Cerita Masa Kecil: Merindukan Air Hujan

Ini saya habis mandi sore. Dan sesungguhnya saya mandi sore juga tidak berkaitan dengan tahun baru atau bahkan pacar baru. Soalnya, nggak tahun baru pun saya juga mandi sore, kadang-kadang sih. Kalau dulu jaman kuliah dan jaman punya pacar, mandi sore itu wajib soalnya prasyarat makan bareng kala pacaran adalah sudah mandi. Entahlah ada korelasinya atau tidak.

Entah kenapa, sehabis mandi sore ini, saya mendadak ingat masa kecil. Sebuah masa yang menjadikan mandi sore adalah rutinitas yang cenderung tabu.

Kok bisa?

Ya, bisa. Pokoknya bisa.

Keluarga yang dikepalai oleh Bapak saya (yaiyalah!) pindah ke rumah yang benar-benar rumah sendiri pada tahun 1995. Sampai presiden berganti, sejatinya nggak ada masalah dengan air. Ya macet-macet dikit bisa dimaklumi. Soalnya, rumah saya itu atasnya atas. Kalau pergi ke Bukittinggi saja nggak ada akses yang menurun, pasti nanjak. Nah, di Bukittinggi yang sudah menanjak itu, kalau mau ke rumah saya juga nggak ada opsi jalanan yang mendatar apalagi menurun. Tentu saja karena ini bukan TTS. Mungkin TTM. Intinya, amat wajar kalau air tidak bisa mengandalkan sekadar gravitasi untuk bisa sampai ke daerah kompleks perumnas tempat keluarga kami tinggal.

Sesudah presiden berganti, mulailah air ini menjadi masalah krusial. Dimulai dari jam-jam seret air, dan diakhiri dengan air yang tidak mengucur sama sekali, seharian. Wew. Bak mandi di rumah saya kosong melulu jadinya. Mengingat di rumah ada enam makhluk hidup yang harus diguyur, perlahan soal air ini jadi masalah besar. Orang tua saya tentu tidak tinggal diam. Berbagai jurus dikerahkan untuk mengatasi kelangkaan air ini. Tentunya dengan mengandalkan kekuatan anak cowoknya.

Siapa? Saya?

Tentu tidak. Saya sih anak cowok yang kurang berdaya tahan. Waktu kecil malah hampir mati gara-gara panas tinggi. Yang saya maksud adalah adek saya yang hanya berselisih 1 tahun 3 bulan. Dia fisiknya bisa diandalkan untuk urusan air ini.

Alasannya tentu saja karena letak sumber air yang menjadi solusi darurat. Ya, kompleks perumnas tempat kami tinggal itu bisa dibilang pinggir tebing. Bahkan tanah di sebelah rumah saya adalah bukit yang ditimbun tanah. Nah, dari pinggiran tebing itu saya bisa melihat dengan jelas sawah membentang di bagian bawah. Percayalah, kalau sampai rumah saya kebanjiran, itu pasti sudah merupakan masalah nasional, soalnya 20-30 meter dari rumah itu sudah “jurang”. Ini juga penyebab saya selalu menganggap rumah kebanjiran itu sesuatu yang aneh. Dari kecil nggak pernah kebanjiran soalnya.

Nah, dari pinggir tebing itu ada akses menuju daerah persawahan di bawah. Jalannya? Setapak. Jauhnya? Ya dekat, tapi karena tinggi jadi melelahkan. Tapi disana ada air. Maka dua anak lelaki harapan orang tua ini berjuang dengan membawa jerigen gede ke bawah sana. Ini mah enteng. Ketika jeringen sudah diisi penuh, baru dah pusing kepala. Tapi akhirnya ya sampai juga di atas, dan air itu segera digunakan untuk keperluan rumah tangga. Saat itu, siapa peduli bahwa di jalan menuju sumber air itu boleh jadi ada ular, ada biawak, atau bahkan dinosaurus sekalipun?

Perkara menjadi berlanjut ketika perusahaan penyedia air nggak punya solusi apapun. Namanya rakyat ya pasrah. Perusahaan kampret itu tetap menarik bayaran loh. Luar biasa benar. Karena masalahnya berlaku umum seluruh penghuni kompleks perumahan, jadi sumber air su dekat itu nggak bisa jadi solusi terus menerus, selain juga kena komplain orang yang punya sumber air itu. Ya sudah, cari cara lain.

