Mengintip Masa Depan Gemilang Indonesia di Indonesia Development Forum 2022

Pembukaan IDF 2022 oleh Sekretaris Kementerian Bappenas (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Bagaimana rasanya jika dalam 2 hari, hidup kita dipenuhi oleh ide dan inovasi? Antara excited dan optimis, bercampur keraguan dan tendensi apatis terjadi. Hal itulah yang terjadi ketika saya berada di tengah-tengah acara Indonesia Development Forum 2022 tanggal 21-22 November 2022 silam.

Oya, sebagai pendahuluan mungkin saya perlu menyebut bahwa kalaulah ada suatu rangkaian kegiatan yang panjangnya (ternyata) minta ampun karena terdampak pandemi COVID-19, maka kita harus menyebut Indonesia Development Forum 2022 sebagai salah satunya.

Begini saya ceritakan dahulu…

Saya kebetulan mengikuti Call for Submission (CfS) di IDF 2021 pada kategori Ide dan kebetulan pula masuk list. Sebagai gambaran, kala mengikuti CfS tersebut, status saya adalah pegawai tapi non-aktif karena tengah menjadi mahasiswa pascasarjana Ilmu Administrasi Universitas Indonesia. Mendekati akhir tahun 2021, saya mendapat surel bahwa kegiatan ditunda sebagai dampak pandemi. Di sisi lain, saya kemudian menanggalkan status mahasiswa dan kembali menjadi remah-remah birokrasi pada umumnya.

Karena posisinya adalah saya sebagai mahasiswa UI, maka seluruh kontak terkait IDF ada di email UI saya. Email itu memang masih ada, tapi sesudah lulus tentu saya sudah jarang-jarang buka. Eh kok ya pada awal tahun saya melihat Instagram IDF dan melihat nama saya ada di dalam salah satu publikasi. Saya kemudian membuka email kampus itu dan melihat bahwa prosesnya ternyata sudah berlangsung nyaris 3 minggu dan saya baru tahu 3 hari sebelum sesi pemaparan ide.

Namanya orang Indonesia, saya masih bisa bilang, “untungnya masih kebaca…”

Sesudah sesi pemaparan tersebut, masih banyak rangkaian kegiatan lainnya di berbagai kota di Indonesia dengan kemudian acara pamungkasnya di Bali pada tanggal 21-22 November 2022. Kebetulan sekali, saya berkesempatan mengikuti langsung kegiatan puncak Indonesia Development Forum 2022 tersebut.

Sebagai remah-remah birokrasi, saya tentu menginap di hotel yang berbeda dengan lokasi kegiatan. Dengan semangat tinggi, saya datang pagi-pagi untuk bisa mengikuti kegiatan IDF2022 tanpa kehilangan 1 sesipun. Maka pada pukul 07.00 WITA alias 06.00 WIB, yang notabene itu adalah jam saya keluar dari rumah pada hari-hari biasa, saya sudah tiba di Movenpick Resort Jimbaran, Bali.

Pernak pernik IDF 2022 menghiasi hotel. Saya melangkahkan kaki ke arah belakang untuk turun tangga 2 kali. Seketika makna development langsung terasa begitu melihat pintu masuknya yang sangat futuristik berikut ini:

@ariesadhar

Indonesia Development Forum 2022

♬ Film Favorit – Sheila On 7

Kegiatan ini sungguh kaya akan perspektif. Bagaimanapun, development memang harus berasal dari ragam ide dan perspektif. Pada sesi pembuka, peserta disuguhi dengan perspektif dari Prof. Ricardo Hausmann selaku Director of Harvard’s Growth Lab and the Rafik Hariri Professor of the Practice of International Political Economy at Harvard Kennedy School. Beliau memang dari jauh, tetapi ide yang disampaikan tidak hilang arah sama sekali dan dapat ditangkap oleh peserta kegiatan dengan optimal.

Salah satu keypoint dari paparan beliau adalah tentang transformasi dengan logika scrabble. Begini. Kalau kita main scrabble, mengubah BEAR ke ZEBRA yang secara jumlah berbeda (4 dan 5 huruf) jauh lebih mudah daripada mengubah BEAR ke LION. Soalnya, BEAR ke LION itu membutuhkan perubahan total terhadap 4 huruf yang ada. Sementara dari ZEBRA ke BEAR kan cuma nambah Z.

Pesan ini terkait dengan karakteristik komunitas yakni complexity, connectedness, dan dari market size. Hubungan yang dimaksud adalah seberapa dekat antar produk. Jika kita bisa membuat 1 produk, maka kita kembangkan produk lain yang terkait terlebih dahulu dengan logika BEAR ke ZEBRA.

Kemudian, sampailah pada sesi tanggapan oleh mantan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bapak Bambang Brodjonegoro, yang menggarisbawahi beberapa poin kunci dari paparan Prof. Hausmann.

Pertama, data menyebut bahwa Indonesia ada masalah pada diversifikasi produk. Kita bahkan kalah dari Vietnam dan Srilanka. Sebagai mantan pegawhy di pabrik ekstrak bahan alam berbasis riset awalnya saya tidak setuju. Akan tetapi, Pak Bambrod menyebut tentang minimnya Research and Development (RnD) di Indonesia. Dan rupanya itu baru disadari oleh beliau ketika berada di Kementerian Riset dan Teknologi.

