PNS Kuliah Lagi Dengan LPDP: Kelindan Tiga Urusan

Sebagaimana saya tulis sebelumnya bahwa saya memang tengah kuliah lagi. Sudah jalan 1 semester dan sedihnya IP-nya biasa-biasa saja. Meskipun saya kuliah per September 2019, tapi sesungguhnya ketika saya akhirnya masuk kuliah itu adalah akumulasi dari urusan yang sudah dimulai sejak awal 2018! Nah, melalui postingan ini saya hendak berkisah tentang keribetan yang dihadapi dalam 1,5 tahun tersebut, dan memang hanya dihadapi oleh PNS yang ingin kuliah lagi dengan LPDP seperti saya.

Judul tulisan ini adalah kelindan tiga urusan, karena memang ketika saya hendak kuliah lagi maka ada 3 faktor yang harus beres yaitu urusan dengan kantor, urusan dengan LPDP, serta urusan dengan kampus.

Seperti diketahui bahwa untuk PNS yang kuliah itu ada status Tugas Belajar. Dalam posisi sebagaimana saya alami sekarang, PNS itu ya tetap PNS, tetap dapat gaji meski tidak sebesar kalau aktif kerja, karena dia memang penugasannya adalah belajar. Nah, untuk mengurus Tugas Belajar itu beda-beda tiap instansi.

Kalau urusan dengan LPDP tentu saja soal proses seleksi yang sudah banyak dibahas. Sedangkan urusan dengan kampus tentu saja tes masuk. Segala keribetan mengurus Tubel dan LPDP akan nihil kalau kagak lolos seleksi masuk kampusnya. Heuheu. Nah, pertanyaan mendasarnya adalah mana yang sebaiknya diurus duluan?

Akan ada banyak pertimbangan, sebenarnya. Cara saya mungkin tidak akan sesuai dengan kondisi instansi atau kantor lain, tapi mungkin bisa dijadikan landasan berpikir. Urutan yang saya pilih adalah seleksi LPDP dulu, kemudian mengurus Tugas Belajar paralel proses seleksi maksuk kampus.

Kok Nggak Tugas Belajar Duluan?

Di kantor saya, demi menjaga ekosistem kepegawaian ada skema kesepakatan sekian persen pegawai yang boleh Tubel. Kebetulan sih di tempat saya memang lagi kosong antreannya, jadi secara prinsip ya tidak masalah. Akan tetapi, saya hanya berpikir jika saya sudah mengajukan Tubel duluan terus kemudian saya nggak lolos LPDP-nya, berarti nama saya sudah ada di dalam perhitungan persentase itu dan berarti juga menghambat kalau ada orang lain yang ingin kuliah.

Sederhananya, zalim. Saya biasa dizalimi, jadi enggan zalim. Heuheu.

santai gif

Walhasil, sebagaimana dipersyaratkan, karena kala itu saya masuk LPDP-nya jalur reguler dan bukan jalur PNS, maka saya menggunakan surat pernyataan dari atasan dan kebetulan atasannya juga mendukung dan sampai saya akhirnya masuk, atasannya nggak ganti. Ini faktor yang juga akan berbeda dengan teman-teman pada kasus lain.

Singkat kisah, saya diterima LPDP pada tahun 2018 untuk kemudian ikut Persiapan Keberangkatan (PK) pada tahun yang sama. Jadi ya cuma PK saja, daftar kampus belum, apalagi minta Tubel. Jadi, ketika sesudah PK, saya masih selow dulu sembari menggarap dokumen-dokumen untuk pengajuan Tubel.

Kebetulan sekali tenggat pengajuan Tubel di kantor itu sejalan dengan waktunya ujian masuk kampus. Jadi, saya tidak bisa tes di kampus dulu dan menggunakan hasilnya untuk pengajuan Tubel. Prosesnya terpaksa paralel.

Nah, untuk kepentingan pengajuan Tubel, saya lantas menggunakan fakta bahwa saya telah diterima LPDP. Secara umum hal ini akan cenderung mempermudah kelolosan proses persetujuan Tubel, karena setidak-tidaknya beban anggarannya tidak di kantor. Anggaran yang ada bisa dikasih ke pengaju lain.

