Category Archives: Review

:)

Hotel di Jogja Area Malioboro? Tentu Feel Neo di Hotel Neo Saja!

Hotel di Jogja area Malioboro sangat dicari, salah satunya ya karena ini adalah Jogja. Jogja yang katanya berhati mantan itu memang sedang dibanjiri oleh hotel-hotel aneka rupa. Sebagian hotel tampak mahal, sebagian murah, sebagian berada di tempat yang beneran pas untuk hotel, sebagian lagi bahkan memakai trotoar sebagai bagian dari hotel. Nah, ketika saya berada di Jogja, keputusan untuk menginap kemudian jatuh di Hotel Neo Malioboro.

11352018_917160671637347_924970697_nAlasan pertama, hotelnya baru. Kedua, kiri-kanan hotel juga, jadi setidaknya ini memang daerah wisata. Ketiga, sebagai hotel di Jogja area Malioboro letaknya otomatis di tengah kota. Yah, walaupun judulnya Neo Malioboro tapi sebenarnya berada di Jalan Pasar Kembang, sih. Keempat, dekat dengan Malioboro. Kelima, dekat dengan tempat dinas. Dan yang bikin menarik sebenarnya adalah warna hitamnya.

Dinas ke Jogja mungkin sepanjang karier cuma sekali ini, maka saya tiba di Jogja pagi-pagi, first flight dari Jakarta. Sesampainya di hotel tentu saja belum jam check in, namun untungnya kebijakan di Hotel Neo ini baik sehingga saya bisa menitipkan gembolan sebesar kenangan tanpa khawatir kehilangan di hotel di Jogja area Malioboro ini. Sebagai gambaran, saya menitipkan laptop segala. Jadi keamanannya bolehlah. Oh, ada yang unik begitu pertama kali menjejak Hotel Neo. Resepsionisnya! Yang Mbak-Mbak memakai wig putih, yang Mas-Mas memakai topi-saya-bundar-bundar-topi-saya. Lumayan kerenlah.

Selengkapnya!

[Review] Critical Eleven

Sejak OOM ALFA rilis, udah lama sekali saya tidak baca novel secara utuh, padahal novel juga banyak. Entah mengapa, mungkin karena saya terlalu sibuk mengutuk diri pada terminologi penulis-kurang-laku. Padahal harusnya membaca novel orang lain adalah cara untuk bisa menjadi lebih laku. Untunglah ada kesempatan diklat ini, yang mana daripadanya sesudah jam 5 waktu hanya habis untuk meringkuk manja di atas springbed yang lebih empuk daripada kasur di kosan. Maka, membaca novel adalah penyerta yang menarik, dan pilihan itu jatuh kepada Critical Eleven dari Kak Ika Natassa.

133359_ikanattasa2Sejak direkomendasikan oleh mbak mantan untuk membaca Antologi Rasa, Kak Ika dengan mutlak menjadi referensi bagi saya untuk menulis. Bukan karena tulisannya belaka, namun juga karena latar belakang sebagai seorang profesional yang tetap menulis. Itu cita-cita saya banget, soalnya. Namun, entah kenapa, meski saya punya Twivortiare 2, niat membaca itu tidak ada sama sekali. Mahal, padahal.

Selengkapnya!

[Review] Inside Out

Hari Minggu kala diklat adalah hari penting, tentu saja karena hari Sabtu sudah terenggut keperjakaan untuk pembelajaran. Nah, kebetulan diajak sama anak remah-remah rempeyek untuk nonton di Botani Square, sebuah emol yang sering disingkat… boker.. –“. Maka, sepulang dari misa di Katedral Bogor, segera saya berangkot ke emol paling happening bagi para peserta diklat di bilangan Ciawi tersebut.

Inside Out adalah film yang dituju. Pesona rating IMDb-nya yang sampai 8,6 tentu tiada bisa dilewatkan. Bandingkan dengan Battleship yang pernah direview disini dengan rating 5,9. Pun dengan film sejenis yang tersedia di XXI, Fantastic Four cuma punya rating 3,9! Belum lagi tipenya yang kartun, lumayan untuk menyegarkan otak. Meski jelas akan tiada adegan cium-ciuman, saya tetap turut serta dalam antrean lumayan panjang memperebutkan kursi untuk film ini. Apalagi, rasanya saya nonton terakhir itu bareng Mbak Pacar yang notabene sudah hampir setahun melancong ke London. Beuh.

