[Review] Critical Eleven

Sejak OOM ALFA rilis, udah lama sekali saya tidak baca novel secara utuh, padahal novel juga banyak. Entah mengapa, mungkin karena saya terlalu sibuk mengutuk diri pada terminologi penulis-kurang-laku. Padahal harusnya membaca novel orang lain adalah cara untuk bisa menjadi lebih laku. Untunglah ada kesempatan diklat ini, yang mana daripadanya sesudah jam 5 waktu hanya habis untuk meringkuk manja di atas springbed yang lebih empuk daripada kasur di kosan. Maka, membaca novel adalah penyerta yang menarik, dan pilihan itu jatuh kepada Critical Eleven dari Kak Ika Natassa.

133359_ikanattasa2Sejak direkomendasikan oleh mbak mantan untuk membaca Antologi Rasa, Kak Ika dengan mutlak menjadi referensi bagi saya untuk menulis. Bukan karena tulisannya belaka, namun juga karena latar belakang sebagai seorang profesional yang tetap menulis. Itu cita-cita saya banget, soalnya. Namun, entah kenapa, meski saya punya Twivortiare 2, niat membaca itu tidak ada sama sekali. Mahal, padahal.

Dari pengakuan di bagian akhir Critical Eleven, Kak Ika menyebut bahwa ini adalah novel yang dimulai dari judul duluan. Dan buat yang gemar fiksi pasti tahu bahwa Critical Eleven adalah judul sebuah cerpen Kak Ika yang dimuat di sebuah antologi Autumn Once More beberapa tahun silam. Antologi metropop yang berisi cerpen dari penulis-penulis terkemuka, berikut editor-editornya. So, buat follower Twitter Kak Ika yang sudah baca Autumn Once More tentu Critical Eleven bukan sekadar novel biasa.

Bagi pembaca setia novel-novel Kak Ika, boleh jadi Critical Eleven ini agak beda, tentu saja karena kita akhirnya lepas juga dengan suasana bank yang digunakan Kak Ika untuk novel-novel sebelumnya. Meski memang dari konsep metropolis tentu tiada berbeda, masih main-main di Pacific Place dan sekitarnya. Tapi satu hal yang selalu saya kagumi dari Kak Ika dalam risetnya yang well-prepared, termasuk yang dikisahkannya di bagian akhir buku ini.

Critical Eleven menggunakan bab 1 yang adalah cerpen berjudul sama di Autumn Once More. Ada Ale, ada Anya. Keduanya ketemu di pesawat menuju Sydney. Critical Eleven sendiri adalah salah satu terminologi penerbangan pada 3 menit dan 8 menit (ditotal jadi 11, kalau nggak salah disebut eleven) yang kritis, itu adalah saat take off dan menjelang landing. Ale ini “tukang minyak”, Anya konsultan. Ale memiliki nama belakang Risjad. Yah, pembaca Indonesia pasti kenal Harris Risjad di Antologi Rasa. Tenang saja, Keara-pun juga muncul dalam novel ini.

Meskipun kaver buku ini adalah pesawat dan terminologi Critical Eleven adalah penerbangan, tenang saja, ini bukan novel sepenuhnya traveling. Tidak banyak setting di pesawat, termasuk juga kisah ketika pergi ke New York. Paling-paling pas Anya ke Singapura. Jadi, pemilihan judul adalah notabene hak Kak Ika yang memang suka dengan terminologi itu. Kisah di bab kedua dan selanjutnya adalah sesuatu yang terjadi lima tahun sesudah pertemuan Ale dan Anya di pesawat.

Lima tahun itu berbeda. Banyak hal yang terjadi dalam lima tahun. Problematika utama dalam novel ini sejatinya agak-agak sensitif, terutama mengingat teman saya sendiri pernah mengalami hal yang dirasakan Anya. Jadi, melihat perspektif Ale, saya langsung teringat bagaimana teman saya menyikapi musibah yang dialaminya. Dan Kak Ika dengan elok mengemas agar masalah itu tidak nongol di awal, tapi pelan-pelan-pelan-pelan dan tahu-tahu ketahuan kenapa terjadi konflik. Dan, ya itu tadi, sangat detail.

Mungkin 1 hal yang agak jadi pertanyaan saya, mungkin karena saya yang kuno. Hehe. Disebutkan bahwa percakapan di Sydney lima tahun lalu (kurang lebih 2009), Ale menyebut soal WA. Kira-kira tahun segitu WA sudah booming-kah di kalangan tertentu? Soalnya kan di anak muda alay, WA baru dikenal tahun 2010 ke belakang.

Kak Ika mengembalikan konsep penulisan ala Antologi Rasa namun lebih simpel karena tidak terlalu banyak tokoh. Hanya ada 2 sudut pandang, beda sama di Antologi Rasa. Dari 31 bab dalam buku biru ini Ale mendapat porsi 29 bagian dengan porsi sendirian di bab 21 dan 29. Adapun dalam perjalanan dari halaman 5 hingga 330, Anya dapat dua porsi lebih dari Ale, 31, pun dengan lima bab milik Anya sendiri. Itu di bab 1 (cerpen Critical Eleven), 14, 22, 24, dan 31.

Dengan nama besar yang dimilikinya, Kak Ika memang memiliki segmen dan cara yang khas dan sulit dibantah, even dia sendiri mengakui bahwa dalam menulis Critical Eleven ini sempat mengalami writer block. Cuma memang, dari sisi konflik utama dan Critical Eleven sendiri persambungannya agak jauh karena terletak di awal. Tapi sekali lagi, memberi judul adalah hak penulis, toh?

Saya sangat ingin berkomentar soal alur, karena sungguhpun saya tidak menemukan bahwa Kak Ika adalah penulis yang benar-benar ingin twist. Tidak ada kejutan yang besar, alurnya pun sebenarnya bisa diterka. Cuma memang, cara membawanya itu loh yang seru dan membuat ingin membalik halaman lagi. Misal di bagian Anya ingin pergi ke ulang tahun Ale, itu kalau dieksplorasi berbeda tentu akhirnya bisa berbeda pula, tapi toh Kak Ika tidak lakukan. Waktu di Antologi Rasa juga soal dengan siapa seharusnya Keara berhubungan. Tidak ngetwist banget, tapi dibawa dengan gaya khas yang bikin tidak bosan. Saya sungguh harus belajar banyak sama Kak Ika. *salaman*

Soal harga, tentu saja, Kak Ika punya pasar sendiri, jadi harganya juga menyesuaikan. Toh, tobuk-tobuk online juga banyak, atau kayak saya pakai member card Gramedia dapat diskon yang lumayan bin lumayin. Jadi, sila menyempatkan diri ke toko dan menikmati problematika rumah tangga Anya dan Ale dalam Critical Eleven.

2 thoughts on “[Review] Critical Eleven

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s