Jadi ceritanya, sepulang dari dinas di Surabaya, mamanya Isto mengajak main. Mainnya lengkap sama Eyang-eyangnya Isto plus Om-nya juga. Supaya ngehits, kami main ke Jakarta Aquarium. Alasannya, tentu saja ingin mengedukasi bayi yang (kala itu) belum setahun terhadap laut. Siapa tahu jadi lebih mencintai laut. Mengingat laut adalah bagian dari tanah air. Tsah.
Nah, sudah cukup banyak review tentang Jakarta Aquarium, baik di blog maupun di Instagram. Untuk itu, saya nggak mau ngereview yang biasa saja. Jadi, saya mau menyimpulkan kunjungan ke Jakarta Aquarium tersebut dalam TUJUH FAKTA MENGEJUTKAN DAN MENCENGANGKAN TENTANG JAKARTA AQUARIUM. Jangan lupa, NOMOR ENAM BIKIN MELONGO!1!11!
1. Memindahkan Laut ke Mal
Pertama-tama, Jakarta Aquarium ini bukan tipu-tipu. Benar-benar berupa akuarium dan benar-benar letaknya di tengah kota Jakarta, tepatnya di Mal Neo Soho dengan akses masuk di Lower Ground. Artinya, itu ikan-ikan hidup di dalam mal. Sepanjang waktu! Ikan-ikan (dan hewan-hewan lainnya) sungguh lebih milenial daripada para milenial yang nge-mall.
Jadi kalau lagi pertemuan piranha, maka piranha dari Jakarta Aquarium bisa sombong sama piranha dari Sungai Amazon. “Gue sih tinggalnya di mal. Kawasan premium. Emang situ, tinggal di hutan?”
Yiha!
Suasana laut, termasuk juga penataan cahayanya sangat dipikirkan. Jadi, kira-kira ya serupa dengan di bawah laut. Makanya Jakarta Aquarium ini bukan berupa ruangan terang benderang belaka, tapi remang-remang sebagaimana di bawah laut situ. Sudah jelas juga suhunya diatur sedemikian rupa. AC-nya juga. Dan dengan demikian, seluruh kegiatan itu menyebabkan fakta kedua! Continue reading 7 Fakta Tentang Jakarta Aquarium, Nomor 6 Bikin Kayang!→
Fantasy Premier League 2018/2019 telah memainkan laga perdananya. Liverpool langsung jadi pemuncak klasemen pasca kemenangan 4-0 atas West Ham United baru asuhan Manuel Pellegrini. Mungkin kelamaan melatih di Tiongkok jadi standar Pellegrini agak turun.
Nah, pada GW1 ini kenaikan harga sudah terjadi. Seperti bitcoin, kenaikan harga di FPL memang ditentukan oleh supply and demand.
Hingga tulisan ini dibuat, ada 7 pemain yang harganya sudah naik 0.1 dengan kemungkinan 1 atau 2 pemain lagi akan naik harga juga mengingat jumlah transfernya tidak kalah besar. Berikut para pemain tersebut:
Ruben Neves
Ditransfer lebih dari 200 ribu tim pasca GW1 berakhir. Pengambil bola mati Wolverhampton Wanderers ini memang sudah jadi bintang sejak awal, namun manajer pada gamang karena ada juga Jota di Wolves. Kini, dengan harga murah meriah, 5.1, Neves telah dimiliki nyaris seperlima manajer. Masih bisalah jadi pembeda.
joe.co.uk
Jadwal Neves terbilang menarik karena akan menghadapi Leicester City yang baru borong bek tengah, kemudian Manchester City, dan lantas West Ham. Tricky, tapi potensi poinnya masih besar.
Aaron Wan-Bissaka
Sudahlah jadi pemain termurah, poinnya mantap pula. Sesudah mengumpulkan 15 poin dari 627 menit bermain musim silam, Wan-Bissaka menjelma jadi pilihan handal Roy Hodgson musim ini. Harganya sudah 4.1 dan sudah dimiliki oleh nyaris seperlima (juga) manajer di FPL.
Twitter
Pekan depan, jadwalnya sulit karena ketemu Liverpool. Namun selanjutnya, Crystal Palace bersua Watford dan Southampton sehingga peluang poinnya lumayan.
