Tentang Kebelet Bilang Cinta

Salah satu hal yang saya sesali di tahun 2014 ini adalah minimnya karya monumental. Kalau tidak karena project bukunya Jamban Blogger yang judulnya Galau: Unrequited Love sudah bisa dipastikan tahun 2014 ini saya nihil buku. Padahal sejak 2012 saya sudah mewarnai dunia persilatan dengan buku-buku antologi yang berujung di OOM ALFA tahun 2013. Selain itu, kiranya semua penyesalan tertutupi oleh fakta bahwa saya punya pacar tahun ini.

Entahlah, saya itu kalau nggak sreg sama cewek, eh, plot, dijamin nggak semangat nulisnya. Ada 2-3 outline yang saya serahkan ke Elly untuk harapan buku kedua, tapi nyatanya juga saya sendiri nggak sreg sama outline itu. Berakhirlah dia pada tumpukan file yang mungkin akan kena defrag, saking jijiknya si Tristan sama isi outline itu.

Sampai kemudian Bukune bikin KAMFRET. Awalnya saya sih ngerasa nggak enakan buat ikutan, soalnya itu toh penerbit saya sendiri. Tapi ketika kemudian saya melihat di Twitter banyak penulis lain yang juga ikutan, maka saya bersemangat untuk ikutan. Bahkan, karena terlalu semangat saya sampai bersyukur bahwa KAMFRET itu diperpanjang sama Bukune. Padahal, dulu saya males banget sama lomba yang diperpanjang, sementara kita sudah buru-buru mengejar deadline. Dunia memang mudah berubah, Bung!

Continue reading!

Secuil Cerita Dari Citraland

Sejak jaman OOM ALFA eksis, saya sudah join Cantus Firmus. Nah, sampai sekarang saya menggelandang di ibukota nan lebih kejam daripada ibu bos ini, tersebutlah kisah Cantus Firmus lainnya yang sering dikisahkan di blog ini. Rupanya cerita tentang Cantus Firmus Extraordinary masih berlanjut. Sesudah manggung ceria di Karawaci, sekarang topiknya adalah ikut lomba. Manusia-manusia ini adalah banci panggung mendasar. Maklum, dulu pada jaman belia dan unyu-unyu labil di Jogja, panggung adalah jajahan reguler. Tugas wisuda? Jelas duduk manis di panggung. Dies Natalis? Malah dikasih panggung. Konser? Apalagi itu. Belum lagi lomba-lomba lainnya. Beresin kursi? Iya juga, sih. Bahkan konsep banci panggung ini sampai menelurkan konser yang kalau dipikir-pikir banyak uniknya, atas nama Poelang Kampoeng, medio 2013 silam.

Nah, ketika kebetulan sebagian orang sama-sama mencari segenggam reksadana di Jakarta Raya (include Bekasi, yang katanya dekar Mars), maka diada-adakanlah agenda berkumpul ria bersama dalam lomba yang semata-mata hanya mencari panggung belaka. Ditemukanlah panggung itu di sebuah mal milik enterpreneur terkemuka di negeri ini yang letaknya di Grogol Town sana. Sebut saja Citraland.

Saya sih saking siapnya mengikuti lomba ini jadinya cuma latihan sekali saja, itu juga dua minggu yang lalu. Cerita tentu saja hampir mirip dengan kemenangan di lombanya Mall @ Alam Sutera. Bagaimana mungkin mengumpulkan manusia yang berceceran di berbagai sudut Jabodetabek setiap pekannya? Ya, sulit. Lebih sulit daripada mencari jodoh di tumpukan jerami.

Janganlah berfokus kepada pupu
Janganlah berfokus kepada pupu

Sesiangan saya sudah tiba di halte Jelambar yang tidak jembar. Rencananya kami berkumpul di sebuah sekolah yang ada dekat sana. Satu-satu-satu datang, kumpul, dolanan asu, baru kemudian kita latihan. Masih belum komplet dan nyaris kagak ikutan karena jumlahnya belum 20. Hanya doa mama yang menemani langkah masing-masing agar sanggup jadi 20 orang. Halah, jangankan bahas jumlah orang. Sampai 3 jam sebelum manggung saja masih ada sesi belajar not kembali. Sungguh super pokoknya.

Baca selengkapnya, Mbohae!

