Category Archives: Refleksi Singkat Saja

Berefleksi itu bisa dengan dipikir benar, bisa juga nongol tiba-tiba dari perifer..

Tiada Yang Tak Mungkin Untuk Niat Baik

Pagi ini saya habis melakoni perjalanan deg-degan. Oh, saya tidak sedang berjalan-jalan sambil jualan es kelapa muda. Tentu tidak. Saya hanya melakoni sebuah perjalanan dari Jakarta ke Cikarang, dalam sebuah durasi yang tampak tidak mungkin untuk dicapai. Bingung juga, sih, menjelaskannya, jadi ada baiknya diceritakan saja.

Sejak nyaris setahun silam meninggalkan Cikarang secara domisili dan pekerjaan, saya masih punya jadwal tetap untuk kembali ke kota terlengkap di Timur Jakarta coret itu. Sekadar cuma meladeni belasan hingga puluhan pasien dalam sebuah pelayanan kesehatan. Meskipun sertifikat kompetensi saya sudah kedaluarsa, padahal saya belum kawin, tapi saya tetap ingin melakukan sesuatu dengan hawa ‘pelayanan’. Maka, sebulan sekali saya masih tetap nongol ke Cikarang dalam rangka menjadi apoteker-sekali-sebulan.

Nah, pada kedatangan bulan November, saya kepagian. Karena kepagian masih sempat misa dulu. Tak pikir-pikir, kenapa saya nggak sekalian tugas lektor saja, toh saya bisa datang pagi. Lagipula bakal unik juga karena tanggal 28 Desember pagi saya tugas di Bukittinggi, lalu tanggal 4 Januari saya tugas di Cikarang, lalu 11 Januari saya tugas di London. *oke, ini ngarep*. Berbekal kondisi itu, saya kemudian menyanggupi untuk menggantikan salah satu teman yang berhalangan. Saya jelas sudah nggak dapat jadwal karena sudah pindah paroki.

Edisi kepagian itu memang butuh pengorbanan karena saya mengejar KRL ke Bekasi yang paling pagi, yakni 05.05 dari Stasiun Manggarai. Dilanjutkan angkot ke pangkalan 45 di dekat mal tetanggaan Bekasi Barat, lalu lanjut lagi shuttle lokal Lippo Cikarang untuk sampai ke TKP. Dua kali percobaan, berhasil. Setengah 7 saya sudah menghirup asap industri Cikarang. Saya cuma lupa satu hal: musim hujan.

Continue Reading!

Pak Anton

Di sela-sela gatalnya tangan ini untuk membuat posting tentang Menteri PAN-RB yang baru, saya terus mencoba untuk menahan diri sampai batas waktu tertentu Bapak itu tidak sekadar bikin Surat Edaran. Untunglah masih tahan. Entah berhubungan atau tidak, keengganan logika saya untuk ngepost tentang bapak itu, justru mengarahkan saya kepada bapak yang lain. Seseorang yang sejatinya juga tidak dekat-dekat amat, tapi punya peran besar dalam hidup rohani saya.

Faktanya, saya adalah umat pada umumnya. Bahkan saking umumnya, saya tidak punya niat sedikitpun untuk sekadar ikut di lingkungan. Enam bulan pertama karena saya dicuekin pacar. Tiga bulan berikutnya karena pacar yang mencuekin saya berbulan-bulan itu kemudian bekerja di kota yang sama dengan saya, dan tinggalnya hanya beda gang. Tiga bulan berikutnya karena saya habis putus. Pas pokoknya. Makanya, keheningan saya di lingkungan terjadi setahun lamanya sampai kemudian muncul niat dari saya untuk berkenalan dengan orang-orang seagama yang ada di sekitar kos-kosan di Kedasih. Pada suatu malam yang gelap, saya dan Agung kemudian bertemu ke rumah Pak Dodi, ketua lingkungan. Ya, sudah, sebatas itu saja.

Beberapa pekan kemudian saya dan Agung diperkenalkan oleh Pak Dodi dengan seorang bapak yang tampaknya sudah tua. Kami salaman dan kemudian tahu bahwa nama beliau adalah Pak Anton, pemilik kos-kosan besar yang tidak jauh dari kosan saya. Namanya orang tua, pasti cerita banyak, termasuk cerita tentang dirinya yang sudah hampir 70 tahun tapi masih saja dapat tugas kalau ada ibadah. Dalam 10 menit, diulang 2 kali. Khas orang tua.