Benjamin Mendy
Pemain yang main sebentar di Liga Inggris tapi terpanggil di Piala Dunia 2018 dan jadi juara meski cuma main sekali ini terbilang telah pulih. Posisinya di sisi kiri bisa dikatakan sulit digantikan lagi jika dia fit. Paling hanya Danilo yang kiri-kanan, atau Fabian Delph.
goal.com
Terbukti, Mendy bikin 2 assist pada laga lawan Arsenal sehingga poinnya 15. Selisih 5 poin saja dibandingkan 20 poinnya musim lalu yang diperoleh dari 360 menit permainan. Dengan 13,7% kepemilikan, Mendy bisa jadi pendulang poin ciamik karena City akan berhadapan dengan Huddersfield, Wolves, dan Newcastle dalam 3 laga ke depan.
Luke Shaw
Angkat nama di pekan awal dan mendulang 11 poin. Shaw kini dimiliki 8,1 persen manajer dan ditransfer nyaris 150 ribu kali. Posisi kiri di awal musim ini boleh jadi milik Shaw sampai dia tampil jelek.
Daily Express
Dalam 3 pekan ke depan Manchester United akan bersua Brighton Hove and Albion, Tottenham Hotspur, dan Burnley. Terutama lawan Brighton, poin besar jadi jaminan.
Paul Pogba
TEAMTalk
Pulang dari Piala Dunia 2018 dan jadi pencetak gol perdana Premier League. Pada saat yang sama Kylian Mbappe memulai Ligue 1 dengan kaosan dan celana training. Pogba memang bikin gol tapi lewat penalti. Dengan harga 8.1 sekarang, Pogba mungkin bisa jadi bahaya, atau seperti yang sudah-sudah: begitu dibeli, kagak ngegolin.
Richarlison
Musim lalu, pemain termahal Everton ini bikin 5 gol dan 8 assist di Watford. Dengan harga yang keterlaluan karena unda-undi dengan harga seorang Zinedine Zidane, nyatanya Richarlison lumayan juga. Kini dia sudah dimiliki lebih dari 20 persen manajer dengan harga dasar 6.5 yang sudah naik jadi 6.6.
Football365
Richarlison akan bersama Everton bersua Southampton, Bournemouth, dan Huddersfield. Peluang poin banget. Sayangnya, statusnya kuning karena cedera, meski dengan 75% kesempatan bermain.
Sadio Mane
Kapten Senegal ini punya harga dasar 9.5 tapi tidak mengurangi keinginan manajer membelinya. Dua gol dalam 81 menit melawan West Ham bikin dia diserbu 137 ribu kali.
LiverpoolFC
Mane ini bikin perkara karena bikin bigung antara Mo Salah atau Roberto Firmino. Dua gol ini saja yang bikin Mane laku pada pekan perdana.
Sesudah itu masih ada peluang naik harga dari Roberto Pereyra dengan 2 gol dan Jose Holebas dengan 2 assist, serta Jorginho dengan 1 gol. Kisaran pembelian mereka sekitar 100 ribu.
Fantasy Premier League 2018/2019 dimulai! Di tahun politik ini, ariesadhar.com akan menyelipkan beberapa postingan tentang permainan yang mulai digandrungi di seluruh dunia ini.
Mengingat sudah banyak tulisan sejenis, maka saya mencoba membahas tentang para pemain dengan harga 4.0 alias harga termurah yang dipatok di FPL. Nominal ini diperlukan karena FPL masih setia membatasi ongkos satu tim hanya 100.0 saja, sementara Mohamed Salah saja harganya sudah kayak telur pasca lebaran: inflasi gila-gilaan.
Well, hanya ada 20 pemain dari daftar awal, yang punya nilai 4.0. Lantas, siapa yang sebaiknya dibeli?
Aaron Wan-Bissaka
Namanya padahal menyiratkan keraguan karena malah nanya “bisakah?”, akan tetapi nama ini cukup pantas dibeli karena telah berhasil mendapatkan tempat di Crystal Palace selama pra musim. Disebutkan oleh premierleague.com bahwa bos Palace, Roy Hodgson menempatkan Wan-Bissaka alih-alih Joel Ward untuk posisi bek kanan. Lagipula, musim lalu, Wan-Bissaka juga sudah mulai mentas dalam 7 pertandingan.
