Sebuah Jalan Tanpa Arah

Aku Repa, sebuah jalan tanpa arah.

Aku baru saja keluar dari sebuah rumah, tempat dimana aku cukup lama tinggal. Ya, sebenarnya waktu itu niatnya mau mampir, tapi ketiduran, jadi mampirnya agak lama. Nggak apa-apa. Ini mohon dimaklumi. Aku sebenarnya hendak menuju ke Hera di sebelah sana. Tapi selalu tampak sedang sibuk atau tidak mau diganggu. Aku belum sempat kontak dia sebenarnya, apakah dia mau ditemui atau tidak. Karena hanya tampak saja, jadi ya aku mampir dulu. Minum-minum lalu mabuk.

Ketika sudah sadar, aku bangun dan sesekali melihat ke luar jendela. Aku agak pusing, jadi belum berani keluar rumah. Kebanyakan minum tuak soalnya. Di jendela, aku masih menemukan hati yang di sebelah sana itu. Masih sibuk juga dia. Jadi biarlah aku tinggal dulu sebentar.

Hmmm.. Tapi lama-lama waktu mendesakku untuk menuju ke Hera yang ada disana. Ya sudah, aku keluar dari rumah, lalu beranjak. Karena aku nggak bayar, jadi aku nggak boleh menginap lagi di rumah itu. Nggak apa-apalah, aku sudah sadar ini.

Bukan hal yang mudah ternyata. Hera masih sendiri dengan rumah terbuka. Tapi di papan yang nangkring di depan tempat tinggalnya tertulis “sedang menunggu”. Wah, payah juga ini. Ini menunggu siapa, dan kapan aku bisa masuk menemui Hera. Mau nunggu sampai kapan aku disini? Padahal aku sudah nggak nginap di rumah itu lagi loh.

Baiklah, aku tunggu deh. Kalau memang kelamaan, aku duluin saja. Kelamaan menunggu itu nggak baik, tapi tanpa menunggu itu juga sama tidak baiknya.

Dan ini hari ke dua ribu aku menanti, dalam panas dan hujan, dalam siang dan malam. Berharap papan “sedang menunggu” itu bisa dilepas.

Baiklah, aku akan terus menanti.

Menemukan Pada Kehilangan

Sebuah email masuk di pushmail saya (sok-sokan ceritanya):

Hi,
All advertisements and affiliate links currently active on your site need to be removed, please. These are not permitted at WordPress.com, as per our advertising policy

Ini datang dari Anthony atas nama WordPress. Segera saya nyalakan laptop, buka alamat blog ini, dan..

https://ariesadhar.wordpress.com sudah terbuka kembali. Ditandai dengan dua bola mata yang masih menatap dengan penuh misteri.

Ahhhhh.. Akhirnya….. Blog ini aktif lagi…

Baru sadar ternyata Bu Yuli memantau blog saya juga. Sampai nge-wall kok ga bisa dibuka.. hehehehe..

Pelajarannya? Ini bukan sekadar You Don’t Know What You Have Until You Loose It, tapi lebih lagi. Apa sih makna kehilangan? Kehilangan blog ini berarti banyak. Ketika saya cerita ke beberapa teman muncul komentar-komentar macam, “sayang loh, kan udah banyak…” atau “pasti karena pasal terlalu galau” dan lainnya. Kehilangan blog terasa lebih menyedihkan. Hasil permenungan saya, karena blog ini adalah karya saya sendiri, dan sudah banyak, tanpa back up pula. Mau dibawa kemana kisah-kisah penggalauan ini kalau blog ini hilang? Saya langsung bikin di blogspot sih, tapi mendadak mood menulis hilang total. Saya masih merasa kehilangan.

Dan email barusan sungguh menjadi makna menemukan. Baiklah, semua link soal bisnis saya non aktifkan. Mungkin ada cara lain cari referral. Yang penting sepasang mata itu masih bisa memandang penuh misteri di kepala blog ini.

