All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Orang Yang Mencintai Kamu

Baru saja bongkar-bongkar kamar, sekalian pasang rak baru. Benda tiga level warna biru ini mengingatkan saya pada benda yang dulu pernah saya punya beberapa bulan di Palembang. Jadi, siapa tahu kejadiannya bakal sama. Hehehehe… Nah, pas bongkar-bongkar itu, ketemu selembar kertas print-print-an. Kalau melihat wujudnya, sepertinya dulu saya cetak waktu jamannya Friendster deh.

Bukan bermaksud nggak menuliskan karya cipta aslinya, tapi ya di print-print-annya memang nggak ada. Jadi saya ketik disini ya.

Ini dia:

1. Orang yang mencintai kamu tidak akan pernah bisa memberikan alasan kenapa ia mencintai kamu, yang ia tahu di matanya hanya ada kamu satu-satunya.

Cinta butuh alasan? Bisa jadi tidak.

2. Kalau kamu sudah memiliki pacar atau kekasi, ia tidak pedul, buat dia yang penting kamu bahagia dan kamu tetap impiannya.

Sakjane pekok sih.

3. Orang yang mencintai kamu selalu menerima kamu apa adanya, di matanya kamu selalu yang tercantik walaupun mungkin kamu merasa berat badan kamu sudah berlebihan atau kamu merasa kegemukan. Bahkan dalam keadaan kamu merasa sedang “jelek” ia akan selalu menganggap kamu yang paling cantik.

Cinta itu buta, sob!

4. Orang yang mencintai kamu selalu ingin tahu apa saja yang kamu lalui sepanjang hari ini, ia ingin tahu kegiatan kamu.

Ini disebut…. stalker.. hehehe..

5. Orang yang mencintai kamu akan mengirimkan SMS seperti “Selamat pagi”, “Selamat hari Minggu”, “Selamat Tidur”, walaupun kamu tidak membalas pesannya.

Namanya juga tulisan jadul, jadi masih SMS. Harusnya hari gini pesan Whatsapp kali ya.

6. Kalau kamu berulang tahun dan kamu tidak mengundangnya, setidaknya ia akan menelepon untuk mengucapkan selamat atau mengirim pesan. Atau bahkan ia mempersiapkan hadiah istimewa buat kamu.

*No comment*

7. Orang yang mencintai kamu akan selalu mengingat setiap kejadian yang ia lalui bersama kamu, bahkan mungkin kejadian yang kamu sendiri sudah lupa setiap detailnya, karena saat itu ialah sesuatu yang berharga untuknya.

Apalagi kalau orang melankolis ya.

8. Orang yang mencintai kamu akan selalu mengingat kata-kata yang kamu ucapkan bahkan mungkin kata-kata yang kamu sendiri lupa pernah mengatakannya.

*idem*

9. Orang yang mencintai kamu akan belajar menyukai lagu-lagu kesukaanmu, bahkan mungkin meminjam CD/kaset kamu, karena ingin tahu kesukaanmu, kesukaanmu kesukaannya juga.

Di masa kini disebut modus.

10. Kalau kamu bilang akan menghadapi ujian, ia akan menanyakan kapan ujian itu, dan saat harinya tiba ia akan mengirimkan sms “Good Luck” untuk menyemangati kamu.

Enggggg…

11. Kalau terakhir kali kalian bertemu, kamu sedang sakit flu, terkilir atau sakit gigi, beberapa hari kemudian ia akan mengirim SMS dan menanyakan keberadaanmu. Karena ia mengkhawatirkanmu.

Uhukkkkk…

12. Orang yang mencintai kamu akan memberikan suatu barang miliknya yang mungkin buat kamu itu adalah sesuatu yang biasa, tetapi itu ialah suatu barang yang istimewa buat dia.

Ada yang kayak gitu sih..

13. Orang yang mencintai kamu akan terdiam sesaat saat sedang berbicara di telepon dengan kamu, sehingga kamu menjadi bingung, saat itu dia merasa sangat gugup karena kamu telah mengguncah dunianya.

Sajak rodo lebay sih..

14. Orang yang mencintai kamu selalu ingin berada di dekatmu dan ingin menghabiskan hari-harinya denganmu.

Iki mah jelas.

15. Jika suatu saat kamu harus pindah ke kota lain untuk waktu yang lama, ia akan memberikan nasehat supaya kamu waspada dengan lingkungan yang bisa membawa pengaruh buruk bagimu.

Semacam perhatian.

16. Orang yang mencintai kamu bertindak lebih seperti saudara daripada seperti seorang kekasih.

Nah ini. Modus yang disebut “Abang…”

17. Orang yang mencintai kamu sering melakukan hal-hal konyol seperti meneleponmu 100 kali dalam seari, atau membangunkanmu di tengah malam, karena ia mengirim SMS atau meneleponmu, karena saat itu ia sedang memikirkan kamu.

Sedikit lebay, tapi bener...

18. Jika kamu memintanya untuk mengajarimu sesuatu, maka ia akan mengajarimu dengan sabar walaupun kamu mungkin orang yang terbodoh di dunia.

Namanya juga seneng..

19. Orang yang mencintai kamu kadang merindukanmu dan melakukan hal-hal yang membuat kamu jengkel atau gila, saat kamu bilang tindakannya membuatmu terganggu, ia akan minta maaf dan tak akan mengulanginya lagi.

Cinta gila

20. Kalau kamu melihat HP-nya, maka namamu akan menghiasi sebagian besar Inbox-nya. Ya, ia masih menyimpan pesan dari kamu walaupun pesan itu sudah kamu kirim sejak berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun silam.

Iniiihhhh… *inhale.. exhale…*

21. Dan jika kamu menghindarinya, atau memberi reaksi penolakan, ia akan menyadarinya dan menghilang dari kehidupanmu, walaupun itu membunuh hatinya.

Mati wae le..

22. Jika suatu saat kamu merindukannya dan ingin memberinya kesempatan, ia akan ada di sana menunggumu karena ia tidak pernah mencari orang lain. Ya, ia selalu menunggumu.

Edan

Adakah ada yang memperlakukanmu dengan cara seperti di atas? Kalau ada, jangan pernah sia-siakan orang tersebut, kamu akan menyesal melakukannya.

😀

 

“Aku dan Cantus Firmus”

Pagi tadi, bangun tidur saya terus tidur lagi. Namanya juga buruh di hari Sabtu. Mumpung bisa bangun siang kenapa tidak? Nah, sesudah bangun yang kedua kalinya, saya lalu iseng buka Youtube dan tiba-tiba jari-jari mengarahkan ke video penampilan saya bersama Paduan Suara Mahasiswa Cantus Firmus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini. Itu adalah penampilan resmi terakhir saya bersama PSM CF (singkatannya), dengan status sebagai mahasiswa. Terjadi pada suatu hari di bulan Desember 2007.

Long time ago.

Mendadak saya mengingat-ingat, kok bisa saya bergabung dengan PSM CF ini. Sebenarnya kisahnya sih agak unik juga. Jadi–buat ngisi postingan aja–saya mau flashback perihal masuknya saya sebagai anggota PSM CF ini.

Sesudah menggalau karena nggak keterima UM UGM, akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar (lagi) ke USD. Sebagai manusia dengan nama yang sama persis dengan nama universitas, saya setengah terpaksa mendaftar kesini. Tapi saya nggak kebayang saja kalau saya masuk universitas lain di Jogja dengan nama saya ini. Mau jadi apa saya ketika Ospek nanti?

Ya sudah, USD saja.

Saya lalu membuka-buka buku promosi USD yang saya dapat waktu di sekolah. Saya lalu memilih Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang hendak saya masuki. Ada 3 yang saya tunjuk ketika itu, radio, penerbitan, dan paduan suara. Kalau radio, mungkin itu efek karena beberapa bulan sebelumnya saya sempat siaran di acara “High School Jam” Radio Swaragama. Untuk penerbitan, tentunya semacam retorika. Sebagai mantan anggota Cas Cis Cus di JB, saya memang identik dengan jurnalisme. Waktu itu belum kenal jurnalisme galau sih. Dan paduan suara? Entahlah. Saya pengen aja. Padahal di sekolah, saya juga nggak ikut paduan suara.

Sampai kemudian Expo di Insadha 2004 itu, saya “melewatkan” PSM CF yang adalah UKM paduan suara yang sempat hendak saya masuki. Saya justru fokus di UKM penerbitan, termasuk mendaftar dengan legal dan resmi. Adapun hal yang membuat saya keder masuk PSM CF adalah begitu mengetahui kalau tesnya pakai acara baca not segala.

Ya udah. Lewat.

Saya lantas join ke UKM majalah kampus. Tapi nggak lama. Sesudah satu pekan penuh pembekalan dan satu kali kunjungan ke sebuah kampus yang tidak jauh dari SMA saya, akhirnya saya memilih lari dari kenyataan. Ada kalanya keyakinan itu muncul belakangan, dan kala itu saya yakin kalau penerbitan kampus ini bukan jalannya saya.

*kemudian lari tunggang langgang*

Sampai kemudian saya tidak tergabung di UKM mana-mana. Saya resmi menjadi mahasiswa biasa yang tidak berniat aktif, sampai suatu saat sesudah praktikum, saya lewat di Lorong Cinta dan menemui latihan PSF. Ini adalah Paduan Suara di tingkat Fakultas. Fakultas Farmasi tentu saja. Saya ditarik untuk bergabung ketika itu, dan kok ya mau saja.

Lagu waktu itu adalah “For The Beauty of This Earth”. Dan saya kemudian terjebak dalam kengawuran hidup saya dalam 1 tahun penuh. Iya, asli ngawur, karena saya masuk ke suara TENOR. Enggg, waktu itu saya masih kurang paham soal bernyanyi sih. Jadi, mohon dimaklumi. Plis, sekali ini saja. Plis.

Nah gitu kan oke.

PSF ini kemudian yang membuka mata saya soal menyanyi. Di PSF inilah saya belajar soal bunyi Do Re Mi Fa Sol La Si Do, termasuk Do Di Re Ri Mi Fa Fi Sol Sel La Sa Si Do. Juga tentang modulasi dan nada dasar. Di bawah asuhan Mbak Ina yang teriakannya legendaris dari ujung lorong satu ke ujung lainnya, saya bertumbuh kembang sampai akhirnya ikut semua tugas PSF dalam periode 2004/2005, kecuali pada misa perpisahan Romo Andalas, yang waktu itu hendak studi ke luar negeri.

Di sela-sela itu, sekitar bulan Desember 2004, ada event bernama Golden Night. Sepertinya sih rangkaian dari 50 tahun USD. Saya sempat melihat beberapa teman saya berdandan rapi karena hendak tampil menyanyi disana. Iya, mereka adalah anggota PSM CF.

Dan entah kenapa, saya jadi pengen seperti mereka.

Anak muda emang kebanyakan keinginan.

Saya lalu join Insadha 2005 sebagai pendamping kelompok, kejatahan kelompok 24. Banyak dinamika yang saya alami di posisi ini, termasuk juga meninggalnya Mbah Kakung. Dan dinamika yang jelas justru ketika saya mengantarkan anak-anak kelompok 24 ke stand PSM CF waktu Expo UKM di Insadha 2005. Sambutan teman-teman saya sesama Farmasi, yang juga anggota PSF (oya, namanya PSF Veronica), membuat saya mengingat kembali keinginan menjadi seperti mereka.

Saya lalu mikir dan mikir, juga menimbang faktor perkuliahan yang tambah padat, dan IP saya semester 2 yang lumayan cakep dibandingkan semester 1. Hasil mikir dan mikir, saya kemudian memutuskan untuk mendaftar PSM.

Terlambat 1 tahun, itu pasti. Teman sekelas saya sudah 1 tahun bergabung disana. Saya juga akan bergabung dengan anak-anak yang menjadi dampingan saya selama Insadha. Dan terlambat 1 tahun sebenarnya bermakna semakin pendek waktu saya kalau nanti join PSM CF.

Ya udah, daftar aja dulu. Belum tentu juga diterima kan?

Saya mendaftar di hari terakhir. Juga tes di hari terakhir. Semua serba terakhir, karena pada saat yang sama lagi ada event Pekan Ilmiah Mahasiswa Farmasi Indonesia (PIMFI) yang mana saya menjabat sebagai bendahara. Pertama kali dan terakhir kali saya jadi bendahara. Hehehe.

