Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

Welcome My February

Selamat datang kepada bulan Februari. Sebuah bulan yang padat 🙂

Beberapa agenda yang sudah pasti adalah:
2 – 3 Februari 2013 ke Palembang (DONE with ehmmm…)
8 Februari 2013 malam latihan terakhir koor lingkungan (direschedule ternyata.. ^_^)
9 Februari 2013 ngikut persiapan Kelas Inspirasi (\^o^/)
9 Februari 2013 malam (kalo terkejar) latihan terakhir koor lingkungan
10 Februari 2013 tugas koor lingkungan (grrrrr…..)
17 Februari 2013 diminta tolong ikut bakti sosial (sekalian refresh ilmu apoteker ^.^, tapi kok ya adoh bangettttttt, pasiennya banyak bangetttttt juga…)
20 Februari 2013 ngikut Kelas Inspirasi (AWESOME DAY!!!!)
23 Februari 2013 ngikut refleksi Kelas Inspirasi

Dan pekerjaan yang lagi berkejar-kejaran.

Semoga Tuhan memberkati jadwal saya. Sungguhpun kejutan besar kemarin adalah ketika nama saya masuk ke peserta Kelas Inspirasi. Nama saya ada di daftar yang sama dengan beberapa orang terkenal macam Chef Vindex dan Ikrar Nusa Bakti. Bahkan saya satu kelompok dengan Jubing Kristianto 🙂

Doakan saya ya! 😀

Happy Reborn

Suatu hari di bulan Januari 2011–sepertinya di komputer mess–saya mengetik posting ini.

Kalau malas klik link-nya, saya tulis kembali disini:

Terima kasih kepada Mbah Google yang membawaku kembali ke dunia yang sangat kucintai ini. Berawal dari sekadar mengetik sebuah keyword, aku menemukan kembali sebuah blog yang penuh dengan kisah-kisah dan refleksi menarik. Sesuatu yang sudah bertahun-tahun hilang dari diriku.

Jadi, mari kita restart.

Ibarat komputer, ketika dia hang, maka langkah tercepat adalah melakukan restart. Dan segera ia akan kembali, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

So, mulai hari ini, aku akan kembali!!

Semangat!!!

18 Januari 2011, dan sekarang 18 Januari 2013. Sudah 2 tahun pas kebangkitan kembali blog ariesadhar.wordpress.com, yang tiga hari silam saya migrasikan ke ariesadhar.com

2 tahun yang memberi makna bahwa saya bisa menulis tanpa henti (dengan record archive yang tidak ada bulan bolong). Semoga hal itu tetap bisa dipertahankan.

Dan semoga ada banyak hal yang bisa saya perbuat melalui dunia yang sangat saya cintai ini. 🙂

 

New: ariesadhar.com

Menjelang usia baru (18 Januari 2013), saya membuat perubahan revolusioner pada blog ini.. Hahahahahaha…

Berbekal jumlah tagihan bulan depan yang lumayan, maka dengan sepenuh hati saya ‘membeli’ domain langsung via WordPress.

Tujuannya?

1. Karena saya sudah kadung cinta sama blog ini
2. Siapa tahu blog ini bisa ‘menghasilkan uang’ buat saya
3. Supaya nama ‘ariesadhar’ nggak diambil siapa-siapa, jaga-jaga kalau nanti saya jadi terkenal *lalu dikampleng*

Ya, apapun itu, per hari ini, blog ini bisa diakses via alamat:

ariesadhar.com

Kalaupun diketik alamat lama, ariesadhar.wordpress.com, ya bakal lari ke alamat baru itu kok. Tenang saja 😀

Semoga selalu ada hal baru yang bisa saya tulis di blog ini. AMIN!

Tahap Berikutnya

Spirit judul ini adalah hendak meniru judul bukunya Ariel dkk yang “Kisah Lainnya”. Tapi kayaknya nggak masuk ya? Ya, sudah suka-suka saya lah.. hahaha..

Kemarin, saya memasuki tahap baru dalam hidup ini. Pengurangan usia dari jatah yang diberikan Tuhan pada saya–yang entah berapa. Sebuah tahap yang seharusnya membuat saya menjadi terus dan terus membaik. Sebuah tahap yang dinamakan oleh banyak orang sebagai ULANG TAHUN.