Begitu pengajuan Tubel saya lakukan, saya kemudian belajar untuk ujian masuk se-edan-edannya. Lha, gimana, yang mau bayarin kuliah sudah ada, Tubel sedang diajukan, kalau kemudian kuliahnya nggak keterima ya bubar usaha yang dibangun setahun itu.

Sesudah lulus ujian masuk

Untunglah kemudian saya diterima di kampus yang sesuai dengan pengajuan awal saya di LPDP. Kalau tidak, tentu saja harus mengurus hal lain, pindah kampus, misalnya. Dan itu tentu saja saya kurang yakin punya cukup energi untuk urusan tersebut, termasuk juga mengubah lagi pengajuan Tubel yang sudah dibuat.

Sesudah diterima, maka saya bisa menyerahkan ke pengelola SDM di kantor sebagai pendukung bahwa saya minta Tubel itu posisinya sudah diterima kok. Letter of Acceptance (LoA) dari kampus juga saya bawa ke LPDP. Tapi…

…belum bisa minta duit.

Lho? Kok?

Untuk bisa dapat pendanaan LPDP, sebelum kuliah dimulai harus dipastikan bahwa yang sedang bekerja harus off. Yang swasta ya resign, yang PNS ya harus ada SK Tubel. Jadi, saya kudu submit SK Tubel ke LPDP kalau ingin dapat pencairan dan bisa kuliah.

Tapi…

Untuk bisa dapat SK Tubel itu, kantor saya juga butuh bukti bahwa LPDP tidak sekadar menerima saya tapi bersedia mendanai saya. Bagi yang pernah seleksi LPDP tentu tahu bahwa bukti lulus itu ya di website, bukan berupa piagam. Untuk keperluan urus-urus ini perlu ada yang namanya Letter of Guarantee (LoG) yang pada waktu tersebut juga harus saya kasih ke kampus sebagai jaminan pembiayaan dalam proses daftar ulang.

Ribet? Ya, lumayan.

Sederhananya adalah kampus butuh LoG. Saya belum bisa minta LoG ke LPDP karena belum ada SK Tubel. SK Tubel saya nggak bisa keluar karena harus ada LoG. Haiyaaaaaa….

pusing gif

Pada akhirnya, saya memakai mekanisme lawas, Letter of Sponsorship (LoS), untuk ke kantor. Sedangkan untuk ke kampusnya menggunakan pendaftaran kolektif yang dikoordinir teman satu PK yang sekarang jadi Lurah di kampus saya. Ibarat kata, ngasih tahu ke kampus bahwa nama-nama dalam lampiran ini sudah pasti dibayarin LPDP, kok, jadi nggak usah khawatir. Makanya kemudian saya bisa dapat Kartu Mahasiswa ketika proses registrasi ulang.

Kemudian perihal LoG dan SK Tubel bagaimana?

Itu tadi, ke kantor saya pakai LoS dan sembari menunggu SK yang pastinya lama karena yang tanda tangan adalah Eselon I, maka saya menggunakan pengumuman penerimaan Tubel yang merupakan hasil rapat dan ditandatangani Eselon I, sebelum kemudian SK Tubel-nya saya susulkan ke LPDP demi tertib administrasi.

Ngomong-ngomong, sebenarnya ada 1 keribetan lagi tapi tidak perlu saya uraikan. Hal itu adalah karena saya mengambil jurusan yang hanya ada kelas Khusus, sementara kebijakan umum LPDP tidak memperkenankan pembiayaan untuk kelas Khusus ini. Tapi ya karena memang dari awal jurusan itu ada di list dan kelas yang dibuka hanya Khusus, jadinya bisa dibiayai. Meski memang harus ada yang diurus. Bukan perkara umum, jadi tidak usah dijelaskan, yha.

Percayalah bahwa selain butuh kesabaran, butuh pula energi, dan butuh mindset yang baik dalam menghadapi kelindan urusan yang sebenarnya nggak jelas mana yang duluan dan mana yang belakangan ini. Syukurlah, pada akhirnya September kemarin saya akhirnya beneran bisa kuliah. Dan mohon doanya supaya saya bisa lulus tepat waktu karena kalau nggak tepat maka uang saya nggak cukup untuk bayar sendiri. Heuheu.

berdoa gif

Sekian pembahasannya, yha. Baca lebih lanjut tentang dokumen-dokumen LPDP di sini, termasuk tentang tips agar diterima LPDP di sini juga. Kamsia!

