All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

[Blog Review] Tintusfar’s Weblog

Dari baca judulnya saja sudah nggak niat, apalagi lihat isinya. Ehm, maksud saya, bahkan Tintus (si empunya blog ini) nggak mengganti tag line ‘Just Another WordPress weblog’. Plus, jangan harap bisa menemukan ‘archive’ blog ini selain dengan menekan ‘older post’. Ya, kalau dari manajemen blog, buat saya Tintus kurang niat. Hahaha.. *piss ah*

Tapi jangan ragukan soal konten.

Ini adalah satu dari sedikit blog unik yang ditulis dengan sederhana, jauh lebih sederhana daripada blog saya yang nyata-nyata pakai judul ‘sederhana’, tapi punya sisi-sisi penceritaan yang di luar kebiasaan. Membaca blognya Tintus pasti akan bikin tersenyum kecil dari caranya bercerita.

Ya, sederhana. Kenapa? Karena runut sekali, habis A, lalu B, lalu C, lalu D, dan selesai. Sudah. Tapi di dalam A, B, C itu ada twist yang mampu bikin blog ini jadi unik.

Contoh:

Sesaat setelah melewati genangan air tersebut, rintik demi rintik airpun turun. Bunyinya bukan hanya di atas genting, melainkan juga di atas helmku, di atas kap mobil, di atas atap halte bis, dan di atas lainnya. Lama kelamaan airnya turun tidak terkira. Kutengok kiri dan kanan, pohon, ranting, rumah, basah semua. Termasuk diriku. Dan air hujan tidak kenal tempat. Di tengah jalan raya yang banyak dilalui orang ini, ia terus merambat sampai ke dalam celanaku. Bahkan lebih jauh lagi, sampai ke dalam celana dalamku. Dingin, dingin, gimanaaa gitu..

Ingat lagu ‘tik..tik..tik.. bunyi hujan di atas genting.. airnya turun tidak terkira..dst…’? Dibawakan dengan manis dan mengundang senyum hanya dengan menceritakan lagi kehujanan.

Atau cara lain penyampaian yang begini:

Di foto yang terpajang di papan pengumuman tersebut, wajahnya mulus tanpa jerawat. Aslinya, dalam kamus bahasa halus untuk kaum hawa, wajahnya bagai rembulan. Mungkin selama mengenalnya, dia sedang puber.

Penggunaan majas yang asyik sekali tampak di kalimat barusan.

Yah, kisah-kisah sederhana, ditulis dengan sederhana, tapi penuh dengan twist yang oke punya. Yah, cuma kurang niat melengkapi widget-nya aja ni orang. Oya, Tintus ini hanya berselisih NIM 1 dengan saya waktu kuliah, jadi hampir pasti saya dan dia 1 kelompok, apapun itu kuliahnya. 😀

Silahkan dikunjungi 🙂

[Blog Review] darfiansyah’s notes

Oke, lanjut.. Kalian luar biasa… *salah fokus*

Review blog berikutnya adalah milik teman sekantor saya, Irfan, dalam darfiansyah’s notes.

Dalam catatannya, Irfan banyak berkisah soal sehari-hari juga, tapi arahnya (menurut saya) lebih dari perspektif keagamaan. Tentu saja, karena saya lihat di kantor dia orang yang agamanya oke. Hehe.. Lihat saja di posting-postingnya, setiap hal sederhana bisa dikaitkan dengan kacamata yang lain karena dilingkupi konteks Tuhan.

Hal simpel misalnya tertulis di beberapa posting tentang tafsir kitab suci. Mengambil konsep audit, temuan berulang di beberapa bagian adalah observasi besar. Irfan juga menemukan temuan sejenis, misal soal tafsir, dan menuliskannya di beberapa bagian. Artinya, dia punya pengertian tentang itu. Boleh juga.

Blog ini juga banyak bercerita tentang masa-masa menempuh pelajaran hidup sejak dahulu kala dan dituliskan dalam konteks bersyukur. Yah, kalau bacanya, kadang adem sendiri, walaupun saya dari kepercayaan yang berbeda. Hehe..