Ada banyak pilihan untuk merayakan ulang tahun. Dan entah kenapa Tuhan memilih memberikan saya hadiah berupa sebuah tantangan bernama audit dari lembaga regulasi. Awal mula mungkin saya bergumam kesal terhadap pilihan hadiah ini, sampai kemudian dalam perjalanan pulang dari kantor kemarin, saya menyadari makna hadiah ini.

Terima kasih kepada Pakbos di tempat yang lama, yang memberi saya kesempatan ikut turun ke gudang menemani auditor, hanya beberapa bulan sebelum saya cabut dari tempat lama. Itu sungguh sebuah pengalaman yang keren, yang lantas saya ekstrapolasikan menjadi beberapa kesimpulan, yang kebetulan kebanyakan benarnya.

Bahwa saya tampaknya mengambil porsi terlalu dalam hingga kemudian seorang auditor bertanya, “kamu ini bagian apa sih?”

Maaf soal itu.

Tapi, entah kenapa, mungkin karena memang faktor ulang tahun, saya seperti ‘di atas angin’ kemarin. Kesimpulan ‘memiliki sistem yang mampu telusur’ adalah jawaban dari sebuah tantangan seorang lead auditor, dan berhasil saya buktikan. Nggak rugi saya pegang sistem ini sejak awal mula berdarah-darahnya, sampai ikutan proyek migrasi sangkuriang sampai jam 11 malam dua hari berturut-turut. Yeah!

Jadi apa hadiahnya? Bukan itu semua.

Hadiah terbesar dari Tuhan adalah sebuah keberanian. Ia memberikan sebuah keberanian kepada saya untuk menyampaikan sesuatu yang menurut saya penting. Sebuah masukan yang sebelah sisi hati saya bilang itu nekat, tapi sebelah yang lain bilang itu harus diungkapkan. Sebuah pernyataan yang bisa jadi mempengaruhi nasib saya ke depan. I dont know. Hati ini pasti paham arah dan tujuan keinginannya.

Sebuah keberanian yang tidak bisa saya pahami sampai sekarang, tapi akhirnya saya maknai sebagai hadiah dari Tuhan. Dan syukurlah, keberanian itu diberikan pada saat yang (menurut saya) tepat.

Semoga memang demikian.

Happy Birthday to me. Doakan saya terus berjuang menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

🙂

2012: Yang Sudah Berlalu

Mengawali tahun 2012 dengan sebuah perjalanan jauh (Bukittinggi-Jogja, start jam 3 pagi), saya mengakhiri tahun yang sama juga dengan sebuah perjalanan (Cikarang-Jogja-Jakarta-and then-Bandung). Dua perjalanan itu mengapit rangkaian peristiwa yang saya lewati di 2012.

Banyak hal–tentu saja–yang terjadi di tahun yang katanya bakal kiamat itu. Ada pencapaian bagus, ada pula kegagalan yang berharga mahal. Yah, namanya juga hidup. Bukan begitu?

Di tahun 2012 ini saya putus dua kali. Penting? Nggak juga kali ya. 🙂

Di tahun 2012 ini saya semakin akrab dengan bis, alih-alih pesawat. Frekuensi saya naik pesawat jauh berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya, tapi berbanding terbalik dengan frekuensi saya naik bis. Tanda ngirit? Maybe.

Di tahun 2012 ini juga saya akhirnya bisa ‘menyumbang’ tulisan di dua buah buku antologi cerpen. Setidaknya saya sudah pernah melihat buku yang di dalamnya ada tulisan saya, di toko buku.

Di tahun 2012 ini pula saya merasakan pelajaran besar bermakna tentang KEKECEWAAN terhadap sebuah KESUKSESAN. Sebuah refleksi atas pencapaian yang disikapi dengan sombong oleh seseorang. Dan, yah, sejak itu saya hidup tanpa passion, sama sekali.

Di tahun 2012 ini saya kembali ke panggung yang menakutkan, dan ‘cukup’ berhasil menaklukkannya. Ada di bagian lain blog ini tentang panggung itu. Sebuah trauma hampir 3 tahun bisa saya hilangkan. Saya juga berhasil meraih juara 1 (yang mana entah kapan saya terakhir kali menjadi juara 1) bersama tim happy puppet. Saya juga dengan senang hati ikut–lagi–lomba choir dan syukurlah berhasil.

