Cara Paling Sederhana Memahami Material Requirement Planning (MRP)

screenshot_31

Lagi selo ditinggal bini ke Yurop, bikin saya baca-baca lagi blog ini. Rupanya selain orang-orang yang mencari jodoh dan kesasar ke 14 Tanda-Tanda Jodoh, salah satu topik yang ngehits di ariesadhar.com adalah tentang PPIC. Boleh dibilang, posting tentang PPIC itu adalah yang paling interaktif. Bahkan ada juga yang konsul via LINE dan via surel kepada saya tentang PPIC. Ah, senangnya!

Oke, ada baiknya saya melanjutkan postingan tentang PPIC itu dengan aspek-aspek mendetail dari PPIC. Postingan panjang lebar tentang PPIC memang sudah menjelaskan semuanya dengan gamblang tapi tidak mendetail. Begitulah, berdasarkan komentar-komentar yang saya baca dan hasil googling juga, tampak bahwa tulisan-tulisan tentang PPIC itu masih terlalu tinggi alias kurang membumi. Sama persis dengan saya ketika pertama kali belajar MPS dan MRP, sampai baca buku 3 kali juga nggak ngerti. Pahamnya kapan? Pas disuruh bikin MPS betulan dan bubrah kabeh. HUAHUAHUA.

Mari kita mulai dari bagian yang paling saya kuasai, meskipun sebenarnya tidak saya sukai. Ya, Inventory Planning. Pada awal jadi PPIC, pekerjaan saya sepele. Hanya pegang 30-an produk, semuanya impor dan hanya butuh repack. Enak toh? Sebagian repacknya cuma tinggal memberi label. Sebagian memang pakai kotak. Tapi seberapalah itu. Gampang sekali untuk dikelola. Masalah hanya muncul kala kapal yang bawa obat dibajak sama Somalia. Atau kena problema di pelabuhan. Maklum, masuknya kan di Indonesia. HUAHUAHUA (lagi).

Tiba-tiba segalanya berubah. Inventory Planning asli resign, penggantinya resign juga. Penggantinya lagi mendadak hamil, eh, ya nggak apa-apa ding, wong sudah sah. Walhasil, karena saya tidak bisa hamil, sayalah yang didapuk untuk menggantikan posisi Inventory Planning itu.

Bicara Inventory Planning jelas banget akan langsung bicara tentang Material Requirement Planning alias MRP. Dalam beberapa buku, terminologi ini disingkat dengan PKM alias Perencanaan Kebutuhan Material. Suka-sukalah. Urusan istilah saja nggak ada apa-apanya dengan pusingnya mengerjakan MRP.

Sederhananya, MRP adalah proses perencanaan untuk menyediakan material yang dibutuhkan secara tepat waktu dan tepat jumlah, serta kalau bisa tepat harga.

Selengkapnya!

Perjalanan ke Pademangan

Semakin lama, semakin sulit rupanya untuk menjalani misi #KelilingKAJ yang sudah sepertiga jalan itu. Mulai dari kenyataan bahwa hampir semua Gereja terdekat telah disambangi, hingga macam-macam alasan lainnya yang klasik. Jadi pelan-pelan sajalah. Maka, sepulangnya saya dari kegiatan di The Media Hotel & Towers–sekaligus menangkap banyak Bulbasaur–masuklah saya ke sisi lain dari #KelilingKAJ dengan melakukan perjalanan ke Pademangan.

Gereja Katolik di Pademangan adalah Paroki Santo Alfonsus Rodriquez, yang masuk ke Dekenat Utara pada Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dan berlokasi di Jalan Pademangan 2 Gang 7 Nomor 1, Jakarta Utara. Aksesnya bisa lewat Gunung Sahari kemudian masuk ke daerah Pademangan Raya. Sama seperti banyak Gereja lain, seperti misalnya Grogol dan Kemakmuran, Gereja ini berdekatan dengan sekolah Katolik. Sejatinya kalau diurut-urut sejarahnya, cukup banyak yang memiliki kisah yang sama.

