Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

Kumpul Bocah Lagi

KUMPUL BOCAH! Ini salah satu kegiatan paling menyenangkan, sekaligus menyebalkan, yang hampir tidak pernah saya lewatkan sesudah berdomisili di dekat ibukota. Ternyata, oh, ternyata, dunia farmasi itu nggak jauh-jauh dari ibukota. Sebagian besar teman sepermainan saya ketika kuliah, pada akhirnya bekerja, berkeluarga, dan membeli rumah di sekitar Jabodetabek. Tentu saja semua tidak lagi sama. Bukan zamannya lagi seperti era baru berdirinya perkumpulan bernama UKF Dolanz-Dolanz yang bisa dengan seenaknya menetapkan tujuan dan beberapa jam berikutnya sudah sampai di tempat yang dimaksud. Sudah bukan waktunya lagi.

Oya, buat nostalgia, lihat-lihat gambar di awal berdirinya UKF Dolanz-Dolanz ini dulu.

Pantai Ngobaran, 2005
Pantai Ngobaran, 2005

Cukup alay, bukan?

Bagaimana dengan ini?

Pantai Ngobaran, 2005
Pantai Ngobaran, 2005

Kemaren cerita-cerita dengan temen yang berasal dari kuliahan lain, dan dia memuji model persahabatan yang dijalin oleh saya dan para Dolaners ini. Dia bilang kalau di tempatnya memang guyub pas kuliah, tapi kalau sudah lulus ya sudah sendiri-sendiri.

Nah, bagian mana sih yang unik itu?

Kumpul bocah Dolaners Jabodetabek ini dihelat pada momen-momen khas. Beberapa yang sudah terjadi adalah sesudah pernikahan, sesudah lahiran, istri lagi nggak di rumah, hingga final Liga Champions. Yang terakhir ini, meskipun tampak absurd, tapi sudah kelakon 2 tahun berturut-turut loh.

Dan, sialnya, setiap kali kumpul bocah begini, saya selalu kejatahan bully. Tentu sazah! Di saat yang lain sudah jadi Bapak, atau sudah berhasil merintis jalan jadi Bapak, saya masih saja jomblo. Udah. Gitu. Tapi nggak apa-apa, obrolan sekurangajar apapun, kalau keluarnya dari sahabat-sahabat sendiri, rasanya kok biasa-biasa saja. Dan sejujurnya, mereka-mereka dengan mulut kotornya ini yang sukses mengubah saya dari seorang-yang-amat-sangat-gampang-tersinggung menjadi seseorang yang dengan mudah mengumbar hal-hal konyol di blog, bahkan di buku saya, Oom Alfa.

Dolaners ini bahkan mengingat dan membuat urutan sendiri untuk pernikahan. Sejauh ini yang sudah terselenggara adalah #1 (Jogja), #2 (Jogja), #3 (Jogja), #4 (Lampung), #5 (Jogja), dan #6 (Pangkal Pinang). Adapun #7, #8, dan #9 sudah dibooking oleh masing-masing pemilik pasangan. Jadi, sisa 2 digit. #Okesip. Memang semakin lama akan semakin sulit untuk bisa menghampiri kondangan satu-satu, apalagi ada yang kondangannya terhitung jauh. Jadi, sesi kumpul bocah adalah perwujudan-ketidakbisaan-datang-kondangan itu.

Nah, kumpul bocah kemaren menjadi luar biasa karena mempertemukan dua bocah beneran yang adalah produk dari pasangan-pasangan yang sudah menikah. Jadi, ketemuannya sudah jelas berbeda. Kalau dulu kuliah ya sekadar nongkrong di tangga sehabis menimpa ilmu demi masa depan bangsa, lalu dilanjut ketemuan dengan pasangan masing-masing, sekarang sudah ada bayi yang merangkak di antara percakapan kami.

Waktu memang terbang begitu kencangnya.

Dengan sederet jadwal kondangan Donalers di 2014, tentu saja pertemuan macam ini bukan yang terakhir. Semoga saya masih tetap bisa ikutan, dan semoga di kesempatan berikutnya saya nggak lagi jadi korban bully. *pacar mana pacar*

Well, yuk disimak lagi gambar berikut:

Paingan, 2005
Paingan, 2005

Dan bertransformasi menjadi:

Bekasi Timur, 2014
Bekasi Timur, 2014

Kapan kita kemana?

