Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

Saya dan Jakarta

Sebagai pemuda harapan bangsa kelahiran kota nan kecil, mungil, merata, saya kini tinggal di Jakarta. Ibukota Republik Indonesia yang kata Koh Ernest sudah dikuasai oleh kaumnya. Sebuah kota yang oleh karena pilihan nan tersedia, lantas menjadi peraduan bagi siapapun untuk mencari nafkah. Siapapun itu termasuk saya. Sejujurnya, belum setahun saya menjadi penghuni Jakarta. Mungkin terlambat, karena teman-teman saya justru telah meninggalkan Jakarta.

Tadi kan saya bilang bahwa saya adalah pemuda kelahiran kota kecil, dan sampai usia saya ke-10 tempat terjauh yang saya jajah adalah Padangsidimpuan, kampung Mamak saya. Udah. Maka, ketika tahun 1997 ada program mudik bareng ke kampung Bapak, saya senang minta ampun karena akhirnya bisa menjejak Jawa dalam keadaan sadar. Sebelumnya ke Jawa pas usia 2 tahun. Mungkin satu-satunya yang saya ingat saat itu adalah pipis di celana.

Selepas Merak, saya dan adek-adek GANTI CELANA DI DEPAN MESJID. Sudahlah diturunkan sama Gumarang Jaya, tas banyak, harus nyari bis ke Jogja sendiri, pula. Kenapa harus ganti celana, karena kami sudah hitungan hari di dalam bis, dan akan menempuh perjalanan hitungan hari lainnya ke Jogja. Pas maghrib, diperolehlah bis itu dalam keadaan penuh.

Ketika saya berdinas ria sekarang ini ke Kendari, Palembang, dan lainnya, saya menemukan anak-anak kecil yang kecil-kecilnya sudah naik Garuda. Bersyukurlah kalian, nak, nggak kayak Om.

Continue Reading!

Kemajuan ariesadhar.com di 2014

Posting pertama di 2015. Baiklah, mungkin sudah pada muntab membaca kalimat barusan. Jadi saya coret saja ya. Posting pertama di 2015.

Tahun 2014 boleh dibilang menjadi lompatan besar bagi blog ini. Sebenarnya pengen nulis ini pas ultah kebangkitannya beberapa hari lagi, sih. Tapi daripada ketinggalan blog lain yang sudah ngepost dari tanggal 1, jadi ditulis sekarang saja ah.

Pada awal-awal 2014, blog ini masih standar belaka. Rekor view seharinya HANYA 316, itu juga karena ada orang yang search tentang Muara Gembong, dan memang masih sedikit artikel tentang Muara Gembong yang terindeks Google kala itu sehingga posting sayalah yang muncul terus. Standarnya ya 200-an. Apalah artinya 200 pageview sehari? Waktu itu, sangat banyak.

Ketika kemudian saya resign pada 5 Maret 2014, menjelmalah saya menjadi pengangguran terang-terangan. Maka, tidak ada cara lain mengisi waktu selain dengan mengerjakan pekerjaan kreatif seperti tidur siang sepuasnya sampai eneg, stalking FB mantan gebetan, dan menulis blog. Saya lantas membaca tulisan tentang fakta unik mahasiswa ITB. Nah, saya lalu bikin tulisan 77 Fakta Unik Mahasiswa Sanata Dharma. Tidak disangka animo terhadap tulisan itu luar biasa. Saya lalu bersemangat dan melanjutkannya dengan 97 Fakta Unik Anak Farmasi yang ternyata (lagi) animonya lebih banyak.

Tulisan tentang anak Farmasi itu pada akhirnya membuat saya sedikit lebih mudah memperkenalkan diri ketika masuk ke kantor baru yang notabene sebagian besarnya adalah Apoteker. Tinggal bilang, “Tahu tulisan 97 Fakta Unik Anak Farmasi? Nah, itu saya yang nulis.”

Cukup bangga.