Tesnya ternyata dimulai dengan wawancara. Sebagai orang yang dalam 1 tahun sudah berkali-kali diwawancarai ketika mau gabung kepanitiaan, tentunya semua bisa saya lewati. Cuma wawancara ini, asal mbacot juga bisa.

Yang nggak bisa mbacot itu, tes berikutnya.

Namanya: Tes Intelegensi. Tes yang bikin saya keder untuk gabung PSM CF setahun silam.

Kalau tadi saya ketemu Mbak Lia dan Budi. Sekarang saya ketemu Mbak Citra dan Mas Dede. Di depan saya ada sekumpulan angka untuk dibaca. Iya kalau angkanya benar. Lha ini angkanya salah-salah. Maksudnya, notnya pakai acara coret sana sini, jadinya kan Di Ri Fi Sel Sa itu muncul semua.

Sontak saja saya keringat dingin.

Apalagi lanjutannya adalah tes ketukan. Mbohlah apa saja yang saya ketuk dengan bunyi Pam Pam Pam sebagai pengganti X yang tertulis di soal. Soal ketukan ini, saya sebagai Tenor penganut Gandulisme di PSF, tentu gandul tetangga sebelah. Lah kalau sendirian begini, saya gandul siapa?

Hingga tes terakhir, pemetaan suara. Saya disuruh baca not sampai ke bawah. Sampai kemudian Mbak Citra bilang, “Kamu itu bass asli.”

TERUS KENAPA SELAMA INI SAYA JADI TENOR? SALAH KOK SUWI BANGET?

Hampir jam 10 malam saya menyelesaikan tes masuk PSM CF itu. Sebagai manusia yang selalu ingin pulang malam–karena suatu hal yang bisa dicari tahu disini–maka jam 10 itu menjadi sangat biasa. Saya pulang dengan anggapan nggak akan lolos. Apalagi soal tes intelegensi tadi.

Saya pun menjalani hari-hari seperti biasa. Sampai akhirnya Finza bertanya pada saya waktu praktikum.

“Kamu tuh niat nggak daftar PSM?”

“Kalau nggak niat ya saya nggak daftar.”

Tidak lama sesudah saya menjawab begitu ke Finza, saya mendapati pengumuman yang menyertakan nama saya di deretan anggota baru PSM CF yang diterima. Tentu saja dalam kategori suara Bass.

Ya. Saya jadi anggota PSM CF juga pada tahun 2005 itu.

Buat saya, ini kadang menjadi aneh. Tapi justru menjadi kebanggaan besar. Kalau waktu itu saya nggak mendaftar CF, maka nggak akan ada penampilan yang bisa dilihat di bar yang ada di atas, pada tab “My Performance”. Sebagian besar itu bersama CF lho. Kalau nggak ikut CF, mana ada kisahnya saya mewakili kampus untuk sebuah lomba.

Bahkan semuanya berlanjut hingga saya lulus, termasuk juga bisa tampil di Taman Budaya Yogyakarta dalam Konser Reuni PSM CF. Coba, kasih tahu saya PSM mana yang sudah membuat konser yang mengumpulkan alumninya?

Dan kalau nggak gabung CF juga, nggak mungkin saya “menelurkan” buku dengan judul yang sama dengan tulisan ini, bersama beberapa teman lain.

Serta berderet “kalau nggak” lainnya.

Ya, tentunya ada yang dikorbankan. Tapi menjadi mahasiswa S1 tanpa harus terbebani tanggungan hanya bisa dilakoni sekali seumur hidup. Maka, tidak pernah ada penyesalan dengan IP jongkok saya di S1, karena dibalik itu saya punya banyak pengalaman, yang sebagian diantara terjadi karena saya bisa bergabung dengan PSM CF.

Golden Voice Member
Golden Voice Member

Ini cerita saya. Hendak berbagi cerita yang lain? Silakan 🙂

030813 @ariesadhar

Intuisi: Apaan Sih?

Beberapa minggu yang lalu, saya ke McD Jababeka. Sekilas terlintas dalam pikiran, “pasti nanti bakal ketemu si X”. Dua puluh menit sesudah saya menikmati dada-nya ayam yang tidak empuk tapi panas itu, saya melihat si X duduk di salah satu kursi disana.

Juga soal nama anaknya Pangeran William. Ketika orang ramai mempertaruhkan soal nama George atau Charles, saya kok tiba-tiba kepikiran nama saya: Alexander. Dan tidak lama kemudian, namanya muncul George Alexander Louis.

Tidak sedikit aspek soal intuisi yang kemudian bikin saya bingung. Kok bisa? Hal paling simpel dan sering terjadi adalah kalau di adu penalti PES. Tanpa mengintip, ada kalanya saya bisa menebak tendangan dengan benar. Yang nggak benar sih lebih sering.

Nah, pernah nggak sih kalian mengalami bisikan semacam saya tadi? Pasti pernah. Informasi langsung yang muncul dari dalam hati untuk sesuatu yang kadang sepele. Sekarang, apa coba pasalnya saya bisa mengira si X itu ada di McD, sementara tidak ada alasan khusus saya “memegang” nama X itu.

Saya lalu mencoba mencari kesini, dan menemukan sedikit hal.

Satu hal yang utama, intuisi dan wawasan adalah napas kehidupan. Pada dasarnya tidak banyak orang yang percaya, tapi diam-diam mempraktekkannya.

Katanya Sun Tzu begini, “setiap pertempuran dimenangkan sebelum berjuang”.

Nah loh. Jadi sebenarnya semua sudah dibisikkan sama intuisi. Apapun itu, termasu kemungkinan kita kalah. itu makanya yang lebih benar adalah berlaku yang terbaik 🙂

Manusia hidup di aktivitas yang sebenarnya konstan. Dan keberhasilan dalam melakukan itu tidak hanya datang dari yang kita lakukan, namun kesiapan dan kemampuan kita mengumpulkan informasi yang diperlukan. Informasi itu yang menopang intuisi, dan sebagai kemampuan bawaan, intuisi layak digunakan semua orang.

Kadang kita bercakap-cakap sendiri dalam diri kita. Argumen sana sini bikin rempong. Makanya kita perlu pendekatan baru yakni dengan benar-benar mendengarkan hal yang benar-benar menjadi respon dari diri kita.

Detailnya sila dibaca sendiri di link tadi. Saya juga pernah baca buku soal ini. Sebenarnya intuisi itu adalah kekayaan pribadi semua orang. Masalahnya, kadang nggak banyak orang menggunakan itu.

Salah satu contoh yang buat saya tertarik adalah adu penalti Italia-Spanyol di Euro 2008. Saya merekam semua tendangan penalti dan Iker Cassilas melakukan hal yang cukup mengagumkan. Dia bergerak sepersekian detik lebih dulu daripada kaki eksekutor sampai ke bola, dan semuanya tepat. Faktor intuisi ketika bisikan dari dalam hati, bercampur dengan informasi yang ada, menjadi poin disini.

Kita semua punya, saya juga. Tinggal gimana melatihnya. Nanti coba cari bukunya deh. 😀

The Wolverine: Film Dengan Terlalu Banyak “Kenapa?”

Sudah lama sekali saya nggak nulis review film. Ya memang saya semakin jarang nonton film. Dan semakin jarang nulis soal film. Review saya sebelumnya itu Battleship (16 April 2012), The Avengers (4 Mei 2012), dan Soegija (7 Juni 2012). Memang sih saya juga sempat menonton film seperti 5 Cm, Cinta Dalam Kardus, dan juga Monster University. Cuma nggak tahu kenapa kok malas nulis review.

Jadi mumpung kemarin diajakin nonton The Wolverine, bolehlah kita nulis lagi 😀

Kita semua harusnya tahu tentang Wolverine, karakter yang bagi sebagian orang paling berkarakter dari segambreng tokoh di X-Men. Kalau saya sih, tetap lebih suka Cyclops. Hehehe.

Dalam The Wolverine ini, tokoh Wolverine diperankan oleh Hugh Jackman. Pecinta film tentu tahu soal aktor yang satu ini. Secara umum, Hugh Jackman memang “wolverine banget”.

Sumber: thetorchonline.com
Sumber: thetorchonline.com

Oya, saya bukan pembaca setia komik Marvel, jadinya saya memang tidak terlalu paham plot asli dari cerita yang diterjemahkan ke film ini. Itulah sebabnya saya kasih judul seperti di atas.

Film dimulai dengan adegan di Jepang. Awalnya biasa saja sebelum kemudian saya melihat adegan harakiri dari 3 perwira Jepang, dan adegan Wolverine mengintip dari sebuah tempat di bawah tanah.

Clue utamanya kemudian muncul, yakni sebuah benda yang jatuh dan ternyata adalah bom atom Nagasaki. Yah, saya baru tahu kalau di dalam sejarahnya bom Hiroshima dan Nagasaki ada superhero disana.

Singkat cerita seorang tentara bernama Yashida (Ken Yamamura) sudah mau harakiri tapi diselamatkan sama Wolverine, disuruh masuk ke lubangnya Wolverine alias Logan, dan dilindungi dari dampak bom atom.

Selesai disini.

*kunyang popcorn*

Adegan langsung lompat ke tokoh Jean. Penikmat X-Men dan The Wolverine sejati pasti tahu soal Jean ini. Orang yang dicintai sama Logan, tapi dibunuh sendiri sama dia. Buat saya ya lucu adegan yang ini, wong lagi bermesraan tapi kok kukunya sudah nancep aja di perut.

Ternyata itu hanya mimpi belaka. Jadi jangan heran dengan 2 adegan semula yang sebenarnya kurang korelatif. Kenapa juga harus begitu? Tampaknya sutradara pengen memberikan background cerita utama di adegan pertama, tapi juga hendak memberikan konteks kehilangan tujuan hidup di adegan kedua.

Hingga akhirnya sampai di adegan bangun tidur di tengah hutan. Nah, disinilah cerita sebenarnya dimulai. Tetap saja ada adegan lucu yang ditampilkan di film ini. Salah satu yang buat saya menarik adalah adegan beruang grizzly kencing dengan mengangkat kaki kanannya. Itu beruang beneran kalau pipis begitu ya?

Nah, si beruang kemudian sekarat gara-gara pemburu, lalu Logan menuntut balas. Pas sedang menuntut balas inilah muncul Yukio (Rila Fukushima). Ini juga menurut saya kurang smooth. Tapi ya mungkin memang cerita aslinya begitu sih. Kenapa juga si Jepang ini sampai menemukan Logan di posisi lagi berantem, kenapa nggak pas nangkring di hutan atau apalah.

Sumber: marvel-movies.wikia.com
Sumber: marvel-movies.wikia.com

Yukio kemudian mengakui kalau dia disuruh bosnya, Yashida, yang ingin berterima kasih kepada Logan. Ceritanya si Yashida sakit keras, tapi pengen mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal. Sesuatu yang kemudian membuat Logan sampai ke Jepang.

Iye. Jauh amat.

Dikisahkan kalau si Yashida itu jadi orang kaya raya banget sekali di Jepang. Jadi nyambung juga sih, gimana seorang prajurit waktu muda, kemudian bisa jadi kaya raya waktu tua. Ini kayak di sebuah negeri yang pernah dijajah sama Jepang selama 3,5 tahun. Ada gitu deh sebuah negara yang banyak prajurit menjelma jadi orang kaya di masa tuanya.

Bermunculanlah tokoh semacam Shingen Yashida (Hiroyuki Sanada), juga Kenuichio Harada (Will Yun Lee), dan dua penyegar utama dalam film ini atas nama Viper (Svetlana Khodchenkova) serta Mariko Yashida (Tao Okamoto).

Yashida tua ternyata hendak “mengambil” keabadian Logan untuknya. Disebutkan bahwa Logan yang mimpi buruk terus sepanjang malam itu sudah tidak punya tujuan hidup.

Iya. Ngapain hidup dan nggak mati-mati, tapi nggak punya tujuan hidup? Ini justru pelajaran yang saya petik disini.

Lewat sebuah ciuman, Viper yang menyamar jadi dokter Green berhasil membuat sisi penyembuhan sendiri dari Logan hilang. Dan bersamaan dengan itu, Yashida tua “mati”. Ketika pemakaman malah jadi heboh karena ternyata Yakuza berhasil menculik Mariko, si cucu-nya Yashida.