Iklan sedikit, video saya pas kuliah tentang pentingnya RnD:

Jadi, kita itu cenderung menjadi tukangnya tapi kurang dalam product development. Dan saya kemudian baru sadar bahwa teman-teman saya yang pintar-pintar di kantor lama sebagian besar awet betul di posisinya ya karena itu memang sudah merupakan tempat terbaik. Sulit buat S3 Bioteknologi untuk pindah ke perusahaan yang mengedepankan riset. Cocok betul dengan yang disampaikan Pak Bambrod.

Sebagai produk kebijakannya di periode akhir Kementerian Ristek, Pak Bambrod memperkenalkan tax deduction, yang diharapkan mampu membuat perusahaan mau berinvestasi lebih pada RnD untuk pengembangan bisnis dan menghasilkan produk yang kompetitif. Data di Indonesia menyebut bahwa selera perusahaan untuk melakukan RnD masih terbatas. Kalaulah ada contohnya yang produktif antar lain adalah food processing. Industri jenis ini menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk RnD dan menghasilkan new product. RnD-nya pun nyambung dengan market research sehingga inovasi itu ada yang beli.

Sesudah menikmati hidangan, maka sesi beranjak ke pemaparan dari Bapak Suharso Monoarfa, Menteri PPN/Kepala Bappenas yang membuka pemaparannya dengan durasi Indonesia terjebak di middle income trap yang 29 tahun dan berbeda bermakna dengan negara tetangga seperti Korea Selatan, Jepang, Hongkong, dan Singapura yang lolos dari middle income trap pada durasi 18-20 tahun. Pak Menteri juga menyebut bahwa Cile bisa 14 tahun.

Pendorongnya apa dong? Jelas industri manufaktur!

Permasalahan mendasarnya dari dulu ternyata sama ketika ada perspektif baik pemangku kepentingan maupun periset bahwa, “Kalau lebih murah beli, kenapa kita harus bikin?”

Hal ini yang menyebabkan insinyur akhirnya bukan jadi maker malah jadi marketer. Ujungnya, kita menjadi generasi enigma yang hanya mengekor dan menjadi pemakai. Faktor stakeholder menjadi penting dan Pak Menteri menceritakan kisahnya di masa lalu tentang garbarata. Pengalaman ini jelas spesifik dengan pengalaman kerja beliau di PT Bukaka yang saat ini begitu mudah kita lihat begitu keluar dari pintu pesawat.

Intinya sih di dalam industri, penting untuk memahami di mana intervensi yang pas oleh pemerintah pada value chain, baik dalam fiskal, penguasaan teknologi, atau pilihan lain.

Kembali sedikit ke Pak Bambrod, ada 4 sumber pertumbuhan Indonesia yang sangat dekat yakni manufaktur (industri pengolahan), servis (khususnya ekspor jasa), ekonomi digital, dan ekonomi hijau. Nah, intervensi yang dimaksud lebih spesifik dapat dilihat pada paparan hari berikutnya.

Pada hari kedua, ruangan yang bernuasa futuristik itu tetap tidak berubah. Tetap memperlihatkan aura development dan tentu saja tetap ramai. Pada sesi ini, sebanyak 4 perwakilan dari CfS memberikan paparan singkat di hadapan Bapak Airlangga Hartarto, Bapak Agus Gumiwang Kartasasmita, dan di depan Bapak Suharso Monoarfa yang makbedunduk sudah ada di Jakarta. Padahal baru kemarin di depan situ memberikan pemaparan.

Konsep pada hari kedua adalah Pemerintah Mendengar. Jadi, muatan yang didengar itu dimaksudkan pada 4 CfS dari berbagai sudut pandang. Setiap ide tersebut kemudian dikomentari langsung oleh ketiga Menteri. Model-model begini baik juga jika diterapkan dalam forum-forum lainnya. Bapak Menteri PANRB, Bapak Komisioner KASN, dan Bapak Plt Kepala BKN bisa lho berlaku sama untuk sesi khusus ASN. Bapak Menteri Kesehatan, Ibu Kepala BPOM, dan Bapak Kepala BKKBN juga bisa hadir dalam sesi yang sejenis pada topik kesehatan.

Pada kesempatan pertama, Ibu Samintang dari SDG Center Unhas memperkenalkan soal kemasan berbahan dasar porang dan ekstrak daun bidara sebagai edible bioplastic. Transformasi ini tidaklah mudah, apalagi untuk mempengaruhi pola pikir dan pola hidup mitra. Akan tetapi, ada pendampingan pada level mikro, meso, dan makro yang menjadi penting.

Kalau dipikir-pikir, konsepsi pendampingan ini kan juga dilakukan oleh BPOM pada UMKM Pangan Olahan untuk memperoleh izin edar. Masuk target kinerja pula. Cuma kok ya tidak muncul. Mungkin pegawainya terlalu sibuk bekerja sehingga upaya menonjolkan ide-idenya jadi sedikit terlewatkan.

