Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

Salah

Barusan baca twit seorang teman–yang kebetulan baru kerja beberapa bulan.

“Lagi-lagi salah, lagi-lagi dimarahi…”

Paling seru memang mengamati proses seseorang dari kondisi fresh graduate dan kemudian masuk terjun nyelam nyebur di dunia kerja yang keras. Seru, karena ternyata tidak sedikit yang kurang ketahanannya. Itu dia, kenapa kemudian ada yang 1-2 minggu masuk kerja, sudah resign, kabur, atau jenis menghilang lainnya.

Kebetulan, bulan Mei ini adalah bulan yang penting untuk karier saya. 5 Mei 2009 adalah kali pertama saya berubah status dari pengangguran jadi pekerja. Dan 11 Mei 2011 adalah kali pertama saya pindah kantor. *walaupun masih 1 entity*

Baca twit di atas, saya mendadak ingat bulan-bulan awal bekerja. Itu mungkin masa-masa paling suram dalam kehidupan saya. Bekerja itu excited pada awalnya, lalu 1-2 minggu kemudian gundah, dan 1-3 bulan berikutnya adalah mulai pusing penuh penyesalan. Hahaha. Nggak berlaku umum kok, tenang saja.

1 bulan pertama bagi saya adalah full orientasi, via buku PPIC Pak Gasperz dan via peninjauan lapangan. Dasar saya itu orangnya kalau nggak ngelakuin, nggak paham, maka 1 bulan pertama saya berujung buyar. Iya, beneran buyar.

Setiap Jumat, yang ada saya ini PASTI dimarahi sama bos, karena hari itu adalah hari presentasi. Bahkan ketika presentasi di Produksi, saya digoblokin banget, dan down sekali habis itu. Ya sudah, untuk ada gaji pertama yang jadi mood booster.

Lalu di bulan Juni, di bulan kedua, saya sudah mendapat bahaya luar biasa ketika Production Planner existing cuti 2 minggu. Dan… saya si unyu-unyu labil inilah yang harus menggantikannya membuat jadwal produksi untuk perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia. Iya, saya, yang bahkan belum paham isi spreadsheet dengan berat 3 MB itu. Hasilnya? Saya sampai Rabu malam masih berkutat di kantor, biasanya Rabu sore planning itu sudah keluar. Hehehe. Dan selanjutnya, ada kasus ketika saya menciptakan inefisiensi saat menurunkan 2 WO yang isinya sama, tapi yang 1 nyusul, dan yang 1 kadung dikerjakan. Yeah! Bubar! Huft!

Masih di bulan yang sama, saya harus konversi MPS menjadi MRP. Di sela-sela proses yang sangat manual, saya sampai masuk hari Sabtu, seorang diri di office yang pas di posisi saya duduk itu dikenal horor. Untung nggak diganggu apapun/siapapun. Dan.. sudahpun begitu, saya masih lanjut bawa laptop kantor ke kos, untuk kemudian melanjutkan pekerjaan itu. Hasilnya? Ada produk toll di A, yang saya masukin ke B, ada produk toll di C, yang saya masukin ke F. Bubrah pokoknya. Dan.. saya masih menghela nafas sesudah itu.

Masuk kantor jam 06.30 dan pulang kantor jam 21.30 (itupun kalau saja angkot masih ada yang lebih malam, pasti saya pulang lebih malam). Dan lembur itu berakhir duka dengan kesalahan-kesalahan yang berulang. Dimarahin sih nggak, karena orang kantor paham saya masih unyu. Tapi dari nada, apalagi Mbak Tata yang ngomong biasa aja udah kayak marah-marah (piss mbak.. hehe..), berasa berdosa sih bikin kerja salah melulu.

Sungguhpun saya kadang heran kok masih bisa tahan ketika itu. Sudahlah saya nggak punya teman banyak, kerjaan salah melulu, dimarahin sana-sini (utamanya orang produksi), jauh dari rumah, dan lainnya ngumpul jadi satu. Tapi pada akhirnya saya sadar itu yang membuat kuat 🙂

Saya lalu mulai ‘bangkit’ dengan belajar dari setiap kesalahan, dan kebetulan lagi ada implementasi sistem enabler baru. Saya seriusin di situ, baru kemudian mulai berasa angkat nama.

Sempat agak tersinggung ketika Mbak Tata menawarkan saya jadi penggantinya untuk PIC sistem baru itu, tapi bos malah menunjuk nama seseorang yang baru akan masuk 1 bulan lagi. Agak tersinggung yang membawa nikmat karena akhirnya saya menjadi lebih terpacu untuk belajar sistem baru itu, dan hingga 2 tahun kemudian, saya bahkan bolak-balik kantor pusat buat ketemu konsultan pengembangan sistem itu.

Ini belum termasuk kengawuran saya membuat rolling forecast untuk aliansi ya. Nggak terhitung banyaknya kengawuran saya mengisi form milik aliansi-alinasi ternama di dunia itu, yang untungnya kefilter sama bos.

Puncak dari segala salah itu adalah di rolling forecast saya salah input data, dan kemudian berlanjut ke Marketing Head, dan saya dapat email yang paling saya ingat sepanjang masa.

sangat mengenaskan

Email singkat, padat, dan membunuh.. Hahahaha.. *sekarang aja ketawa, dulu mah nangis*

Sejak itulah, untuk setiap data yang diminta, pasti saya mikir berkali-kali sebelum diserahkan. Sejak itulah, untuk setiap tugas yang diberikan, saya akan review terus menerus sampai deadline-nya tiba. Cuma gegara nggak ingin dapat email “sangat mengenaskan” lagi. Hehehe.

Begitulah. Sampai sekarangpun saya ya masih suka salah. Cuma memang kadarnya lain. Sekarang saya kerjanya nyalah-nyalahin orang *loh*. Jika kemudian saya pindah company atau pindah entity, mungkin akan beda lagi kali ya. Ya memang pasti tidak secupu 4 tahun silam, karena siklus manufaktur sudah nempel di otak saya.

Salah itu pasti terjadi, sesempurna apapun kita berusaha. Tinggal bagaimana kita memastikan salah itu tidak terjadi lagi. Itulah peningkatan kinerja yang kita dapat rasakan. Sederhana, tapi manis. 😀

Tentang Istri

Ehm, followers setia blog ini pasti paham bahwa judul di atas tentu tidak mengacu pada si empunya blog. Yaiyalah, manusia yang membayar 250 ribu setahun untuk domain blog ini adalah manusia yang belum punya calon istri sekalipun. Eh, ada, tapi masih di tangan Tuhan. Hahahaha.

Jadi ini murni tentang perspektif.

Di kawasan industri yang fana ini saya mendapati fakta 50%-50%. Ada sebagian wanita tangguh yang bekerja, dan sebagian wanita lain yang tidak kalah tangguh yang memilih fokus di rumah menjadi ibu rumah tangga.

Pada saat yang sama, saya ingat kata-kata Mamak saya.

“Kalau nanti punya cucu, Mamak nggak mau jagain cucu. Enak aje.”