Pak Anton

Di sela-sela gatalnya tangan ini untuk membuat posting tentang Menteri PAN-RB yang baru, saya terus mencoba untuk menahan diri sampai batas waktu tertentu Bapak itu tidak sekadar bikin Surat Edaran. Untunglah masih tahan. Entah berhubungan atau tidak, keengganan logika saya untuk ngepost tentang bapak itu, justru mengarahkan saya kepada bapak yang lain. Seseorang yang sejatinya juga tidak dekat-dekat amat, tapi punya peran besar dalam hidup rohani saya.

Faktanya, saya adalah umat pada umumnya. Bahkan saking umumnya, saya tidak punya niat sedikitpun untuk sekadar ikut di lingkungan. Enam bulan pertama karena saya dicuekin pacar. Tiga bulan berikutnya karena pacar yang mencuekin saya berbulan-bulan itu kemudian bekerja di kota yang sama dengan saya, dan tinggalnya hanya beda gang. Tiga bulan berikutnya karena saya habis putus. Pas pokoknya. Makanya, keheningan saya di lingkungan terjadi setahun lamanya sampai kemudian muncul niat dari saya untuk berkenalan dengan orang-orang seagama yang ada di sekitar kos-kosan di Kedasih. Pada suatu malam yang gelap, saya dan Agung kemudian bertemu ke rumah Pak Dodi, ketua lingkungan. Ya, sudah, sebatas itu saja.

Beberapa pekan kemudian saya dan Agung diperkenalkan oleh Pak Dodi dengan seorang bapak yang tampaknya sudah tua. Kami salaman dan kemudian tahu bahwa nama beliau adalah Pak Anton, pemilik kos-kosan besar yang tidak jauh dari kosan saya. Namanya orang tua, pasti cerita banyak, termasuk cerita tentang dirinya yang sudah hampir 70 tahun tapi masih saja dapat tugas kalau ada ibadah. Dalam 10 menit, diulang 2 kali. Khas orang tua.

Masih sampai disitu saja.

Klik untuk baca selanjutnya, Mbohae!

5 Kebijakan Pemerintah yang Dibutuhkan Oleh Pelaku LDR

Selamat jumpa kembali para pelaku LDR! Salam Nggerus! Kali ini sesudah bertapa sambil hidup sederhana di planet bernama Bekasi, saya kembali lagi untuk mewartakan beberapa usulan kepada Pemerintah. Tentu saja sekarang kan sedang marak surat edaran dan aneka kebijakan pemerintah dalam rangka reboisasi, eh, revolusi mental. Kiranya akan lebih baik jika para pelaku LDR juga dilibatkan dalam revolusi ini. Bagaimanapun para pelaku LDR alias para jomlo de facto itu adalah manusia-manusia ngenes tapi super (ingat, bukan super ngenes ya!) yang lebih sering membelai guling daripada pasangannya sendiri.

Nah, setidaknya ada lima kebijakan pemerintah yang perlu diterapkan dalam rangka mendukung kelestarian para pelaku LDR. Oh, plis dicatat sebelunya bahwa hubungan DEPOK MENTENG itu tidak termasuk LDR. Saya jadi ingat salah satu buku tempat tulisan saya pernah bernaung tentang LDR. Ceritanya oke, menarik, menguras air mata dan air keran, hingga kemudian saya mendapati bahwa LDR itu terjadi antara dua tempat yang sama-sama masih JABOTABEK. Luar biasa. Luar biasa ngawur.

Oke, ini dia kebijakan yang diperlukan! Mari disimak! Siapa tahu nanti ketika proses reshuffle dan Pak Presiden punya ide untuk membuat Kementerian Pemberdayaan Jomlo Menahun dan LDR. Saya siap melamar menjadi Inspektur Jenderal kalau ada kementerian ini, siap juga dengan fit and proper test-nya. Tenang saja.

1. Area Khusus LDR

Sekarang naik TransJakarta dan naik KRL Commuter Line itu ada pembedaan karena keduanya punya area khusus wanita. Sesungguhnya pemisahan ini terbilang bagus bagi para pelaku LDR sirik karena kebijakannya yang jelas. Misal ada pasangan yang sedang dimabuk asmara naik TJ, lalu sang cewek mau duduk di area khusus wanita, sudah jelas si cowok harus berada setidaknya di dekat pintu. Aturan yang jelas sudah memisahkan dua orang yang sedang berkasih-kasihan. Masalahnya hal itu tidak berlaku kebalikan. Ketika ada pasangan yang berkasih-kasihan di TJ tapi di area bukan khusus wanita, ya mereka boleh peluk-pelukan dan ngobrol hore sambil curi-curi-cium, sementara pelaku LDR puas dengan wassapan sama pasangannya.