Woke, mari kita mulai.

Kalau menyaksikan film besutan Pete Docter dan Ronaldo Del Carmen ini jangan keslamur dengan film ‘Lava’ tentang gunung yang kasmaran. Filmnya bukan itu, kok. Mengacu pada pembuatan plot drama tiga babak, bagian dunia tidak sempurna diawali dengan kelahiran Riley Andersen dan munculnya Joy. Pada bagian ini kita akhirnya tahu bahwa maksud dari Inside Out itu adalah adanya personifikasi terhadap suasana hati yang dimiliki manusia. Joy (suara oleh Amy Pochler) muncul dan menjadi pengendali dalam hidup Riley. Sesuai namanya, Joy mewakili perasaan senang. Joy tampak gembira hingga 33 detik kemudian, Riley mulai menangis dan lantas muncul sosok biru-mungil-bantet-tidak-unyu bernama Sadness (suara oleh Phyliss Smith).

wpid-screenshot_2015-08-23-16-48-57_1.jpgPerkenalan demi perkenalan terus dilakukan termasuk pengkondisian latar dari cerita. Selain Joy dan Sadness, tersebutlah Fear, Disgust, dan Anger. Jadi, kelima tokoh tersebut berkuasa menyetir Riley. Ruang kontrol berikut ‘dunia’ yang ada di dalam film ini boleh jadi menggambarkan otak manusia. Setiap peristiwa selalu mengandung satu perasaan dan dalam posisi tertentu akan muncul menjadi ingatan inti. Namanya juga anak-anak, Riley selalu tampak gembira karena Joy memang menguasai ruang kontrol. Joy bahkan sangat mengontrol keberadaan Sadness. Si pembawa sedih itu selalu dilarang macam-macam, termasuk terlibat dalam butiran memori yang dimiliki oleh Riley.

Continue reading [Review] Inside Out

Cermat Finansial Bersama cermati.com

Hidup memang makin susah. Loh, kok malah ngeluh. Mengeluh memang aktivitas beberapa manusia yang belakangan baru ngerti Yunani dan kemudian buru-buru menyimpulkan bahwa negeri ini bisa bangkrut kayak Yunani, tanpa tahu apapun. Hihi. Nah, biar ngerti, salah satu yang perlu kita baca–selain berita yang benar–adalah cermati.com!

Kok gitu?

Dengan membaca cermati.com kita bisa mengetahui aneka produk keuangan mulai dari Kartu Kredit, Kredit Tanpa Agunan (KTA), Kredit Multi Guna (KMG), tabungan, deposito, hingga kredit motor sekalipun. Dengan mengetahui itu semua kita tahu bahwa dunia perbankan negeri ini masih sangat kompetitif satu sama lain. Kok bisa? Bisa dong, karena di cermati.com kita bahkan bisa membandingkan antar produk satu sama lain, misal tabungan dari bank yang satu dengan bank lainnya. Keren kan?

Nah, tak kenal maka tak pacaran. Jadi mari kita kenalan dulu sama Cermati. Cermati adalah perusahaan startup yang bergerak di bidang teknologi finansial Indonesia, didirikan oleh para teknologis dari Silicon Valley dengan tim yang sudah berpengalaman di perusahaan-perusahaan terknologi global terkemuka kayak Google, LinkedIn, Microsoft, sampai enabler PPIC saya tercinta, Oracle. Cermati punya visi untuk menjadikan informasi finansial lebih mudah diakses dan lebih berguna bagi setiap orang dengan menggunakan platform teknologi. Dan produk-produk yang ada memungkinkan kita-kita untuk membuat keputusan finansial yang paling tepat dan cermat untuk situasi finansial sendiri karena kesuksesan finansial selalu bermula dari keputusan yang cermat, selain warisan yang banyak.

