Peran Bapak Dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Peran Bapak Dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan Anak Usia Dini bagi Bapak Millennial seperti saya itu sebenarnya sangat sederhana. Ya, setiap pukul 12 siang menerima forward-an pesan WhatsApp dari Mama Isto yang isinya adalah permainan-permainan yang dinikmati Istoyama di daycare-nya.

Lucu-lucu, lho. Nih, saya kasih beberapa diantaranya:

pendidikan-anak-usia-dini-appletreebsd-isto-1

pendidikan-anak-usia-dini-appletreebsd-isto-2.png

Wajar sekali ketika bayi yang belum 2 tahun ini jago betul soal nama-nama kendaraan. Ya tentu saja itu karena dia dididik sejak dini di tempat yang tepat. Setidaknya tepat menurut Bapak dan Mamanya.

Pendidikan Anak Usia Dini alias PAUD merupakan salah satu upaya pembinaan kepada anak-anak sejak dari lahir sampai umur 6 tahun. Secara standar, stopnya adalah ketika anak masuk ke tingkatan sekolah formal pada usia 7 tahun.

Dalam PAUD, yang hendaknya diberikan adalah rangsangan pendidikan yang dapat membantu pertumbuhan serta perkembangan jasmani dan rohani sehingga anak siap untuk masuk ke pendidikan formal itu tadi.

Kalau mau ditarik ke ujung-ujungnya konstitusi, Pendidikan Anak usia Dini itu diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28C dalam rumusan:

“Setiap anak berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.”

Jadi, selain berhak mengembangkan diri, anak juga BERHAK mendapat pendidikan. Punya HAK lho, ya. Siapa yang harus memenuhinya? Tentu saja orangtuanya, Bapak dan Ibunya, Papa dan Mamanya, bukan Eyang atau Ompungnya~

Dalam perspektif saya sebagai bapak-bapak, adalah kewajiban seorang bapak untuk menjadi pemenuh hak itu tadi. Bersama-sama dengan Mama-nya Isto, kami berdua berusaha semaksimal mungkin memastikan bahwa seorang Isto sejak lahirnya telah mendapatkan hak yang digariskan oleh UUD itu tadi.

Mau jungkir balik? Ya nggak apa-apa. Kecupan si bayi di akhir hari sudah cukup untuk memulihkan tenaga~

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

PAUD diselenggarakan pada periode keemasan anak. Artinya, apapun yang akan terjadi kelak di kemudian hari adalah hasil pembentukan pada masa ini. Konsep-konsep dasar kehidupan ya dalam periode ini juga. Jadi, PAUD memang sangat sentral dalam pembangunan sumber daya manusia atau boleh dibilang sebagai fondasi dasar bagi kepribadian anak.

Anak dengan pembinaan sejak dini pada umumnya akan mampu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan fisik maupun mental. Dampak positifnya adalah pada peningkatan prestasi belajar, produktivitas, etos kerja, hingga akhirnya anak bakal lebih mandiri dan bisa mengoptimalkan potensi yang dia miliki.

Anak yang mendapatkan pendidikan secara cukup semenjak usia 0-6 tahun punya harapan lebih besar untuk berhasil di masa mendatang. Berhasil itu bukan sekadar prestasi, ya. Berhasil antre, berhasil main bersama tanpa rebutan mainan sampai nangis guling-guling, berhasil mengenali lingkungannya juga jadi patokan.

Salah satu yang saya ajarkan pula adalah berhasil mengelola kegagalan. Saya sendiri tetap berusaha mengajarkan arti kegagalan kepada Isto. Soalnya, kalau belajar soal keberhasilan, dia bisa belajar sendiri sama Mamanya. Heuheu~

Yup, sebagai bapak-bapak dengan riwayat kegagalan yang panjang, mulai dari gagal bercinta, gagal juara lomba blog, gagal jadi pegawai Unilever, hingga gagal tes PNS lebih dari sekali, saya belajar bahwa tidak semua orang bisa menerima kegagalan dengan jernih.

Saya yakin, anak saya akan menjadi jauh lebih tangguh, jika dia sejak dini sudah belajar bahwa kalau dia gagal memasukkan bola ke keranjang, maka dia harus mundur sejenak dan lantas mencoba lagi. Atau jika dia menyusun mobil-mobilan 2-3 tingkat dan jatuh, dia harus berhenti, mengevaluasi langkahnya, untuk kemudian menyusun lagi mobil-mobilannya hingga 4-5 tingkat.

