Cerita Suami: Mendampingi Istri Melahirkan (1)

Gile, blog saya ini semakin abal-abal saja. Posting per bulannya tinggal sisa satu. Itu juga iklan. Yah, memang akhir-akhir ini saya terlalu bergelut dengan UCNews demi dolarnya meski kemudian ternyata mencari dolar tidaklah semudah itu karena masih lebih mudah RDK. Selain itu, saya juga sibuk satu hal: mendampingi istri melahirkan.

Yup, saya sudah jadi bapak sekarang ini. Nah, perkara saya jadi bapaknya siapa, itu nanti kapan-kapan saya jelaskan. Saya justru hendak sharing sedikit mengenai proses panjang kelahiran anak saya ke dunia persilatan ini.

Sejak 7 bulan, saya dan istri memang sudah membuat ketetapan untuk melahirkan di Bandung. Pertimbangan utama adalah karena saya kerjanya kayak Bang Toyib. Ada suatu waktu saat 2 minggu sekali saya minggat dari rumah selama 3-7 hari. Hal itu tidak baik kalau tiba-tiba istri saya memperlihatkan tanda-tanda hendak melahirkan.

Selain itu, faktor eyangnya si bocah di Bandung tentu akan membantu selama proses persalinan yang tidak mudah tersebut. Ketiga, jelas faktor biaya. Kami memang tidak ditanggung siapa-siapa. Alasan utama adalah karena sebagai pegawe ngeri jaminan kesehatan saya adalah BPJS dan saya kok nggak tega istri saya lahiran pakai BPJS. Bukan apa-apa, istri saya kerja di RS dan untuk hal-hal tertentu BPJS belum terlalu nyaman bagi pasien. Dari kantor istri juga belum bisa karena belum memenuhi durasi kerja di RS tersebut untuk bisa ditanggung. Seandainya kehamilan bisa ditambah 3 bulan lagi, kelahiran anak saya bisa gratis ditanggung kantor istri. Ya kali hamil 12 bulan, broh. Nah, karena faktor finansial ini kami survei-survei dan untuk melahirkan di RS semacam Hermina dan Pondok Indah kok ya tidak terjangkau. Jadi ya sudah, hitung-hitung ketetapannya adalah lahiran di Bandung.

Namanya di Bandung, tidak berarti kami pilih-pilih dulu, entah Santo Yusuf, Santosa, Limijati, Cibabat, atau Borromeus. Pilihannya langsung Borromeus dengan segala kelemahan dan keunggulannya. Alasan ke Borromeus, ada beberapa juga.

Pertama, istri saya lahir di Borromeus. Ada hubungannya? Nggak. Tapi jadi alasan aja, sih. Kan seru kalau ibu sama anaknya satu tempat lahir? Nggak seru? Ah, masak?

Kedua, istri saya pernah operasi di Borromeus. Yes, beberapa hari pasca melahirkan istri saya mengunggah status ke Facebook perihal kondisinya yang hidup dengan satu ovarium. Satunya kemana? Diangkat di Borromeus pada usianya yang ke-17. Entah pengaruh atau tidak, tapi riwayat yang disimpan selama 11 tahun itu menurut saya dan istri memberikan kenyamanan tersendiri di hati bahwa rumah sakit ini pasti menyimpan data-data istri yang dulu itu. Siapa tahu ada pengaruh dengan proses kelahiran atau tidak.

Ketiga, RS Borromeus adalah RS Katolik. Sebagai anak yang besar di Jogja dan wira-wiri Panti Rapih, lalu kemudian pindah ke Palembang dan wira-wiri Caritas, maka RS Katolik selalu ada di hati saya. Meski memang mahal, tapi ada ketenangan tersendiri yang ditawarkan. Setidak-tidaknya bakal ada jaminan komuni setiap harinya.

Keempat, dekat toko bayi. RS Borromeus itu hanya beda 1 gang dengan Toko Lavie yang kesohor sebagai toko pernak pernik bayi paling lengkap se-Bandung Raya. Ehm, sungguh tiada penting bukan?

Sesudah ditetapkan, mulailah tahap pencarian informasi. Sempat beredar gambar soal harga paket persalinan di Borro–begitulah biasa RS ini disebut, namun kemudian begitu dikonfirmasi ternyata sudah tidak ada paketan lagi. Yang ada adalah estimasi dan lucunya itu juga hobi berubah.

Jadi ceritanya per Maret saya tanya estimasi tarif dan sudah dapat angkanya untuk kemudian saya informasi kepada Teteh Hayati, teman kantor yang pada akhirnya juga lahiran di Borro. Eh, jelang Teteh lahiran saya malah dikasih tahu bahwa harga turun! Ya, nggak cuma bensin yang turun harga, persalinan juga. Ini pelajaran baik bagi Feni Rose untuk sekali-kali menurunkan harga rumah besok senin!

Di Borro ada kebijakan harga yang berbeda antara dokter RS dan dokter mitra. Dokter RS hanya ada dua yakni dr. Anna dan dr. Elise. Sedangkan dokter kesohor di Borro seperti dr. Maximus dan dr. Adrian itu dokter mitra. Dari estimasi diperoleh fakta bahwa dokter RS lebih murah, maka pilihan mengerucut ke dua nama yang ndilalah kok sama-sama wanita itu.

Jadi bukan saya yang memilih dokter wanita karena posesif onderdil istri diapa-apain sama pria lain. Waktu operasi di Borro di usia 17 tahun dokternya juga cowok dan waktu itu saya belum kenal dengan istri saya. Dokter di Jakarta juga cowok. Pemilihan dokter wanita semata-mata karena memangnya ada itu. Di Borro sendiri juga ada dr. Amilia yang merupakan dokter wanita sekaligus dokter mitra.

Istri saya adalah orang kesehatan yang concern banget dengan kontrol dan karena kami masih kerja di Jakarta sudah pasti hanya bisa kontrol di hari Sabtu kalau memang mau ke Borro. Padahal menurut saya kontrol rutin tetap di Jakarta, nanti di ujung baru ke Borro, sebagaimana yang diperbuat oleh Teteh Hayati yang hanya kontrol sekali terus minggu depannya operasi.

Apa daya, kenyamanan istri adalah yang utama. Saya tentu kudu mengalah. Nah, dengan demikian kami kudu cek jadwal dokter yang memang praktek di hari Sabtu. Voila, hanya dr. Elise yang buka layanan di hari Sabtu, dr. Anna tidak. Jadilah pilihan jatuh ke dr. Elise.

Tenang, testimoni sudah beredar kiri kanan perihal kedua dokter ini dan keduanya menenangkan. Keduanya, dan Borro secara umum, dikenal soal pro normal dan bla-bla-bla lain yang dikhawatirkan orangtua newbie khas milenial.

Tibalah saatnya!

Ya, saatnya menantikan postingan berikutnya! HAHAHAHA. Yang sabar, yha.

Advertisements

One thought on “Cerita Suami: Mendampingi Istri Melahirkan (1)

  1. Pingback: #JadiBisa Asyik Pesan Tiket Kereta Api Bersama Traveloka | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s