Jika Teman Menjadi Seorang Penulis

Minggu lalu saya mudik ke Bukittinggi. Walaupun tidak ada darah Minang dalam pembuluh saya, tapi tetap saja kota kiri kanan gunung itu adalah tempat kelahiran saya. Pas di rumah, saya iseng menanyakan nasib OOM ALFA yang dulu pernah saya kirim ke rumah. Jawabannya setengah manis, separuh ngenes.

“Ini sudah dipinjam orang Garegeh sebulan.”

*hening sambil nggerus*

Dipinjam. Baiklah, ini memang baik atas nama awareness atas penulis bernama ArieSadhar. Cuma akan lebih baik kalau orang-orang yang minjem dari Bapak saya itu, beli OOM ALFA. Harapan sederhana seorang penulis.

Di era sekarang ini bermunculan banyak penulis baru, termasuk saya. Masuk ke dalam belantara kreativitas itu sejatinya bukan hal yang mudah. Untuk bisa masuk saja sudah butuh usaha keras bertahun-tahun–dalam kasus saya. Begitu masuk, penulis-penulis baru itu juga harus berjibaku agar bisa survive. Dan sebenarnya, ada orang-orang terdekat yang bisa membantu penulis baru untuk bisa melakukan itu semua.

Teman.

Soal kata teman ini, saya jadi ingat obrolan di Tapian Nauli diiringi lagu Menyesal oleh Ressa Herlambang. Adek saya bilang, “kalau teman itu menusuknya dari belakang, kalau musuh dari depan”. Agak jleb juga sih. Tapi kadang-kadang, dalam petualangan menjadi penulis baru yang berusaha eksis, sesekali pengen membenarkan pernyataan adek saya itu.

Ya, teman sebenarnya adalah lini pertama yang diperlukan penulis baru untuk mencari apresiasi atas karyanya. Teman jugalah yang sangat memungkinkan untuk menjadi corong promosi munculnya seorang penulis baru. Tapi kadang-kadang, teman juga bisa melakukan tindakan dalam konteks bercanda, yang lama-lama jadi nggak lucu. Nah, berikut beberapa pertanyaan yang bisa jadi terlontar dari teman. Coba dicek, kalian pernah mengalami atau mengucapkannya nggak?

Gue nunggu gratisannya, deh!

Syukurlah, ketika OOM ALFA meluncur, teman yang mengucapkan kalimat ini nggak banyak, tapi ya tetap ada. Bahwa saya adalah pecinta gratisan, mungkin ini adalah sebagian dari karma. Dalam konteks bercanda, kalimat di atas sih nggak ada salahnya. Cuma, ketika yang mengucapkannya sudah lebih dari tingkat kejenuhan, lama-lama ya bikin bete. Bagaimanapun buku adalah sebuah karya, dan karya itu ada nilainya. Masak sih, kita menghargai karya teman kita dengan gratis alias nol?

Lain kisah jika gratisan yang dimaksud adalah seperti yang pernah saya buat, giveaway gitu. Bos DP, senior saya, bahkan merelakan diri di usianya yang sudah 30 tahun itu ngeblog soal benda mati, demi bisa dapat giveaway OOM ALFA. Padahal secara kantong, saya yakin dia bisa beli OOM ALFA dua puluh lusin dengan sekali mengedipkan mata. Ya, ketika ada yang menyenggol saya itu bagi-bagi buku dalam konteks kuis atau giveaway setidaknya niatnya lebih mulia daripada bilang “GUE NUNGGU GRATISANNYA!”

Sekadar info aja, dalam setiap penerbitan sebuah buku, penulis memang mendapat sejumlah tertentu sebagai bukti terbit. Tapi jumlahnya ya paling sekitar 5-20 buku saja. Itupun nggak sekadar dikasih untuk dibagi-bagikan. Penulis baru harus pintar-pintar memanfaatkan jumlah itu untuk bisa menjadi strategi promosi. Ada yang menjadikannya hadiah lomba, ada pula yang mengirimkannya kepada reviewer terkemuka agar awareness bisa meningkat. Walaupun kami ini penulis bukunya, tapi tentu saja nggak bisa tahu-tahu datang ke gudang penerbit lalu minta buku untuk dibagi ke teman yang berkata, “minta buku lo, dong!”

Oya, dalam kasus OOM ALFA, bahkan dua adek saya saja beli OOM ALFA dan tidak minta gratisan ke abangnya. Tentu saja, karena mereka tahu, harga OOM ALFA itu nggak seberapa dibandingkan keuntungan yang bakal mereka peroleh ke depannya dengan permintaan, “Bang, minta duit.”