Kenapa Bapaknya yang harus mengajarkan soal kegagalan? Dalam konteks saya, ya karena Mamanya sangat fasih dengan keberhasilan. Jadi, dalam usia hampir 2 tahun ini dia bisa mendapatkan contoh dan bisa meniru perilaku orangtuanya ketika menyikapi kesuksesan dan juga memaknai kegagalan.

Susah? Ya, susah. Tapi siapa suruh jadi orangtua?

Hasilnya sejauh ini cukup baik. Jika diajak berkompetisi, Isto menjadi anak yang selow dan nggak ngoyo, tapi tetap menuntaskan kompetisinya. Suatu kali dia ada lomba balapan merangkak dengan Alex, teman sepergaulannya di daycare. Dia berhasil melaju duluan mendekati garis finish. Eh, menjelang garis finish, dia malah lebih asyik mengamati garis finish-nya sehingga tersalip oleh Alex. Dia baik-baik saja ketika kalah balapan dan itu membuat saya sebagai orangtua merasa lebih baik.

Mendidik seseorang untuk menang itu akan lebih mudah jika sebelumnya dia sudah paham tentang menerima kekalahan.

Nah, dalam keadaan Bapak Millennial dan Mamanya harus kerja, maka ada alternatif untuk melaksanakan pendidikan anak usia dini tersebut sehingga tujuan untuk mengembangkan seluruh potensi dan kemampuan fisik, intelektual, moral, hingga agama secara optimal dapat diselenggarakan dalam lingkungan yang kondusif.

Salah satunya adalah di Apple Tree Pre-School BSD, yang menggunakan Adopted Singapore Curriculum dalam pembelajarannya.

pendidikan-anak-usia-dini-apple-tree-1

Sumber: Apple Tree BSD

Terutama bagi orangtua yang pakai ART di rumah, saya sangat menyarankan untuk tetap menggunakan jasa pre-school seperti ini. Bukan apa-apa, anak yang biasa diajari untuk berbagi mainan, biasa untuk bermain dengan rekan sebayanya, mengenali satu demi satu temannya, itu akan jauh lebih siap menghadapi masa depan, lho. Saya mendapati banyak contoh anak-anak yang ketika diterjunkan ke lokasi berisi banyak anak lainnya malah takut-takut atau malah jadi tampak egois dengan merebut semua mainan yang ada. Kan, nggak oke ya~

Sekarang, setiap hari saya bertanya pada anak saya tentang nama teman-temannya, dan dia bisa mengucapkan 11 nama dalam wujud suku kata terakhir dengan 4 nama tanpa perlu saya pancing suku kata pertamanya. Jadi saya hanya tinggal bilang, “Temen Isto namanya siapa?”, dan dia akan dengan lancar menyebut nama 4 temannya plus kemudian menyambung dengan tepat 11 nama lain yang saya sebutkan seperti “Khan…sa, Nada…ra, Ama….ra, dst”.

Sebagai seseroang dengan masa kecil sangat pemalu, saya merasakan itu sebagai sebuah kerugian dan sebagai Bapak saya mengharapkan hal yang sama tidak terjadi pada Isto. Dan, ah, sekarang lancar sekali. Apalagi kalau dia sudah ketemu yang namanya Ichsan. Bisa bubar itu daycare~

Jadi, peran Bapak itu nggak cuma cari duit lho ya. Masih banyak peran bapak yang bisa dilakukan sebagai sebaik-baiknya ikhtiar orangtua pada buah hatinya, terutama pada Pendidikan Anak Usia Dini.

pendidikan-anak-usia-dini-apple-tree-2

Sumber: Apple Tree BSD

#appletreebsd

Advertisements

Meningkatkan Taraf Hidup Melalui Pendidikan

Ada banyak hal yang bisa Anda dapatkan jika memiliki pendidikan yang memadai. Mulai dari ilmu yang bermanfaat sampai taraf hidup yang meningkat setelah memiliki pendidikan yang berguna bagi Anda dan orang lain. Hal ini dapat menjadi kesimpulan bahwa pendidikan merupakan suatu yang penting karena dapat sangat berguna terutama dalam meningkatkan taraf hidup di masyarakat.

Meski pendidikan merupakan suatu hal yang penting, namun tidak banyak orang yang mementingkan pendidikan pada anak-anak mereka. Mulai dari tidak mempedulikan pendidikan anak-anak sampai tidak menyekolahkan anak-anak mereka. Biasanya, faktor ekonomi menjadi ganjalan utama mengapa banyak anak tidak bersekolah dan memilih untuk bekerja membantu orang tuanya. Hal ini tentu menjadi ironi tersendiri mengingat anak-anak tidak seharusnya bekerja dan perlu mendapatkan pendidikan yang layak agar dapat meningkatkan taraf kehidupannya kelak.