Welcome Back!

😀

 

Membeli Liberty Reserve

Liberty Reserve?

Apaan tuh? Semacam patung Liberty?

Nggak kali.. Liberty Reserve adalah salah satu bentuk uang versi dunia maya. Jadi begini, dalam hal mau main-main di Forex misalnya, ataupun hendak investasi di HYIP luar negeri, kita agak susah kalau mau transfer via bank lokal. Salah satu cara yang paling enak adalah memasukkan uang kita ke Forex atau investasi via LR ini.

Nah, LR ini bisa dicek di google. Cara masuknya agak rempong. Sumpah! Tapi wajar karena ini untuk menjamin bahwa entry dilakukan sepenuhnya oleh manusia dan orang yang sama.

Karena, bahkan IP beda saja, dideteksi lain oleh LR. Padahal modemnya bisa jadi sama, tapi kan IP bisa berubah-ubah.

Saya sarankan kalau mau buka LR ini, pakai email tersendiri. Atau, buat file dengan proteksi, simpan data-data LR disana. Karena kalau mau sign in, repot bukan main, dengan data-data dan variasi karakter yang berbeda-beda.

Pertanyaannya, bagaimana caranya kita bisa mengisi duit ke LR?

NAH!

Ada cara mudah dengan cara model membeli pulsa. Iya, beli pulsa. Kita menyetor sejumlah yang yang kita butuh untuk membeli sejumlah dollar/euro guna dimasukkan ke LR.

Ada banyak provider jasa ini, kita bisa menggunakan yang terpercaya. Sila googling saja, kalau mau beli via online.

Tentu ada fee. Jadi kalau beli 14 dollar misal, maka yang masuk ke LR kita paling 13.86 dollar. Namanya juga biaya jasa.

Yak, semoga membantu untuk yang mau investasi di level luar negeri.

Salam!

Investasi

Sekali-sekali mau nulis soal investasi ah.. Setelah tahun-tahun galau yang hanya habis untuk tiket pesawat, dan pada akhirnya tiket-tiket itu lantas tidak berguna.. Upsss..

Bagaimanapun kita itu hidup BUTUH duit. Percaya kan? Kalau kita hidup bukan untuk duit, saya setuju sekali. Tapi bagaimanapun, duit itu diperlukan.

Dulu waktu kecil kenalnya menabung. Ini kan menyisihkan uang, kecenderungannya tidak berharap lebih. Ingat, jangan berharap lebih. Apalagi bank jaman sekarang. Saya pernah, dengan saldo lima juta (jaman kapan itu? Biasanya nggak sampai 1 juta.. hehehe..) hanya dapat bunga seribu seratus sembilan puluh sembilan rupiah. Luar biasa. Ini sih semacam menggantikan celengan saja. Soalnya dulu waktu kecil, saya jadi tersangka maling koin dari celengan di atas kulkas. Nyolong tabungan sendiri. Hehehe.. Sampai celengan berbentuk rumah itu rusak tak berbentuk saking seringnya dibongkar.

Nah, kalau investasi ini semacam berharap ada kenaikan nilai uang dari nilai yang kita punya pada saat ini.

Dalam investasi, ada dua jenis asset yakni finasial dan riil. Nah, berhubung ini investasi, bagaimanapun resiko kehilangan modal itu jadi teman seperjuangan.

Aset riil sesuai namanya, tentulah yang memiliki bentuk. Macam? Yah, emas, rumah, tanah, dan sejenisnya. Berhubung Tuhan tidak lagi menciptakan tanah, maka harga tanah itu hampir pasti naik dari masa ke masa. Sama persis dengan emas. Kecenderungannya naik jauh. Mamak pernah cerita kalau sepertiga gajinya ketika baru kerja bisa beli satu emas (entah satuan apa ini). Ketika sudah beranak 4? Seluruh gajinya baru bisa beli satu emas. Artinya? Kenaikan harga emas melebihi kenaikan gaji.