*tepokjidat*

*buru-buru cari mertua baik hati*

Hehehe. Itu kan perspektif. Jadi ya begitulah.

Artinya gini, ada sebagian wanita yang kemudian memilih untuk tetap bekerja setelah punya anak, dan itu otomatis akan mengacu kepada kebutuhan pengasuh. Nah, yang selalu akan jadi bahan pikiran mereka tentu saja begini.

kerja -> cari uang -> uang buat anak

kerja -> waktu habis -> nggak ada waktu buat anak

Bekerja–adakalanya menghilangkan waktu untuk anak, semata-mata mencari uang yang juga untuk anak.

Nah loh!

Sama juga ketika saya ngobrol sama Tere dan Tiwi di Dapur Coet tempo hari. Ngobrol tentang intensitas bos mereka ketemu anak yang bisa dibilang nyaris minim. Tapi, apakah iya, S1 Apoteker macam mereka hendak resign terus jadi ibu rumah tangga?

Jawabannya, nggak. Tapi kenapa? Tere bilang, karena dia dibesarkan di lingkungan ibu yang bekerja.

Lagi-lagi pengaruh masa silam itu penting, dan itu akan sangat berpengaruh pada pilihan.

Ada banyak kasus yang saya dapati selama saya lahir hingga sekarang. Beberapa teman saya memilih untuk tidak membiarkan istrinya bekerja, sementara dia banting tulang. Jadi, nggak ada isu sama sekali soal anak, karena istrinya ada di rumah dan sepanjang waktu untuk si anak. Bahkan dalam kondisi macam inipun, ada yang belum hendak menambah anak.

Tapi ada juga teman saya, suami-istri bekerja, kebetulan istrinya lebih tua, dan kariernya sedang moncer-moncernya. Sebulan, mungkin setengahnya dihabiskan di luar kota. Ketika ketemu, dengan ‘ironis’ dia memperkenalkan pengasuh anaknya, “kenalin, mamanya mereka.”

Ealah.

Juga ada kasus teman yang intensitas pergi jauhnya rendah, tapi karena sama-sama kerja, juga mempekerjakan pengasuh. Ya, ada-ada saja deh. Ada yang pengasuhnya benar, ada yang dua minggu terus resign, dan lain-lainnya. Bahkan kita juga berpikir seribu kali untuk memilih pengasuh bagi anak kan? Salah-salah anak yang dikasihi itu hilang.

Nah, jadi pilih mana?

Entah menurut yang lain, tapi bagi saya model rumah tangga orang tua saya adalah yang terbaik. Kadang-kadang nyesel jadi apoteker ya gini nih. Hehehe.

Orang tua saya keduanya guru, masuk jam setengah 7, pulang jam 2. Separah-parahnya ya pulang jam 4. Selagi kecil, saya dan adek-adek diserahkan pada pengasuh yang datang setengah hari. Yah, saya dulu di bawah asuhan Budhe Dalimin (almarhumah). Tapi proses mendapatkan Budhe juga nggak mudah. Saya yang masih unyu-unyu ini pernah terlempar dari beberapa pengasuhan. Saya pernah dititip ke Maktuo saya–yang kemudian menyerah mengelola saya. Kemudian dilempar ke seorang pengasuh berusia 12 tahun, yang kemudian bikin dada saya biru. Sampai kepada pengasuh yang nonton TV selagi menjemur saya (makanya saya hitam begini).

Terus saya yang belum dapat calon istri ini mikirnya kejauhan? Nanti saya gimana?

Hedeh.

Iya, model ideal rumah tangga orang tua saya itu hanya ideal ketika anak-anak sudah sekolah. Apalagi saya sekolah di tempat yang sama dengan orang tua saya mengajar. Jadilah, berangkat bareng, di sekolah ketemu, pulang nanti jam 4 sudah sampai rumah. Bikin PR, dll, saya sama sekali tidak pernah kekurangan kasih sayang orang tua.

Tapi, untuk level menangani bayi?

Selain kisah saya tadi, kedua adik saya termasuk hoki karena orang tua saya sudah mendapatkan Budhe. Jadi ya bolehlah. Masalah kemudian muncul waktu si Dani nongol. Saya (di usia 9 tahun) mengalami gimana mencari penitipan si Dani. Mulai dari istri tukang sapu sekolah (yang dengan ironis kemudian kabur dari rumah–bertahun-tahun kemudian), terus ke penitipan anak di dekat sekolah (yang penuh nuansa dan dilema, termasuk ngurusi adek saya yang diare–padahal ya pengasuh disana itu dibayar), sampai kemudian dapatlah tetangga depan rumah. Adek saya yang berusia 2/3 tahun sudah akan berada dalam pengasuhan saya dan adek-adek yang lain sepulangnya kami dari sekolah.

Dan kemudian ada banyak hal yang menjadi pikiran saya untuk kemudian berumah tangga. Apakah hendak istri yang jadi ibu rumah tangga atau tidak? Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, adanya malah tambah galau.

Belum lagi, di era hedonisme macam ini, sumpeh deh, saya nggak kuat kalau hanya sendirian menopang keuangan. Bagi saya double income adalah keharusan. Realita mengharuskan demikian, ditambah masa lalu saya yang memang dilahirkan dari keluarga double income. Dobel wae kurang, ono meneh single.

Hingga akhirnya permenungan saya lari ke kisah Cinta Brontosaurus.

Heh? Apa pula ini?

Cinta Brontosaurus itu filmnya Raditya Dika beberapa pekan lagi. Konsep pikirnya adalah, kalau di era cinta monyet (jaman SMP) kita jatuh cinta itu murni karena jatuh cinta. Kalau sekarang? Sesudah lihat, kok cantik, lalu mikir, rumahnya jauh nggak kalau mau diapelin, agamanya cocok nggak, emaknya galak nggak, kakaknya ganas nggak, adeknya cantik nggak, dan seterusnya.

Dalam hal ihwal hendak berumah tangga, meskipun sama siapanya jelas masih kabur sampai sekarang, saya mungkin sudah berpikir terlalu jauh dengan menuliskan ratusan kata di atas. Pada akhirnya, cinta yang seharusnya menjadi dasar malah nggak murni. Bisa jadi demikian.

Begitulah, ada banyak hal yang harus dipikirkan, ada banyak yang hal yang musti direncanakan, dan kadang terlalu banyak hal yang belum perlu untuk dipikirkan dan direncanakan. Yang perlu sekarang adalah memilah dan memilihnya.

Tapi sebelum itu, mari kita cari calon istri dulu ya.

#eaaaaa

Mendadak Sedih

Ketika orang-orang yang kita cintai butuh bantuan, pengennya pasti kita ada disana kan?

Sama persis ketika adek saya opname, besoknya mamak saya ujug2 sudah sampai di Jogja. That’s why saya nggak pernah kasih tahu kalau saya sakit, cek darah, sampai opname sekalipun, KECUALI sudah sembuh kepada orang tua saya. Supaya tidak merepotkan saja sih.