Masih sampai disitu saja.

Klik untuk baca selanjutnya, Mbohae!

10 Renungan Sederhana di Hari Guru

Pertama-tama saya perlu tekankan bahwa saya tidak peduli apakah hari ini sebenarnya adalah hari guru, atau hari PGRI, atau bahkan hari OOM ALFA. Satu-satunya yang saya pedulikan adalah Mamak saya dengan bangga menelepon saya untuk bilang bahwa hari ini adalah hari guru, dalam posisi saya sedang jadi moderator sebuah presentasi survei kepuasan pelanggan.

43_Pak_Guru

Kedua, saya tidak akan pernah lupa masa-masa miris kehidupan saya yang kemudian membuat saya se-emoh-emoh-nya jadi guru. Mungkin sejak kelas 3 SD sampai awal kuliah periode itu ada. Tidak miris-miris amat kalau dipikirkan sekarang, sih, tapi ketika itu saya sampai harus menggunakan buku rekondisi sebagai buku tulis baru saya di awal tahun ajaran. Bapak saya yang guru lurus itu menggunakan buku bekas ulangan murid, disobek bagian yang sudah terisi, kemudian menggabungkan 2-3 bekas buku ulangan sehingga menjadi 1 buku “baru”. Jadi kalau teman-teman yang lain memakai buku isi 40, saya bisa memakai buku isi 36B, 38, hingga 44. Saya juga tidak punya tas baru selama 3 tahun saya belajar di SMP. Saya juga harus membantu orangtua membungkus dagangan kalau saya tetap ingin jajan. Sekadar mengantar es mambo atau kerupuk ke kantin, bukan lagi hal yang saya anggap memalukan. Ya, aneka peristiwa itu membuat saya merujuk pada suatu kesimpulan: jadi guru itu kere. Kalimat itu kemudian mengantarkan saya pada pilihan, pokoknya bukan guru ketika lantas memilih jalur di kuliah dan seterusnya.

Ketiga, saya tetiba ingat sebuah obrolan dengan mantan saya yang pertama (#uhuk). Klik Untuk Membaca Selengkapnya, Mbohae!

Bernyanyi Dengan Hati

Hari ini saya berasa anak soleh, walau masih tetap kalah soleh dibandingkan Soleh Solihun. Bukti bahwa saya anak soleh adalah saya dua kali beribadah di hari Minggu ini. Bukan apa-apa, kebetulan ada jadwal tugas bernyanyi di dua misa, di dua kota (Jakarta dan Tangerang), dua provinsi (DKI Jakarta dan Banten), yang untungnya terjadi di dua jadwal yang punya rentang waktu 8 jam. Jadi saya masih bisa mengejar jadwal kedua dengan naik bis dari tempat ternama di Tangerang.

“slamik,slamik,slamik…”

Sebuah teriakan khas awak bus yang mengacu pada daerah Islamic, pintu masuk area Lippo Karawaci dan sekitarnya.

EDIT CFX 3

Yup, kisah soleh pertama hari ini adalah bernyanyi bersama anggota PSM Cantus Firmus yang sudah tidak Mahasiswa lagi, di Santa Helena, Lippo Karawaci. Sebenarnya, sebagai umat Katolik pada umumnya, cuma nyanyi di misa itu sangat biasa. Lagu-lagunya juga pasti biasa. Bahkan seperti yang pernah saya tulis sebelumnya di blog Catatan Umat Biasa, untuk bernyanyi pada misa, banyak koor yang latihan alakadarnya, bernyanyi alakadarnya, dan segala hal yang sungguh alakadarnya.

Bukan hal yang aneh ketika ada koor 1 suara dengan peserta koor adalah cabutan yang diperoleh 15 menit sebelum misa dimulai. Juga bukan hal yang aneh melihat anggota koor sama sekali nggak melirik ke dirigen ketika bernyanyi. Bukan apa-apa, ketika tugas, itu adalah kali pertama dia melihat teks yang dinyanyikan itu. Profil semacam itu sudah sangat biasa, dan jelas terbilang menurunkan prestise koor misa itu sendiri. Mungkin hanya koor saat perayaan besar semacam Natal dan Paskah yang dipersiapkan benar-benar.