Dari perspektif industri, ada Bapak Ida Bagus Nama Rupa dari Bali Cokelat yang menekankan soal kompleksitas tadi. Jadi, bahan baku kakao ya dari Indonesia, dibeli secara kompetitif, lalu diekspor dalam bentuk produk jadi. Diperkenalkan juga dengan konsep edu-tourism.

Nah, model begini saya pernah ketemu di Tomohon, Sulawesi Utara. Namanya Tuur Ma’asering dan komoditinya adalah olahan minuman khas Minasa yaitu saguer. Jadi, sebenarnya ide-ide ini sudah ada di Indonesia. Tinggal digulirkan menjadi lebih optimal saja.

Bicara soal model industri, kawasan menjadi penting. Di IDF 2022 hadir Bapak Ngurah Wirawan dari Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Grand Batang City. KIT Batang sendiri boleh dibilang adalah kawasan industri masa depan di Indonesia. Saat ini, sejumlah perusahaan sudah memiliki tempat.

Luar biasanya, sejumlah industri penting terkait teknologi masa depan seperti Foxcon, Tesla, dan Volkswagen sudah antri d Batang. Hal ini menciptakan tantangan juga dalam hal kapasitas tenaga kerja sehingga dibutuhkan deteksi sejak awal untuk merancang sumber-sumber tenaga kerja agar match dengan teknologi maju yang masuk.

Bicara soal kawasan industri, hadir pula Bapak Yusliando dari Bappeda Kalimantan Timur. Ada 2 kawasan industri yang dikedepankan yakni Kariangau dan Buluminung. Kedua kawasan ini memiliki akses dekat dengan IKN Nusantara. Kaltim yang identik dengan penggalian dan pertambangan–karena kontribusi ekonominya mencapai 55%, tampaknya sudah bersiap untuk transformasi dengan target 45% dari industri.

Pada awal kegiatan, Sekretaris Kementerian PPN, Bapak Taufiq Hanafi menyebut bahwa, “IDF adalah forum lintas pemangku kepentingan yang mewadahi diskusi produktif dalam mengatasi berbagai isu strategis pembangunan Indonesia”. Hal ini yang kemudian tergambar pada sesi Pemerintah Mendengar.

Sesudah pemaparan dari pemenang CfS, Menteri Perindustrian memberikan tanggapannya. Ditekankan oleh Menperin bahwa terdapat 7 paradigma baru industrialisasi yakni digitalisasi, renewable energy, hilirasi, green industry, supply chain, perluasan industri di luar jawa, dan kesiapan SDM industri.

Sejalan pula dengan yang disampaikan oleh Pak Bambrod perihal food processing, terdapat benang merah dengan paparan Menperin perihal 7 sektor utama industri di Indonesia yakni makanan dan minuman, tekstil dan busana, otomotif, kimia, elektronik, farmasi serta alat kesehatan. Kontribusi sektor ini mencapai 70% PDB dan ekspor, serta berkontribusi pula pada 65% tenaga kerja. Ternyata saya sebagai mantan budak korporat, tadinya adalah bagian yang berkontribusi pada PDB negeri ini ya.

Ada tambahan informasi dari Menperin perihal P3DN. Dalam waktu dekat akan muncul regulasi perhitungan TKDN khusus industri kecil sehingga pelaku usaha dapat melakukan self-assessment dari produknya, kemudian diinput, dan dalam waktu dekat alah rilis sertifikasi TKDN. Prosesnya free of charge alias gratis-tis-tis. Selain itu, untuk mendorong belanja pemerintah, maka sebanyak 1 hingga 1,5 juta produk akan ditargetkan masuk ke e-katalog.

Sebagai wakil dari Presiden, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Bapak Airlangga Hartarto memberi penekanan mengenai digitalisasi dan dampaknya pada revolusi industri dan disrupsi. Untuk itu, Generasi Z dan milenial diharapkan dapat mengoptimalkan digitalisasi. Salah satu syaratnya adalah negara yang demokratis, kuat, dan bersih. Ide-ide yang ada hendaknya segera dimatangkan dan dikolaborasi. Kolaborasi tidak hanya berhenti pada kontribusi ide, tetapi juga sampai pada tahapan eksekusi.

Sebenarnya ada sesi-sesi khusus yang lebih mendetail untuk ide-ide tersebut, tapi kok ya nanti bakal terlalu panjang untuk sebuah posting blog. Lebih lengkapnya dapat kita simak di YouTube Bappenas RI berikut ini:

Sekali lagi, saya sangat berharap skema semacam ini diberdayakan oleh K/L lain dalam ruang lingkup kinerjanya masing-masing. Bukan apa-apa, biasanya saya mengikuti forum itu judulnya konsultasi publik, tapi publiknya dikasih sesi 10 menit karena presentasi instansi pemerintahnya kepanjangan. Sementara dalam forum IDF ini, peserta CfS diberi ruang yang luas dan bahkan beberapa kali kesempatan untuk memaparkan idenya.

Selamat untuk Bappenas atas kesuksesan IDF 2022. Semoga tahun depan ada lagi, biar saya ikutan lagi. Amin~

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.