“GUE MINTA SOFTCOPYNYA AJA YA!”

Mungkin memang saya yang terlalu melankolis, ya itulah kenyataannya. Mungkin itu juga yang membuat kalimat sakti ini menjadi sangat menyakitkan bagi saya. Yah, kami-kami penulis baru itu berjuang ngetik untuk bisa menelurkan sebuah buku. Naskah penulis baru itu nggak terjun payung dari langit dan lalu mendarat di sebuah folder di laptop. Belum lagi kalau menghitung proses edit-mengedit dengan deadline yang belum biasa kami lakoni. Ada darah dan air mata dibalik softcopy yang diminta oleh teman itu.

Ah, jangankan naskah buku. Sekadar tugas sekolah atau kuliah yang sudah kita kerjakan dengan susah payah saja, kita nggak akan rela kalau tiba-tiba ada teman yang minta softcopy-nya kan? Buku pertama bagi para penulis baru itu sudah seperti anak pertama dan pacar pertama. Jadi, umumnya penulis baru akan mendadak posesif.

Saran saya sih, jangan pernah mengucapkan kalimat itu kepada teman yang statusnya adalah penulis, apalagi penulis baru.

Halah, udah kaya masih aja pelit! Kan udah jadi penulis buku!

Percayalah, kalimat kampret ini pernah saya dengar sendiri. Memangnya apa hubungan penulis buku dengan kekayaan? Mungkin ada, kalau kita bicara Raditya Dika yang buku Cinta Brontosaurus-nya saja sudah dicetak lebih dari 37 kali. Tapi kalau bicara penulis baru? Sama sekali nggak relevan.

Penulis buku dengan skema penerbitan standar–non indie–umumnya baru akan mendapatkan royalti dalam periode 6 bulan sesudah buku diterbitkan, setelah sebelumnya mendapat uang muka royalti. Jadi, kalau punya teman penulis baru, ya janganlah minta makan-makan pas royalti belum turun.

Jadi, jangan anggap royalti yang diterima penulis itu adalah langsung ditransfer begitu sebuah buku terjual di toko. Ini bukan skema auto debet. Plus, jangan juga melontarkan kalimat di atas kepada penulis buku yang sedang berjuang mempertahankan performa bukunya agar tidak dikembalikan ke gudang penerbit. Ucapan itu seolah-olah bermakna bahwa buku si penulis baru itu laku banget, padahal nyatanya kebalikannya.

Sebagai teman, tentunya kita bisa mengatur kata-kata.

Lo ngerjain buku sambil kerja ya?

Kalimat sakti yang satu ini nggak akan dialami penulis semacam Kevin Anggara yang masih pelajar, tapi akan mengena banget bagi penulis baru dari kaum pekerja kerah putih kayak saya. Faktanya memang saya kerja kantoran, dan pada saat yang sama saya bisa jadi penulis buku. Ah, jangankan saya. Ada Roy Saputra, ada Ika Natassa, dan banyak penulis lain yang punya pekerjaan dan jabatan mumpuni, tapi tetap bisa menjadi penulis buku.

Kalimat di atas memang tampak menuduh bahwa saya menyalahgunakan jam kerja untuk menulis buku. Well, tapi ada loh yang bilang begitu. Satu-satunya cara menyikapinya adalah mengelus dada. Dada sendiri, bukan dada Jupe, apalagi Dada Rosada.

Buat saya pikiran semacam itu tergolong picik. Lagipula, misal saya lagi asyik bikin Working Instruction nggak mungkin juga saya nulis naskah. Menulis naskah membutuhkan imajinasi dan aneka lainnya yang amat sayang jika disambi dengan mengerjakan pekerjaan rutin. Saya juga nggak mau menyia-nyiakan naskah saya atas sebuah tulisan yang nggak oke, karena dikerjakan tidak dengan fokus pada jam kerja. Tenang saja.

Teman yang sebenarnya…

Seperti saya bilang tadi, teman yang sebenarnya adalah teman yang memberikan apresiasi. Teman-teman yang kirim WA, atau ngetwit, lalu nanya, “buku lo udah ada di sini belum?” dan beberapa jam kemudian mengirimkan foto OOM ALFA, adalah contoh teman yang mengapresiasi karya penulis baru macam saya. Atau seperti Bayu, teman kos yang bisa saja pinjam OOM ALFA punya saya, tapi justru memilih menunggu kesempatan mampir ke Gramedia dan lantas membelinya.