Berkembangnya Gereja Pademangan tidak lepas dari dibangunnya jalan dan perumahan di daerah Rajawali Selatan yang tadinya adalah hutan dan rawa, kurang lebih tahun 1950. Persis dalam masa awal kemerdekaan Indonesia. Banyak warga yang berasal dari Flores dan notabene Katolik. Pembinaan agama kala itu diserahkan kepada Paroki Mangga Besar sebagai yang paling dekat.

Tempat perayaan misa perdana adalah sebuah bangunan yang nantinya dijadikan SD Santo Lukas, tepatnya tanggal 15 Agustus 1960. Di Paroki Mangga Besar, area ini adalah Stasi Kalimati. Sebagai bagian dari perjalanan Paroki Pademangan, Pastor R. Bakker, SJ juga menghubungi Yayasan Melania untuk bersama-sama membangun klinik bersalin dan poliklinik.

Selengkapnya, klik di sini!

[Review] Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1

warkop

“Jangan kau ulang-ulang.”

Mari kita mulai review ini dengan quote paling sip versi saya dari karya besutan Anggy Umbara nan paling hits. Saking hits-nya, di Setiabudi XXI, isinya boleh dibilang hanya film ini saja. Keren, sih, sampai-sampai cerita pesawat mendarat di sungai terlewatkan. Seandainya film Indonesia selalu demikian. Heuheu.

Kenapa quote itu yang saya pilih? Tentu saja karena di film ini kita akan menemukan banyak hal yang berulang. Dari apa? Jelas, dari film legendaris Indonesia yang dimainkan oleh Drs. H. Wahyu Sardono (Dono), Drs. Kasino Hadiwibowo (Kasino), dan Drs. H. Indrodjojo Kusumonegoro (Indro). Kita akan menemukan kisah CHIPS, kebodohan klasik ala Warkop DKI, komedi yang terbilang kasar dan sesekali ditunjang komedi menggunakan perempuan seksi. Tentunya dengan aspek kebaruan yang dicoba untuk diangkat.

Bagi penggemar film pasti tahu tiga aktor yang memerankan Dono, Kasino, dan Indro dalam kisah ini. Bukan apa-apa, soalnya cuplikan film ini telah muncul berkali-kali dalam pembuka tayangan bioskop lainnya. Waktu saya nonton Sabtu Bersama Bapak, bahkan trailer itu diputar dua kali. Mungkin biar hapal.

Sejak awal, film ini menggunakan pola lama, terutama memotret keanehan-keanehan ibu kota. Mulai dari orang naik motor sambil bawa kardus, bawa ember, termasuk juga typo-typo kecil di sekitar kita.

Selengkapnya, Klik di Sini!

Mencoba Berdamai Dengan Jakarta

mencobaberdamaidengan

Pagi hari–sama halnya dengan pagi-pagi lain–kala para jomblo masih meringkuk manja di bawah naungan selimut, pukul 7 tepat, saya membuka gembok pagar kontrakan kecil yang saya huni bersama Istri.

Ciye, punya istri. Ciye.

Sekilas memandang sekitar, gedung Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tampak berdiri dengan angkuh. Sementara udara yang tersedia untuk dihirup terasa benar tidak menyuguhkan kesegaran hakiki yang dibutuhkan, hanya cukup untuk bernapas dan melanjutkan siklus oksigen untuk mendukung kinerja mitokondria di dalam sel sana.

Seketika saya terkenang kala pertama kali melihat Jakarta dalam kondisi sadar dan bisa mengingat, medio 1997. Setelah kena tipu bis asal Padang yang dengan janji manis bak playboy akan mengantar hingga Kampung Rambutan namun lantas semena-mena mengoper keluarga saya di sebuah mesjid dekat Pelabuhan Merak, kami akhirnya mendapat tumpangan sebuah bis nan penuh sesak.

