“I am paying back now”

Sejujurnya saya kudu berdoa dulu sebelum nulis judul di atas, takut ngawur. Ya, kan malu kalo ngawur, secara saya punya adik (mantan) guru Bahasa Inggris dan calon adik ipar juga lagi sekolah Bahasa Inggris. Tapi di catatan saya tertulis begitu. Semoga bener ya 🙂

*ini kok malah salah fokus*
*kembali ke topik*

Ini sebenarnya sama persis ketika lebih dari setahun silam saya dikasih tahu teman soal ‘memberi bantuan’ pada yang membutuhkan. Waktu itu saya urunan ‘hanya’ 60 ribu rupiah per bulan untuk uang sekolah dua orang anak di Magelang. Sekarang, karena sudah naik kelas, malah hilang. Nanti hubungin Bu Sum lagi deh, supaya lanjut lagi.

Sama persisnya dimana?

Sama persis karena saya diberikan kesempatan untuk bisa membayar semua yang pernah saya terima atas nama pendidikan. Saya yang dulu cuma bisa oek-oek, bisa ngetik blog ini juga karena pendidikan. Saya sampai sekarang bisa mengelola kotak-dan-angka (pekerjaan sehari-hari saya) juga karena pendidikan. Lebih jauh saya juga hutang budi sama pendidikan karena isi perut saya sejak lahir dipasok dari ‘bisnis’ pendidikan. Iya, kedua orang tua saya adalah guru 🙂

Dan ketika saya kemudian mendapat email di grup farmasis muda tentang Kelas Inspirasi, plus kemudian berseliweran di Twitter, maka rasa pengen ikut itu muncul juga. Asli, begitu saya baca konsep Kelas Inspirasi, yang terbayang di benak saya adalah kejadian bulan Oktober silam ketika saya menunggui Mama mengajar, persis di depan kelasnya. Oya, beliau guru kelas 4 SD. Dan lantas terpikir, sepertinya seru juga. Saya lantas mendaftar saja di web Kelas Inspirasi. Dan saya juga tulis di essay yang diminta bahwa kedua orang tua saya termasuk yang menginspirasi saya ikut Kelas Inspirasi ini.

Kebetulan saya pasang push mailjadi setiap email yang masuk perlakuannya sama dengan SMS. Nah, waktu itu kan katanya diemail dari jam 19.00 sampai 22.00. Sampai jam 9 itu masih nggak ada email dari Kelas Inspirasi.

*mulai putus asa*

Tapi beberapa menit kemudian, saya dapat email yang dimaksud. Dan isinya ‘TERPILIH’. Sip! Dan di briefing kemarin saya baru ngeh kalau pendaftarnya ada 1000-an, artinya yang terpilih adalah separuhnya saja. Terima kasih atas kesempatannya.

Kemarin saya datang di briefingnya, bertempat di Gedung Indosat. Sebagai makhluk yang agak jauh tinggalnya, saya berangkat jam 9 pagi dari Cikarang. Untungnya jalanan bisa dibilang lancar jaya. Dan meskipun sempat dibohongin Google Maps, akhirnya saya sampai juga di Gedung Indosat, tentunya dengan berkeringat 🙂

Saya bergabung dengan ratusan profesional muda hingga senior di sebuah ruangan sambil duduk bersila. Ehm, sebenarnya saya nggak kuat lama-lama bersila. Efek gaya hidup buruk membuat saya gampang ‘kesemutan’ plus loro boyok. Tapi masak ya anak 26 tahun kalah sama yang senior. Jadi ya, dikuat-kuatkan 😀

Bagian pertama yang bikin merinding adalah ketika ratusan manusia di ruangan itu bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lha saya ini nyanyiin mars De Britto, hymne Sanata Dharma, sama mars kantor aja trenyuh, apalagi nyanyi Indonesia Raya?

*dasar melankolis*

Speech Pak Anies (sumber: dokumentasi pribadi)

Speech Pak Anies (sumber: dokumentasi pribadi)

Bagian kedua yang cukup mengena adalah speech dari Pak Anies Baswedan. Sebenarnya materi yang dibawakan oleh Pak Anies itu simpel loh. Cuma memang kebanyakan itu kurang disadari. Hal simpel misalnya. Bangsa ini didirikan oleh IURAN pendahulu kita. Pahlawan yang mati di medan perang itu iuran nyawa kan? Mbah saya dulu juga iuran tenaga dalam masa perang kemerdekaan. Itu iuran. Dan karena iuran itu terbentuklah Indonesia. Nah, lantas kita mau iuran apa?

Lalu juga soal terminologi ‘korban pendidikan’. Ini juga benar. Dan yang ditekankan oleh Pak Anies adalah sesuai judul yang saya tulis di atas. Terhadap semua yang sudah kita terima, ini saatnya kita membayarnya. Dengan apa?

Nah ini dia. Dengan apa?

Dalam video yang diputar sebelum speech dari Pak Anies ada quote. Think big (please koreksi, yang benar think atau dream hehe..), start small, ACT NOW. Poin terakhir, ACT NOW. Jadi kita membayarnya dengan bertindak.