Nah, sepagian tadi saya dikasih aneka link dan kode dan entah apa namanya dari mamak saya. Yang saya pahami sih, itu semacam akun untuk data keguruan di departemen yang duitnya paling melimpah sak Endonesa tapi ngegarap UN wae amburadul.

Kenapa saya sedih?

Karena orang tua saya pasti nggak bisa mengakses segala sistem yang ribet itu. Dan pasti mereka butuh bantuan anaknya. Untung saya ini manusia online, yang selalu online dimanapun karena jomblo.

Kalau lagi begini, pengen rasanya ada di rumah, ngajarin orang tua caranya online yang baik dan benar, menggunakan komputer yang sekarang terbengkalai, memakai kabel telkom yang bayaran bulanannya nggak sampai 80 ribu, dan segala fasilitas yang menjadi lengkap setelah anak-anak kabur dari rumah.

Hahaha.. Melow amat yak?!

Oya, sedikit kritik sih buat penyedia. Mengingat anggarannya yang 20% Endonesa Raya. Meng-IT-kan sistem itu baik. Tapi ada baiknya ditunjang dengan service yang oke juga. Mosok webnya lelet sak umur-umur? Ngalah-ngalahi Manajer Sepakbola di waktu padat? Kan bisa dikasih satu komputer di sekolah buat akses khusus itu. Jadi nggak perlu menyuruh guru mengecek sendiri dengan caranya masing-masing kan?

Lagian ini ya aneh, sertifikasi belum dapat karena ada yang kurang, kurangnya apa, cek sendiri di online. Lahdalah. Minimal yak, summary yang kurang yang bisa diprint, dicetak, distribusi, lalu dilengkapi. Masak sih anggaran yang 20% Endonesa Raya itu nggak bisa cover juga?

Ini mending ya orang tua saya yang punya anak manusia online, lha yang anaknya masih cupu cupu unyu dan ngartinya cuma facebook, gimane?

Mbohlah.

Permainan Hidup

Kamu percaya permainan hidup?

10.55

My sister call me to ask about gastrointestinal drugs, ranitidine, sucralfate, and something like that. My grandmother consume all of that.

13.00

Lunch.

13.17

My editor call me and ask some questions about my book draft. It almost done. It’s a good news.

13.25

I met GA clerk, and tell me that there is a packet for me. I open it, wedding invitation from Hendra. Another good news.

13.26

My sister call me (crying) and said, “Bisa ke Jogja Bang? Simbah meninggal.”

Selamat Ulang Tahun, Bapak!

Hari ini, 14 April 2013, Bapak saya genap berusia 59 tahun (versi yang saya tahu). Ealah, bahkan ulang tahun Bapak sendiri saja simpang siur. Maklum, orang lama.. hehehehehehe..

Sebuah usia yang cukup matang memang. Dan saya amat sangat bersyukur punya Bapak yang kayak Bapak saya. *uopooo maksudeee…*

Maksud saya gini, ya bersyukur punya Bapak yang di usia 59 tahun masih amat sangat bugar. Punya Bapak yang mengajari saya gaya hidup sehat lewat dua hal sederhana: tidak merokok dan rajin berjalan. Di era dari 3 pria, 2 adalah perokok macam ini, punya Bapak yang tidak merokok adalah sebuah kebahagiaan besar. Setidaknya hal itu bisa jadi dasar bagi saya untuk tidak merokok.

Bersyukur juga punya Bapak yang jujur kayak beliau. Ehm, kalau Bapak saya nggak jujur, mungkin hidup saya nggak gini-gini amat. Kalau ingat Bapak, saya ingat seorang teman yang tahu benar Bapaknya (seorang pejabat di kementrian) bertendensi korupsi dan dia lawan mati-matian. Iya, tanpa perlu saya melawan, Bapak bahkan mengajarkan kejujuran itu pada saya.

Jadi ingat jaman dulu pernah nyolong duitnya orang tua, kalau Mamak berapi-api marahnya, Bapak nggak. Saya cuma diajak ngobrol berdua doang, dan rasanya… jlebbbb… Poin integritas itu memang sungguh luar biasa.

Bersyukur juga punya Bapak yang tidak suka bergadang, karena bergadang di usia segitu kurang baik juga. Ya iyalah, gimana mau bergadang kalau nempel kursi dikit udah molor.. *pisss pak..*

Kalaupun ada role model dalam hidup saya, ya Bapak saya ini. Meski memang satu hal yang saya anggap kurang dari beliau. Iya, hanya satu. Ambisi. Tapi entahlah, kalau tak pikir-pikir, jika saja Bapak punya ambisi berlebihan, bisa-bisa beliau sudah tersangkut perkara uang ke uang dari dulu. Apalagi mengingat posisinya sekarang yang bisa dibilang puncak karier seorang guru.

Satu hal yang memang belum bisa SAYA penuhi adalah perkara menantu dan cucu. Salah sendiri nikah di usia matang (32), dan punya anak di usia lebih matang (33) *lalu ditabok…*

Karena Bapak menikah di usia segitu, maka udah jelas kalau teman-temannya sudah pada punya menantu dan cucu. Mengingat teman-temannya menikah 5-7 tahun lebih dulu. Jadi nih, bebannya di saya. Mana jomblo pula.

Oya, Bapak saya juga ketua lingkungan abadi. Bahkan saking abadinya, nama lingkungan (rayon) dua di gereja saya itu sudah memakai nama Bapak. Rayon Santo Matheus. Kami, anak-anaknya, bahkan sering menyebut nama rayon itu dengan nama lengkap Bapak. Saking lamanya Bapak jadi ketua rayon. Hahahaha…

Selamat ulang tahun, Bapak!

Tetap sehat, tetap jujur, tetap lurusssss… (asli, Bapak saya ini beneran pria lurus.. saking lurusnya, kalo nyimpen-nyimpen duit tambahan dan nggak bilang Mamak, tetap bilang ke saya… hihihihi…)

Semoga cepat dapat menantu, dan kemudian cucu. Jangan dibalik.

😀

“Apak Den Kepala Sekolah”

Jangan kaget sama judul di atas, itu semacam Bahasa Minang. Iye, sebagai orang yang numpang lahir dan numpang membesar di Bumi Minangkabau–walaupun sama sekali nggak punya darah Minang–saya kudu ngerti Bahasa Minang.

Artinya: bapak saya kepala sekolah.

Melintir sedikit, judul di atas sering saya dan adikadik saya pakai kalau lagi ketemu. Kira-kira begini:

A diang?! (apa lo?!)
Sia apak ang?! (bapak lo sapa?!)
Apak den kepala sekolah! (bapak gue kepala sekolah!)

Saya perlu tekankan bahwa dua kalimat pertama itu tergolong kasar untuk percakapan. Tapi, ya gitu deh, saya dan adik-adik emang kurang sopan kalau hal macam ini. Bahkan di depan orang tua kamipun, kami sering berlontaran kata “Asu”, tentunya tidak kepada orang tua–kepada sesama saudara saja, dan dalam konteks bercanda.