Saya terduduk setengah terhimpit di tangga pintu belakang bis. sementara orang-orang lain yang lebih tua bahkan tidak peduli sedikitpun pada anak kecil yang teronggok di sudut mati bis pengap itu. Aroma apapun bercampur baur layaknya toko parfum bermetanol berada di tengah-tengah pasar ikan. Tumplek blek menjadi satu dalam persaudaraan nan erat.

Nyaris tengah malam ketika bis yang entah apa namanya itu melewati Tol Dalam Kota, menyajikan gedung-gedung tinggi dengan gemerlap lampu yang terangnya minta ampun. Saya terpana sepenuhnya, melihat sesuatu yang selama 10 tahun hidup tidak pernah saya saksikan di Bukittinggi. Lha, angkutan umum bernama Ikabe saja berakhir pukul 6 sore. Bagi saya dalam raga nan kecil, hari berakhir pukul 6 sore, kala lampu terbesar yang tampak berasal dari mushala Al-Ikhlas di depan rumah.

Si BG segera saya keluarkan dari parkiran mini di depan pintu kontrakan, sembari melakukan ritual memanaskan mesin dan menanti istri mengunci pintu, saya seketika ingat kali lain saya menginjak Jakarta. Enam tahun sesudah saya terpana dengan gedung tinggi Jakarta pada waktu tengah malam.

Pernah saya tulis juga di blog ini ketika saya ketiban rejeki juara sekian lomba sebuah Kementerian. Saya melaju bersama Kereta Api Taksaka Malam bersama Frater Danang Bramasti, SJ, sekarang sudah Romo dan bertugas di Paroki Kotabaru, Jogja. Saya diajak ke rumah beliau, diajak juga ke rumah para Romo, diajak juga naik bajaj yang kala itu masih oranye semua. Saya menemukan sisi-sisi Jakarta yang berbeda. Gang-gang sempit, jalan kecil, penatnya menumpang bajaj, dan lain-lainnya. Akan tetapi, gegara saya kemudian ikut acara di Hotel Bidakara yang megah sekali itu, maka Jakarta versi realistis itu menjadi pemandangan sekunder untuk disimpan dalam memori, bergabung bersama kenangan kecupan mantan.

Klik untuk membaca selengkapnya!

9 Hal yang Perlu Diketahui Jika Hendak Terbang atau Mendarat di Terminal 3 Ultimate

IMG_20160817_085902 (1)

Salah satu bangunan yang katanya adalah mahakarya anak bangsa akhirnya launching juga, namanya Terminal 3 Ultimate. Perlahan-lahan, Ultimate akan hilang dan hanya berlaku penamaan ‘Terminal 3’. Sama halnya dengan mantan pacar terindah, yang lama kelamaan akan menjadi sekadar ‘mantan pacar’ belaka. Harapan-harapan tinggi diberikan sepanjang proses pembangunan hingga tahapan nyaris diresmikan sebelum ditahan oleh Pak Ignasius Jonan. Apa daya, Pak Jonan lengser yang digantikan secara sah dan meyakinkan oleh Pak Budi Karya.

Saya berkesempatan untuk terbang melalui Terminal 3 Ultimate ini setelah jauh-jauh hari membeli tiket pesawat Garuda Indonesia tujuan Padang. Ada sisi ketika saya takjub dengan bandara baru ini, namun ada banyak sisi pula ketika saya hanya mampu geleng-geleng kepala. Maka, posting ini didedikasikan untuk orang-orang yang akan terbang dari dan melalui Terminal 3 Ultimate. Agar tidak kecele,  perhatikanlah beberapa hal berikut.

