All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Letter #2

LDR_BannerLondon

Dear Mas Arie,

Iya, aku tahu ini belum seminggu dari surat terakhirku buat kamu, but I hope you don’t mind if I flood your blog with my letters, hihi…

So, Sunday! Hari dimana kamu biasanya akan berangkat pagi-pagi banget dari Kramat, naik KRL ke Bintaro, tiba di depan (mantan) kosanku sekitar jam 8, sarapan, ke gereja di Sanmare jam 9 pagi, pulangnya belanja di Lotte Mart, masak bareng (maksudnya aku masak bareng dukungan doa dari kamu gitu, because we know you had tons of reasons to not-helping me in the kitchen :p).

Hari Minggu terasa berbeda sejak dua minggu ini. For me, for you. Kamu akhirnya hijrah ke gereja Kramat setelah sekian lama nggak pernah kesana walaupun jadi penduduk sana, karena sudah nggak ada lagi mbak-mbak lucu di Bintaro yang bisa kamu apelin. As for me, aku juga hijrah ke Newman House, the Catholic Chaplaincy for the Universities and other Higher Education Institutions in the Diocese of Westminster (hore! Lengkap!).

Selanjutnya, Mbohae!

Menerima Komedi

Jadi ceritanya saya baru–barusan aja–kena marah sama kakaknya pacarnya temannya adek saya. #nahlohbingung. Si temannya adek saya nongol di newsfeed lagi di bandara, mau balik ke suatu kota yang mana daripada saya pernah hidup disana selama 2 tahun. Baca profil saya aja biar tahu ya. Nah saya komen beberapa, salah satunya bilang kalau LDR di kantor saya yang lama itu biasanya putus. Sudah saya tambahkan hashtag untuk memperjelas kesan bercandanya, sudah saya tambah haha dan hehe. Menurut saya sih sudah cukup ya? Oh, bahkan hipotesa saya sudah dibantah dengan lugas dan tegas–juga dengan bercanda–oleh temannya adek saya. Ya sudah saya kalah. Mestinya cukup kan ya?

Ternyata nggak, saudara-saudari. Saya kena semprot sama kakaknya pacarnya temannya adek saya. Katanya saya harus berhati-hati untuk berkomentar, katanya lagi YOUR WORD REPRESENT YOUR PERSONALITY. Yah, berhubung saya juga nggak kenal dengan kakaknya pacarnya temannya adek saya itu, saya nggak perlu ajak ngopi-ngopi untuk meluruskan suasana. Eh, suasana kok lurus?

Saya cuma mau cerita. Mirip dengan kisah yang barusan saya komen. Kebetulan saya dan pacar kan LDR, nih. Beberapa hari sebelum pacar berangkat ke London, teman di Balkes, Mas Didit cerita tentang temannya. Teman itu namanya Ari (juga), dulu kerja di market leader (juga), dan ditinggal LDR ke luar negeri (kebetulan yang ini New Zealand, malah lebih dekat). Ceritanya pahit habis. Si laki-laki itu sudah bela-belain pindah agama, eh si perempuan pulang dari New Zealand malah bawa cowok bule!

Mas Didit bercerita dengan gamblangnya, dan beberapa kali bilang, “hati-hati loh, Mas”. Saya sih hanya ketawa saja. Kalau saya mau, saya bisa banget untuk tersinggung ketika Mas Didit bercerita kisah itu sepanjang perjalanan dari Cibiru sampai Cikarang Baru.

Ya, seperti yang saya ceritakan di tulisan tentang menulis komedi, dahulu saya adalah orang amat-sangat-mudah-tersinggung. Sampai saat ini, dalam beberapa situasi hal itu muncul sih, tapi selalu berusaha saya redam. Saya berusaha mengubah diri dengan cara menulis komedi. Saya tulis disitu bahwa hal-hal yang bikin tersinggung itu kadang bisa ditertawakan. Dan menurut pengalaman saya, daripada tersinggung, lebih baik tertawa. Makanya, ketika Mas Didit cerita itu, saya memilih tertawa. Apapun yang terjadi nanti, ya terjadilah. Yang jelas cerita Mas Didit nggak bikin saya tersinggung, saya dan Mas Didit tetap baik-baik saja, dan saya malah bisa belajar untuk tidak seperti yang diceritakan oleh Mas Didit.