Makanya, ketika diminta bernyanyi (hanya) di sebuah misa, tampaknya adalah biasa saja.

Tapi ternyata tidak demikian adanya.

Sebagai contoh, sekadar bernyanyi lagu berjudul “Kemuliaan”, sejatinya orang Katolik yang misa tiap minggu pasti bisa menyanyikan itu sambil merem, bahkan kalau nggak ingat itu sedang di gereja, boleh jadi mereka akan menyanyikannya sambil kayang. Percayalah, bahwa meski lagu itu sangat besar isinya, tapi sebagian umat menyanyikan lagu itu sekadarnya saja. Termasuk juga saya.

Nah, ketika tadi saya merinding (hanya) ketika menyanyikan lagu tersebut, pasti ada yang aneh. Hal yang sama juga terjadi ketika saya ikut serta menyanyikan lagu-lagu lainnya, termasuk tiga lagu Komuni yang all english. Beneran bikin saya kudu ke London. *oke, ini tidak berhubungan baik*

Bernyanyi sambil merinding menurut saya hanya bisa dicapai pada tataran tertentu dalam rasa. Saya sering bernyanyi–maupun duduk di bangku koor sambil lipsync–dan tidak selalu tataran itu tercapai. Memang, tataran itu butuh aneka prasyarat untuk bisa digapai.

Dan salah satunya bernama kerinduan.

Kerinduan untuk bernyanyi bersama sebuah paduan suara bernama Cantus Firmus. Well, ini tidak sekadar bertemu teman lama. Banyak anggota koor tadi pagi yang beneran baru saya kenal. Bagaimana tidak, mereka angkatan 2009, Juni 2009 baru masuk. Padahal Mei 2009 saya sudah cabut, kerja di Palembang. Mereka ranum, saya ra(e)nom. Yup, akhirnya saya menemukan dua poin utama.

Kerinduan dan Cantus Firmus.

Kerinduan bernyanyi dalam naungan Cantus Firmus itulah yang kemudian masuk ke hati dan menyebabkan lagu yang rutin dinyanyikan setiap pekan itu mendadak menjadi menggetarkan. Kerinduan itu memicu saya dan tampaknya beberapa yang lain untuk bernyanyi dari hati. Apalagi ketika kemudian salah satu lagu yang dinyanyikan adalah lagu andalan segala angkatan, saya sih menangkap beberapa mata yang berkaca-kaca ketika lagu itu dinyanyikan.

Begitulah. Bernyanyi mungkin biasa, namun ada faktor penting yang kemudian bisa membedakan output dari nyanyian itu, namanya hati 🙂

Jangan Benci Berlebihan

Harga BBM naik, dan tentu saja segala rupa respon terjadi. Mulai dari pemilih Jokowi yang menyesal, pemilih Jokowi yang mendukung, pendukung Prabowo yang mendukung kenaikan harga BBM, sampai pembenci Jokowi yang tampaknya akan terus membenci Pak Presiden sampai kumis Hitlernya itu berubah jadi keriting dan pirang. Ya, semua bisa memberikan respon. Saya sendiri bukannya nggak terpengaruh. Kalau boleh dibilang, dari sisi dompet akan sangat terpengaruh. Beda dengan kenaikan 4500 ke 6500 yang terjadi ketika gaji saya masih melimpah ruah, kenaikan dari 6500 ke 8500 ini terjadi justru ketika finansial saya sedang kembali fitri. Oh, bukan, saya bukan sedang bermain Cinta Fitri. Mereka sudah nikah, saya belum.

Problematika Presiden ini memang terlalu mengemuka. Saya tentu saja ikut serta menyimak. Saya langsung update status begitu melihat bahwa Putri Mahkota ada di jajaran menteri. Saya juga pernah menulis di sebuah forum–dan alhamdulilah nggak banyak yang baca–soal pertanyaan besar dari saya perihal Kartu Indonesia Sehat yang entah mengapa tiba-tiba ada sementara BPJS juga sudah ada. Tapi apapun, saya berusaha untuk tidak membenci keadaan ini secara berlebihan.