1. Akses Masuk Lebih dari 1

Begitu sampai di pelataran Keberangkatan Terminal 3 Ultimate kita akan disajikan lebih dari 1 pintu. Tiada perlu bingung, jika ada pintu masuk saja. Toh sampai saat tulisan ini diturunkan, satu-satunya maskapai yang menghuni Terminal 3 Ultimate adalah Garuda Indonesia untuk penerbangan lokal. Jangan khawatir karena pintu-pintu itu akan merujuk pada ruangan check-in yang sama, sama halnya dengan pintu-pintu hati yang diketuk akan bermuara pada hal yang sama: penolakan. Rasain!

2. Bagasi Dengan Ukuran Tidak Biasa Diperlakukan Berbeda

IMG_20160817_093127

Ini salah satu perbedaan krusial antara Terminal 3 Ultimate dengan terminal lain di Bandara Soekarno-Hatta. Bagasi-bagasi dengan ukuran yang tidak biasa, seperti kekecilan, kepipihan, kelamaan jomblo, atau sejenisnya hanya akan diberi label di counter check-in. Sesudah itu, penumpang akan diarahkan untuk mengantarkan bagasinya yang berukuran tidak biasa itu ke conveyor khusus dengan kode OOG. Patut dicatat bahwa penandaan OOG dilakukan menggunakan sebuah bahan yang sangat luar biasa, namanya kertas HVS.

Klik untuk membaca selengkapnya!

Jalan-Jalan di Pekanbaru? Ini Dia Pilihan Lokasi Untuk Menginap!

Sebagai manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah, jalan-jalan tentunya adalah panggilan jiwa nan tiada perlu dibantahkan. Baik itu jalan-jalan dalam rangka beneran jalan-jalan maupun jalan-jalan dalam rangka perjalan-(jalan)-an dinas.

Nah, salah satu kota yang biasa dijadikan objek jalan-jalan adalah Pekanbaru. Kota ini adalah ibukota dari Provinsi Riau. Dahulu bahkan punya jangkauan begitu luas sebelum lantas Provinsi Kepulauan Riau berdiri dengan Tanjung Pinang sebagai ibukotanya. Namanya juga ibukota, sudah barang tentu Pekanbaru merupakan gerbang masuk ke Riau secara umum, termasuk juga jadi pilihan jalan-jalan hingga perjalan-(jalan)-an dinas ala PNS.

Jalan Jenderal Sudirman

Sama halnya dengan kota-kota lain dI Indonesia, nama Jenderal Sudirman kemudian memegang peranan nan sangat penting dalam urusan jalan. Hampir di setiap kota, nama Jenderal Sudirman adalah jalan protokol, termasuk di Pekanbaru.

Di satu jalan ini saja setidak-tidaknya kita akan menemukan Hotel Pangeran Pekanbaru, The Premiere Hotel Pekanbaru, Grand Central Hotel Pekanbaru, Grand Tjokro Pekanbaru, Furaya Hotel, hingga Drego Hotel.

Aneka hotel dengan kelas yang berbeda-beda dapat diakses dengan mudah melalui jalur ini. Tentunya, bagi yang hendak berdinas di Pekanbaru maupun hendak main-main, pikirkan pula jarak dengan tempat wisata/tempat kerja sebelum kemudian memilih hotel sebagai tempat menginap. Jangankan gegara terkesima Jalan Sudirman malah kemudian jauh dan agak sulit diakses daritempat yang kita tuju.

Jalan Soekarno-Hatta

Jalanan yang mengambil nama proklamator ini juga menyediakan opsi beberapa hotel untuk disinggahi dan diinapi. Setidak-tidaknya kita akan menemukan Grand Suka Hotel maupun Hotel Benteng hingga Swiss-Bel Inn yang berada di Mall SKA Pekanbaru.