Memang, ada hal-hal yang membentuk saya. SMA di De Britto, gaul di UKF Dolanz-Dolanz, hingga DCFC, semuanya sangat pedas dalam berkata-kata. Kalau diturutin tersinggung terus, seperti yang saya alami di awal-awal SMA, sayanya malah stress gila. Memang kalau urusan jodoh itu sesekali bisa bikin spaneng. #apacoba.

Sebenarnya pelajaran juga bagi saya untuk bercanda. Sebagai penulis yang mengarahkan produknya ke komedi, baik di blog maupun di buku, saya terbiasa menulis bebas, sesuka saya, lha wong blog-blog saya, buku juga buku saya. Si kakaknya pacarnya temannya adek saya tadi ada benarnya untuk meminta saya hati-hati menulis di wall/status/foto seseorang. Boleh juga, sih. Beneran saya harus belajar untuk memilih dan memilah serta untuk mengerti bahwa tidak semua orang bisa menerima sebuah komedi. Makasih loh, Mbak.

Saya berani komen seperti itu, karena bapak-bapak DCFC juga pernah berkomentar hal yang sama kepada saya. Sekali lagi, saya bisa tersinggung, tapi ketika itu saya tidak memilih untuk tersinggung, dan benar sesuai yang teman saya bilang, LDR saya itu justru berakhir ketika saya sudah tidak LDR kok. Bahkan ketika saya dibercandai, “sudah dibelain pindah malah putus” ya akhirnya tetap biasa saja. Kalau ingin dituruti, ya sedih juga kan ya?

Begitulah pelajaran hari ini. Semoga si teman baik-baik saja sama kakak iparnya, sebaik saya dan calon adik ipar saya. Serta sebaik adik saya dan calon kakak iparnya. Amin.

Letter #1

LDR_Banner

London

Dear Mas Arie,

It’s been two weeks! Two weeks since our last hug, since the last time I could have your hands on mine. I am so missing you!

Dua minggu ini rasanya berlangsung sangat lambat buatku. Rasanya tiap saat aku menghitung hari, kapan bisa balik ke Indonesia. Dua hari pertama adalah hari terberat buatku. Sampai di kota yang benar-benar asing setelah tujuh belas jam duduk di bangku pesawat terbang, disambut dengan hiruk pikuk kota metropolitan dengan segala hal yang serba cepat, menghadapi perbedaan waktu. Waktu baru pertama sampai dorm pun, aku cuma sempat taruh koper aja, habis itu langsung pergi ke toko yang jual bantal dan lain-lain. Capek! Haha…

But life must go on! So I told myself, I am here now, let’s not grieving, let’s start to live a life. Untunglah, sekolah sangat menyenangkan. Materinya, pengajarnya, suasananya. Kelasku isinya international student semua, and it’s nice to hear their stories about their respective country. Temanku dari Finlandia bilang dia pernah hidup di suhu -40 derajat, temanku dari Kenya cerita dia bisa lihat zebra dan jerapah di halaman rumahnya, temanku dari Hongkong (iya, yang kamu bilang cantik itu) cerita soal bagaimana hidup sebagai farmasis di negaranya.

Although it’s fun, it’s challenging as well. Bayangin aja, 180 credits dalam 3 term alias 12 bulan! Mabok, mabok deh. Bener-bener harus rajin belajar sendiri, harus exploring something new juga. Dan kadang-kadang, aku merasa nggak percaya diri sama diriku sendiri. Bisa nggak ya, aku melewati semua ini. Bisa nggak ya, aku lulus. Hahaha…

Untung aja ada mas pacar yang selalu nemenin aku belajar. Via Skype. Thank you for stay alive until late night supaya bisa Skype sama aku yang jam segitu baru pulang kuliah ini. Melihat wajah kamu dari layar tablet memberi suntikan semangat buatku, semangat untuk lulus dengan baik dan pulang ke Indonesia dan bertemu denganmu. Yay! Bener-bener terimakasih banget ya sama kemajuan teknologi informasi zaman ini. Kayanya aku bisa gila deh kalau cuma bisa liat muka kamu setahun sekali.