Soal benci berlebihan ini tetiba mengemuka begitu saya membaca sebuah pesan dari seorang teman yang ditulis di grup pada aplikasi bikinan dan milik Yahudi. Tulisannya kira-kira begini:

2Rb wat iuran mbah mega plesiran kluar negri n tambahan uang dinaa jokowi klo kluarnegri kan dia bisa ajak anak, bktinya kmren KRRC bawa anak nya. hahha g pernah liat dl SBY DL kluarnegri bawa ibas. Pa agus harimurti. Hahahha. Kampret.

Selanjutnya, Mbohae!

Curcolinggerus

Judul apa ini? Nggak tahu, tadinya mau bikin curcolicious tapi kok sudah ada yang bikin. Ya, sebenarnya judul ini juga menguji apakah pembaca ariesadhar.com ini ngeres atau nggak. Intinya sih pengen curcol. Curhat sambil colek-colek.

Beberapa pekan terakhir saya beneran menghabiskan waktu dengan ngeblog sebanyak mungkin. Tidak disini pastinya, karena saya sangat menjaga kemurnian blog ini. Seperti diketahui bersama bahwa sebagian isi blog ini yang saya anggap kotor (aha!) sudah saya pindahkan ke alfarevo.blogspot.com, jadi intinya kalau yang ada disini adalah yang sudah terpilih dan sesuai dengan visi misi ariesadhar.com yang sedang dirumuskan dalam rapat Renstra yang digelar di Timbuktu, biar uang dinasnya banyak.

Beberapa pekan terakhir, saya masuk ke banyak blog dalam rangka mencari referensi. Saya kemudian lihat beberapa blog yang lumayan kece dari sisi konten, dan juga sudah dilirik oleh beberapa vendor untuk melakukan review. Tetiba saya bingung, kok blog ini belum ada yang ngorder buat review? Kalau dibilang dari sisi performa, ada yang pageview-nya belum lagi 100.000 tapi sudah ngereview. Ada yang Alexa-nya dibawah 4 juta, sudah ada yang order. Ada yang pageview per bulannya masih lebih rendah dari blog ini, juga dikasih job. Ada yang baru pacaran, tapi sudah nikah aja. Saya kapan? #loh #kokjadikawin

Kadang–karena sirik–saya jadi merasa bahwa perjalanan saya di tulis menulis ini semacam mentok. Blog ini pageview-nya mentok di 500-600 per hari, masih jauh dari standar dilirik iklan. Tulisan yang saya kirim ke media massa juga masih ditolak-tolak aja. Novel? Saya masih susah payah menyelesaikannya, sementara para penulis lain yang segenerasi dengan saya di penerbit, sudah proses buku kedua bahkan ketiga. Ikut lomba? Nggak pernah menang. Yang ada malah tulisan saya dicopas di blog orang, atau di meme yang beredar tanpa sedikitpun mencantumkan sumbernya, lalu cuma dibilang “hehehe… aku kan cuma repath”.

Iya, saya merasa mentok dan lantas bertanya, apakah hobi ini cukup berguna untuk dilanjutkan? Apakah cukup mampu untuk dipakai nyicil rumah? Apakah bisa dipakai untuk nabung buat tiket ke London? Apakah Rhoma Irama masih mencintai Ani?

Nah, sambil nggerus itu saya kemudian mencoba melakukan hal yang berbeda. Saya pergi ke sebuah kafe, sendirian kayak jomlo, dengan membawa notebook milik pacar yang untuk setahun ke depan jadi hak milik saya. Di kafe itu sambil ambil tempat di pojokan sambil keramas dan kemudian membuka laptop untuk menulis. Saya menulis dari 10.45 sampai sekitar 15.15, cukup lama dan diselingi nasi goreng kampung yang belinya di kota plus dua gelas minuman. Hasilnya cukup memuaskan diri sendiri, hampir sepertiga dari naskah yang sedang saya tulis bisa berubah bentuk dari sekadar ide yang lari-lari di kepala menjadi sebuah file yang bisa dibuka. Sekarang naskah itu boleh dibilang sudah jadi, sedang saya tes pembaca. Nanti 1-2 minggu lagi siap dikirim ke penerbit.

