Untuk yang Rajin Menawari

Hehehehehe… *ngguyu sik*

Jadi pada intinya, beberapa waktu belakangan–di usia 26–saya mulai concern pada asuransi dan investasi. Why? One and the only adalah karena dunia ini ganas, sobat!

Dan, sama halnya dengan yang sudah saya alami sejak bertahun-tahun silam, ada saja orang yang menawari saya unitlink. Kalau dulu, saya memang menolak semata-mata karena saya nggak mau. Lha gimana nggak mau? Wong teman saya yang punya asuransi plus unitlink saja bilang kalau kita nggak untung (dalam jangka kurang dari 10 tahun), masak tetap mau join? *catet, teman saya bukan agen, hanya pembayar premi*

Kemudian sejak membaca goresan seorang teman, salah satunya disini, saya mulai ngeh soal keberadaan unitlink ini. Dan kemudian saya melihat ke blog salah satu perencana keuangan yang saya ikuti di Twitter disini.

Kebetulan, kok satu jalan pikiran dengan saya 🙂

Saya pernah membaca, tapi lupa dimana, dan saya setuju bahwa dalam keuangan, aspek yang penting adalah meletakkan keuangan di 4 kaki, yakni:

1. Tabungan
2. Instrumen investasi semacam reksadana
3. Instrumen investasi semacam logam mulia
4. Properti

Agak menyesal bahwa duit saya kerja hampir 4 tahun habis semacam tidak terasa, dan habisnya ke hal-hal yang sifatnya ya hilang, misal: tiket pesawat buat LDR lalu LDR-nya putus *eh curcol*

Tapi, ya sudah. Mari kita melihat ke depan saja.

Hal paling kurang ajar dalam ganasnya dunia sudah kelihatan di dunia properti. Harga rumah (bekas) di kawasan jadi di Cikarang ini sudah gila-gilaan, buat saya cenderung tidak masuk akal untuk bisa dicapai oleh gaji karyawan–level staf ke atas sekalipun. Saya memantau ketika tetangga kos mencari-cari rumah dan mendapati bahwa ditinggal 2 bulan saja, harganya sudah lompat. *busettt*

Meski ada sepertiga penyesalan, fakta bahwa nilai properti itu gila-gilaan membuat saya belum cukup menyesal sempurnapernah memutuskan berinvestasi ke sana 🙂

Nah, dan untuk teman-teman agen, saya sungguh menghargai mereka yang juga menghargai pendirian saya soal unitlink. Maksudnya, kalau saya bilang nggak tertarik, ya sudah. Begitu loh. Kan sama-sama enak.

Masalahnya, ada saja yang kemudian masih melanjutkan penawaran dengan berbagai tambahan lainnya. Sebagai orang usaha, saya harus paham, tapi kasusnya saya sudah pernah bilang nggak tertarik dengan penjelasan yang detail, penawaran berikutnya buat saya–sejujurnya–adalah gangguan.

Ya begitulah 🙂

Pedoman Audit Sistem Manajemen: Implementasi Program Audit

Umum

Personel yang mengelola program audit hendaknya mengimplementasikan program audit dengan cara sebagai berikut:

  1. Menginformasikan bagian yang terkait dalam program audit kepada pihak yang relevan dan menginformasikan perkembangannya secara berkala
  2. Mendefinisikan tujuan, ruang lingkup, dan kriteria dari setiap audit individual
  3. Mengkoordinasikan dan menjadwalkan audit serta aktivitas lain yang terkait dengan program audit
  4. Memastikan seleksi tim audit dilakukan berdasarkan kompetensi yang sesuai
  5. Menyediakan sumber daya yang sesuai pada tim audit
  6. Memastikan pelaksanaan audit dilakukan sesuai dengan program audit dan dalam rentang waktu yang disetujui
  7. Memastikan aktivitas audit terdokumentasi dan dikelola serta dipelihara dengan baik

Mendefinisikan Tujuan, Ruang Lingkup, dan Kriteria Setiap Audit Individual

Setiap audit individual hendaknya didasarkan pada tujuan, ruang lingkup, dan kriteria audit yang terdokumentasi. Hal ini hendaknya ditetapkan oleh personel yang mengelola program audit dan konsisten dengan tujuan program audit secara umum.

Tujuan audit merupakan hal yang harus dijawab secara tuntas oleh audit individual dan dapat mencakup:

  1. Penentuan ruang lingkup kesesuaian pada sistem manajemen yang diaudit, atau bagian dari itu, dengan kriteria audit
  2. Penentuan ruang lingkup kesesuaian aktivitas, proses, dan produk dengan persyaratan serta prosedur dari sistem manajemen
  3. Evaluasi kapabilitas sistem manajemen untuk memastikan kepatuhan terhadap persyaratan legal dan kontrak serta persyaratan lain yang dianut oleh organisasi
  4. Evaluasi efektivitas sistem manajemen terhadap tujuan yang spesifik
  5. Identifikasi area perbaikan potensial pada sistem manajemen

Ruang lingkup audit hendaknya konsisten dengan program audit dan tujuan audit. Hal ini mencakup faktor seperti lokasi fisik, unit organisasi, aktivitas dan proses yang diaudit, sejalan dengan periode waktu yang tercakup oleh audit.

Kriteria audit digunakan sebagai referensi guna menetapkan kesesuaian dan dapat mencakup kebijakan, prosedur, standar, persyaratan legal, persyaratan sistem manajemen, persyaratan kontrak, kode etik tertentu atau pengaturan perencanaan lain yang sesuai.

Dalam kejadian setiap perubahan pada tujuan, ruang lingkup, dan kriteria audit, program audit hendaknya dimodifikasi jika perlu.