Aset finansial adalah yang tidak terlihat tapi punya nilai. Inilah yang dipermainkan di Bursa Efek. Jenisnya? Obligasi, saham, atau reksadana.

Obligasi apaan? Ini adalah surat utang. Diterbitkan, bisa oleh pemerintah atau perusahaan tertentu dengan jangka waktu utang lebih dari 1 tahun. Kalau kita beli surat utang ini, kita akan dapat bunga yang dibayar dalam periode tertentu. Temennya obligasi? Hehehe.. Tentulah ketika yang menerbitkan obligasi tidak bisa bayar. Dan ini lebih susah daripada nagih tetangga yang belum bayar 20 ribu lho…

Saham, sering kita dengar kan? Ini semacam bukti kepemilikan terhadap suatu organisasi. Karena milik, jadilah untungnya dibagi, dan inilah yang disebut dividen. Dan harga saham tentunya mengikuti kinerja perusahaan. Resiko? Banyakkkk.. Sering lihat kan di tivi-tivi. Makanya kalau mau investasi ini, jangan ngasal pilih perusahaan. Itulah juga banyak perusahaan menampilkan laporan tahunan di dunia maya dan bisa diakses dengan bebas.

Kalau reksadana adalah tempat penghimpunan dana orang-orang dalam badan hukum tertentu. Ibarat naik angkot deh. Si supir akan membawa uang kita ke asset lainnya dan disimpan di tempat bernama bank Kustodian. Ini jelas solusi praktis buat yang mau investasi, tapi cekak. Macam siapa? Macam saya! Hahaha.. Buat sambilan juga oke karena kita nggak perlu memantau saham perusahaan dari waktu ke waktu untuk kemudian jual dan beli. Kata salah satu bos di kantor saya, reksadana adalah wahana yang pas menyimpan uang kita. Ups, nggak menyimpan ding. Menggunakan uang kita!

Selain reksadana ada juga model yang agak mirip. Ini dia HYIP. Detailnya dibahas terpisah ya. Hehehe.. Intinya sih masukkan uang dan tunggu berkembang.

Sekarang, tinggal pilih. Untuk jangka panjang, properti bisa menguntungkan. Bayangkan, dalam 1-2 tahun, harga rumah yang sama bisa naik hingga 100 juta, tergantung lokasi. Apa nggak ngeri itu? Hehehe..

Jangka menengah, katanya sih obligasi. Ya itu tadi, karena secara periodik memberikan hasil.

Jangka pendek, bagaimanapun tabungan itu perlu. Duit jangan dihabiskan semua. Ini nih penyakit saya sampai-sampai kerja bertahun-tahun nggak punya tabungan. Hiks. Udah gitu investasinya minimalis sekali pula. Haduh.

Nggak apa-apa, kata Ciputra dalam salah satu Tweet-nya, umur 25 itu pas untuk mulai wirausaha. Saya pelesetin dikit, umur 25 itu pas untuk mulai SADAR. Hehehe..

 

Bagaimana Membangun Sistem?

Huahahahaha..

Mari ketawa dulu.

Mungkin tulisan ini patut dan layak ditertawakan. Siapa saya? Berani-beraninya menulis tentang BAGAIMANA MEMBANGUN SISTEM. Haikss.. Kerjaan aja  cuma ngurusin c***** wkwwkwk..

Tapi sempat diskusi dengan rekan apoteker di kantor lama, soal bagaimana memulai membangun sistem. Jadi ini kisahnya sekadar sharing doang.

Dalam membangun sistem itu yang pertama-tama diperlukan adalah pemetaan proses-proses yang ada di suatu organisasi. Misal, saya kasih contoh usaha es mambo di keluarga saya dulu aja. Ada bagian pembelian, ada bagian produksi, ada bagian formulasi es mambo, ada bagian pengembangan bisnis, ada bagian penyimpanan, ada bagian kualitas, dan ada bagian penjualan. Yah, pada umumnya mamak saya semua sih yang ngelakuin, kecuali produksi-packaging.