Ini sungguh tidak adil! Dan soal mesra-mesraan itu juga terjadi di KRL Commuter Line, kadang pasangan nan dimabuk asrama itu saling menyandarkan kepala, hati, dan masa depan satu sama lain di dalam gerbong kereta. Mereka sama sekali tidak peduli kaum LDR yang sirik, apalagi kaum jomlo menahun yang siap-siap nyemplung Waduk Pluit segera sesudah turun.

kereta-commuter-line

Continue Reading, Mbohae!

10 Renungan Sederhana di Hari Guru

Pertama-tama saya perlu tekankan bahwa saya tidak peduli apakah hari ini sebenarnya adalah hari guru, atau hari PGRI, atau bahkan hari OOM ALFA. Satu-satunya yang saya pedulikan adalah Mamak saya dengan bangga menelepon saya untuk bilang bahwa hari ini adalah hari guru, dalam posisi saya sedang jadi moderator sebuah presentasi survei kepuasan pelanggan.

43_Pak_Guru

Kedua, saya tidak akan pernah lupa masa-masa miris kehidupan saya yang kemudian membuat saya se-emoh-emoh-nya jadi guru. Mungkin sejak kelas 3 SD sampai awal kuliah periode itu ada. Tidak miris-miris amat kalau dipikirkan sekarang, sih, tapi ketika itu saya sampai harus menggunakan buku rekondisi sebagai buku tulis baru saya di awal tahun ajaran. Bapak saya yang guru lurus itu menggunakan buku bekas ulangan murid, disobek bagian yang sudah terisi, kemudian menggabungkan 2-3 bekas buku ulangan sehingga menjadi 1 buku “baru”. Jadi kalau teman-teman yang lain memakai buku isi 40, saya bisa memakai buku isi 36B, 38, hingga 44. Saya juga tidak punya tas baru selama 3 tahun saya belajar di SMP. Saya juga harus membantu orangtua membungkus dagangan kalau saya tetap ingin jajan. Sekadar mengantar es mambo atau kerupuk ke kantin, bukan lagi hal yang saya anggap memalukan. Ya, aneka peristiwa itu membuat saya merujuk pada suatu kesimpulan: jadi guru itu kere. Kalimat itu kemudian mengantarkan saya pada pilihan, pokoknya bukan guru ketika lantas memilih jalur di kuliah dan seterusnya.

Ketiga, saya tetiba ingat sebuah obrolan dengan mantan saya yang pertama (#uhuk). Klik Untuk Membaca Selengkapnya, Mbohae!

Bernyanyi Dengan Hati

Hari ini saya berasa anak soleh, walau masih tetap kalah soleh dibandingkan Soleh Solihun. Bukti bahwa saya anak soleh adalah saya dua kali beribadah di hari Minggu ini. Bukan apa-apa, kebetulan ada jadwal tugas bernyanyi di dua misa, di dua kota (Jakarta dan Tangerang), dua provinsi (DKI Jakarta dan Banten), yang untungnya terjadi di dua jadwal yang punya rentang waktu 8 jam. Jadi saya masih bisa mengejar jadwal kedua dengan naik bis dari tempat ternama di Tangerang.

“slamik,slamik,slamik…”

Sebuah teriakan khas awak bus yang mengacu pada daerah Islamic, pintu masuk area Lippo Karawaci dan sekitarnya.

EDIT CFX 3

Yup, kisah soleh pertama hari ini adalah bernyanyi bersama anggota PSM Cantus Firmus yang sudah tidak Mahasiswa lagi, di Santa Helena, Lippo Karawaci. Sebenarnya, sebagai umat Katolik pada umumnya, cuma nyanyi di misa itu sangat biasa. Lagu-lagunya juga pasti biasa. Bahkan seperti yang pernah saya tulis sebelumnya di blog Catatan Umat Biasa, untuk bernyanyi pada misa, banyak koor yang latihan alakadarnya, bernyanyi alakadarnya, dan segala hal yang sungguh alakadarnya.

Bukan hal yang aneh ketika ada koor 1 suara dengan peserta koor adalah cabutan yang diperoleh 15 menit sebelum misa dimulai. Juga bukan hal yang aneh melihat anggota koor sama sekali nggak melirik ke dirigen ketika bernyanyi. Bukan apa-apa, ketika tugas, itu adalah kali pertama dia melihat teks yang dinyanyikan itu. Profil semacam itu sudah sangat biasa, dan jelas terbilang menurunkan prestise koor misa itu sendiri. Mungkin hanya koor saat perayaan besar semacam Natal dan Paskah yang dipersiapkan benar-benar.