Oh iya, ujung-ujungnya, kalimat-kalimat di atas itu bisa begini:

Bagak ang?! (berani lo?!)
Den kecekan jo apak den ngko! (gue bilang bapak gue ntar!)
Tak omongke jo amak den lo beko! (gue bilang emak gue juga ntar!)

Atau…

Alah ko? (sudah nih?)
Alah, mangan sik, litak paruik (udah, makan dulu, lapar perut)

Iyeeee.. yang di-bold itu Bahasa Jawa. Peraduan kedua kami sekeluarga kakak beradik sesudah Bahasa Minang. Jadi, ketika ketemu… percakapan absurd macam ini PASTI AKAN TERJADI.

Hehehehehehe..

Kembali ke judul.

Dulu, jaman saya agak-agak baru lahir (ini entah terminologi jenis apa?!), Bapak saya pernah menjadi wakil kepala sekolah. Buat anak, pekerjaan orang tua itu kebanggaan. Dulu saya ingat betapa teman dengan suka hati bilang Bapaknya kepala bank, pemilik hotel, dan sejenisnya. Lha saya? Guru.. (sambil bisik-bisik).

Dan sampai saya gede, Bapak saya ya tetap guru.

Nah, baru belakangan setelah saya lulus (kalo nggak salah), kedua orang tua saya beroleh peningkatan jabatan. Diawali dengan Mamak yang jadi Kepala Sekolah TK. Nggak lama sih, karena segera mundur begitu Bapak diangkat jadi Kepala Sekolah SMP.

*padahal kan kereennnn, punya orang tua dua-duanya kepala sekolah*

Enak aje!

Jadi kepala sekolah itu, yang saya tahu, pusing dan banyak tekanan.

Lalu intinya apa?

Begini, ketika Bapak saya jadi kepala sekolah di era pendidikan (katanya) gratis dan anggaran 20% ini, godaan tentu besar. Iyalah besar karena ini terkait dana BOS, dana anu, dana itu, dan dana-dana lainnya. Yang mana daripada kepala-kepala sekolah lain dengan nyata saya lihat peningkatan signifikan pada hartanya.. hehehehehe…

Pastinya itu godaan besar banget. Saya kalau dikasih disitu ya nggak tahan juga mesti. Tapi agak ada untungnya juga ketika Bapak jadi kepsek, kebutuhan duit alias hepeng alias pitih itu sudah nggak sebesar dahulu kala, apalagi ketika punya 3 anak yang sama-sama kuliah di kampus swasta.

Poinnya adalah kok ya segala sesuatu itu pas.

Pas ketika waktu Bapak ditunjuk, performa SMP saya yang legendaris itu sedang di titik nadir.
Pas ketika godaan banyak, kebutuhan tidak lagi cukup banyak.

Kalau lihat sudut lain blog ini, ceritaalfa, bagian saya berpisah dengan Alfa, tentu ini poin yang sama. Tuhan itu memberikan segalanya pas. Pas butuh, pas ada. Entah bagaimana caranya. Which is kemudian saya tahu kalau si Bang Revo itu hasil utang bank, sesuatu yang amat sangat tidak saya sukai. *mending juga utang koperasi.. hehehe…*

The lesson is pada posisi apapun kamu berada, berbuatlah yang terbaik, dan seperti yang Kak Vienna (salah satu murid favorit Bapak dulu) begitu tahu Bapak jadi kepsek–he deserved it, indeed. Deserved itu akan diperoleh begitu kita berbuat yang terbaik kan?

🙂

Ketika Harus Bertanya Mengapa

Sebulan ini dua kabar duka saya peroleh dari teman-teman saya. Kabar yang sungguh tidak mengenakkan ketika generasi baru yang dinantikan dengan penuh harap, disambut dengan doa dan cinta, dan (yang paling utama) amat sangat dicintai oleh orang tuanya, harus kembali kepada penciptanya. Dua kabar yang sepanjang perjalanan dari kos ke gereja kemarin, di sela-sela macetnya Cikarang, menjadi bahan pemikiran saya. Hingga kemudian saya bertanya, “mengapa?”

Ya, mengapa dua sosok mungil itu yang dipilih? Bukankah mereka berdua dinantikan dengan amat sangat oleh banyak orang? Dicintai dengan sepenuh jiwa oleh banyak orang pula.

Perihal teman-teman saya juga, mengapa mereka yang kemudian menjalani ini?

Yang terlintas di benak saya sebenarnya adalah perihal bayi-bayi yang dibuang, perihal bayi-bayi yang digugurkan karena rasa malu kedua pemrakarsanya, perihal mereka yang tanpa dosa dan ketika nongol ke dunia malah dianggap sebagai bentuk dosa.

Yang terlintas di benak saya adalah orang-orang bodoh yang kemudian menyia-nyiakan amanah, hadiah, dan buah cinta Tuhan kepada mereka.

Kenapa di saat ada saja berita soal orang tua yang mengambil nyawa bayinya dengan sengaja, ada pula orang tua yang harus rela kehilangan buah cinta mereka?

Sungguhpun, saya tidak mendapat jawab ketika saya bertanya mengapa. Sehingga memang tampaknya tanya itu tidak perlu dilontarkan.

Selamat jalan putri mungil (K. A. K) dan jagoan kecil (G. S. P. Y), jadilah malaikat bagi kedua orang tua kalian. They love you with all of their life.

With my deep condolence 😦

Untuk yang Rajin Menawari

Hehehehehe… *ngguyu sik*

Jadi pada intinya, beberapa waktu belakangan–di usia 26–saya mulai concern pada asuransi dan investasi. Why? One and the only adalah karena dunia ini ganas, sobat!

Dan, sama halnya dengan yang sudah saya alami sejak bertahun-tahun silam, ada saja orang yang menawari saya unitlink. Kalau dulu, saya memang menolak semata-mata karena saya nggak mau. Lha gimana nggak mau? Wong teman saya yang punya asuransi plus unitlink saja bilang kalau kita nggak untung (dalam jangka kurang dari 10 tahun), masak tetap mau join? *catet, teman saya bukan agen, hanya pembayar premi*

Kemudian sejak membaca goresan seorang teman, salah satunya disini, saya mulai ngeh soal keberadaan unitlink ini. Dan kemudian saya melihat ke blog salah satu perencana keuangan yang saya ikuti di Twitter disini.

Kebetulan, kok satu jalan pikiran dengan saya 🙂

Saya pernah membaca, tapi lupa dimana, dan saya setuju bahwa dalam keuangan, aspek yang penting adalah meletakkan keuangan di 4 kaki, yakni:

1. Tabungan
2. Instrumen investasi semacam reksadana
3. Instrumen investasi semacam logam mulia
4. Properti

Agak menyesal bahwa duit saya kerja hampir 4 tahun habis semacam tidak terasa, dan habisnya ke hal-hal yang sifatnya ya hilang, misal: tiket pesawat buat LDR lalu LDR-nya putus *eh curcol*

Tapi, ya sudah. Mari kita melihat ke depan saja.

