Daftar Bioskop Murah di Jakarta

Hidup ini adalah pencarian, termasuk juga mencari tempat menyaksikan film-film terbarukan kekinian dengan harga yang relevan dengan kantong. Dan satu dari beberapa keuntungan–disamping banyak kesesakan–hidup di Jakarta adalah banyaknya bioskop yang beredar di seantero Jakarta. Ini Jakarta saja, lho, ya. Saya belum membincang tentang Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Nah, berdasarkan pengalaman dan penelusuran dari 3 website penyedia jasa layar bioskop di Jakarta, pada akhirnya saya menemukan juga beberapa tempat untuk kita bisa menyaksikan film-film terbaru dengan harga maksimal Rp30.000 pada hari kerja (Senin s/d Kamis). Untuk hari Jumat dan libur nanti saya update pada postingan terpisah.

Harga paling murah yang bisa digapai di Jakarta adalah Rp25.000. Jadi dengan harga pada kisaran Rp25.000 sampai Rp30.000 kita dapat menyaksikan film di bioskop-bioskop yang tertera dalam infografis berikut ini:

BioskopRevisi

Tempat murah menurut infografis tersebut memang lebih banyak tersedia di daerah Jakarta Selatan. Tapi toh di Jakarta ini lintas batas, apalagi sekitar pusat dan selatan serta timur itu bisa digapai dengan mudah via ojek online.

Jadi, sila dipilih tempat-tempat yang relevan, disesuaikan dengan harga makanan karena tentunya tiada nonton tanpa makan sebelum/sesudahnya. Seperti contoh, saya di Setiabudi One, harga memang murah, tapi harga makanannya cenderung lebih mahal daripada Arion.

Kapan nonton?

Review: Sabtu Bersama Bapak

SAN MARINO

Begitu mengetahui bahwa Sabtu Bersama Bapak akan difilmkan, sudah barang tentu judul itu segera masuk list film yang harus saya tonton. Bukan apa-apa, sampai saat ini Sabtu Bersama Bapak adalah salah satu novel terbaik versi saya. Namun tentu saja, namanya juga film, walaupun naskahnya ditulis sendiri sama Kang Adhitya Mulya, kita-kita para pemuja novel Sabtu Bersama Bapak harus menjaga ekspektasi. Tidak sedikit orang yang justru ogah nonton karena novelnya terlalu bagus.

Ngomong-ngomong, pada prinsipnya untuk menikmati Sabtu Bersama Bapak adalah lebih asyik jika baca novelnya dulu. Soalnya, jika tidak, lantas akan muncul perdebatan sebenarnya Sabtu Bersama Bapak ini film sedih, lucu, apa malah horor?

Saya sendiri memuja novel Sabtu Bersama Bapak karena novel ini adalah satu dari sedikit novel komedi, sebagai penulis komedi kurang laku tentu saya harus banyak berguru dengan kang adit. Namun lebih utama lagi, Sabtu Bersama Bapak ini adalah novel dengan premis mengagumkan dan membuktikan bahwa premis berat bisa dibawakan dengan metodologi komedi.

Jadi, bagaimana filmnya?

Klik untuk membaca review Sabtu Bersama Bapak selengkapnya!

7 Pertanyaan Ajaib Dari Pembaca ariesadhar.com

7 PERTANYAAN AJAIB

Mempersiapkan banyak hal dalam waktu yang semakin ketat seketat cawet sungguh menguras waktu, tenaga, dan terutama dompet. Dampak lainnya? Tentu saja blog ini yang makin hari makin trenyuh jumlah visitornya. Bahkan pada Lebaran silam, jumlahnya sudah di bawah angka psikologis saya. Aduh! Oh, satu lagi, saya dikasih tahu Kakak Farizka bahwa kata Kakak Dita Malesmandi, tulisan saya terlalu serius. Hmmm, mungkin yang dibaca oleh Kak Dita adalah tulisan-tulisan yang buat lomba, yang mana daripada saya ikuti karena butuh hepeng. Heuheu.

Oke, agar tidak terlalu serius, mari kita menyediakan sebuah posting khusus untuk menjawab beberapa pertanyaan yang diketik oleh manusia Indonesia di Google hingga kemudian mereka dengan suramnya kandas di ariesadhar.com. Saya hanya ambil 7 pertanyaan saja, semoga mewakili aspirasi banyak pihak. Tenang, saya tidak akan mendengarkan aspirasi siapapun, hitung-hitung belajar jadi kayak yang di Senayan.

Bakul bakso di Senayan, maksudnya.

1. “kenapa cewe ngelike doang tanpa komen di inbox fb”

Picture1

Sebuah pertanyaan yang perlu penelaahan tingkat Kementerian/Lembaga. Untuk menjawab pertanyaan ini tentu saja kita perlu data yang komprehensif. Jangan-jangan yang dibuat oleh penanya kita di dinding Facebook-nya adalah share dari blog ariesadhar.com, ya wajar kalau begitu. Masih mending dia nge-like. Atau jangan-jangan yang diunggah adalah foto si penanya sedang memamah biak, sungguh sangat wajar untuk di-like saja tanpa dikomentari.