Jika dua atau lebih sistem manajemen dari disiplin yang berbeda diaudit bersama dalam audit kombinasi, sangat penting untuk memastikan tujuan, ruang lingkup, dan kriteria audit konsisten dengan tujuan dari program audit yang relevan.

Pemilihan Metode Audit

Personel yang mengelola program audit hendaknya menyeleksi dan menetapkan metode yang efektif untuk pelaksanaan audit, disesuaikan dengan tujuan, ruang lingkup, dan kriteria yang ditetapkan.

Jika dua atau lebih organisasi audit melakukan audit bersama pada auditee yang sama, personel yang mengelola program audit yang berbeda hendaknya setuju pada metode audit dan mempertimbangkan implikasi untuk sumber daya dan perencanaan audit. Jika auditee menggunakan dua atau lebih sistem manajemen pada disipilin yang berbeda, audit kombinasi perlu dimasukkan ke dalam program audit.

Pemilihan Anggota Tim Audit

Personel yang mengelola program audit hendaknya menunjuk anggota tim audit, mencakup ketua tim dan tenaga ahli yang dibutuhkan untuk audit yang spesifik.

Tim audit hendaknya diseleksi, sesuai kompetensi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan audit individual dalam ruang lingkup yang ditetapkan. Jika hanya terdapat 1 orang auditor, ia hendaknya tampil dalam kapasitas sebagai ketua tim.

Dalam memutuskan ukuran dan komposisi tim audit untuk audit yang speisifik, pertimbangan hendaknya diberikan pada hal-hal berikut:

  1. Kompetensi umum tim audit yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan audit dengan memperhitungkan ruang lingkup dan kriteria audit
  2. Kompleksitas audit dan jika audit dilakukan secara kombinasi atau bersama-sama
  3. Metode audit yang digunakan
  4. Persyaratan kontrak dan legal serta lainnya yang dianut oleh organisasi
  5. Keperluan untuk memastikan independensi anggota tim audit dari aktivitas yang diaudit dan untuk menghindari konflik atau kepentingan tertentu
  6. Kemampuan anggota tim audit untuk berinteraksi secara efektif dengan perwakilan auditee dan untuk bekerja bersama
  7. Bahasa yang digunakan saat audit, serta karakteristik sosial dan budaya auditee. Isu ini terkait dengan kemampuan auditor sendiri, atau melalui dukungan tenaga ahli.

Untuk memastikan kompetensi umum tim audit, tahapan yang harus dilakukan adalah:

  1. Identifikasi pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan audit
  2. Seleksi tim audit sesuai pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan tersebut

Jika, semua kompetensi yang dibutuhkan tidak dimiliki oleh auditor di dalam tim audit, tenaga ahli dengan kompetensi tambahan hendaknya diikutsertakan di dalam tim. Tenaga ahli hendaknya bertugas di bawah arahan dari auditor namun tidak bertindak sebagai auditor.

Auditor dalam pelatihan dapat diikutsertakan di dalam tim audit, namun partisipasinya dibawah arahan dari auditor.

Penyesuaian ukuran dan komposisi tim audit perlu dilakukan selama audit, sebagai contoh jika konflik kepentingan atau isu kompetensi terjadi. Jika situasi tersebut terjadi, hendaknya didiskusikan dengan pihak yang terkait (ketua tim audit, personel yang mengelola program audit, klien audit, atau auditee) sebelum segala penyesuaian dibuat.

(Diterjemahkan dari ISO 19011: 2011)

Habemus Papam: Paus Fransiskus I

Pagi-pagi, saya buka Twitter dan melihat beberapa orang teman menyebut ‘Habemus Papam‘ di TL mereka. Well, ini kabar baik setelah setidaknya 4 misa saya ikuti tanpa mendoakan Paus, tentunya mengingat Gereja Katolik sedang dalam masa Sede Vacante setelah pengunduran diri Paus Benediktus XVI 28 Februari silam. Meskipun saya ngekek habis melihat ada yang komen di posting saya dan bilang kalau Paus (emeritus) Benediktus XVI pindah agama. Hahahaha..

Setelah asap putih tampak di Kapel Sistina, akhirnya nongollah Bapa Suci yang baru atas nama Kardinal Jorge Mario Bergoglio, kelahiran 1936 dan berumur 76 tahun. Dua tahun lebih muda dibandingkan umur Kardinal Ratzinger ketika ditahbiskan, namun 20 tahun lebih tua dibandingkan umur Kardinal Karol Wojtyla saat menjadi Paus Yohanes Paulus II. Ehm, sebenarnya untuk kasus Beato Yohanes Paulus II, bisa jadi para kardinal juga terpengaruh latar belakang sebelumnya bahwa usia masa kepausan Paus Yohanes Paulus I hanya 33 hari.

Kardinal Bergoglio terpilih menjadi paus ke 266 sepanjang riwayat Gereja Katolik, tentunya tidak dihitung dari Yesus. Ingat, Yesus sama sekali tidak membawa ajaran agama ke dunia, karena Yesus adalah penganut Yahudi yang mengajar di sinagoga-sinagoga dan tempat lainnya.

Uniknya, Kardinal Bergoglio tidak memilih nama yang sudah ada, namun memakai nama yang baru, Fransiskus. Well, itu nama SD saya memang. Nama Fransiskus sendiri ditengarai merujuk pada Santo Fransiskus Asisi. Di dunia Katolik, masih ada Fransiskus yang lain, sebut saja Fransiskus De Sales atau Fransiskus Xaverius.