Dari sisi akses, terutama dengan Bandara Sultan Syarif Kasim di Pekanbaru, Jalan Soekarno Hatta tiada jauh berbeda dengan Jalan Sudirman, hanya saja dari sisi ketersediaan hotel terbilang lebih sedikit, walau begitu

Jalan Riau

Jikalau berada di Riau tentu baiklah kiranya jika kita melewati Jalan Riau, yang bukan berada di Bandung. Lokasinya bedekatan dengan Sungai Siak, namun juga menyediakan beberapa hotel seperti Novotel, Tangram, dan Hotel Mutiara Merdeka.

Jalan Riau sendiri terbilang lebih jauh dari arah bandara, tentu jika kita bandingkan dengan dua jalan yang telah disebut terlebih dahulu. Walau begitu, daerah yang berlokasi dekat dengan Sungai Siak tentu menjadi hal menarik untuk dieksplorasi.

Kira-kira demikian beberapa masukan mengenai pemilihan lokasi hotel jikalau hendak jalan-jalan aneka keperluan di Pekanbaru dan sekitarnya. Semoga pada berkenan ya, Kak!

Surat Terbuka Untuk Metro TV

Surat Terbuka

Permisi, Bapak-Ibu Redaksi Metro TV di tempat masing-masing, apa kabar? Iklan lancar? Saya doakan semoga baik-baik saja. Bukan apa-apa, sih. Bapak saya dan calon Bapak mertua saya–yang keduanya adalah pensiunan PNS–sama-sama menggemari siaran Metro TV. Belum lagi Ibu Kos saya entah bagaimana kisahnya membuat pengaturan antena hingga menghasilkan channel hanya Metro TV dan TV One yang jernih. Kan saya jadi nggak bisa nonton Mulyadi si OK-Jek dengan bahagia, apalagi nonton Uttaran. Pedih, Pak. Perih, Bu. Sama pedih dan perihnya ketika Bapak saya yang setiap pagi nonton Metro TV, menelepon setiap saat untuk urun komentar, namun selalu berujung kegagalan.

Jadi begini, Bapak-Ibu Redaksi Metro TV nan budiman. Belakangan ini kok tetiba marak muncul gambar hasil screenshot dari tayangan Metro TV yang dengan pedih bin perih menyebut  bahwa ‘Produsen Kebanyakan Lulusan Apoteker’ untuk judul ‘Fakta Vaksin Palsu’. Hmmm. Hmmm. Hmmm. Apalagi begitu saya lihat videonya, ketika infografis itu ditayangkan, sama sekali tidak sedang membahas produksi alamat vaksin palsu sama sekali, wong lagi bahas efek yang diduga vaksin palsu.

Mungkin begini, jika judulnya adalah ‘Fakta Vaksin‘, maka keterangannya cocok dengan ‘Produsen Kebanyakan Lulusan Apoteker’. Sepakat banget saya, karena namanya perusahaan farmasi yang baik dan benar sudah pasti isinya kebanyakan adalah lulusan apoteker. Kalaulah ada lulusan Akuntansi itu untuk berantem dengan lulusan apoteker perihal CoGS.

Untitled design

Masalahnya, judulnya adalah ‘Fakta Vaksin Palsu’ dan keterangannya adalah ‘Produsen Kebanyakan Lulusan Apoteker’. Nah, itu kan masalah, ya Bapak-Ibu. Masalah banget soalnya tersangka yang mengemuka di media adalah sepasang suami istri nan kaya raya. Sementara, Bapak-Ibu Redaksi mungkin perlu cek lagi di dunia nan fana ini, berapa banyak sih apoteker yang kaya? Lha, yang digaji kecil, kontrak sekian tahun–kalau resign bayar pinalti, ada juga lho. Kadang juga bonus ijazah ditahan. Lagi-lagi saya perlu bilang, ini pedih dan perih loh Bapak-Ibu.