Premier League
Terlebih, yang dihadapi pertama kali adalah Fulham. Tim London ini memang belanja gila-gilaan dengan jadi nomor 4 terboros, tetapi justru itu bikin beli padu. Sebuah celah yang bagus untuk meraih kemenangan.
Marteen Stekelenburg
talkSPORT
Musim lalu, kiper Belanda di final Piala Dunia 2010 ini memang tidak mentas sama sekali. Poin FPL-nya ndok alias nol. Hal itu tentu juga dipengaruhi buruknya performa tim asuhan Ronald Koeman pasca kebanyakan transfer.
Kini, di bawah asuhan Marco Silva, Stekelenburg punya peluang besar untuk jadi starter di awal meski harganya hanya 4.0. Hal itu tentu disebabkan oleh baru kembalinya Jordan Pickford ke dalam tim Everton pasca liburan ekstra usai Piala Dunia 2018 ketika Inggris mendapatkan posisi keempat.
Lumayan, untuk 1-2 pekan awal ada kemungkinan starter. Selain itu, harganya juga memang paling miring. Kombinasi yang pas.
Markus Suttner
Sportskeeda
Bek yang diangkut dari Liga Jerman musim lalu ini juga punya harga 4.0. Persaingan di lini belakang Brighton and Hove Albion memang semakin ketat musim ini, terlebih Brighton mengangkut Bernardo dan juga Martin Montoya. Walau demikian, Suttner bisa menjadi opsi menarik di awal musim. Kebetulan, Suttner juga membawa Brighton meraih kemenangan dalam pra musim kala melawan FC Nantes, beberapa hari yang lalu.
Sudah, tiga pemain saja. Yang satu lagi, nggak usah yang murah-murah. Dari tiga pemain ini saya kita sudah dapat cukup banyak selisih yang bisa dipakai untuk membeli Eden Hazard atau Mo Salah. Mayan.
Menjelang arus mudik dimulai, PT. Kereta Api Indonesia (KAI) meluncurkan sebuah gerbong mewah yang dikenal dengan kereta sleeper. Banyak rakyat jelata yang sekadar kagum pada liputan televisi maupun media mainstream, soalnya harganya memang tinggi, sebagaimana biaya hidup keluarga kalau anak di daycare.
Sebelumnya, sejak Maret 2018, PT. KAI telah menelurkan varian baru dalam layanannya. Sebuah gerbong dengan kapasitas hanya 30 orang, seat yang lega—tidak seperti hati oposisi yang kalahan, hiburan yang, enggg, yang penting ada hiburan. Seluruh layanan itu berada di kelas Priority, dengan harga dua kali lipat kelas eksekutif.
Sebagai rakyat jelata yang mendapat Tunjangan Hari Raya (THR), sudah tentu saya ingin mengembalikan uang yang saya terima untuk memperkuat negara. Salah satu bentuk kontribusi yang bisa saya lakukan adalah dengan menggunakan produk BUMN. Supaya fix masuk ke negara, maka saya gunakan layanan satu-satunya BUMN yang memonopoli jalur rel di Indonesia, PT. KAI. Supaya sumbangannya banyak, ya saya pilih harga yang paling mahal dong. Nah, karena kereta sleeper yang hits itu belum tersedia untuk rute mudik ke rumah Eyangnya Isto, jadi saya ambil kelas Priority.
Soal kelas-kelas di kancah perkeretaapian itu sebenarnya nisbi belaka kok. Nyatanya, untuk KA Argo Parahyangan, rangkaian ekonomi, eksekutif, hingga Priority jadi satu rangkaian. Semuanya berangkat pada waktu yang sama dan sampai pada waktu yang sama. Pemandangan ciamik sepanjang Cimahi-Purwakarta dan sebaliknya juga sama. Hanya pegal kaki yang berbeda. Jadi ini bukan soal waktu yang diutamakan, tetapi pelayanan.