Atau seperti yang dilakukan oleh adek saya dengan berpromosi ke teman-temannya untuk membeli karya abangnya. Pun yang dilakukan oleh teman-teman dekat yang mengintimidasi saudara-saudaranya untuk mencicipi karya saya sebagai penulis baru. Langkah-langkah sederhana ini sebenarnya yang dibutuhkan oleh para penulis baru sebagai bentuk dukungan, bukan bercanda yang lama kelamaan menjadi tidak lucu dan bikin bete.

Sekali lagi, mungkin memang saya yang terlalu sentimentil, tapi seperti yang pernah dimention Stevan Purba ke saya, bahwa kami-kami para penulis baru ini butuh apresiasi lho. Sesungguhnya apresiasi itulah yang akan membuat kami penulis baru bisa eksis di dunia perbukuan ini.

5 Sinetron Penting Untuk ArieSadhar

AHA! Bisa duduk manis di depan tivi kos sambil nonton bola plus ngeblog itu sebenarnya sebuah kesenangan tersendiri. Apalagi sejak ada anak kos baru yang punya hobi mengherankan bagi saya. Hobinya nggak tanggung-tanggung, nonton sinetron! Sebenarnya nonton sinetron itu biasa, sih, dibandingkan nggerus. Cuma agak nggak cocok untuk tampilannya yang sangar, plus kerja di pabrik metal. Sungguh, tampang megatron, hati sinetron.

Ya, sejak ada dia, saya nggak pernah lagi menikmati prime time di depan tivi, soalnya dia sudah nangkring di depan tivi bersama remote, untuk menyaksikan petualangan Haji Sulam mencari kitab suci. Jadi, ya sudah, saya menggalau saja di TL kalau begitu.

Ngomong-ngomong soal sinetron, saya jadi mengenang bahwa dahulu kala saya juga pernah jadi penggemar sinetron. Hal begini nggak harus ditutup-tutupi kok, soalnya saya menggemari sinetron pada zaman “Bulan Bukan Perawan”, dan bukannya “Tukang Bulan Naik Haji”. Dan setelah saya kenang-kenang, ternyata ada lima sinetron yang penting bagi saya, dengan makna penting yang berbeda-beda.

Apa saja itu?

Ini dia.

1. Angin Tak Dapat Membaca

Kata sinetron bagi saya sudah pasti langsung terasosiasi pada judul empat kata ini. Soalnya, di tahun 1995 itu adalah kali pertama saya bisa menonton televisi selain TVRI. Saya berhasil menonton RCTI dengan sebuah antena yang dibuat dari rakitan besi dan sebuah komponen penting berupa…

…tutup panci. Percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya.

Nah, “Angin Tak Dapat Membaca” ini adalah sinetron yang tayang sore hari menjelang makan malam. Jadi masih masuk zona waktu boleh nonton. Ditambah judul yang aneh bagi seorang anak SD, plus soundtrack yang cukup catchy, akhirnya sinetron yang salah satunya dibintangi Adam Jordan ini menjadi momen perkenalan saya pada sesuatu bernama sinetron. Didukung oleh adegan pakai kuda, padang pasir, sampai helikopter, sungguh bikin anak muda yang biasanya nonton Dunia Dalam Berita jadi terkesima.

2. Janjiku

Sinetron ini tayang sekitar tahun 1996-1997, ya kira-kira sekitar waktunya saya sunat. Jadi, saya sunat memang menunggu sinetron Janjiku ini tayang, meskipun sunat tidak ada hubungannya dengan sinetron. Tentu saja ditayangkan di RCTI karena saya hanya bisa nonton TVRI dan RCTI saja. Dibintangi oleh Tante Paramitha Rusady yang waktu itu tampak sebagai wanita yang tsakep dengan andeng-andengnya.

Sebenarnya bukan sinetronnya yang jadi penting disini, tapi dua soundtrack yang dua-duanya dinyanyikan oleh Tante Mitha, di awal dan di akhir. Bisa dibilang lagu-lagu di sinetron ini adalah peralihan koleksi lagu-lagu saya dari “Si Lumba-Lumba” ke lagu-lagu berkonten percintaan. Nggak apa-apa, kan sudah sunat.