Sumber: Yahoo.com
Sumber: Yahoo.com

Namanya juga superhero, Logan berhasil juga menyelamatkan Mariko dari Yakuza itu. Mariko dengan bantuan mahasiswa-kedokteran-hewan berhasil mengoperasi Logan untuk mengambil peluru yang ada di tubuhnya. Kan imortal-nya hilang, jadi ada peluru ya sakit. Mariko lalu membawa Logan ke selatan, ke sebuah rumah yang disebutkan tersembunyi.

Disitu kemudian mereka berciuman dan kayaknya sih ML.

*khas film barat.. hehehe…*

Ada banyak kenapa di sini. Pertama, kenapa rumah yang rahasia itu tidak dikunci, atau ditunggui tapi tetap tampak rapi. Kedua, kenapa orang-orang suruhan ayahnya Mariko dan tunangan Mariko, Menteri Keadilan, Noburo Mori (Brian Tee), nggak bisa tahu dengan cepat tempat persembunyian yang sepertinya akrab dengan Mariko itu. Ketiga, kenapa akhirnya mereka ML? *tetep*, dan keempat, kenapa penculikan Mariko berhasil dilakukan padahal dia lagi tidur di samping Logan yang tidur saja nggak nyenyak.

Arah cerita juga membawa Logan dan (tahu-tahu nongol) Yukio ke tempatnya Noburo. Kalau mau yang lucu lagi dan bin garing, ya pas Noburo dipelesetkan nggak sengaja sama Logan jadi Nostramo. Emangnya Nostradamus? Hehe.

Kenapa berikutnya muncul ketika ada Menteri Keadilan yang main sama pelacur bule tanpa pengawalan sama sekali. Ya jelas saja Logan bisa masuk dengan mudah, sampai bisa melempar Noburo ke kolam yang jauh sekali di bawah.

Nah, kenapa berikutnya rada ruwet.

Jadi Shingen minta Mariko ditemukan. Sudah ketemu tuh. Nggak jadi dibunuh. Karena ternyata ninja yang bekerjasama dengan Viper dan Harada berhasil mengambil alih Mariko. Si cantik ini lalu dibawa ke sebuah tempat yang tinggi dan canggih.

Sumber: spinoff.comicbookresources.com
Sumber: spinoff.comicbookresources.com

Awalnya, Viper tampak ingin Mariko untuk memancing Logan datang. Pas dengan Harada yang ingin Mariko kembali padanya.

Tapi….

ini yang ruwet.

Begitu Logan berhasil ditangkap, ternyata ada robot adamantium yang bangun dan bertarung lalu pengen mematahkan kuku-nya Logan. Ini kenapa yang besar, karena ternyata isinya robot itu adalah orang yang kita kenal dari awal cerita. Lah kan saya bingung. Jadi sebenarnya dia mati nggak sih? Lalu sebenarnya si Viper itu tujuannya mau ngapain sama si Logan? Terus katanya Yashida mengkhawatirkan Mariko makanya nggak pengen mati, lah kok nggak kelihatan gelagatnya waktu ‘bertarung’ dengan Mariko.

Kalau Harada jelas kayaknya. Dibutakan cinta, malah bekerjasama dengan penjahat. Kasian deh lo.

Jadi kenapa sih Yashida tidak ingin mati? Kenapa kemudian ada Viper bisa disana? Kenapa adamantium yang sudah disedot dari Logan bisa balik lagi? Dan banyak kenapa lain yang bikin saya bertanya soal plot-nya.

Kalau menurut saya ceritanya kurang kuat. Waktu workshop novel saya selalu dibilang sama editor kalau plot sebab-akibat itu penting. Nah, di film ini saya tidak menemukannya dengan tegas.

Tapi sebuah box office begini pasti punya keunggulan. Aspek pertarungan di atas shinkansen tentu nggak bisa kita lewatkan. Itu keren. Juga soal pertanyaan “tujuan hidup” yang penting banget. Eksploitasi sisi Jepang juga andalan yang oke. Dan jangan lupa si cantik Mariko yang bikin film ini seger abis.

Sumber: www.theage.com.au
Sumber: http://www.theage.com.au

Perkara act saya nggak banyak komentar, karena sudah keren. Perkara visual, ya paling hanya kurangnya efek darah dari setiap cabikan kuku-nya Wolverine. Perkara cakep, Mariko sudah cakep banget. Kekurangpuasan saya pada film ini adalah sisi plot yang menimbulkan banyak tanya. Plot yang lebih runyam sebenarnya ada di The Avengers, tapi bisa disampaikan dengan baik tanpa harus melontarkan banyak “kenapa?”

Begitu saya ulasan dari saya. Secara umum tentu saja tetap layak dinikmati sebagai summer movie. Tapi dari sisi apapun, saya tetap lebih suka The Avengers daripada The Wolverine, tapi masih suka The Wolverine daripada Battleship.

*ngebandingin kok nggak apple to apple ki piye*

😀

Revisi ariesadhar.com

Saya sadar sepenuhnya bahwa secara konten blog ini kacau sekali. Tapi dulu itu kan maunya blog ini untuk menampung keinginan saya menulis. Jadi apapun saya tuliskan.

Nah, kalau mau jadi blogger yang benar, dan mengingat sudah saatnya saya memonetisasi blog ini, dengan tidak menghilangkan kandungan ‘just a script’ yang menjadi roh blog ini, maka saya harus merevisi.

Jadi, gimana enaknya?

Akhirnya sih saya putuskan untuk mengaktifkan eks blog bermerk ariesadhar.blogspot.com yang saya buat sewaktu blog ini kena blokir. Agar tidak rancu, nama itu saya off, dan saya pakai nama alfarevo.blogspot.com.

Nah, beberapa tulisan yang sepi pembaca dan NOL komentar akan saya pindahkan kesana. Iya, benar-benar hanya copy dan paste. Nah, tulisan aslinya dengan berat hati akan masuk ke Trash.

Mau nggak mau ya begitu.

Jadi ke depannya, isi blog ini nggak akan terlalu sering tapi pendek-pendek (seperti posting ini). Sesudah menulis Loser Trip, saya jadi paham gunanya menulis draft dan mengecek berulang kali sebelum ditampilkan.

Hehehe.

Penulis yang baik harus selalu memperbaharui diri kan?

Begitu saja. Selamat menikmati perubahan minor di blog ini 🙂

“Handphone Untuk Adikku”

Judulnya cakep ya? Udah mirip judul film (apa sinetron? malah lupa) semacam “Hari Untuk Amanda”. Iya, judul cakep diperlukan untuk membuat penulis yang tidak cakep menjadi cakep.

*apa-apaan ini?*

Beberapa hari yang lalu iseng kembali buka website Tokopedia. Kok ya kebetulan ketemu ada kontes berbagai cerita. Berhubung saya punya sedikit cerita dengan Tokopedia, jadi mari dituliskan disini.

Disini loh..

Loser Trip: Full Story of Journey

Apaan Sih?
Apaan Sih?

Pertama-tama saya ucapkan selamat datang di posting ini. Intinya sih, posting ini akan panjang sekali. Jadi kalau kuota anda bermasalah lebih baik segera klik tanda silang yang ada di kanan atas, lalu beli kuota baru, terus buka lagi posting ini. Kalau nggak mau ya nggak apa-apa juga sih. Yang penting jangan minta pulsa atau kuota sama saya. Itu saja.

Kita mulai dari judul? Kenapa judulnya begini? William Shakespeare saja bilang “apalah arti sebuah nama?”. Itu sudah penulis legendaris lho. Makanya, saya yang penulis cupuistis juga hendak menyitir Pak William dengan menyebut “apalah arti sebuah judul?” Hanya orang-orang tertentu yang tahu makna kata pertama dari judul posting ini.

Sudah ini? Mulai? Yakin? Baiklah! INI DIA!

Ini kompilasi keren sebenarnya. Keren karena sebenarnya duit saya lagi mendekati tandas, tapi niat saya malah menyerbu kuat. Akhirnya kantong ngalah. Untung pula ada pengumuman penyesuaian gaji karena kenaikan BBM, jadi urusan kantong bisa dipikirkan belakangan. *buru-buru beli mie instan yang banyak*

Trip ini dirancang dalam rangka membuat diri saya tidak menjadi loser sejati. Sebagai perencana produksi yang ulung dengan angka order fulfillment selalu 100% sejak 2011–silakan cari Supply Chain lain sedunia yang dalam dua tahun berturut-turut bisa segitu angka order fulfillmentnya–maka saya nggak perlu perencana trip. Saya tinggal mengandalkan Mbah Google dalam merencanakan trip ini.

Dan tujuan dari trip kali ini adalah….

Selamat Datang di Semarang
Selamat Datang di Semarang

SEMARANG!

Saya ambil cuti dua hari, Kamis dan Jumat untuk perjalanan ini. Agak aneh ya? Intinya sih saya mau sebelum lebaran. Saya juga nggak menggunakan jalur darat Pantura alias bis. Ada dua pertimbangan utama. Pertama karena saya membawa Tristan dan Eos, yang total nilai keduanya melebihi harga diri saya, soalnya masih utang. Kedua, karena saya masih tobat soal Cikarang-Jogja 18 jam. CAPEK!

Lalu naik apa? Karena tujuan lain dari trip ini adalah untuk memberdayakan si Eos, maka saya memutuskan untuk naik pesawat.

Biasanya Kramat Djati, sekarang beralih sedikit ke Garuda. Sekali-kali nggak apa-apa. Harganya “cuma” selisih 100 ribu dengan si Merah. Dan Garuda kan nggak pakai pajak bandara lagi, jadi total hanya selisih 50-60 ribu saja. Anggaplah selisih itu sebagai harga roti dan segelas susu ultra, plus buat nambah-nambah kilometer terbang saya sebagai Frequent Flyer Garuda. Iya. Setahun dua kali naik Garuda aja nggaya punya Frequent Flyer. Penumpang macam apa saya ini? Memalukan.

Semua urusan pertiketan saya bereskan 24 jam sebelum berangkat. Tiket Garuda saya beli online menggunakan website Garuda. Dan sebagai Frequent Flyer, saya login, lalu beli. Kemudian bayar pakai e-commerce BCA. Dunia makin gila ya. Saya bahkan nggak perlu mengucap sepatah katapun untuk membeli tiket ini. 512.500 terdebet dari rekening payroll saya untuk sebuah tiket Garuda Indonesia dari CGK ke SRG. Karena sebelumnya saya hanya pernah ke Semarang naik sepeda motor dan bis, maka artinya ini adalah penerbangan pertama saya ke Semarang. Artinya lagi, ini menambah koleksi bandara yang saya darati. Tercatat sebagai penerbangan ke-76 saya seumur hidup. *melankolis kampret yang menghitung dan mencatat jumlah penerbangan yang dilakoni*

Sedangkan untuk pulangnya, lagi-lagi untuk memberdayakan si Eos, saya order online via layanan 121-nya Kereta Api. Dan ini juga pertama kalinya saya akan naik kereta dari Stasiun Semarang Tawang (SMT). Dan biar lebih seru–sekaligus lebih murah–saya ordernya bukan kereta api jurusan Jakarta, apalagi Cikarang. Saya beli tiket Semarang – Bandung, lalu lanjut Bandung – Jakarta. 😀

Dan karena saya sudah akrab dengan 121, maka bukan merupakan issue utama soal order ini. Cuma kok ya yang ngeladenin cowok, biasanya kan cewek. -____-” Transaksi saya tuntaskan via ATM Mandiri, seperti biasanya.

Dan sampailah hari Kamis, harinya perjalanan. Saya cabut dari kos-kosan jam 6 kurang 15. Pikir saya, jam 6 gitu kan, jalanan masih sepi. Tapi saya lupa kalau ini Cikarang. Bahkan ayam saja kalah agresif daripada Cikarang. Jam 6 itu segala macam bis, mobil, dan sepeda motor sudah berkeliaran di jalanan, dan nggak kalah macet dari jam 7, 8, dan seterusnya. Ini Cikarang, Bung!

Saya kemudian parkir si BG di tempat penitipan langganan, yang ada CCTV dan tempatnya terlokalisasi. Beda sama tetangganya, yang sekali-kalinya saya parkir, si BG pindah sejauh 100 meter. Kampret bener. Saya lalu menunggu Damri Jababeka – Bandara di depan penitipan motor itu. Tentunya berharap tidak ada orang kantor yang lewat. Dikiranya saya mau interview, jam 6 udah nangkring aja di tol. Selalu saja ada orang yang berprasangka buruk dengan mudah. Bahkan waktu saya Kelas Inspirasi aja dikira interview! Sinting.