Sambil mengenang di KRL–yang kebetulan jalurnya adalah jalur saya pulang pacaran dulu–saya kemudian menyadari bahwa saya menulis karena saya suka, bukan karena saya ingin blog ini menghasilkan uang. Saya menulis karena saya ingin, dan toh pencapaian saya nggak jelek-jelek banget. Saya punya blog yang punya pembaca tetap, saya punya buku–yang masih diusahakan terus biar laku, dan yang terpenting saya punya kemampuan ini, yang baru saya sadari kalau eksis sesudah saya diberi tawaran menjadi DSP Section Head, dan lantas saya tolak.

Saya kemudian sadar bahwa menulis seharusnya bukan semata-mata soal uang. Well, monetisasi blog itu tentu masih menjadi PR saya, tapi saya sekarang tidak menjadi stress soal itu. Setidaknya saya punya karya yang bisa saya banggakan walaupun modelnya masih rintisan begini. Daripada orang yang lantas terkenal hanya karena nge-path soal kota tertentu, atau karena mempermalukan guru adiknya di FB, padahal guru adiknya ya nggak salah. Yup, saya mengutip pernyataan seorang penulis, mari menulis saja terus, dan kemudian perhatikan apa yang terjadi.

Salam nggerus!

Menerima Komedi

Jadi ceritanya saya baru–barusan aja–kena marah sama kakaknya pacarnya temannya adek saya. #nahlohbingung. Si temannya adek saya nongol di newsfeed lagi di bandara, mau balik ke suatu kota yang mana daripada saya pernah hidup disana selama 2 tahun. Baca profil saya aja biar tahu ya. Nah saya komen beberapa, salah satunya bilang kalau LDR di kantor saya yang lama itu biasanya putus. Sudah saya tambahkan hashtag untuk memperjelas kesan bercandanya, sudah saya tambah haha dan hehe. Menurut saya sih sudah cukup ya? Oh, bahkan hipotesa saya sudah dibantah dengan lugas dan tegas–juga dengan bercanda–oleh temannya adek saya. Ya sudah saya kalah. Mestinya cukup kan ya?

Ternyata nggak, saudara-saudari. Saya kena semprot sama kakaknya pacarnya temannya adek saya. Katanya saya harus berhati-hati untuk berkomentar, katanya lagi YOUR WORD REPRESENT YOUR PERSONALITY. Yah, berhubung saya juga nggak kenal dengan kakaknya pacarnya temannya adek saya itu, saya nggak perlu ajak ngopi-ngopi untuk meluruskan suasana. Eh, suasana kok lurus?

Saya cuma mau cerita. Mirip dengan kisah yang barusan saya komen. Kebetulan saya dan pacar kan LDR, nih. Beberapa hari sebelum pacar berangkat ke London, teman di Balkes, Mas Didit cerita tentang temannya. Teman itu namanya Ari (juga), dulu kerja di market leader (juga), dan ditinggal LDR ke luar negeri (kebetulan yang ini New Zealand, malah lebih dekat). Ceritanya pahit habis. Si laki-laki itu sudah bela-belain pindah agama, eh si perempuan pulang dari New Zealand malah bawa cowok bule!

Mas Didit bercerita dengan gamblangnya, dan beberapa kali bilang, “hati-hati loh, Mas”. Saya sih hanya ketawa saja. Kalau saya mau, saya bisa banget untuk tersinggung ketika Mas Didit bercerita kisah itu sepanjang perjalanan dari Cibiru sampai Cikarang Baru.

Ya, seperti yang saya ceritakan di tulisan tentang menulis komedi, dahulu saya adalah orang amat-sangat-mudah-tersinggung. Sampai saat ini, dalam beberapa situasi hal itu muncul sih, tapi selalu berusaha saya redam. Saya berusaha mengubah diri dengan cara menulis komedi. Saya tulis disitu bahwa hal-hal yang bikin tersinggung itu kadang bisa ditertawakan. Dan menurut pengalaman saya, daripada tersinggung, lebih baik tertawa. Makanya, ketika Mas Didit cerita itu, saya memilih tertawa. Apapun yang terjadi nanti, ya terjadilah. Yang jelas cerita Mas Didit nggak bikin saya tersinggung, saya dan Mas Didit tetap baik-baik saja, dan saya malah bisa belajar untuk tidak seperti yang diceritakan oleh Mas Didit.

