Treats by Traveloka Eats Dulu, Ngopi Murah Kemudian

Buat anak beasiswa seperti saya, tanggal belasan Februari adalah tanggal yang sangat tua. Bukan apa-apa, soalnya kiriman dari penyedia beasiswa baru akan ada lagi Maret karena pengirimannya per termin. Sementara, termin yang lalu tentu saja sudah habis duluan karena bulan Desember banyak kepentingan.

Padahal lagi, sebagai mahasiswa kan saya juga banyak pikiran. Apalagi mahasiswa yang bapak-bapak, eh, bapak-bapak yang mahasiswa, sebagaimana Rancangan Undang-Undang Ketahanan Keluarga yang lagi hits itu saya harus bertanggung jawab pada rumah tangga.

Saya jadi ingat Arsenal yang tampil begitu gamang di Liga Inggris, sekalinya dibawa piknik ke gurun balik-balik langsung menang 4-0 dari Newcastle. Bahwasanya piknik itu penting, tetapi karena saya lagi nggak punya uang dan kuliah juga nggak bisa ditinggal, maka opsinya hanyalah ngopi.

Pada intinya, saya butuh ngopi. Apalagi pada deraan tugas yang begitu deras seperti saat ini.

Karena sudah tidak tertahankan, maka dalam perjalanan ke kampus saya stop dulu di daerah Kebon Sirih. Jadi, demi pengiritan dan karena suasana jalur Bogor belum kondusif, dari Stasiun Tanah Abang ke kampus saya naik Metro Trans alih-alih ojek online.

Namanya juga lagi miskin.

Kalau pas dapat yang Gondangdia, saya suka berhenti di Halte DPRD DKI Jakarta. Sambil menunggu bis yang Tanah Abang ke Kampung Melayu via Cikini, saya anteng dulu di halte DPRD tersebut. Karena hasrat ngopi tidak tertahankan, jadilah saya membuka aplikasi Traveloka yang ada di gawai jadul saya.

Di aplikasi Traveloka, saya meluncur ke Traveloka Eats. Sebagaimana pada kesempatan terdahulu saya pakai Traveloka Xperience demi penghematan mainnya Isto–anak saya, maka saya yakin bahwa melalui Traveloka Eats saya akan mendapat promo yang ciamik untuk sekadar ngopi. Ngopi dulu, daripada gila. Gitu katanya.

Treats by Traveloka Eats

Nah, begitu masuk Traveloka Eats saya langsung meluncur ke fitur Treats by Traveloka Eats. Kebetulan, ada lapak ngopi yang cuma di seberang jalan dan ada hidden gems-nya! Yiha!

Treats by Traveloka Eats

Jadilah saya menyeberang jalan menuju Yellow Truck Coffee yang ada di gedung Trio, kurang lebih di seberang Lemhanas. Lokasi tempat ngopinya ada di lobi gedung tersebut dan begitu masuk saya bisa langsung mendapati informasi bahwa di tempat ini ada Treats by Traveloka Eats.

Treats by Traveloka Eats

Tentu saja pertama-tama saya harus konfirmasi perihal promo yang tersedia. Sesudah itu, saya pencet Get Deals dan kemudian Use Deals. Pada posisi ini kemudian muncul jumlah yang harus kita bayar.

Treats by Traveloka Eats

Sesudah melakukan konfirmasi harga dengan kasir, kita tinggal input nominal yang dimaksud dan akan langsung menuju skema pembayaran Traveloka. Pembayaran bisa dilakukan melalui berbagai channel yang biasa juga kita pakai di Traveloka untuk beli tiket ataupun pesan hotel. Kalau biasa pakai Traveloka ya langsung secepat kilat bisa terbayar.

Treats by Traveloka Eats

Nanti di gawainya toko, akan ada notifikasi bahwa pembayaran sudah masuk, sehingga kita bisa mendapat struk. Tidak lama kemudian, saya segera mendapatkan kopi yang dibutuhkan oleh otak demi kelangsungan studi yang lama-lama ternyata berat juga.

Treats by Traveloka Eats

Ngomong-ngomong, kalau nanti kiriman dari penyedia beasiswa tiba, saya tentu ingin menggunakan Treats by Traveloka Eats lain yang persentasenya lebih gede, tentunya sambil bawa anak dan istri. Sebab, dalam perspektif saya, #PengalamanMengenyangkan akan lebih cuan kalau digunakan ketika makan beramai-ramai karena promo yang diberikan jadi lebih yahud dan terasa di kantong.

