Lost in Bangka (5): Katedral Santo Yosef

lostinbangka-katedral

Seperti saya tulis sebelumnya saat berkisah tentang Hotel Menumbing Heritage, salah satu yang tidak terduga adalah bahwa penginapan kami dekat dengan Gereja. Bahkan lonceng Gereja terdengar begitu dekat begitu nyata dari kamar. Ya, Gereja yang saya maksud adalah Katedral Santo Yosef. Di tempat inilah, teman saya Libertus Tintus mempersunting istrinya untuk kemudian perjalanan waktu membuat mereka memiliki Verena Freesia Ventus sebagai buah hati.

Mengingat hari Minggu adalah harinya jalan-jalan, maka saya dan istri memutuskan untuk misa pukul 6 pagi bersamaan dengan lonceng yang berbunyi. Saya mengetuk kamar sebelah, namun kamar sebelah tidak hendak ke Gereja. Gitu.

Saya dan istri berjalan bergegas meskipun sebenarnya perjalanan ke Gereja itu dekat sekali. Maklum, sudah terlambat. Pas masuk, langsung lagu pembukaan pula. Namun lagu pembukaan itu kemudian berakhir dengan tidak masuknya Pastor. Rupanya ada delay, dan lagu pembukaan diulang lagi 6.20. Heuheu. Baru kali ini ada misa delay, tapi lagu pembukaannya direpetisi. Nggak apa-apa, namanya juga para pelayan Gereja adalah manusia biasa, yang tak sempurna dan kadang salah, namun di hatiku hanya satu, cinta untukmu KEDALUWARSA!

Continue reading

Advertisements

Lost in Bangka (3): Menumbing Heritage

lostinbangka_menumbing

“Langsung Menumbing, toh?” ujar Tintus selaku tuan rumah, segera sesudah saya memasuki mobilnya yang melesat mulus menjemput saya dan istri di bandara Depati Amir.

“Hooh.”

Tintus melaju dengan tenang, tentu saja karena Pangkal Pinang itu pada dasarnya bebas macet. Ini Pangkal Pinang, bukan Ciputat. Peralihan konteks itu penting, karena kalau di Ciputat, apalagi Cipulir hari Sabtu siang, duh, nggak tega saya ceritanya.

Saya sudah memesan hotel sejak dua pekan sebelumnya, lagi-lagi via reservasi.com, sama persis dengan tiket pesawatnya. Penyebabnya sederhana, harga. Sebagai pegawai ngeri, saya cukup paham bahwa hotel-hotel itu pada umumnya berpegang teguh pada Satuan Biaya Masukan (SBM) untuk menetapkan tarif. Maka, jika ada publish rate jegleg dengan government rate, ya jangan heran. Sebagai pemesan hotel sepanjang masa jika perjalanan dinas, saya memainkan kartu itu kala memesan Menumbing Heritage ini. Harganya sekian. Kemudian saya menghitung via reservasi.com, lah, lebih rumah, eh, murah! Langsung sabet.

Pertimbangan awal saya memesan Menumbing Heritage adalah karena di internet, hotel ini menjual bangunan lawas namun dengan sentuhan modern. Selain itu, Tintus juga merekomendasikan hotel ini meski kemudian ketahuan kalau istrinya kurang sepakat dengan rekomendasinya. Lagipula, kalau saya mau nginep di hotel-hotel seperti Soll Marina atau Santika, nanti kalau dinas juga bisa. Kalau sejenis Menumbing Heritage ini nggak semua orang berkenan kalau dinas, soalnya.

Continue reading

Lost in Bangka (1): Reservasi

lostinbangka_reservasi

Niat suci mulia jadi travel blogger agaknya terbilang sulit untuk dilakoni. Maklum, saya anaknya nggak enakeun karena kebanyakan jalan-jalannya justru dibiayai oleh kesulitan rakyat. Pedih, kak. Heu. Tetiba, vlogger nyaris terkenal, Rian Chocho–yang bisa ditemui di rianchocho.xyz–mengajak saya berlibur bersama ke Pangkal Pinang.

Tenang. Ini bukan berdua saja. Tentunya bersama istri kami masing-masing.

Sejak 1,5 bulan sebelumnya, trip ini telah direncanakan dengan kurang matang, mengingat kesibukan Rian Chocho bakulan serbuk obat dan saya sendiri dengan fotokopi yang menumpuk. Walhasil, tidak ada jadwal pasti tentang trip ini kecuali keberangkatan tanggal 22 Oktober 2016.

Tadinya, trip ini akan disertai oleh manajer kondang pabrik curcuma. Apa daya, sang istri yang justru telah lebih dahulu mengajukan cuti justru diminta ikut seminar yang pada akhirnya membatalkan keikutsertaan mereka dalam trip yang tadinya tanpa judul ini. Dengan demikian, hanya ada dua pasang manusia yakni vlogger nyaris terkenal, blogger kurang terkenal, serta istri masing-masing.

Kenapa Pangkal Pinang?

Continue reading