Memang, ada hal-hal yang membentuk saya. SMA di De Britto, gaul di UKF Dolanz-Dolanz, hingga DCFC, semuanya sangat pedas dalam berkata-kata. Kalau diturutin tersinggung terus, seperti yang saya alami di awal-awal SMA, sayanya malah stress gila. Memang kalau urusan jodoh itu sesekali bisa bikin spaneng. #apacoba.

Sebenarnya pelajaran juga bagi saya untuk bercanda. Sebagai penulis yang mengarahkan produknya ke komedi, baik di blog maupun di buku, saya terbiasa menulis bebas, sesuka saya, lha wong blog-blog saya, buku juga buku saya. Si kakaknya pacarnya temannya adek saya tadi ada benarnya untuk meminta saya hati-hati menulis di wall/status/foto seseorang. Boleh juga, sih. Beneran saya harus belajar untuk memilih dan memilah serta untuk mengerti bahwa tidak semua orang bisa menerima sebuah komedi. Makasih loh, Mbak.

Saya berani komen seperti itu, karena bapak-bapak DCFC juga pernah berkomentar hal yang sama kepada saya. Sekali lagi, saya bisa tersinggung, tapi ketika itu saya tidak memilih untuk tersinggung, dan benar sesuai yang teman saya bilang, LDR saya itu justru berakhir ketika saya sudah tidak LDR kok. Bahkan ketika saya dibercandai, “sudah dibelain pindah malah putus” ya akhirnya tetap biasa saja. Kalau ingin dituruti, ya sedih juga kan ya?

Begitulah pelajaran hari ini. Semoga si teman baik-baik saja sama kakak iparnya, sebaik saya dan calon adik ipar saya. Serta sebaik adik saya dan calon kakak iparnya. Amin.

Supir APB 04 Yang Ramah

Kantor saya sekarang berada di sekitar Jalan Percetakan Negara. Salah satu angkot yang beredar adalah Angkutan Pengganti Bemo nomor 04 jurusan Salemba hingga Rawasari pulang pergi. Dimulai dari depan YAI (seberang UI), masuk di dekat Sevel, terus lewat Rutan Salemba dan menyusuri Jalan Percetakan Negara sampai habis hingga kemudian sampai di sekitar Rawasari sebelum perempatan bawah tol. Sehubungan dengan kemalasan saya naik motor di Jakarta, jadilah si BG lebih banyak diam. Mobilitasnya jauh menurun dibandingkan waktu saya di Cikarang yang bisa pulang pergi Jababeka Lippo sehari dua kali kalau weekend.

Tidak ada yang istimewa ketika saya menaiki APB 04 ini. Semuanya biasa saja. Supir-supir yang main suruh orang turun di kemacetan rel antara Sentiong-Kramat juga ada. Pokoknya impresinya kalau nggak biasa, ya buruk.

Sampai ketika saya naik APB 04 yang ini.

IMG20140919115119

Dari luar, dia seperti APB 04 pada umumnya. Sampai kemudian di kompleks Bank Mandiri ada sekelompok pelajar turun.

Selanjutnya, Mbohae!

Bukan Plagiat, Tapi…

Pagi ini saya ngepet, uhm, nge-Path sih tepatnya. Sedang geser-geser sana-sini, tetiba saya sampai pada sebuah posting yang aneh–menurut saya. Langsung saya buka posting Path itu, lalu saya baca, dan ya benar saja. Benar-benar patah hati. Ini dia postingannya.