Mas, lagi dingin nih hari ini. Hujan pula. Cuaca London itu ibaratnya suasan hati aku pas lagi PMS. Unpredictable at its max level. Kemarin cerah ceria, hari ini super kelabu. Dingin-dingin sendirian di kamar, terus kangen deh sama kamu. Pengen nge-pukpuk rambut barunya yang botak itu haha. Anyway, terimakasih karena sudah melaksanakan ‘titah’ saya buat potong rambut ya. Pokoknya kamu cakep kalau rambutnya pendek. Hehehe.

IMG-20141001-WA0013

Ngomong-ngomong, malem Minggu nih. Semangat ya, buat aku, buat kamu. Seperti biasa, kita malam Minggu-an via dunia maya aja yah hehe. Jangan lupa makan malam. Jangan lupa bersihin kamar. Jangan lupa shaving. Jangan lupa makan buah sama sayur harus ada setiap hari di menu makanannya ya.

Hugs and kisses from London,

Love,
Tiesa

* * *

Jakarta

Dear Tiesa,

Nota dinas ini saya kirimkan… eh… salah ya? Hmmm, harap maklum, tuntutan pekerjaan mengedarkan nota dinas ke bagian-bagian terkait. Ya sudahlah, namanya juga kembali fitri.

Beberapa hari ini aku lewat Kramat, stasiun andalan buat macar. Baru ngeh juga sudah sebulan nggak jadi penumpang KRL Commuter Line KMT-TNB, lanjut TNB-PDJ. Udah lumayan lama juga. Aku kan rindu ngecengin mbak-mbak di kereta. #ups #ditabok

Nggak ada yang terlalu baru dua minggu ini. Palingan cuma kabar si BG yang akhirnya dicuci sesudah berbulan-bulan lamanya. Juga kabar bahwa si BG sudah diisi Shell V-Power, yang paling mahal. Terus apalagi ya? Oya, si BG tetap jadi tempat tidur yang nyenyak untuk wanita dari kalangan kucing kampung. Oh, dan masih belum ada wanita lain dari spesies manusia yang menumpang di joknya si BG, selain wanita yang sudah-sudah. Yang utama dan terutama tentu kamu 🙂 Ya, kira-kira begitu.

Tanggal 1 Oktober kemaren jadi komandan upacara (lagi), cuma karena kostumnya nggak kece jadi fotonya tidak disebarluaskan supaya tidak beredar di Instagram kamu. Soalnya seragamnya mirip office boy Hotel Balairung Matraman, cuma kurang rompi merah sahaja. Terus apalagi ya? Oh! Akhirnya sesudah 7 bulan absen, bisa ikut misa Jumat Pertama lagi. Nggak sedekat Titan ke Sanmare, tapi yang pasti nggak sejauh Jababeka ke Trinitas. Malu juga, sih, giliran jauh rela-rela saja dijabanin sampai pernah kecelakaan. Giliran sudah terbilang dekat, malah absen. Sebagai lelaki bertampang santo gagal Jumat Pertama selama itu sebenarnya bukan pencapaian yang baik. Heu.