Gerbong Priority ini hanya ada 1 dalam rangkaian KA Argo Parahyangan. Letaknya di ujung pula. Secara prinsip benar, sih, bahwa gerbong Priority ini privat. Nggak boleh ada orang lewat kecuali penumpang yang punya tiket. Hanya saja, menjadi masalah ketika naiknya dari Stasiun Cimahi karena peron beratapnya tidak panjang. Masak sudah beli tiket mahal-mahal harus kepanasan di peron? Saya, misalnya, naik dari tengah rangkaian, tepatnya gerbong ekonomi terakhir, melewati restorasi, lanjut lewat 4 gerbong eksekutif, barulah sampai ke Priority. Dalam penghayatan, ini ibarat kehidupan: bersusah-susah dahulu, Priority kemudian.
Suasana luks di gerbong Priority sudah tampak dari bordes. Sudah berkarpet dan dindingnya penuh ornamen kayu. Mungkin karpetnya juga berperedam sehingga kebisingan khas bordes juga kurang. Makanya, kalau ada yang berisik-berisik—baik cangkem maupun tweetnya—Itu mbok ya diberi peredam biar tenang.
Begitu masuk, saya langsung merasakan tatapan heran dan takjub penumpang lain. Mungkin merasa kagum ada orang bermuka susah, pakai kaos ‘I Hate Mojok’, bisa beli tiket kelas Priority. Beuh, mereka mana tahu kalau tiket itu saya cicil melalui skema 0% selama 12 bulan melalui Tokopedia. Artinya, saya bayar 600 ribu, cicil 50 ribu sebulan, itu juga sudah dapat cashback 60 ribu yang sudah dipakai untuk membeli popok. Terima kasih, promo!
Bangku di kelas ini sungguh lapang, jelas berbeda dengan kelas ekonomi yang terbilang sempit seperti himpitan ekonomi. Bangku itu juga ditunjang dengan on-board entertainment berupa layar monitor di masing-masing seat. Hiburannya memang baru sekadar film dan audio. Ada Wi-Fi, tapi begitu dicoba kurang memuaskan juga.
Pada bagian belakang gerbong—kalau dari Bandung—ada minibar yang menyediakan free kopi, teh, dan makanan ringan. Free? Wong mbayar dua kali lipat kok free. Minibar ini sekaligus bisa menjadi tempat PDKT, lobi politik, hingga pembahasan makar kalau memang bernyali. Minibar ini juga menjadi penanda penumpang memang rakyat yang kaya atau sok kaya. Yang sok kaya, melihat kopi dan gula sachet bertebaran bisa dipastikan akan ngembat beberapa buah untuk bekal di rumah nanti. Yang kaya beneran, bahkan ke minibar saja tidak. Yang jelata kayak saya, cukup minum 3 gelas kopi selama 3 jam perjalanan. Lumayan, gratis dan tetap jujur.
Penumpang juga berhak atas sekotak makanan ringan yang terdiri dari roti basah dan sebotol air mineral. Rotinya juga nggak sembarangan: merk terkemuka, bukan pendukung penista agama, dan jumlahnya tiga biji pula. Rakyat jelata pasti senang mendapatkan jatah seperti ini.
Untuk barang, bisa ditaruh di bagasi atas, sebagaimana naik kereta api pada umumnya, hanya saja desainnya pakai pintu sehingga cenderung lebih aman, tapi lebih sempit. Akan sulit untuk membawa benda-benda seperti kulkas, ayam jago, brankas, hingga tanah lima karung jika menggunakan layanan di Priority.
Satu hal yang pasti, dengan adanya gerbong Priority ini, PT. KAI sukses mengambil ceruk lain penumpang. Salah satunya adalah penumpang kepepet. Dulu, saya pernah harus ke Jogja secara dadakan. Tiket pesawat sudah habis semua, kecuali kelas bisnis. Karena memang kudu ke Jogja, terpaksa tiket yang harganya sekali gaji itu saya ambil. Ceruk rakyat kepepet semacam ini pasti selalu ada, selain ceruk rakyat yang kebetulan tajir dan selalu suka kemevvahan.
Untuk hal ini, PT. KAI telah sukses menjadi perusahaan yang cerdas dalam memberikan faedah untuk rakyat dan negeri. Jelas lebih berfaedah daripada orang-orang yang dibayar pakai uang negara tapi kerjanya nyinyir belaka.
