All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Tentang Humor Jomblo

Seharusnya judul tulisan ini adalah ‘Tentang Humor Jomlo’, karena memang yang benar begitu. Tapi entah kenapa saya masih lebih enjoy menggunakan huruf B itu sebagai bagian dari kata-kata mutiara duniawi: JOMBLO. Dan kenapa harus soal ini? Tentu saja karena beberapa karya saya sangat berkorelasi dengan status manusia yang tidak manusiawi ini. Sebut saja cerpen saya ‘Jangan Main Api’ di buku ‘Kebelet Kawin, Mak!’ itu berkisah tentang Lodi, si jomblo galau. Geser ke ‘Radio Galau FM Fans Stories’, ada Ranu yang juga jomblo. Kalau di ‘Curhat LDR’ saya tulis ketika jomblo, sebagai evaluasi atas LDR yang gagal dan sudah menghabiskan ongkos belasan juta. Dan di buku ‘Galau: Unrequited Love’, saya menulis soal keberadaan comblang yang diperlukan oleh para jomblo.

Selengkapnya!

77 Fakta Unik Mahasiswa Universitas Sanata Dharma!

77 Fakta Unik Mahasiswa Universitas Sanata Dharma!

1. Mahasiswa USD selalu heran dengan ospek kampus lain, apalagi yang sampai bikin mati segala.

2. Mahasiswa USD jarang demo.

3. Kebanyakan Mahasiswa USD sektor Paingan dan Mrican nggak kenal sama Mahasiswa USD sektor Kota Baru dan Kentungan.

4. 99,9% Mahasiswa USD sektor Paingan pernah makan Soto Simbok.

5. Atau Pak Kromo.

6. Atau Carano.

7. Plat motor Mahasiswa USD penuh dengan bekas tempelan kertas parkir.

8. Mahasiswa USD doyan mainan lift.

9. Mahasiswa USD nggak pernah kuliah di auditorium. *LHA BELUM JADI E, DAB!*

10. 99,9% Mahasiswa USD sektor Mrican pernah nongkrong di sepanjang jalan Mozes.

11. Mahasiswa USD pernah nebeng tidur siang di kos temen.

12. Atau kosnya ditebengin temen buat tidur siang.

13. Mahasiswa USD selalu memenuhi fotokopian pada H-1 dan hari H ujian.

14. Mahasiswa USD akan meninggalkan sebuah dokumen master di fotokopian.

15. Mahasiswa USD sektor Paingan yang gaul pasti pernah diceburin di kolam Paingan. Nggak mesti pada saat ulang tahun, bahkan kadang tidak perlu alasan untuk melakukan itu.

16. Mahasiswa USD sektor Paingan yang kurang gaul nggak diceburin, karena ulang tahunnya aja pada nggak ngerti.

17. Mahasiswa USD gaulnya maksimal kalau pernah Facebook-an di Workstation.

18. Atau kalau diusir dari Workstation karena sudah jam setengah 9 malam.

19. Atau kalau baru keluar perpus sesudah mendengar bunyi lonceng.

20. Mahasiswa USD yang tampil kece untuk kuliah pagi hanya berlaku untuk PBI, khusus SPD. Sisanya? Lihat saja sendiri.

21. Mahasiswa USD jarang sarapan saat kuliah pagi.

22. Lha bisa bangun aja syukur, je.

23. Mahasiswa USD pernah lihat periuk buat masak lem di parkiran motor.

24. Mahasiswa USD sektor Paingan selalu merasa mengalami cobaan hidup kalau disuruh kuliah di K.418

25. Mahasiswa USD dinyatakan kece kalau sudah pernah parkir motor di lapangan basket.

26. Mahasiswa USD yang Katolik pernah misa di kapel kampus.

27. Mahasiswa USD bakal sengit sama anak IP cum laude yang ngakunya nggak bisa ngerjain ujian.

28. Atau anak IP cum laude yang pura-pura bodoh.

29. Atau anak IP cum laude yang pelit.

30. 99,9% Mahasiswa USD sektor Mrican pernah makan di Dab Supri.