30 menit saya menunggu, persis selama Jamrud menunggu tanpa suara dan resah harus menunggu lama kata darimu. Sesudah 30 menit itu, Damri yang dimaksud lewat. Saya naik, dan bertemu dengan…

Oma Cwi Mie.

Penting ya? Nggak juga sih.

Dua jam lebih saya digoyang di atas Damri ini. Ya namanya juga jam berangkat kerja. Tol Halim itu macetnya minta ampun. Saya bayangin Pak Anang yang SETIAP HARI menempuh kemacetan itu. Kuat-kuat saja dia. Kalau saya? Mungkin sudah resign dengan sukses. Sukses resign itu prestasi bukan ya?

Kira-kira jam 8 lewat 20 saya sampai di terminal 2F. Saya termasuk rombongan terakhir yang turun dari bis. Oma Cwi Mie bilang, “sukses ya”, waktu dia mau turun. Saya anggap itu adalah doa agar Loser Trip saya sukses menjadikan saya tidak loser.

Hasilnya? *ting tung ting tung*

Saya lalu kabur ke AW. Sudah lama saya tidak mencicipi makanan favorit dulu kalau di bandara, jaman masih LDR: Fish Sandwich. Di AW saya ketemu dengan dua karyawati berhijab, dan meladeni makanan. Ada tirai memang di depan AW. Ehm, ini semacam menghormati ya mestinya. Tapi saya kok tetap makan sambil ngelirik supaya mbak-mbak-nya nggak ngelihat. Kebiasaan di Bukittinggi masih kebawa banget.

Tapi saya nggak minum rootbeer, air putih saja. Sakit gigi ini begitu perih, sehingga saya harus berganti selera. Kalau lagi begini, saya baru menyadari bahwa sakit hati itu lebih mendingan. Ya nanti kalau lagi sakit hati, maka sakit gigi akan menjadi tampak lebih indah. Apa-apaan ini?

Terminal 2F lama-lama nggak asing memang dalam hidup saya, sejak saya mencoba menaikkan derajat dengan berprinsip, kalau bisa Garuda, ya Garuda. Kalau pulang misalnya, saya akan cari salah satu penerbangan Garuda. Dengan kompensasi penerbangan sisanya yang murah. Mudik terakhir saya “hanya” habis 1,2 juta pp, separo dari lebaran tahun lalu. Kenapa? Karena berangkatnya pakai Tiger Mandala, pulangnya Garuda. Bersakit-sakit dahulu, nggaya kemudian.

Penerbangan 11.50, dan saya sudah cek in jam setengah 10. Alangkah kurang kerjaannya saya ini. -____-

Lalu saya sudah mau masuk ke ruang tunggu. Nggaya naik conveyor. Begitu nyampe, ternyata antriannya sudah sepanjang seperempat akhir benda yang bikin malas itu. Walhasil belok kiri, jalan lagi seperempat conveyor, lalu antre. Eh buset. Sempat ditolak (hiks) masuk ruang tunggu karena kepagian, saya kemudian ngemper sambil online di luar ruang tunggu. Syukurlah saya sudah punya Tristan. Kalau nggak? Saya hanya akan repot nyari colokan si Lappy karena dia hanya mau hidup dengan colokan. Prinsip hidup yang cukup menyusahkan kalau lagi di bandara.

Begitu saya masuk ruang tunggu. Rada kaget juga. Iya kaget karena memang terakhir kali saya berangkat naik Garuda dari 2F memang sudah agak lama, kalau mendarat lebih sering sih. Kalau nggak salah pas nikahannya Boris. Eh pas ngurus SKCK ding. Kagetnya karena di ruang tunggu sekarang ada yang namanya pojok baca, disponsori sebuah asuransi. Ada sofa, ada majalah, ada buku, dan NYAMAN ABIS. That’s why i love Garuda 😀

Dan ruang tunggu menjadi semakin ramai. Saya selalu mengamati bahwa rupa-rupa penumpang Garuda itu banyakan songong-nya. Kalau penumpang Lion Air atau Sriwijaya itu banyakan katro-nya. Maaf ini kesimpulan sepihak. Memang saya ini sudah songong, katro pula. Lagipula dari 76 penerbangan saya, yang pakai Garuda baru belasan kok. Jadi memang saya ini banyak katro-nya. *bahkan saya sendiri kurang paham makna tulisan barusan*

Oke. Siap. Berangkat.

Sesudah panggilan boarding, saya segera naik bis. Ealah. Mahal-mahal beli tiket, jadinya ya bis juga. Dan tahu bukti songong-nya? Kursi ada, tapi semua pada mau berdiri. Songong karena mikirnya deket. Ternyata? Jauh abis! Soalnya pesawatnya parkir di keberangkatan luar negeri. Nyempil di dekat-dekat pesawat-pesawat besar. Mungkin nggak dapat tempat mendarat saking padatnya bandara terbesar di Indonesia Raya Merdeka Merdeka itu.

Saya sengaja milih tempat di jendela, jadi bisa dengan lebih mudah beraksi galau dan tidak terselamatkan. Cukup menatap jendela, bertemankan awan, setel playlist galau. Beres deh.

Tempat yang saya ambil adalah 21F. Yang mana daripada itu sedikit di belakang sayap. Maka tidak heran kalau separo hasil karya si Eos akan selalu berhiaskan sayap menekup ke atasnya si Garuda GA 236 ini. Okelah. Yang jelas mimpi saya bisa motret pakai DSLR lewat langit terlaksana. Terakhir kali saya motret dari langit itu ya pakai Brica Ambon. Sebelumnya malah pakai kamera pocket yang blitz-nya dimatiin. Mimpi itu bisa terwujud ya kalau diusahakan. Usaha ngutang buat beli si Eos, usaha cuti, usaha buat beli tiket pesawat. Simpel kan?

Hasil Karya Eos
Hasil Karya Eos

Sayangnya saya dapat 737-800 yang bukan NG. Jadi tidak dapat LCD pribadi kayak biasanya. Hanya ada layar nekuk di atas, dan kebetulan tepat di atas saya.

Njuk piye le nonton? *asem*

Dan ternyata penerbangan ini sebentar sekali, plus mlipir pantura. Jadi pemandangannya nggak jauh-jauh dari laut. Hiks lagi. Beda sama penerbangan dari Padang yang full of green, atau dari Palembang yang berhiaskan sungai plus Kepulauan Seribu. Cenderung lebih asyik untuk difoto.

Mlipir Pantura
Mlipir Pantura

Plus, ternyata penerbangan ini sebentar sekali. Cenderung nggak kerasa. Hedew.

Duduk Pas Sayap
Duduk Pas Sayap

Harapan saya untuk motret Kota Semarang dari langit kandas karena ternyata bandara Ahmad Yani ini langsung mlipir laut. Beda banget sama Jogja yang memperlihatkan profil kota sebelum mendarat. Ini laut, laut, sawah, lalu landasan. Rasanya bandara ini lebih besar dari Jogja, karena ngerem-nya nggak sekeras di Jogja, kalau menurut saya.

Sebelum Mendarat
Sebelum Mendarat Apa Sesudah Mengudara ya? *lupa*

Sampai di landasan, turunnya tanpa belalai. Benda yang hanya ada di bandara nggak minjem kayak Minangkabau atau SMB II. Kalau minjem kayak Jogja atau Semarang atau Medan yang Polonia, ya nggak ada. Tanda minjem? Lihat aja kalau ada menaranya tentara, itu tandanya bandara masih minjem. Minjem sejarah setidaknya.

Setelah mimpi motret dari langit terlaksana, sekarang mimpi motret pesawat dari landasan juga terlaksana. Kalau pakai HP, biasanya kan nunggu HP on dulu baru bisa motret. Sedangkan saya itu orangnya tertib, menyalakan HP yang kalau sudah sampai gedung terminal. Keburu nggak kelihatan pesawatnya.

GA 236
GA 236

Ada juga bapak-bapak yang motret pakai tablet-nya. Next target adalah tablet. Meski saya meragukan untuk apa juga saya punya tablet kalau semua aktivitas online masih bisa dicover sama si Young, ya meskipun dia harus tersambung selalu ke powerbank.

Sampai Semarang dan kesimpulannya adalah bandara ini kecil sekali. Lha kecil kalau begitu keluar LANGSUNG kelihatan parkiran mobil, dan ujungnya parkiran mobil juga kelihatan. Ealah. Plus akses keluar satu-satunya, selain dijemput dan ngesot, adalah taksi bandara. Dan layaknya taksi bandara manapun, tarifnya sungguh tiada masuk akal. Buat saya taksi bandara paling fair itu tetap Palembang. Bayar beberapa ribu di tempat, sisanya argo. Di Jogja? Tahun 2008, bandara ke Paingan yang cuma sakcrit itu bayarnya 35 ribu. Edan!

Mana yang ngelayanin karcis taksi itu udah tua pula. Kalau lambat kan logis. Tapi kalau lambat gitu kan saya emosi jiwa. Tapi ini kan perjalanan, masak saya emosi. Tak patut, kata Upin atau Ipin.

Hasil googling, saya memutuskan untuk naik taksi ke Katedral. Sebagai mantan warga Keuskupan Agung Semarang, saya kan pengen lihat juga Keuskupan Semarang dan katedralnya kayak apa. Sekaligus koleksi tambahan sesudah melihat Katedral Padang, Palembang, dan Jakarta.

Letak Katedral itu dekat Tugu Muda. Supir taksinya malah nanya, “Katedral mana ya Mas?”

Untung sudah googling. Hahahaha. Tinggal jawab, “dekat Tugu Muda.”

Dan ya memang Katedral itu seputar-putar Tugu Muda. Dan malah sebrang-sebrangan sama Lawang Sewu yang legendaris itu. Sayangnya nih, saya nggak bisa masuk Katedral itu. Agak miris juga ya, umat Katolik, nggak bisa masuk Katedral. Padahal di saat yang sama orang lain bisa masuk Watugong dan Gereja Blenduk, walaupun bayar. *tanya kenapa*

Di Katedral, tujuan saya yang utama sebenarnya cari halte Bus Rapid Trans-nya Semarang koridor 2. Cara irit kan? Sesudah tarif kampet 40 ribu bandara ke Katedral, maka perlu penetralisir dompet. Tentu saja 🙂

Di sebelah Katedral ternyata ada sekolah Dom Savio. Satu hal yang selalu saya ingat dari nama sekolah ini adalah dulu waktu di JB kelas I-5, ada anak nomor absen 5, namanya Alexander Ivan berasal dari sekolah ini, dan tidak pernah nongol sebagai siswa JB. Ini kan sebuah misteri, yang harus diungkap setajam silet. Silet pitik.

Sebenarnya pengen mampir dulu ke Lawang Sewu, wong cuma nyeberang. Tapi kok tiba-tiba mendung menggantung dan hujan melanda. Ya sudah, memandang Lawang Sewu-nya dari kejauhan saja deh. Saya akhirnya umpek-umpekan sama anak-anak sekolahan di dalam BRT warna merah jurusan Terminal Sisemut itu. Ini jam padat.

Agak unik BRT ini menurut saya. Mekanismenya lebih mirip Trans Musi mungkin. Ya secara saya belum pernah naik Trans Musi sih. Soalnya Halte-nya kosongan. Halte kosong ini tentu beda dengan Trans Jogja, apalagi Trans Jakarta. Jadi begitu umpek-umpekan, si penarik bayaran niscaya akan bingung, mana yang sudah dan mana yang belum. Untung bisnya kecil. Oya, bis-nya keren. Mungkin karena masih baru. Setahun yang lalu waktu saya ke Semarang demi naik Bejeu, belum ada BRT koridor 2 ini.

Intermezo sedikit, saya ketemu anak SMP cantik namanya Sabrina Taleetha, turun di Pasar Jatingaleh. *Iklan Layanan Masyarakat*

Satu hal lagi yang membedakan BRT ini dengan Trans Jogja, apalagi Trans Jakarta, adalah berhenti-nya. Selalu ditanya dulu. “Pasar Jatingaleh?”, kalau ada yang bilang ada, baru berhenti. Lah kan aneh. Jadi nggak selalu mandek di setiap halte. Dan yang unik berikutnya adalah di hujan yang deras itu ada Honda Tiger yang parkir PERSIS di tempat BRT harusnya mandek. Dan begitu BRT datang ke halte itu, yang punya motor diam saja, berasa halte ini punya Mbah Kakung-nya.

Itu kalau di Jakarta mungkin sudah dihajar massa.