Hal paling kurang ajar dalam ganasnya dunia sudah kelihatan di dunia properti. Harga rumah (bekas) di kawasan jadi di Cikarang ini sudah gila-gilaan, buat saya cenderung tidak masuk akal untuk bisa dicapai oleh gaji karyawan–level staf ke atas sekalipun. Saya memantau ketika tetangga kos mencari-cari rumah dan mendapati bahwa ditinggal 2 bulan saja, harganya sudah lompat. *busettt*

Meski ada sepertiga penyesalan, fakta bahwa nilai properti itu gila-gilaan membuat saya belum cukup menyesal sempurnapernah memutuskan berinvestasi ke sana 🙂

Nah, dan untuk teman-teman agen, saya sungguh menghargai mereka yang juga menghargai pendirian saya soal unitlink. Maksudnya, kalau saya bilang nggak tertarik, ya sudah. Begitu loh. Kan sama-sama enak.

Masalahnya, ada saja yang kemudian masih melanjutkan penawaran dengan berbagai tambahan lainnya. Sebagai orang usaha, saya harus paham, tapi kasusnya saya sudah pernah bilang nggak tertarik dengan penjelasan yang detail, penawaran berikutnya buat saya–sejujurnya–adalah gangguan.

Ya begitulah 🙂

30 Menit Yang Luar Biasa

Akhirnya sampai juga di kawasan tempat pabrik-pabrik berdiri. Sampai juga di ladang pencarian penghidupan. Setelah melalui perjalanan absurd. Ya iyalah, wong mobil 121-nya memilih lewat Kalimalang alih-alih Pintu Tol Cikarang Barat. Apapun itu, yang patut disyukuri adalah saya sampai di kamar kos dengan selamat 🙂

Saat mengetik posting ini, baju saja masih sama persis dengan yang saya kenakan seharian tadi. Mungkin dengan mengenakan baju yang sama, saya lebih bisa menggambarkan atmosfer gila seharian ini. *alasan malas ganti baju*

Pagi tadi, jam 6 lewat 10 saya landing di SDN 03 Pagi Palmerah. Ya, hari ini adalah Hari Inspirasi di 58 sekolah di seantero Jakarta. Dan paralel juga berlangsung di beberapa kota lainnya. Saya sendiri tergabung di kelompok 2 bersama kepala suku Pak Muam, Mbak Ita, Dwita, Christian, Rifki, Salita, dan gitaris kondang Mas Jubing. Di kelompok ini juga ada 2 fotografer, Nanda dan Okka. Plus juga Ogie sang videografer. Syukurlah kelompok ini akhirnya lengkap, meskipun kalau mau janjian (kata Dwita) sudah kayak arrange meeting direksi :p

Dan jadwalnya sungguh ‘memihak’ saya. Kenapa? Nama saya ada di jadwal untuk 6 jam pertama. Dan karena di SD tersebut hanya ada 1 kelas per tingkat, itu berarti saya akan menghabiskan jatah masuk kelas di 6 kesempatan pertama. Enam kali 30 menit yang bikin saya nggak sanggup sarapan (atau bahkan minum sekalipun). Saya emang gitu, kalau nervous malah ogah makan atau minum. Ada kecenderungan untuk melakukan vomit 🙂

Baiklah, sekilas akan saya ceritakan tentang enam kali 30 menit yang luar biasa itu.

Kelas 5

Waktu observasi, saya sudah masuk kelas ini. Dan bapak wali kelasnya juga sudah memberitahukan ‘kelakuan’ kelas ini. Pada awalnya, saya mengira ini kelas paling ‘menguras tenaga’ jadi saya bersyukur masuk kelas ini duluan. Ehm, ini sih sekilas pengamatan waktu saya masuk satu-satu pas observasi.

Lalu apa yang terjadi?

Saya keringetan. Dan yang bikin agak malu adalah ketika dua orang anak cewek berdiri dan menyalakan kipas angin karena saya keringetan. Soal keluarnya cairan dari pori-pori ini juga nggak jauh-jauh dari nervous. Karena cairan yang sama juga keluar waktu saya pertama kali ngelatih koor. Hehehehe…

Di kelas ini saya mencoba pakai teori Whoosh yang diberikan pas pembekalan. Biar kayaknya demokratis, saya ajukan ke anak-anak itu, mau Whoosh tipe apa. Eh, mereka kompak memilih Whoosh Chibi-Chibi. Jadi modelnya adalah: Prok Prok Prok (tiga kali tepuk) Chibi Chibi Chibi (ala Chibi pokoknya) Whoosh (sambil menjulurkan tangan seolah memberi tenaga dalam). Dan ironisnya, ah, nanti saja ceritanya 🙂

Konten saya sederhana sekali. Saya hanya memperkenalkan nama saya, lalu pekerjaan saya sebagai apoteker. Saya juga hendak meluruskan pemikiran anak-anak tersebut tentang si pembuat obat. Yup, mayoritas bilang kalau yang buat obat itu dokter. *pelajaran banget buat para farmasis Indonesia untuk semakin memperlihatkan diri kan?* Oya, biar kelihatan pintar, saya coba menantang mereka untuk mengucap nama penyakit dan saya kasih tahu obatnya. Semoga tampak keren. Hahaha..

Karena mayoritas mereka berasal dari kalangan menengah ke bawah, saya mencoba mengangkat dengan menceritakan kisah saya dulu yang bikin es buat dijual di kantin. Kalau dulu saya bikin es, sekarang saya bisa ikutan bikin obat. Kalau bikin obat, lalu orang sakit yang minum kemudian sembuh, senang nggak? Senang, kata mereka. Sungguh melegakan hati.

Overall, di kelas yang pertama ini saya nggak terlalu ‘dapat masalah’. Masalah terbesar saya ada pada ‘sulap tebak tanggal lahir’ yang saya bawakan sebagai BANG! Iya, jadi masalah karena semua anak minta ditebak tanggal lahirnya. -___-”

Kelas 1

Yak, even emak saya yang guru SD aja menghindari kelas ini ketika pembagian kelas di awal tahun. Saya mulai merasakan tantangan ada disini.

Apa demikian adanya?

BETUL SEKALI! Hahahahaha..

Awalnya biasa saja, nama, pekerjaan, deskripsi pekerjaan, sampai ke Chibi-Chibi Whoosh. Saya bahkan sudah tidak kemringet lagi. Sampai kemudian ketika saya mulai bercerita tentang 4 nilai dasar Kelas Inspirasi (Jujur, Kerja Keras, Pantang Menyerah, Kemandirian), di pojok kanan bagian belakang ada dua anak lelaki yang berantem dan salah duanya kemudian menundukkan kepala di meja. Satunya nangis beneran, satunya nangis pura-pura. Ealah, anak jaman sekarang sudah bisa bersandiwara rupanya. Waktu saya kemudian sedikit habis di urusan berantem ini, soalnya ketika yang di pojokan belum kelar. Eh, sudah nongol lagi prahara di sudut lain kelas ini.

Akhirnya saya tahu kenapa Mamak selalu menghindari kelas 1. 😀

Ya, pada akhirnya recap-nya sih lumayan. Setidaknya mereka mulai tahu apoteker itu adalah si pembuat obat. Mengingat, masalah yang sama juga terjadi di kelas ini. Itu tadi, bagi sebagian dari mereka, yang membuat obat itu adalah dokter.