3. Tirai Kasih Yang Terkoyak

Kalau boleh jujur, saya pun nggak ngerti ini sinetron ini ceritanya gimana. Lalu kenapa sinetron ini menjadi penting bagi saya?

Untuk sebuah alasan yang kurang penting.

Jadi kalau pada ingat aktor tampan yang namanya Ryan Hidayat, nah sinetron ini adalah sinetron terakhirnya. Berhubung waktu bungkus es di sore hari saya nontonnya Kabar-Kabari atau Cek n Ricek, jadi dengan terpaksa saya mendengar kabar bahwa dia meninggal di usia 26 tahun. Nah, entah atas dasar apa, saya jadi ogah menonton sinetron yang oleh produsernya di-state jelas-jelas bahwa ini adalah sinetron terakhir Ryan Hidayat.

Bahkan sinetron percintaan yang dibintangi oleh aktor yang sudah meninggal saja saya takut. Mungkin ini efek dari saya yang juga selalu sembunyi pada saat film wajib G30S/PKI ditayangkan. Yah, sungguh cupu memang saya ini. Untunglah di zaman itu, nggak ada film semacam “Nenek Gayung Kesurupan Suster Ngesot”.

4. Cinta

Nah, ini penting banget. PENTING BANGET! Sinetron yang dibintangi oleh Primus Yustisio–si Panji Manusia Milenium, Atalarik Syach, dan tante Desy Ratnasari ini menjadi momen penting saya untuk mengenal adegan agak dewasa di sinetron.

Jadi, jangan tanya saya apa jalan cerita sinetron ini atau apa akhirnya. Nggak tahu. Yang saya tahu, kala itu Atalarik adalah adeknya Primus. Sedangkan Tante Desy adalah pacarnya Atalarik. Pada suatu malam yang dingin, Primus agak berkonflik dengan Tante Desy yang kemudian diakhiri adegan sobeknya kaos putih punya Primus.

Nah, sesudah ini, muka keduanya berdekatan, dengan dialog-dialog yang panas, dan kemudian diakhiri lenyapnya kepala keduanya dari layar kaca. Adegan sesudahnya? Tante Desy mandi sambil galau, atau mungkin galau sambil mandi. Dan beberapa scene kemudian Tante Desy diceritakan positif hamil. Gila ya, sungguh tepat waktu sekali untuk melakukan hubungan terlarang itu. Kok ya jadi. Ealah.

5. Bawang Merah Bawang Putih

Rentangnya kemudian cukup jauh hingga lantas ada sinetron penting terakhir bagi saya. Ini adalah sinetron yang dibintangi Revalina sama Nia Ramadhani. Well, kenapa menjadi penting? Tentu saja karena sinetron inilah yang mulai mempopulerkan teknik syuting zoom ke muka yang kemudian ganti ke zoom muka lainnya. Ini dia yang bikin pusing. Lah gimana nggak pusing kalau dikit-dikit kepala, lalu ekspresi bibir dan mata yang berlebihan, dan kemudian berganti kiri kanan.

Berkebetulan pada saat itu berdekatan dengan mulainya saya merantau, sehingga akses ke tivi jadi berkurang. Klop deh! Sejak saat itu, saya nggak ngerti sekali tentang sinetron. Ya, tahu-tahu dikit kalau Cinta Fitri itu jumlah episodenya melebihi bintang di langit dan pasir di toko bangunan depan Pasimal. Plus sekarang kadang-kadang terpaksa menyaksikan Tukang Bubur Naik Haji gegara anak kos dengan selera gaib ini.

Tayangan sejatinya soal selera, jadi saya juga nggak mempersalahkan anak kos metal pecinta sinetron ini. Cuma jadi agak aneh karena dia memperlakukan tivi di kos ini tidak demokratis. Lah, anak kos banyak, tivi cuma 1, 5 orang yang nggak suka sinetron, kok dia malah nangkring duluan dengan sinetron yang kemudian memaksa saya dan yang lainnya untuk mendekam nggerus di dalam kamar.

Ya sudah. Tampaknya lelaki pecinta sinetron sudah bersiap nongkrong, saya cabut dulu ya. CIAO!

+1

Iya. Hari ini umur saya berkurang lagi dari jatah entah berapa yang sudah ditentukan. Sudah dua puluh sekian, dan sekiannya banyak. Sebagai Capricorn, mereview pencapaian pada usia yang sudah dilalui sebenarnya susah-susah gampang, karena hampir mirip dengan review tahunan yang kebetulan sudah saya buat.