Oya, kalau bingung lagi ada offers apa yang tersedia di sekitar, maka bisa eksplorasi di Traveloka Eats karena banyak informasi yang tersedia di sana untuk jadi bahan memilih-milih Treats paling ciamik sebagai hidden gems yang disediakan oleh Traveloka Eats.

Demikian saja pengalaman ciamik saya bersama Treats by Traveloka Eats, sehingga saya pada akhirnya bisa ngopi dengan sedikit tenang karena bagaimanapun ngopi dengan harga promo itu lebih menenangkan dibandingkan ngopi pakai harga biasa. Ya, namanya juga sobat misqueen~

#JadiBisa Asyik Pesan Tiket Kereta Api Bersama Traveloka

Salah satu keindahan hidup adalah bercengkerama dengan Istoyama, buah hati saya yang usia begitu muda belia dalam urusan hidup di dunia. Obrolan kami itu begitu cair dengan kode haw-haw-haw yang mungkin sama-sama tidak kami mengerti, tetapi kami selalu mencoba untuk saling memahami.

Termasuk ketika pada suatu malam, sepulang kerja, saya mengisahkan padanya beberapa peristiwa jelang kelahirannya.

“Jadi gini, Nak. Sewaktu kamu masih orok, Bapak dan Mamah memang memutuskan Bandung sebagai tempat kelahiranmu dengan berbagai pertimbangan yang bisa dibaca dalam Cerita Suami Season I. Semua sudah Bapak tulis di posting itu. Konsekuensinya, Bapak kudu siap bolak-balik Jakarta-Bandung tiap pekan. Sebenarnya, nggak bolak-balik juga nggak apa-apa, asalkan rela melepaskan keimutan kamu.”

“Haw-haw-haw…” ujar Istoyama.

Saya lantas menyambung, “Bapak sih, No! Maka, setiap Jumat sore atau malam Bapak sudah harus punya tiket Kereta Api ke Bandung dan sebaliknya saya juga harus punya tiket pulang ke Jakarta untuk Minggu malam atau Senin dini hari. Sebuah keruwetan tersendiri yang bahkan sampai membuat Bapak bikin tabel yang terdiri dari hari dan tanggal, nama kereta, dan kode booking mengingat pada suatu periode Bapak punya 8 tiket perjalanan, alias 4 kali pp yang lumayan bikin bingung saat di depan counter check in. Apalagi, tiketnya bervariasi dari Argo Parahyangan baik biasa, premium, maupun fakultatif, serta satu lagi Serayu.

“Hao-hao. Haw..”

“Untunglah, Nak, dalam era ‘kids zaman now’, semuanya telah dipermudah sebagaimana pipis telah dipermudah dengan urinoir otomatis atau kamu bisa pipis biasa saja dalam lindungan diapers. Parameter kemudahan yang Bapak bilang tadi tampak dalam hal mempersiapkan tiket perjalanan menggunakan layanan tunggal PT Kereta Api Indonesia (KAI) ini.”

Kepala gundulnya usrek-usrek di kasur, antara haus tapi masih ingin mendengarkan cerita Bapak.

“Ya, sekarang tidak perlu datang ke stasiun dan mengisi form sambil berdesak-desakan di loket stasiun ala generasi 90-an karena PT KAI telah menjalin kemitraan dengan banyak penyedia, salah satunya Traveloka yang pasti semua orang sudah tahu. Blog Bapak saja sudah berulang kali mengulas layanan yang tadinya adalah tempat paling yahud mencari harga tiket dan kini menjelma semakin komplit dengan aneka layanan yang bikin kita #JadiBisa macem-macem. Salah satunya, yha, tiket kereta api.”

Mata Istoyama melotot, melihat ke sekeliling. Sejurus kemudian keluarlah gumoh. Duh.

Sembari mengambil tisu dan mengelap gumohnya, saya berkata, “Traveloka itu sponsor Liga 1 dan partner resmi KAI. Jadi, dipastikan terpercaya dan tiket yang dibeli di Traveloka dipastikan langsung terkoneksi ke database KAI sehingga tiket yang kita dapatkan di email maupun di app adalah tiket beneran, bukan hoax kayak banyak hal di zaman sekarang, Nak.”

“Haw-haw-haw-haw?” Istoyama bersuara yang saya terjemahkan sebagai, “Lantas, mengapa kita kudu menggunakan Traveloka, Pak?”

