Category Archives: Soal Sesuatu

Sesuatu kata itu selalu ada tentangnya..

5 Hal yang Harus Diperhatikan Dalam Mempersiapkan Foto Pre-Wedding

cover

Sejujurnya saya trenyuh menyadari blog saya hanya posting sekali di bulan Februari, itupun orderan. Trenyuh tentu saja karena untuk punya nama blog semacam ini saya harus membayar. Wis mbayar kok koyo ngene. Jadi, baiklah, saya coba keluarkan dahulu materi posting yang sudah dipersiapkan sejak zaman Balai Pustaka.

Salah satu hal kekinian yang biasanya dipersiapkan oleh para pengantin era milenium adalah foto pre-wedding. Sebuah hal yang sangat tidak wajib, tetapi kemudian menjelma jadi semacam kewajiban menjelang pernikahan. Sebenarnya, ya, tanpa pre-wedding sekalipun, mempersiapkan pernikahan itu sudah ribet. Maka dari itu melalui posting ini saya hendak memberikan beberapa pedoman yang kiranya dapat membantu teman-teman sekalian menghindari keribetan pre-wedding sebagai suplemen dari keribetan lain yang sudah ada.

Continue reading 5 Hal yang Harus Diperhatikan Dalam Mempersiapkan Foto Pre-Wedding

Lost in Bangka (4): Padepokan Puri Tri Agung

lostinbangka_puritriagung

Sudah gelap di Pangkal Pinang saat Verena dan orangtuanya tiba di Menumbing Heritage. Gamang sedikit, akhirnya petualangan Lost in Bangka yang merupakan kolaborasi bersama Rian Chocho Chiko dan istri, Ariesadhar dan istri, serta Libertus Tintus dan istri plus Verena dilanjutkan. Tujuan kali ini adalah pagoda. Itu terminologi awal. Walau begitu, judul tulisan ini menyesuaikan nama tempat di Google dan di TripAdvisor. Bukan apa-apa, postingan ini kan memang untuk menggaet view dan dolar mensosialisasikan tempat-tempat wisata di Bangka.

Perjalanan dilakukan menggunakan mobil rental dan supir asli Jogja dan suka mengukur jalanan antara Jakarta dan Bandung. Namanya kebetulan mirip dengan vlogger kurang ngevlog, Rian Chocho Chiko. Rupanya, menyetir di pulau lain adalah achievement lain untuknya.

Guna menambah seru, Tintus selaku gay guide mengarahkan jalur via jalanan yang disebutnya sebagai jalan alternatif. Ini heroik juga, sudah jalannya malam via jalur alternatif, supirnya minus pula matanya. Plus, ada ibu hamil muda di dalam mobil. Duh, dek.

Sejujurnya tidak banyak yang bisa dilihat di perjalanan selain kegelapan. Satu-satunya yang tampak adalah RSUD yang entah kenapa nongol di tengah hutan begitu. Kalau di Jambi saja kena amuk, gimana RSUD yang di tempat semacam begini ya? Lebih epik lagi adalah ketika saya menggunakan Google Maps, jalur yang kami lewati bahkan belum ada di peta! Kalau sekarang, sih, sudah. Lha wong selisih sekian bulan dari perjalanan dengan ditulisnya laporan ini. Heuheu.

Serunya, karena jalanan gelap, ceceritaan yang diungkit adalah lagi-lagi tentang masa lalu. Ada 7 orang di mobil, yang 6 sudah saling kenal sejak kuliah. Tentu cerita playboy seperti sang driver lebih menarik untuk dibahas daripada kisah-kisah kegagalan milik saya.

Continue reading Lost in Bangka (4): Padepokan Puri Tri Agung

Lost in Bangka (3): Menumbing Heritage

lostinbangka_menumbing

“Langsung Menumbing, toh?” ujar Tintus selaku tuan rumah, segera sesudah saya memasuki mobilnya yang melesat mulus menjemput saya dan istri di bandara Depati Amir.

“Hooh.”

Tintus melaju dengan tenang, tentu saja karena Pangkal Pinang itu pada dasarnya bebas macet. Ini Pangkal Pinang, bukan Ciputat. Peralihan konteks itu penting, karena kalau di Ciputat, apalagi Cipulir hari Sabtu siang, duh, nggak tega saya ceritanya.