FAKTA VAKSIN

Saya perlu sungguh bertanya kepada Bapak-Ibu Redaksi, sekalian saya mau tanya sama sumber datanya sekalian (tertulis di gambar: MRC), yang dimaksud ‘kebanyakan’ itu apa ya? Soalnya seingat saya yang walaupun apoteker tapi pernah belajar Bahasa Indonesia ini, ‘kebanyakan’ itu punya definisi setidak-tidaknya lima:

  1. perihal banyak; banyaknya; jumlahnya
  2. bagian yang terbanyak; sebagian besar
  3. biasa
  4. biasanya; pada umumnya
  5. terlampau banyak

Jadi, apakah yang dimaksud ‘kebanyakan’ itu adalah ‘sebagian besar apoteker’ atau ‘pada umumnya apoteker’ atau malah ‘terlampau banyak apoteker’? Ini penting, lho, Bapak-Ibu, soalnya seperti saya bilang tadi, tersangka produsen yang selama ini diungkap itu bukan apoteker. Kalau dibilang ‘kebanyakan’ itu berapa? Apakah dari–katakanlah–10 tersangka, maka 7 adalah apoteker, sesuai definisi ‘bagian yang terbanyak’? Atau berapa? Tolong dong saya diberi penjelasan nan berfaedah. Soalnya setahu saya belum ada tersangka produsen yang apoteker. Saya jadi tambah bingung bagaimana yang belum ada itu bisa disebut kebanyakan. Soalnya ini menyangkut gelar yang tersangkut di belakang nama saya. Kalau disebut ‘kebanyakan’ kan saya jadi deg-degan, jangan-jangan saya juga produsen, padahal saya memproduksi buku saja nggak laku.

Bukan kapasitas saya untuk mempetisi apalagi menggugat Bapak-Ibu Redaksi untuk pemberitaan ini. Maklum, secara registrasi periode STRA saya sudah berakhir, pun secara kompetensi, sertifikat saya sudah kedaluwarsa. Saya bukanlah apoteker yang layak dan pantas untuk menggugat Bapak-Ibu Redaksi karena saya hanyalah manusia yang pernah mengucapkan Sumpah/Janji Apoteker 7 tahun silam sehingga kemudian gelar itu melekat mesra dengan nama saya. Kalaulah dalam dunia kefarmasian dikenal istilah APA, maka saya bisa disebut sebagai APA, namun itu terbatas pada kepanjangan Apoteker Pendamping (Hidup) Apoteker. Begitulah, saya hanya mampu menulis surat terbuka ini, di blog saya sendiri–yang sepi dan minim job review ini, toh yang baca juga cuma sedikit. Semua ini demi Bapak dan calon Bapak mertua saya yang punya anak seorang apoteker, dan dengan luar biasanya disebut sebagai ‘produsen’ untuk keterangan ‘vaksin palsu’. Salah-salah Bapak saya menyesal berhutang banyak di Credit Union hanya untuk menempelkan gelar apoteker dalam nama saya. Kan ngeri, Bapak-Ibu, tolong dibayangkan, seperti Spongebob meminta kita untuk berimajinasi.

hqdefault

Bahwa adalah kekebasan, eh, kebebasan Bapak-Ibu Redaksi untuk memberitakan apapun tapi mbok ya diberi keterangan yang jelas. Memberitakan AnwaR dan pelariannya saya jelas dan runtut, masak memberitakan ApotekeR ditulis ‘kebanyakan’ yang jelas-jelas menurut kamus maknanya sampai sejumlah jari tangan kiri. Itu hanya untuk konten yang sama-sama diawali huruf A dan diakhiri huruf R, lho. Walaupun jelas sekali beda lelaki pemerkosa dan pembunuh dengan profesi bersahaja.

