17 in 1

“Mak, besok aku pergi ya. Ke Solo,” ujarku pada Mamak yang lagi berkunjung ke Jogja guna mengantarkan adikku gadis satu-satunya bersekolah di kota pelajar ini.

“Ngapain?”

“Main.”

Ya, aku pun kurang tahu mau ngapain di Solo besok, tapi ini sudah perjanjian dengan Dolaners dan kalau nggak ikut kok rasanya kurang afdol. Lagipula, ehm, aku kan belum pernah ke Solo.

Ada untungnya juga aku pergi main begini ketika ada orang tua. Bayangkan, dari sekian rute dolan-dolan sebelumnya, mayoritas aku berangkat dengan kelaparan dan kehausan. Sekarang? Sejak subuh Mamak sudah menyiapkan sepiring mie goreng dan susu untuk anak lelaki pertamanya ini. Hore bener.

Aku bergegas menuju Stasiun Lempuyangan di tengah kota Jogja. Perjalanan tanpa konsep ini segera dimulai.

Oke, baiklah kalau aku bercerita sedikit latar belakang perjalanan ini. Jadi itu, si Chiko, bilang ke teman-teman kalau dia belum pernah naik Kereta Api. Ceritanya yang diulang-ulang membuat teman-temannya trenyuh minta ampun dan kemudian merancang sebuah perjalanan dinas dengan Kereta Api. Kalau mau ke Jakarta, kejauhan. Jadi diambil yang singkat dan mestinya murah, naik Prambanan Ekspress alias Prameks ke Solo.

Di Solo ngapain? Ya, itu urusan nanti.

Aku juga kurang tahu siapa saja yang ikut dalam edisi dolan kali ini, mau ngapain di Solo, dan segala tetek bengek perjalanan lain. Satu yang pasti, ini mau dolan ke Solo.

Aku masuk ke tempat pembelian tiket Prameks di stasiun Lempuyangan dan bertemu dengan beberapa Dolaners. Absen demi absen, akhirnya terkumpullah sumbangan sebesar, eh salah, 15 manusia Dolaners. Banyak juga!

Lima belas pemuda-pemudi harapan bangsa ini bergegas masuk setelah membeli tiket Prameks. Chiko menjadi fokus perjalanan karena dolan-dolan kali ini dirancang untuk kesenangannya. Mana ada coba teman kayak gini? *songong mode on*

Kereta api jurusan Jogja-Solo itu berjalan perlahan meninggalkan Lempuyangan. Agak berbeda dengan yang sering aku temui. Ya tentu saja, aku biasa naik kereta api untuk perjalanan jauh yang membutuhkan perpisahan. Kalau Jogja Solo ini jarang ada dadah-dadah dan tangis-tangis layaknya kereta menuju Jakarta. Paling nanti sore ketemu lagi.

Ketika memasuki daerah bandara, Chica dengan bangga menunjuk-nunjuk, “Kae loh TK-ku dulu.”

Sebagian bangkit berdiri melihat ke jendela. Sebagian yang lain hanyut dalam lelap. Maklum, berangkat pagi untuk mahasiswa yang lagi libur semester itu setengahnya bermakna derita, meski itu untuk dolan sekalipun.

Ketika kemudian kereta memasuki daerah Klaten, Yama giliran bangkit berdiri dan menujuk ke arah luar sambil berkata, “Kae omahku.”

Kali ini semua bangkit berdiri dan menatap sekilas bangunan yang cukup megah dengan pemandangan asli kampung di sekitarnya.

“Apik omahmu,” ujarku.

“Ora koyo rupamu,” timpal Chiko.

Yak, sesi ejek mengejek tampaknya dimulai. Timpalan dari Chiko sudah berhasil mencairkan suasana pagi ini. Berbagai ejekan dan hinaan keluar bergantian di dalam kereta api yang kini melaju kencang itu.

“Solo Balapan habis,” ujar porter yang merangsek masuk ke dalam kereta. Tentunya mereka berharap ada sedikit rezeki dari orang-orang berbawaan banyak.