Pada saat liburan, biasanya kita menginginkan beberapa fasilitas yang bisa memenuhi kebutuhan dan kenyamanan. Termasuk tiket promo Batik Air murah ke tujuan liburan. Demikian pula halnya jika kita liburan bersama keluarga. Yang jelas, kenyamanan harus diprioritaskan jika liburan bersama keluarga. Lain lagi jika liburan sendirian atau liburan dengan teman-teman. Lebih lain lagi kalau perjalanan dinas pakai SPPD. Pokoknya lain.
Liburan bersama teman-teman biasanya akan lebih mudah untuk adanya penyesuaian dengan kondisi yang ada, berbeda dengan liburan bersama keluarga karena harus lebih memprioritaskan dan mementingkan kenyamanan keluarga. Apalagi kalau membawa anak-anak yang pada dasarnya mudah rewel dan juga mudah bosan dengan kondisi yang monoton pada saat liburan.
Dengan kondisi demikian, salah satu hal yang bisa disiasati adalah dengan memilih hotel yang sesuai dengan kebutuhan kita saat liburan. Beruntung jika ada promo hotel Bali di Reservasi yang akan menghemat bujet liburan selama berada di pulau Dewata, Bali, seperti halnya Luna Stevens pada gambar di atas, yang liburan ke Ubud bersama Sandy Walsh, kekasihnya.
Bandingkan dan Pilih yang Sesuai Kebutuhan
Untuk mendapatkan promo hotel Bali di Reservasi, bisa berdasarkan harga ataupun fasilitas yang paling baik. Jika pencarian didasarkan pada harga hotel paling murah kamu akan mendapatkan daftar hotel murah di Bali yang bisa kamu pilih (YAIYALAH!).
Ketika memilih hotel murah di Bali juga jangan terpaku pada harganya yang murah saja, tetapi juga disesuaikan dengan kebutuhan. Terutama jika kita membawa keluarga, baik anak-anak atau orang tua, atau keluarga lain yang lebih banyak daripada biasanya–misal keluarga tetangga. Jika pun sangat sulit untuk mendapatkan hotel murah di Bali untuk keluarga, tentu tidak ada salahnya mengeluarkan biaya lebih mahal sedikit daripada tidak bisa mendapatkan kenyamanan untuk keluarga tercinta. Atau, nggg, nggak usah liburan sekalian.
Sesuaikan Dengan Dana yang Ada
Jika sudah mendapatkan tiket promo Batik Air ke Bali, saatnya mencari promo hotel murah di Bali melalui beberapa online travel agent ataupun melalui hotel secara langsung yang menawarkan promo liburan ataupun promo yang berkaitan dengan hari ulang tahun mereka masing-masing. Atau juga, nggg, Government Rate. YIHA!
Salah satu caranya adalah dengan mengikuti beberapa akun media sosial online travel agent yang terpercaya, atau mengikuti beberapa grup pemburu tiket murah atau pemburu diskon hotel. Grup macam ini biasanya selalu update memberikan informasi-informasi tentang diskon hotel ataupun promo tiket murah bagi para traveler yang memang sedang membutuhkan liburan dengan dana yang minimal–a.k.a kere–namun tanpa mengurangi kenyamanan. Apalagi harus memikirkan dana lain seperti menyiapkan bujet untuk tiket promo Batik Air ke tempat tujuan.
Cari Lokasi yang Strategis
Lokasi strategis memang kerap kali menjadi salah satu dilema ketika memilih hotel karena rata-rata murah tapi cukup jauh dari stasiun atau terminal atau malah tempat tujuan yang mengakibatkan kita harus berjalan kaki lebih jauh. Eh, ini zaman ojek online, ding. Apalagi di Bali banyak.
Tapi anggaplah kita jalan kaki beneran, kita bisa berpikir positif. Berjalan kaki lebih banyak itu lebih sehat. Cara seperti ini mungkin memang kurang bisa diterima oleh masyarakat Indonesia yang lagi liburan tapi kehidupan kaum urban luar negeri malah lebih banyak berjalan kaki daripada duduk di rumah atau di kantor dengan segudang pekerjaan yang tidak tuntas tuntas.