Makanya, ketika diminta bernyanyi (hanya) di sebuah misa, tampaknya adalah biasa saja.

Tapi ternyata tidak demikian adanya.

Sebagai contoh, sekadar bernyanyi lagu berjudul “Kemuliaan”, sejatinya orang Katolik yang misa tiap minggu pasti bisa menyanyikan itu sambil merem, bahkan kalau nggak ingat itu sedang di gereja, boleh jadi mereka akan menyanyikannya sambil kayang. Percayalah, bahwa meski lagu itu sangat besar isinya, tapi sebagian umat menyanyikan lagu itu sekadarnya saja. Termasuk juga saya.

Nah, ketika tadi saya merinding (hanya) ketika menyanyikan lagu tersebut, pasti ada yang aneh. Hal yang sama juga terjadi ketika saya ikut serta menyanyikan lagu-lagu lainnya, termasuk tiga lagu Komuni yang all english. Beneran bikin saya kudu ke London. *oke, ini tidak berhubungan baik*

Bernyanyi sambil merinding menurut saya hanya bisa dicapai pada tataran tertentu dalam rasa. Saya sering bernyanyi–maupun duduk di bangku koor sambil lipsync–dan tidak selalu tataran itu tercapai. Memang, tataran itu butuh aneka prasyarat untuk bisa digapai.

Dan salah satunya bernama kerinduan.

Kerinduan untuk bernyanyi bersama sebuah paduan suara bernama Cantus Firmus. Well, ini tidak sekadar bertemu teman lama. Banyak anggota koor tadi pagi yang beneran baru saya kenal. Bagaimana tidak, mereka angkatan 2009, Juni 2009 baru masuk. Padahal Mei 2009 saya sudah cabut, kerja di Palembang. Mereka ranum, saya ra(e)nom. Yup, akhirnya saya menemukan dua poin utama.

Kerinduan dan Cantus Firmus.

Kerinduan bernyanyi dalam naungan Cantus Firmus itulah yang kemudian masuk ke hati dan menyebabkan lagu yang rutin dinyanyikan setiap pekan itu mendadak menjadi menggetarkan. Kerinduan itu memicu saya dan tampaknya beberapa yang lain untuk bernyanyi dari hati. Apalagi ketika kemudian salah satu lagu yang dinyanyikan adalah lagu andalan segala angkatan, saya sih menangkap beberapa mata yang berkaca-kaca ketika lagu itu dinyanyikan.

Begitulah. Bernyanyi mungkin biasa, namun ada faktor penting yang kemudian bisa membedakan output dari nyanyian itu, namanya hati 🙂

Letter #3

LDR_Banner

Dear Mas Arie,

Udah lama banget aku enggak nulis surat cantik buat kamu! Sekarang jam 2:41AM disini, harusnya udah jam tidur-demi-kecantikan sih, tapi aku kangen menyapa kamu 🙂

Oh ya, sudah pertengahan November, dan cuaca makin nggak bersahabat disini. Saat aku menulis surat ini suhu di luar sekitar 8 derajat Celcius, suhu dimana dua lapis jaket mulai dibutuhkan. Plus sarung tangan. Eh, itu sarung tangannya kamu yang beliin bukan sih Mas, atas titah ibu camer? Hihihi… Semoga beneran dari kamu, jadi kan kalau aku pakai aku berasa lagi nggandeng tangan kamu gitu…… *pusing baca gombalan sendiri*

Like you predicted, life as a student gets more tense nowadays. I can even barely have fun, seriously. Everyday they give us a new assignment, new things to be learnt, new reading list…. Argh! Ini sehari masih dua puluh empat jam kan ya? Masalahnya, efek samping utama dari semua tugas-tak-berujung ini adalah reduksi waktu macar. Krusial banget ini, mengingat kamu juga lagi sibuk. Tapi Rangga sama Cinta aja bisa LDR-an, lebih jauh malah Jakarta-New York, kita Jakarta-London nggak boleh kalah!