Kalau sudah dipetakan, maka lanjutannya adalah pembuatan peta dalam gambar, lebih baik begitu. Ini yang kalau di teori dikenal dengan Business Process Mapping (BPM), yang kalau training itu 3 hari 5 juta rupiah. Hehehe..

Sesudah itu, kalau sudah ketemu proses-prosesnya, maka buatlah detail flow per proses. Jadi misal formulasi es mambo itu dimulai dari masukan dilanjutkan dengan trial dilanjutkan lagi dengan evaluasi, hingga pada keputusan es mambo yang enak macam apa. Gitu saja kok. Nggak repot-repot. Kalau es mambo nggak repot, maksudnya gitu.

Nah kalau sudah, cocokkan flow proses alias Standar Operating Procedure (SOP) itu ke BPM. Sesuai? Kalau sudah mari kita lanjut lagi.

Kemudian kita beranjak pada struktur dokumen. Biasanya ada beberapa level. Ujung pertama namanya MANUAL. Hasil mapping dan flow tadi dibahasakan dan disesuaikan dengan standar yang berlaku. Misal kita mau ngacu ke ISO 9001, ya sesuaikanlah manual dengan map dan flow tadi. Sampai di tahap ini maka kita sampai pada jejaring yang makin rumit. Sesekali saya hendak muntah kalau membahas ini. Penyesuaian diperlukan karena sejatinya kita harus berangkat dari MANUAL itu. Cara yang saya paparkan disini semata agar kita nggak buta pada keadaan saja.

Kalau sudah juga, turunkan ke instruksi kerja alias kalau kerennya Working Instruction (WI). Bagaimana membungkus es mambo yang baik, dan sejenisnya.

Dilengkapi pula dengan form, misal kartu stok karet atau kartu stok plastik. Atau juga checklist pembersihan baskom es mambo.

Voila, jadilah sistem sederhana kita.

Untuk memastikan, ada yang namanya proses AUDIT yang bertujuan memverifikasi sistem dengan aktual prosesnya.

Sejatinya ya begini saja. Tapi semakin besar jaringnya, maka semakin pusinglah kepala. Semakin mau muntah juga saya. Hehehehe..

Semoga bisa menjadi informasi yang berguna 🙂

Sudah jadi?

 

Nggak Kerasa Sudah Setahun

Nggak kerasa, sudah setahun.. hehehe..

Setahun yang dimaksud adalah kebangkitan blog ini.

Dari gambar di atas kan kelihatan kalau blog ini ada sejak Agustus 2008 dan diam tentram selama DUA SETENGAH TAHUN, tanpa ada yang melihat. Maklum, nggak ada posting sama sekali.. hahahaha.. Eh, ada 1 mungkin, tapi saya hapus.

Sekarang blog ini sudah dilihat 20rb-an kali. Syukurlah. Dari yang awalnya puluhan kali sebulan, sampai ribuan kali per bulan. Wew.

Ini semacam gembel congkak ya? Hahaha.. Page view baru 2orb-an udah sok-sokan.. wkwkwk..

No matter.

Nggak kerasa sudah lewat 1 tahun. Itu artinya setahun sejak saya menolak tawaran bagus. Setahun sejak saya membaca YOUR JOB IS NOT YOUR CAREER. Setahun setelah tulisan saya GENERIK DAN KATOLIK masuk di Majalah Hidup. Momen-momen yang jelas teringat di kepala.

Dan melihat kembali statistik blog ini, tentunya langsung mengarah pada kekuatan kekaguman, ketika tulisan di blog ini disharingkan secara berantai via social media ketika Pak Mul meninggal dunia. Tadi barusan tak baca lagi, mellow dah. Tapi bahwa itu adalah postingan paling laris di blog ini, jelas merupakan statistik yang tidak bisa dibantah lagi. Sekali lagi, KEKUATAN KEKAGUMAN.