8 Hal Penting Dalam Menulis Esai LPDP

Beasiswa LPDP Tahun 2019 sudah dibuka. Dalam waktu yang cukup terbatas untuk periode pertama, mungkin ada yang masih bingung dalam menulis esai. Dulu waktu membantu proses LPDP pacar–kemudian jadi istri–esai LPDP itu ada 2 yaitu “Peranku Bagi Indonesia” dan “Sukses Terbesar Dalam Hidupku”.

Nah, yang saya alami pada tahun 2018 esainya itu diberi nama Statement of Purpose, yakni esai paling banyak 1000 kata yang menjelaskan rencana kontribusi yang telah, sedang, dan akan dilakukan untuk masyarakat, lembaga, instansi, profesi, atau komunitas.

Nanti akan saya beri bocoran esai yang bikin saya berhasil mendapatkan beasiswa LPDP dalam 1 kali percobaan. Pertama-tama, tentu harus dipahami dulu hal-hal yang biasanya luput dari pembuatan esai sehingga mengurangi kemungkinan diterima LPDP.

Yuk~

1. Esai Itu Personal

Dalam definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), esai itu sifatnya adalah berasal dari sudut pandang penulis. Ini penting karena banyak orang yang asal copy-paste esai-esai yang beredar di media seperti blog ini, sehingga menghilangkan unsur sudut pandang personalnya.

Jadi, nyontek esai itu dimungkinkan. Minta tolong edit ke teman yang paham tata bahasa atau suka menulis juga tidak masalah. Hanya saja, pertahankan sudut pandang personalnya dengan cara: pertama kali buat esai sendiri sampai selesai, sejelek apapun itu. Kemudian berangkatlah dari esai itu untuk perbaikan ke depannya. Niscaya, esai akan menjadi sebuah masterpiece.

2. Buka Dengan Tidak Biasa

Ini contoh pembukaan saya dalam statement of purpose yang saya submit ke LPDP:

Saya selalu mengalami masalah ketika ada pertanyaan, “kamu orang mana?”. Bukan apa-apa, saya adalah anak seorang pria Jawa asli dan seorang wanita Batak tulen. Saya lahir dan tumbuh hingga remaja di Bukittinggi, Sumatera Barat. Saya seorang Katolik sejak bayi, yang punya saudara dekat beragama Islam dan Kristen Protestan. Saya kemudian membentuk pola pikir dalam pendidikan Jogja dan lantas memulai karir di Kota Palembang untuk kemudian hengkang ke Jabodetabek sebagai pekerja muda lainnya.

Apa coba urusan tempat lahir sampai agama nyambung ke esai LPDP? Ya, bisa saja disambungkan. Namanya juga tulisan, pasti bisa bagaimana caranya. Saya sendiri hendak mengarahkan latar belakang itu pada kecintaan untuk Indonesia.

Pembukaan semacam ini akan memberikan nilai tambah bagi yang–siapa tahu–akan bingung dalam menentukan kamu lolos atau tidak.

3. Jelaskan Yang Sedang Kamu Lakukan

Ini sebab kalau sudah jadi PNS, maka LPDP itu akan sedikit lebih mudah cara masuknya. Tentunya, karena kita sudah mengerjakan sesuatu. Saya sendiri PNS, tapi mendaftar lewat jalur reguler, karena kebetulan instansi tempat saya bekerja tidak membuka pendaftaran untuk afirmasi PNS. Walhasil, saya harus bersaing dengan orang-orang yang syarat TOEFL dan berbagai nilai dasar lainnya sudah tinggi.

Kalau lagi nganggur, jelaskan yang telah kamu lakukan. Btw, IMHO, kalau betul-betul nganggur tapi hanya nunggu LPDP itu menurut saya ada yang aneh. Bukankah bisa melakukan banyak hal dalam aktivisme dan voluntarisme?