Untuk manusia dengan gaji 1,9 juta (dan nggak naik-naik) kayak saya, keberadaan cermati.com lantas menjadi penting karena saya bisa membandingkan dan mengajukan Kredit Tanpa Agunan dengan pilihan yang terbaik. Kenapa, gitu? Yes, karena di cermati.com ada pilihan pencarian yang bermacam-macam. Mau yang dana cepat? Ada. Fee rendah, tenor panjang, bisa bayar awal, hingga yang plafon tinggi tinggal klik dan kita akan ditunjukkan pilihan-pilihan produk keuangan dari berbagai bank. Ini penting karena untuk aspek keuangan ini banyak orang yang kadang nekat tapi nggak tahu, banyak juga yang lantas melewatkan banyak hal karena takut ambil risiko, ya, karena nggak tahu itu tadi.

Dengan pencarian di Cermati, kita bisa mengetahui suku bunganya, total pembayaran, bahkan termasuk cicilan per bulannya. Jadi kita sebagai calon pengaju KTA bisa benar-benar memilih dan tidak karena terpaksa diteror mantan–yang kebetulan jadi telemarketer.

cermatiJika ingin mengetahui lebih jauh, bisa banget. Startup cermati.com ini juga membuat kita bisa melakukan simulasi kredit. Mau simulasi tenor kreditnya atau jumlah kreditnya, bisa-bisa saja. Tidak hanya itu, ketakutan bahwa KTA ini banyak biaya silumannya bakal sirna dengan mudah karena di cermati.com ditampilkan juga biaya-biaya yang menyertai,termasuk biaya pembayaran awal, asuransi, dan lainnya.

Dan guna melengkapi informasi itu, cermati.com juga memuat sampai kepada persyaratan dan ulasan. Misal, usia pemohon berapa tahun? Ada. Mininum gaji? Ada juga. Jadi, dengan gaji saya yang 1,9 juta saya bisa memilih KTA yang relevan untuk modal kawin. Lha iya toh? Kurang apa lagi? Cermati berhasil menjadi solusi untuk lebih cermat mengelola gaji 1,9 juta, eh, mengelola keuangan utamanya yang terkait dengan penggunaan produk-produk keuangan yang kalau nge-Google satu-satu bisa menyebabkan harga cabe naik duluan, saking lamanya.

Yup, segitu dulu. Ini saya lantas jadi sibuk mau cari-cari KTA, soalnya. Buat apa? Yang jelas, bukan buat beli batu akik. Salam cermat!

Memotret Tomodachi Photography

“Jadi, kapan?”

Pertanyaan itu adalah jenis nan paling krusial dan sering ditanyakan kepada saya nan tampan tapi belum nikah ini. Untuk sekarang, menjawabanya gampang sekali karena calon saya masih berkelana di luar negeri mencari ilmu, dan semoga tidak mencari bule sekalian. Walau begitu, tidak berarti saya nggak ingin nikah, yang namanya persiapan-persiapan tentu sudah perlu untuk dihelat dan dipersiapkan sebaik-baiknya.

Salah satu yang mulai menjadi hobi saya adalah menyaksikan foto-foto pre-wedding. Sebenarnya hobi semacam ini dulu tidak perlu usaha karena akan bertebaran dengan sendirinya di newsfeed Facebook. Namun apa daya, teman-teman saya nikah kan cuma sekali, dan di dalam kurun 5 tahun belakangan, jumlah teman yang menikah dan mengunggah foto prewed tentunya akan semakin berkurang. Lagipula, wawasan baru tentu diperlukan untuk mendapatkan hasil yang optimal, plus relevan di bagian terpenting: duwit.

Nah, melayang-layang di linimasa, akhirnya saya malah sampai di laman milik Tomodachi Photography.

wpid-photogrid_1435506112298.jpgBegitu masuk ke laman pertama, saya langsung disuguhi tampilan foto yang silih berganti setiap lima detik, menampilkan tujuh foto. Kalau jeli, akan tampak kemiripan di foto-foto tersebut karena kecuali foto dengan lokasi kolam, Tentu saja terlihat kece dan menawan. Cuma, pas saya mau coba balik ke gambar sebelumnya, coba-coba nggak bisa. Harus nunggu balik lagi ke siklus awal. Untung gambarnya cuma tujuh ya, kalau tujuh puluh, kan lama nunggunya. Selain itu, lima detik kok rasanya kelamaan, terlebih sebenarnya banyak koleksi foto yang bisa digunakan. Mungkin pemilik website bisa mempertimbangkan nih untuk menampangkan beberapa foto sekaligus, uhm, maksud saya langsung saja tujuh album diletakkan di laman pertama dengan thumbnail, jadi yang berniat bisa klik-klik dan sampai tujuan.