Screenshot_2014-09-25-08-11-40 (1)

Kenapa patah hati? Karena konten gambar rePath-an itu adalah sepenuhnya diambil dari tulisan saya ketika jadi pengangguran yang berjudul 97 Fakta Unik Anak Farmasi. Harusnya senang dong, tulisannya di-share? Ehm, iya senang. Tentu saya senang ketika karya saya jadi bahan untuk mengenang dan ketawa, namun satu hal yang kurang adalah gambar yang berisi tulisan copasan itu nggak mencantumkan sumber tulisannya. Ya, memang, ini era bebas. Copas mengcopas adalah hal yang lumrah di dunia internet cepat buat apa ini. Makanya, saya nggak bisa marah, saya hanya bisa patah hati.

Sebenarnya, nggak ada yang diuntungkan disini. Beda dengan sebenarnya.com, yang jelas-jelas melakukan klaim, siapapun yang membuat tulisan ini sama sekali tidak menginginkan keuntungan. Tidak ada nama, dan tidak ada apapun yang ditampilkan, selain tulisan. Saya yakin si pembuat sepenuhnya hanya ingin tertawa. Tapi, plis, bisakah sekadar menulis sumbernya saja? Tulisan saya di beberapa blog juga ada, beberapa bahkan tanpa backlink, tapi tetap saya iyakan tanpa patah hati karena setidaknya menulis nama saya atau menulis alamat blog tempat tulisan aslinya berada. Sebuah tulisan tidak tiba dari langit, even itu tulisan paling kacau sekalipun. Sebuah tulisan butuh proses, sama halnya dengan lagu, dengan lukisan, atau dengan karya lainnya.

Saya juga nggak hendak mencari tahu siapa yang nge-rePath. Nggak penting juga. Toh, nggak ada pihak yang diuntungkan. Sayapun secara langsung tidak dirugikan. Saya cuma ingin teman-teman semua berada pada posisi ketika karya kita beredar tanpa kita tahu, dan tanpa ada apapun yang mengidentifikasikan bahwa itu adalah karya kita. Coba saja rasakan.

Pro Path

Begitu saja. Posting ini tidak sesuai timeline blog ariesadhar.com ataupun blog oomalfa.blogspot.com karena ini memang semata-mata posting patah hati. HEHEHEHE *tertawa pilu*

Oya, selamat hari farmasis sedunia! Saya bangga jadi apoteker, walaupun sertifikat kompetensi saya sudah habis masa berlakunya.

5 Kebiasaan Unik di Grup WhatsApp

pablo (4)

WhatsApp. Siapa yang kenal istilah itu sekarang? Hampir semua orang punya smartphone, dan aplikasi WhatsApp adalah aplikasi wajib yang terinstall di telepon pintar tersebut. Aplikasi besutan Brian Acton dan Jan Koum ini kemudian menjadi sangat jamak digunakan. Okelah ada Line atau Kakao yang iklannya begitu masif, apalagi soal stikernya, tapi nyatanya WhatsApp tetap menjadi pilihan. Menurut saya, pilihan WhatsApp adalah karena dia menjadi pemain pertama di aplikasi chatting lintas platform. WhatsApp awalnya dibuat untuk iOS, dan kemudian merambah ke Android dan lainnya. Apalagi, pada saat yang sama Blackberry masih asyik dengan ide eksklusivitas BBM. Jadilah, WhatsApp menjadi solusi chatting bagi pemilik BB dan ponsel lainnya.

whatsapp-logos-1024x795

Salah satu fenomena yang kemudian menjadi relevan adalah grup WhatsApp. Sekarang orang-orang sekantor pasti punya grup WhatsApp. Grup WhatsApp juga digunakan oleh rekan-rekan segenerasi. Ada grup WhatsApp yang isinya adalah eks murid TK Pertiwi tahun 1976. Ada grup WhatsApp yang isinya orang-orang yang tumbuh dan besar di Kampung Ngadirejo. Ada grup keluarga besar Ompung Raja. Ada juga grup WhatsApp berisi mantan-mantan seorang gadis yang sama. Bahkan, semacam terlalu over, grup WhatsApp itu menjadi sangat banyak tergantung keperluan. Grup orang kantor berisi level manajer sampai OB, dibuat oleh bos untuk tujuan kemudahan komunikasi. Pada saat yang sama, para level kroco kemudian membuat grup WhatsApp sendiri untuk nge-share guyonan garing hingga gambar PNS Bandung yang ternyata bukan PNS, bahkan juga bukan CPNS.

Mbohae!