Nah, di kala saya magabut di awal-awal kerja, maka muncul ide lagi untuk menulis fakta unik begitu. Kemudian setelah bekerjasama dengan adek saya, si Cici, muncullah ide untuk menulis 123 Fakta Unik Mahasiswa Jogja. Tanpa saya duga, tulisan inilah yang kemudian membuat pageview blog ini melonjak minta ampun, bahkan mencapai titik tertinggi yang bisa dicapai dan belum dikalahkan sampai saat ini. Untuk sebuah blog yang sehari-hari cuma sanggup 200 view, tiba-tiba menjadi satuan ribuan per hari, itu ngeri dalam arti bahagia.

Blog2

Namanya posting blog sudah pasti trending. Apapun yang naik, pasti akan turun. Supernya, saya kemudian iseng memasukkan posting itu ke Kaskus dan, voila, jadilah HT. Maka dalam bulan itu, pageview blog ini mencelat menjadi 40 ribu. Saya terharu dengan pencapaian ini, saking terharunya saya lalu meluk pacar. *untungnya sudah punya*

Continue Reading!

Tentang Kebelet Bilang Cinta

Salah satu hal yang saya sesali di tahun 2014 ini adalah minimnya karya monumental. Kalau tidak karena project bukunya Jamban Blogger yang judulnya Galau: Unrequited Love sudah bisa dipastikan tahun 2014 ini saya nihil buku. Padahal sejak 2012 saya sudah mewarnai dunia persilatan dengan buku-buku antologi yang berujung di OOM ALFA tahun 2013. Selain itu, kiranya semua penyesalan tertutupi oleh fakta bahwa saya punya pacar tahun ini.

Entahlah, saya itu kalau nggak sreg sama cewek, eh, plot, dijamin nggak semangat nulisnya. Ada 2-3 outline yang saya serahkan ke Elly untuk harapan buku kedua, tapi nyatanya juga saya sendiri nggak sreg sama outline itu. Berakhirlah dia pada tumpukan file yang mungkin akan kena defrag, saking jijiknya si Tristan sama isi outline itu.

Sampai kemudian Bukune bikin KAMFRET. Awalnya saya sih ngerasa nggak enakan buat ikutan, soalnya itu toh penerbit saya sendiri. Tapi ketika kemudian saya melihat di Twitter banyak penulis lain yang juga ikutan, maka saya bersemangat untuk ikutan. Bahkan, karena terlalu semangat saya sampai bersyukur bahwa KAMFRET itu diperpanjang sama Bukune. Padahal, dulu saya males banget sama lomba yang diperpanjang, sementara kita sudah buru-buru mengejar deadline. Dunia memang mudah berubah, Bung!

Continue reading!

Secuil Cerita Dari Citraland

Sejak jaman OOM ALFA eksis, saya sudah join Cantus Firmus. Nah, sampai sekarang saya menggelandang di ibukota nan lebih kejam daripada ibu bos ini, tersebutlah kisah Cantus Firmus lainnya yang sering dikisahkan di blog ini. Rupanya cerita tentang Cantus Firmus Extraordinary masih berlanjut. Sesudah manggung ceria di Karawaci, sekarang topiknya adalah ikut lomba. Manusia-manusia ini adalah banci panggung mendasar. Maklum, dulu pada jaman belia dan unyu-unyu labil di Jogja, panggung adalah jajahan reguler. Tugas wisuda? Jelas duduk manis di panggung. Dies Natalis? Malah dikasih panggung. Konser? Apalagi itu. Belum lagi lomba-lomba lainnya. Beresin kursi? Iya juga, sih. Bahkan konsep banci panggung ini sampai menelurkan konser yang kalau dipikir-pikir banyak uniknya, atas nama Poelang Kampoeng, medio 2013 silam.

Nah, ketika kebetulan sebagian orang sama-sama mencari segenggam reksadana di Jakarta Raya (include Bekasi, yang katanya dekar Mars), maka diada-adakanlah agenda berkumpul ria bersama dalam lomba yang semata-mata hanya mencari panggung belaka. Ditemukanlah panggung itu di sebuah mal milik enterpreneur terkemuka di negeri ini yang letaknya di Grogol Town sana. Sebut saja Citraland.