Foto-foto nan kece menawan itu tadi juga agak bikin saya kikuk karena nggak ada bordernya sama sekali. Mungkin memang jadinya tampak simpel, namun dalam pendapat saya elegansi sebagai sebuah gallery kok agak kurang. Pendapat pribadi, sih. Termasuk juga dalam hal ini adalah tiadanya border yang sip untuk empat kotak di bagian ‘member of’. Ketika saya buka di tablet, bentuknya jadi semacam empat kotak belaka, padahal keempat kotak itu pasti besar maknanya sehingga perlu ditampilkan di laman pertama.

wpid-photogrid_1435505988703.jpgBagian menu memuat Home, Gallery, Contact Us, FAQ, dan About Us. Nah, disitu dijelaskan tentang gaya fotografi yang dianut oleh Tamadochi yakni naturalistik, jurnalistik, artistik, dan story telling. Usul nih, mungkin thumbnail yang saya usul tadi bisa dicarikan dari masing-masing style. Jadi kalau mau mencari yang story telling, bisa langsung ke lokasi tanpa lebih dahulu bingung melihat yang naturalistik.

wpid-photogrid_1435506023841.jpgTerus pas masih ke About Us, saya jadi bingung, yang ngambil foto siapa. Kalau ada profilnya dan lengkap dengan fotonya–kalau perlu foto sedang beraksi, pasti lebih menawan dan lebih memberikan kedekatan dengan calon klien. Memang niat awalnya adalah membuat simpel, tapi mungkin kalau dimasukkan video semacam behind the scene di bagian sini bisa jadi nilai tambah. Tapi ya itu tadi, dipertimbangkan supaya nggak berat, karena yang sekarang ini saya buka di laptop dan di tablet santai damai lancar jaya mantap sekali.

Oh, plus satu saja lagi yang agak mengganggu saya adalah alignment text yang tidak justified. Semacam kurang krusial, memang, namun sejak nyaris 2 tahun terakhir saya mulai menerapkan postingan blog dengan alignment justified dan tampaknya lebih rapi dan sedap dipandang. Rasanya yang semacam ini nggak susah untuk dikelola oleh pemilik website.

wpid-photogrid_1435506081464.jpgUntuk konektivitas ke media sosial sudah tepat untuk ditampilkan di depan. Blog saya malah kalah, karena memang yang dijual tulisan, sih. Demikian juga dengan bagian Contact Us yang sudah menampilkan alamat, nomor telepon, serta form isian dan alamat email. Eh, tapi kayaknya keren kalau ditambahkan map kali ya. Saya memang kebanyakan maunya kalau di website. Hehe. Kira-kira demikian saja upaya memotret Tomodachi Photography, kali ini melalui websitenya. Tulisan ini diikutkan di lomba review Tomodachi Photography di sini.

Konsep Beda Belanja Online via Shopious

Sejujurnya, saya mengenal belanja online itu sudah lama, setidaknya waktu itu masih periode pacar kedua–sekarang tentu saja sudah jadi mantan. Nah, sejak saat itu, yang namanya belanja online sudah menjadi kegiatan kekinian yang harus dilakukan untuk mempertahankan eksistensi. Beberapa benda yang pernah saya beli adalah DVD game, mouse, sampai backpack andalan yang sudah dibawa ke Kendari, Manado, sampai Kupang dan kemungkinan menyusul kota-kota lainnya. Yah, walaupun memang baru belakangan saya bertualang ke ITC Cempaka Mas dan menemukan banyak vendor online shop disana, tapi saya mah orangnya gitu, malas repot. Ke depan ya bakalan ngonline lagi.

shopious.com

NAH! Salah satu jenis belanja kekinian yang digandrungi oleh teman-teman kantor yang rerata adalah mahmud alias mamah-mamah muda adalah belanja via Instagram. Konsepnya sih di Instagram ada lapak, ada kontak WhatsApp atau BBM, berkomunikasi kemudian transaksi. Agak beda dengan pelapak besar yang sering saya sambangi di internet. Beberapa toko bahkan sempat nongol di reply-an Instagram saya karena perkara hashtag yang kebetulan sejalan dengan dagangan.