Intinya, sih, sederhana sekali, saya hanya minta tolong diberikan penjelasan nan segamblang-gamblangnya tentang klaim nan mengkhawatirkan itu. Semata-mata supaya rakyat nggak hilang arah dan gagal paham pada profesi apoteker. Hidup ini sudah sulit, Bapak-Ibu, bahkan lebih sulit daripada mencari parkiran pada Sabtu siang di IKEA maupun merebut remote dari Emak sewaktu nonton D’Terong, tolonglah jangan dipersulit dengan tayangan yang bikin orang gagal paham pada gawe kami-kami ini. Berikanlah penjelasan singkat saja perihal maksud tayangan itu tadi. Daripada di masyarakat jadi terdapat kebanyakan ngalor-ngidul dan kebanyakan mispersepsi karena kebanyakan nonton kebanyakan berita di Metro TV.

Demikian saja, Bapak-Ibu Redaksi. Salam dari Bapak saya, dan tolonglah sekali-kali kalau Bapak saya nelpon itu mbok diangkat.

Tabik,
Penggemar Kick Andy dan Metro Sports

Daftar Bioskop Murah di Jakarta

Hidup ini adalah pencarian, termasuk juga mencari tempat menyaksikan film-film terbarukan kekinian dengan harga yang relevan dengan kantong. Dan satu dari beberapa keuntungan–disamping banyak kesesakan–hidup di Jakarta adalah banyaknya bioskop yang beredar di seantero Jakarta. Ini Jakarta saja, lho, ya. Saya belum membincang tentang Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Nah, berdasarkan pengalaman dan penelusuran dari 3 website penyedia jasa layar bioskop di Jakarta, pada akhirnya saya menemukan juga beberapa tempat untuk kita bisa menyaksikan film-film terbaru dengan harga maksimal Rp30.000 pada hari kerja (Senin s/d Kamis). Untuk hari Jumat dan libur nanti saya update pada postingan terpisah.

Harga paling murah yang bisa digapai di Jakarta adalah Rp25.000. Jadi dengan harga pada kisaran Rp25.000 sampai Rp30.000 kita dapat menyaksikan film di bioskop-bioskop yang tertera dalam infografis berikut ini:

BioskopRevisi

Tempat murah menurut infografis tersebut memang lebih banyak tersedia di daerah Jakarta Selatan. Tapi toh di Jakarta ini lintas batas, apalagi sekitar pusat dan selatan serta timur itu bisa digapai dengan mudah via ojek online.

Jadi, sila dipilih tempat-tempat yang relevan, disesuaikan dengan harga makanan karena tentunya tiada nonton tanpa makan sebelum/sesudahnya. Seperti contoh, saya di Setiabudi One, harga memang murah, tapi harga makanannya cenderung lebih mahal daripada Arion.

Kapan nonton?

Review: Sabtu Bersama Bapak

SAN MARINO

Begitu mengetahui bahwa Sabtu Bersama Bapak akan difilmkan, sudah barang tentu judul itu segera masuk list film yang harus saya tonton. Bukan apa-apa, sampai saat ini Sabtu Bersama Bapak adalah salah satu novel terbaik versi saya. Namun tentu saja, namanya juga film, walaupun naskahnya ditulis sendiri sama Kang Adhitya Mulya, kita-kita para pemuja novel Sabtu Bersama Bapak harus menjaga ekspektasi. Tidak sedikit orang yang justru ogah nonton karena novelnya terlalu bagus.

Ngomong-ngomong, pada prinsipnya untuk menikmati Sabtu Bersama Bapak adalah lebih asyik jika baca novelnya dulu. Soalnya, jika tidak, lantas akan muncul perdebatan sebenarnya Sabtu Bersama Bapak ini film sedih, lucu, apa malah horor?

Saya sendiri memuja novel Sabtu Bersama Bapak karena novel ini adalah satu dari sedikit novel komedi, sebagai penulis komedi kurang laku tentu saya harus banyak berguru dengan kang adit. Namun lebih utama lagi, Sabtu Bersama Bapak ini adalah novel dengan premis mengagumkan dan membuktikan bahwa premis berat bisa dibawakan dengan metodologi komedi.

Jadi, bagaimana filmnya?

Klik untuk membaca review Sabtu Bersama Bapak selengkapnya!

Bapak Millennial