Plus, ada satu halte yang saya lupa, yang di depannya persis terparkir mobil Carry jadul warna hijau. Dan khusus disini penumpang akan turun lewat pintu depan. Mungkinkah pemilik Carry itu adalah penunggu halte, sehingga BRT nggak berani menggusur. Suasana semakin mistis karena ada taburan bunga di atas Carry hijau itu. Hiiii… wagu.

Saya turun sejurus sesudah patung Pangeran Diponegoro. Masih hujan, tapi sudah tidak sederas waktu di Katedral. Mengulang kejadian yang sama setahun silam. Ya sudah, wong tas saya sudah punya pelindung parasut dua biji, jadi perjalanan diteruskan saja. Entah kenapa, sejak Heavy 13, saya memang cenderung takut hujan, Takut yang aneh.

Hari hujan ini justru bikin galau. Halah, nggak hujan juga galau. Sambil hujan-hujan ini, saya mengirim sebuah pesan singkat, yang kemudian sampai kepada nomor yang dituju. Iya, udah gitu doang sih.

TERUS KENAPA?

Nggak ada apa-apa sih. Sejak masuk penginapan sekitar jam 3, sampai kemudian Romelu Lukaku menorehkan luka ke gawang Kurnia Meiga, saya nggak keluar-keluar kamar lagi. Dengan kata lain, molor sampai pagi.

Bangun-bangun kok sudah Jumat. Coba kalau bangun-bangun masih Kamis, kan saya nggak harus nambah biaya penginapan. Di hari Jumat ini, tujuan saya adalah sebuah tempat yang katanya namanya Pagoda, beberapa kilometer dari tempat saya menginap. Ini aksesnya jauh lebih mudah daripada saya harus ke Sam Poo Kong. Dan katanya, yang akan saya tuju ini lebih gede. Ya benar atau tidaknya kan harus dibuktikan.

Pohon dan Angsa (Kelihatan Nggak?)
Pohon dan Angsa Di Depan Penginapan (Kelihatan Nggak?)

Hasil blogwalking bilang kalau saya cukup naik BRT arah Sisemut untuk bisa sampai ke tempat yang hendak saya tuju ini. Jadilah saya kembali ke Halte Srondol. Mikirnya kan logis ya, ada halte, ada BRT, ada penumpang, maka bis berhenti. Iya kan?

Iya apanya. Nggak! Saya nangkring di Halte Srondol dan cuma dilewatin doang sama bis nomor 39 dan 40. Setelah saya analisis, ternyata halte ini ketutup pohon, jadi nggak kelihatan kalau ada orang. Selain itu, saya-nya memang pada dasarnya juga sudah untuk dilihat. Maka lengkap sudah.

Jadi, saya turun dari Halte Srondol dan menuju Halte Tembalang. Dari tadi, dua BRT mampir di halte ini. Dan benar saja, bis nomor 41 mampir dan saya segera naik. Begitu ketemu kondektur-nya, saya berpesan kepada kondektur, layaknya orang tua pada anaknya.

*uopoooo*

“Mas, Watugong medun ngendi?”

“Mega.”

“Sip.”

Halte demi halte dilewati, dan akhirnya saya sampai juga di halte yang disebut Mega itu. Pas turun saya juga kurang paham Mbak-Mbak yang namanya Mega itu nunggu dimana. Pas pulang baru tahu kalau itu nama perumahan.

Pas turun dari Mega, pucuknya pagoda sudah kelihatan. Jadi saya berjalan terus ke selatan guna mencari kitab suci. Yang unik, dari Mega sampai ke Pagoda itu, berjejer penjual ubi cilembu rasa madu. Lah, ini Semarang apa Bandung?

Untung bulan puasa, jadi saya nggak beli. Ya meskipun kata-kata sebelum dan sesudah koma itu sama sekali tidak berhubungan sih.

Terus berjalan ke selatan sambil disabet udara kencang tronton yang lewat ke arah Ungaran, saya akhirnya sampai juga di Pagoda yang dimaksud. Izin dulu sama satpam, nulis di buku tamu, dan memberikan duit seikhlasnya. Paling suka kalau sudah seikhlasnya gini. Kalau saya nggak ikhlas, nggak apa-apa dong?

Hanya karena saya kasihan kepada Pak Satpam yang menonton sinetron, buat saya sih nggak sesuai sama profesi, jadi saya tetap ikhlas ngasih.

Sesudah izin untuk mengambil gambar, akhirnya saya jeprat-jepret sana-sini di Pagoda ini. Asyik! 😀

Pagoda
Pagoda

Sempat ngobrol dengan Bapak-Bapak yang menunggui tempat beribadah ini. Juga cerita kalau hari Sabtu Minggu biasanya ramai, dan dikunjungi umat dari berbagai agama. Dia juga cerita kalau istrinya satu agama dengan saya. Dia juga cerita soal rombongan-rombongan yang datang kesana. Hingga bagian paling mengenaskan adalah ketika dia bertanya pada saya, “punya pacar nggak Mas?”

Mengheningkan cipta, mulai!

Semut Aja Nggak Sendirian
Semut Aja Nggak Sendirian

Kebetulan masih pagi dan masih sepi, jadi saya menyempatkan diri untuk keliling-keliling, dan ketemu dengan tukang sapu yang juga bertanya kenapa saya sendirian.

Emangnya salah ya ke Pagoda sendirian? Nggak apa-apa, tinggal diberikan senyum termanis saja deh. Perjalanan ini juga saya lakukan dalam rangka membersihkan pikiran dari keinginan punya pacar, tapi nggak cinta. Ya to? Mending juga nggak punya pacar, daripada punya tapi kayak memaksa perasaan. Sudah pernah, dan sudah nggak mau mengulanginya lagi. Begitu sih.

Patung Budha dan Pagoda
Patung Budha dan Pagoda

Disini saya ketemu sama 1 keluarga dari Belanda. Ngobrolnya pas lagi foto-foto. Ternyata si Eos ada kembaran punya bule Belanda. Hore.

*senang yang tidak fundamental*

Menjulang Tenang
Menjulang Tenang

Sesudah capek dan sesudah minum teh kotak, saya akhirnya cabut dari Pagoda Watugong ini, untuk kembali ke utara. Kalau ke selatan lagi, saya takut kebablasan ke Jogja. Padahal cawet saya masih ada di penginapan. Masak saya mau ke Jogja tanpa cadangan cawet?

Angkot kuning menjadi pilihan. Ini hasil tanya-tanya sama teman Twitter soal akses ke Watugong, sehari sebelumnya. Nggak jauh saya naik angkot ini, dan tarifnya juga nggak se-kurang ajar angkot masuk ke kawasan Jababeka 2. Saya turun di Terminal Banyumanik, untuk lanjut BRT. Niat awalnya sih pulang ke penginapan, tapi karena kemarin belum sempat lewat Lawang Sewu, akhirnya saya memutuskan untuk bablas lagi ke Tugu Muda, sekadar mau lewat Lawang Sewu. Ogah masuk, soalnya hasil blogwalking perlu 30 ribu rupiah untuk biaya guide. Kalau guide-nya cewek nggak apa-apa, kalau guide-nya cowok? Bisa-bisa saya kayak homo nanti jalan berduaan sama cowok.

Ternyata BRT itu mandeg-nya agak jauh dari Lawang Sewu, di depan SMA 5 yang depan-depanan sama Balai Kota. Ehm, bagian Semarang yang ini asli keren. Area pedestriannya sungguh lapang, selapang dada Mbak Julia. Berharap ini ada di Cikarang, tapi–ah–yang penting kan industri yang dibangun, jalanan nggak usah, apalagi buat pedestrian. Buat apa?

*iri hati dot com*

Jalan ke Lawang Sewu sudah, lalu nyeberang lagi ke Katedral. Kayak kemarin sih. Tapi saya coba berhenti dulu beli Leker. Biar ada cerita kuliner Semarang. Padahal ya ini cuma Leker di depan Dom Savio. Dan anehnya, yang beli Leker bareng saya malah anak Don Bosco.

*tuing tuing*

Singkat cerita, Leker-nya habis. Ya karena emang cuma tipis gitu. Sama saya mah cepet banget habisnya. Plus saya beli juga Kopiko 78 derajat buat minumnya. Intinya sih biar ngepas belanja 20 ribu rupiah, mengingat tujuan utama jajan sebenarnya adalah mecah duit biru bung WR Supratman.

Saya kembali ke penginapan sekitar jam 12. Tidak ketemu Sabrina Taleetha yang pasti. Mungkin dia masih menuntut ilmu demi masa depan Semarang. Masih ada 1 jam sebelum cek out, saya manfaatkan untuk ngecas laptop dan leyeh-leyeh.

Jam 1 kemudian segera cek out dari penginapan, daripada disuruh bayar ekstra kalau molor. Padahal sih di hotel besar aja selisih 10-20 menit telat cek out ya nggak masalah. Ini memang semata karena saya tertib.

Untungnya Semarang lagi nggak hujan kayak pas saya datang sehari sebelumnya. Jadi saya bisa jalan sedikit ke Halte BRT Tembalang, tapi yang arah utara. Iya, sedikit. Sedikit jauh.

Pengen juga mencicipi jembatan penyeberangan yang ada persis dekat Halte Srondol. Soalnya Jalan Setiabudi ini agak ramai. Ah, tapi sebagai lulusan penyeberangan Gang Mesjid Jalan Raya Bogor, malu sih kalau nggak bisa nyeberang jalanan manapun di dunia. Tempat yang saya sebut barusan adalah tempat penyeberangan tersulit sedunia versi On G Spot.

Jadi, saya pakai jembatan penyeberangan itu sebatas pengen nyoba.

Dan…

ngeri. -___-

Bukan apa-apa, itu jembatan penyeberangan menggunakan kayu sebagai alasnya. Kayu yang di beberapa bagian goyang, dan di beberapa bagian lain bolong. Pantes nggak ada yang berminat naik jembatan ini. Juga nggak ada yang berminat nongkrong jualan sprei layaknya jembatan penyeberangan di ibukota negara sana.

BRT yang dinanti tiba tidak lama sesudah saya turun dari jembatan penyeberangan. Artinya? Iya, saya ketinggalan BRT itu. Soalnya halte Tembalang masih rada jauh dari jembatan maut ini. Nggak apa-apa, 10 menit lagi juga lewat. Mobil merah itu benar-benar membantu saya dalam perjalanan ke Semarang kali ini. Dan di BRT menuju Terboyo ini saya duduk dekat Bapak-Bapak yang mengeluh kok BRT ini lama.

“Keokehan mandek.”

-____-

Namanya juga BRT, ya pasti akan berhenti dari halte ke halte. Dia lalu membandingkan dengan bis Solo. Saya cuma membatin, “Kok yo tadi nggak naik bis Solo aja. Sekarang muring-muring begini.”

Dasar manusia.

Saya lewat lagi Katedral dan Lawang Sewu, tapi ya cuma lewat, karena saya memutuskan untuk langsung turun di Stasiun Tawang.

Ini jam 2, dan kereta saya jam setengah 9. Orang gila.

Kota lama segera dimasuki, ditandai dengan bangunannya yang tua-tua dan tampak penuh beban hidup. Saya turun di Halte Tawang, sedikit berjalan kaki dari pintu masuk Stasiun Tawang. Kesan pertama, halaman parkirnya luas. Dan kesan berikutnya adalah betapa besarnya polder Tawang yang ada di depan stasiun yang katanya tertua di Indonesia itu.

Saya masuk hendak menukarkan struk ATM dengan tiket. Dan ternyata online KAI benar-benar sudah canggih. Termasuk tiket Bandung-Jakarta bisa saya cetak di Semarang. Hmmm, berarti besok-besok kalau beliin tiket buat orang tua, sekalian aja saya cetak di Bekasi atau di Senen kali ya. Daripada ngirim struk doang.

Sebuah perubahan signifikan di bawah asuhan Pak Jonan dan Pak Dahlan. Ini signifikan banget lho, dibandingkan tahun 2010. Nggak sampai 5 tahun, dan perubahan menjadi amat sangat jelas.

Angkat jempol deh.

Tawang
Tawang

Saya kemudian cari makan, guna persiapan minum Amoxicillin terakhir yang saya konsumsi gegara sakit gigi. Cari makannya ini rada males, karena bau polder rada amis, kalau mau makan di dekat polder kok bikin nggak nafsu.

