Alasan Harus Ikut Kelas Inspirasi

Kowe kudu melu… Aku wae nyesel lagi melu saiki…

Bagi yang nggak paham, pernyataan bahasa Javanese barusan kira-kira bermakna:

“Lo harus ikut… Gue aja nyesel baru ikutan sekarang…”

Satu kalimat itu disampaikan oleh Bayu, teman kos saya yang ketularan virus Kelas Inspirasi, pada malam hari ketika kami ngobrol dengan anak kos yang lain tentang pengalaman yang terjadi seharian itu. Sudah menjadi pola umum, bahwa anak KI pada umumnya ketagihan untuk ikut KI lagi.

Saya lalu kemudian mencoba merumuskan beberapa alasan penting yang mengharuskan kita untuk mengikuti kelas inspirasi.

1. Suasana Baru

Percayalah bahwa saya kadang bosan dengan kayu manis berikut kotak dan angka yang menjadi teman bermain saya sehari-hari. Dan ada banyak orang lain yang terkadang terjebak di rutinitas masing-masing. Nah, sesekali keluar dari keseharian untuk CUTI SEHARI lalu bertemu dengan anak-anak yang unyu-unyu dan belum berkembang menjadi unyu-unyu labil, pasti adalah suasana yang sama sekali berbeda. Bahkan untuk orang yang bekerja menjadi guru di sekolah elit sekalipun, pasti akan menemukan perbedaannya.

Jadi, yang namanya suasana baru, pasti menghilangkan bosan. Dan jangan salah, kadang justru menambah kecintaan kita pada rutinitas yang awalnya dibilang membosankan itu tadi.

2. Teman Baru

Satu hal yang menjadi nilai plus di KI adalah kesempatan kita untuk bertemu dengan teman-teman baru, yang semuanya bersemangat positif. Yah, saya pernah membagi link untuk KI di sebuah grup Whatsapp, dan apa tanggapannya?

“Kalau pakai acara masuk-masuk website, aku males…”

Ya, artinya, kalau ada orang sudah join dan diterima di KI, setidaknya dia sudah melawan rasa malas untuk masuk-masuk di website. Lalu bersusah-susah menulis sedikit esai soal dirinya sendiri, dan bla…bla…bla… lainnya. Saya anggap itu sudah pertanda positif.

Belum lagi keharusan untuk ikut briefing dan debriefing di pusat kota Jakarta sementara ada yang datang naik kereta dari Depok (ini Dwita…hahaha…), ada yang naik bis dari Cikarang (jelas saya…), dan aneka tempat lainnya. Itu tambahan positif yang kedua.

Dan kalau bukan karena KI, mana mungkin saya bisa kenalan dengan asisten wakil menteri, dengan gitaris terkenal, dengan seorang doktor teknik sipil, dengan anggota KPU, dan dengan yang lain-lainnya.

3. Iuran Kehadiran

Waktu kecil, saya merasa sangat kagum dengan sepupu-sepupu saya yang kerja di Jakarta. Padahal ya nggak ngerti kerjanya apaan. Giliran sudah gede, saya tanya, ternyata hidup mereka itu susah. Tapi toh mereka sukses menciptakan citra kepada saya yang masih kecil untuk bisa “tampak hebat” seperti mereka.

Nah, kebayang nggak kalau anak-anak dimanapun dia berada kadang memerlukan hal itu? Bahwa cita-cita mungkin hanya sebatas polisi, pilot, guru, pemain bola, dokter, dan sejenisnya, tapi ketika kemudian seorang pengusaha nongol di depan kelas dan menceritakan sesuatu disana, disitulah gunanya kehadiran. Iya, hadirnya orang di depan mata, sejatinya memberikan impresi tersendiri. Tak perlulah jauh-jauh sampai inspirasi, bahkan impresi sudah cukup membuatnya tertanam manis di benak anak-anak.

4. Bangga Pada Pekerjaan

Konsep kelas inspirasi itu kan menceritakan pekerjaan kita kepada anak-anak. Nah, kalau kita sendiri sebenarnya merasa terjebak, nggak betah, ogah-ogahan, dan bahkan bilang, “gue ogah anak gue ntar jadi kayak gue…”, apakah kita bisa ikut kelas inspirasi?

Saya sih yakin nggak. Seseorang yang ikut kelas inspirasi pertama-tama harus bangga dulu dengan yang dia kerjakan sehingga kemudian dia merasa perlu untuk memberikan inspirasi kepada anak-anak agar tahu dan mungkin meniru apa yang dikerjakannya.

Lha saya? Apoteker, Blogger, dan penulis Oom Alfa?

Jangan gitu. Saya ini nggak pernah merasa salah kuliah apoteker. Dan saya tetap bangga kok dengan profesi (bukan pekerjaan) saya sebagai apoteker. Kalau nggak, pasti saya nggak akan memilih join jadi pengajar KI di Jakarta dulu. Perkara blogger, penulis, dll, itu kan upaya mencapai passion.

Akan sangat indah ketika kita punya profesi yang nggak biasa, tapi ketika kemudian kita nanya ke anak-anak, “mau jadi apa?”, lalu dia jawab, “jadi apoteker…”

Ada perasaan bangga, dan disitu poinnya. Bahkan menurut saya, seharusnya HRD di perusahaan manapun perlu melihat model Kelas Inspirasi ini sebagai upaya menilai seberapa bangga sih seseorang pada pekerjaannya. Ekstrimnya sih, kalau perlu seluruh HRD mewajibkan karyawan untuk mendaftar Kelas Inspirasi, jadi ketahuan tuh. Kan nggak mungkin di KI bilang gini:

“Anak-anak cita-citanya apa?”

“Dokter.. Pilot.. Guru.. bla..bla..bla…”

“Iya, bagus. Jangan jadi tukang cetak invoice kayak saya ya…”

Gila kalau ada yang begitu di KI.

Yup. Ikut sertalah, dan kalian akan tahu bagaimana rasanya🙂

4 thoughts on “Alasan Harus Ikut Kelas Inspirasi

  1. Pingback: 2013 | Sebuah Perspektif Sederhana

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s