Dolaners turun satu per satu. Sesudah turun, yang terjadi adalah bingung. Mata beredar ke sekeliling dan melihat sebuah kereta api eksekutif parkir. Tanpa buang waktu, Dolaners pose di depan kereta eksekutif itu. Hmmm, jadi secara dokumentasi kami tidak akan dianggap naik Prameks karena novum ini memperlihatkan kami berfoto bersama kereta eksekutif. *penting ya?*

Aku dan 14 dolaners lain berjalan ke luar stasiun. Sampai luar, yang ada adalah… bingung. Terkapar miris di depan kantor PT KAI adalah kejadian selanjutnya.

“Iki ngopo dewe?” tanyaku.

“Lha kowe Ko, arep ngopo dewe?” imbuh Fian.

“Muleh wae po?” kata Chiko.

Dan ini sebenar-benarnya bingung.

“Aku wis ngomong Ani kok wingi,” ujar Chica. Perkataan yang sungguh meredakan suasana.

Ani adalah teman main juga, dan kebetulan berasal dari Solo dan karena ini libur semester maka otomatis berada di rumanya. Artinya, Ani sedang berada di Solo. Jadi, Ani ini orang Solo bukan ya? Malah nggak jelas begini.

Setengah jam kemudian muncullah sebuah kijang berwarna merah. Ani yang bertubuh mungil bak anak SD kemudian turun dari bangku depan. Kedatangan Ani menjadi semacam Oscar Oasis melihat setetes air di padang gurun.

Obral-obrol sebentar, perjalanan lantas hendak dilanjutkan. Pertanyaan besar muncul.

“Naik apa?”

Ani sudah berbaik hati menyewakan sebuah mobil kijang dan membooking saudaranya untuk menyetirkan mobil kijang ini. Dan sebagai dolaners yang baik, harus bisa berbuat sesuatu. Maka, tindakan selanjutnya adalah… memastikan 15 dolaners plus 2 penghuni Solo asli bisa cukup di dalam sebuah mobil Kijang Super!

Absurd? Pasti. Tak bahas sebentar metode penataannya.

Saudara Ani tentu di bangku kemudi. Ani duduk manis di sebelah pengemudi karena badannya yang kecil mungil. Nah, karena ada Bona yang lagi cedera lutut tapi dengan rela hati ikut dolan, maka ia harus jadi prioritas. Jadilah Bona booking satu tempat di depan. Chiko dengan seringai liciknya mengajukan diri menemani Bona. Yak, empat orang di bagian depan.

Masih ada 13 orang lagi yang belum masuk ke mobil merah ini.

Gadis-gadis yang berbodi agak gede lantas masuk ke deret tengah. Aya, Dipta, dan Cindy masuk. Sofa hidup ini lantas dilapis gadis-gadis yang agak kecilan. Jadilah Sinta, Rani, dan Chica masuk. Sip, enam orang ini bisa membentuk pepes gadis jika dikukus beberapa jam.

Nah, tinggal tujuh manusia lain. Ini Kijang edisi lawas, jadi tampaknya mampu memuat agak banyak di bagian belakang. Kursinya model berhadap-hadapan samping. Fano dan Yama mantap di pojokan masing-masing kursi. Aku dan Randu menyusul di sebelah Fano dan Yama. Jadi sudah berapa ini? Sampai nggak bisa menghitung lagi.

Tujuh kurang empat. Yak, zona kecil di antara dua kursi itu harus bisa memuat tiga manusia lagi. Toni dan Bayu masuk dan mencari posisi, tampaknya dapat. Sebagai finalisasi, Fian masuk ke celah yang tersisa dengan pose kepala duluan, kaki belakangan. Ini pose paling antik dalam upaya pemecahan rekor dunia ini.

Pas ngepas abis. Mobil berisi tujuh belas manusia ini lantas berjalan. Seluruh penghuni mobil 17 in 1 ini pasrah pada Ani, hendak dibawa kemana hubungan kita. *armada mode on*

Tanpa disangka, Ani membawa kami ke Soto Gading. Memangnya apa Soto Gading? Aku sih nggak tahu, tapi melihat ramainya mobil yang parkir plus ramainya pengunjung, mestinya soto ini terkenal. Mungkin bahan bakunya pakai gading gajah duduk.