Akhirnya saya asal jalan aja. Dari stasiun ke kiri, sampai nemu mesjid, dan sebuah hamparan air yang cukup luas. Mungkin ini laut? Ah, apa iya?

Sesudah ke Katedral, lalu ke Watugong, saya kemudian ngemper 15 menit di mesjid dekat hamparan air itu 😀 Nggak aneh, karena yang numpang terkapar ada banyak. Kalau yang sholat beneran sih hanya dua orang. Mesjidnya bagus, terbuka, dan mulus.

Nah, di depan mesjid itu ada tukang becak. Saya segera mendekat, dalam rangka hendak ke Gereja Blenduk. Sudah sampai Tawang kok ya nggak ke Blenduk kan rugi. Jadi saya mendekat, dengan estimasi budget 10 ribu rupiah. Karena saya tahu itu dekat.

“Blenduk piro, Pak?”

“Delapan ribu.”

Berhubung di bawah budget, langsung naik. Dan namanya becak, hedeh, ini transportasi paling tidak fair. Penumpang akan disodok truk lebih dulu dalam posisi adu kambing. Dan mendekati polder, becak yang saya tumpangi hanya selisih 30 cm dengan BRT dari arah Tawang.

Ealah.

Menjulang Teguh
Menjulang Teguh

Sampai di Blenduk, saya kasih 10 ribu, dan bonus 2 ribu tentu saja karena saya nggak minta kembalian. Langsung kabur saja. Mengingat untuk jarak ini, ojek-ojek di kawasan industri sudah pasang tarif 7 ribu, maka tarif 10 ribu untuk becak, bagi saya sangat masuk akal.

Akhirnya melihat juga Blenduk ini, sesudah sering lihat di blog orang. Ketemu satpamnya, katanya kalau masuk 10 ribu per orang. Ada yang unik sih, waktu saya masuk, di tempat duitnya itu ada menggantung duit 20 ribu, si satpam nggak mendorong masuk uang itu, tapi menariknya keluar pelan-pelan dengan tangan kanan, lalu masuk ke kantong.

Hehehe. Sebagai mantan anak gereja yang ngerti sela-nya kotak sumbangan, apa yang dilakukan oleh satpam tadi begitu kasar, seharusnya dia bisa berlaku lebih mulus lagi kalau mau memiliki duit 20 ribu itu.

Ya sudahlah. Urusan dia sama Tuhan 🙂

Blenduk di Langit Biru
Blenduk di Langit Biru

Ada organ yang menetap di gereja itu. Mirip Katedral Jakarta, tapi lebih kecil. Dan Blenduk sendiri ternyata gereja kecil. Bayangan saya aja yang berlebihan, ternyata.

Hanya 5 menit dan beberapa foto dengan Eos, saya cabut. Kalau tadi 10 ribu buat becak berguna, 10 ribu yang ini kok semacam wagu. Jadi, saya menuju penghabisan 10 ribu berikutnya di warung dekat Blenduk situ.

Saya pesan indomie goreng, plus es teh manis. Lumayan untuk persiapan ngantibiotik.

Sambil menanti, saya melirik ke taman di dekat Blenduk. Taman yang asri dan bagus, tapi sayangnya, di sudut-sudutnya ada orang kumuh, dengan tatapan mengerikan. Sebagai orang yang punya trauma mendalam pada orang gila, yang menyebabkan saya ogah jadi orang gila, maka saya buru-buru makan dan buru-buru kabur.

Saya ditendang orang gila itu tahun 2000, sampai 2013 masih aja takut sama orang gila.

*melankolis yang trauma mendalam*

Kabur dengan berjalan kaki ternyata membuat saya mendapati beberapa objek menarik diantara Blenduk dengan polder Tawang. Semisal, pemukiman tentara, atau semacam asrama. Mirip dengan yang ada di Bukittinggi dulu.

Sampai di polder Tawang, saya sempat takut begitu hendak mengeluarkan Eos. Ya secara ini tempat terbuka, dan tentu saja ada kemungkinan kriminalitas. Bukan apa-apa, masalahnya ya belum lunas itu tadi.

Lihat Blenduk Disana?
Lihat Blenduk Disana?

Hingga akhirnya saya nekat saya potrat-potret di sekitar polder Tawang. Syukurlah tidak ada masalah yang berarti. Ada beberapa gambar yang saya suka. Sebagai orang cupu di dunia fotografi, suka ini sangat relatif 😀

Biru
Biru

Menjelang gelap, saya masuk kembali ke Tawang, dan bertemu dengan seorang lelaki dengan tas besar lagi foto-foto di depan tulisan Stasiun Tawang. Dia minta tolong saya mengambil fotonya, pakai camdig kecil, lebih bagus dari Brica Ambon yang pasti.

Ternyata dia adalah Rio, orang Medan yang baru pulang dari mendaki gunung-gunung di Jawa. Ketika saya menyebut Slamet–ini nama ex calon mertua–dia lalu menyambung dengan Sumbing dan Sindoro. Keren juga ini orang. Sejak bulan Mei dia datang ke Jawa untuk mendaki, dan sekarang hendak balik Jakarta, lalu terus ke Medan.

Merah Putih Berkibar
Merah Putih Berkibar

Manusia yang mengikuti passion-nya, bagi saya adalah manusia yang seutuhnya.

*nggak kayak saya*

Sudah gelap, saya kemudian mampir ke Dunkin Donuts yang ada di dalam stasiun. Karena saya pesan teh panas, saya dapat kopi panas. Itu artinya, dalam sehari saya minum 2 gelas kopi hitam, di penginapan pas sarapan dan di Dunkin ini. Belum lagi dua botol 78 degree yang saya hajar di jalanan.

Dijamin nggak ngantuk ini mah.

Sebagian dari tulisan ini saya garap sambil menyantap donat di Dunkin Donuts Stasiun Tawang Semarang. 🙂

Kereta Harina yang akan mengantar saya ke Bandung, terlambat 15 menit. Saya dapat posisi 4A, dekat jendela, tapi nggak bisa foto-foto soalnya sudah gelap. Dan efek kopi begitu terasa karena sampai jam 2 saya nggak tidur-tidur. Biasanya sih kopi nggak ngaruh ke saya, tapi mungkin ini kebanyakan kopi kali ya.

Tidak ada perbedaan signifikan kalau naik kereta api. Merk apapun ya sama saja. Kereta ya gitu-gitu aja kan? Beda sama pesawat yang interior berbeda, dan beberapa perlakuan juga berbeda. Jadi, nggak banyak cerita di dalam Harina ini.

Paling 1 doang, yakni kereta ini jalan sampai (mungkin) Purwakarta dengan arah ke depan. Dari (mungkin) Purwakarta itu, kereta jalannya mundur. Kayaknya sih semacam jalur segitiga. Dengan orientasi yang berbeda.

*iki ngomong opo sih*

Dan… sampailah di BANDUNG. St. Hall tercinta. Saya akrab dengan stasiun ini sekitar 2008-2009. Dimulai dari liburan ke Bandung medio 2008, lalu interview Medion awal 2009, diakhiri panggilan wawancara Sanbe beberapa pekan kemudian. Hanya 3 kali kalau nggak salah, tapi saya serasa paham banget tempat ini.

Entah kenapa.

Bandung :)
Bandung 🙂

Sembari menunggu kereta berikutnya, saya melanjutkan tulisan ini di Hoka Hoka Bento. Jadi ini tulisan bakal keren habis karena dikerjakan di berbagai kota yang berbeda. Hehehe.

Jam 06.45, kereta Argo Parahyangan sudah stand by di jalur 5. Padahal berangkat jam 07.15. Saya masuk saja, supaya bisa menikmati fasilitas berupa bantal. Sambil persiapan nge-charge si Young yang mendadak gundah dalam perjalanan musafiriah saya ini.

07.15, kereta melaju, dan tidak lama kemudian, saya mendapati sesuatu yang saya cari khusus di perjalanan ini.

Ijo Royo-Royo
Ijo Royo-Royo

Pemandangan yang indah.

Tsakep Abis
Tsakep Abis

Jakarta-Bandung, bahkan via Tol Cipularang saja sudah memberikan pemandangan yang keren. Kalau naik kereta, si Tol Cipularang itu saja bisa saja foto. Hanya saja, saran nih, kalau mau naik Argo Parahyangan Bandung-Jakarta, pilih bangku A atau B. Jangan C dan D kayak saya. Ketemunya cuma tebing doang. Untungnya bangku A kosong, jadi saya bisa pindah-pindah jeprat-jepret sana-sini. Well, sampai kemudian kehabisan memori.

Tol Cipularang :)
Tol Cipularang 🙂

Mendapatkan yang dicari dari sebuah perjalanan, adalah sebuah kepuasan batin yang tidak tertinggi. Bukan begitu?

*padahal ini perjalanan cari pacar*

*dan nggak dapat*

*sigh*

Masih tsakep abis
Masih tsakep abis

Hanya setengah jalan yang indah. Sisanya? Ya namanya sudah Cikampek-Karawang-Cikarang-Bekasi-Jakarta. Mau lihat apa lagi di kota-kota itu? Saya malah ngerasain lewat Lemah Abang, dan berhasil mengambil foto disana. Iya, jalanan yang bikin saya membatalkan niat punya rumah di Cikarang, meskipun sebenarnya saya sudah punya.

Ulah Orang Gila
Ulah Orang Gila

Hingga akhirnya…

JAKARTA.

Stasiun Gambir ya masih begini saja. Saya foto sedikit si Mbah Monas sebagai oleh-oleh terakhir Loser Trip ini. Lanjut ke Trans Jakarta arah Harmoni, kemudian turun di Gelora Bung Karno. Dan keberuntungan petualang adalah, begitu turun jembatan, ada bis Lippo Cikarang lewat. Kosong pula. Saya bisa tidur dengan nyenyak.

Dan memang nyenyak. Hanya saja, entah kenapa, saya sudah tiga kali ini, tidur di bis Lippo, dan bangun PAS di pintu tol Cikarang Barat. Kebiasaan petualang? Mungkin. 😀

Si BG saya tebus sesudah saya tinggal dari Kamis. Jalanan Cikarang ya begini ini. Macet. Untungnya sudah biasa. Saya kemudian melengkapi hari penuh junkfood dengan mampir ke McD Jababeka. Dunkin, Hokben, McD. Betapa kapitalisnya hidup saya.

Siang hari yang terik. Saya sampai kembali di kos. Perjalanan berakhir dengan kantong bolong meski nggak overbudget.

Pertanyaan besarnya adalah:

Apakah saya masih loser sesudah perjalanan ini?

Jawaban besarnya adalah:

Iya. Tapi setidaknya saya adalah loser yang berusaha untuk tidak menjadi loser lagi. Meskipun memang belum mendapat kesempatan menghilangkan predikat yang saya buat sendiri itu.

Mungkin memang perlu cara lain. Ya sudah. Yang penting, saya sudah mencatat bandara baru dan stasiun baru untuk dikunjungi. Saya sudah berhasil mengambil foto pakai DSLR dari langit, juga dari kereta api. Saya juga sudah mengabadikan berbagai gambar bagus dengan si Eos.

Tapi yang paling menarik dari perjalanan ini adalah obrolan saya dengan seorang Bapak di Watugong, juga percakapan saya dengan Rio si anak Medan. Sebagai seorang introvert, bisa bercakap-cakap dengan orang baru sepanjang perjalanan adalah sebuah kemajuan yang luar biasa. Untuk konten, tentu ada yang bisa ditarik 🙂

Demikian laporan perjalanan saya. Ada sekitar 5000 kata, alias 12,5% dari sebuah naskah novel. Delapan kali cerita perjalanan macam ini, sudah bisa bikin novel lho.

Saya masih seorang loser, dan mungkin anggap saja saya gila. Tapi sejatinya saya adalah orang gila yang berusaha untuk menjadi waras dan tidak loser. Itu saja sih poinnya.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Semoga memberi kesan yang baik ya. Karena tiada kesan tanpa kehadiranmu.

*iki blog opo pesta ulang tahun?*

😀

Wisma Hasanah, Semarang 250713
Stasiun Tawang, Semarang 260713
Stasiun Hall, Bandung 270713
Kedasih, Cikarang 28290713

@ariesadhar

5 Hal Yang Akan Saya Lakukan Jika Boleh Mengulang Masa Kuliah

Sudah lama ya nggak nge-blog soal lima-lima ini. Gara-gara lihat Twitter-nya Alumni USD, jadi malah mengenang masa silam, apalagi untuk sebuah pertanyaan, “apa yang akan kamu lakukan jika boleh mengulang masa kuliah?”