Cari Tahu Fasilitas yang Diberikan
Meskipun terdapat promo hotel Bali di Reservasi namun ada baiknya juga kita mencari tahu fasilitas yang akan diberikan apalagi kalau memang membawa serta anak-anak ataupun orang tua yang jelas punya kebutuhan khusus, misalnya seperti fasilitas lift sehingga lebih mudah untuk naik turun. Akses keluar masuk kamar ataupun beberapa fasilitas umum lainnya seperti playground juga berlaku. Beranda untuk orang tua yang kerap kali membutuhkan udara segar pada saat pagi hari juga bisa. Dengan pencarian terlebih dahulu, kamu bisa mengetahui fasilitas hotel yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan agar tidak menyesal dengan harga yang sudah ditawarkan.
Ketahui Kebijakan Hotel
Mengetahui kebijakan hotel menjadi salah satu hal yang kerap kali dilupakan. Padahal satu hal yang harus dilakukan di awal adalah mengetahui kebijakan hotel terutama jika membawa anak-anak, karena nyatanya tidak semua hotel bisa mengizinkan anak-anak menginap dengan gratis. HAREE GENEE.
Beberapa hotel memiliki kebijakan masing-masing. Misalnya ada hotel yang mengizinkan anak usia dibawah 7 tahun bisa menginap gratis, namun ada juga hotel lain yang tidak mengizinkan anak usia diatas 7 tahun untuk menginap gratis. Informasi seperti ini perlu diketahui lebih awal agar tidak terjadi miskomunikasi ketika sudah berada di lokasi tempat menginap yaitu hotel yang dipilih.
Kebijakan hotel wajib untuk diketahui oleh para tamu hotel terutama jika kamu ingin liburan ke luar negeri seperti ke Singapura ataupun Hongkong yang memiliki kebijakan hotel masing-masing. Ini berbeda jauh dengan kebijakan hotel di Indonesia yang lebih longgar dan lebih fleksibel untuk menerima anak-anak di bawah umur tanpa harus menambah biaya extra bed.
Biarlah Murah Asal Nyaman
Tidak semua hotel menawarkan fasilitas yang sepadan dengan harga yang diberikan. Inilah fungsinya melakukan riset dan survei terlebih dahulu melalui sumber-sumber yang ada di internet seperti TripAdvisor ataupun komunitas wisata lainnya yang bisa memberikan informasi tentang hotel yang hendak dipilih ketika liburan.
Untuk memilih Hotel jangan pernah hanya berpatokan pada harga namun pada fasilitas yang ditawarkan. Biar murah, asal nyaman tentu tidak ada masalah yang penting anak-anak menginap dengan nyaman dan bisa beristirahat dengan tenang.
Tulisan ini mungkin akan sepi view, karena data dari BabyCenter yang dikutip oleh Kompas menyebut bahwa 78 persen Ayah alias Bapak alias Abi alias Papa memiliki kemampuan yang sama bagusnya dengan ibu dalam soal mengurus bayi. Jadi, kemungkinan tulisan ini hanya akan dibaca oleh 22 persen masyarakat. NGAK PAPA DAH.
Benar bahwa Bapak Millennial memang mulai setara dengan Ibu Millennial dalam urusan mengelola anak. Ini tentu berbeda dengan kisah zaman dahulu, ketika bapak itu fokus bekerja dan ibu di rumah. Jadi, ketika bapak di rumah, kerjanya adalah minta kopi dan duduk-duduk baca koran.
Sekarang? Bapak-bapak mah duduknya bacanya Mojok, Voxpop, atau Geotimes. Tsah. Sambil menebar kebencian melalui Facebook. Gitu.
Jadi, walaupun datanya sudah nyaris equal, tapi tetap saja ada lelaki yang ogah ganti popok bayinya sendiri. Nah, kalangan seperti ini tentu harus diberi solusi yang tentu saja bukan #2019GantiBapak. Yang harus kita ikhtiarkan adalah #2019BisaGantiPopok.