Tapi rasa-rasanya mengatur jadwal komunikasi itu memang salah satu tantangan dalam hubungan kita sekarang ya. Dulu kita janji tiap weekend harus Skype. Tapi setelah dijalani, ada aja acara-acara kita masing-masing yang membuat Skype kala weekend menjadi jadwal tentatif. Tapi menurutku, kita sudah mulai bisa menyesuaikan diri kita masing-masing. Either aku yang akan tidur larut malam supaya bisa ngobrol sama kamu yang baru bangun tidur, atau kamu yang akan bangun cepat supaya bisa ngobrol sama aku yang lagi siap-siap mau tidur. But, instead of cursing on that somehow-uncomfortable condition, aku malah suka dengan spaontanitas-spontanitas komunikasi yang kita lakukan. Yang penting, effort kita aja yang selalu dijaga 🙂

By the way, kabar gembira! Please jangan garing, ini nggak ada hubungannya sama ekstrak apapun. Aku kurusan loh! Yippie! Emang sih belum dibuktikan secara kuantitatif (nggak tahu harus nyari timbangan dimana), tapi secara kualitatif aku yakin aku kurusan. Hahaha… Syukurlah, terimakasih kepada duit beasiswa yang tidak-lebih-tidak-kurang, saya jadi hemat makan banget plus memperbanyak jalan kaki. Lagipula disini nggak ada emang-emang batagor/cuanki/siomay/baso malang/soto kudus/pempek yang siap menjebol iman saya. Adanya emang-emang jual sandwich dimana-mana, which I don’t like kecuali kalau terpaksa, dan sekali lagi, mahal. Jadi saya sih ogah. Mohon doa restunya aja deh, semoga pulang ke Indonesia beneran bisa kurus hahaha.

Ah, baiklah. Sudah jam 3.16AM disini, saya tidur dulu ya, supaya besok pagi bisa bangun dan kerjain essay, hahaha. Doain dong semoga malam ini aku dapat ilham di dalam mimpi jadi besok nulis essay nya lancar hahaha… Kamu pulang dari Palembang kan siang ini? Hati-hati ya mas Arie, safe flight 🙂

God bless you!

xoxo,
Tiesa

* * *

Dear Tiesa,

Ahay! Anggap saja merpatinya nyasar, jadi aku balas suratnya seminggu kemudian. Merpati masa kini memang suka mampir, apalagi kalau perjalanannya dari London menuju Jakarta. Ehm, mungkin merpati pun eneg untuk hidup di Jakarta, jadi dia mampir dulu di dalam kenangan. Lah, kok jadi bahas merpati?

Well, hidup baru sebagai auditor ternyata nggak mudah, pasti sama dengan hidup baru kamu sebagai manusia. Seperti sudah sering kita bahas–dan tentu saja pembaca setia blog ini nggak perlu tahu detailnya–tapi hidup kita kan memang selalu berubah. Pas kenalan sama-sama karyawan market leader. Pas jadian, ya masih sama-sama, sih. Pas kencan ketiga, hubungannya sudah berubah antara pengangguran dengan karyawan. Tidak lama kemudian berubah lagi jadi abdi negara dengan karyawan. Terus nggak lama pun, itu ganti lagi jadi abdi negara dengan pengangguran, dan sekarang abdi negara dengan mahasiswa. Dan tentu saja, adalah berkat bahwa kita bisa melakoni semua perubahan itu berdua. Setidaknya pengalaman kamu yang menclok di kota demi kota kemudian bisa jadi bahan hidup aku sekarang yang dalam sebulan sudah pergi ke Sulawesi, lalu Sumatera.

Eh, tadi aku tugas sama Cantus Firmus. Ada pertanyaan mendasar, “bojomu ngendi?”. Untung ada Cicilia, si juru bicara, yang bisa menyampaikan bahwa pacar saya ada, sedang proses pengurusan badan di London. Dan karena beberapa teman bawa pacar, lalu pacarnya join tugas juga, sesungguhnya tiba-tiba aku pengen kamu ada di Indonesia, jadi bisa ikutan tugas sama Cantus Firmus. Adalah akulturasi budaya yang luar biasa ketika ada anak PSM ITB nyelip di kalangan PSM USD. Tapi nggak apa-apa, nanti pasti akan ada waktunya. Iya kan?

Oh, sudah lebih dua bulan kami pergi ke seberang sana. Sudah delapan malam minggu aku malam minggu magabut. Hehe. Nggak apa-apa, untungnya edisi sepi fisik ini ditunjang dengan pekerjaan yang juga nambah banyak. Yah, semoga saja bisa seimbang ya.

Last, but not least, selamat ulang bulan ke-9. Ingat, 9 hari lagi melahirkan #eh. Semoga kita akan selalu bisa mengulang bulan itu hingga kita nggak mampu lagi menghitungnya.