31. Atau Texas.

32. Mahasiswa USD terlatih untuk mengendarai motor via jalan sempit banget kalau mau makan di Texas.

33. Mahasiswa USD sektor Paingan dinyatakan gaul kalau sudah pernah mengendarai motor menerjang tangga parkiran gegara lupa memindahkan motor dan pintu parkirannya sudah tutup. *Oom Alfa did it, twice!*

34. Mahasiswa USD bisa menghitung masa subur sendiri/pacarnya, karena dikasih ilmunya di Weekend Moral.

35. Mahasiswa USD pernah lihat video aborsi, juga karena dikasih lihat di Weekend Moral.

36. Mahasiswa USD bisa menghitung sendiri jatah bolos dalam ketentuan 75% kehadiran.

37. Mahasiswa USD masuk kategori keren kalau udah bisa bersenda gurau dengan staf sekretariat.

38. Sebagian besar mahasiswa USD malas ngurus beasiswa.

39. Mahasiswa USD non Jawa pernah ketipu jebakan betmen untuk bilang, “Kulo segawon” (aku anjing-red).

40. Atau “Sampeyan segawon” (kamu anjing-red)

41. Mahasiswa USD dari manapun asalnya, pada tingkat akhir sudah bisa misuh.

42. Mahasiswa USD yang rajin belajar baru akan mengenakan jas almamaternya lagi ketika KKN.

43. Jas almamater Mahasiswa USD yang aktivis sering dipakai, tapi jarang dicuci.

44. Mahasiswa USD sektor Kentungan nggak boleh digebet atau menggebet lawan jenis.

45. Selalu ada Mahasiswa USD yang harga kosnya 1,5 juta sebulan, dan selalu ada juga yang harga kosnya 1,5 juta setahun.

46. Mahasiswa USD pernah kedinginan di Wonogondang.

47. Atau Sinolewah.

48. Atau Pentingsari.

49. Mahasiswa USD memasuki level expert naik motor kalau sudah pernah ngambil nasi dan lauk pauk di Pentingsari.

50. Foto KTM USD biasanya polos bin kucel.

51. Mahasiswa USD dinyatakan jadul gaul kalau pernah nongkrong di Halte Mrican.

52. 99,9% Mahasiswa USD pernah ditanya “UGM ya?” ketika bilang kalau kuliah di Jogja.

53. Mahasiswa USD bakal bilang “Huuuu…” kalau ada wisudawan yang ditepukin sama PSM.

54. Selain PSM Cantus Firmus, ada juga PSM Sampingus Capelus besutan Mahasiswa USD.

55. Setidaknya 2 pasangan Mahasiswa USD/kelompok mengalami cinta lokasi saat Insadha. Jadi dalam 1 kali Insadha, setidaknya ada 100 orang yang melepas masa jomblo.

56. Mahasiswa USD sektor Paingan pernah duduk gaul di hall belakang Gedung Pusat Paingan.

57. Atau duduk-duduk galau.

58. Atau di depan lab komputer.

59. Mahasiswa USD kalau rapat lesehan.

BEM2070

60. Mahasiswa USD cowok biasanya hanya dua kali pakai baju putih celana hitam, Insadha dan Wisuda.

61. Mahasiswa USD dibilang keren kalau sudah pernah jualan koran di gereja.

62. Atau jaga parkir.

63. Atau ngamen.

64. Mahasiswa USD pernah foto alay dengan jas almamater dan call card panitia.

65. Atau foto seangkatan di depan/belakang gedung pusat.

BEMF

66. Mahasiswa USD sering makan donat karena dipaksa beli sama bagian Dana dan Usaha.

67. Mahasiswa USD itu nggak ngoyo.

68. Mahasiswa USD dikatakan gaul kalau pernah titip salam di Masdha.

69. Mahasiswa USD pecinta gratisan kalau sakit akan periksa di poliklinik.

70. Mahasiswa USD sektor Paingan pernah mampir di Star Otopia.

71. Mahasiswa USD suka menghilang kalau sudah semester tua.

72. Mahasiswa USD yang berpenghasilan, biasanya lulusnya agak delay.

73. Mahasiswa USD kalau mau makan siang bareng sukanya bilang, “Terserah!”

74. Atau, “Manut!”

75. Mahasiswa USD suka makan di resto PKL kalau tanggal muda.

76. Dan angkringan kalau tanggal tua.

77. Mahasiswa USD lebih hafal jingle Insadha-nya masing-masing daripada Hymne.

Well, guys, ada yang kurang? Atau merasa ada dari 77 fakta di atas ternyata bukan fakta? Yuk, dikomen ya 😀