Untuk dapat meningkatkan kesadaran akan pendidikan, ada banyak pihak yang perlu dilibatkan. Mulai dari pemerintah yang harus lebih berkonsentrasi pada pendidikan, orang tua sang anak yang perlu lebih peduli dan Anda sekalipun dapat berkontribusi untuk meningkatkan pendidikan anak-anak di Indonesia. Sehingga, dapat dikatakan urusan pendidikan merupakan suatu hal yang perlu diselesaikan bersama bukan hanya satu pihak saja.

Untuk bisa peduli anak dan berkontribusi dalam meningkatkan pendidikan, Anda dapat melakukannya dengan cara donasi. Donasi merupakan cara termudah karena dengan berdonasi Anda dapat membantu anak-anak untuk bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Salah satu tempat terbaik untuk berdonasi adalah UNICEF Indonesia. UNICEF adalah lembaga dunia yang berada dibawah naungan PBB dan bertugas untuk memperjuangkan hak anak-anak.

Sebelum melakukan donasi melalui UNICEF Indonesia, Anda harus mengetahui tata cara donasi yang digunakan secara online. Pertama, masuk ke situs resmi UNICEF Indonesia di https://www.supportunicefindonesia.org/. Lalu, klik tombol “Donasi Sekarang!” untuk langsung melakukan donasi. Setelah itu, pilih jenis donasi yang diinginkan apakah “donasi rutin” atau “donasi satu kali”. Masukkan nominal donasi yang diinginkan atau menggeser slide sesuai dengan nominal donasi yang tertera. Kemudian, isi data diri seperti nama lengkap, email dan nomor handphone untuk proses validasi. Terakhir, pilih metode pembayaran dan lakukan pembayaran sesuai dengan metode yang telah dipilih. Anda pun telah berhasil melakukan donasi untuk meningkatkan pendidikan anak-anak di Indonesia.

“I am paying back now”

Sejujurnya saya kudu berdoa dulu sebelum nulis judul di atas, takut ngawur. Ya, kan malu kalo ngawur, secara saya punya adik (mantan) guru Bahasa Inggris dan calon adik ipar juga lagi sekolah Bahasa Inggris. Tapi di catatan saya tertulis begitu. Semoga bener ya 🙂

*ini kok malah salah fokus*
*kembali ke topik*

Ini sebenarnya sama persis ketika lebih dari setahun silam saya dikasih tahu teman soal ‘memberi bantuan’ pada yang membutuhkan. Waktu itu saya urunan ‘hanya’ 60 ribu rupiah per bulan untuk uang sekolah dua orang anak di Magelang. Sekarang, karena sudah naik kelas, malah hilang. Nanti hubungin Bu Sum lagi deh, supaya lanjut lagi.

Sama persisnya dimana?

Sama persis karena saya diberikan kesempatan untuk bisa membayar semua yang pernah saya terima atas nama pendidikan. Saya yang dulu cuma bisa oek-oek, bisa ngetik blog ini juga karena pendidikan. Saya sampai sekarang bisa mengelola kotak-dan-angka (pekerjaan sehari-hari saya) juga karena pendidikan. Lebih jauh saya juga hutang budi sama pendidikan karena isi perut saya sejak lahir dipasok dari ‘bisnis’ pendidikan. Iya, kedua orang tua saya adalah guru 🙂

Dan ketika saya kemudian mendapat email di grup farmasis muda tentang Kelas Inspirasi, plus kemudian berseliweran di Twitter, maka rasa pengen ikut itu muncul juga. Asli, begitu saya baca konsep Kelas Inspirasi, yang terbayang di benak saya adalah kejadian bulan Oktober silam ketika saya menunggui Mama mengajar, persis di depan kelasnya. Oya, beliau guru kelas 4 SD. Dan lantas terpikir, sepertinya seru juga. Saya lantas mendaftar saja di web Kelas Inspirasi. Dan saya juga tulis di essay yang diminta bahwa kedua orang tua saya termasuk yang menginspirasi saya ikut Kelas Inspirasi ini.

Kebetulan saya pasang push mailjadi setiap email yang masuk perlakuannya sama dengan SMS. Nah, waktu itu kan katanya diemail dari jam 19.00 sampai 22.00. Sampai jam 9 itu masih nggak ada email dari Kelas Inspirasi.

*mulai putus asa*

Tapi beberapa menit kemudian, saya dapat email yang dimaksud. Dan isinya ‘TERPILIH’. Sip! Dan di briefing kemarin saya baru ngeh kalau pendaftarnya ada 1000-an, artinya yang terpilih adalah separuhnya saja. Terima kasih atas kesempatannya.