Mau ngapain lagi ini?

Blog balita labil ini pernah gagal di lomba blog. Tapi nggak berhenti diisi terus. Belakangan laku karena cerita pendek. Harap maklum, galau pangkal produktif. Sepertinya demikian. Mumpung galau, maka mari produktif. Keburu nggak galau lagi. Nggak tahu dah.

Desain juga sudah berubah berkali-kali, dengan pertimbangan yang banyak. Sebenarnya desain HIJAU dulu sudah oke, tapi tak ganti pas ulang tahun. Eh, ternyata di desain itu nggak mengakomodasi PAGE, jadilah saya bikin perubahan dengan pakai desain (gratis) lain.

Oya, soal MATA.

Ada yang komen, katanya jadi mengerikan.

Heh? Apa iya?

Ini menarik. Mata itu diambil dari ekspresi senyum yang manis. Tapi ketika dipotong dan di-crop hanya bagian mata, tampak ada kesedihan. Menurut saya begitu. Itulah fakta bahwa mata tidak bisa menipu. Dan kesedihan itu tampak bertambah ketika saya tambahkan foto saya sedikit di bagian bola mata. Berarti saya yang bikin sedih dan ngeri. Wkwkwkwk..

Tapi kenapa mata?

Karena mata adalah ekspresi terdalam.
Karena mata tidak bisa menipu.
Karena mata adalah alat penangkap perspektif.
Karena mata menjadi sumber tulisan di blog ini.

Karena jauh di lubuk hati yang terdalam, saya ingin melihat mata itu setiap hari, sampai kapanpun.

 

Menjalani Hidup Itu Seperti Lewat Batu Lubang

Teman-teman tahu Batu Lubang?

Kalau nggak tahu, saya kasih tahu, soalnya saya juga baru tahu. Hehehe.. Batu lubang ini adalah sebuah tempat di jalan Tarutung-Sibolga, Sumatera Utara. Ini khas Sumatera banget karena bisa dibilang menjadi penanda berakhirnya jalan kelok-kelok setengah mati dari Tarutung ke Sibolga. Yah, jalan Tarutung ke Sibolga itu kayaknya nggak ada yang lurus. Berkelok melulu.

Batu lubang ini konon adalah batu yang dilubangi oleh pemerintah kolonial dengan “bantuan” warga lokal secara rodi. Bayangkan ngeruk batu? Waw… Pasti melelahkan. Dan kabarnya banyak yang tewas selama proses pembuatan. Mayatnya dibuang dimana? Di jurang, persis di sebelah jalan. Dan ada 2 lho. Jadi ada 2 batu yang dilubangi, dan posisinya pas BELOKAN. Ngeri sak pole mbahe pokoknya.

Untung waktu itu yang bawa mobil Bapak Uda yang sudah fasih luar dalam jalanan situ.

Konon, kalau mau masuk lewat Batu Lubang kudu klakson dulu. Kalau nggak klakson bisa berhenti mendadak di tengah jalan dan mesin akan nyala dengan rokok yang dinyalakan sebagai penolak sial. Nggak percaya? Silahkan, tapi banyak buktinya. Logikanya sih sederhana, klakson dan lampu diperlukan. Ya iyalah, ini gelap pas tikungan pula, klakson jadi penanda bahwa mau lewat, jadi yang di seberang sana hati-hati. Itu kok.

Oke, kembali ke perspektif hidup ala lewat Batu Lubang.

Mau tahu jalannya? Ini dia.


Di depan itu adalah lubang yang pertama dari arah Tarutung ya. Hidup ini yang seperti itu. Maksudnya? Kita itu udah nyaman loh di jalanan sebelum lubang. Tapi kita harus maju untuk tujuan hidup kita. Kalau nggak maju? Diam aja deh di tengah hutan situ. Hehehe.. Klakson dan lampu perlu, kenapa? Dalam PERJALANAN HIDUP kita kan perlu PERSIAPAN.