4. Jelaskan Kontribusi Dari Hal Yang Sedang Kamu Lakukan

Kalau kamu aktivis, maka jelaskan yang memang betul-betul sudah dilakukan dan hubungkan dengan kontribusi pada negeri ini. Kontribusi itu, sekecil apapun tetap bisa ditulis sebagai kontribusi. Wong, berita nggak benar sama bisa digoreng seolah jadi benar, toh?

Begitulah tulisan. Namun, sebagai calon anak LPDP harus berintegritas dari awal. Tulis saja apa yang kamu sedang lakukan atau kerjakan. Jika kebetulan habis lulus belum ngapa-ngapain, ya jelaskan yang pernah dilakukan.

Kalau PNS? Ya, sesimpel apapun pekerjaanmu, itu kan membantu negeri ini. Jadi, percaya diri saja dengan yang kita kerjakan sehari-hari, kecuali keseharian kamu adalah main Zuma, yha.

5. Jelaskan Permasalahan

Menjadi anak LPDP itu sebaiknya paham permasalahan negeri ini, atau setidaknya permasalahan kontekstual dan terkini dari bidang keilmuan kita. Nah, itu yang dituangkan dalam penjelasan permasalahan.

6. Hubungkan Dengan Sekolah Sebagai Upaya Solusi

Nah, dari nomor 5, segera sambungkan dengan kenapa LPDP perlu membiayai kamu sekolah. Tentu saja jualannya adalah supaya kamu bisa jadi pembantu penyelesai permasalahan. Bagian ini agak tricky, terutama bagi yang lintas bidang. Namun kalau saya yang pindah dari eksakta ke sosial, itu bisa jadi aspek yang lebih menjelaskan~

7. Bahasa Agak Absurd Tidak Apa-Apa

Pada salah satu bagian esai, saya menulis bahwa “…PNS sudah kerja keras bagai kuda…”, karena waktu itu lagi hits. Pakailah kalimat-kalimat sederhana yang lagi hits meskipun sebenarnya agak absurd, sekadar untuk bisa membuat pembaca tidak bosan pada ke-aku-an yang memang lagi kita jual dalam esai.

8. Cek Karakter, Cek Typo, Cek Ejaan

Ini standar, tapi sering sekali tidak diperhatikan. Sebelum dipindah ke form isian LPDP, sebaiknya cek jumlah karakter, cek berulang-ulang kesalahan penulisan, hingga ke ejaan. Esai yang jelas di awal, bersih dari kesalahan, akan membuat pembaca/pereviu lebih berminat meneruskan, alih-alih esai yang jorok dan penuh kesalahan mendasar, meskipun isinya sebenarnya bagus.

Nah, bagi yang ingin melihat esai saya tahun lalu, bisa DIUNDUH DISINI. Selamat mencoba~

8 Kiat Sukses Lolos Seleksi Substansi LGD LPDP

Rekor, Perpanjang SIM di Mal Pelayanan Publik Hanya 16 Menit Saja!

Sesudah lolos seleksi administrasi dan seleksi berbasis komputer maka hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah seleksi substansi. Dalam seleksi substansi itu sebenarnya ada 3 bagian besar. Akan tetapi, biar postingnya jadi banyak, ya saya pisahkan begini aja. Harap maklum, otak sudah susah dipakai mikir~

Tiga bagian besar yang saya maksud adalah verifikasi berkas, Leaderless Group Discussion (LGD), dan wawancara. Postingan ini khusus membahas LGD. Soalnya, bagian ini yang termasuk paling banyak dicari di Google. Entah kalau di Geevv.

1. Pahami LGD LPDP

Bagian pertama, kita kudu pahami teknis LGD LPDP ini. Dalam seleksi ini, kita akan ditempatkan sekitar 10 orang (plus minus) dalam 1 kelompok diskusi. Topik hanya diberikan sesaat sesudah masuk ruangan, dan boleh baca 5 menit.

Image result for 5 minutes gif

Oya, bonus kertas corat-coret juga, deh. Biasanya, pada soal, diberikan juga peran-peran yang dibutuhkan. Jadi, dalam LGD, kita akan berperan jadi seseorang/sesuatu, misal perwakilan pemerintah, perwakilan pelaku usaha, dll.

