Lost in Bangka (4): Padepokan Puri Tri Agung

lostinbangka_puritriagung

Sudah gelap di Pangkal Pinang saat Verena dan orangtuanya tiba di Menumbing Heritage. Gamang sedikit, akhirnya petualangan Lost in Bangka yang merupakan kolaborasi bersama Rian Chocho Chiko dan istri, Ariesadhar dan istri, serta Libertus Tintus dan istri plus Verena dilanjutkan. Tujuan kali ini adalah pagoda. Itu terminologi awal. Walau begitu, judul tulisan ini menyesuaikan nama tempat di Google dan di TripAdvisor. Bukan apa-apa, postingan ini kan memang untuk menggaet view dan dolar mensosialisasikan tempat-tempat wisata di Bangka.

Perjalanan dilakukan menggunakan mobil rental dan supir asli Jogja dan suka mengukur jalanan antara Jakarta dan Bandung. Namanya kebetulan mirip dengan vlogger kurang ngevlog, Rian Chocho Chiko. Rupanya, menyetir di pulau lain adalah achievement lain untuknya.

Guna menambah seru, Tintus selaku gay guide mengarahkan jalur via jalanan yang disebutnya sebagai jalan alternatif. Ini heroik juga, sudah jalannya malam via jalur alternatif, supirnya minus pula matanya. Plus, ada ibu hamil muda di dalam mobil. Duh, dek.

Sejujurnya tidak banyak yang bisa dilihat di perjalanan selain kegelapan. Satu-satunya yang tampak adalah RSUD yang entah kenapa nongol di tengah hutan begitu. Kalau di Jambi saja kena amuk, gimana RSUD yang di tempat semacam begini ya? Lebih epik lagi adalah ketika saya menggunakan Google Maps, jalur yang kami lewati bahkan belum ada di peta! Kalau sekarang, sih, sudah. Lha wong selisih sekian bulan dari perjalanan dengan ditulisnya laporan ini. Heuheu.

Serunya, karena jalanan gelap, ceceritaan yang diungkit adalah lagi-lagi tentang masa lalu. Ada 7 orang di mobil, yang 6 sudah saling kenal sejak kuliah. Tentu cerita playboy seperti sang driver lebih menarik untuk dibahas daripada kisah-kisah kegagalan milik saya.

Di tengah kegelapan malam, akhirnya kami tiba di bangunan Padepokan Puri Tri Agung ini dalam kondisi nyaris tutup. Untung masih boleh masuk. Sayangnya memang kami kesana malam-malam, sehingga daya tarik utama tempat ini justru tiada tampak. Ya, dalam kegelapan di sisi kanan kami sebenarnya terhampar pemandangan laut nan indah karena di bawah itu ada Pantai Tikus yang cukup terkenal.

Oya, sebenarnya Padepokan Puri Tri Agung ini bukanlah bangunan bersejarah. Pencanangannya saja dimulai pada 2001. Dimulai dari sebidang tanah di Kampung Jelitik yang berada antara perbukitan dengan panorama dan aduhai dan asri dengan aliran air yang berbentuk air terjun mini. Selanjutnya, disetujui untuk dilakukan land clearing dan cut fill pada lahan 2,3 Ha.

Walau begitu langsung muncul kendala karena lahan itu sejatinya adalah kawasan hutan lindung Bukit Rebo namun mendapat pengecualian peruntukan untuk tempat bangunan religius. Untuk itulah kemudian 18 September 2002 dilakukan peletakan batu pertama. Rencana awalnya, bangunan diselesaikan dalam waktu 3 tahun. Namun layaknya Hambalang, bangunan ini sempat mangkrak beberapa waktu sebelum akhirnya dilanjutkan kembali dengan kerja keras panitia pembangunan dan bantuan donatur yang berasal dari mana-mana, termasuk Hongkong, Singapura, dan, ehm, Tiongkok.

screenshot_236

Pada akhirnya, tempat yang sejatinya terletak di Sungailiat ini diresmikan tahun 2015 oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Jadi, saat Lost in Bangka dilakukan, usia tempat tersebut belum lagi dua tahun. Prasasti peresmian bisa kita temukan di bagian depan kawasan padepokan. Jadi kesan baru sungguh sangat kentara.

Sayangnya, malam itu kami tidak dapat masuk karena yang memegang kunci katanya sudah pulang. Walhasil, kami hanya ngintip-ngintip dan foto-foto sekejap di luar. Dan layaknya orang majus yang diperingatkan dalam mimpi, kami kembali ke Pangkal Pinang melalui jalur lain. Alias jalur beneran yang lewat Sungailiat dan melanjutkan dengan mengonsumsi martabak enak plus santapan haram terkemuka di dataran Bangka.

Sungguh, hari yang lelah, penuh kenangan, membahagiakan, dan membahayakan mengingat istri akan semakin mengetahui sejarah kelam suaminya dalam hal bercinta. Saatnya terlelap dengan benturan babi panggang dan martabak Bangka asli Bangka di dalam perut.

Besoknya kemana? Ada, deh! Nantikan saja di serial Lost in Bangka selanjutnya!

screenshot_237

Advertisements

One thought on “Lost in Bangka (4): Padepokan Puri Tri Agung

  1. Pingback: Lost in Bangka (6): Pantai Tanjung Pesona | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s