Saya sendiri telah mengganti popok sejak malam pertama Istoyama lahir, apalagi dia room-in. Pencapaian saya? Tentu saja, pasang perekat kebalik. Yeah, ganti popok-sekali-pakai itu nggak ada diklatnya, nggak ada angka kreditnya, apalagi nggak ada honornya. Sungguh bikin males, sebenarnya. Ya, males, sih, tapi kudu dikerjakan. Ini mirip dengan berangkat ke kantor.
Jijik? Jelas. Lah, jangankan itu. Dibandingkan 2 adik saya yang lain, saya adalah yang paling buncit dalam urusan nyebokin adik bungsu–yang sekarang tingginya 10 cm di atas saya itu (Asulah-red). Kenapa saya selalu menolak? Pertama-tama, tentu jijik. Kedua, selagi ada 2 adik, kenapa abang harus turun tangan? Continue reading 5 Cara Agar Bapak Mau Ganti Popok Bayi→
Monmap kalau judulnya sangat tidak SEO-able, semata-mata karena itu adalah kutipan asli dari sebuah grup WhatsApp yang berisi mamak-mamak penuh kesibukan. Oh, tentu saja, saya rapikan sedikit supaya asyik dijadikan judul. Kalimat ini adalah pemicu saya menuliskan sesuatu di blog yang tadinya mau ganti tagar jadi #BlogBapakMillennial, tetapi kesibukan menjadi bapak sekaligus urgensi untuk mencari uang dari platform yang user generated content menjadi lebih tinggi. Heuheu.
Dari data itu ketahuan bahwa sangat banyak para orangtua millennial yang tidak mengasuh anaknya sehari-hari. Ya, termasuk saya dan istri. Artinya, anak akan diasuh oleh orang lain dan judul tulisan ini menjadi salah satu isi hati para orangtua, kepada siapapun anaknya dititipkan. FYI, BPS membagi pilihan pengasuhan anak jadi 10 yakni dititipkan ke ayah, kakak, kakek atau nenek, famili seperti bibi atau sepupu, baby sitter, Asisten Rumah Tangga, Tempat Penitipan Anak, tetangga, lainnya (misal: dititipkan ke teman atau ke orang lewat), serta pilihan terakhir yang tampak tidak manusiawi: ditinggal sendiri. Ngerik. Continue reading “Itu Pasti Dibuangin, Soalnya Kalau Sama Saya Makannya Nggak Pernah Habis”→
Ngenes. Iya, ngenes ketika seorang bapak–bukan millennial–bernama Dita Oepriarto secara luar biasa mengkoordinasikan keluarga intinya untuk menjadi pengebom. Anak lanang dua orang ngebom di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel, istrinya–Puji Kuswati–bersama dua anak perempuan yang masih sangat belia bernama Fadhila Sari dan Famela Rizqita ngebom di GKI Jalan Diponegoro, sementara dirinya sendiri memungkasi aksi sendirian di di Gereja Pantekosta Jalan Arjuno.
Ya, ini benar-benar gila. Kalau ada yang lonewolf mungkin sudah biasa, tapi kalau benar-benar satu keluarga? Sungguh mengerikan. Apalagi, keempat anak Dita dan Puji sungguh merupakan anak millennial.
Anak pertama, Yusuf Fadhil lahir pada 25 November 2000. Anak kedua, Firman Halim lahir pada 13 Oktober 2002. Agak jauh sedikit, pada 4 Januari 2006 lahir Fadhila Sari dan pada 9 Desember 2009 lahirlah si bungsu, Famela Rizqita. Usia anak mbarep bahkan baru 17 tahun!
Salah satu hal yang cukup absurd dari diri saya adalah suka sakit kalau lagi stress. Mungkin lebih tepatnya kalau lagi ada hal yang sangat mengganggu. Beberapa waktu belakangan ada yang cukup mengganggu pikiran terkait dengan karir dan saya langsung jadi sakit karenanya. Heuheu.
Kebetulan posisinya saya sudah pindah Faskes BPJS Kesehatan ke klinik tempat Isto dititipkan sehari-hari. Isto juga di klinik yang sama. Bayangannya kan kalau ada apa-apa, bisa langsung ke klinik yang notabene tiap pagi dilewatin pas nganterin anak.