Silahkan dikunjungi 🙂

 

[Blog Review] (Mencoba) Melihat dari Sisi yang Berbeda

Ini blog asli adek saya. Ya walaupun hanya 1 dari sejuta manusia di dunia yang mengakui kalau ada kemiripan antara saya dengan dia. Terang sajalah! Saya gelap buruk rupa begini, dia putih dan (cukup) mempesona. Itu dia, makanya (m)buat anak jangan coba-coba #halah

Sesuai namanya, (Mencoba) Melihat dari Sisi yang Berbeda, Cici lebih banyak menuliskan pendapatnya tentang segala sesuatu atau tentang pengalaman sehari-harinya. Dari judulnya sudah main aman. Dia pakai kata mencoba, alih-alih menahbiskan diri kalau dia sedang melihat dari sisi yang berbeda (tentang sesuatu yang dikomentari).

Dan coba bandingkan tulisan saya di blog ini dengan tulisan Cici, bagi yang mengerti dunia tulis-menulis pasti menemukan beberapa kemiripan gaya. Ya, hal itu dimungkinkan karena orang tuanya sama. Yang ngajari nulis sama, yang ngajari berpikir juga sama. Perbedaan hanya pada bentuk-rupa-wujud saja kok. Haha..

Cici sama nggak produktifnya dengan Tere. Saya yakin itu semata-mata perkara dia nggak punya uang beli pulsa modem, karena beberapa kali minta saya #diceplosin

Dan kalau saya cenderung melihat hal-hal gede (sok mau jadi orang besar), adek saya ini mengomentari bahkan hingga kuliah kosong. Jadi, silahkan dikunjungi untuk melihat sisi yang berbeda 🙂

[Blog Review] Bailar Bajo la Iluvia

Hendak bergalau ria dengan cerita-cerita yang dituturkan dengan manis? Satu tempat rekomendasi adalah bailar bajo la iluvia. Ini blognya Tere, yang saya kenal karena dia adalah temen kosnya adek saya. Dan kebetulan adalah sesama anak guru Bahasa Indonesia plus ternyata sesama GALAU. Haha..

Blog-nya Tere ini ada sejak 2010 dan sampai sekarang entah sudah berapa kali ganti desain. Produktivitas mungkin masih sedikit, tapi soal kualitas jangan ditanya.

Mungkin, ini mungkin doang lho ya, dia lebih memilih untuk kuliah daripada ngeblog. Eh, salah.

Mungkin dia memilih untuk menuliskan sebuah cerita yang sudah benar-benar final dan nyata bagus baru diposting. Ini prediksi saya. Karena coba deh lihat postingannya rerata panjang dan terstruktur sehingga tentu perlu permenungan mendalam (ceileee..) sebelum menekan tombol ‘post’.

Ada juga rangkaian posting foto, yang saya tahu mirip dengan yang diposting teman kos adek saya yang lain. Bahkan foto-fotonya juga sama. Ini siapa terinspirasi siapa ya.. Hehe..

Yang kurang dari blognya Tere ini cuma 1 kok, kurang produktif. Karena beberapa pengunjung setia blog saya pernah bilang terus terang kalau menyukai cerita-cerita yang dimuat di blognya Tere.

Keep posting! 🙂

Silahkan dikunjungi.. 😀

[Blog Review] Neo Butterfly

Sudah akhir tahun 2012. Ehm, ada baiknya saya nge-review dulu blog-blog teman yang rutin saya kunjungi untuk sekadar mendapat cerita. Hehe..

Kita mulai dari blognya Ayuk kito sikok ni, Nova.

Ini teman saya waktu join di kantor sekarang dan kemudian sesudah menikah pindah ke kantor yang lama. Ya, saya dan Nova semacam dianggap pertukaran pelajar saja. Hahaha..

Blog-nya Nova bernama neo-butterfly. Sila klik judul di sebelah untuk menuju blog tersebut. Dan bisa dibilang kalau dia sangat produktif! Deretan postingnya ada dari 2009 hingga 2012 dan rerata setahun pasti di atas 100. Isi blog ini pada umumnya adalah tentang sehari-hari. Blog ini benar-benar diary-nya Nova 🙂

Satu hal yang menjadi unik sejak hamil adalah update-nya perihal kehamilan. Hehehehe.. Bagaimanapun, bagi saya, untuk hal-hal sejenis dengan kehamilan ini, saya prefer baca blog yang ditulis langsung alih-alih buku panduan. Karena pengalaman itu pasti punya nilai kemanusiaan yang lebih.