Tenang, saya dulu juga begitu. Bikin status mlipir-mlipir, kali-kali aja gebetan-nan-tak-bisa-digapai itu mahfum. Dia nge-like, sih, tapi yang lain juga nge-like. Lha iyo, wong status FB saja itu dibikin lucu, ngenes, dan sangat like-able. Sejatinya hal semacam ini nggak usah dipertanyakan, karena sudah pasti penanya kita adalah penganut tarekat Cinta Diam-Diam. Jadi, jawaban untuk pertanyaan ini? Gampang. Dia nggak suka sama situ, kak. Dia cuma suka status situ. Fix!

2. “pria 36 tahun kerja blm mantap masih jomblo apa ada cewek yg mau”

Sesungguhnya saya masih menerka ekspektasi penanya kita hingga bisa-bisanya menuliskan hal semacam itu, alias bertanya, di Google. Pun, saya juga heran, kok bisa dia sampai ke ariesadhar.com. Ya, memang hingga usia yang nyaris 30, pemilik ariesadhar.com belum kawin, tapi kan nggak jomblo. Cih!

Picture2

Selengkapnya!

11 Perbandingan Populasi Islandia Dengan Angka-Angka di Indonesia

Islandia, sekarang semua orang sudah pernah mendengar nama itu, padahal sebelumnya tidak. Pencapaian di Euro 2016 bikin mata dunia terbuka, walaupun tayangannya masih saja kalah pamor dibandingkan sinetron Anak Jalanan. Negeri dengan bumi yang bisa dibilang termuda itu bikin terbelalak karena dengan jumlah penduduk yang bahkan lebih sedikit daripada Kota Leicester, bisa menaklukkan Inggris dan melaju ke perempat final Euro 2016 untuk bertemu tuan rumah.

Nah, saya jadi iseng, dengan jumlah penduduk yang menurut worldometers.info hanya 331.796 orang saja, kira-kira setara dengan apa ya jika kita bahwa angka itu ke Indonesia?

Ini dia!

1. Jumlah penduduk Islandia itu tidak ada apa-apanya dengan jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Jawa Barat yang mencapai 445.489 orang.

IslanIndo1

2. Jika ingin mengumpulkan orang untuk bisa sama dengan jumlah penduduk Islandia, cukup panggil seluruh tenaga keperawatan dan tenaga kebidanan yang ada di Indonesia, jumlahnya sudah melebihi penduduk Islandia, kok. karena ada 335.646 orang tenaga keperawatan dan kebidanan di Indonesia.

IslanIndo2

3. Ternyata lagi, jumlah seluruh penduduk Islandia tidak sebanding dengan jumlah pengangguran di Sumatera Utara, yang menurut data BPS pada Agustus 2015 jumlahnya 429.000 orang.

IslanIndo3

4. Nah, akhirnya jumlah penduduk Islandia punya nilai yang melebihi angka di Indonesia. Hal itu untuk perbandingan terhadap jumlah narapidana. Setidak-tidaknya, sih, jumlah penduduk Islandia masih jauh lebih banyak daripada jumlah narapidana di Indonesia yang 138 ribu lebih itu.

IslanIndo5

Selengkapnya!

Suatu Pagi di Danau Toba

Suatu Pagi di-1

Siapapun yang pernah cinta monyet ketika SD pasti pernah mendapat pertanyaan, “danau apa yang paling luas di Indonesia?”

Tentu saja, semua yang pernah SD dan merasakan bahwa PR adalah masalah terbesar di dunia ini akan menjawab dengan tuntas, lugas, dan tanpa tedeng aling-aling bahwa danau yang paling luas di Indonesia itu adalah Danau Toba.

Ya, Danau Toba. Danau yang selalu mengandung pesona bagi saya sendiri sejak lama, meskipun belum pernah sama sekali sampai ke tempat itu. Bagaimana tidak hendak terpesona ketika di pulau tempat saya dilahirkan, Sumatera, tampak begitu jelas ada area berwarna biru dengan pulau di tengah-tengahnya? Belum lagi kalau melihat luasnya yang 1.145 kilometer persegi itu. Angka segitu setara dengan nyaris empat kali lipat dataran Maladewa atau Malta, atau dua kali lipat Singapura. Bayangkan bahwa kita punya tempat yang luas air tergenangnya saja dua kali lipat Singapura, dan saya masih tetap jalan-jalan serta makan-makan ke Singapura #loh

Selengkapnya!