Jobless Escape: Cisantana

Sesudah mengambil keputusan penting untuk resign dari pekerjaan yang saya tekuni selama 4 tahun 10 bulan, saya tentu saja menjadi jobless. Dalam terminologi yang lebih kejam, bisa disebut sebagai pengangguran. Nggak apa-apa deh, minggir sejenak demi kebaikan bersama. Lagipula, setidaknya untuk 1 bulan ke depan, tabungan masih cukup untuk sekadar makan indomie goreng.

IMG_4373

Dan persis sehari sebelum hari terakhir di kantor, saya dapat ajakan untuk makan cwi mie secara gratisan oleh Mas Didit, lulusan IT yang jadi juragan bahan kimia. Yah, namanya mau jobless saya sangat peka pada sesuatu yang bernama gratisan. Maka, berangkatlah saya ke tempat Oma untuk makan cwi mie.

Ngobrol-ngobrol lama, cwi mie-pun menjelang tutup. Eh, begitu saya, Bayu, Agung, Mas Didit, dan Mbak Metta keluar, tetiba ada Pak Paulus di luar. Obrolan santai kemudian berlanjut. Yup, manusia-manusia ini adalah orang-orang yang saya kenal karena sama-sama tergabung di bagian Pelayanan PITC. Sepelenya, orang-orang yang dipilih untuk melayani.

IMG_4435

Nah, sambil makan bakso, Pak Paulus lalu bilang, “Gue mau ke atas besok. Mau ikut nggak?”

Saya masih bingung. Tapi lantas Mas Didit menimpali, “Ke Cisantana? Ayo aja! Melu ora?

IMG_4433

Sebagai orang yang keesokan harinya akan jobless dan pasti bingung hendak melakukan apa, saya segera mengiyakan ajakan ini. Lagipula, saya sudah cukup lama nggak menginap di tempat peziarahan yang sesuai agama yang saya anut. Terakhir kali itu sekitar tahun 2008, bersama pacar, yang sekarang sudah menjelma menjadi mantan. Memang kemudian saya masih menyempatkan diri mampir ke Sri Ningsih, Ganjuran, Jati Ningsih, hingga Sendang Sono, tapi semuanya tidak menginap. Bayangan seru dinginnya Cisantana langsung memenuhi akal pikiran saya, hingga kemudian memutuskan ikut. Sudah kebayang juga membawa Eos karena sebelumnya dia baru sempat mengambil gambar di Sendang Sono.

IMG_1805

Dan Sri Ningsih.

IMG_3255

Serta Lembah Karmel.

IMG_4311

Perjalanan dimulai jam 11 malam karena saya belibet masukin si BG ke kamar, berhubung mau ditinggal beberapa hari. Eh, ternyata ada peserta tambahan selain EO Pak Paulus, Mas Didit, dan Mbak Metta. Pak Tri ternyata berhasil dirayu untuk ikutan juga. Kadang-kadang saya iri sama mereka-mereka yang kerjanya swasta begini, sehingga bebas soal waktu. Inipun kalau saya tidak jobless nggak bakal ikutan juga.

Profil perjalanannya kira-kira seperti ini:

Untitled

Selengkapnya

Turis Sehari di Bukittinggi

Jadi turis itu sebenarnya nggak susah. Bahkan di tanah kelahiran sendiri juga bisa jadi turis. Itu yang saya lakukan beberapa waktu silam, ketika mudik dalam rangka mengurus ini dan itu perihal masa depan. Ah, tenang saja, bukan soal kawin kok.