Kalau mau mengunjungi blog ini harus siap-siap dengan fotonya yang melimpah ruang. Haha.. *piss yuk*

Bahkan pernah nih, dia posting kartu-kartu-nya, lengkap dengan nomor-nomornya, untuk segera diedit. Kalau nggak, udah jadi korban penipuan dia. 😀

Sekarang saya nge-klik neo-butterfly dari link yang saya pasang di blog saya, semata-mata ingin melihat cerita terbaru soal dedek Keyla (anaknya Nova). Dan sesekali mencuri informasi soal kantor lama yang ditulis dengan sedikit manis-halus. Saya yakin, kalau yang mengundang perdebatan pasti diam di draft saja. 🙂

Silahkan dikunjungi 🙂

 

Choir

Yeah, what is choir?

Haha.. Nggak usah dijawab. Ya, sebagai contoh nih, lihat di page yang ada di blog ini bahwa saya pernah ikut lomba Christmas Choir Competition. Ada choir kan disitu? Anggap saja paduan suara.

Dua kali ikut lomba choir di dua pekan belakangan membuat saya sedikit ‘terbuka’ tentang profil choir yang ada–terutama di Jakarta.

Dipikir-pikir, uang yang berputar sebenarnya cukup besar. Kalau dulu di Jogja, setahu saya levelnya sekitar 600 ribu-an, di Jakarta bilangan sudah jutaan. Kualitas? Don’t ask. Saya bisa pastikan bagus, karena ya memang bagus.

Kapan ya, saya bisa ikut lagi choir yang ‘bener’?

Maksudnya, yang kualitasnya bagus, yang latihannya rutin, yang tugasnya rutin, dan yang MENAMBAH INCOME. *butuh duit mode on*

Iya, saya emang ‘ngelatih’ (mungkin lebih tepatnya milihin lagu sama jadi dirigen, i am not really sure that i am a choir coach) di lingkungan. Tapi, aih, boro-boro. Yang latihan 20, yang tugas 40. KEMANE AJE???

Kualitas apa sih yang diharapkan kalau begitu? Kualitas asal tahu lagu? Entahlah.

Saya lomba choir bareng CFX, alias Ex-CF. Lha tapi gimana latihan yang baik dan benar dan rutin dan lainnya kalau personelnya se-Jabodetabek. Sekali latihan (contoh di Gading Serpong), saya bisa habis 50 ribu ongkos doang, belum kalau kelaparan, belum lagi ada orang dekil masuk ke bis, makan silet, lalu minta duit. *dasar edan* Choir semacam ini sangat mengandalkan kualitas individu dan rekam jejak masa silam untuk saling mengenal. *tapi gitu-gitu juara satu lohhh…*

Kapan ya? Sesungguhnya, saya rindu suasana choir yang sebenarnya 😦

CFX: Perpaduan Kualitas dan Kehendak Tuhan

Entah dari mana saya harus mulai posting ini.

Suatu ketika Mas Mbong menulis di FB, menantang seluruh alumni CF untuk konser bersama berkedok reuni. *halah*
Lalu, dalam rangka nyari duit, pas ada lomba, pas lomba natal, dan segala pas-pas lainnya, akhirnya Oon bikin invitasi, siapa yang hendak turut.

Sampai disini, saya hanya sebagai pemirsa.

Kemudian datang lagi invitasi lanjutan, dan melihat list yang mau ikut, saya tertampar sendiri. Kalau si Nana (Bekasi) dan si Sammy (Bogor), serta Mas Alex (Depok) mau ikut, masak saya nggak?

Ya  sudah, akhirnya ikut.

Tentu ada pengorbanan waktu beberapa orang untuk mengurusi administrasi lomba. Juga pengorbanan tenaga untuk mempersiapkan teks yang ternyata harus dikonversi dari not balok. Saya, lagi-lagi, menjadi pemirsa saja. Dan terima beres.

Dalam hati terus berpikir. Bagaimana ceritanya, orang-orang yang ada di JAkarta, BOgor, DEpok, TAngerang, dan BEKasi ini bersatu dan latihan macam dulu? Kalau dulu semudah mengumpulkan di Mrican dan Paingan. Sekarang?

Sekadar melatih lagu pertama (The Twelve Days of Christmas) saja rasanya sudah setengah mati. Lagu dengan modulasi berkali-kali itu susah, apalagi birama 120. Sampai suatu hari kita membanting teks itu dan berteriak, “Mas Mbongggg..”

Itu di latihan pertama di Taman Suropati. Jangan ditanya juga bagaimana ceritanya mengumpulkan orang-orang di Taman Suropati itu. Satu hal, tidak lengkap.