Kemarin saya datang di briefingnya, bertempat di Gedung Indosat. Sebagai makhluk yang agak jauh tinggalnya, saya berangkat jam 9 pagi dari Cikarang. Untungnya jalanan bisa dibilang lancar jaya. Dan meskipun sempat dibohongin Google Maps, akhirnya saya sampai juga di Gedung Indosat, tentunya dengan berkeringat 🙂

Saya bergabung dengan ratusan profesional muda hingga senior di sebuah ruangan sambil duduk bersila. Ehm, sebenarnya saya nggak kuat lama-lama bersila. Efek gaya hidup buruk membuat saya gampang ‘kesemutan’ plus loro boyok. Tapi masak ya anak 26 tahun kalah sama yang senior. Jadi ya, dikuat-kuatkan 😀

Bagian pertama yang bikin merinding adalah ketika ratusan manusia di ruangan itu bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lha saya ini nyanyiin mars De Britto, hymne Sanata Dharma, sama mars kantor aja trenyuh, apalagi nyanyi Indonesia Raya?

*dasar melankolis*

Speech Pak Anies (sumber: dokumentasi pribadi)

Speech Pak Anies (sumber: dokumentasi pribadi)

Bagian kedua yang cukup mengena adalah speech dari Pak Anies Baswedan. Sebenarnya materi yang dibawakan oleh Pak Anies itu simpel loh. Cuma memang kebanyakan itu kurang disadari. Hal simpel misalnya. Bangsa ini didirikan oleh IURAN pendahulu kita. Pahlawan yang mati di medan perang itu iuran nyawa kan? Mbah saya dulu juga iuran tenaga dalam masa perang kemerdekaan. Itu iuran. Dan karena iuran itu terbentuklah Indonesia. Nah, lantas kita mau iuran apa?

Lalu juga soal terminologi ‘korban pendidikan’. Ini juga benar. Dan yang ditekankan oleh Pak Anies adalah sesuai judul yang saya tulis di atas. Terhadap semua yang sudah kita terima, ini saatnya kita membayarnya. Dengan apa?

Nah ini dia. Dengan apa?

Dalam video yang diputar sebelum speech dari Pak Anies ada quote. Think big (please koreksi, yang benar think atau dream hehe..), start small, ACT NOW. Poin terakhir, ACT NOW. Jadi kita membayarnya dengan bertindak.

Dan Kelas Inspirasi adalah salah satu cara bertindak sekarang 🙂

Ya, daripada menonton berita di negeri ini, Si Itu ketangkap disini, Si Anu kena kasus itu, bukankah lebih baik kita menyalakan mimpi melalui ruang-ruang kelas? Daripada mengutuk kegelapan, bukankah lebih baik menyalakan lilin? Pak Anies sih agak nyindir juga. Misalnya waktu ngomong soal integritas. Tanpa integritas, kita nggak akan sampai ke world class. Kalau jadi bupati sih masih bisa :p

Sebuah hari yang istimewa bagi saya. Apalagi kemudian bisa bertemu rekan-rekan dari aneka ragam profesi. Saya ada di kelompok 2, bersama orang-orang dari beragam profesi. Terbukti, dari kartu namanya saja sudah macam-macam. Hehehehe…

Semoga hari kemarin menjadi awalan baik, untuk beberapa hari lain ke depan, sampai tanggal 20 Februari, ketika HARI INSPIRASI berlangsung.

Oya, ada yang bilang, niat yang baik itu akan diberkati jalannya. Ketika kemarin saya pulang kok agak ngerasa ada keberuntungan. Waktu acara briefing, sekitar Gedung Indosat hujan. Pas pulang, sudah reda. Lalu katanya lagi ada banjir di beberapa tempat dan jalanan padat (misalnya di TolDalKot). Tapi saya tidak ketemu sama sekali dengan macet/padat sedari Gedung Indosat sampai Halte Benhil dan kemudian dari Semanggi ke Cikarang. Kalau sekadar berdiri dari Jakarta-Cikarang, itu wajar di malam minggu. Ketika sampai Cikarang, hujan malah sudah reda. Keberuntungan? Bisa jadi 🙂

Dari briefing ini saya mulai berpikir banyak hal. Mulai dari materi yang akan disampaikan pas HARI INSPIRASI besok, sampai ingin membuat hal yang mirip dengan Kelas Inspirasi, setidaknya di sekolah tempat kedua orang tua saya mengajar di Bukittinggi sana.

Kiranya Tuhan menolong saya, seluruh relawan Kelas Inspirasi lainnya, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan di Indonesia.

BANGUN MIMPI ANAK INDONESIA!