Mengingat sidang kardinal bertajuk konklaf ini terhitung baru, maka terpilihnya Kardinal Bergoglio termasuk mengejutkan. Iya, posisinya Kardinal Ratzinger dulu cenderung lebih kuat dan masa terpilihnya juga cukup wajar. Kenapa? Kardinal Ratzinger adalah rektornya pada kardinal, jadi adalah cukup wajar ketika para kardinal memilih rektornya sendiri. Adapun Kardinal Bergoglio terpilih pada sidang ke lima. Asap putih tampak pada 7.05 pm dan dua menit kemudian bel di basilika Santo Petrus dibunyikan untuk mengkonfirmasi.

Banyak catatan ‘pertama’ yang ditulis hari ini. Paus Fransiskus I adalah Paus pertama dari Amerika Latin, sepanjang sejarah Katolik. Dan juga adalah Paus dari luar Eropa pertama semenjak ratusan tahun.

Pada 8.12 pm, Kardinal Jean-Louis Tauran, tampil di balkon dan kemudian berkata, “Saya umumkan kabar gembira pada kalian: kita punya Paus baru! Yang Mulia, Kardinal Roma, Bergoglio, yang memilih nama Fransiskus.”

Kabar kabur bilang kalau beliau adalah juara 2 dalam konklaf 2005 silam. Tapi entah kalau soal itu. Di luar itu, Kardinal Bergoglio memilik reputasi bagus dalam pelayanan, terutama di Amerika Latin yang merupakan region terbesar penganut Katolik dunia. *kalo nyari jodoh disana gampang kali ya -__-“*

Ada komen di salah satu portal berita Indonesia yang bilang kalau Kardinal Bergoglio/Paus Fransiskus I ini adalah Jokowi-nya umat Katolik dunia. Dan benar juga, karena dalam karyanya, beliau bahkan disebut mengendarai bis, mengunjungi yang miskin, bahkan hidup di apartemen sederhana dan memasak makanannya sendiri. Di Buenos Aires, dia dikenal sebagai Pastor Jorge.

Well, kalau begini, jadi ingat petinggi-petinggi gereja yang naiknya Harrier, Fortuner, dan malah ada yang minta mobil ketika dipindahkan ke paroki baru. *ehm*

Bagian yang mungkin harus diperhatikan adalah sikap dasar beliau yang pro-life. Hal ini otomatis akan relevan dengan sikapnya terhadap aborsi dan pernikahan sesama jenis. Bahkan pada 2010, Kardinal Bergoglio mengeluarkan protes keras soal legalisasi pernikahan sesama jenis di Argentina dan menyebutnya sebagai ‘cedera serius bagi keluarga’. Bahkan untuk pernikahan sesama jenis beliau cukup keras bilang bahwa adopsi di dalam pernikahan itu ‘merampas pertumbuhan anak yang diinginkan Tuhan diberikan oleh ayah dan ibunya’. Ini mendasar sih, tentu kasuistis untuk orang tua yang membuang anaknya.

Perannya sering memaksa beliau untuk berbicara soal masalah ekonomi, sosial dan politik yang dihadapi negara. Homilinya sering diisi dengan referensi terhadap fakta yang dihadapi dan dibutuhkan untuk memastikan semua orang respek dan peduli.

Jorge Bergoglio sendiri lahir di Buenos Aires, pada 17 Desember. Beliau awalnya adalah lulusan jurusan kimia di Universitas Buenos Aires, yang kemudian masuk Jesuit di seminari Villa Devoto. Jadi beliau nggak lewat seminari menengah.

Dalam ‘karier’-nya di Jesuit, beliau sempat menjabat sebagai Provinsial Jesuit provinsi Argentina di akhir 1970-an. Pada 1980 beliau menjadi guru di sekolah Jesuit. Ya, sederhananya, masak sih sudah jadi Gubernur, sempat ngajar anak sekolahan lagi? Bisa dibilang ini bukti kerendahhatian.

May 1992, beliau ditunjuk sebagai uskup auksilier Buenos Aires. Lima tahun kemudian menjadi uskup co-ajutor, dan pada 28 Februari 1998 menjadi uskup Buenos Aires.

Lebih jelas sila cek ke sumber asli konggregasi yang bersangkutan.

Syukurlah. Keunikan khas Katolik menurut saya memang perihal hierarki ini. Semoga kehadiran Paus Fransiskus I memberi warna yang indah untuk hidup rohani seluruh umat Katolik di dunia.

Amin!

 

 

Taaruf

Sebetulnya saya menimbang berkali-kali untuk menulis ini. Bagaimanapun saya harus menghormati orang yang tindakannya kemudian membuat saya jadi menulis ini. Hmmm, ya sudah, asal saya kemudian menyamarkan semuanya, mestinya nggak masalah kan? Lagian, sebulan sesudah kejadian, HP-nya error, hilanglah semua bukti-bukti yang ada.

taaruf4

Jadi ceritanya, saya lagi antre mau sakramen tobat alias ngaku dosa, bukan ngaku-ngaku kalau berdosa. Soalnya, ya emang berdosa beneran. *jadi ingat belum penitensi*. Sedang asyik menunggu, sambil mendengarkan pembicaraan ‘khas’ bapak-bapak di lingkungan soal IMAN, masuklah pesan singkat, bunyinya kira-kira begini:

“saya ingin ta’aruf dgn antum boleh tidak?”

Pesan itu kemudian disertai nama, sedikit latar belakang, dan pertanyaan soal kriteria istri. Ya, namanya adalah si Anu, umur 2-3 tahun lebih tua daripada saya, dan pertanyaan terakhir itu cukup mengusik saya nan jomlo maksimal bin menajun. Ada 3 diksi dari SMS itu yang kemudian jadi pertanyaan buat saya, yakni ta’aruf, lantas antum, dan syukron. Jarang dapat SMS macam itu soalnya.