Namanya Bukittinggi, semuanya bisa berlangsung dengan mudah. Untuk sebuah surat yang di RSUD Kota Bekasi saya harus tunggu sana dan sini, di Bukittinggi semuanya lancar seperti jalan tol jam 3 pagi. Dengan kenyataan itu plus kebetulan memang jadwal orangtua saya mengajar penuh, ya sudah, saya dilepas sendirian untuk mengurus pembaharuan SIM C dan ganti kartu NPWP. Dan namanya Bukittinggi, semuanya bisa jadi dengan cepat. Saya lalu beranjak pada tujuan terakhir, Hotel Rocky, untuk city check in penerbangan saya kembali ke realita keesokan harinya.

Jam setengah 11, urusan sudah kelar. Enaknya kemana, nih?

Enaknya apa dong?

Beberapa Cara Mendapatkan Jodoh

Ada lagu yang bilang bahwa jodoh itu pasti bertemu. Pepatah lama juga bilang kalau namanya jodoh pasti nggak akan kemana. Nah, waspadalah di dunia yang sudah terbalik-balik seperti sekarang ini, kedua kalimat di atas juga bisa kebalik. Jadi Afgan akan nyanyi “jodoh pasti kemana”, dan pepatah anti mainstream akan bilang bahwa “kalau namanya jodoh pasti nggak akan bertemu”.

keep-calm-because-jodoh-pasti-bertemu

Well, jodoh adalah perkara besar. Misterinya sama dengan kelahiran dan kematian. Seperti juga pernah saya tulis bahwa orang yang suka bertanya “kapan kawin?” akan setimpal jika ditanyai “kapan mati?”. Kira-kira demikian. Nah, posting sotoy ini akan mengulas beberapa cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan jodoh.

Oya, satu hal yang pasti, saya selalu percaya bahwa jodoh itu akan ketemu kalau dicari. Kalau hanya diam di kamar sambil merapalkan doa jodoh, yang datang biasanya bukan jodoh, tapi cicik kos menagih bayaran kos. Jadi, apa saya yang bisa dilakukan untuk mendapatkan jodoh?

Apa dong?

Braga, I’m In Love

Iya, ini nyontek judul salah satu novel teenlit pertama yang pernah saya beli. Nggak apa-apa, Braga kan bukan Eiffel dan Eiffel juga bukan Braga. Lagipula kan nggak ada Eiffel Culinary Night karena adanya Braga Culinary Night.

BCN1

Perihal nama Braga, saya justru teringat ketika saya masih hobi mendengarkan pertandingan sepakbola. Tenang, itu bukan typo. Saya benar-benar mendengarkan pertandingan sepakbola melalui Radio Republik Indonesia. Dan karena saya menghabiskan masa muda menjelang dewasa, maka pertandingan yang saya dengarkan adalah PSIM dan PSS. Kalau di RRI itu, pertandingan biasa aja bisa jadi seru banget.

“Yak, bola ditendang, melewati garis tengah… Berbahayaaaaa.. Dannnn… Mereka jadian saudara-saudara…”

Begitu kira-kira.

Selanjutnya!

Kenyataan Hidup Cowok Ketika Cewek PMS

“Kamu harus tahu, PMS itu nggak enak!”

Begitu kata seorang gadis manis kepada saya, beberapa hari yang lalu. Eh, ini nulis posting juga sambil ber-WA ria sama dia sambil berdoa kata-kata saya di WA tidak memancing kondisi tertentu di saat keadaan senggol bacok. Iya, cewek PMS itu ibarat kata senggol bacok gitu. Salah bertindak, ya kena bacok. Jangan harap kena cium.

Jadi apa itu PMS? Ini saya nulis sebagai seorang apoteker dengan sertifikat kompetensi expired ya. Boleh dipercaya, boleh juga tidak. Bagaimanapun seorang apoteker harus paham soal PMS karena termasuk dalam kuliah farmakoterapi, kalau nggak paham ya nggak lulus. PMS adalah singkatan dari Pre-Menstrual Syndrome berupa serangkaian gejala emosional–kadang disertai gejala fisik–yang terkait dengan siklus menstruasi seorang cewek. Ingat, siklus menstruasi. Jadi kalau ada wanita hamil ngeluh PMS, itu sudah pasti dusta, bro! Oya, bahkan mekanisme mendetailnyapun belum diketahui secara pasti. Ini beda banget dengan semisal anak-anak farmasi bisa menjelaskan bagaimana asam mefenamat bisa menghilangkan nyeri. Jadi, sudah jelas kalau misterius. Hih!