Jadi sudah ngapain aja di usia yang baru saja lewat ini?

Tentu saja bernapas.

Dalam 1 periode revolusi bumi itu pula saya menahan-nahan ketidaksukaan saya pada bidang logistik, ya, sampai hampir muntah rasanya. Sampai pada level tertentu, saya bisa melakoninya dengan baik, tapi ketika pemberontakan hati terjadi, mulai deh pekerjaan jadi bubar satu demi satu. Yah, untunglah untuk hal ini sudah ada jalan keluar.

Di usia yang baru lewat ini juga banyak tempat baru, dan tentu saja menggandeng pengalaman baru. Muara Gembong, berikut paket perjalanan-awalnya-ketakutan-tapi-ujungnya-ketagihan ketika naik eretan. Ada pula Semarang yang saya jelajah sendirian dengan referensi dari Google. Plus aneka mall di Jakarta yang saya sambangi hanya untuk melihat OOM ALFA nampang disana.

Soal cinta? Nah, ini dia. Nggak punya pacar dari ulang tahun sampai ulang tahun lagi itu semacam nggak biasa. Sudah lama nggak, soalnya. Tapi bukan berarti nggak ada yang naksir loh. Ada, tapi ya, kok ndadak bertingkah aneh-aneh. Mulai dari pakai acara titip salam ke banyak orang, padahal kan punya nomor HP saya, sampai ada pula yang menginthili kehidupan per-social media-an saya.

Men, ada gitu cewek yang buka-buka koleksi foto FB saya 2-3 tahun yang lalu, dan dengan gamblangnya ketika saya tanya, “tahu dari mana?”, eh dijawab “dari FB”. Stalking kok ngaku, ini tentu saja disebut gaking, gagal stalking. Ya, gaking sampai nongol di setiap kehidupan per-social media-an saya, berikut hobi bikin status #nomention yang mengarah ke saya… itu kok malah bikin ngeri. Jadi, ya sudahlah, mari di-setting supaya mereka mendapatkan jodoh yang lebih baik daripada saya. Amin.

Soal benda mati, ada tambahan Tristan dan Eos, sama ada juga smartphone baru, merk lokal. Beginian mah pencapaian biasa banget. Orang-orang lain pada usia saya malah sudah beli rumah dan mobil. Agak telat gaul memang saya ini.

Nah, pencapaian yang mungkin terbesar tentu saja benda ini:

Oom Alfa

Iya. Akhirnya, sesudah penantian yang cukup panjang. Mulai dari penantian tanpa usaha, usaha itu sendiri, sampai penantian sesudah berusaha, akhirnya nama ArieSadhar bisa nongkrong sendirian di cover sebuah buku. Cover yang menurut kawan-kawan tergolong kece. Good job, Ika! 🙂

Nah, OOM ALFA inilah yang kemudian membawa saya kepada sebuah konteks pergaulan baru, yang benar-benar baru: sebagai penulis. Saya hidup di 2 dunia jadinya: manufaktur dengan segala hal yang seketat cawet, serta industri kreatif yang benar-benar membutuhkan imajinasi liar untuk mencari hal yang sungguh-sungguh baru. Awalnya bingung, tapi lama-lama nikmat juga. Dan agaknya akan terus begitu sampai jangka waktu yang cukup panjang.

Di usia yang baru lewat itu juga saya mencoba meraih lagi sesuatu yang diinginkan oleh orang tua saya. Nanti, kalau sudah tiba saatnya pasti akan saya kisahkan disini. Tenang saja.

Entah kenapa juga, di umur yang sudah lewat itu, saya lumayan banyak terjun “melayani”. Ya, namanya begitu, tapi saya sendiri kadang nggak merasa itu pelayanan kok, soalnya saya suka. Nongkrong di Balkesmas sebulan sekali, serta terlibat lebih aktif di hari Minggu, di rumah Tuhan, sejatinya cukup menyenangkan.

Kekayaan paling utama yang saya terima di umur kemaren adalah relasi. Berkenalan dengan orang-orang bersemangat positif lewat Kelas Inspirasi, bertemu orang-orang kreatif di penerbit, bertemu anak-anak muda keren di komunitas blogger, pun ketemu anak-anak SD unyu pas ngajar KI, sampai bapak-bapak-yang-nyolong-susu-bekas-saya di sebuah kampung di mepet Karawang sana. Semuanya memberi nilai pada hidup yang tambah lama sebenarnya tambah susah ini.