Media Sosial dan Kisah Kecerdasan Jempol

Picture1

Salah satu problema dalam hidup nan kekinian selain antre beli bubur ayam di belakang mbak-mbak yang orderannya custom (nggak pakai kacang, kacangnya dipisah, nggak pakai daun bawang, nggak pakai lama, dll) sejatinya adalah perihal kecerdasan di media sosial. Benda yang 10 tahun silam baru sebatas bahan menggebet dengan mengunduh seluruh foto gebetan dari Friendster dan menjadikannya desktop background, kini telah menjadi begitu menggurita sekaligus menjadi medium bagi banyak orang untuk memperlihatkan kecerdasannya.

Kenapa saya perlu menaruh perhatian tertentu tentang kecerdasan? Sebenarnya sepele, suatu kali saya diberi tahu oleh salah satu awardee beasiswa paling hits di Republik Indonesia perihal status Facebook seorang awardee lain yang kebetulan sama-sama berada di suatu negara di Eropa. Status Facebook itu berkaitan dengan bencinya si awardee lain itu pada Presiden kita, Joko Widodo. Kadang-kadang geli juga, masalah Jokowers, Cebongers, dan kawan-kawan itu tadinya saya pikir hanya perdebatan di dalam negeri. Kiranya saya salah karena bahkan mahasiswa S2 di tanah Eropa asal Indonesia saja ikut-ikutan begitu.

Saya merasa perlu membawa-bawa Presiden Jokowi dalam konteks bermedia sosial. Sepele saja, sebelum Jokowi muncul, seingat saja Facebook itu adem, Twitter itu tenang, apalagi Path, belum dikenal. Begitu Jokowi muncul, media sosial mendadak menjadi dunia nan terbelah. Salah satu yang patut diingat adalah penyebaran berita tentang ibunda Jokowi yang orang Kristen. Ketika sang penyebar dan ternyata adalah seorang raja dikonfirmasi, dia bilang asal informasinya adalah dari internet. Ya, wadah media sosial berada. Salah satu yang juga ramai adalah perihal luasan wilayah banjir yang dibandingkan antara saat Jokowi menjabat dengan sebelumnya. Entah bagaimana media sosial yang tadinya tenang bak kolam renang hotel menjadi penuh gejolak bagaikan Pantai Panjang di Bengkulu yang ombaknya besar-besar.

Selengkapnya!

Waspada! Ini Daftar Air Minum Dalam Kemasan Yang Berbahaya! Sebarkan!

WASPADA

Air mineral, kiranya kita tidak akan sadar bahwa produk yang dalam regulasinya bernama air minum dalam kemasan alias AMDK ini adalah bentuk kapitalisme. Waktu saya muda, yang kira-kira bertepatan dengan Perjanjian Renville, nggak akan kepikiran bahwa air minum yang dibotolin akan menjadi kebutuhan kekinian. Sampai saya cabut dari rumah sebagai anak rantau dalam kesendirian, saya masih minum dari air kran yang direbus. Ketika saya dinner di Cassis Kitchen, saya hampir trenyuh begitu melihat harga air putihnya yang setara dengan ongkos taksi di Bengkulu sesuai Peraturan Menteri Keuangan tentang Standar Biaya Masukan Tahun Anggaran 2016.

Begitulah, dengan harga yang puluhan ribu seliter itu kita bahkan bisa mendapatkan Shell V-Power sekian liter. Bayangkan kala air minum lebih mahal daripada sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak bumi yang telah diolah jadi bensin itu. Ngeri kan?

Selengkapnya!

Mencari Solusi di HAI DJPBN

DJPBN

Di negara yang pintar memutarbalikkan fakta ini, sedang ramai isu rasionalisasi PNS yang berkembang bias dan kagak dikendalikan dengan baik. Begitu beredar di grup WhatsApp, ada yang deg-degan, ada yang bersyukur, ada yang malah berharap PNS-PNS yang pernah menyusahkan mereka untuk menjadi korban rasionalisasi. Ngomong-ngomong, yang berharap itu PNS juga, sih. Rata-rata adalah PNS yang baru menikah dan dipersulit sama Catatan Sipil. Heuheu.

Oke, lepas dulu dari urusan rasionalisasi dan beranjak ke urusan ke-PNS-an. Dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari, secara tiba-tiba makhluk antah berantah bernama auditor yang akan melakukan aksi osak-asik pawuhan. Orang lagi asyik-asyik main voli kerja, eh, ada auditor datang minta data. Sungguh mengganggu, bukan?

Well, menjadi auditor itu pada dasarnya memiliki kesusahannya sendiri. Salah satu yang sering dikeluhkan adalah betapa peraturan di Indonesia ini sedemikian banyak dan sedemikian beragam pula sumbernya. Lebih penting lagi, perubahan paradigma kekinian dari auditor yang bukan lagi underdog watchdog menimbulkan perkara tersendiri. Salah satunya adalah memberi solusi. Sama halnya dengan konsultan cinta, kala menemukan masalah harus jelas rekomendasinya putus, gantung, selingkuh, atau kawin lari. Sekarang adalah nggak mutu ketika auditor hanya bilang ini atau itu salah, tapi nggak jelas pengatasannya gimana.

Selengkapnya!

Bapak Millennial