Antum kemudian saya dapati disini, bermakna mirip ‘anda’, tapi dalam konteks halusnya Arab. Lalu juga syukron, pada sumber yang sama bermakna ucapan terima kasih. Selesai untuk yang ini. NAH! Soal ta’aruf, saya jadi bingung sendiri. Sebagaimana yang saya lihat di film Ayat-Ayat Cinta, ta’aruf itu pertemuan Fahri dengan Aisyah. Eh, busyet, Aisyah-nya cantik nian disana. *salah fokus*. Lalu juga obrol-obrol saya dengan rekan yang muslim, bahwa ta’aruf itu kaitannya erat dengan jodoh dan pernikahan. Klik dengan isi pesan singkat yang bertanya soal kriteria istri. Lalu saya lari ke kamus, ternyata artinya nggak gitu-gitu juga. Ternyata artinya hanya PERKENALAN, dan ditulis sebagai taaruf sebagai bentuk yang sudah di-Indonesia-kan.

Terus, saya cari sumber lain. Kalau disini bilangnya:

Ta’aruf proses perkenalan dan pendekatan antara laki-laki dan wanita yang hendak menikah. Ta’aruf sangat berbeda dengan pacaran. Ta’aruf secara syar’i memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan ta’aruf adalah dari segi tujuan, cara, dan manfaat.

Kalau disini, bilangnya:

secara bahasa adalah memperkenalkan atau perkenalan. kata tersebut dipakai dalam dunia islam untuk meminang seorang perempuan lajang(gadis) melalui orang lain yang sejenis, atau untuk melihat seberapa sempurnanya gadis yang nanti akan dilamar.

Kalau disini, ditulis:

Jadi pengertiran ta’aruf itu adalah saling mengenal. Kalau ada istilah saling mengenal, maka tentu bermagna lebih dari satu orang atau sekelompok orang.

Dan sumber terakhir yang saya lihat adalah disini, dan tertulis:

Taaruf adalah kegiatan bersilaturahmi, kalau pada masa ini kita bilang berkenalan bertatap muka, atau main/bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan dengan penghuninya. Bisa juga dikatakan bahwa tujuan dari berkenalan tersebut adalah untuk mencari jodoh. Taaruf bisa juga dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk dilanjutkan ke jenjang khitbah – taaruf dengan mempertemukan yang hendak dijodohkan dengan maksud agar saling mengenal.

Nah, terus?

Sebenarnya sih, saya malah jadi bingung. Pertama, bingung kenapa saya diajak taaruf. Kedua, apakah mbaknya itu sebelum kirim SMS itu nggak lihat nama depan saya semacam itu. Ketiga, saya sih tidak hendak memperpanjang soal ini. Satu hal, dalam pemahaman yang saya percaya, pacaran itu diperlukan. Lha wong pacaran bola bali ki putas putus wae. Padahal di dalam keyakinan saya, pernikahan itu kan tidak terceraikan, kecuali oleh maut.

Ini soal keyakinan saja kok. Siapapun boleh meyakini yang menurutnya benar. Hanya saja, si pengirim pesan singkat kemarin, mengirimnya ke orang yang salah. Itu saja kok masalahnya. 🙂

Am I Ready If?

Persetan itu judul bener apa nggak. Seperti biasa, saya kalau dipuji adanya malah mandeg. Iya, dulu begitu dapat gelar di lomba menulis apa, pasti dampaknya buruk. Bukannya tambah oke, malah tambah remuk. Apa malah nggak nulis sama sekali.

Oya, dan satu lagi. Saya itu orangnya masih takut terhadap kritik.

Mungkin bawaan melankolis saya, bahwa kritik itu menyakitkan hati. Cukup banyak kasus ketika kritik justru membuat emosi saya naik. Kritik yang menciptakan masalah juga ada, tanya saja sama mantan2 saya. Hahahaha..

Nah, sejalan dengan buku antologi mayor ketiga yang terbit dan ada tulisan saya di dalamnya, saya malah jadi bertanya-tanya. Sebenarnya, siap nggak sih saya menggapai passion saya yang bernama MENULIS itu?

Kenapa saya bertanya begitu, tidak lain dan tidak bukan adalah karena kasus Andrea Hirata. Dan sejujurnya itu masih mending (banget), karena yang disasar adalah klaim, bukan karya. Ketika saya menulis di Kompasiana dan dikomen kurang menarik, saya malah patah semangat. Semacam itulah.

Ketika saya kemudian sudah berhasil menyetorkan 3 naskah untuk terbit di antologi mayor, saya juga kemudian harus berkaca. Sebenarnya mimpi saya untuk jadi penulis beneran itu sudah tercapai. Untuk berharap punya 1 buku milik sendiri–at least, ya bisa dibilang sudah jalannya.

Tapi, namanya karya, nggak akan lepas dari kritik. Nah, sanggupkah saya? Siapkah saya?

Kadang hal ini jadi pertanyaan besar yang menjadi alibi saya untuk bersyukur bahwa saya belum-belum juga bisa menerbitkan buku. Hey, baru berhasil menyelesaikan 1 naskah saja sudah ngeluh kok belum bisa menerbitkan buku. Ngawur bener.

Apakah kalau nanti saya punya buku, saya akan siap dengan obrolan orang-orang tentang karya saya? Apakah saya siap menerima masukan dari pembaca? Apakah saya akan sanggup mengelola itu dengan tingkat emosional yang dewasa?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang kemudian berkecamuk di dalam pikiran saya. Satu hal, saya adalah orang yang terbiasa di belakang layar. Namanya juga orang planning. Kalau dulu orang hanya ngomong di belakang. Sekarang, orang bisa membicarakan orang lain di linimasa. Nah, sanggupkah saya jika nanti suatu ketika buka tab mentions di Twitter dan membaca kritik yang berat bagi tulisan saya?