Saya sudah memesan hotel sejak dua pekan sebelumnya, lagi-lagi via reservasi.com, sama persis dengan tiket pesawatnya. Penyebabnya sederhana, harga. Sebagai pegawai ngeri, saya cukup paham bahwa hotel-hotel itu pada umumnya berpegang teguh pada Satuan Biaya Masukan (SBM) untuk menetapkan tarif. Maka, jika ada publish rate jegleg dengan government rate, ya jangan heran. Sebagai pemesan hotel sepanjang masa jika perjalanan dinas, saya memainkan kartu itu kala memesan Menumbing Heritage ini. Harganya sekian. Kemudian saya menghitung via reservasi.com, lah, lebih rumah, eh, murah! Langsung sabet.

Pertimbangan awal saya memesan Menumbing Heritage adalah karena di internet, hotel ini menjual bangunan lawas namun dengan sentuhan modern. Selain itu, Tintus juga merekomendasikan hotel ini meski kemudian ketahuan kalau istrinya kurang sepakat dengan rekomendasinya. Lagipula, kalau saya mau nginep di hotel-hotel seperti Soll Marina atau Santika, nanti kalau dinas juga bisa. Kalau sejenis Menumbing Heritage ini nggak semua orang berkenan kalau dinas, soalnya.

Continue reading Lost in Bangka (3): Menumbing Heritage

Lost in Bangka (2): Depati Amir

lostinbangka-depatiSebelum membaca kisah ini, ada baiknya saudara-saudari sekalian membaca kisah awal perjalanan yang akan sangat panjang serinya ini di Lost in Bangka (1). Bukan apa-apa, lumayan buat kasih saya traffic. Maklum, rejeki dollar saya dari blog sedang kena traffic jam. Heuheu.

Dalam perjalanan menuju bandara Soekarno-Hatta, ada sedikit insiden perihal taksi online. Alkisah, saya sedang melaju manja menggunakan Honda Mobilio dari sebuah taksi online terkemuka di Asia Tenggara. Entah bagaimana kisahnya, yang kemudian terjadi adalah tetiba saya status pemesanannya di ponsel saya yang bermerk Evercoss itu jadi cancel. Lah, saya bingung bukan kepalang. Salah-salah saya diturunkan-diturunkan-diturunkan di pintu tol terdekat. Penyelesaiannya agak njelimet, tapi intinya adalah kalau naik taksi online kita kudu bersiap dengan aneka pengalaman ciamik.

Dalam waktu yang cukup singkat, saya dan istri sampai di Terminal 1C. Berhubung ini perjalanan mandiri dan mengandalkan diskon dari startup yang baru, sudah pasti kami naiknya adalah adiknya Garuda. Lumayan, minimal di badan pesawatnya sudah ada tulisan Garuda.

Satu hal yang menarik dari pesawat yang bernama Citilink itu adalah adanya iklan model unik yang tempelan stiker besar di penutup bagasi yang ada di atas. Dan bagian paling tepat bagi saya dan istri adalah bahwa yang kebetulan berpormosi di dalam pesawat itu adalah…

Continue reading Lost in Bangka (2): Depati Amir

Lost in Bangka (1): Reservasi

lostinbangka_reservasi

Niat suci mulia jadi travel blogger agaknya terbilang sulit untuk dilakoni. Maklum, saya anaknya nggak enakeun karena kebanyakan jalan-jalannya justru dibiayai oleh kesulitan rakyat. Pedih, kak. Heu. Tetiba, vlogger nyaris terkenal, Rian Chocho–yang bisa ditemui di rianchocho.xyz–mengajak saya berlibur bersama ke Pangkal Pinang.

Tenang. Ini bukan berdua saja. Tentunya bersama istri kami masing-masing.

Sejak 1,5 bulan sebelumnya, trip ini telah direncanakan dengan kurang matang, mengingat kesibukan Rian Chocho bakulan serbuk obat dan saya sendiri dengan fotokopi yang menumpuk. Walhasil, tidak ada jadwal pasti tentang trip ini kecuali keberangkatan tanggal 22 Oktober 2016.

Tadinya, trip ini akan disertai oleh manajer kondang pabrik curcuma. Apa daya, sang istri yang justru telah lebih dahulu mengajukan cuti justru diminta ikut seminar yang pada akhirnya membatalkan keikutsertaan mereka dalam trip yang tadinya tanpa judul ini. Dengan demikian, hanya ada dua pasang manusia yakni vlogger nyaris terkenal, blogger kurang terkenal, serta istri masing-masing.

Kenapa Pangkal Pinang?