Nah, debut pemeriksaan saya di klinik itu pada akhirnya ya sambil nunggu jam jemput Isto. Kebetulan pulang tepat waktu dan keretanya juga dapat yang lebih dahulu jadinya bisa sampai di daycare 45 menit sebelum jam tutup daycare.
Pada dasarnya ini adalah kali pertama saya periksa dokter umum pakai BPJS. Kalau ingat tulisan terdahulu, saya malah debut pakai BPJS langsung ke dokter spesialis urologi dengan tagihan berjuta-juta. Untunglah saya peserta yang iurannya dibayarin jadi selalu bebas tagihan.
Kebetulan pula, sejak lama saya juga tidak pakai kartu fisik lagi karena sudah sejak mengurus tambahan kartu Isto telah menginstall aplikasinya. Kartu kan doyan keselip-selip ya. Untungnya sih pakai kartu yang ada di aplikasi tetap dilayani.
Satu hal yang saya lantas tahu adalah kita bisa saja pakai kartu BPJS di tempat yang bukan faskes pertama asal beda kota dan tidak lebih dari tiga kali. Begitu setidaknya menurut mbak-mbak yang mengurusi pendaftaran saya.
Pada akhirya saya diperiksa oleh dokter yang sering saya lihat kalau lagi antar jemput anak. Pemeriksaan dokter umum yang pada umumnya saja. Poinnya sih, saya diberikan surat sakit karena melihat gejala yang ada dan durasi sakit yang sudah cukup lama. Sayanya aja yang masih ngeyel ngantor.
Obat-obat yang diberikan kebetulan pas relevan. Asumsi saya, tentu obat seperti Mertigo SR yang jadi andalan saya kalau lagi mumet tidak disediakan. Wong dulu zaman masih Askes pas di Palembang juga nggak ditanggung kok. Ya, namanya juga BPJS tentu obatnya juga sesuai formularium dan tidak sembarangan ngasih yang ngadi-ngadi.
Demikianlah pengalaman saya dalam debut periksa dokter umum perdana pakai BPJS setelah beberapa waktu sebelumnya debut pakai BPJS langsung ke dokter spesialis karena sempat masih UGD. Sejauh ini sih nggak ada masalah dan semoga ke depan juga tidak ada masalah berarti untuk menggunakan BPJS. Amin~
Ada banyak hal yang tidak mudah di dunia ini. Melupakan cinta pertama mungkin salah satunya. Salah lainnya adalah topik tulisan ini: membawa bayi naik pesawat. Walau tidak mudah, jika menggunakan pendekatan yang tepat, keberhasilan akan kita raih kok, wahai bapak-ibu millennial.
Dalam 4 trip itu, syukurlah belum ada masalah berarti. Itu pula sebabnya saya berani bikin tulisan ini, sekadar untuk mengisi blog dan menambah pencitraan sebagai bapak jarang pulang yang sayang anak. Heu. Yok, kita simak 5 tipsnya!
1. Beda Banget Dengan Perjalanan Dinas
Pertama-tama, saya tekankan bahwa bepergian bersama bayi sangat berbeda dengan pergi bersama pejabat Eselon I sekalipun. Kalau sama pejabat Eselon II atau III paling mentok kan membawakan tas. Bayi? Tas, minum, sekaligus badan bayi juga kita bawa. Maka, jangan samakan perjalanan bersama bayi dengan perjalanan dinas. Dijamin beda.
Beda yang pertama adalah JANGAN DATANG MEPET! Isto sudah 3 kali naik Garuda dan kok ya bayi tidak bisa web check in, sehingga kita harus datang lebih awal agar bisa check in. Sesuatu yang nyaris tidak mungkin terjadi jika melakukan perjalanan dinas. Pasti mepet, kan sok sibuk.
Beda yang kedua adalah soal kursi. Kalau sebagai remah-remah roti diinjak sepatu biasanya para pelaku perjalanan dinas memilih duduk di aisle, maka dalam hal membawa bayi sebaiknya duduk di tengah, dengan bayi plus emaknya duduk di sisi jendela. Ingat, pejabat yang kita bawa bahkan belum punya seat. Wong masih bayi. Continue reading 5 Tips Sukses Naik Pesawat Bersama Bayi→