Latihan kedua, di tempat yang sama, saya nggak hadir gegara hujan dan macetnya ibukota. Juga latihan di Gading Serpong, nggak hadir juga.

Saya baru nongol lagi ketika latihan di Gereja di belakang Sarinah. Dari siang sampai sore. Ini juga tidak lengkap. Malah ada yang baru pertama kali latihan, ya disini ini. Hehe.. Dan syukurlah, disini juga birama 120 itu pertama kali dinyanyikan dengan benar.

Latihan terakhir, di sebuah sekolah internasional di Gading Serpong. Ini latihan yang HAMPIR lengkap alias ya nggak lengkap juga. Sudah mulai benar nyanyi dan geraknya. Ehm, saya dari Gading Serpong jam 4, sampai Cikarang jam 7. Suwi men rek.

Dan itu adalah latihan terakhir, saudara-saudari!

Saya nggak berasa hendak ikut lomba. Ikut latihan cuma 3 kali, sangat tidak terbandingkan dengan yang saya alami lima tahun silam di Jogja.

Sampailah hari H, 8 Desember 2012, di sebuah kampus di Semanggi. Nomor undian 6. Orang-orang dari Jabodetabek yang nggak pernah komplit latihan itu akhirnya berkumpul komplit.

Jadi, paduan suara ini baru berkumpul semuanya lengkap, ya pas hari H.

Masuk ke Ruang Siaga 2, hanya 1 lagu yang bisa terlatihkan, ya lagu pokok. Dan si solo tenor (Jati) sempat luput. Sampai kemudian mukanya berubah tegang begitu. Hehehe.. Mana birama 120 itu ternyata buyar.

Sampailah saat terakhir, Siaga 1 (backstage). Rasanya aneh, hendak ikut lomba lagi. Sejujurnya lomba itu jauh lebih ganas daripada sekadar show peresmian pabrik. Show peresmian pabrik, sejelek apapun kita pasti ditepukin. Kalau lomba? Nilai jelek. Hal yang sangat berbeda.

Langkah pun dilakukan di atas panggung. Tidak banyak penonton, ada sedikit rasa syukur disana. Hehe.. Setidaknya mengurangi grogi. Habis foto-foto mulailah, orang-orang yang baru sekali ini tampil bersama komplit itu beraksi. Ya, pertama kali tampil komplit, ya pas di panggung. Entah buat yang lain, tapi buat saya itu gila.

Dan, kehendak Tuhan terasa benar. Ya, solis-solis tampil mulus, bahkan birama 120 yang mengenaskan itu akhirnya bisa terlewati dengan baik. Baik sekali malah. Asli mulus.

Dan penampilan ini sudah cukup membuat lepas di 2 show berikutnya. Yah, Sigulempong sama Jingle Bells Rock dilibas abis dengan gokil. Sampai-sampai di komentar juri tertulis “Great Showmanship“. Hehehe.. Bangga juga..

Dan nyatanya kemudian adalah paduan suara ini masuk final. Bersama 7 paduan suara lain yang (beberapa) dari nama sudah mengisyaratkan 1 tempat (lokasi) dan pasti nggak ada ceritanya baru sekali-kalinya komplit yang pas di panggung.

Apakah ini disebut well prepared?

Mungkin tidak.

Tapi kenapa bisa lolos?

Buat saya ini perpaduan dua hal, yakni kualitas dan kehendak Tuhan. Kualitas individu mungkin memang sudah cukup, secara mayoritas dulu digembleng di kawah candradimuka CF, belum lagi mengembangkan diri di choir lainnya. Lalu kehendak Tuhan?

Tentu saja. Mungkin ini jawaban Tuhan atas perjuangan orang-orang ini untuk bisa berkumpul, dengan jarak yang jauh-jauh untuk niat mulia menambah dana konser reuni tahun depan. Ya, Tuhan memang LUAR BIASA!

Mau tahu yang lebih luar biasa?

Dengan formasi yang lebih sedikit, tim yang sama akhirnya bisa JUARA 1! Saya nggak ikut final karena harus opening meeting. Andai saja meeting ini bisa ditunda (apa dibatalkan sekalian). Fiuhh.. Tapi rasa ikut senangnya, LUAR BIASA!

Buat saya, ini bukan sekadar kemenangan. Nilainya lebih kepada pertemuan kembali (dengan luar biasa–karena faktor jarak) dan berkumpul kembali di panggung, setelah sekian lama.

Awesome..