Itulah dia. Saya masih terus bertanya. Apakah saya siap untuk itu.

Ah!

Swansea City

Berita semalam adalah soal kemenangan tim Swansea City atas Bradford City 5-0 di Piala Liga (Capital One) di tanah britania. Ya, ditunjang oleh permainan yang ‘enak dilihat’ plus mengorbankan kekalahan 5-0 juga dari Liverpool minggu sebelumnya, akhirnya membawa skuad asuhan legenda Denmark Michael Laudrup memperoleh piala mayor pertamanya.

Nah, mari kita kulik sedikit sejarah perjalanan klub berjudul The Swans ini.

Dahulu kala, anak-anak disana (sebelum 1912) bermain sepakbola di bekas tanah perkebunan yang dipakai untuk memberi makan sapi, tempat itu bernama Vetch Field. Tempat itu kemudian dijual oleh Swansea Gas Light Company ke Swansea League. Tahun 1912 dibentuklah klub bernama Swansea Town, utamanya untuk ke ranah rugbi. Sebuah klub sepakbola mengadopsi model seragamnya, Swansea RFU. Lama kemudian tim ini dikenal sebagai Swansea Town sebelum berganti menjadi City pada 1969.

Klub ini masih ke Divisi 2 Southern League dan lalu promosi sebelum Perang Dunia 1. Sebagai hasilnya, mereka menjadi pendiri untuk Divisi 3 ketika Southern League Division dihelat pada 1920. Tim ini sangat kuat pada masanya, dengan memenangi promosi ke Divisi 2 pada 1925 serta finish posisi 6 di musim berikutnya, plus masuk semifinal Piala FA.

Pada musim sesudah Perang Dunia II, nasib berbalik karena klub kemudian menurun lagi untuk kemudian promosi lagi pada 1949. Mereka bertahan di Divisi 2 untuk 16 musim kemudian. Sempat masih semifinal FA juga pada 1964. Pada periode yang sama The Swans juga masuk ke Eropa (1961) lewat kemenangan di Piala FA Wales. Tahun 1965, Swansea degradasi ke divisi 3, lalu 2 tahun kemudian ke divisi 4.

Mereka mulai naik lagi di bawah asuhan John Toshack dengan dua kali promosi (1978-1979) ke divisi 2. Pada 1981 mereka promosi ke divisi 1 dan jadi posisi 6 pada 1982. Hanya saja, penurunan yang terjadi sangat dramatis. Degradasi dua kali (1983-1984) lalu bermasalah pada 1985 hingga terjun ke divisi 4 pada 1986. Program penyelamatan kemudian membuat Swansea kembali ke divisi 3 pada 1988 dan lima tahun kemudian mencapai play-off. Tahun 1996, Swansea degradasi ke divisi 4, lalu promosi di tahun 2000. Selama musim 2001/2002, sempat terjadi masalah soal kebangkrutan dan mendekati degradasi (lagi).

Hawa perubahan terjadi tahun 2005 setelah mereka pindah dari Vetch Field ke stadion baru Liberty Stadium.

Nah, Swansea mulai ternama di bawah asuhan Roberto Martinez yang membawa promosi ke Championship. Karena kemudian ia pindah ke Wigan, skuad kemudian dilatih oleh Paulo Sousa (ex Inter Milan). Setahun kemudian dia pindah ke Leicester dan digantikan oleh Brendan Rodgers. Orang ini yang membawa Swansea melaju ke Premier League dan finish di posisi 11. Rodgers kemudian pindah ke Liverpool bersama Joe Allen, dan lantas digantikan oleh Michael Laudrup.

Orang yang lahir di kota tersebut dikenal sebagai SWANSEA JACKS.

Pada periode awal abad 19, pelaut dari Swansea dikenal handal dengan reputasi gemilang. Nama panggilan Swansea Jacks lahir dari pakaian mereka yang menyediakan proteksi khusus.

Swansea Jack juga merupakan retriever hitam lahir tahun 1930, hidup di North Dock/River Tawe di Swansea bersama pemiliknya William Thomas. Juni 1931 dia menyelamatkan anak laki-laki 12 tahun. Beberapa minggu kemudian, Jack menyelamatkan orang lagi dari dok tersebut. Pada 1936, anjing ini mendapat penghargaan BRAVEST DOG OF THE YEAR. Total jenderal anjing ini menyelamatkan 27 orang. Oktober 1937 anjing ini mati karena makan racun tikus. Pemakaman anjing ini menyedot perhatian banyak orang. Tahun 2000, Swansea Jack mendapat penghargaan DOG OF THE CENTURY oleh NewFound Friends of Bristol.

1912/1913 menjadi tim profesional dan menang Welsh Cup, 1913/1914 main di ronde pertama Piala FA, 1920/1921 masuk di divisi 3 selatan dan jadi juara pada 1924/1925.