Continue reading Lost in Bangka (1): Reservasi

Dibekap Dinginnya Danau Toba di Hotel Mutiara Balige

kaver2

Danau Toba kini menjadi salah satu fokus pengembangan kawasan wisata di Indonesia, bersama Tanjung Lesung, Labuan Bajo, dan lain-lain yang dikemas dalam terminologi ‘Bali Baru’. Menurut saya, Danau Toba layak untuk dikembangkan seluas-luasnya. Pertama, karena pemandangannya memang cantik luar biasa, sedangkan kedua adalah karena Danau Toba itu luasnya minta ampun dan punya banyak ruang untuk dikembangkan. Garis pantai Danau Toba yang 294 kilometer itu nggak kalah panjang dengan banyak pulau di Indonesia.

Nah, seperti saya kisahkan dalam hikayat singkat di Danau Toba, saya menyempatkan diri menikmati Danau Toba via Balige, sebuah kota kecil di tenggara danau raksasa di Indonesia itu. Nah, demi kelangsungan hidup di perjalanan pulang, saya memutuskan untuk menyewa hotel dengan 3 kamar, satunya Mamak dan (calon) istri, satunya Bapak sama saya, satunya lagi supir. Biar sekali-kali supir menikmati kamar hotel, gitu.

Hasil pencarian dari informasi yang terbilang sedikit membuat saya mengarahkan pilihan ke Hotel Mutiara Balige. Pilihan agak bertaruh karena review-nya juga belum banyak. Saya hanya berpatokan bahwa hotel itu terbilang baru dan dari peta letaknya persis di pinggir Danau Toba.

Continue reading Dibekap Dinginnya Danau Toba di Hotel Mutiara Balige

Lebih Jelas Melihat Uang Makan PNS

Jadi begini, tiba-tiba hari ini saya membaca berita dengan judul nan bombastis “Uang Makan PNS dan TNI/Polri Diusulkan Naik Jadi Rp45.000 per Hari”.

screenshot_61

Terima kasih kepada Bapak Wartawan yang telah begitu cerdas menulis judul semacam ini, sehingga menelurkan komentar yang juga kece seperti ini:

screenshot_64

Bahkan sampai bawa-bawa tax amnesty, sungguh keren!

screenshot_65

Melalui postingan ini, perkenan saya menulis sesuatu untuk sedikit lebih memperjelas dan mengurangi dosa orang-orang yang komentar duluan tapi nggak tahu konteksnya dengan tepat. Kasian, kak, hidup sudah berat, dosa kok nambah.

Continue reading Lebih Jelas Melihat Uang Makan PNS

Cerita dari Cideng

Oke, kita memasuki waktu dunia bagian semakin jarang #KelilingKAJ. Proyek dua setengah tahun silam ini memang semakin tersendat namun bukan bermakna saya tidak berkeliling dengan baik dan benar. Hanya post-nya yang agak tertunda-(tunda). Heuheu.

Dalam perjalanan #KelilingKAJ kali ini–yang saya lakoni beberapa waktu silam–sungguh penuh dengan drama. Berangkat dari kos-kosan dengan ayam, eh, awan mendung menggantung sembari menggunakan teknologi Gojek, akhirnya air yang nongkrong di langit itu tumpah kala saya dan Mang Gojek melewati sekitar Bank Indonesia. Untunglah saya anaknya well-prepared sehingga dengan bahagia bisa memberi tahu kepada Mang Gojek bahwa saya bawa mantel.

Hujanlah yang membuat saya agak terlambat untuk tiba misa di tempat tujuan #KelilingKAJ kali ini, namun tentu tiada mengurangi kekhusukan doa. Bayangkan rasanya berdoa dalam kondisi celana basah total plus AC Gereja nan dingin. Cocok dan sudah mirip di Sendang Sri Ningsih.

cideng3

Tempat tujuan #KelilingKAJ nan penuh air ini adalah Gereja Maria Bunda Perantara atau yang lebih dikenal dengan Paroki Cideng, tentu saja karena terletak di Cideng, tepatnya Jalan Tanah Abang II Nomor 105, satu jalur dengan kantor suatu bagian tentara yang saya lupa. Bangunannya terbilang tiada mirip Gereja karena memang terletak persis di pinggir jalan besar dan ramai serta dijepit perkantoran dan rumah tinggal. Parkiran tentu saja menjadi problema, meski tidak seekstrim Gereja Santa.

Continue reading Cerita dari Cideng

Cara Paling Sederhana Memahami Material Requirement Planning (MRP)

screenshot_31

Lagi selo ditinggal bini ke Yurop, bikin saya baca-baca lagi blog ini. Rupanya selain orang-orang yang mencari jodoh dan kesasar ke 14 Tanda-Tanda Jodoh, salah satu topik yang ngehits di ariesadhar.com adalah tentang PPIC. Boleh dibilang, posting tentang PPIC itu adalah yang paling interaktif. Bahkan ada juga yang konsul via LINE dan via surel kepada saya tentang PPIC. Ah, senangnya!