Saya sih saking siapnya mengikuti lomba ini jadinya cuma latihan sekali saja, itu juga dua minggu yang lalu. Cerita tentu saja hampir mirip dengan kemenangan di lombanya Mall @ Alam Sutera. Bagaimana mungkin mengumpulkan manusia yang berceceran di berbagai sudut Jabodetabek setiap pekannya? Ya, sulit. Lebih sulit daripada mencari jodoh di tumpukan jerami.

Janganlah berfokus kepada pupu
Janganlah berfokus kepada pupu

Sesiangan saya sudah tiba di halte Jelambar yang tidak jembar. Rencananya kami berkumpul di sebuah sekolah yang ada dekat sana. Satu-satu-satu datang, kumpul, dolanan asu, baru kemudian kita latihan. Masih belum komplet dan nyaris kagak ikutan karena jumlahnya belum 20. Hanya doa mama yang menemani langkah masing-masing agar sanggup jadi 20 orang. Halah, jangankan bahas jumlah orang. Sampai 3 jam sebelum manggung saja masih ada sesi belajar not kembali. Sungguh super pokoknya.

Baca selengkapnya, Mbohae!

Salah Kaprah Tentang PNS

Seperti biasa, begitu ada Presiden baru dan kabinet baru, yang pertama kali disasar adalah PNS. Entah mengapa selalu jadi demikian. Bahwasanya PNS yang main judi di kantor memang masih ada, bahwasanya PNS yang jomlo juga masih banyak, tapi tentu kita tidak bisa menutup mata pada PNS-PNS yang baik hati dan tidak sombong serta rela lembur tanpa dibayar. Bagi saya, menjadi PNS yang lurus dan tidak merepotkan negara itu sudah jauh lebih mulia daripada ngomyang melulu tentang negara di Twitter tapi kemudian diajak masuk ke dalam lingkup birokrasi nggak mau, dengan alasan nanti terkontaminasi. Ini lebih ke arah lucu bin ironis. Kita mengeluh bahwa para pelaku birokrasi alias PNS itu bobrok, tapi kemudian kita merelakan jalannya negara ini pada mereka yang sudah kita anggap bobrok itu. Aneh kan ya?

pns-eselon-jabatan130516b

Satu hal yang pasti, PNS dimanapun berada adalah penggerak dan pekerja. Menteri secakap apapun, kalau PNS-nya loyo, kerja mereka nggak akan paripurna. Saya kemaren menghadiri sebuah seminar yang pembicaranya adalah PNS eselon I-nya Bu Susi. Dan pembicara itu memberikan apresiasi awal kepada Bu Susi, alih-alih resisten. Yang begini tentu saja bagus. Lalu kemudian ada pembicara lain–di seminar yang lain–yang bilang, “mana kita dapatnya menteri partai pula!”. Hal sejenis ini boleh jadi preseden buruk bahwa ada perbedaan perspektif yang menjadi bahaya laten. Latentofive. *nyanyik i will fly into your armmm….*

Nah, supaya agar lurus, mari kita sibak beberapa salah kaprah yang beredar di muka umum tentang PNS sejak kabinet baru ini dilantik.

Selanjutnya, Mbohae!

Email Resign Anti-Mainstream

ROADTRIP

Seumur hidup, saya baru sekali merasakan resign. Kalau sekadar pindah tempat kerja, sekali juga. Kalau kawin? Belum, sih. Nah, perkara resign ini sangat khas. Namanya juga pekerja swasta, ketika tidak betah, atau ketika disingkirkan pelan-pelan oleh teman sejawat, atau ketika ada tawaran lain yang lebih baik, tinggal pindah dong ya? Ketika berpisah, umumnya ada sekadar sapaan perpisahan by email. Tentunya ini berlaku bagi level yang memang jamak berkomunikasi via email. Kalau yang resign satpam, nggak perlu juga pakai email resign.