Love,
ArieSadhar

 

Beberapa Cara Menjawab Pertanyaan “Kapan Kawin?”

“BANG, KAPAN KAWIN?”

Siapakah manusia berumur 25 tahun ke atas di dunia ini yang belum pernah mendapatkan pertanyaan di atas? Kalau saja Napoleon belum menikah di umur segitu sudah pasti dia akan dapat pertanyaan serupa, tapi bunyinya begini:

Quand allez-vous vous marier?

Ah, jangankan Napoleon, Masha aja kalau sudah gede, dan nggak nikah-nikah pasti akan mendapat pertanyaan yang sama, cuma tulisannya begini:

Когда вы собираетесь пожениться

gambar-masha-and-the-bear

Yup, pertanyaan “kapan kawin” adalah sebuah terminologi yang menyakitkan bagi banyak kalangan yang sudah berusia cukup untuk menikah, tapi nggak nikah-nikah. Mungkin hanya beberapa orang yang akan tersipu malu dengan pertanyaan ini, itupun hanya seorang pelaku poligami yang mungkin pipinya memerah ketika ditanya, “kapan kawin…

…lagi?”

Selanjutnya, Mbohae!

Jangan Benci Berlebihan

Harga BBM naik, dan tentu saja segala rupa respon terjadi. Mulai dari pemilih Jokowi yang menyesal, pemilih Jokowi yang mendukung, pendukung Prabowo yang mendukung kenaikan harga BBM, sampai pembenci Jokowi yang tampaknya akan terus membenci Pak Presiden sampai kumis Hitlernya itu berubah jadi keriting dan pirang. Ya, semua bisa memberikan respon. Saya sendiri bukannya nggak terpengaruh. Kalau boleh dibilang, dari sisi dompet akan sangat terpengaruh. Beda dengan kenaikan 4500 ke 6500 yang terjadi ketika gaji saya masih melimpah ruah, kenaikan dari 6500 ke 8500 ini terjadi justru ketika finansial saya sedang kembali fitri. Oh, bukan, saya bukan sedang bermain Cinta Fitri. Mereka sudah nikah, saya belum.

Problematika Presiden ini memang terlalu mengemuka. Saya tentu saja ikut serta menyimak. Saya langsung update status begitu melihat bahwa Putri Mahkota ada di jajaran menteri. Saya juga pernah menulis di sebuah forum–dan alhamdulilah nggak banyak yang baca–soal pertanyaan besar dari saya perihal Kartu Indonesia Sehat yang entah mengapa tiba-tiba ada sementara BPJS juga sudah ada. Tapi apapun, saya berusaha untuk tidak membenci keadaan ini secara berlebihan.

Soal benci berlebihan ini tetiba mengemuka begitu saya membaca sebuah pesan dari seorang teman yang ditulis di grup pada aplikasi bikinan dan milik Yahudi. Tulisannya kira-kira begini:

2Rb wat iuran mbah mega plesiran kluar negri n tambahan uang dinaa jokowi klo kluarnegri kan dia bisa ajak anak, bktinya kmren KRRC bawa anak nya. hahha g pernah liat dl SBY DL kluarnegri bawa ibas. Pa agus harimurti. Hahahha. Kampret.

Selanjutnya, Mbohae!

Enam Petang di Palembang

Yah, begitulah. Memang sepertinya isi blog ini bakal sepi. Huiks. Semoga sih tidak, tapi memang apa daya, ada kendala waktu, terlebih ketika saya harus melakoni tugas negara. Ketika tugas negara, waktu saya kurang, jadi ngeblog cuma sekadar mimpi yang bukan basah. At least, saya tetap bikin poin-poin untuk di-blog-kan. Belum 3 post rasanya saya nulis sejak Tujuh Hari di Kendari. Iya, memang begitu. Sesudah bertualang ke Celebes, kali ini saya mendapat tugas di Andalas. Dan bagi seorang sentimentil melankolis semacam saya, penugasan kali ini agak menyingkap sisi hati. Uhuk. Batuk Pak Haji?

Untitled7

Ketika pertama kali mengetahui bahwa saya dapat penugasan di kota itu, saya senang-senang sedih. Senangnya tentu karena kota itu punya memori luar biasa bagi hidup saya. Sedihnya? Justru karena saya pernah tinggal berbilang tahun, kok rasanya sayang kalau jadi tujuan. Soalnya dari list penugasan, ada beberapa kota yang memang belum sempat saya injak. Selanjutnya, Mbohae!

Bapak Millennial