Yaudah. Sekolah yang bener ya. Jangan ngecengin bule, ingat kalau sudah dibiayain sama negara, jadi kamu juga harus setia sama negara. Salah satu bukti setia pada negara adalah setia pada abdi negara. Salah satu contoh abdi negara adalah CPNS. Jadi, untuk membuktikan kamu setia dan sayang sama negara, kamu harus setia dan sayang sama CPNS. Nah, salah satu CPNS itu adalah pacar kamu. #okesip

Hugs and kisses (wah, nggak enak kalau dibaca yang belum cukup umur) from Jakarta Pusat bagian dusun,

Love,
ArieSadhar

Antara Brunswick Square dan Percetakan Negara

Halo pemirsa ariesadhar.com yang saya cintai! *cipoksatusatu*

Mungkin banyak yang suka baca tulisan tentang jomlo di blog ini. Iya, memang banyak. Sebagian diantaranya adalah curhatan pribadi. Sebagian lainnya adalah semata-mata hendak ngenyek jomlo. Iya, jelek-jelek begini saya punya pacar loh!

Terima kasih kepada Rian Chocho yang akhirnya membalas budi terhadap campur tangan saya tujuh tahun yang lalu. Kok terima kasih? Terima kasihnya karena sudah turut serta dalam kenalnya saya dengan seorang gadis yang kemudian secara tiba-tiba ada di seluruh hidup saya. Satu hal yang pertama kali dibilang oleh teman saya yang playboy itu adalah  bahwa gadis itu suka menulis. Otak saya seketika berputar dan berharap bisa kolaborasi nulis buku, laku, lalu kalau poinnya cukup bisa jalan-jalan ke Paris. #loh

Sejak punya pacar, saya nggak pernah men-state secara jelas di blog ini. Siapa sih dia? Bagaimana kami lalu bisa pacaran? Awalnya, saya cuma takut, nanti kalau (amit-amit) putus, saya bakal kerepotan menghapus semua post yang ada namanya dia. Tapi setelah melihat blogger lain dengan pede memperlihatkan kebahagiaan hubungan mereka. Kenapa saya nggak?

Kebetulan, pacar saya sedang sekolah di London. Gile, saya seumur-umur mimpi paling tingginya sekolah di UGM, si pacar malah sudah kuliah di London, di sebuah universitas yang mirip sekolahannya Harry Potter. Iya, memang dekat sama stasiun tempat si Potter berangkat itu loh. Tanah Abang.

*kemudian hening*

Saya merasa sayang saja kalau cerita LDR ini tidak didokumentasikan. Ehm, ngomong-ngomong LDR, kok berasa ditakdirkan akrab dengan LDR ya. Cuma sekali saya nggak LDR, sisanya ada bau-bau LDR. Cerpen saya di buku antologi pertama juga berhawa LDR. Karin, tokoh di cerpen itu, adalah cewek yang LDR sama Barlian. Buku antologi ketiga saya malah judulnya ‘Curhat LDR’. Sudah terang benderang begitu judulnya.

Yah, dalam rangka mengabadikan momen hubungan yang dipastikan tidak mudah ini, maka mari kita sambut segmen baru di blog ariesadhar.com ini. Namanya harus kece kayak pacar saya: Antara Brunswick Square dan Percetakan Negara! Ini mengacu pada tempat kami sehari-hari menghabiskan waktu. Oh iya, dua tempat yang jadi judul itu sama-sama dekat stasiun berawal huruf K. Brunswick Square dekat dengan King’s Cross, Percetakan Negara dekat dengan…

Kramat. Anggap saja setara. *ngampet ngguyu*

So, kalau ada posting yang diawali dengan banner ini:

LDR_Banner

Maka itu cerita kami. Semoga pembaca ariesadhar.com yang terkasih bisa memetik sesuatu, menghina saya (karena LDR), atau apapun asal jangan ngegodain pacar saya, kalau ngegodain saya sih boleh.

Selamat membaca!

Supir APB 04 Yang Ramah

Kantor saya sekarang berada di sekitar Jalan Percetakan Negara. Salah satu angkot yang beredar adalah Angkutan Pengganti Bemo nomor 04 jurusan Salemba hingga Rawasari pulang pergi. Dimulai dari depan YAI (seberang UI), masuk di dekat Sevel, terus lewat Rutan Salemba dan menyusuri Jalan Percetakan Negara sampai habis hingga kemudian sampai di sekitar Rawasari sebelum perempatan bawah tol. Sehubungan dengan kemalasan saya naik motor di Jakarta, jadilah si BG lebih banyak diam. Mobilitasnya jauh menurun dibandingkan waktu saya di Cikarang yang bisa pulang pergi Jababeka Lippo sehari dua kali kalau weekend.

