ponsel, dan beberapa konteks percakapan membuatku kembali berusaha meyimpulkan sesuatu.

“Iya deh. Iya. Tenang aja. Eh, baby lu apa kabar? Nggak mau nambah?”

Percakapan telepon masih berlanjut, kali ini soal bayi. Ah, makin bingung aku. Lebih baik aku memang tidak menyimpulkan apapun dari percakapan ini. Daripada aku berpikir terlalu keras untuk hal yang sepertinya kurang penting.

Meja 9 sudah selesai kubereskan. Aku segera kembali ke meja tempatku menanti. Entah bagaimana ceritanya, percakapan telepon dari pengunjung di meja nomor 7 itu masih saja membuat kepalaku berputar. Yah, aku memang sering memikirkan hal-hal yang tidaklah perlu aku pikirkan.

“Oh begitu. Ya udah kalau begitu. Makasih ya. Bye.”

Gadis itu akhirnya menutup percakapan teleponnya. Ponsel hitamnya kembali mendarat di meja, bersebelahan dengan gelas putih yang kini tidak lagi mengepulkan asap tipis. Sudah ada durasi waktu yang cukup untuk membuat hidangan itu dingin dan bisa dinikmati. Kopi panas memang mempunyai pesona tersendiri, termasuk ketika kopi itu dicampur dengan berbagai varian yang menciptakan berbagai variasi rasa. Itulah yang aku jual di Café ini.

Aku melempar pandang lagi ke sekeliling. Sesekali berada di tempat ini hanya untuk mengedarkan mata ke kiri dan kanan bisa membuatku bosan. Tapi tidak kali ini. Setidaknya aku mendapatkan suatu puzzle sederhana yang bisa membuatku kehilangan rasa bosan.

Pandanganku sedang asyik menatap karikatur yang kubuat persis di atas pintu koboi ketika pintu itu terbuka. Seorang laki-laki mendorong pintu itu dengan keras dan masuk ke dalam Café. Hampir sama seperti pengunjung lainnya, ketika masuk ke dalam Café, yang pertama kali dilakukan adalah berdiri dua meter dari pintu dan memandang ke sekeliling. Laki-laki yang baru masuk ini pun melakukan hal yang serupa.

Aku mulai bersiap-siap untuk melayani pengunjung yang satu ini. Seperti aku bilang tadi, aku terbiasa dengan pelanggan perorangan. Mereka inilah yang biasanya menghabiskan lebih banyak waktu di Café alih-alih orang yang datang berdua atau lebih. Mereka ini biasanya mencoba menikmati hidupnya dengan kesendirian. Setidaknya itu kesimpulanku hingga saat ini.

Pengunjung lelaki itu kemudian menatap terpaku ke meja nomor 7. Edar pandangnya berakhir di titik itu, persis di tepi jendela. Badannya terdiam selama beberapa detik sebelum kemudian kulihat senyum terbentuk di wajahnya.

Aku mulai merasa aneh. Perasaanku bilang kalau aku pernah melihat orang ini. Tapi perasaanku juga gagal menjawab pertanyaan perihal tempat aku pernah melihat orang ini. Aku malah jadi bingung sendiri.

Lelaki itu kemudian berjalan bergegas menuju meja nomor 7. Pengunjung di meja nomor 6 melirik sedikit, tapi sepertinya mereka sedang asyik dengan dunianya sendiri. Gadis di meja nomor 7 mendongak dari keasyikannya dengan ponsel yang sedari tadi melekat di tangan. Mulutnya sedikit membuka, pandangannya kosong. Perlahan mulut itu melengkung membentuk senyum yang sama manisnya dengan yang kulihat sedari tadi.

Hal yang kulihat memang sederhana. Pandangan mata itu menjadi ceria. Pipi gadis itu menjadi merah merona. Senyumnya menjadi merekah indah. Aku masih berusaha menyimpulkan semuanya.

* * *

Bahkan saya sendiri nggak paham apa inti cerita sepanjang ini -___-“

RIP Pastor Mikael Gunadi

Pagi-pagi dapat telepon dari Bapak, ngasih tahu kalau Pastor Galli meninggal di Pekanbaru..

sumber: agusta6872.wordpress.com

Okay, nggak banyak yang saya tahu tentang Pastor yang punya nama lain Mikael Gunadi ini, kecuali:
1. beliau adalah pastor yang menyiramkan air suci ke kepala saya pada suatu hari di tahun 1987 dalam sebuah sakramen baptis
2. beliau adalah pastor yang ada di altar ketika saya dengan baju putih-putih menerima komuni untuk pertama kali
3. beliau adalah pastor yang menyerahkan dua gelas berisi air dan anggur pada saya dalam tugas putra altar perdana saya
4. beliau adalah pastor yang mendampingi Mgr. Martinus Situmorang dalam sakramen krisma saya

Yak, Pastor Galli adalah orang yang menjadi penanda momen-momen penting saya di gereja.

Beliau memang sudah lanjut usia. Based on blog kak Ade ini, disebutkan kalau Pastor Galli sudah jadi pastor dari jaman Mama-nya Kak Ade masih kecil. Sebuah waktu yang sangat lama bukan?

Pastor Galli memang sudah tua. Terakhir ketemu waktu mudik Agustus kemarin–seperti biasa karena selalu datang cepat–jadi masih sempat salaman dengan beliau. Tangannya memang sudah lama tremor, kalau tidak salah sudah sejak saya mudik 2007. Tapi ya begitulah, beliau masih memimpin misa, masih memberikan kotbah, dan, ehm, entah mengapa tanpa mengenakan kacamata.

Pastor Galli memang cenderung galak kalau di altar. Saya lupa sudah berapa kali ‘kena’ gara-gara lelet waktu di altar. Tapi di luar itu, Pastor Galli adalah orang yang tergolong ramah, dan yang saya ingat, anti benar dengan orang yang ribut di gereja.

Yah, saya nggak mengenal beliau terlalu banyak, tapi–apapun–beliau adalah orang yang hadir di momen-momen penting kekatolikan saya.

Selamat jalan, Pastor! Berkah melimpah di Surga 🙂