5 Hal yang Harus Diperhatikan Dalam Mempersiapkan Foto Pre-Wedding

cover

Sejujurnya saya trenyuh menyadari blog saya hanya posting sekali di bulan Februari, itupun orderan. Trenyuh tentu saja karena untuk punya nama blog semacam ini saya harus membayar. Wis mbayar kok koyo ngene. Jadi, baiklah, saya coba keluarkan dahulu materi posting yang sudah dipersiapkan sejak zaman Balai Pustaka.

Salah satu hal kekinian yang biasanya dipersiapkan oleh para pengantin era milenium adalah foto pre-wedding. Sebuah hal yang sangat tidak wajib, tetapi kemudian menjelma jadi semacam kewajiban menjelang pernikahan. Sebenarnya, ya, tanpa pre-wedding sekalipun, mempersiapkan pernikahan itu sudah ribet. Maka dari itu melalui posting ini saya hendak memberikan beberapa pedoman yang kiranya dapat membantu teman-teman sekalian menghindari keribetan pre-wedding sebagai suplemen dari keribetan lain yang sudah ada.

Sebelumnya, kenapa sih harus pre-wedding? Kita tidak membahas soal akidah dan lain-lain, ya. Tapi begini, pada umumnya foto kedua mempelai dalam keadaan bergaya akan dibutuhkan dalam proses jelang pernikahan. Sebut saja, jika calon pengantin maupun keluarga ingin menampilkan foto calon pengantin di undangan. Kan nggak mungkin menggunakan pas foto maupun foto waktu bayi. Selain itu, foto pre-wedding juga digunakan sebagai pengenal gedung. Saya pernah kesasar di Palembang karena ada 2 nikahan dengan gedung punggung-punggungan. Nyaris saya keliru karena saya masih di gedung yang depan. Untunglah ada foto pre-wedding dan saya tidak mengenali pengantin di foto tersebut. Bagi sebagian orang, foto pre-wedding juga sangat diperlukan sebagai dekorasi acara resepsi. Jadi, kembali lagi, pre-wedding adalah kebutuhan masing-masing. Kalau nggak butuh, ya nggak mesti juga.

Nah, jadi apa yang harus diperhatikan?

1. Cost!

Pertama-tama adalah duit! Tentu saja demikian, mengingat biaya pernikahannya sendiri juga sudah mahal. Bagi yang uangnya tidak berseri tentu tidak masalah, namun bagi yang budgetnya mepet tapi kudu pre-wedding tentu harus dihitung-hitung. Harga foto pre-wedding sangat bervariasi dan untuk itulah calon pengantin harus pertama-tama membahas anggaran. Kalau kebetulan punya teman tukang foto–semisal Wikan Yogi–ya soal harga juga harus proporsional. Jangan mentang-mentang teman, minta gratis. Enak wae.

Perihal cost ini, ada macam-macam alternatif. Di Bandung, misalnya, sebagian studio memiliki paket foto acara nikahan include pre-wedding. Yang semacam ini terbilang mengurangi biaya, sekaligus juga cek hasil.

Oh, dalam memperhitungkan biaya foto pre-wedding harus dihitung juga biaya penyerta. Make up pengantin, beli properti foto, transportasi ke lokasi pre-wedding (misal mau foto ke Maladewa), ongkos fotografer dan krunya, konsumsi fotografer dan krunya, akses masuk ke tempat foto (sekadar info, untuk pre-wedding di Tahura Bandung itu lebih dari 200 ribu masuknya doang, lho), hingga biaya-biaya lainnya. Hitung semua, baru putuskan!

2. Konsep

Namanya foto pre-wedding pasti berdua, kan? Maka dari itu konsep juga harus dibahas berdua, eh, bertiga sama yang ambil foto. Kadang konsep orang kan beda-beda. Ada calon suami yang pendaki tangguh, tapi istrinya anak pantai. Kalau begini mau pre-wedding dimana dong? Itulah yang harus dibahas, sekaligus membahas ongkosnya. Tentu saja termasuk properti yang lagi-lagi lari ke ongkos.

Konsep juga sebaiknya dibahas dengan orangtua. Mengingat kalau resepsi, umumnya teman-teman orangtua yang datang. Nggak enak jika milih foto dengan pakai minim, sementara orangtua teman-temannya ahli surga semua. Kasihan orangtua malah jadi omongan. Ya calon pengantin mungkin nggak peduli, tapi ada baiknya meminimalkan kejadian tidak diinginkan.

3. Waktu

Hasil berbincang dengan fotografer pre-wedding, sejatinya waktu yang paling tepat untuk pre-wedding adalah hari kerja. Ya, saat hari kerja, tempat-tempat kece untuk pre-wedding itu terbilang sepi. Namun kalaupun tidak bisa weekdays, ya pilih weekend yang tidak ramai. Ada kisah, sepasang calon pengantin keukeuh ingin pre-wedding di sebuah tempat makan ngehits di Bandung, dan tanggal yang mereka pilih adalah LONG WEEKEND!

Ya kali, kak. Long weekend di Bandung, apalagi di resto ngehits, sudah pasti kayak pasar. Kecuali memang dikonsep untuk pre-wedding di tempat kayak pasar, tentu pilihan semacam ini menjadi kerugian bersama.

Oh, satu lagi, pastikan hasil foto jadi sesuai jadwal pernikahan. Kalau nikahan tinggal 3 minggu lagi, ya dikejarkanlah hasilnya akan selesai pada saat resepsi. Nggak lucu kalau foto nggak jadi pas tanggal nikahan. Asli nggak lucu, itu rugi.

4. Properti

Terkait dengan konsep dan ongkos tentu saja, tapi inti dari bagian ini adalah pastikan juga dengan paket yang dipilih di studio foto. Kayak saya, dapat bonus sewa gaun 1 buah. Nah, otomatis dengan modal properti semacam itu, saya hanya tinggal melengkapi properti dengan jas untuk dapat foto yang ciamik. Satu lagi, jika yang pre-weddingnya jauh-jauh, pastikan properti yang dibawa tidak ngeribeti. Misal itu tadi mau ke Maldives, kita tidak mungkin pakai properti spanduk kegiatan PNS yang 8 kali 3 meter. Ngeribeti. Gitu.

5. Fisik

Sejujurnya, foto pre-wedding itu melelahkan. Dari pose asyik dengan senyum tulus sampai pose embuh dengan senyum jengah. Kaki juga pegel kalau kebanyakan berdiri, apalagi calon pengantin wanita dengan sepatu setajam siletnya. Maka, faktor fisik ini harus sangat disiapkan. Kalau memang lagi sakit, ya reschedule saja–jika memang bisa. Hasil foto, memang bisa diedit oleh studio tapi itu kan beberapa saja. Mosok mau upload foto pre-wedding dengan hidung meler? Ish.

Sudah, ya, 5 aspek tapi rasanya sudah cukup memadai untuk dipersiapkan jelang melakoni foto pre-wedding. Selamat mempersiapkan!

Advertisements

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s