Foto berikutnya adalah setelah keluar lubang pertama dan menuju lubang kedua. Dalam hidup? Yah, nggak selalu cahaya terang akan bermakna terang sebelum kita melaju. Bahwa mungkin masih ada gelap di depan. Cara menghadapinya? TERUSKAN perjalanan. So Simple! Kalau nggak, mau terjebak diantara dua lubang?


Foto diatas adalah pemandangan sungguh indah. Kenapa? Cercah cahaya itulah ujungnya. Gelap berakhir, dan terbit terang. Terang yang besar. Yang bisa dilalui pasca gelap. Dan ini gelap nggak enak loh. Di dalam lubang yang panjangnya sekitar 8 meter itu jalannya jelek karena kena tetesan air terus menerus.

Ya caranya harus begitu, teruskan perjalanan. Mau tahu yang kita peroleh kemudian?


Cahaya terang saudara-saudara! Foto di atas adalah lubang dilihat dari arah Sibolga. Ini akhir dari dua Batu Lubang. Dan jangan salah, di sebelah kanan ada AIR TERJUN yang sangat indah, tapi agak berbahaya karena langsung jurang. Hiii.. Ngeriiii….

Sedikit pelajaran yang saya dapat bahwa dalam HIDUP itu ada PERJALANAN, dan kita perlu PERSIAPAN, serta yang utama adalah MAJU TERUS, namun terkadang kita perlu BERHENTI untuk MENIKMATI capaian indah yang sudah kita peroleh.

Bukan begitu?

hehehe..

 

 

Makan Siang

Apa yang dirindukan orang kantoran ketika makan siang?

Makannya?
Siangnya?
Tidak kerjanya?

Atau apa?

Buat saya, kerinduan ketika makan siang adalah membahas banyak hal sambil tertawa bersama.

Terkadang kerinduan itu muncul lagi.

Saya pernah makan siang di beberapa perusahaan. Sebuah perusahaan di Jalan Raya Bogor punya nuansa yang asyik karena outdoor. Selain itu, juga asyik karena ada Plant Manager yang hobi cerita.

Saya pernah juga makan siang di sebuah pabrik di Bandung. Maaf kata, yang ini nggak banget. Kondisi tertutup dan sama sekali tidak hangat. Entahlah, itu kan menurut saya.

Nah, suasana paling enak saat makan siang adalah di sebuah perusahaan lain lagi, bukan di dua yang saya sebut pertama. Istirahat diplot 1 jam, dan nyaris dari 1 jam itu topiknya adalah menghibur diri. Mulai dari 12.15, ketika muka buthek karena kerjaan, sapaan hangat mengajak makan adalah poin penting.

“Ayo makan…”

Sebuah ucapan sederhana, tapi bermakna besar. Ini soal keakraban dan kekeluargaan.

Ketika makan, makannya sih biasa. Yang lebih penting adalah sesudah itu. Ketika makan habis, maka kelakar dimulai. Tergantung topik, kalau lagi ngomong bola semalam, ya lanjut itu topiknya. Kalau Real Madrid kalah, korban kelakarnya jelas. Kalau Inter kalah, korban kelakarnya banyak, apalagi kalau Liverpool yang kalah, korbannya jelas dan kelakarnya dalam. Hahaha..

Nggak cuma itu, semata diskusi hangat perpolitikan kadang muncul. Diskusi panas soal sepakbola juga ada. Sedikit-sedikit membahas kantor juga iya. Dan saya mengamati, personel-personel yang ada di meja makan itu, adalah pemegang posisi strategis. Artinya? Ini bukan sembarang orang, tapi dengan sembarang kelakar.

Obrolan akan diselingi oleh agenda rebutan koran. Ada 2 koran, yang sudah diintip dari sejak makan. Kalau ketika masuk kantin, itu koran nganggur, segera saja koran itu musnah dari atas meja, sudah sembunyi di kursi.