Eh, menstruasi itu apa lagi?

Seperti kita ketahui, kaum hawa dapat jatah sekian sel telur yang akan nongol satu-satu setiap bulannya. Kalau sel telur itu nggak dibuahi alias nggak ketemu sperma, dia akan meluruh dengan sendirinya. Nah, proses meluruhnya sel telur yang sudah matang ini yang disebut menstruasi. Jadi, logis banget kalau gadis manis tadi bilang ke saya bahwa PMS itu nggak enak, soalnya memang ada sesuatu yang bakal keluar dari dalam tubuh. Yah, saya bicara teoritis, sih. Maklum, jomblo-jomblo begini saya masih cowok, jadi nggak paham rasanya menstruasi. Yang saya ingat dari masa kecil, jika pengasuh saya pulang dari warung dengan gembolan agak besar yang dia samarkan sebagai “roti”–kemudian saya tahu kalau itu pembalut–maka hampir bisa dipastikan mood si pengasuh bakal nggak enak sepanjang waktu.

*kemudian nangis mewek manggil Mama*

*eh, lagi PMS juga*

*combo!*

Oke. Saya bisa pastikan bahwa 99% cowok berpasangan di dunia ini pasti paham bahwa masa PMS pasangannya adalah masa-masa krusial. Maka, bersyukurlah kaum jomblo kayak saya ini yang tidak harus berhadapan dengan masalah yang datang sebulan sekali ini. Well, berikut coba saya kumpulkan beberapa kenyataan hidup yang harus dihadapi cowok, ketika ceweknya PMS. Coba dicek, perspektif jomblo ini bener apa nggak.

Selengkapnya!

Pengalaman Pertama Bersama Batik Air

NAIKNYA KAPAN, DITULISNYA KAPAN.

Ya, namanya juga penulis nggerus. Saya akan lebih mementingkan nggerus daripada nulis tentang perjalanan. Jadi ketika sekarang sempat, yuk, ditulis! Berhubung kemaren saya berhasil mengompori mbak-mbak ini untuk memposting cerita yang throwback, jadi sekarang bikin sendiri. Ini masih untung saya nggak nulis cerita throwback dengan maskapai berikut:

1387810544372_Edit

Alkisah bulan Desember silam saya dapat titah dari bos di rumah untuk menerima raport adek yang dulu kecilnya saya cebokin. Bukan hal mudah, soalnya terima raportnya di Jogja. Wali kelas AKAP. Saya ternyata sebelas dua belas sama Rosalia Indah. Saya sendiri mengiyakan, tapi nggak beli tiket. Biasanya ke Jogja itu cukup 2-3 hari sebelumnya saja ke agen Kramat Djati atau Lorena. Sampai kemudian saya sadar bahwa di hari Jumat saya harus memimpin closing meeting karena kapasitas saya sebagai koordinator tim internal audit. Artinya? Nggak bisa izin pulang cepat untuk naik bis.

Dan saya juga lupa, kalau tanggal itu adalah awal mula liburan panjang menjelang natal. Mana arah saya ke Jogja, pula. Walhasil, begitu sadar, seluruh moda transportasi penuh. Kecuali satu: Batik Air, Business Class. Dengan kondisi mau tidak mau, ya sudahlah, beli! Ini memang bukan tarif perjalanan termahal saya. Paling mahal tetap Garuda Business Class Jakarta-Medan, 2 jutaan, bonus sekabin dengan Ivan Gunawan dan Eko Patrio. Masalahnya adalah uang segitu ditanggung PMPK UGM. Kali ini saya harus menanggung 1,6 juta untuk sebuah perjalanan yang biasanya cuma habis 165 ribu. Untunglah ada THR! Kalau tidak, mungkin harga itu harus dibayar dengan ngelap dinding pesawat selagi terbang.

Nah, jadi gimana perjalanan saya bersama Batik Air? Ini dia.