Eh, ternyata hidup itu selalu berkembang seiring dengan banyaknya manusia yang berkembang biak. Salah satu perkembangan itu tampak dari perbedaan. Dan salah satu yang berbeda itu bernama Shopious, yang punya tagline ‘Media Iklan Toko Online’.

Bedanya dimana?

Shopious, sesuai taglinenya adalah media iklan, bukan toko. Jadi Shopious melakukan seleksi ketat terhadap toko-toko yang masuk ke mereka. Nggak asal toko juga bisa masuk karena harus mendaftar, membayar membership, plus Shopious juga melakukan review dan mengajak bicara (…terus ditembak, cieee…) para pemilik toko untuk mengetahui apakah online shop itu terpercaya atau tidak.

Di Shopious kita akan melakukan klik pada foto barang atau nama toko untuk membuka halaman barang atau toko, dan kemudian nanti ada kontaknya. Disitulah kita bisa menghubungi langsung. So, intinya Shopious cuma mengiklankan.

Loh? Terus apa untungnya?

Dengan skema ala Shopious ini tentu kita nggak usah berlelah-lelah cek aneka IG. Selama ini kalau di IG kan carinya via username atau hashtag tertentu. Iya, kalau ketemu. Kalau nggak? Galau sambil garuk-garuk aspal, gitu? Dengan skema seperti ini, maka tersedia barang yang banyak, bervariasi, dan tentu saja berkualitas tinggi. Soal selera juga diperhatikan karena barang banyak dan pengunjung juga banyak. Shopious mengembangkan software atau program yang bikin mereka mampu memahami selera beradasarkan barang yang di-vote up atau down. Dengan demikian, bisa lebih banyak pilihan yang kekinian untuk dipilih kemudian di-BBM untuk membelinya.

Itulah sebabnya saya menyebut bahwa belanja online via Shopious ini adalah konsep yang berbeda, karena memang bukan dia yang jual, lebih kepada etalase. So, model begini juga boleh jadi cara dan motivasi para pemilik online shop untuk tumbuh dan berkembang dalam usahanya meningkatkan jumlah wirausahawan-wirausahawati di Indonesia. Begitu? Begitu!

Belanja Mainan di blanja.com

Sebagai lelaki kekinian yang belum ingin kawin, saya berada pada posisi dimana terdapat banyak teman-teman saya yang sudah memiliki anak bahkan ada yang sudah memiliki empat anak. Sungguh sebuah kondisi yang akan bikin keinginan mengelus dada begitu besar jika diperbandingkan. Maka, tolong jangan diperbandingkan. Kasihan saya. Please.

blanja.com

Nah, berlahirannya anak dari kawan-kawan, mulai dari kawan-kawan kantor, kawan-kawan eks kantor, kawan-kawan di pelayanan, hingga kawan-kawan lama tentu melahirkan sebuah kewajiban untuk membelikan hadiah. Syahdan, suatu hari saya pernah begitu gamang di Toko Progo Jogja karena pening memilih kado lahiran nan anti mainstream. Waktu itu sama mantan, sih, FYI aja deh, IMHO CMIIW BRB BPPOM dll. Kado lahiran sebaiknya adalah yang anti mainstream karena logika sederhana. Ketika seorang bocah diberikan sebuah kado mainan yang sesuai stok terbanyak di toko, boleh jadi orang lain sudah memberikan. Dengan begitu si bocah punya lebih dari 1 mainan yang sama. So, hampir pasti kalau hadiah sama, maka kado dari kita nggak terpakai.
Nah, saya sendiri terjebak pada masalah ini berkali-kali. Saya butuh merenung di Progo, di Semanggi, di Bintaro, hingga di Atrium Senen dan Pasaraya Manggarai semata-mata bimbang dan ragu untuk memilih kado lahiran. Ah, hal sepele ini saja saya bimbang, apalagi memilih pasangan hidup. Tsah. Untung sudah dapat dan tinggal dilegalisasi.

