[Review] Critical Eleven

Sejak OOM ALFA rilis, udah lama sekali saya tidak baca novel secara utuh, padahal novel juga banyak. Entah mengapa, mungkin karena saya terlalu sibuk mengutuk diri pada terminologi penulis-kurang-laku. Padahal harusnya membaca novel orang lain adalah cara untuk bisa menjadi lebih laku. Untunglah ada kesempatan diklat ini, yang mana daripadanya sesudah jam 5 waktu hanya habis untuk meringkuk manja di atas springbed yang lebih empuk daripada kasur di kosan. Maka, membaca novel adalah penyerta yang menarik, dan pilihan itu jatuh kepada Critical Eleven dari Kak Ika Natassa.

133359_ikanattasa2Sejak direkomendasikan oleh mbak mantan untuk membaca Antologi Rasa, Kak Ika dengan mutlak menjadi referensi bagi saya untuk menulis. Bukan karena tulisannya belaka, namun juga karena latar belakang sebagai seorang profesional yang tetap menulis. Itu cita-cita saya banget, soalnya. Namun, entah kenapa, meski saya punya Twivortiare 2, niat membaca itu tidak ada sama sekali. Mahal, padahal.

Selengkapnya!