Flight saya adalah 05.50, dan saya sudah tiba di bandara sekitar jam 4. Kisah kehadiran saya di bandara ini juga ada sendiri, setengah memalukan pula. Jadi disimpan saja. Ketika saya check in sebagai penumpang kelas bisnis, petugas counter langsung memanggil seorang petugas dengan posisi “ambassador”. Ah, ini dia enaknya kelas bisnis! Satu hal yang saya sayangkan, ambassadornya lelaki, padahal saya juga lelaki. #IFYOUKNOWWHATIMEAN

Ambassador ini kemudian mengantar saya ke atas. Sebagai pecinta penerbangan murah, saya sih nggak usah ditemani kalau main-main di T3 sini, sudah beberapa kali juga terbang dari tempat penuh cahaya ini. Tapi ya sudahlah, namanya juga fasilitas. Mas-mas ambassador membawa saya ke lounge di pojokan lantai 2 T3. OKE! SIKAT SEMUA MAKANAN YANG ADA! #NGGAKMAURUGI. Plus, dia juga mengurus boarding pass saya. Dan karena saya pelit, jadi nggak ada tips. Sekian dan silakan beli buku saya, Oom Alfa.

Sesudah menghabisi aneka makanan yang ada di lounge dan gagal mendapatkan plastik untuk membungkus nasi gorengnya, saya bergegas ke ruang tunggu. Dan tidak lama kemudian segera masuk ke pesawat. Kebetulan, saya punya teman blogger yang bekerja di maskapai ini, dan sebuah postingnya langsung membuat saya segera mencari kostum pramugari bermodel seperti apa. Sekadar untuk membenarkan sebuah posting yang pernah dia tulis.

Saya duduk di 1F. Ini pertama kali duduk di pesawat tanpa kursi di depan mata. Begitu saya duduk itu, penumpang-penumpang kelas ekonomi melihat saya dengan tatap tidak percaya, setenganya mencubit diri sendiri, separuhnya menampar-nampar pipi sendiri, seolah berkata, “mana mungkin ada gembel duduk di kursi bisnis?”

Suguhan pertama sebagai penumpang kelas bisnis adalah minuman mungil. Gelasnya bagus, pula. Dan tentu saja lap tangan hangat yang disajikan bersama senyuman hangat. Jadi ingat betapa ndeso-nya saya di penerbangan Jakarta-Medan yang mengira bau setengah hangus itu adalah pertanda petaka, eh…ternyata hanya aroma handuk panas.

Kayaknya sih apel..
Kayaknya sih apel..

Duduk di depan sini ternyata lega banget! Maklum, 70-an penerbangan saya lainnya memang menggunakan kelas ekonomi, sesuai muka.

Begitu pesawat mengangkasa diiringi bunyi sangkakala, saya segera mencoba servis lainnya. Mulai dari layar sentuh, sampai makanan sepanjang jalan. Dasar nasib, layar sentuh saya kayaknya agak rusak, jadi saya tidak bisa buka film, atau apapun. Sementara bapak-bapak di sebelah saya ketawa ketiwi melihat layar sentuhnya. Atau, apakah di layar sentuh itu ada blog ariesadhar.com sampai di ketawa begitu? Semoga.

Soal makanan juga juara. Kece badai, pokoknya. Dan tentu saja nggak semua bisa dihabiskan, apalagi perut saya masih penuh sesudah menjarah isi lounge tadi.

Full service...
Full service…

Satu hal yang agak disayangkan lagi adalah perjalanan ini penuh cuaca buruk. Jadi saya nggak bisa mengoptimalkan si Eos. Belum lagi, untuk pertama kalinya telinga saya bermasalah, suatu hal yang hanya terjadi pada penerbangan Batavia Padang-Jakarta, 2004. Mungkin karena efek duduk di depan ya? Atau karena saya ingat harga tiketnya yang akan menyebabkan saya bakal makan mie instan sewindu ke depan?

Untunglah begitu sampai Jogja, saya masih diberikan kesempatan memotret kota Jogja. Saya kan sering mabur ke Jogja dulu pas LDR, jadi paham bahwa akan ada view cakep di sisi kanan. Jepret, deh!