1925/1926 jadi runner-up Piala FA, sempat mengalahkan Real Madrid pada 1926/1927. Tahun 1935/1936 main di Jumat Agung di Plymouth dan Sabtu Paskah main di Newcastle.
Membukukan 90 gol dan 90 kemasukan pada 1956/1957. Serta kebobolan 99 gol pada 1957/1958.
Ganti nama jadi Swansea City pada 1969/1970. John Toschack mencetak gol perdana pada musim 1970/1971. Pria yang sama jadi pelatih-pemain pada 1977/1978.
1997/1998 diambil alih The Silver Shield dari Doug Sharpe. 1999/2000 jadi juara divisi 3 lalu degradasi lagi.
Musim terparah di dalam dan luar lapangan pada 2001/2002. Ninth Floor ambil alih klub hanya dengan 1 pound. Enam pertandingan kemudian, John Hollins-Alan Curtis dipecat, diganti Colin Addison-Peter Nicholas. Pada Oktober, Mike Lewis ambil alih klub juga dengan 1 pound. Lalu konsorsium lokal ambil alih di Januari.
2006/2007 ekspekatasi tinggi karena gagal promosi di musim sebelumnya. Kenny Jackett resign karena rongrongan suporter, fans, dan media. Kevin Nugent sempat ambil alih sebelum kemudian Roberto Martinez jadi pelatih. Orang ini yang membawa dampak cepat di lima pertandingan pertama, dan total jenderal kalah 2 dari 12 pertandingan. Tapi gagal promosi lagi karena play off.
Ekspektasi tinggi kembali muncul 2007/2008 lewat asuhan Roberto Martinez. Dan menjadi musim terbaik di klub dengan rekor 92 poin, 14 kemenangan away. Gaya main Swansea Way dikenal di sekitar League One. Dan bisa promosi lebih dini. 2008/2009 Swansea gagal lagi, tapi dengan permainan yang oke.
2009/2010 Roberto Martinez pindah ke Wigan bersama asisten Graeme Jones plus juga Jason Scotland dan Jordi Gomez. Ia digantikan oleh Paulo Sousa. Di musim ini Swansea mencapai rekor pertahanan terbaik dengan 24 clean sheet.
2010/2011 Paulo Sousa pindah ke Leicester City dan digantikan oleh Brendan Rodgers. Pada musim ini Swansea didera duka ketika kematian Besian Idrizaj. Nomor punggung 40 kemudian dipensiunkan.
Demikian sekilas soal Swansea City 😀

Pedoman Audit Sistem Manajemen: Penetapan Program Audit

Peran dan Tanggung Jawab Personel yang Mengelola Program Audit

Personel yang mengelola program audit hendaknya:

  1. Menetapkan ruang lingkup program audit
  2. Mengidentifikasi dan mengevaluasi resiko terhadap program audit
  3. Menetapkan tanggung jawab audit
  4. Menetapkan prosedur untuk program audit
  5. Menentukan sumber daya yang dibutuhkan
  6. Memastikan implementasi dari program audit, mencakup pelaksanaan tujuan audit, ruang lingkup, dan kriteria dari audit individual, menetapkan metode audit, dan menyeleksi tim audit serta melakukan evaluasi auditor
  7. Memastikan catatan program audit yang ada dikelola dan dipelihara
  8. Memonitor, meninjau kembali, dan melakukan perbaikan pada program audit

Personil yang mengelola program audit hendaknya menginformasikan kepada manajemen puncak perihal muatan program audit, dan jika perlu meminta persetujuan

 

Kompetensi Personel yang Mengelola Program Audit

Personel yang mengelola program audit hendaknya memiliki kompetensi yang diperlukan untuk mengelola program audit dan resiko yang berhubungan secara efektif dan efisien, sesuai pengetahuan dan kemampuan pada aspek berikut:

  1. Prinsip, prosedur, dan metode audit
  2. Standar sistem manajemen dan dokumen yang menjadi referensi
  3. Aktivitas, produk, dan proses yang dilakukan auditee
  4. Persyaratan legal atau lainnya yang relevan dengan aktivitas dan produk auditee
  5. Pelanggan, pemasok, dan pihak lain yang terkait dengan auditee, jika dimungkinkan

Personel yang mengelola program audit hendaknya melakukan aktivitas pengembangan profesional yang berkesinambungan untuk mempertahankan pengetahuan dan kekmampuan yang diperlukan guna mengelola program audit.

 

Ruang Lingkup Program Audit

Personel yang mengelola program audit hendaknya menetapkan ruang lingkup program audit, yang bisa sangat tergantng pada ukuran dan kebiasaan dari auditee, sesuai dengan keadaan, fungsi, kompleksitas, dan tingkat kematangan, serta hal-hal yang yang berdampak signifikan pada sistem manajemen yang diaudit.

Pada kasus tertentu, tergantung pada struktur auditee dan aktivitas yang terjadi, program audit dapat saja hanya memuat audit tunggal.

Faktor lain yang memberi pengaruh pada ruang lingkup program audit mencakup hal-hal berikut:

  1. Tujuan, cakupan, dan durasi setiap audit dan jumlah audit yang akan dilaksanakan, mencakup juga tindak lanjut audit, jika memungkinkan.
  2. Jumlah, kepentingan, kompleksitas, kesesuaian, dan lokasi aktivitas yang diaudit
  3. Faktor-faktor yang memberikan pengaruh pada efektivitas sistem manajemen
  4. Kriteria audit yang sesuai, seperti pengaturan terencana terhadap standar sistem manajemen yang sesuai, peraturan hukum, dan persyaratan kontrak, serta persyaratan lain yang dianut oleh organisasi
  5. Kesimpulan dari audit sebelumnya, internal dan eksternal
  6. Hasil dari review program audit sebelumnya
  7. Bahasa, budaya, dan isu sosial lainnya
  8. Hal-hal yang menjadi perhatian pihak luar, seperti keluhan pelanggan atau ketidaksesuaian dengan persyaratan legal
  9. Perubahan signifikan pada auditee dan operasionalnya
  10. Ketersediaan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung aktivitas audit, umumnya pada metode audit di tempat terpencil
  11. Kejadian internal dan eksternal, seperti produk gagal, kegagalan keamanan informasi, insiden kesehatan dan keselamatan, tindak kriminal atau insiden lingkungan

 