Oke, ada baiknya saya melanjutkan postingan tentang PPIC itu dengan aspek-aspek mendetail dari PPIC. Postingan panjang lebar tentang PPIC memang sudah menjelaskan semuanya dengan gamblang tapi tidak mendetail. Begitulah, berdasarkan komentar-komentar yang saya baca dan hasil googling juga, tampak bahwa tulisan-tulisan tentang PPIC itu masih terlalu tinggi alias kurang membumi. Sama persis dengan saya ketika pertama kali belajar MPS dan MRP, sampai baca buku 3 kali juga nggak ngerti. Pahamnya kapan? Pas disuruh bikin MPS betulan dan bubrah kabeh. HUAHUAHUA.

Mari kita mulai dari bagian yang paling saya kuasai, meskipun sebenarnya tidak saya sukai. Ya, Inventory Planning. Pada awal jadi PPIC, pekerjaan saya sepele. Hanya pegang 30-an produk, semuanya impor dan hanya butuh repack. Enak toh? Sebagian repacknya cuma tinggal memberi label. Sebagian memang pakai kotak. Tapi seberapalah itu. Gampang sekali untuk dikelola. Masalah hanya muncul kala kapal yang bawa obat dibajak sama Somalia. Atau kena problema di pelabuhan. Maklum, masuknya kan di Indonesia. HUAHUAHUA (lagi).

Tiba-tiba segalanya berubah. Inventory Planning asli resign, penggantinya resign juga. Penggantinya lagi mendadak hamil, eh, ya nggak apa-apa ding, wong sudah sah. Walhasil, karena saya tidak bisa hamil, sayalah yang didapuk untuk menggantikan posisi Inventory Planning itu.

Bicara Inventory Planning jelas banget akan langsung bicara tentang Material Requirement Planning alias MRP. Dalam beberapa buku, terminologi ini disingkat dengan PKM alias Perencanaan Kebutuhan Material. Suka-sukalah. Urusan istilah saja nggak ada apa-apanya dengan pusingnya mengerjakan MRP.

Sederhananya, MRP adalah proses perencanaan untuk menyediakan material yang dibutuhkan secara tepat waktu dan tepat jumlah, serta kalau bisa tepat harga.

Selengkapnya!

Perjalanan ke Pademangan

Semakin lama, semakin sulit rupanya untuk menjalani misi #KelilingKAJ yang sudah sepertiga jalan itu. Mulai dari kenyataan bahwa hampir semua Gereja terdekat telah disambangi, hingga macam-macam alasan lainnya yang klasik. Jadi pelan-pelan sajalah. Maka, sepulangnya saya dari kegiatan di The Media Hotel & Towers–sekaligus menangkap banyak Bulbasaur–masuklah saya ke sisi lain dari #KelilingKAJ dengan melakukan perjalanan ke Pademangan.

Gereja Katolik di Pademangan adalah Paroki Santo Alfonsus Rodriquez, yang masuk ke Dekenat Utara pada Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dan berlokasi di Jalan Pademangan 2 Gang 7 Nomor 1, Jakarta Utara. Aksesnya bisa lewat Gunung Sahari kemudian masuk ke daerah Pademangan Raya. Sama seperti banyak Gereja lain, seperti misalnya Grogol dan Kemakmuran, Gereja ini berdekatan dengan sekolah Katolik. Sejatinya kalau diurut-urut sejarahnya, cukup banyak yang memiliki kisah yang sama.

Berkembangnya Gereja Pademangan tidak lepas dari dibangunnya jalan dan perumahan di daerah Rajawali Selatan yang tadinya adalah hutan dan rawa, kurang lebih tahun 1950. Persis dalam masa awal kemerdekaan Indonesia. Banyak warga yang berasal dari Flores dan notabene Katolik. Pembinaan agama kala itu diserahkan kepada Paroki Mangga Besar sebagai yang paling dekat.

Tempat perayaan misa perdana adalah sebuah bangunan yang nantinya dijadikan SD Santo Lukas, tepatnya tanggal 15 Agustus 1960. Di Paroki Mangga Besar, area ini adalah Stasi Kalimati. Sebagai bagian dari perjalanan Paroki Pademangan, Pastor R. Bakker, SJ juga menghubungi Yayasan Melania untuk bersama-sama membangun klinik bersalin dan poliklinik.

Selengkapnya, klik di sini!