Mobil kijang merah itu kemudian parkir manis di sebuah celah yang ada. Dan sesi pembuatan pepes sementara berakhir. Kami bergegas keluar lewat urutan yang sudah dibentuk dari awal tadi. Tukang parkir tampak menganga melihat jumlah orang yang turun dari mobil yang tampak tua itu.

Soto Gading tentu beda dengan Soto Simbok. Ya iyalah, dari daftar harganya sudah bikin garuk-garuk. Tapi tampaknya Ani ini memang baik hati. Sebanyak 17 mangkok soto plus minumnya menjadi tanggungan Ani. Teman macam apa ini? Sudah menyewakan mobil plus mencarikan supir, masih membayari makan pula. Mantap kali!

“Kemana?” tanya Ani ketika sesi makan pagi hampir disudahi.

“Kraton wae,” ujar Chiko.

“Sekalian Klewer kalau gitu.”

Sepakat! Tentu sepakat karena mayoritas nggak tahu Solo. Dengan hawa panas habis makan soto yang pedas, tim pepes manusia kembali membentuk formasi 17 in 1. Kali ini sudah mulai terbiasa.

Mobil melaju perlahan ke arah pasar Klewer sampai menemukan sebuah celah untuk parkir di sela-sela keramaian. Yak, ini mungkin tempat perhentian yang salah. Ramai cuy!

Mulailah pintu dibuka, Fian keluar, Bayu dan Toni menyusul, lantas aku dan Randu. Aku iseng mengamati kenaikan perlahan bodi mobil terhadap ban pada setiap kali manusia turun. Ternyata ini mobil tadinya ceper. Ya iyalah, memuat 17 orang itu sudah hampir mendekati 1 ton kayaknya. Orang-orang yang lewat juga tidak kalah menganganya dibandingkan tukang parkir Soto Gading. Tapi, namanya Dolaners, ya cuek sajalah. Anggap aja lagi di Ngobaran.

Pasca parkir di Pasar Klewer, rombongan manusia muda belia harapan bangsa ini berjalan ke Kraton Solo. Sejujurnya nih, ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sebuah kraton. Ya, meski sudah empat tahun di Jogja, aku sendiri tidak pernah menginjakkan kaki di Kraton Jogja itu sendiri.

Rombongan Dolaners segera memasuki bagian dalam Kraton yang mensyaratkan satu hal: buka alas kaki. Bukan masalah buat yang lain, tapi isu besar buat Aya yang kakinya baru aja luka. Ehm, alasannya sih jatuh dari sepeda motor. Yah, fakta yang tidak bisa dibantah adalah hampir selalu si Aya ini jatuh tiap kali mencoba mengendarai sepeda motor. Sungguh kasihan, sepeda motornya.

Namanya juga Kraton, jadi suasananya cenderung agak mistis. Tapi hawa dolan tetap lebih besar melingkupi makhluk-makhluk dengan agenda tidak jelas ini. Jadilah aktivitas hanya gundah dan sok angguk-angguk waktu berkeliling Kraton serta tidak lupa foto-foto. Harap maklum, karena Dolaners adalah Magito alias manusia gila magito! Eh, manusia gila foto!

Urusan di Kraton dan Klewer menjadi tidak lama karena sudah menjelang Sholat Jumat. Berhubung saudaranya Ani yang menjadi driver bagi karung-karung beras yang bisa ngomong ini harus menunaikan kewajiban, akhirnya kunjungan di tempat bersejarah disudahi. Kijang Super 17 in 1 segera melaju menuju mall paling gress di Solo, namanya Solo Grand Mall.

Sungguh bersyukur si Kijang ini masih bisa berjalan menganggung beratnya beban hidup dan beban dosa. Bagian terakhir tentu saja penting karena sebagian dari berat yang ditanggungnya adalah berat dosa manusia-manusia yang bertopang di atas empat rodanya. Kijang ini berjalan pelan hingga akhirnya sampai di SGM.