Nah, selanjutnya dalam 30 menit diskusi akan berjalan tanpa dibuka oleh 2 panitia merangkap penilai di dalam ruangan. Tinggal kreasi peserta dalam 30 menit yang menjadi koentji~

2. Pahami Konsep Dasar Tes LGD Yang Baik

Saya sudah menghitung bahwa dalam 30 menit itu, waktu ideal untuk ngomong adalah 1,5 menit (saja!). Dengan durasi ini, setiap orang bisa mengutarakan pendapatnya 2 kali dalam 1 sesi LGD. Kalau sudah melenceng, pastilah ada yang dirugikan. Itu pasti.

Kemudian, pastikan peran-peran yang ada di soal itu dibagi rata. Inilah seninya, gimana membagi rata peran itu dengan baik sedangkan kenalan saja belum. Heuheu~

Screenshot_1775

Kemudian, pastikan bahwa jawaban kita tidak menggantung tanpa kesimpulan karena itu akan mempersulit peran lain yang mau nyamber sesudah kita. Jangan juga bikin pendapat yang nyeleneh sehingga common sense orang lain terganggu. Ingat, disini kita bukan debat atas nama cebong kampret, kita hanya ingin lolos beasiswa. Continue reading

8 Cara Ampuh Lolos Seleksi Administrasi LPDP

Sesudah ratusan purnama, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti seleksi beasiswa LPDP nan paling hits se-Indonesia Raya. Bagaimanapun saya punya teman anak LPDP angkatan awal sekali dan bahkan saya pernah membantu mereview beberapa esai orang yang akan daftar LPDP (termasuk yang kemudian jadi Mama Isto). Saya juga dalam proses mendaftar LPDP ketika kemudian gawean lain yang bernama ngabdi negara malah nyangkut duluan.

Untuk itu, biar kayak anak LPDP lainnya yang punya blog, maka saya mencoba membagikan pengalaman saya lolos LPDP dalam tahap demi tahap. Semoga bisa membantu teman-teman yang ingin menjadi Ksatria Cendekia yang siap berkarya dalam beragam peran satu tujuan bersinergi membangun Indonesia.

1. Perhatikan Daftar Dokumennya

See the source image

Pendaftaran LPDP dilakukan melalui website dan dokumen-dokumen yang menjadi syarat administrasi juga diunggah via website, bukan dikirim manual. Jadi, harusnya tidak akan terjadi yang namanya ketlingsut lupa dikirim karena akan ada status “Sudah Diunggah” dan “Belum Diunggah”. Selalu pastikan bahwa kalau memang ada yang “Belum Diunggah” itu bukan dokumen wajib. Misalnya, dalam konteks saya adalah LoA. Kalau dokumennya scan ijazah ya kalau belum diunggah yo bubar wae. Jadi, perhatikan bagian ini baik-baik.

2. Perhatikan Waktu

See the source image

Dokumen untuk seleksi tidak banyak-banyak benar, tapi butuh waktu untuk mendapatkannya. Misalnya scan hasil IELTS atau TOEFL yang masih berlaku, itu tentu harus dipastikan duluan. Kalau perlu sudah ada sebelum tes LPDP dibuka. Surat-surat rekomendasi juga pasti butuh waktu untuk nodong atasan atau dosen kesayangan. Termasuk juga tes kesehatan. Saya hampir batal daftar LPDP karena tes kesehatan ini dan mungkin nanti akan saya kisahkan terpisah.

3. Tahu Diri

See the source image

Bagian ini jelas penting sekali karena misalnya kayak saya pemilik TOEFL ITP hanya 533 ya harus tahu diri untuk tidak mendaftar LPDP luar negeri, tapi bisa masuk LPDP jalur dalam negeri. Atau ketika saya PNS tapi di Kantor saya tidak membuka atau menyosialisasikan seleksi jalur afirmasi, ya jangan mendaftar ke jalur itu. Selagi bisa daftar reguler ya ikut reguler saja. Atau kalau kamu yakin dia nggak sayang sama kamu, ya tahu dirilah, jangan dipaksakan. Continue reading