Untungnya sekarang sudah era kekinian sehingga ada pilihan untuk belanja online. Nah, di sela peliknya bertransaksi online yang semakin marak penipuan, kita tentu harus memilih online shop yang tepat, dan ternyata itu ditemukan di blanja.com

Yah, menurut ngana, kalau ada toko online yang merupakan Joint Venture antara Telkom Indonesia dan ebay, masak sih ragunya jadi banyak?

blanja.com menyediakan sebuah pilihan yang cukup unik. Kalau sekadar baju atau sepatu mah biasa kan ya, maka disediakanlah Jual Beli Mainan Online. Opsi yang tersedia juga nggak tanggung-tanggung, ada banyak deh pokoknya. Diskon tentu saja tersedia dan diberikan dengan baik hati sehingga dapat mempengaruhi kemudahan menghilangkan galau dalam memilih kado lahiran nan kekinian.

Untitled

Sebenarnya sih kalau mau dieksplorasi, nggak cuma mainan sebagai kado, namun juga perlengkapan lainnya tentang bayi. Jadi kalau nggak ingin si bocah terlalu banyak main hati ketika dewasa, tinggal masuk ke blanja.com dan memantau aneka mainan yang bisa dipilih, difavorit, serta dibandingkan untuk kemudian dibeli dengan sepenuh hati. Uye!

So, menjadi anti mainstream dan memastikan bahwa pemberian kita digunakan oleh si dedek-bayi-unyu-yang-belum-kenal-riak-riak-dunia itu ternyata mudah untuk dilakukan di blanja.com, klak-klik-klak-klik jadi deh, tanpa perlu harus gamang seorang diri kayak single menahun di Pasaraya Manggarai. Beli kado lahiran saja sudah pelik, apalagi beli mas kawin.

Sensasi Hotel Sylvia Kupang

Syahdan, saya akhirnya nyasar sampai ke Kupang. Mengingat sebagian ibukota provinsi berada di dekat laut, kadang pengen juga menginap di hotel dekat pantai, yang agak berombak gitu. Soalnya di Kendari kan dapatnya pantai tak berombak. Apa daya, budget terbatas dan saya nggak bisa memenuhi hasrat tinggal di hotel tepi pantai.

Lalu saya harus galau, gitu? Tentu tidak! Berdasarkan rekomendasi teman, saya akhirnya memilih menginap di sebuah hotel baru tapi lama yang terletak di Jalan Soeharto, tidak jauh dari Polda NTT. Namanya Hotel Sylvia.

IMG20150318223724

Anggaran jelas masuk karena saya hanya membayar 400 ribu untuk 1 malam, cocoklah dengan anggaran penghematan. Kenapa saya bilang hotel baru tapi lama, karena sebenarnya Hotel Sylvia ini adalah hotel lama di Kupang, namun per Oktober 2014 sudah diresmikan Hotel Sylvia yang baru. Adapun bangunan lama sedang digarap ulang, persis di sebelah bangunan baru. Jadi, saya tinggal di hotel yang baru jadi enam bulan. Keren juga. Tidak hanya dekat Polda, Hotel Sylvia juga dekat dengan pasar, dan yang terpenting dekat dengan toko oleh-oleh. Atau sekadar mau makan malam murah? Makanan suroboyonan tersedia di sekitar hotel. Angkot khas Kupang yang di bawah joknya penuh speaker juga lewat di depan hotel ini.

Selengkapnya!

Tentang Saya dan Mojok Dot Co

Hampir setahun belakangan saya menjelma jadi manusia serigala yang tidak setampan Aliando. Setiap tengah malam saya melolong, “aduuuhhh, gaji guweh kok segini-gini ajeh..”. Tanpa diduga, sampai ganti Presiden sekalipun, gaji saya ya tetap gini-gini aja. Bisa jadi akan begini terus, sampai Raditya Dika menikah dan beranak dua. Mungkin karena terlalu banyak melolong, saya agak luput ketika sebuah portal atawa situs atawa entahapanamanya bernama mojok dot co lahir.

mojoklogo

Adalah sosok Jonru yang mengantarkan saya kepada Mojok. Di timeline FB saya, ada seorang kenalan, walau di FB disebut ‘Friend’ tapi saya sih nggak ngerasa dia kawan, yang adalah pengikut Jonru, hingga mengkopas segala status Jonru ke statusnya sendiri, tanpa menyebutkan sumber. Mungkin dia saking ngefansnya, lupa hakikat menghargai sumber karena merasa dirinya adalah Jonru. Tapi di sisi lain, ada yang anti Jonru beud, saking anti-nya nge-share kiriman di fanspage Jonru terus, hingga akhirnya yang di-anti itu malah jadi lebih terkenal. Saya? Bagaimanapun saya adalah member di penulislepas.com, ketika menjadi penulis hanya berupa mimpi (bukan basah) saya di masa lalu, dan nyaris mendaftar seminar Jonru kalau saja waktu itu saya punya duit.