Obrolan juga bisa soal hasil main PS hari minggu, atau hasil pertandingan liga kantor sebelumnya, atau pembahasan rencana soal kedua event itu.

Selama 45 menit melupakan pekerjaan mungkin adalah poin yang menarik untuk refreshing, tapi sungguh saya PERNAH mengalami itu. Tidak selalu memang. Kadang meja juga sepi, tapi kebanyakan ramai.

Dan ramai itu yang menjadi kerinduan.

Yah, okelah, saya juga sering jadi korban. Tapi no issue, tersinggung akan dilibas oleh tersunggingnya senyum. Sesederhana itu kok. Toh dalam beberapa menit ke depan, kita bisa menertawakan orang lain.

Inilah makan siang. Bukan soal menu memang, tapi soal suasana.

Biarlah, hidup itu soal pilihan kan? Dan pilihan selalu menggandeng konsekuensi.

🙂

Perspektif Wanita Menikah

“Kamu harus belajar masak, baru pantes nikah,” kata Ibu.

Dan kalimat yang sama selalu berulang setiap kali Nora pergi ke dapur dan mengambil makanan. Selalu berulang, saking seringnya, kadang Nora sudah membaca kalimat itu sendiri sebelum Ibu mengutarakannya.

“Memangnya kalau nggak bisa masak, nggak pantes nikah?”

“Ya nggak to nduk. Wanita itu hakikatnya memasak itu.”

“Lha, mamang nasi goreng?”

“Jangan pandang secara sempit nduk. Coba deh kamu pahami filosofi memasak,” jawab Ibu, bijak.

Bahhh.. apa pula ini?

Nora membawa kalimat Ibu ke kantor. Diantara wanita-wanita galau, Nora mencurahkan isu yang dibawanya dari dapur rumah itu.

“Temans, memangnya cewek kalau mau nikah kudu bisa masak ya?” tanya Nora, dengan mata tetap di layar komputer.

“Nggak bener itu. Aku nggak bisa masak, terbukti bisa nikah,” sahut Dini dengan bersemangat.

“Lha ini yang bisa masak, nggak nikah-nikah,” timpal Fiona dengan muka bertambah galau.

“Terus kok nyokap bilang begitu ya?” gumam Nora setelah mendapat input-input yang tidak tervalidasi dari teman-temannya.

Sepulang kantor, Nora berjalan kaki ke warung sea food depan kantor. Yah, depan sih, tapi kudu nyebrang. Dan ini JAKARTA bung. Penyebrangan jalan saja ada sertifikatnya, saking susahnya nyebrang.

Nora menyaksikan dengan mata kepala sendiri proses memasak dari awal. Mulai dari memanaskan wajan, memasukkan bahan-bahan, mengaduk dan mencampur dengan sepenuh hati, menata makanan yang dipesan ke dalam piring, hingga menyajikannya ke pelanggan.

“Filosofi? Apa ya?”

Nora berjalan terus sambil merenung. Entah kenapa sekali ini dia serius berpikir soal filosofi, biasanya mendengar kata itu saja dia sudah pingsan. Maklum, otaknya agak kurang sampai kalau yang berat-berat begini.

Dan benarlah memang otaknya nggak sampai. Tangannya kemudian menggapai BBnya dan masuk ke twitter.

@M_A RT @Filosofi: hidup itu seperti memasak, mencampur berbagai hal dan membuatnya nikmat.

Ups?

Memasak itu mencampur berbagai hal dan membuatnya nikmat? Sepele sekali?

“Ibu bener juga,” gumam Nora lagi, “Memasak itu soal mencampur berbagai hal dalam hidup dan membuatnya nikmat. Yupp.. menikah kan soal percampuran berbagai hal. Hahahaha…”

Nora tertawa di jalan, seorang gembel berlari, takut orang gila lewat katanya.

“Baiklah..,” bisik Nora lagi, “Filosofi sudah ditemukan. Sekarang bagian paling penting, mari mencari calonnya..”

