Perspektif Wanita Menikah

“Kamu harus belajar masak, baru pantes nikah,” kata Ibu.

Dan kalimat yang sama selalu berulang setiap kali Nora pergi ke dapur dan mengambil makanan. Selalu berulang, saking seringnya, kadang Nora sudah membaca kalimat itu sendiri sebelum Ibu mengutarakannya.

“Memangnya kalau nggak bisa masak, nggak pantes nikah?”

“Ya nggak to nduk. Wanita itu hakikatnya memasak itu.”

“Lha, mamang nasi goreng?”

“Jangan pandang secara sempit nduk. Coba deh kamu pahami filosofi memasak,” jawab Ibu, bijak.

Bahhh.. apa pula ini?

Nora membawa kalimat Ibu ke kantor. Diantara wanita-wanita galau, Nora mencurahkan isu yang dibawanya dari dapur rumah itu.

“Temans, memangnya cewek kalau mau nikah kudu bisa masak ya?” tanya Nora, dengan mata tetap di layar komputer.

“Nggak bener itu. Aku nggak bisa masak, terbukti bisa nikah,” sahut Dini dengan bersemangat.

“Lha ini yang bisa masak, nggak nikah-nikah,” timpal Fiona dengan muka bertambah galau.

“Terus kok nyokap bilang begitu ya?” gumam Nora setelah mendapat input-input yang tidak tervalidasi dari teman-temannya.

Sepulang kantor, Nora berjalan kaki ke warung sea food depan kantor. Yah, depan sih, tapi kudu nyebrang. Dan ini JAKARTA bung. Penyebrangan jalan saja ada sertifikatnya, saking susahnya nyebrang.

Nora menyaksikan dengan mata kepala sendiri proses memasak dari awal. Mulai dari memanaskan wajan, memasukkan bahan-bahan, mengaduk dan mencampur dengan sepenuh hati, menata makanan yang dipesan ke dalam piring, hingga menyajikannya ke pelanggan.

“Filosofi? Apa ya?”

Nora berjalan terus sambil merenung. Entah kenapa sekali ini dia serius berpikir soal filosofi, biasanya mendengar kata itu saja dia sudah pingsan. Maklum, otaknya agak kurang sampai kalau yang berat-berat begini.

Dan benarlah memang otaknya nggak sampai. Tangannya kemudian menggapai BBnya dan masuk ke twitter.

@M_A RT @Filosofi: hidup itu seperti memasak, mencampur berbagai hal dan membuatnya nikmat.

Ups?

Memasak itu mencampur berbagai hal dan membuatnya nikmat? Sepele sekali?

“Ibu bener juga,” gumam Nora lagi, “Memasak itu soal mencampur berbagai hal dalam hidup dan membuatnya nikmat. Yupp.. menikah kan soal percampuran berbagai hal. Hahahaha…”

Nora tertawa di jalan, seorang gembel berlari, takut orang gila lewat katanya.

“Baiklah..,” bisik Nora lagi, “Filosofi sudah ditemukan. Sekarang bagian paling penting, mari mencari calonnya..”

Dan Nora masih tersenyum. Karena senyum bisa bermakna sebuah awal.

Advertisements

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s