Saya tidak banyak ketemu dengan orang-orang baru di tahun 2012 ini, selain anak kos baru. Hehe.. Saya lebih banyak duduk/tidur manis di kos dan menerawang di TL. What the fuck!

Saya juga merasakan makna GAGAL KETIKA KITA SUDAH BERUSAHA (dan keluar modal banyak). Fiuhh.. Syukurlah saya nggak menangis untuk itu. Tapi saya mulai merasakan indahnya mewujudkan mimpi (dan diberi wujud yang dilebihkan) via menjadi dirigen di lingkungan. Wong mimpi saya itu cuma ikutan koor lagi kok, malah dikasih lebihan. Hehe..

Hmmm, ya sudah.. Sudah lewat ini. Saya harus berubah, ada banyak ide di kepala, semoga bisa dituntaskan dengan aksi NYATA. Amin!

Selamat tahun baru.. 🙂

Kondangan

2012 ini tahun yang menyadarkan bahwa saya sebenarnya sudah ‘cukup’ umur, ditandai dengan terselenggaranya pernikahan 3 orang teman yang duluuuuu pas kuliah sekumpulan di UKF Dolanz-Dolanz.

Agak unik juga pernikahan 3 teman saya ini. Lebih unik lagi kalau dipadu padankan dengan perjalanan saya mencapai tiga tempat itu.

Boriz menikah 1 Januari 2012, Budi (alias Yoyo) menikah 30 Juni 2012, dan terakhir Sisil menikah 29 Desember 2012. Kalau dibuat pola, udah awal-tengah-akhir itu kan?
Soal tempat resepsi juga representatif. Boriz di UNY (Sleman–sepertinya), Budi di sebuah balai desa di Gunungkidul, dan Sisil di Madukismo (Bantul).
Lalu soal perjalanan saya mencapai ketiga kondangan ini, ehm, ada sedikit PENURUNAN. Hahaha.. Kalau Boriz dulu saya berangkat dari Padang, lalu dua kali naik Garuda, lalu naik Trans Jogja, lalu naik ojek, lalu nebeng Robert. Yah, poinnya di PESAWAT ya. Pas Yoyo, saya berangkat dari Cikarang naik bis ke Senen, lalu lanjut Senja Utama ke Jogja, lalu naik sepeda motor ke Ceria, lalu nebeng Boriz ke Gunungkidulnya. Poinnya sih KERETA API. Nah, yang kemarin, saya naik sepeda motor ke tol Cikarang Barat, lalu naik Lorena ke Jombor, terus naik BANG REVO ke lokasi. Poinnya sih naik BUS. Ehehehe, dari pesawat, KA, lalu bis. Penurunan perlahan sepertinya.

Yang eksis hadir, setahu saya nggak banyak. Setidaknya hanya Rian (Bunting), Chandy, dan Cawaz. Boriz mungkin bisa dihitung eksis, tapi kan kondangan pertama dia hadir sebagai yang dikondangi. Wkwkwk..

Begitu saja, sedikit posting nggak penting menutup tahun 2012 ini. Yuk lanjut! 😀

Choir

Yeah, what is choir?

Haha.. Nggak usah dijawab. Ya, sebagai contoh nih, lihat di page yang ada di blog ini bahwa saya pernah ikut lomba Christmas Choir Competition. Ada choir kan disitu? Anggap saja paduan suara.

Dua kali ikut lomba choir di dua pekan belakangan membuat saya sedikit ‘terbuka’ tentang profil choir yang ada–terutama di Jakarta.

Dipikir-pikir, uang yang berputar sebenarnya cukup besar. Kalau dulu di Jogja, setahu saya levelnya sekitar 600 ribu-an, di Jakarta bilangan sudah jutaan. Kualitas? Don’t ask. Saya bisa pastikan bagus, karena ya memang bagus.

Kapan ya, saya bisa ikut lagi choir yang ‘bener’?

