Tentang Lovefacture (3)

Komentar dan masukan adalah aspek yang sangat berharga bagi seorang penulis, apapun itu baik atau buruk.

Ingat di awal-awal bahwa si Tere yang membaca dan membongkar siapa sih tokoh sebenarnya di balik Lovefacture. Alhamdulilah ini memang fiksi semata, jadi dikorek-korek gimana juga ya fiksi. Beda sama Alfa. Hehe.

Ingat juga ketika si Coco, nyaris tengah malam nge-whatsapp, berkomentar soal status Alex dan Bayu, berikut Grace dan Eta. Kalau sampai tahu, berarti baca. Dari situ saya senang juga.

Tentu lebih ingat lagi ketika si Tere (lagi) berkomentar soal alur yang agak sedikit janggal. Well, namanya kritik dan tidak dipuji itu teringat banget, apalagi buat si melankolis ini. Tapi itu oke, sudah saya catat untuk jadi masukan ketika hendak mengedit.

Lalu juga ketika Desti, yang namanya saya pinjam buat tokoh kasih komen kalau bab putusnya Alex dan Eta itu apik. Lha, putus ngono tok kok apik? Hehe. Terserah, itu kan komentar pembaca.

Barusan juga kang DP kasih komen apik pada Lovefacture. Sebuah komen yang mengingatkan saya bahwa sesudah menuntaskan bab 41, saya belum mengedit kompilasinya. *haduh*

Senangnya bahwa saya punya pembaca, apalagi pembaca yang dengan rela hati mentions, nge-FB, atau bahkan nge-whatsapp saya sekadar ngomongin cerita Lovefacture ini. Sesungguhnya, hal itu bermakna banyak buat saya.

*brb ngedit*

*deadline melanda*

๐Ÿ˜€

Tentang Lovefacture (1)

Bulan Desember lalu saya memulai proyek baru berjudul LOVEFACTURE. Sebuah proyek menulis yang saya buat blognya sendiri, jadi 1 blog isinya ceritanya doang. Dan sampai sekarang baru kelar 17 bab -___-”

Baru 17 bab? Iya, karena saya sadar ‘nafas’ saya yang pendek dalam bercerita, maka saya buat bab yang banyak dulu, untuk kemudian nanti diedit-edit lagi, kalau memang mau diperbaiki. Angka 17 ini bahkan belum setengahnya.

Ini mungkin proyek yang bisa dibilang paling rapi yang saya punya. Baru kali ini saya membuat outline dengan ‘sebegitunya’, semata-mata ingin hasil yang sempurna. Hanya saja, memang, pemilihan cara bercerita saya sungguh menimbulkan kelelahan. Terkadang saya menjadi delusional ketika menulis bab demi bab. Tentu saja karena pilihan sudut pandang yang saya ambil. Saya tahu itu sulit, tapi buat saya ini tantangan besar. Saya harus terus memaksa diri saya untukย push to the limit. HARUS!

Kalau luput agak lama, saya bahkan sampai lupa jalan dan bagaimana bercerita, maka saya kemudian harus baca ulang, juga tulis ulang. Dan saya amat yakin banyak yang belum sempurna dari proyek ini.

Satu hal, saya pernah dengar bahwa tulisan yang baik itu adalah tulisan yang SELESAI. Maka itu pula di blog ini mulai jarang cerpen, karena saya mencoba fokus di LOVEFACTURE dulu. Mohon doa agar proyek ini selesai, lalu bisa diedit, dan jika mungkin bisa menemukan rumahnya. Saya menulis posting ini semata-mata sedang lelah pasca penulis bab ke-17.

๐Ÿ™‚

[Blog Review] (Mencoba) Melihat dari Sisi yang Berbeda

Ini blog asli adek saya. Ya walaupun hanya 1 dari sejuta manusia di dunia yang mengakui kalau ada kemiripan antara saya dengan dia. Terang sajalah! Saya gelap buruk rupa begini, dia putih dan (cukup) mempesona. Itu dia, makanya (m)buat anak jangan coba-coba #halah

Sesuai namanya, (Mencoba) Melihat dari Sisi yang Berbeda, Cici lebih banyak menuliskan pendapatnya tentang segala sesuatu atau tentang pengalaman sehari-harinya. Dari judulnya sudah main aman. Dia pakai kata mencoba, alih-alih menahbiskan diri kalau dia sedang melihat dari sisi yang berbeda (tentang sesuatu yang dikomentari).

Dan coba bandingkan tulisan saya di blog ini dengan tulisan Cici, bagi yang mengerti dunia tulis-menulis pasti menemukan beberapa kemiripan gaya. Ya, hal itu dimungkinkan karena orang tuanya sama. Yang ngajari nulis sama, yang ngajari berpikir juga sama. Perbedaan hanya pada bentuk-rupa-wujud saja kok. Haha..

Cici sama nggak produktifnya dengan Tere. Saya yakin itu semata-mata perkara dia nggak punya uang beli pulsa modem, karena beberapa kali minta saya #diceplosin

Dan kalau saya cenderung melihat hal-hal gede (sok mau jadi orang besar), adek saya ini mengomentari bahkan hingga kuliah kosong. Jadi, silahkan dikunjungi untuk melihat sisi yang berbeda ๐Ÿ™‚

Lampu Merah

Sebenarnya cinta itu mudah,
kalau tidak dibalut rasa.

Masalahnya, cinta dan rasa itu jadi satu.

Seharusnya cinta itu indah,
kalau tidak diselubungi beda.

Masalahnya, cinta dan beda itu serangkai.

sumber: idlehearts.com

Harusnya, cinta bisa bilang:
kapan aku harus melaju
kapan aku harus perlahan
kapan aku harus berhenti.

Harusnya, cinta bisa mencegah:
kecelakaan rasa
kecelakaan hati
kecelakaan cinta itu sendiri.

Tapi, cinta bukan lampu merah
cinta bukan lampu kuning
cinta bukan lampu hijau.

Cinta bukanlah apa-apa
Ia hanya untaian rasa milik manusia

Yang (bisa) datang dengan mudah
Yang (bisa) datang dengan sederhana
Yang (bisa) datang tanpa diduga

Dan (bisa) pergi dengan cara yang sama.

Demikian cinta
Demikian kita hidup
Karena hidup ini semata-mata cinta

๐Ÿ™‚