Saya sih sebenarnya punya masa kuliah yang sangat indah. Jelek-jelek begini, saya kurang laku pas kuliah lho.

*sik-sik, itu termasuk indah ya?*

Ya, dalam rangka mencari makan gratis, saya termasuk mahasiswa yang mendapat banyak kesempatan melakoni hal-hal yang jarang dilakoni mahasiswa pada umumnya. Saya pernah ikut wawancara akreditasi fakultas, langsung dari BAN, dan diberi pertanyaan, “kenapa kamu suka Inter Milan?”. Karena itu fakultas saya kemudian dapat akreditasi A. Kalau gila, boleh percaya kalimat terakhir tadi.

Dalam berbagai posisi di organisasi kemahasiswaan, saya juga pernah ikut rapat ini dan itu di fakultas dan universitas. Tentunya beberapa puluh ribu uang workshop dan rapat-rapat itu sangat berguna untuk mahasiswa kere macam saya. Belum lagi kesempatan untuk mengetahui data-data yang kebanyakan mahasiswa lain tidak tahu.

Masih mendapat kesempatan mewakili kampus 2 kali dalam semester terakhir kuliah saya untuk lomba paduan suara juga adalah bonus besar. Belum lagi beasiswa sejak semester 4, berawal dari 200 ribu sampai gratis total.

Apa lagi sih yang akan saya lakukan kalau mau diulang? Tetap ada. Ini dia.

1. Tetap Kuliah Farmasi

Oke, saya memang bisa dibilang salah jurusan. Tapi saya nggak pernah menyesal menyandang gelar ini 🙂 Punya ilmu di bidang kesehatan itu harganya sangat mahal. Jadi, kalau memang boleh mengulang masa-masa kuliah yang indah itu, saya akan tetap kuliah di Farmasi.

Alasan yang utama adalah karena di Farmasi banyak ceweknya. Ya, walaupun cewek yang banyak itu belum tentu bermakna bakal mau sama saya. Tapi kalau punya teman cewek, kan setidaknya kita nggak perlu mencatat. Sebelum ujian tinggal merapat ke fotokopian terdekat. Tidak perlu khawatir pula kekurangan bahan, karena teman-teman cewek pasti punya list yang lengkap. Kalau praktikum, cukup modal cuci alat gelas, dan laporan bisa selesai dengan baik dan benar.

Nggak kebayang aja kalau saya kuliah teknik, dengan ketergantungan pada teman cewek sebesar tersebut di atas.

2. Mewakili Kampus Ikut Lomba Bidang Farmasi

Ketika temu alumni, yang akan dikenal adalah “siapa gubernur BEM dulu” dan “siapa yang juara ini dan itu dulu”. Orang nggak akan kenal siapa yang diwawancarai BAN dengan baju Inter Milan.

Dulu waktu SMA, saya pernah mewakili sekolah dalam lomba tulis menulis, dan syukurlah masuk koran dan disebut juara 1, padahal juara 3. Kalau lagi begitu, rasanya bangga nian. Dan rasa bangga itu yang nggak sempat saya rasakan waktu kuliah. Secara yah, IP cuma jongkok, mau mewakili fakultas di lomba bidang apa?

Sastra Farmasi?

3. Jadi Pengawas Ujian

Nah ini. Sebagai anak guru, saya itu sangat pengen banget sekali menjadi pengawas ujian. Asli pengen banget, terutama kalau lagi lihat Bapak saya mengawasi ujian. Tapi apa daya, hal yang bisa saya gapai itu hanya jadi pengawas pengisian KRS online, itu juga pas saya sudah lulus -___-”

Iya, dulu itu selalu saja nggak bisa kalau ada lowongan pengawas ujian dibuka. Mulai dari ujian yang juga banyak, karena SKS-nya banyak, sampai karena memang jadwalnya bertumpuk padat dengan persyaratan ujian.

Dan nomor 3 ini adalah penyesalan terbesar saya, yang harus dilakoni kalau saya boleh mengulang masa-masa kuliah.

4. Jadi Asdos Praktikum Mikro Senin Pagi

Senin pagi semester 6 itu saya ada kuliah. Soal kuliahnya apa saya lupa. Tapi yang jelas saya kuliah bareng Robert, yang juga partner  jaga di Senin siang. Ehm, kalau nggak salah Metodologi Penelitian, soalnya kalau sampai sekelas Robert, ya berarti kuliah campur, bukan kuliah minat.

Sejak awal, saya sudah menggebet jadwal jaga di Senin pagi itu. Apa daya, kuliah Metopen adalah syarat untuk anak-anak yang hendak lulus cepat, jadi ya gimana. Jadwal jaga yang itu terpaksa dilewatkan. Lagipula, sesudah cocok-cocokin jadwal, ya pada akhirnya saya hanya bisa jaga Senin siang itu.

Pulang tinggal tepar.

Ada apa di Senin pagi? 🙂 🙂

5. Jadi Anak Kos

Saya mulai jadi anak kos itu Januari 2006. Enam bulan sesudah Mbah Kakung wafat. Dan beberapa hari sesudah nilai Biologi Molekuler saya E. Saya bisa pastikan, kalau saya ngekos waktu itu, maka nilai E itu nggak akan ada. Yakin habis. Nanti kalau buka tentang Alfa keluar, pasti bisa baca apa hubungan bukan anak kos dengan nilai E itu.

Nilai E itu adalah noda besar. Ya walaupun jumlah nilai saya yang C lebih besar daripada A, tapi punya satu E itu kan bikin saya harus ngulang. Ngulangnya ya nggak bener juga. Hari Kamis jadi asdos Farmasi Fisika, hari Sabtu kuliah bareng Biologi Molekuler.

Maluw. Mau ditaruh dimana muka ini?

Eh, emang keliatan?

Hehehe.

Begitulah. Bagaimana dengan kalian?

Kumpul Bocah

Kemarin habis kumpul bocah, di rumahnya Robert. Yak! Betapa indahnya dunia ketika orang yang tahun 2008 silam masih sama-sama dengan saya garap makalah Ekonomi Farmasi tentang PT. Ferron, sekarang sudah punya rumah dan punya istri. Waktu itu saya garapnya sama Yoyo. Yang ini malah sudah punya rumah, punya istri, dan punya anak.

Saya? Pacar aja belum.

Banyak hal yang bisa diperbincangkan memang. Apalagi saya juga ketemu Rosa, teman yang bekerja di posisi dan perusahaan yang bulan Maret 2011 silam saya tolak karena berbagai pertimbangan. Setengah menyesal juga sih. Tapi hidup kan harus terus berjalan kan?

Di kumpul bocah ini juga ketemu Sisil, yang sudah hamil 6 bulan. Sukses sekali programnya karena dia nikah juga baru akhir Desember lho. Dan segera akan ada keponakan dolan-dolan #2 sesudah dedek Karin.

Juga ketemu dengan Blangkon yang akan segera memasuki usia 29.. (wkwkwkwkwk…), kali ini bersama pacarnya, Mbak Dinta.

Kumpul bocah juga menghadirkan Ayu dalam teleconference alias sepik-sepik pakai telepon.

Lengkap sekali, menurut saya.

Teman-teman saya sudah sukses. Tapi tidak banyak perubahan yang terjadi dalam cara ngomong, dari cara menghina, dan dalam segala keakraban.

Dalam konteks ini, kami masih orang yang sama dengan tujuh hingga delapan tahun yang lalu 🙂

Sumber: tintusfar.wordpress.com
Sumber: tintusfar.wordpress.com

Juga dibahas soal tahun depan yang bakal menjadi tahun kondangan massal untuk anak Dolanz-Dolanz.. -_____-”

Yah, semoga berkat melimpah ada pada kita semua. Amin. 😀

Gadis di Dalam Hati

“Penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat….”

Aku masih menatap jauh ke awan yang menggumpal di sebelah kiriku. Kepalaku masih melekat pada jendela pesawat sekaligus menutupi hak penumpang di kursi B dan C untuk menikmati langit. Biarlah, salahnya sendiri mereka nggak cek in duluan. Aku memang selalu meminta kursi di A atau F, sehingga bisa menikmati langit, awan, dengan segala cerah dan mendungnya. Aku selalu merasa bisa memaknai betapa kecilnya aku dalam dunia ini ketika melihat itu semua.

Roda pesawat menapak mulus di bandara, sekaligus menambah koleksi bandara tempatku pernah mendarat. Aku sudah pernah mendarat di Jakarta, Medan, Palembang, Surabaya, hingga Gunungsitoli, tapi belum pernah di kota ini. Meski memang aku sudah pernah menjejakkan kaki di kota ini dengan moda transportasi lainnya.

Kamera DSLR-ku segera keluar dari tas tempatnya berdiam sedari tadi. Kuarahkan ke nama bandara yang baru pertama kali kujejak ini, berikut lingkungan sekitar. Ah, kamera ini, aku masih ingat seorang gadis pernah berkata, “Kak, beli kamera DSLR gih. Nanti aku rela deh jadi modelnya.”

Gadis yang ada di dalam hatiku. Yang menjadi alasan aku mendarat di kota ini.

Aku melangkah keluar bandar udara dan segera mencari si taksi burung biru. Yah, semua berasa semacam dinas saja. Naik pesawat, ambil taksi burung biru, dan mungkin nanti hotel yang akan aku inapi. Tapi tentu saja tidak. Hari ini hari kerja, dan aku tidak dalam posisi dinas. Aku cuti, untuk menyelesaikan sebuah masalah yang mengerak di dalam hati.

Kalau saja aku pernah cuti 1 hari untuk memberikan inspirasi kepada anak-anak SD, masak sih aku tidak merelakan cuti untuk menyelesaikan masalah hati ini?

“Selamat pagi, Mas. Mau diantarkan kemana?”

Aku menyebut nama sebuah tempat di selatan kota, dan supir taksi burung biru ini segera melajukan kendaraan yang akan membawaku mendekat pada penyelesaian masalah hati ini.

Kemacetan ternyata sudah menyapaku begitu lepas sebuah bundaran di pintu bandara. Ah, kota ini tidak jauh beda dengan tempatku mengeruk rupiah. Sama saja macet! Kendaraan ini berhenti dan segera pikiranku membuat kilas balik rentetan peristiwa sepekan terakhir.

“Pak, tahu kan kalau saya suka sama seseorang, sudah dari lama. Gimana ya enaknya? Saya perlu diam aja, atau perlu saya ungkapkan?”

Aku berhadapan penuh ketakutan kepada Bapak Pelatih. Bukan hal mudah bagiku untuk curhat, apalagi ke orang sepenting beliau. Tapi aku sungguh sudah kehabisan akal dan semakin penuh kebingungan karena masalah ini.

Tujuh tahun mencintai satu orang yang sama, dan sama sekali tidak punya nyali untuk mengungkapkan. How loser I am!

“Untuk masalah hati, Dek, saya sarankan dengan sangat, perasaan itu harus kamu ungkapkan,” ujar beliau dengan penekanan pada kata ‘harus’, “kalau memang sudah sangat terlambat, yang penting kan sudah diungkapkan. Minimal bisa bikin lega hati.”

Aku tertunduk lesu, tapi lega juga. Menyimpan rasa suka sendirian selama bertahun-tahun itu benar-benar menderita. Ketika kemudian aku bisa mengungkapkan ini–minimal pada Pak Pelatih–maka ada sekian persen beban yang lepas.

Ya. ‘Harus’ yang dibilang oleh beliau menjadi penuntunku untuk kemudian melakukan tindakan antik ini. Aku segera membeli tiket pesawat ke kota ini, berikut memesan tiket hotel, dan langsung mengajukan cuti dalam waktu yang singkat. Dan entah kenapa, semesta semacam mendukungku. Harga tiket terbilang terjangkau, dan kebetulan juga cuti bisa diperoleh dengan mudah, tanpa harus dikira sedang interview di perusahaan lain.

Hanya satu hal yang aku ragukan dari misiku hari ini. Apa iya semua biaya yang aku keluarkan ini akan memberikan hasil? Aku punya satu masalah: keberanian. Aku pernah menjalani misi ini, dengan naik bis, dan berujung ketidakberanian dengan hanya berdiri berdiam di depan kediaman gadis di dalam hati itu.

Tidak terasa, burung biru sudah membawaku ke jalan lurus yang tidak jauh dari kampus ternama di negeri ini, yang berarti aku sudah hendak sampai ke tempat yang aku minta sebelumnya.