Mandala Krida
Mandala Krida

Saya lalu mendarat dengan tampan di bandara Adisucipto sekitar jam 7. Penerbangan yang singkat, tapi sukses bikin saya budeg sepanjang jalan. Tapi kalau soal servis yang diterima, bagi saya cukup sepadan dengan harga yang dibayar. Ya, meskipun kalau buat saya, naik kelas bisnis lebih direkomendasikan pada penerbangan yang lebih jauh dari sekadar Jakarta ke Jogja atau Palembang.

Nah, saya boleh kasih masukan sedikit ke Batik Air nggak ya?

Kalau boleh, saya mau kasih masukan soal lounge. Ini mending saya terbang pagi, jadi isu antre ruang tunggu nggak terlalu mengemuka. Soalnya, ini agak beda dengan pengalaman saya sebelumnya ketika lounge ada di dalam ruang tunggu. Jadi, ya santai-santai kayak di pantai sampai ada panggilan boarding. Lah kalau di T3, harus antre lagi. Saya pengen memanfaatkan keunggulan kelas bisnis saya, tapi nggak tahu harus lewat mana. Jadi ya sudah ngantre saja. Jadi, saran aja, kalau memang hendak mengoptimalkan lounge opsinya dua. Satu, pasang lounge di dalam ruang tunggu. Dua, pasang ambassador menunggu di dalam lounge.

Sama satu lagi sih, kalau bisa layar sentuhnya yang bagus dong, kayak punya kursi sebelah. Kan saya iri hati, gitu. Sisanya, boleh deh dipertahankan.

Posting ini sama sekali tidak berbayar, hanya semata-mata nggak pengen THR saya musnah tanpa ada sisa cerita untuk dikisahkan saja, kok. Cuma kalau ada yang pengen dibikinin posting berbayar, ya boleh aja, sih. HAHAHAHAHA. Oya, sebagai penutup, saya hendak menginformasikan bahwa untuk kompensasi kantong, saya kembali ke Cikarang dengan naik…

…Pahala Kencana. #okesip

[Review] Comic 8

TELAT!

Film ini sudah tayang berhari-hari dan saya baru ngetik review? Lah piye, saya juga barusan kelar nonton. Sesudah bertualang dari shuttle ke shuttle–bonus angkot–akhirnya bisa menjamah bioskop lain. Rasanya baru kali ini saya nonton di tanah kekuasaan Ratu Atut. Begitulah, orang sibuk, jadi baru sempat nonton. Selama ini saya sibuk mencari orang yang mau diajakin nonton Comic 8. Gitu, sih.

comic-8-140122c

Sudah cukup banyak review tentang Comic 8. Bahkan agaknya ini adalah film dengan review terbanyak, dan sebagian penulis yang juga blogger juga melakukan tinjauan untuk film ini. Tentu saja, diantara si Comic 8 itu saja, setidaknya ada Kemal dan Ernest yang penulis buku. Pandji-pun juga. Jadi, mungkin akan sia-sia jika saya mereview soal tokoh dan jalur cerita.

LANJUT 😀

Nulis Komedi, Yuk!

Beberapa hari yang lalu, saya dapat informasi bahwa sebuah naskah komedi saya diterima di sebuah antologi. Well, dengan demikian saya segera menyongsong antologi mayor ke-4, sesudah “Kebelet Kawin, Mak!”, “Radio Galau FM Fans Stories”, dan “Curhat LDR”. Sebuah pencapaian yang sebenarnya terlambat jika menilik ke usia saya yang sudah kepala lima ini. Sebentar lagi sudah punya cucu.

*itu dusta*

*pacar aja belum ada*

Dari 3 antologi yang sudah ada, 2 diantaranya bergenre komedi. Pada akhirnya saya berpikir, mungkin rejeki saya memang di genre ini. Soalnya kalau mau dirunut-runut dari awal saya menulis (kembali), sama sekali nggak ada niatan untuk menyentuh tulisan komedi. Silakan klik posting-posting saya di awal mula kebangkitan blog ini, di 2011, nggak ada yang lucu, atau bahkan sekadar niat ngelucu. Pun dengan antologi-antologi indie yang saya ikuti di tahun 2011 hingga awal 2012, juga tidak ada yang beraroma komedi.

LANJUT!