Oya, mulai dari kelas ini, saya sadar bahwa ‘sulap tebak tanggal lahir’ saya benar-benar sulap pengundang prahara. Soalnya ketika ditanya, siapa yang mau ditebak tanggal lahirnya, semuanya ngacung. Ketika ditunjuk 1, yang lain berebut minta ditunjuk juga. Sambil teriak-teriak pula. Plus, Chibi-Chibi Whoosh saya menuai ‘bencana’. Ketika saya suruh kasih Whoosh, mereka sontak mengelilingi korban Whoosh dan mengobok-obok kepala korban Whoosh. Waduh, ampun Mak!

Kelas 3

Dulu waktu saya kelas 3 itu pas pinter-pinternya, sampai bisa rangking 1. Jadi, itu motivasi saya untuk cukup excited masuk ke kelas 3. Dan kelas ini ternyata cukup kooperatif–menurut saya.

Mungkin cuma di kelas ini kali ya, saya bisa cukup mulus menjalankan BOMBER-B yang diajarkan pas briefing. Masih dengan BANG yang sama, pertanyaan “Siapa yang pernah sakit?” lalu “Kalau sakit dikasih apa?” dan diakhiri dengan “Siapa sih yang bikin obat?”

Ehm, jawabannya masih sama. Dokter. Okelah, itu tugas tambahan saya di Kelas Inspirasi saya berarti. Sesuai sumpah yang saya ucapkan di depan mic tahun 2009 silam. Terutama di bagian “Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian.”

Yah, bicara soal masalah di kelas ini, tidak lain dan tidak bukan (masih) disebabkan oleh sulap saya. Dan masih dengan sebab yang sama. Karena saya berhasil menebak dengan benar tanggal lahir mereka via 5 kartu. Seluruh kelas berebutan minta ditebak tanggal lahirnya. Yah, saya semakin berpikir ini ide buruk. Maka saya mencoba kasih trik lain. Mengingat mereka sudah bisa kali bagi tambah kurang, saya coba kasih permainan itu. Gile ya anak sekarang, dulu saya kelas 4 SD aja masih menghafalkan perkalian 1-9. Dan syukurlah permainan memilih angka berapapun dan kemudian dikali-tambah-bagi-kurang hingga menjadi angka 3 itu berhasil.

Saya sih coba bilang bahwa berapapun angka kalian, ujungnya 3 juga. Jadi, apapun cita-cita kalian, pasti nanti ujungnya BISA jadi nyata asalkan bla..bla..bla.. (sesuai 4 prinsip Kelas Inspirasi). Oya, disini ada yang kecil-kecil udah punya penyakit yang mengharuskan dia minum obat lima biji. Penyakit yang menurut saya belum layak dia terima, tapi secara medis memang sangat mungkin terjadi si setiap usia. Untunglah, dia tampak sebagai seorang anak yang kuat.

Rupanya, sedikit ‘kedamaian’ di kelas 3 ini adalah PENGANTAR bagi saya untuk memasuki kelas tersulit di jam berikutnya.

Kelas 2

Begitu masuk kelas ini, anak-anaknya sudah heboh mau istirahat. Dan bahkan ada yang ngumpet di dekat lemari ketika saya masuk kelas. Waduh, padahal kan masih 1 jam lagi? Jadilah, saya mengeluarkan kembali sulap saya yang bergelimang masalah itu. Dan, yah bisa ditebak. Hancur lebur dah! Hahahaha…

Ada yang duduk di meja, ada yang berdiri di kursi, dan ada tingkah antik lainnya di kelas ini. Belum lagi, ditunjang oleh ketua kelasnya yang KEREN ABIS karena sedari kecil sudah memperlihatkan diri kalau punya pengaruh. Saya selalu bertanya siapa ketua di setiap kelas dan saya simpulkan bahwa ketua kelas 2 ini yang paling cocok jadi presiden. 😀

Saya masih menggunakan lesson plan yang sama dengan kelas-kelas lainnya. Tapi sungguh saya semacam mendapat penolakan di kelas ini. Bahkan seorang anak yang badannya agak bongsor dengan beraninya mengacungkan jari tanda mengusir saya segera keluar dari kelas. Buset, anak jaman sekarang bro!

Nah, ketika saya coba angkat dengan Chibi-Chibi Whoosh itu, eh mereka malah memperlihatkan stok tepuk yang mereka punya. Dan sudah bisa ditebak kan, siapa provokatornya. Iya, si ketua kelas! Di balik stress yang saya alami di kelas ini, kepemimpinan anak yang satu ini sungguh mengundang decak kagum. Asli!

Ya pada akhirnya saya hanya bisa bilang kalau saya itu apoteker, yang bikin obat, bikinnya di pabrik. Ya, sekaligus untuk memperbaiki mindset yang mereka punya, selagi bisa.

Dan kalau saya agak merasa terusir tadi, rupanya itu hanya sekadar basa basi, karena, ehm, begitu saya hendak melangkah keluar dari kelas, sontak belasan anak berlari dan memeluk nggondeli kaki saya. Ini memang sempat hendak diskenariokan untuk videografi. Tapi yang saya alami ini sungguh-sungguh sama sekali bukan rekayasa. Mereka benar-benar ndlosor di lantai dan memeluk kaki saya sampai bergerakpun tidak bisa. Apa pula maksudnya ini?

Ah, entahlah 😀

Kelas 6

Sebuah lompatan mendasar, dari 2 ke 6. Kelas ini juga dihindari sama Mamak kalau pembagian kelas, tapi saya sih berpikir itu semata soal malas kalau Ujian Akhir Nasional saja. Hehehe..

Lompatan mendasar itu ternyata beneran kerasa. Kalau di kelas lain heboh tiada terkira, di kelas paling tinggi ini malah saya MATI GAYA. Dikasih Chibi-Chibi Whoosh mereka malah memperlihatkan muka yang kira-kira bermakna “apaan sih”. Waduh!

Tapi ada baiknya juga sih. Di kelas yang anteng ini–karena sudah menjelang dewasa–saya malah bisa bercerita tentang cara penyimpanan obat yang baik. Juga bisa bercerita ringan tentang bagaimana mekanisme aksi obat, kok bisa sih obat yang diminum lewat mulut bisa mengobati sakit kepala, juga soal overdosis. Rupanya mereka sudah cukup mengerti.

Oh ya, di kelas ini saya kena batunya. Hehe..

Sulap penuh dilema itu akhirnya ke-gap sama salah seorang anak cewek yang duduk di bagian belakang. Dia dengan jeli mengamati kartu-kartu yang saya tunjukkan dan dengan jeli juga menemukan clue dari sulap icak-icak yang sebenarnya sekadar permainan matematika itu.