Tidak ada yang istimewa ketika saya menaiki APB 04 ini. Semuanya biasa saja. Supir-supir yang main suruh orang turun di kemacetan rel antara Sentiong-Kramat juga ada. Pokoknya impresinya kalau nggak biasa, ya buruk.

Sampai ketika saya naik APB 04 yang ini.

IMG20140919115119

Dari luar, dia seperti APB 04 pada umumnya. Sampai kemudian di kompleks Bank Mandiri ada sekelompok pelajar turun.

Selanjutnya, Mbohae!

7 Superhero Yang Tidak Bisa Hidup di Jakarta

Anggap saja ini lanjutan postingan tentang superhero yang kemaren. Sudah kira-kira enam bulan saya menjadi penghuni Jakarta. Finally, sesudah bertahun-tahun batal jadi anak Jakarta gegara aneka hal. Pertama, pabrik farmasi Soho menelepon saya pada hari ke-3 saya bekerja di pabrik farmasi lainnya. Kedua, saya nggak jadi masuk Kalbe karena beberapa alasan yang kurang signifikan. Sekarang jadi juga, deh. Nah, karena sekarang sudah jadi penduduk Jakarta, saya kemudian berimajinasi tentang superhero. Ternyata ada beberapa superhero yang walau dipaksakan seperti apapun nggak akan bisa hidup, tinggal, dan berkeluarga di Jakarta.

Kura-Kura Ninja

Kita tahu bahwa Michaelangelo dan kawan-kawan adalah kura-kura yang tinggal di saluran air di bawah jalanan kota. Kita juga tahu bahwa dia diajar oleh guru yang merupakan tikus hasil mutasi. Baik guru dan murid sama-sama hasil mutasi, dan mereka bermutasi ukuran juga. Jadi besar. Nah, sekarang coba dicek di Jakarta itu yang gorong-gorongnya bakal muat untuk tempat hidup seorang Donatello sebesar ini?

teenage-mutant-ninja-turtles-25th-anniversary-collection-20090810015115137

Sementara kita tahu sendiri bahwa ukuran gorong-gorong di Jakarta kira-kira begini:

Selengkapnya, Mbohae!

[Interv123] Creepy Diary 2

Interv123 kembali! Hore! Hore! Entahlah, sejak mewawancarai dua PNS dalam dua edisi Interv123 sebelumnya, tetiba rubrik itu bersikap seperti PNS era Pujangga Baru, makanya lantas vakum. Ehm, sekarang dengan niat teguh kukuh berlapis coklat hazelnut mari kita mulai lagi rubrik kece di blog ariesadhar.com ini. Namanya juga proses return, tentu tamunya nggak boleh sembarangan. So, di Interv123 kali ini kita bertemu dengan seorang penulis buku kondang. Oh, bukan buku tips menjawab kapan kawin ketika ditanya pas kondangan ya, tapi buku bergenre horor. Ehm, saya sih kurang setuju buku dia dibilang horor karena saya justru hampir menangis ketika membaca bukunya, bukannya malah ngeri. Kenapa? Tentu saja karena cerita di bukunya adalah pengalaman sebagai seseorang dengan kemampuan lebih.

BVx_2t7CYAAWzZt
Ayumi yang paling kiri pegang bukunya Kevin 🙂

Yup! Daripada berpanjang-panjang, marilah kita bertemu dengan Ayumi Chintiami. Ayumi adalah penulis buku My Creepy Diary yang beberapa bulan lebih tua daripada Oom Alfa dan sama-sama diterbitkan oleh penerbit kece kami, Bukune. Di saat adiknya Oom Alfa masih dalam tahap awang-awang, Ayumi justru baru saja mengeluarkan buku terbarunya yang berjudul My Creepy Diary 2. Mari kita tanya-tanya dia sekarang.