images5

Perihal email resign ini selalu saya perhatikan dan simpan di folder khusus. Jadi saya tahu bahwa ada sebagian orang yang copy paste email resign yang lain dengan hanya mengganti nama belaka. Ada juga yang nulis sendiri tapi sebatas 1-2 kalimat. Saya cuma mikir aja, ini kan resign dan akan sulit kita berkomunikasi lagi dengan orang-orang di perusahaan itu, jadi, kenapa kita nggak bikin email resign alias email perpisahan yang anti mainstream? Sesuatu yang bisa dikenang oleh orang banyak bahwa kita itu unik, dan saran saya sih nggak usah mengirim email resign pada sejawat yang menyingkirkan kita. Nanti dia lonjak-lonjak kegirangan.

Ketika saya pindah unit, dalam perusahaan yang sama, saya membuat email perpisahan lokal dengan judul Terima Kasih. Dan ketika saya resign beneran, maka saya harus membuat email sekali seumur hidup yang keren. Ini dia emailnya.

emailnya

Sebenarnya, Itu Tulisan Saya!

Adalah kebiasaan bagi saya untuk mencari perkembangan share tulisan saya via Twitter. Maka, saya cukup rajin mengetik 97 fakta unik atau 77 fakta unik. Dua keyword itu merujuk ke dua tulisan saya yang termasuk dalam kategori best pageview di ariesadhar.com ini. Tapi sore ini saya justru terkejut ketika yang muncul justru link milik sebenarnya.com ini.

http://www.sebenarnya.com/2014/04/77-fakta-unik-mahasiswa-usd-yogyakarta.html

Sengaja saya printscreen juga, karena basic saya auditor. Saya butuh bukti yang bisa disimpan.

SEB1

Kelihatan banget di bagian awal website sebenarnya.com itu, dan ketika diklik tentu saja yang muncul adalah:

SEB2

Pakai tertulis ‘hak cipta dilindungi oleh’. Wew, ini si pembuat website tahu definisi hak cipta nggak ya? Soalnya, sudah jelas dan saya bisa pastikan bahwa 77 Fakta Unik ini adalah murni tulisan saya, benar-benar hasil tarian jemari saya.

SEB5

Saya menulisnya tanggal 12 Maret, siang hari, di kos-kosan Kedasih, karena waktu itu saya pengangguran. Dan memang tulisan itu segera menjadi tulisan paling populer di blog ini, sehingga bisa mencapai 5000 pageview lebih dalam hari kemunculannya. Banyak yang komen, banyak yang nge-share dan banyak yang memberikan feedback bagus dan sudah saya kumpulkan untuk di-launch lagi pada saat yang tepat.

Lalu maksud si pemilik sebenarnya.com ini apa ya? Mencari apa dengan memosting tulisan saya hanya dengan mengganti judul ‘Sanata Dharma’ menjadi ‘USD’? Ah, mungkin buat indeks Google, dan notabene dia berhasil.

SEB4

Sejujurnya, ini pertama kalinya saya mengetahui tulisan saya dicopas mentah-mentah begini. Tentu saja, blogger lain banyak yang sudah dan mungkin sering mengalami ini. Rasanya sungguh semacam putus cinta, kecewa, sedih, gundah, dan sejenisnya. Kenapa? Karena saya benar-benar menggarap seluruh tulisan di blog ini tanpa copas. Mungkin memang ada tulisan yang mengambil referensi lain, tapi pasti saya kasih link, atau memang ada satu yang saya lupa link-nya karena itu saya ketik dari kertas. Tapi itupun saya tuliskan dengan jelas bahwa itu bukan tulisan saya.

Menjadi sangat gila ketika di bagian akhir, makhluk abstrak pemilik website ini kemudian mencantumkan begini:

SEB3

Dia menggunakan COPYSCAPE untuk sebuah tulisan yang copy paste. Plus, dia menulis artikel original hanya di link itu. HAHAHAHA. Entahlah si author yang tertulis bernama Donny ini benar-benar paham soal hak cipta atau setidak-tidaknya penghargaan intelektual pada karya orang lain atau tidak. Apalagi dia hanya menulis ‘facebook’ sebagai sumbernya. Even kita tahu bersama kalau di Facebook itu sudah pasti ada link aslinya.