Mojok, yuk!

Belanja Aksesoris Pria di Lamido Indonesia

Sebagai pemuda harapan bangsa yang punya pacar gadis modis London, saya tentu harus berupaya mengimbangi. Makanya, saya kudu nyari tempat jual beli aksesoris pria yang kece badai merona membelah angkasa raya bersama mempelai berdua seiring dengan senyum bahagia. Selain bertualang dari jembatan penyeberangan ke jembatan penyeberangan lainnya, saya juga beranjak dari toko ke toko lainnya, serta berpindah dari tab online shop satu ke online shop lainnya.

Salah satu yang kemudian menggunggah hasrat untuk belanja tentu saja adalah Lamido Indonesia. Kenalnya Lamido itu mulai dari beberapa kawan yang nge-like fanspage Lamido di Facebook, terus masuk di newsfeed saya. Sebenarnya informasi teman nge-like Lamido masih lumayan penting daripada informasi bahwa ada mantan yang menikah dan punya anak sementara saya masih belum kawin-kawin. Begitu saya masuk ke lamido.co.id dan bergerak mencari tentang jual beli aksesoris pria guna menemukan benda-benda mungil demi ketampanan pria masa kini, langsung bingung karena semuanya ada. Mulai dari dompet, ikat pinggang, topi, hingga tas ransel  dan cincin batu akik bertebaran dengan tampilan yang menggoda. Kalau pacar saya melihat tanda merah di sudut kiri atas, mungkin dia akan bersemangat menyuruh saya belanja karena ada DISKON disana. Harga barang-barang yang ada disana juga bervariasi mulai 7000 rupiah sampai yang diatas 1 juta rupiah. Jumlah item yang tersedia juga dipastikan melebihi jumlah mantan kamu, lebih dari 1500 item tersebar dari aneka pemilik toko yang memasang lapak di Lamido.

lamido-coid

Begitu ngeklik gambar suatu produk, saya kemudian mendapatkan beberapa informasi penting untuk barang yang hendak dibeli. Kalau melewatkan kursor ke gambar barang, langsung ada kaca pembesarnya, jadi bisa melihat lebih detail. Selain itu, ada juga informasi jumlah stok yang tersedia, berikut juga review terhadap penjual. Jadi, kalau kemudian ragu-ragu, bisa melihat apakah penjual dalam transaksi jual beli aksesoris pria ini reputasinya bagus atau tidak.

Bahwa pada dasarnya toko online itu kadang-kadang semacam pria, sukar dipercaya. Untuk menyikapi itu Lamido juga memberikan tab khusus yang bisa diklik untuk memberikan jawaban pasti, kenapa Lamido terpercaya. Atau kalau bingung cara membeli, disitu juga tinggal klik untuk melihat jawabannya.

Bagian terpenting dari semuanya adalah bahwa Lamido merupakan bagian dari Lazada Group. Jadi ingat, dulu bisa dapat tas yang sudah menemani saya ke Semarang, Kendari, Palembang, Pangkalpinang, Manado, termasuk sampai Bukittinggi dan kota-kota lainnya dengan harga sangat miring dan kualitasnya prima, ya hanya di Lazada. Sebagai orang yang lagi bergelut soal pengadaan barang dan jasa, soal grup ini adalah soal terpercaya atau tidaknya sebuah penyedia.

Nah, sesudah melongok sana-sini, kiranya tahapan selanjutnya adalah membeli beneran. Maka, posting ini saya sudahi dulu. Saya mau ngecek gaji sudah masuk apa belum. Kalau sudah, saya mau buka website Lamido Indonesia sambil pilih-pilih jodoh, eh, barang yang sesuai agar penampilan saya menjadi kekinian. Doakan saya ya!