Identifikasi dan Evaluasi Resiko Program Audit

Terdapat banyak resiko berbeda yang berhubungan dengan penetapan, implenetasi, pemantauan, peninjauan dan perbaikan program audit yang bisa memberikan dampak pada tujuan. Personel yang mengelola program audit hendaknya mempertimbangkan resiko tersebut. Beberapa resiko yang relevan adalah sebagai berikut:

  1. Perencanaan, contoh: kegagalan menetapkan tujuan audit yang relevan dan menetapkan ruang lingkup program audit
  2. Sumber Daya, contoh: tidak cukup waktu yang memungkinkan untuk mengembagkan program audit atau melaksanakan audit
  3. Seleksi Tim Audit, contoh: tim tidak memiliki kompetensi kolektif untuk melaksanakan audit secara efektif
  4. Implementasi, contoh: komunikasi program audit yang tidak efektif
  5. Catatan dan Pengendaliannya, contoh: kegagalan untuk melindungi catatan audit secara baik
  6. Pemantauan, Peninjauan, dan Perbaikan Program Audit, contoh: pemantauan yang tidak efektif dari keluaran program audit

 

Penetapan Prosedur untuk Program Audit

Personel yang mengelola program audit hendaknya menetapkan satu atau lebih prosedur berikut, sejauh diperlukan:

  1. Perencanaan dan penjadwalan audit dengan mempertimbangkan resiko
  2. Pemastian keamanan dan kerahasiaan informasi
  3. Penjaminan kompetensi audit dan ketua tim audit
  4. Seleksi tim audit yang sesuai dan pemberian wewenang serta tanggung jawab
  5. Pelaksanaan audit, mencakup penggunaan metode pengambilan sampel yang sesuai
  6. Pelaksanaan tindak lanjut audit, jika diperlukan
  7. Pelaporan kepada manajemen puncak terkait pencapaian umum dari program audit
  8. Pemeliharaan catatan program audit
  9. Pemantauan dan peninjauan performa dan resiko, serta perbaikan efektivitas dari program audit

 

Identifikasi Sumber Daya Progam Audit

Ketika mengidentifikasi sumber daya untuk program audit, personel yang mengelola program audit hendaknya mempertimbangkan:

  1. Sumber daya finansial yang sesuai untuk pengembangan, implementasi, pengelolaan, dan perbaikan aktivitas audit
  2. Metode audit
  3. Ketersediaan auditor dan ahli teknis yang memiliki kompetensi yang sesuai terkait tujuan umum program audit
  4. Ruang lingkup program audit dan resikonya
  5. Waktu dan biaya perjalanan, akomodasi, dan kebutuhan audit lainnya
  6. Ketersediaan teknologi informasi dan komunikasi

(Diterjemahkan dari ISO 19011: 2011)

Pedoman Audit Sistem Manajemen: Penetapan Tujuan Program Audit

Manajemen puncak hendaknya memastikan tujuan program audit ditetapkan untuk mengarahkan rencana dan pelaksanaan audit dan hendaknya pula memastikan program audit diimplementasikan secara efektif. Tujuan program audit hendaknya konsisten dan mendukung tujuan dan kebijakan sistem manajemen.

Tujuan dapat didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan berikut:

  1. Prioritas manajemen
  2. Tujuan komersial atau kepentingan bisnis lainnya
  3. Karakteristik proses, produk, dan proyek serta segala perubahan yang relevan
  4. Persyaratan sistem manajemen
  5. Persyaratan legal dan kontrak, serta persyaratan lainnya yang dianut oleh organisasi
  6. Keperluan untuk evaluasi pemasok
  7. Keperluan dan ekspektasi pihak lain, termasuk pelanggan
  8. Tingkat kinerja auditee, yang direfleksikan dari kejadian kegagalan atau insiden atau keluhan pelanggan
  9. Resiko terhadap auditee
  10. Hasil dari audit sebelumnya
  11. Level kematangan dari sistem manajemen yang diaudit

Contoh tujuan program audit adalah sebagai berikut:

  1. Untuk memberikan kontribusi terhadap perbaikan sistem manajemen dan kinerjanya
  2. Untuk memenuhi persyaratan eksternal, seperti sertifikasi suatu standar sistem manajemen
  3. Untuk memverifikasi kesesuaian dengan persyaratan kontrak
  4. Untuk mencapai dan mempertahankan kepercayaan terhadap kapabilitas pemasok
  5. Untuk menentukan efektivitas sistem manajemen

Untuk mengevaluasi kesesuaian tujuan sistem manajemen dengan kebijakan sistem manajemen dan tujuan organisasi secara keseluruhan.

(Diterjemahkan dari ISO 19011: 2011)

Pedoman Audit Sistem Manajemen: Pengelolaan Program Audit Secara Umum

Organisasi yang memerlukan audit hendaknya memiliki program audit yang berkontribusi terhadap ketetapan efektifivitas dari sistem manajemen yang dilakukan auditee. Program audit dapat mencakup satu atau lebih standar sistem manajemen, dan dapat dilakukan terpisah atau kombinasi.

Manajemen puncak hendaknya memastikan tujuan program audit tersedia dan terdapat satu atau lebih personil yang kompeten untuk mengelola program audit. Ruang lingkup program audit hendaknya didasarkan pada ukuran dan kebiasaan dari organisasi yang diaudit, serta pada kebiasaan, fungsi, kompleksitas, dan level kematangan sistem manajemen yang diaudit. Prioritas hendaknya diberikan pada alokasi program audit yang membutuhkan sumber daya yang sifatnya signifikan pada sistem manajemen. Hal ini dapat mencakup karakteristik kunci dari kualitas produk atau bahaya terkait kesehatan dan keamanan, atau aspek lingkungan yang signifikan, dan kontrolnya. Konsep ini umumnya dikenal sebagai audit berbasis resiko.Standar internasional tidak memberikan panduan lebih jauh terkait hal ini.