“Hotel Indah ya, Pak. Yang warna hijau itu.”

Sedan biru mulus itu segera mendekat ke arah yang aku tunjukkan. Aku sampai di tempat menginap. Hotel yang berbeda dari perjalananku sebelumnya, yang gagal itu tadi. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00. Persis waktunya untuk cek ini di hotel ini.

Proses cek in berlangsung dengan cepat, dan aku akhirnya sampai di kamar.

“Mau ngapain nih?” gumamku begitu tasku mendarat di kasur.

Aku sudah berjalan sejauh ini, dan aku masih punya ganjalan yang bernama keberanian. Kalau selama 7 tahun dan dalam konteks yang lebih mungkin untuk mengungkapkan perasaan ini, dan aku kemudian tidak berani menyampaikan apapun. Bagaimana dengan sekarang?

Aku punya lebih banyak alasan untuk menyimpan semua perasaan ini sampai mati, meskipun aku sudah sejauh ini.

Dan dengan segenap diam yang aku dapati dari gadis itu selama 1 tahun terakhir, maka mengetik sebuah pesan singkat bukanlah menjadi perkara yang mudah.

Siang, Kinar. Maaf mengganggu. Aku mau ngasih buku, sambil mau ngomong sebentar. Bisa minta waktunya 1 jam aja hari ini? Di Mekdi atau di kosmu atau dimana terserah deh. Minta tolong ya. Soalnya besok aku udah pulang.”

Bahkan jariku masih ragu untuk menekan ‘Send’, pada layar sentuhku. Tentu saja, kalau saja SMS barusan aku kirim ke gadis itu empat tahun yang lalu, semuanya akan berjalan berbeda. Aku tidak perlu takut tidak dibalas. Sekarang? Belum tentu.

Aku menggumamkan doa sejenak sebelum telunjukku menekan ‘Send’ pada layar sentuh.

Aku hanya berharap ada jawaban, bahkan hanya sebuah jawaban tanpa kesanggupan atas permintaanku adalah sebuah harapan yang sederhana.

Dan sejak aku menekan ‘Send’ tadi, waktu berjalan begitu lambat sekali. Serasa jenggotku dapat tumbuh dalam 30 menit berlalu. Tanpa balasan selama 30 menit ini sungguh perlahan memadamkan bara keberanian yang sebelumnya aku tiup pelan-pelan untuk bisa menyala kecil.

Bahkan aku tidak berminat membalas pesan-pesan whatsapp dari seorang gadis yang aku ketahui jatuh cinta kepadaku. Ya begitulah cinta. Bahwa konsep jatuh cinta itu baru akan baik adanya kalau dicintai dan mencintai mengacu pada objek yang sama. Kalau beda? Ya begini deh. Dia galau karenaku, aku galau karenamu. Nggak berujung ini.

Rrrrrtttttt…

Handphone bergetar.

Sbb Kak. Aku baru pulang kerja. Kakak dimana emang? Buku apa?

Lumayan. DIBALAS! Itu saja sudah bikin senang.

Aku nginep di Hotel Indah. Jadi bisa? Mau dimana? Bukuku. Ceritanya mau promo. Hehehe.

Dan, lagi-lagi, aku harus menunggu.

Rrrrrttttttt….

Bukumu? Hmmm, terserah, mau di kosku juga boleh. Emang tau?

Syukurlah. Jawaban ini semakin mengarah. Dan kali ini aku harus mengipas bara keberanianku untuk menuntaskan perasaan yang sudah 7 tahun terpendam di dalam hati sini.

Ya semoga tahu. Jam berapa bisanya?

Sekarang juga nggak apa-apa, kalau cuma 1 jam sih.”

Wow! Sekarang! Ini beneran ya?

Dan aku malah menampar pipiku sendiri, berkali-kali, hanya hendak memastikan bahwa ini nyata.

Aku segera keluar dari hotel, dan sudah sore rupanya. Aku masih ingat, tidak jauh dari sini ada markas tentara dengan 4 pohon tinggi dan pemandangan unik berupa angsa yang berterbangan diantara keempat pohon itu. Asli keren.

Maka, aku tidak lupa membawa kameraku. Meski memang lensanya kurang optimal, tapi sudah janjiku untuk kembali lagi kesini ketika aku sudah memiliki kamera DSLR. Cukup banyak jepretan yang aku ambil dari empat pohon itu. Sambil berlatih menggunakan kamera DSLR yang baru saja aku beli dan kreditnya masih lima kali lagi ini.

Dan aku segera melangkah mendekat ke tujuanku, kediaman Kinar.

Bahkan aku masih bertanya-tanya, apa sih yang hendak aku ucapkan nanti ketika aku bertemu? Yang aku ingat adalah hari-hari ketika aku dan Kinar curhat dalam waktu yang panjang, hari-hari saat Kinar memberiku bunga, tapi juga waktu-waktu ketika Kinar bahkan tampak tidak sudi untuk berpaling sekadar memandangku.

Dan langkahku kemudian sampai juga ke Jalan Tanjung. Seharusnya disini tempatnya. Di deretan jalan bernama bunga, mulai Mawar, Melati, hingga Tanjung, ada tempat kediaman Kinar. Dan kalau Kinar belum pindah, maka kos yang menjadi kediamannya ada di….

…ujung jalan ini.

Kosmu bener Jalan Tanjung Nomor 2?

Iya Kak.”

Kalau gitu, aku sudah di depan.”

Glek!

Perlahan pintu coklat membuka, dan sosok cantik yang 7 tahun silam merasuk ke dalam hatiku, dan tidak keluar-keluar, ada disana. Iya, Kinar sekarang ada 4 meter dari tempatku berdiri.

“Hai, Kak.”

“Hai, Kinar.”

Sebuah percakapan yang beku, penuh kekakuan. Kalau ini terjadi 4 tahun silam, yang ada tentu saja sapaan manis disertai salaman penuh kehangatan. Ah, waktu memang suka mempermainkan keadaan.

“Apa kabar?” tanyaku sambil menjulurkan tanganku.

“Baik, Kak. Duduk gih.”

Di teras kos, dengan 2 bangku plastik dan 1 meja yang juga dari plastik, aku dan Kinar, berdua saja. Tapi aku bahkan masih ingat kapan terakhir kali aku berdua saja bersama Kinar. 14 April dua tahun yang lalu, di teras kosnya yang lama, kos sewaktu kuliah.

Aku dapat mengingat semuanya dengan mudah. Sepertinya aku menganut prinsip Data Logger. Duduk, diam dan tenang sambil merekam segalanya. Entah untuk apa.

“Pertama, maaf mengganggu. Kamu pasti capek habis kerja,” ujarku membuka pembicaraan, sambil tanganku merogoh tas ranselku untuk mengeluarkan tiga buah buku.

Kinar tidak berkata-kata sedikitpun. Aku memandang wajahnya sekilas, dan masih menatap raut yang sama, yang dari pertama kali aku melihat wajah itu langsung diberi kesimpulan jatuh cinta.

“Ini, mau ngasih ini. Kalau yang ini, barengan sama yang pernah aku kasih sebenarnya. Waktu itu aku minta dua tanda tangan penulis buku ini, dua-duanya atas nama kamu.”

Dulu sekali, aku pernah memberikan sebuah buku bertanda tangan asli penulisnya kepada Kinar. Dan aku ingat sekali pesan singkatnya begitu menerima paket itu, “Apa coba artinya kamu ngasih buku ini, Kak?”

Kala itu, aku hanya menjawabnya dengan canda. Tidak ada sedikitpun keberanian untuk bilang bahwa aku berburu tanda tangan itu atas dasar cintaku pada Kinar.

“Kalau yang ini, sekalian ucapan terima kasih. Walaupun cuma 1 cerpen disini, tapi aku pakai nama kamu sebagai tokohnya. Dan percaya nggak percaya, tiga perempat cerita ini adalah kejadian nyata yang aku alami. Aku tokoh utamanya, dan kamu tokoh ceweknya. Ini yang aku SMS waktu itu. Udah pernah baca?”

Kinar menggeleng.

Ya sudah.

“Dan terakhir, yang ini, judulnya ALFA. Ini bukuku sendiri. Akhirnya aku punya buku sendiri juga. Dan harus aku kasih sendiri ke kamu, karena ada banyak kalimat di buku ini yang asalnya dari obrolan ngaco kita di SMS jaman dulu. Waktu nulis buku ini, sebagian waktu kita masih intensif SMS-an.”

“Wow. Selamat, Kak. Akhirnya punya buku juga.”

“Sebenarnya, kalau kamu nggak selalu bilang nggak pede, kamu lebih layak punya buku daripada aku.”

Kinar menerima tiga buku yang aku angsurkan kepadanya. Buku orang lain, buku antologi cerpen yang salah satu isinya adalah cerpenku, dan buku yang aku tulis sendiri. Tiga buku yang semuanya sebenarnya sangat lekat dengan Kinar, bersama segala prosesnya.

“Dan, satu lagi, mungkin ini akan mengganggu kamu, jadi aku mohon maaf dulu.”

“Mengganggu? Kenapa?”

Aku masih tidak yakin kalau aku punya cukup keberanian untuk ini. Sampai kemudian sebaris kenangan membawaku pada kata ‘harus’ yang dilontarkan oleh Pak Pelatih.

Maka aku mengela nafas sejenak, dan mulai berkata, “Ehm, maaf ya sebelumnya. Seharusnya mungkin aku nggak bilang ini, tapi karena aku sudah nggak kuat menyimpan sendirian, dan kata Pak Aji juga aku harus bilang, maka itu aku datang kesini.”

Kinar diam, dari raut mukanya tampak mengerti arah pembicaraan ini. Ketika aku menyebut nama Pak Aji, mukanya sedikit terkejut. Tentu saja, aku dan Kinar sama-sama dilatih oleh Pak Aji.

“Hari ini, tanggal 26, tepat 7 tahun aku pertama kali mendengar nama kamu, dan tepat 7 tahun juga aku jatuh cinta sama kamu. Iya, aku… cinta sama kamu, Kinar. Mungkin memang akan lebih mudah kalau aku bilang ini dulu. Waktu ketemu kamu di depan lab kelinci, atau waktu kita lagi malam keakraban dan kamu pakai baju hijau gambar kodok, atau mungkin waktu kamu curhat sama aku sambil kita duduk di atas batu.”

Dan Kinar masih saja terdiam.

“Ini mungkin terlambat, Kinar. Tapi pastinya akan buat aku lega. Menyimpan perasaan ini selama 7 tahun bukanlah hal yang baik dalam mencintai. Kayak kata Pak Aji, syukur-syukur ada respon. Hehehehe.”

“Hahaha. Kamu ini, Kak.”

“Kenapa?”

“Ya, kenapa nggak dari dulu?”

“Nggak tahu deh. Kalau urusannya sudah tentang kamu, aku jadi loser sejati. Kalau kamu ngaku kamu loser, maka aku loser yang merindukan dan mencintai loser kalau gitu. Hehehe.”

Kinar diam lagi, sambil menggengam tiga buku yang aku berikan padanya. Aku menatap bibirnya lekat-lekat sambil menantikan kata yang akan keluar dari sana.

“Iya. Kenapa nggak dari dulu. Kalau sekarang, kamu terlambat, Kak.”

Aku mendengar kata itu, kata yang jelas sudah aku sadari sebelumnya. Aku terlambat. Di usianya yang sekarang sudah 25 tahun, tentulah gadis secantik Kinar sudah punya pacar.

“Nggak apa-apa kok. Yang penting aku sudah lega. Kalaupun terlambat, ya mending daripada nggak sama sekali.”

Kinar tersenyum dengan binar termanis yang pernah aku lihat. Tangannya menimang bukuku yang judulnya “ALFA”, dan seketika membuka halaman-halamannya.

“Ini kan kata-kataku, Kak?”

“Yang mana?”

“Yang ‘selalu keren’ ini?”

“Ya emang iya.”

Aku sudah mengutarakan semuanya pada gadis yang ada di dalam hatiku ini. Dan aku sudah tahu kalau Kinar bilang aku terlambat. Ya sudahlah. Memang sudah saatnya melanjutkan hidup.

* * *

“Iya, Kak. Kamu terlambat. Kalau kamu bilang dari dulu, bisa jadi kita sedang kursus persiapan pernikahan sekarang,” gumam Kinar, tanpa bisa didengar oleh Ranu, lelaki yang ada di hadapannya.

* * *