Terima kasih kepada Tuhan atas usia yang masih dijatahkan kepada saya, atas dua orangtua yang luar biasa, yang tetap sehat sampai sekarang. Terima kasih atas berkat melimpah yang saya terima sepanjang dua puluh tahun lebih banyak mengarungi hidup ini.

Hari ini rasanya adalah hari ulang tahun dengan ucapan terbanyak. Mulai dari aneka grup WhatsApp, Twitter, Facebook, hingga langsung. Ya, meskipun kurang 1 orang, yang sejak 7 tahun lalu, baru sekali ini nggak ngucapin. Mungkin lupa, beberapa tahun yang lalu dia juga telat, kok. Yah, pokoknya, meski hanya tidur-tiduran melihat Cikarang banjir, saya cukup merasa keren hari ini.

Terima kasih, Tuhan. Lancarkanlah umur baru ini, agar saya bisa bertindak, demi kemuliaanMu yang Lebih Besar.

2013

Haloh, para pembaca ariesadhar.com, yang setia maupun yang kesasar oleh tag “video bokep”, saya selaku pemilik rumah kecil ariesadhar.com mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2014! Tahun baru sudah tiba dan saya masih jomblo aja.Hih!

Tahun 2013 yang barusan saya lewati di rumahnya Mbak Upi, secara umum memberikan makna hidup yang banyak. Secara karier tentu saja nggak ada apa-apanya, soalnya pas pergantian tahun 2012 ke 2013, saya adalah officer. Pas dari 2013 ke 2014?

Apa hayo?

Choir Instan

Tidak hanya mie yang instan di jaman sekarang ini. Sesuatu yang berlabel instan sudah menggejala di segala sisi kehidupan. Sebut saja artis-artis yang hamilnya instan. Dengan prengas-prenges sana sini nikah bulan Januari, eh bulan Mei sudah punya anak pertama. Begitulah contoh hamil instan. Tapi anak pertama itu nggak prematur juga sih. Jadi, ya saya bingung.

Salah satu jenis instan yang lantas saya cicipi adalah dengan menjadi anggota choir instan!

Jadi ceritanya saya diajakin sama seorang teman untuk ikut koor paroki, dalam rangka mau ikut sebuah lomba yang bahkan saya nggak tahu lomba apaan. Berhubung kebetulan jadinya tanggal 7 kemaren saya kosong jadwalnya, ya sudah saya ikut. Apalagi sebagai seorang jomblo berkualitas, malam minggu saya juga kosong. Nah, konfirmasi saya ikut itu adalah tanggal 6 jam 4 sore. Lalu saya baru ikut latihan pertama dan terakhir tanggal 6 jam 8 malam. Dan naik panggungnya? Tanggal 7 jam 12 siang.

Kalau mau dirunut kembali, saya mulai gabung tanggal 6 jam 8 malam, sampai kemudian turun panggung di tanggal 7 siang, itu bahkan belum 24 jam saya bergabung dengan koor ini. Benar-benar instan. Orang PDKT aja nggak banyak yang secepat itu langsung jadian.

Jadian? Hah?

Cerita Masa Kecil: Merindukan Air Hujan

Ini saya habis mandi sore. Dan sesungguhnya saya mandi sore juga tidak berkaitan dengan tahun baru atau bahkan pacar baru. Soalnya, nggak tahun baru pun saya juga mandi sore, kadang-kadang sih. Kalau dulu jaman kuliah dan jaman punya pacar, mandi sore itu wajib soalnya prasyarat makan bareng kala pacaran adalah sudah mandi. Entahlah ada korelasinya atau tidak.

Entah kenapa, sehabis mandi sore ini, saya mendadak ingat masa kecil. Sebuah masa yang menjadikan mandi sore adalah rutinitas yang cenderung tabu.

Kok bisa?

Kok bisa ya?

Perjalanan Spiritual

Saya memang absurd. Tapi saya tidak hendak membahas soal absurd itu karena absurd sudah dipakai oleh banyak orang. Salah satu contoh ke-absurd-an saya adalah rela-relanya melakukan perjalanan spiritual ke toko-toko buku semata hendak melihat buku saya Oom Alfa nangkring di toko buku.

Di Jakarta sendiri saya sudah bertualang mulai dari Plaza Semanggi sampai Pluit Village, mulai Central Park sampai Pejaten Village, semata untuk melihat buku dengan judul Oom Alfa di rak toko buku. Yeah. Begitulah saya.