Maksudnya, yang kualitasnya bagus, yang latihannya rutin, yang tugasnya rutin, dan yang MENAMBAH INCOME. *butuh duit mode on*

Iya, saya emang ‘ngelatih’ (mungkin lebih tepatnya milihin lagu sama jadi dirigen, i am not really sure that i am a choir coach) di lingkungan. Tapi, aih, boro-boro. Yang latihan 20, yang tugas 40. KEMANE AJE???

Kualitas apa sih yang diharapkan kalau begitu? Kualitas asal tahu lagu? Entahlah.

Saya lomba choir bareng CFX, alias Ex-CF. Lha tapi gimana latihan yang baik dan benar dan rutin dan lainnya kalau personelnya se-Jabodetabek. Sekali latihan (contoh di Gading Serpong), saya bisa habis 50 ribu ongkos doang, belum kalau kelaparan, belum lagi ada orang dekil masuk ke bis, makan silet, lalu minta duit. *dasar edan* Choir semacam ini sangat mengandalkan kualitas individu dan rekam jejak masa silam untuk saling mengenal. *tapi gitu-gitu juara satu lohhh…*

Kapan ya? Sesungguhnya, saya rindu suasana choir yang sebenarnya 😦

CFX: Perpaduan Kualitas dan Kehendak Tuhan

Entah dari mana saya harus mulai posting ini.

Suatu ketika Mas Mbong menulis di FB, menantang seluruh alumni CF untuk konser bersama berkedok reuni. *halah*
Lalu, dalam rangka nyari duit, pas ada lomba, pas lomba natal, dan segala pas-pas lainnya, akhirnya Oon bikin invitasi, siapa yang hendak turut.

Sampai disini, saya hanya sebagai pemirsa.

Kemudian datang lagi invitasi lanjutan, dan melihat list yang mau ikut, saya tertampar sendiri. Kalau si Nana (Bekasi) dan si Sammy (Bogor), serta Mas Alex (Depok) mau ikut, masak saya nggak?

Ya  sudah, akhirnya ikut.

Tentu ada pengorbanan waktu beberapa orang untuk mengurusi administrasi lomba. Juga pengorbanan tenaga untuk mempersiapkan teks yang ternyata harus dikonversi dari not balok. Saya, lagi-lagi, menjadi pemirsa saja. Dan terima beres.

Dalam hati terus berpikir. Bagaimana ceritanya, orang-orang yang ada di JAkarta, BOgor, DEpok, TAngerang, dan BEKasi ini bersatu dan latihan macam dulu? Kalau dulu semudah mengumpulkan di Mrican dan Paingan. Sekarang?

Sekadar melatih lagu pertama (The Twelve Days of Christmas) saja rasanya sudah setengah mati. Lagu dengan modulasi berkali-kali itu susah, apalagi birama 120. Sampai suatu hari kita membanting teks itu dan berteriak, “Mas Mbongggg..”

Itu di latihan pertama di Taman Suropati. Jangan ditanya juga bagaimana ceritanya mengumpulkan orang-orang di Taman Suropati itu. Satu hal, tidak lengkap.

Latihan kedua, di tempat yang sama, saya nggak hadir gegara hujan dan macetnya ibukota. Juga latihan di Gading Serpong, nggak hadir juga.

Saya baru nongol lagi ketika latihan di Gereja di belakang Sarinah. Dari siang sampai sore. Ini juga tidak lengkap. Malah ada yang baru pertama kali latihan, ya disini ini. Hehe.. Dan syukurlah, disini juga birama 120 itu pertama kali dinyanyikan dengan benar.

Latihan terakhir, di sebuah sekolah internasional di Gading Serpong. Ini latihan yang HAMPIR lengkap alias ya nggak lengkap juga. Sudah mulai benar nyanyi dan geraknya. Ehm, saya dari Gading Serpong jam 4, sampai Cikarang jam 7. Suwi men rek.

Dan itu adalah latihan terakhir, saudara-saudari!

Saya nggak berasa hendak ikut lomba. Ikut latihan cuma 3 kali, sangat tidak terbandingkan dengan yang saya alami lima tahun silam di Jogja.

Sampailah hari H, 8 Desember 2012, di sebuah kampus di Semanggi. Nomor undian 6. Orang-orang dari Jabodetabek yang nggak pernah komplit latihan itu akhirnya berkumpul komplit.