Dan, percayalah, bahwa mall baru bukanlah tempat berkunjung yang layak karena pada dasarnya kita hanya akan mengunjungi tempat-tempat kosong atau yang bertuliskan ‘under construction’.

“Ngopo iki?” tanya Chiko.

“Golek ombe wae,” usul Bona sambil berjalan tertatih. Yeah, atlet ternama ini berjalan tertatih gegara urusan dengkul. Atlet ternama pun punya kelemahan, hanya saja kok ya atlet lemah di dengkul.

Cari punya cari, akhirnya dolaners nongkrong di food court yang baru menyediakan sedikit menu. Berhubung masih cukup kenyang dengan soto, akhirnya hanya es krim yang mampir ke pencernaan kami masing-masing. Yah, namanya juga aktivitas menunggu. Dan tentu saja es krim harga mall sudah cukup menguras kantong anak muda macam kami.

Next Stop: rumah Ani. Ehm, sesudah ditraktir soto mahal, ditraktir mobil sewaan, dan diarahkan ke jalan yang benar, mampir tentu menjadi kewajiban. Ya, walaupun sebenarnya mampir itu akan bermakna menghabiskan banyak makanan di rumahnya Ani sih. Tapi, ya namanya diajak mampir, masak ditolak? Lagipula rute sudah habis—berikut uang di dompet—dan kereta terakhir masih beberapa jam lagi.

Bagian terbaik dari perjalanan menuju rumah Ani adalah ketika si Kijang dengan sukses membawa 17 manusia berdosa ini melewati sebuah tanjakan dengan sudut yang lumayan. Kadang-kadang aku berpikir bahwa mobil tua selalu punya kelebihan. Makin tua, makin joss!

Sesampainya di rumah Ani, benarlah prediksi Ki Joko Widodo yang aku sebut di atas tadi. Makanan disajikan silih berganti, bahkan Ani pergi dulu ke luar rumah beli makanan. Plus, manusia-manusia dolaners ini terkapar manis mulai dari ruang tamu sampai teras depan. Rumah Ani yang megah mendadak menjadi tempat pengungsian pemuda harapan Indonesia raya. Topik obrolan? Tentu saja nggak jauh-jauh dari tampang Yama, dengkul Bona, sampai pacar baru Chiko. Standar kok, hanya diulang-ulang dengan tambahan bumbu yang berbeda.

Sore menjelang dan kami harus bergegas ke stasiun agar tidak ditinggal oleh kekasih, eh oleh Pramex. Kami berpamitan dengan orang rumah Ani yang jelas-jelas akan repot cuci piring sesudah kami pergi. Sebelumnya, sebuah dokumen mahal dibentuk. Ya, 16 orang berfoto di depan Kijang bersejarah tadi. Satu lagi aku, yang mengambil foto dengan kamera poket berisi film 36. Sebuah dokumentasi yang moncer pada jamannya.

Sudah sore, sudah capek, sudah apek, sudah ngantuk. Maka perjalanan kembali ke stasiun dan bahkan hingga sampai ke dalam kereta menjadi sunyi senyap tapi tidak sendu. Yang ada hanya muka menjelang tidur dan sudah tidur beneran.

Kijang dan 17 n 1 ini adalah salah satu kisah monumental Dolaners, tentunya mengingat momen dan peristiwa unik yang terjadi. Sebuah perjalanan yang nyatanya tidak pernah terulang lagi. Setiap peristiwa menghadirkan cerita, dan setiap cerita memiliki makna. Biarkan makna dari setiap momen perjalanan menjadi warna persahabatan. Terima kasih Ani atas jamuannya dan Chiko harus sujud menyembah pada kami semua karena sudah dengan rela hati menemaninya naik kereta api, pertama kali seumur hidup. Yeah!

Jadi Dirigen Itu Sulit, Jenderal!

Di awal-awal kehidupan baru blog ini, saya sempat menulis soal DIRIGEN. Ceritanya mau kritik plus refleksi. Dan itu sudah lama. Dirigen yang itu di Sanfrades Palembang, dan kini saya sudah di Cikarang.