Secara konten, saya puas dengan yang saya sampaikan di kelas ini. Tapi melihat antengnya mereka, saya malah jadi kikuk sendiri. Dasar manusia, dikasih yang heboh stress, dikasih yang anteng eh stress juga. 🙂

Kelas 4

Sesudah rehat setengah jam gegara memang mereka istirahat, saya memasuki akhir dari petualangan hebat saya hari ini. Kelas 4, tingkatan yang sekarang jadi garapan Mamak di SD Fransiskus. Tingkatan yang kapan hari itu sempat saya bikin RPP untuk Bahasa Indonesia dan PKN-nya *balada anak guru kalau mudik*

Nah, kata teman-teman, kelas ini cukup bisa dikendalikan. Tapi nyatanya, saya malah kesulitan meng-handle kelas ini. Terbukti dari adanya (lagi) anak yang nangis di kelas ini. Huhuhu..

Secara konten masih sama, pun dengan kesalahan tafsir soal dokter dan apoteker. Ayo farmasis Indonesia, mari kita berbuat sesuatu, profesi kita benar-benar butuh diperkenalkan pada anak-anak seusia mereka.

Nah, untuk BANG, karena terakhir, saya pasang dua kali permainan matematika. Satunya tentu saja sulap saya yang sudah ketahuan di kelas 6 tadi. Dan, ehm, praharanya masih sama. Bahkan ada yang tarik-tarik tangan saya minta ditebak. Yaelah, sesuatu yang sebenarnya mau untuk ice breaking saja malah menjelma jadi sumber keributan, dan terbukti di 6 kelas. Fix tidak direkomendasikan untuk diulang di Kelas Inspirasi manapun. Hahaha..

Lalu permainan angka berapapun yang akan berujung tiga coba saya angkat. Niatnya mengundang partisipasi, jadilah saya panggil dua anak ke depan. Eh, ada 1 anak yang maju, tapi kemudian DISURUH MUNDUR sama teman-temannya. Dan entah kenapa, anak itu mundur beneran, lalu duduk nangis di kursinya dan sejurus kemudian membanting kotak pensil. Belum cukup, dia membanting meja di belakangnya. Oya, posisinya nangis dia adalah menyandarkan kening ke kursi tempatnya duduk.

Saya dan Nanda yang lagi ada di sana untuk foto, sontak hening. Tapi anak-anak lain malah dengan santai bilang, udah biasa. Weleh, ada-ada saja ya. Pada akhirnya permainan saya yang angka 3 ini dikomentarin “alah, paling juga tambah bagi kurang kali kan.”

Nggak apa-apa, yang penting intinya dapat.

Dan petualangan hebat saya hari ini selesai.

Ah masak?

Belum ternyata. Masih ada dampak yang tersisa 😀

Ketika kelas 1 dan 2 pulang, banyak dari mereka datang ke saya dan relawan lain tentunya, menjulurkan tangan, lalu mencium tangan. BUSET! Jarang-jarang saya begini. Maaf-maaf kata nih, saya kan juga mengenal beberapa anak dari level ekonomi baik di luaran, dan mereka TIDAK SESOPAN INI. Hal simpel, uluran tangan dan cium tangan. Sebuah hal sederhana yang masih ada di Indonesia Raya Merdeka Merdeka ini. Tidak lupa, ketika anak kelas 2 pulang, mereka kembali menghambur ke kaki saya, kali ini dua-duanya. Dan–ini dia ironinya–memanggil saya sebagai KAKAK CHIBI-CHIBI.

*tepok jidat*

Oya, si ketua kelas 2 bahkan datang ke saya dan menyebutkan alamat rumahnya plus nama emaknya. “Bilang aja, pasti tahu,” katanya. Ini anak kalau dididik dengan benar, bakal jadi luar biasa. 😀

Acara di kompleks SD 01-05 Palmerah ditutup dengan bernyanyi bersama diiringi Mas Jubing. Hey, kapan lagi nyanyi diiringi gitaris kondang? Ya cuma disini 😀

Mas Jubing ini action (sumber: dokumentasi pribadi)
Mas Jubing ini action (sumber: dokumentasi pribadi)

Ketika ajang nyanyi bareng ini, saya coba masuk ke barisan anak-anak, dan ini beberapa pernyataan mereka yang bikin senyum.

“Kak, aku seneng banget hari Rabu ini.”
“Kak, kapan kesini lagi?”
“Kakak apoteker, bikinin obat dong.”
“Kak, tadi rahasia sulapnya apa?”

Dan beberapa pernyataan lainnya. Satu hal, ketika mereka masih ingat nama saya saja itu sudah bonus. Mereka habis ketemu 6 sampai 8 orang dalam waktu cepat dan masih ingat nama orang-orang itu? Apa nggak bonus itu namanya?

Saya juga mewariskan 5 kartu sulap yang berlumuran problema itu ke salah seorang anak di kelas 5, plus cara memainkan sulapannya. Yah, wong saya juga ngerti permainan ini pas kelas 5 SD gegara baca buku punya tulang kok. Nggak ada salahnya, toh ini juga sekadar permainan matematika.

Puncak dari kehebohan hari ini adalah ketika sesi MENDADAK ARTIS. Mungkin acara ini bisa bikin saya bersiap jadi artis karena sesudah bubaran dan kemudian istirahat, anak-anak itu datang dengan buku/kertas plus alat tulis lalu meminta NAMA, NOMOR HP, TANDA TANGAN, sampai ALAMAT FACEBOOK. Sekarang kapan lagi ada makhluk hidup yang datang ke saya dan minta kelengkapan itu? Saya sering dimintain tanda tangan, tapi itu buat approval dokumen atau approval pengeluaran material. Cuma baru ini dimintain tanda tangan macam artis gini. Dan di akhir dikasih tahu Rifki bahwa di kelas-kelas akhir, sudah ada yang switch cita-citanya jadi APOTEKER. Hahahaha.. *berhasil-berhasil-berhasil-hore*

Yah, posting ini sudah panjang sekali, ngalah-ngalahi 1 bab di Lovefacture. Maka beberapa kesimpulan hari ini:

1. Saya akan segera menelepon Mamak dan bilang bahwa mengajar SD itu SULIT, JENDERAL!
2. Satu hari cuti untuk hal semacam ini, sama sekali tidak ada RUGINYA.
3. Setiap orang itu boleh dan malah harus punya MIMPI. Tugas kita-kita ini untuk MENYALAKAN MIMPI itu.
4. Kita memang perlu berpikir BESAR, tapi akan lebih baik kalau kita memulai dengan KECIL, tapi SEKARANG.
5. Mereka lahir kira-kira ketika saya SMA/Kuliah, jadi intinya saya sudah tua *loh*
6. Mari bergerak, untuk MEMBANGUN MIMPI ANAK INDONESIA!

Jemuran cita-cita (sumber: dokumentasi pribadi)
Jemuran cita-cita (sumber: dokumentasi pribadi)

Salam!