Dan Kelas Inspirasi adalah salah satu cara bertindak sekarang 🙂

Ya, daripada menonton berita di negeri ini, Si Itu ketangkap disini, Si Anu kena kasus itu, bukankah lebih baik kita menyalakan mimpi melalui ruang-ruang kelas? Daripada mengutuk kegelapan, bukankah lebih baik menyalakan lilin? Pak Anies sih agak nyindir juga. Misalnya waktu ngomong soal integritas. Tanpa integritas, kita nggak akan sampai ke world class. Kalau jadi bupati sih masih bisa :p

Sebuah hari yang istimewa bagi saya. Apalagi kemudian bisa bertemu rekan-rekan dari aneka ragam profesi. Saya ada di kelompok 2, bersama orang-orang dari beragam profesi. Terbukti, dari kartu namanya saja sudah macam-macam. Hehehehe…

Semoga hari kemarin menjadi awalan baik, untuk beberapa hari lain ke depan, sampai tanggal 20 Februari, ketika HARI INSPIRASI berlangsung.

Oya, ada yang bilang, niat yang baik itu akan diberkati jalannya. Ketika kemarin saya pulang kok agak ngerasa ada keberuntungan. Waktu acara briefing, sekitar Gedung Indosat hujan. Pas pulang, sudah reda. Lalu katanya lagi ada banjir di beberapa tempat dan jalanan padat (misalnya di TolDalKot). Tapi saya tidak ketemu sama sekali dengan macet/padat sedari Gedung Indosat sampai Halte Benhil dan kemudian dari Semanggi ke Cikarang. Kalau sekadar berdiri dari Jakarta-Cikarang, itu wajar di malam minggu. Ketika sampai Cikarang, hujan malah sudah reda. Keberuntungan? Bisa jadi 🙂

Dari briefing ini saya mulai berpikir banyak hal. Mulai dari materi yang akan disampaikan pas HARI INSPIRASI besok, sampai ingin membuat hal yang mirip dengan Kelas Inspirasi, setidaknya di sekolah tempat kedua orang tua saya mengajar di Bukittinggi sana.

Kiranya Tuhan menolong saya, seluruh relawan Kelas Inspirasi lainnya, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan di Indonesia.

BANGUN MIMPI ANAK INDONESIA!

Senja Di Matamu

Batu kali yang sedikit tajam dan tidak licin adalah peraduan yang tampak pas sore ini. Aliran sungai yang masih jernih terdengar gemericik penuh dilema. Aku memasrahkan pantatku pada batu sebagai tempat bersandar. Mataku menerawang ke sekeliling.

Tempat ini sudah berbeda.

Masih kuingat ketika kita menikmati masa bersama-sama di aliran sungai ini. Ya, bersama-sama dengan yang lain tentunya. Sebuah kebersamaan yang indah dibungkus oleh kenyataan bahwa aku tidak bisa mendekatimu. Ironi dibalik senyuman. Tak apa, sejauh aku bisa dekat denganmu, itu adalah kebahagiaan terbesar.

“Rrrrttttttttttt….”

BB-ku bergetar. Mentions. Ah, hari gini, bahwa mentions di Twitter saja sudah dibuat sepenting SMS dan telepon. Mentions itu paling menarik, tapi kurang menarik kalau semata RT tanpa komen. Yah, tak apa juga sih, RT itu kan bentuk apresiasi. Sayangnya, kamu tidak bisa RT semua Tweetku, karena tidak ada namaku di Timeline-mu. Mau mentions kamu, aku malu. Jadi ya sudahlah. Mengecek timeline-mu adalah bentuk hiburan yang tak kalah indahnya dari duduk di batu kali ini.

Sehelai daun jatuh, aku melihatnya dengan jelas. Aliran air membawanya turun mengikuti gravitasi. Tampaknya daun ini bisa sampai ke laut kalau beruntung. Mungkin di laut dia bisa bertemu dengan dunia yang lebih luas. Dia bisa menikmati hidupnya sambil santai kayak di pantai.

Tapi lebih baik kalau kusapa sejenak.

Daun itu kuambil, kuangkat setengah meter dari permukaan air, kubersihkan, dan kupandangi. Ini daun sendirian, terlepas dari batangnya, hendak mencari kehidupan di tempat lain. Mirip sekali denganku. Huh…

Senja mulai turun. Aku suka sekali ini. Menikmati senja di atas batu dibantu gemericik aliran air. Sungguh alunan melodi alam yang tiada duanya. Senja sekali mengingatkanku pada hari itu.

Sebuah senja, bertahun-tahun silam, aku dan kamu, berdua di tempat ini, dalam keramaian teman-teman kita. Aku dan kamu yang duduk terdiam menanti senja. Sesekali saling menatap. Sebuah senja yang sederhana, penuh diam, dan terbenam pada perasaan yang tidak terungkapkan.

“Kita akan selalu jadi teman baik kan?” katamu.

Aku hanya menganggukkan kepala.

Aliran airnya masih sama. Senjanya juga demikian. Hanya satu yang beda, aku sendirian di tempat ini, menikmati keadaan di sekitarku. Alunan air bisa mengingatkanku bahwa air tidak setiap kali akan masuk muara dan laut. Air bisa saja menunggu lama sebelum sampai ke laut. Di jalan bisa diambil orang. Seperti itulah aku memendam rasa kepadamu.

Dan senja bersiap menutup hari. Aliran air membasuh kakiku yang berjalan ke tepian. Aku berharap air ini akan sampai ke laut. Janganlah seperti aku, hanya mengikuti aliran air itu, menanti di titik yang sama ketika diambil orang, lalu berjalan kembali ketika orang sudah membuang air itu. Air ini berhak diperlakukan lebih berharga. Kamu juga.

Dan senja menutup hari, ketika aku tidak dapat lagi melihat aliran sungai itu.