“Sederhana saja, Nak. Traveloka menawarkan kemudahan-kemudahan dalam penggunaan baik aplikasi maupun jika pakai laptop. Selain juga layanannya yang sudah dikenal responsif. Salah satu yang menarik adalah kita mudah untuk memasukkan tujuan. Semisal Bapak mengetik ‘Jakarta’ dalam pencarian, maka kita bisa mendapati pilihan stasiun yang tersedia di Jakarta, mulai dari Gambir, Pasar Senen, hingga Jatinegara. Sebaliknya, ketika Bapak mengetik Cimahi, langsung muncul tulisan ‘Bandung’ dengan ‘CMI’ di bawahnya. Bagi yang sering beli tiket seperti Bapak mungkin nama stasiun bukan masalah karena sudah jadi hafalan. Akan tetapi, bagi mahasiswa yang mau interview dari Jogja ke Bandung, misalnya, tentu tidak semudah Bapak. Artinya, kemudahan yang diberikan Traveloka akan sangat membantu dalam pencarian.”

Saya kemudian melanjutkan, “Begitu stasiun awal dan akhir sudah dimasukkan, ada fitur lain yang juga bisa mempermudah yakni filter. Filternya unik dan khas Traveloka karena dapat mengelompokkan keberangkatan ke pagi, siang, atau malam. Ini juga mungkin tidak masalah jika tiada bagi orang-orang yang sudah paham rute. Akan tetapi, merupakan fitur yang sangat ampuh bagi yang sekali-kali jalan.”

“Selain itu, Nak, Traveloka juga menyediakan Passenger QuickPick jika kita menggunakan aplikasi yang dapat dipakai di PlayStore dan AppStore. Beli tiket kereta api itu agak ribet, lho, karena kudu mengisi nama lengkap–dan benar–berikut nomor KTP yang panjang minta ampun itu. Dengan Passenger QuickPick, Bapak tidak perlu lagi mengeluarkan KTP, menaruh di atas meja, mengetikkan nomor KTP, kemudian KTP-nya malah hilang. Kan kasihan.”

“Haaawww….”

“Traveloka juga menyediakan fitur pilih kursi sehingga yang berpasang-pasangan tetap bisa berduaan dan bikin iri hati depan dan belakangnya. Nanti yang semacam ini akan kita gangguin dengan paripurna. Fitur yang ini menurut Bapak juga disajikan dengan responsif dan mudah, terutama bagi perjalanan yang lagi sepi dan bisa eksplorasi gerbong demi gerbong. Oya, untuk tips naik kereta api ke Bandung utamanya kelas ekonomi non premium, jika dari Jakarta ke Bandung pilihlah nomor besar dan sebaliknya dari Bandung ke Jakarta pilih nomor kecil. Niscaya perjalanan kita tidak akan terbalik, Nak. Untuk premium, Bapak belum dapat polanya karena beberapa kali naik beda melulu.”

Istoyama tampak sudah cukup lelah mendengar kisah Bapak. Maklum, dia masih begitu muda belia.

“Nah, mengingat jarak Jakarta-Bandung terbilang dekat dan pekerjaan Bapak memang suka aneh-aneh, jamnya seringkali perjalanan Bapak untuk melihat kamu butuh penyesuaian yang mepet sehingga kadang baru dapat kepastian jam 2-3 siang untuk berharap bisa berangkat jam 6 sore karena langsung dari kantor. Untunglah, Traveloka menyediakan layanan bisa order mepet hingga 3 jam sebelum keberangkatan, sesuatu yang menjadi keistimewaan dari pesan tiket kereta api di Traveloka. Selain itu, Nak, Traveloka juga ada diskon channel dan kode unik yang jatuhnya bukan menambah, tapi mengurangi tagihan. Kan sisanya lumayan buat tambah-tambah beli popok kamu.”

“Haw-haw-haw. Ihik-ihik-ihik. Huwaaaa…..”

Sumber: @ariesadhar

Istoyama sudah menangis, setidaknya urusan Bapak sudah kelar karena habis ini akan muncul Mamah dengan ASI-nya. Nggak apa-apa, tugas Bapak ya beginilah, mengajarkan anak agar #JadiBisa mandiri dan tidak netek saja dengan orangtua. Supaya nanti kalau sudah menikah sekalipun, Istoyama bisa hidup di atas kakinya sendiri.