@ariesadhar 20022013

“I am paying back now”

Sejujurnya saya kudu berdoa dulu sebelum nulis judul di atas, takut ngawur. Ya, kan malu kalo ngawur, secara saya punya adik (mantan) guru Bahasa Inggris dan calon adik ipar juga lagi sekolah Bahasa Inggris. Tapi di catatan saya tertulis begitu. Semoga bener ya 🙂

*ini kok malah salah fokus*
*kembali ke topik*

Ini sebenarnya sama persis ketika lebih dari setahun silam saya dikasih tahu teman soal ‘memberi bantuan’ pada yang membutuhkan. Waktu itu saya urunan ‘hanya’ 60 ribu rupiah per bulan untuk uang sekolah dua orang anak di Magelang. Sekarang, karena sudah naik kelas, malah hilang. Nanti hubungin Bu Sum lagi deh, supaya lanjut lagi.

Sama persisnya dimana?

Sama persis karena saya diberikan kesempatan untuk bisa membayar semua yang pernah saya terima atas nama pendidikan. Saya yang dulu cuma bisa oek-oek, bisa ngetik blog ini juga karena pendidikan. Saya sampai sekarang bisa mengelola kotak-dan-angka (pekerjaan sehari-hari saya) juga karena pendidikan. Lebih jauh saya juga hutang budi sama pendidikan karena isi perut saya sejak lahir dipasok dari ‘bisnis’ pendidikan. Iya, kedua orang tua saya adalah guru 🙂

Dan ketika saya kemudian mendapat email di grup farmasis muda tentang Kelas Inspirasi, plus kemudian berseliweran di Twitter, maka rasa pengen ikut itu muncul juga. Asli, begitu saya baca konsep Kelas Inspirasi, yang terbayang di benak saya adalah kejadian bulan Oktober silam ketika saya menunggui Mama mengajar, persis di depan kelasnya. Oya, beliau guru kelas 4 SD. Dan lantas terpikir, sepertinya seru juga. Saya lantas mendaftar saja di web Kelas Inspirasi. Dan saya juga tulis di essay yang diminta bahwa kedua orang tua saya termasuk yang menginspirasi saya ikut Kelas Inspirasi ini.

Kebetulan saya pasang push mailjadi setiap email yang masuk perlakuannya sama dengan SMS. Nah, waktu itu kan katanya diemail dari jam 19.00 sampai 22.00. Sampai jam 9 itu masih nggak ada email dari Kelas Inspirasi.

*mulai putus asa*

Tapi beberapa menit kemudian, saya dapat email yang dimaksud. Dan isinya ‘TERPILIH’. Sip! Dan di briefing kemarin saya baru ngeh kalau pendaftarnya ada 1000-an, artinya yang terpilih adalah separuhnya saja. Terima kasih atas kesempatannya.

Kemarin saya datang di briefingnya, bertempat di Gedung Indosat. Sebagai makhluk yang agak jauh tinggalnya, saya berangkat jam 9 pagi dari Cikarang. Untungnya jalanan bisa dibilang lancar jaya. Dan meskipun sempat dibohongin Google Maps, akhirnya saya sampai juga di Gedung Indosat, tentunya dengan berkeringat 🙂

Saya bergabung dengan ratusan profesional muda hingga senior di sebuah ruangan sambil duduk bersila. Ehm, sebenarnya saya nggak kuat lama-lama bersila. Efek gaya hidup buruk membuat saya gampang ‘kesemutan’ plus loro boyok. Tapi masak ya anak 26 tahun kalah sama yang senior. Jadi ya, dikuat-kuatkan 😀

Bagian pertama yang bikin merinding adalah ketika ratusan manusia di ruangan itu bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lha saya ini nyanyiin mars De Britto, hymne Sanata Dharma, sama mars kantor aja trenyuh, apalagi nyanyi Indonesia Raya?

*dasar melankolis*

Speech Pak Anies (sumber: dokumentasi pribadi)
Speech Pak Anies (sumber: dokumentasi pribadi)

Bagian kedua yang cukup mengena adalah speech dari Pak Anies Baswedan. Sebenarnya materi yang dibawakan oleh Pak Anies itu simpel loh. Cuma memang kebanyakan itu kurang disadari. Hal simpel misalnya. Bangsa ini didirikan oleh IURAN pendahulu kita. Pahlawan yang mati di medan perang itu iuran nyawa kan? Mbah saya dulu juga iuran tenaga dalam masa perang kemerdekaan. Itu iuran. Dan karena iuran itu terbentuklah Indonesia. Nah, lantas kita mau iuran apa?

Lalu juga soal terminologi ‘korban pendidikan’. Ini juga benar. Dan yang ditekankan oleh Pak Anies adalah sesuai judul yang saya tulis di atas. Terhadap semua yang sudah kita terima, ini saatnya kita membayarnya. Dengan apa?

Nah ini dia. Dengan apa?

Dalam video yang diputar sebelum speech dari Pak Anies ada quote. Think big (please koreksi, yang benar think atau dream hehe..), start small, ACT NOW. Poin terakhir, ACT NOW. Jadi kita membayarnya dengan bertindak.

Dan Kelas Inspirasi adalah salah satu cara bertindak sekarang 🙂

Ya, daripada menonton berita di negeri ini, Si Itu ketangkap disini, Si Anu kena kasus itu, bukankah lebih baik kita menyalakan mimpi melalui ruang-ruang kelas? Daripada mengutuk kegelapan, bukankah lebih baik menyalakan lilin? Pak Anies sih agak nyindir juga. Misalnya waktu ngomong soal integritas. Tanpa integritas, kita nggak akan sampai ke world class. Kalau jadi bupati sih masih bisa :p

Sebuah hari yang istimewa bagi saya. Apalagi kemudian bisa bertemu rekan-rekan dari aneka ragam profesi. Saya ada di kelompok 2, bersama orang-orang dari beragam profesi. Terbukti, dari kartu namanya saja sudah macam-macam. Hehehehe…

Semoga hari kemarin menjadi awalan baik, untuk beberapa hari lain ke depan, sampai tanggal 20 Februari, ketika HARI INSPIRASI berlangsung.

Oya, ada yang bilang, niat yang baik itu akan diberkati jalannya. Ketika kemarin saya pulang kok agak ngerasa ada keberuntungan. Waktu acara briefing, sekitar Gedung Indosat hujan. Pas pulang, sudah reda. Lalu katanya lagi ada banjir di beberapa tempat dan jalanan padat (misalnya di TolDalKot). Tapi saya tidak ketemu sama sekali dengan macet/padat sedari Gedung Indosat sampai Halte Benhil dan kemudian dari Semanggi ke Cikarang. Kalau sekadar berdiri dari Jakarta-Cikarang, itu wajar di malam minggu. Ketika sampai Cikarang, hujan malah sudah reda. Keberuntungan? Bisa jadi 🙂

Dari briefing ini saya mulai berpikir banyak hal. Mulai dari materi yang akan disampaikan pas HARI INSPIRASI besok, sampai ingin membuat hal yang mirip dengan Kelas Inspirasi, setidaknya di sekolah tempat kedua orang tua saya mengajar di Bukittinggi sana.

Kiranya Tuhan menolong saya, seluruh relawan Kelas Inspirasi lainnya, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan di Indonesia.

BANGUN MIMPI ANAK INDONESIA!