Program audit hendaknya mencakup informasi dan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengorganisasi dan melaksanakan audit secara efektif dan efisien dalam jangka waktu spesifik, dan juga dapat mencakup hal-hal berikut:

  1. Tujuan program audit dan audit individualnya
  2. Ruang lingkup, jumlah, tipe, durasi, lokasi, dan jadwal audit
  3. Prosedur program audit
  4. Kriteria audit
  5. Metode audit
  6. Seleksi tim audit
  7. Sumber daya yang dibutuhkan, mencakup perjalanan dan akomodasi
  8. Proses untuk penanganan kerahasiaan, keamanan informasi, kesehatan dan keamanan, serta hal ihwal lainnya

Implementasi program audit hendaknya dimonitor dan dinilai untuk memastikan tujuan tercapai. Program audit hendaknya ditinjau kembali dalam rangka mengidentifikasi perbaikan yang mungkin dilakukan.

(Diterjemahkan dari ISO 19011: 2011)

Secuil Kisah Dari Muara Gembong

Membaca berulang-ulang posting tentang Kelas Inspirasi (takut dituntut kayak yang lagi heboh sekarang, padahal ya nggak ngapa-ngapain), malah membuat saya ingat kalau hari Minggu kemarin baru saja melakoni perjalanan absurd ke sebuah tempat bernama Muara Gembong.

Tahu Muara Gembong dimana?

Ah, kalau ingat kisah ikan paus terdampar di Karawang, yang lalu bisa bebas tapi kemudian mati, nah kematian paus itu ada di perairan Muara Gembong ini. Singkatnya Kabupaten Bekasi bagian Utara. Saya juga sempat heran, memangnya Bekasi punya pantai? Ternyata ada, dan di peta ya memang ada. Sebuah tempat yang basah dalam arti fisik (mepet kali Citarum–kalo nggak salah), tapi jelas sangat tidak basah bagi Kabupaten, apalagi dibandingkan KAWASAN INDUSTRI yang BANYAK DUITNYA ITU LOH BRO!

Sekilas soal jauhnya Muara Gembong bisa saksikan peta berikut, sepintas malah lebih dekat sama Tanjung Priok tapi lewat laut.

Sumber: Google Maps
Sumber: Google Maps

Jalurnya sih ambil Pantura Bekasi, sampai Pilar ambil jalan ke utara, lalu ya terus saja sampai jauh akhirnya ke laut. Dan dari daerah Cabangbungin, jangan harap nemu jalan yang OKE. Yang ada jalanan yang bolong-bolong plus persis di sebelah tanggul yang tingginya lebih dari 2 kali tinggi mobil.

Saya bisa sampai ke Muara Gembong ini dalam rangka baksos gereja. Syukur juga saya diajak ke event ini. Selain bisa dapat kenalan baru, saya juga bisa dapat pengalaman baru. Lagipula, saya lumayan suka kegiatan macam ini karena saya bisa merefresh ilmu saya sebagai seorang Apoteker. Sekalian, buat latihan untuk Kelas Inspirasi. Maksud awalnya begitu.

Perjalanan dari Jababeka 2 memakan waktu sekitar 2,5 sampai 3 jam. Untung saya naik mobil yang dibawa sama orang yang rajin jelajah Pantura guna menuju Jogja, Klaten, Bantul dan sekitarnya. Jadi, cukup yakinlah akan selamat sampai tujuan. Kalau naik OOM ALFA? Ucapkan selamat tinggal! Sejak masuk Pilar, jalanannya memang hanya kecil. Jadi ya begitulah keadaannya. Ketika sampai, saya dan tim pelayanan lain kudu menyeberangi sebuah jembatan kayu. Mobil ditinggal di kantor kelurahan (kalau nggak salah). Dari jembatan, kudu jalan lagi beberapa ratus meter sebelum kemudian sampai di sebuah sekolah tempat bakti sosial diselenggarakan.

Poin utama dari baksos kali ini adalah JUMLAH PASIENNYA. Seumur-umur saya ikut baksos, ya baru kali ini dapat pasien lebih dari 500. Kalau nggak salah sampai 560-an. Kaki sudah sampai ngesot-ngesot, ya nggak kelar-kelar juga. Iya, 500-an pasien itu beneran rekor baru dalam hal saya ikutan baksos. Tidak di gempa Jogja, tidak di tempat lainnya. Sungguh saya ingin melambaikan tangan ke kamera hendak menyerah sebelum saya sadar ini baksos, bukan acara televisi soal hantu-hantuan.

Satu hal sih. Saya suka dengan baksosnya gereja karena stok obatnya lengkap dan tidak sekadarnya. Yeah, kan ada baksos yang alakadar. Yang formulariumnya bahkan tidak diupdate, yang stok obatnya adalah barang-barang mendekati ED, yang poly-nya sudah remuk redam sehingga kalau mau kasih ke pasien kudu dibongkar dulu lalu dimasukin plastic clip biar keliatan tetap oke. Baksos yang begitu sih buat saya nggak niat, dan percayalah itu  terjadi di CSR sebuah perusahaan farmasi. Baksos niat ya kalau sampai bawa obat yang jumlahnya alamakjang begini. Untuk pasien yang jumlahnya amalakjang juga.

Sudah begini, punya tempat permanen untuk beribadah saja nggak boleh. #TANYAKENAPA

Dari daerah pantai yang kemudian sangat dekat dengan aliran sungai ini, saya belajar tentang hidup. Saya belajar bagaimana pelayanan sebenarnya tidak meminta pamrih. Saya juga belajar banyak, karena saya tahu 500 pasien itu sangat biasa di rumah sakit.

Bapak Millennial