Nah, berhubung konten Oom Alfa itu memuat tentang Jogja. Nggak afdol kalau saya tidak melakukan perjalanan spiritual ke kota asal kisah Oom Alfa ini. Termasuk juga pasar di sekitarnya, setidaknya Klaten dan Magelang. Dan dengan latar belakang yang juga absurd, akhirnya saya sampai juga ke Jogja dan sekitarnya, untuk kemudian bersama Bang Revo bertualang ke tempat-tempat yang kira-kira ada Oom Alfa disana.

Saking absurdnya saya, selalu ada kelakuan aneh. Semisal waktu mudik, saya berangkat ke Rumah Sakit Stroke Nasional hanya untuk bertanya apakah produk dari perusahaan tempat saya bekerja dijual disana atau tidak. Mungkin ini terkait dengan latar belakang profesional saya sebagai orang Supply Chain. Nah, hal yang sama saya lakoni di konteks Oom Alfa. Seperti saya bilang, Oom Alfa ini semacam anak saya. Dan saya ingin melihatnya berprestasi. Salah satunya tentu melihatnya nangkring, untuk dibeli orang.

Apa hasilnya dua hari, ratusan kilometer, bersama Bang Revo?

Jauh-jauh ke dua kota di sekitar Jogja itu, tidak ada Oom Alfa. Hehehe.

Nggak apa-apa, namanya juga perjalanan spiritual, tidak selalu kehendak yang diperoleh. Justru saya harus berpikir bagaimana usaha yang bisa saya kerahkan untuk memperluas cakupan si Oom Alfa ini. Dalam konteks yang sama saya bersyukur ada di penerbit dan jaringan yang ini, karena dari sekian perjalanan, saya lebih banyak menemukan Oom Alfa daripada tidak. Sementara di toko buku yang tidak ada Oom Alfa-nya, saya menemukan beberapa buku yang tidak saya temukan di toko yang ada Oom Alfa-nya. Ribet dah. Maksud saya, toh saya jauh lebih beruntung daripada beberapa penulis yang saya kenal, yang harus mengurus sendiri promosi bukunya.

Saya? Bahkan Oom Alfa hari ini masih jadi ava akun Twitter penerbit. Masih nggak bersyukur? Berarti saya gila beneran.

Sekarang saya hendak menyudahi tahapan perjalanan spiritual kali ini, dengan posting ini, di hari Blogger ini. Di saat yang sama, saya jadi nostalgia bareng Bang Revo, sebuah sepeda motor yang menjadi teman ketika saya sukses lulus sarjana 3,5 tahun dan menjadi benda yang paling berjasa dalam rampungnya skripsi saya.

Ah, sentimentil kali. 😀

Talkshow Perdana: Dari Blog Jadi Buku

Sambil menyaksikan kecerdasan Evan Dimas di lapangan hijau, saya mau posting dulu tentang talkshow perdana saya sebagai pembicara. Di usia yang sudah segini saya sih nggak asing dengan talkshow. Saya sempat jadi tukang pegang kabel, tukang bawain buku hadiah, hingga kemudian sempat menjadi MC.  Yang MC ini waktu pembahasan buku “Ekonomi Farmasi” karya Romo Spillane, dan itu sudah bertahun-tahun silam. Patokannya adalah beberapa peserta waktu talkshow itu sekarang sudah punya anak, malah sudah ada yang anaknya dua.

Suelengkuapnyuaaa

2 Hari Yang Aneh: Jadi Juri Lomba Twitpic

Hidup itu kadang aneh-aneh saja. Jadi ceritanya saya yang menahbiskan diri sebagai apoteker, blogger, dan penulis ini kejatahan menjadi juri lomba twitpic selama 2 hari, berturut-turut pula. Padahal kemampuan saya dalam fotografi juga nggak bagus-bagus bener, karena saya sendiri baru sekali jadi fotografer beneran, pas Kelas Inspirasi Bekasi.

Kalau lomba twitpic yang pertama sih memang kudu saya, karena merupakan konteks twitpic-nya Oom Alfa. Masak si Oom Alfa yang disuruh menilai? Apa ceritanya nanti seonggok sepeda motor dari abad pertengahan harus ngetwit memberi tahu soal pemenang lomba twitpic? Ya sudah, saya saja.

LANJUT GAN!