Halo, Kakak. Kabar baik? Sehat? Kalau sakit, terus beli obat, jangan lupa cek nomor registrasi BPOM-nya ya! #outoffocus

Hai, aku baik sekali. Maaf baru membalas email kamu yang sudah lumutan ini.

Iya, Kak. Nggak apa-apa. Penulis kan sibuk menggalau. Pertanyaan pertama, bagaimana rasanya jadi penulis terus bagaimana juga perbedaanya dibandingkan ketika belum menjadi penulis?

Rasanya beda. Karena ya sekarang lebih punya banyak teman.

Selengkapnya, Mbohae!

Bukan Plagiat, Tapi…

Pagi ini saya ngepet, uhm, nge-Path sih tepatnya. Sedang geser-geser sana-sini, tetiba saya sampai pada sebuah posting yang aneh–menurut saya. Langsung saya buka posting Path itu, lalu saya baca, dan ya benar saja. Benar-benar patah hati. Ini dia postingannya.

Screenshot_2014-09-25-08-11-40 (1)

Kenapa patah hati? Karena konten gambar rePath-an itu adalah sepenuhnya diambil dari tulisan saya ketika jadi pengangguran yang berjudul 97 Fakta Unik Anak Farmasi. Harusnya senang dong, tulisannya di-share? Ehm, iya senang. Tentu saya senang ketika karya saya jadi bahan untuk mengenang dan ketawa, namun satu hal yang kurang adalah gambar yang berisi tulisan copasan itu nggak mencantumkan sumber tulisannya. Ya, memang, ini era bebas. Copas mengcopas adalah hal yang lumrah di dunia internet cepat buat apa ini. Makanya, saya nggak bisa marah, saya hanya bisa patah hati.

Sebenarnya, nggak ada yang diuntungkan disini. Beda dengan sebenarnya.com, yang jelas-jelas melakukan klaim, siapapun yang membuat tulisan ini sama sekali tidak menginginkan keuntungan. Tidak ada nama, dan tidak ada apapun yang ditampilkan, selain tulisan. Saya yakin si pembuat sepenuhnya hanya ingin tertawa. Tapi, plis, bisakah sekadar menulis sumbernya saja? Tulisan saya di beberapa blog juga ada, beberapa bahkan tanpa backlink, tapi tetap saya iyakan tanpa patah hati karena setidaknya menulis nama saya atau menulis alamat blog tempat tulisan aslinya berada. Sebuah tulisan tidak tiba dari langit, even itu tulisan paling kacau sekalipun. Sebuah tulisan butuh proses, sama halnya dengan lagu, dengan lukisan, atau dengan karya lainnya.

Saya juga nggak hendak mencari tahu siapa yang nge-rePath. Nggak penting juga. Toh, nggak ada pihak yang diuntungkan. Sayapun secara langsung tidak dirugikan. Saya cuma ingin teman-teman semua berada pada posisi ketika karya kita beredar tanpa kita tahu, dan tanpa ada apapun yang mengidentifikasikan bahwa itu adalah karya kita. Coba saja rasakan.

Pro Path

Begitu saja. Posting ini tidak sesuai timeline blog ariesadhar.com ataupun blog oomalfa.blogspot.com karena ini memang semata-mata posting patah hati. HEHEHEHE *tertawa pilu*

Oya, selamat hari farmasis sedunia! Saya bangga jadi apoteker, walaupun sertifikat kompetensi saya sudah habis masa berlakunya.

8 Superhero Yang Tidak Boleh Hidup di Indonesia

Superhero adalah sesuatu yang terkenal, tapi umumnya di Amerika atau Jepang. Kadang heran aja, kenapa yang ingin menguasai dunia itu turunnya di Amerika, kok bukan di Johar Baru saja. Pasti ada pertimbangan tertentu, selain pertimbangan biaya syuting. Yah, setelah dipikir-pikir, hidupnya para superhero itu kadang pelik, dan saking peliknya ada beberapa superhero yang ternyata tidak boleh hidup di Indonesia karena berbagai alasan. Tulisan ini mengacu pada stok superhero dalam superherodb.com. Siapa saja mereka?