Jadi, paduan suara ini baru berkumpul semuanya lengkap, ya pas hari H.

Masuk ke Ruang Siaga 2, hanya 1 lagu yang bisa terlatihkan, ya lagu pokok. Dan si solo tenor (Jati) sempat luput. Sampai kemudian mukanya berubah tegang begitu. Hehehe.. Mana birama 120 itu ternyata buyar.

Sampailah saat terakhir, Siaga 1 (backstage). Rasanya aneh, hendak ikut lomba lagi. Sejujurnya lomba itu jauh lebih ganas daripada sekadar show peresmian pabrik. Show peresmian pabrik, sejelek apapun kita pasti ditepukin. Kalau lomba? Nilai jelek. Hal yang sangat berbeda.

Langkah pun dilakukan di atas panggung. Tidak banyak penonton, ada sedikit rasa syukur disana. Hehe.. Setidaknya mengurangi grogi. Habis foto-foto mulailah, orang-orang yang baru sekali ini tampil bersama komplit itu beraksi. Ya, pertama kali tampil komplit, ya pas di panggung. Entah buat yang lain, tapi buat saya itu gila.

Dan, kehendak Tuhan terasa benar. Ya, solis-solis tampil mulus, bahkan birama 120 yang mengenaskan itu akhirnya bisa terlewati dengan baik. Baik sekali malah. Asli mulus.

Dan penampilan ini sudah cukup membuat lepas di 2 show berikutnya. Yah, Sigulempong sama Jingle Bells Rock dilibas abis dengan gokil. Sampai-sampai di komentar juri tertulis “Great Showmanship“. Hehehe.. Bangga juga..

Dan nyatanya kemudian adalah paduan suara ini masuk final. Bersama 7 paduan suara lain yang (beberapa) dari nama sudah mengisyaratkan 1 tempat (lokasi) dan pasti nggak ada ceritanya baru sekali-kalinya komplit yang pas di panggung.

Apakah ini disebut well prepared?

Mungkin tidak.

Tapi kenapa bisa lolos?

Buat saya ini perpaduan dua hal, yakni kualitas dan kehendak Tuhan. Kualitas individu mungkin memang sudah cukup, secara mayoritas dulu digembleng di kawah candradimuka CF, belum lagi mengembangkan diri di choir lainnya. Lalu kehendak Tuhan?

Tentu saja. Mungkin ini jawaban Tuhan atas perjuangan orang-orang ini untuk bisa berkumpul, dengan jarak yang jauh-jauh untuk niat mulia menambah dana konser reuni tahun depan. Ya, Tuhan memang LUAR BIASA!

Mau tahu yang lebih luar biasa?

Dengan formasi yang lebih sedikit, tim yang sama akhirnya bisa JUARA 1! Saya nggak ikut final karena harus opening meeting. Andai saja meeting ini bisa ditunda (apa dibatalkan sekalian). Fiuhh.. Tapi rasa ikut senangnya, LUAR BIASA!

Buat saya, ini bukan sekadar kemenangan. Nilainya lebih kepada pertemuan kembali (dengan luar biasa–karena faktor jarak) dan berkumpul kembali di panggung, setelah sekian lama.

Awesome..

Menjelang Lomba

Bahwa saya mungkin nekat ketika mengiyakan ajakan kawan2 lama saya di CF untuk ikut lomba Choir. Ya, nekat.

Pertama, karena kebanyakan mereka berbasis di Tangerang dan sebagian lain Jakarta. Tapi begitu ada 1 orang Bekasi dan 1 orang Bogor ikutan, saya lalu berbisik, “Mosok sih aku nggak ikut?”

Kedua, dengan personel yang ting jlentreng di Jabodetabek, tentu intensitas latihannya nggak sering, dan harus pula berkualitas. Well, soal kualitas, tentu saya percaya kualitas teman-teman saya yang digembleng dengan batako di CF dulu. Hahaha..

Pada akhirnya saya setujui, dan saya sukses bolos beberapa latihan. Saya ikut 1 kali latihan di Taman Suropati, 1 kali di Gereja Theresia (Sarinah), dan 1 kali di Sekolah Stella Maris Gading Serpong. See? Hanya 3 kali! Kalau mau membandingkan dengan yang saya alami ketika ikut KPS Unpar IV tentu jauhhhh banget. Tapi, ya begitulah adanya.