Dan Nora masih tersenyum. Karena senyum bisa bermakna sebuah awal.

Seulas Senyum

pablo (2)

NSP! Wah, masih musim nggak tuh? Sejak pencurian pulsa yang marak dilakukan sama provider kaya raya, NSP mendadak distop! Ah, ini mah menggalaukan saja. Bagaimana mungkin NSP dihilangkan? Bagaimana pula nanti aku akan digunakan kalau NSP mati. Bayangkanlah, kalah NSP ditiadakan, maka aku akan jarang-jarang ditelepon. Dan aku juga akan jarang-jarang membunyikan nada dering.

Yah, NSP yang ada padaku dan nada dering yang tertanam padaku, sama persis.

Awalnya aku menganggap ini hanya praktek mellow seorang pemilik handphone. Tapi ternyata lama-kelamaan aku memaknai lagu itu. So sweet lah untuk didengarkan dan so sulit untuk dinyanyikan.

Aku hanyalah seonggok handphone yang so jadul alias cukup jadul. Jangan panggil aku tua. Aku memang masih candy bar, tapi jangan salah, kekuatanku lebih dahsyat daripada pegangan generasi terbaru. Apa itu? Ah, BB.. Coba celup dalam kopi, habis itu BB. Sama apalagi itu? Android? Sama aja.

Mana ada handphone sepertiku, tahan jatuh dari ketinggian 5 meter, pernah masuk gelas teh, pernah dipakai melempar anjing waktu pemilikku ketakutan.

Aku hanya seonggok handphone yang diam pada zaman. Dulu aku adalah handphone paling tipis yang pernah ada. Ingat, paling tipis! Tolong jangan keras-keras waktu bilang DULU. Agak menyakitkan hati.

Tapi karena aku berasal dari masa lalu, aku sangat paham tentang masa. Akulah saksi ketika pacar pertama pemilikku mentransfer fotonya dengan bluetooth. Yak, fitur paling canggih padaku, memang bluetooth, gigi biru. Belum ada BBM atau Whatsapp tertanam padaku. Waktu itu? Pasti kalian juga belum mikir. Waktu itu akulah yang terhebat.

Aku juga saksi ketika pesan singkat masih merajalela. Aku terlalu panas untuk selalu meladeni pesan singkat yang bertubi-tubi masuk. Tapi aku kuat, mana pernah aku hang? Ah, nggak mungkin itu. Aku handphone kuat.

Aku juga saksi ditindih oleh pemilikku ketika dia baru putus dengan pacarnya. Orang sinting! Ketika sakit dan sedang nggak perlu handphone aku dibiarkannya terselip diantara dua belah springbed. Ketika butuh, sambil nangis-nangis dia mohon aku tiba-tiba muncul di permukaan.

Tapi tak apa. Aku menikmati detail peristiwa pemilikku. Tidak ada yang mengenalnya sedalam aku.

Karena aku pula yang menyimpan semua pesan singkat tentang cintanya yang sebenarnya. Selama bertahun-tahun. Handphone-handphone terkini, ayo sini, memangnya di memorimu ada pesan singkat dari 5 tahun silam? Mana ada! Hanya aku yang punya.

Akulah saksi ketika pemilikku dengan seulas senyum, sesekali membaca kembali pesan-pesan singkat yang masih ada di handphoneku. Baginya, lebih baik beli handphone baru alih-alih menghapus pesan-pesan itu. No! Itulah pesan cinta yang sebenarnya.

Pesan cinta yang tidak terungkap.
Pesan cinta yang terus menerus terlampaui masa.
Pesan cinta yang tidak eksplisit.
Pesan cinta yang hanya dimaknai dengan seulas senyum.
Pesan cinta yang meninggalkan luka, bahwa cinta tak harus dimiliki.
Pesan cinta yang terwujud dengan bebas.

Dan hanya aku yang mengerti makna senyum itu.

Karena senyumpun dapat bermakna tangis.

 

Bapak Millennial