Dan, yak, saya kena batunya.

Kenapa?

Menjadi dirigen itu nggak mudah, bahkan cenderung sulit. Makanya saya bilang, jadi dirigen itu sulit loh!

Okeh, hal ihwal pertama saya mengenal soal dirigen itu adalah waktu kehabisan air di rumah karena PAM mati. Eh, itu jeringen. Maaf, salah.

Dulu banget, karena saya anak rajin yang bakal ‘habis’ kalau malas-malasan ke gereja, maka saya selalu bertemu sosok dirigen di hari minggu. Lantas juga di sekolah. Dan saya bingung, sebenarnya ini orang ngapain sih. Pakai acara menggoyang-goyangkan tangannya segala. Buat apa?

Percaya atau tidak, saya baru paham makna dan guna dirigen itu di kelas 2 SMP, sewaktu kelas 2A memenangkan lomba vokal grup se-Xaverius dengan lagu ‘Keliru’ dari Ruth Sahanaya. Hehehe… What a… Bisa jadi itu memalukan, tentunya memalukan karena kedua orang tua saya adalah dirigen rutin di gereja 😦

Sesudah itu saya mulai paham makna dirigen itu mengarahkan ketukan, menunjuk bagian mana yang hendak dinyanyikan, dan cuma sebatas itu. Baru ketika di-dirigen-i Mbak Ina, saya mulai tambah sadar gunanya dirigen itu ke arah ‘roh’ sebuah lagu yang lantas disebut DINAMIKA.

Dan anda harus percaya bahwa saya menyadari itu pada saat kuliah semester 2.. *tambah memalukan*

Dan berikutnya saya join ke PSM CF. Disinilah mulai intensif ketemu lagu, dinamika, tempo, dan tetek bengek lainnya *kasiannya sampe bengek*

Sesekali Mas Mbong waktu latihan juga memberikan teori musik. Nah, disitulah saya sedikit-sedikit belajar soal beda ketukan 4/4 dengan 3/4, dan berbagai ilmu lain yang dulu ketika SMP benar-benar saya abaikan karena emang nggak suka. *nyesel itu selalu belakangan*

Tugas demi tugas membuat saya semakin paham pentingnya dirigen dalam menyanyi. Apalagi kemudian di tahun 2009, saya mendapat insiden memalukan yang bikin nyaris trauma. Waktu itu nyanyi ber-10, tanpa dirigen! Dan benar-benar mati gaya. Alamak!

Berjalan dan terus berjalan, entah bagaimana cerita, tiba-tiba saya menjadi dirigen untuk tugas koor lingkungan.

*langsung pingsan*

Yak, tanggal 8 kemarin saya berdiri di atas podium 20 cm dan menggoyang-goyangkan tangan. Sesuatu yang belasan tahun silam saya anggap nggak bermakna. Sesuatu yang perlahan saya pahami di usia yang sudah sangat terlambat. Sesuatu yang 1,5 tahun lalu saya kritik.

Ya begitulah. Apalagi, si newbie ini bertemu langsung dengan lagu-lagu berketukan 2/2 (pembukaan), 3/4 (kudus), 2/4 (TK), dan baru ketemu 4/4 di persembahan. Salah ngabani pulak. Heleh.

Yak, begitulah. Saya mengenal soal paduan suara saya sudah terlambat. Mengenal not juga terlambat. Mengenal musik dan dinamika, apalagi, terlambat banget. Tapi entah kenapa, Tuhan Yang Maha Baik itu selalu memberi dengan tepat. Ya, tepat. Saya nggak akan bisa jadi dirigen kalau belum belajar curi-curi dari Mbak Ina, Ulit, Cik Lan, Mas Mbong, Bu Jin, Babi, Oon, sampai Santo. Saya nggak akan ngerti beda 4/4 dan 3/4 kalau nggak ikut latihan PSM. Dan dikasihnya sekarang ini. Kesempatan yang mungkin hanya akan terjadi 1 kali seumur hidup saya, karena apa? Hehehe.. Ada deh..

🙂