Power Rangers

Dari edisi manapun, Power Rangers dilarang keras hidup di Indonesia. Oh, termasuk dalam hal ini Ultraman juga sih. Kenapa coba Tommy, Billy, Trini, Kimberly, dan kawan-kawan nggak boleh hidup di Indonesia? Sederhana saja, kalau lagi melawan musuh-musuhnya, Power Rangers akan berantem sampai akhirnya membuat robot besar melawan monster yang juga membesar. Pertarungannya terjadi di tengah kota, bukan tengah hutan. Otomatis, gedung-gedung bakal hancur.

download

Nah, disini masalahnya. Sila cek ke KPK, berapa banyak tersangka korupsi yang berkorelasi terhadap proyek dan pengadaan barang serta jasa terkait PP No 54 tahun 2010 dan PP No 70 tahun 2012. Ketika gedung-gedung itu hancur, maka otomatis butuh proyek lagi untuk membangunnya, dan itu berarti ada potensi penyalahgunaan pengadaan, apalagi kalau proyek itu didasarkan pada bencana. Ya, kali saja demi kepentingan proyek, bangunan yang hancur karena terhantam monster yang habis ditinju, dianggap sebagai dampak bencana. Dengan begitu, ada beberapa bagian dari proyek pengadaan yang dipercepat dan bisa menyebabkan kerugian negara. Saya yakin, kalau Power Rangers berantem dengan monster, mafia-mafia proyek pasti bertepuk tangan karena itu berarti mereka bakal dapat proyek lagi. Kemungkinan juga, pejabat pengadaan yang polos dan nggak salah apa-apa bisa kejeblos ke penjara, sementara sutradara dan orang yang memperoleh keuntungan besar lantas bebas berkeliaran. Gara-gara Power Rangers!

Mbohae!

7 Hal Yang Tidak Boleh Dilakukan Oleh Pelaku Cinta Diam-Diam

Selamat pagi ataupun siang ataupun malam para khalayak ramai pecinta penggalauan. Selamat datang kembali di blog ariesadhar.com yang menyajikan aneka cara nggerus yang baik. Sesudah kemarin sempat membahas tentang beberapa tanda bahwa cinta diam-diam ketahuan, maka sekarang mari pembahasan dilengkapi dengan hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh pelaku cinta diam-diam. Hal ini sangat penting untuk memastikan bahwa proses cinta diam-diam bisa berlangsung lama dan bisa dinikmati dengan indah oleh para pelakunya.

silent-love

Yah, mungkin sepertinya cinta diam-diam itu nggak ada indah-indahnya sama sekali. Akan tetapi, para pelaku pasti tahu alasan yang jelas untuk melakukan aktivitas paling mengenaskan sejagat raya itu. Saya sebagai mantan pelaku tentu saja menghormati hak-hak pelaku cinta diam-diam, dan untuk itu turut serta berbagi beberapa pantangan berikut.

1. Menyatakan Cinta

Sudah jelas bahwa yang kita bahas disini adalah kegiatan miris bernama cinta diam-diam. So, agar kegiatan itu tetap bernama cinta diam-diam, maka larangan yang paling utama adalah menyatakan cinta, walaupun menyatakan pendapat itu dilindungi oleh Undang-Undang Pilkada. Soalnya, kalau kamu menyatakan cinta, maka cinta itu nggak jadi diam-diam lagi. Itu menjadi cinta yang diungkapkan. Bukan apa-apa, perlakuan dan kenikmatannya beda. Bagi pelaku cinta diam-diam, bahagia itu lebih sederhana. Sesederhana orang yang dicintai mengirim WA, padahal itu di grup WA. Bahagia itu sesepele melihat orang yang dicintai sedang makan di sebuah restoran bersama dua istri dan tiga belas cucu. Sekali lagi, kalau memang ingin cinta diam-diam, ya nggak usah diungkapkan!

Mbohae!