Itu saja, saya sudah gila-gilaan. Ya, perjalanannya nggak semudah itu. Cikarang ke tempat-tempat itu bukan pula mudah. Ada cerita saya nunggu K67 di Blok M sampai 1,5 jam. Ada kisah saya menyaksikan hujan di dalam Agra Mas untuk perjalan Tangerang-Cikarang. Ada pula cerita dikasih tarif ojek yang alamakjang.

Dan lusa lombanya.

Dan pas pula, sudah 2 hari ini saya cumleng nggak karuan. Asli, langsung teringat kejadian lima tahun yang lalu.

2007.

Saya masih jadi panitia Titrasi dan sukses jatuh sakit di Sinolewah. Lalu? Ya, saya tetap berangkat menuju Bandung untuk lomba. Waktunya pas banget. Jadi pas lomba saya hanya perlu OBH untuk ekspektoran (sisa-sisa batuk).

Lha ini?

Entahlah. Memang sedang musimnya, karena seminggu ini saya sudah hujan-hujanan beberapa kali. Nanti juga sembuh.

Sebagai apoteker, saya sudah mendapat banyak pelajaran tentang sakit. Satu hal, sakit selalu ada penyebabnya. Sakit juga selalu memberikan dampak pada tubuh manusia. Dan tidak semua sakit bisa disembuhkan. Sakit bagi saya adalah keadaan tidak setimbang yang terjadi pada tubuh.

Misal, ketika sekarang, common cold menyerang saya. Ya ini karena si virus itu masih hidup. Nanti juga mati (kan self limiting). Sakit menjadi terasa benar karena kemudian saya HARUS kerja dan saya menjelang lomba.

Ya, semoga saya bisa. Ini lomba pertama sejak terakhir kali Desember 2007, alias sudah 5 tahun berlalu. Ini juga pertama tampil (lagi) sejak Maret 2011. Nyaris 2 tahun silam.

Sesungguhnya saya rindu menjadi berkualitas.
Semoga bisa 🙂

“Aku Ingin Keterima Farmasi USD”

Salah satu keseharian saya dengan si lappy adalah mengecek dashboard blog ini. Lalu melihat berapa kali blog ini dilihat dalam sehari, posting mana saja yang dilihat, dan sesekali melihat search engine terms yang digunakan orang di Google, Yahoo, Bing, atau apapun hingga kemudian masuk atau (mungkin) kesasar ke blog saya ini.

Dan hari ini saya melihat sebuah search engine terms yang unik.

Beneran nih?
Beneran nih?

Ya, sebuah search engine terms berbunyi “aku pengen ketrima farmasi usd”.

Sebegitu dahsyatnyakah almamater saya itu sehingga kemudian sampai ada orang yang memasukkan terminologi itu ke search engine?

Waktu saya masuk kuliah tahun 2004, saya mungkin kurang kontemplasi. Saya hanya merasa agak terjebak oleh nama dan kemudian atas dasar nama itu, saya lalu memilih fakultas yang termahal karena biasanya termahal itu terbaik. Ya, so simple. Dan pada akhirnya saya masuk, berkuliah di tempat yang kemudian ditulis di search engine itu.

2004 itu 8 tahun yang lalu. Dan selama 8 tahun tentu banyak yang berubah dan berkembang. Kebetulan, saya ikut serta di beberapa kesempatan pertumbuhkembangan almamater saya itu. Mulai dari akreditasi (2005) ketika saya diwawancara asesor dengan pertanyaan pertama “kenapa kamu suka Inter Milan?” dan percakapan kedua “kemarin abis menang lho lawan Roma (bukan Irama)”. Lalu juga ikutan beberapa rapat-rapat persiapan program hibah. Dan ikut juga dalam assessment hibah. Ya meskipun saya lulus dengan IP yang teramat sangat pas-pasan *hiks* tapi saya menikmatinya.

Dan tentunya ikut bangga, sampai segitunya ada yang desperate menulis search engine terms seperti judul tulisan ini. Hehehe..

Ya sudah, begitu saja kok. 🙂