Dan meski tampak memalukan, ada satu cara yang akhirnya dilakukan. Membawa jerigen putih andalan tadi ke sekolah–tempat orang tua saya kerja plus tempat saya menempuh pendidikan–lalu mengisinya dengan air yang ada di sekolah, lalu bawa pulang. Saya nggak tahu semalu apa Bapak saya membawa satu jerigen air sepulangnya dia dari kerja, tapi yang saya tahu semuanya dilakukan demi kelangsungan hidup keluarga. Saya juga sudah lupa rasa malu ketika teman-teman melihat saya membawa jerigen putih kosong ke kantornya Bapak saya yang adalah kantor guru tempat saya sekolah. Entahlah, malunya sudah hilang mungkin, tapi kalau kemaluan masih ada. Dijamin!

Air dari sekolah ini kemudian menjadi andalan untuk minum dan juga jualan es. Nggak ada opsi galon waktu itu, maklum itu adalah masa ketika Kerajaan Singosari baru perang-perangnya. Lalu, buat mandi dan cebok dari mana?

Ini dia, opsi yang sampai sekarang selalu menjadi tanda tanya bagi saya: air hujan.

Bukittinggi adalah tempat dengan curah hujan cukup tinggi, jadi air yang bisa diandalkan ya tentu saja air hujan. Iya, kami sekeluarga mandi dengan air hujan selama periode yang–bagi saya–cukup lama. Kenapa tanda tanya? Ketika saya kemudian menempuh pendidikan sebagai apoteker, saya tahu betapa air hujan itu amat sangat tidak baiknya bagi manusia. Sepeda motor saja kalau habis kehujanan ada baiknya dicuci, lah saya malah mandi air hujan? Dan lebih kerennya lagi, saya tidak sering sakit meskipun mandi air hujan.

Dulu di depan rumah ada bangunan yang belum kelar, tapi sudah bikin lantai 2. Nah, begitu hujan besar, air dari proyek lantai 2 yang ketampung di lantai mengalir ke bawah dengan derasnya. Saya dengan bangga mengambil ember bekas cat, menampungnya, dan membawanya ke rumah. Untuk apa?

Untuk mandi, teman.

Pada akhirnya orang tua saya bahkan merelakan satu bak kamar mandi di rumah sebagai tampungan air hujan. Caranya, pipa paralon tampungan hujan dari atap rumah diarahkan ke bak mandi. Nah, memanfaatkan hukum Archimedes, di tepi bak juga dibuat lekukan yang akan menjadi tempat air keluar jika bak sudah penuh. Sejak saat itu, begitu hujan, maka di kamar mandi rumah selalu muncul suara air tumpah.

Tidak ada filter yang mumpuni. Satu-satunya filter hanya kaos kaki bekas yang dibuat untuk menampung daun bambu atau kotoran dari atap lainnya, agar tidak masuk ke bak. Udah, itu doang. Maka, air itulah yang kami gunakan untuk mandi dan cebok.

Tetangga-tetangga sudah beralih menggunakan sumur bor, tapi apa daya, biaya membuat sumur bor itu terlalu besar. Jadi, solusi ini adalah yang terbaik dari yang terburuk. Minus mallum.

Periode mandi air hujan ini bahkan masih berlangsung sampai saya meninggalkan rumah untuk menempuh pendidikan di Jogja. Sebuah periode absurd dalam hidup saya ini adalah catatan yang akan selalu diingat. Kalau sekarang sih, di rumah sudah ada sumur bor, air PAM-nya sudah jalan juga. Sama sekali nggak ada masalah.

Berada dalam masa kecil yang tidak mudah bagi saya adalah anugerah. Sama seperti sekarang ketika mudik saya melihat ada mobil, ada TV kabel, ada komputer, dan hal-hal lainnya. Saya justru membayangkan kalau benda-benda itu sudah ada sejak dulu, sejak saya masih di rumah. Apakah saya akan setangguh sekarang? Atau justru saya menjadi anak malas bin manja yang lantas nggak bisa apa-apa?

Semuanya yang terjadi dalam hidup memang untuk disyukuri🙂

Oya, masih banyak cerita masa kecil saya yang lain. Mulai dari pindah-pindah rumah, bungkus es, ikut bangun rumah, dan lainnya. Semoga ada waktu untuk menuliskannya disini.

7 thoughts on “Cerita Masa Kecil: Merindukan Air Hujan

  1. Gue juga dari kecil sampe lulus SMA mandi dan cuci piring pake air hujan yang ditampung di bak gede di belakang rumah, hanya sesekali mandi ke kali yang ada mata airnya. Gak pernah sakit tuh, paling parah yah demam+flu. Sekarang, gue jadi anak yang berbakti pada orang tua. Entahlah ada korelasi apa antara air hujan dengan bakti kepada orang tua.

    Like

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s