Saya dulu pernah ingin copas, tapi apa daya tangan saya nggak bisa mengikuti kehendak otak untuk copas. Dia semacam pengen berhenti dan nyatanya kalau memang saya copas, ya saya copas idenya. Bahwa posting 77 Fakta Unik ini memang idenya menginduk pada 100 Fakta Unik tentang ITB, plus gaya Roy Saputra dalam ‘hal yang tidak boleh dilakukan’. Content? Saya bisa pastikan itu asli.

Iya, mungkin saya terlalu membesar-besarkan masalah copas ini, karena ini adalah kasus pertama saya. Tapi bukankah orang yang setia pada perkara kecil, baru layak dipercaya untuk perkara besar? Bagaimana jadinya negeri ini jika blogger copas dibiarkan? Ini memang perkara kecil, sebuah tulisan dengan total pageview belum sampai 10 ribu, tapi ini adalah tendensi negatif bagi berkembangnya karya di negeri ini.

Hmmm, Mas Donny atau siapapun yang ada di balik sebenarnya.com, kalau pengen tulisan itu tetap tayang, ya monggo, tapi kasih link ke sumber asli, tanpa mengklaim itu menjadi milik situ. Atau kalau justru ribet, ya silakan dihapus. Semoga hidupnya nyaman dengan copy paste ya.

STOP PLAGIARISME!

Memang Cuma Ngupload

Iya, semalam suntuk saya bergeje ria atas nama ngupload, beneran hanya sebuah aktivitas bernama ngupload alias mengunggah file ke dunia maya.

Jadi nggak perlu saya ceritakan kenapa saya harus ketiban pulung ketemu dengan si ngupload ini, dan sudah saya kisahkan sebelumnya bahwa sinyal di kamar kos baru saya sebenar-benarnya soak. Jadi, saya berpikir bahwa akan halnya alay-alay sevel, saya juga bisa memanfaatkan WiFi-nya di Sevel. Ya kan?

Sebenarnya bisa sederhana kalau saya ngupload file-file yang jumlahnya sekitar 200 MB itu di kamar kos, seperti yang bisa saya lakukan dengan damai di Kedasih. Dan yang sederhana ini menjadi parah ketika saya masuk ke Sevel dan nanya password WiFi, dan hanya dijawab bahwa WiFi-nya rusak.

Jadilah saya ke Sevel itu beneran hanya nebeng naruh laptop. Akses si Tristan ke dunia maya menggunakan modem sohib sejatinya dia. Yang memang sudah hampir sebulan ini nggak dipakai gegara sinyal soak kosan.

*sebulan apanya, baru juga 11 hari*

Proses ngupload di Sevel ini ditandai dengan pertemuan dua lelaki, dua meter di sebelah saya, dengan percakapan:

“Hobi kamu apa?”

“Ayah ibu dimana?”

Sumpah, saya jadi serem sendiri. Ini dua-duanya cowok, bro! Sejujurnya saya hampir nggak pernah nanya ke sesama cowok, “hobi kamu apa?”

Sesudah dua lelaki itu, muncul dua wanita dengan curhat cinta masing-masing dan dengan bangganya bilang satu sama lain.

“Halah, kalau kisah gue mah bisa banget dibikin novel,” kata salah seorang gadis dengan logat yang saya paham bener. Palembang. Ini Sevel apa Pak Raden, sih? Belum tahu aja dia kalau di sebelahnya ada penulis buku Oom Alfa. Hih! Belum tahu apa dia kalau kisah cinta diam-diam saya ditolak penerbit? Lu kate bikin buku itu segampang bilang kalau kisah cinta kita pantas dijadikan novel?

Sepanjang baterainya Tristan yang syukurlah di ulang tahun pertamanya ini masih bisa tahan 3 jam, akhirnya 8 file berhasil saya unggah dengan penuh darah dan air mata, ditunjang segelas kopi Sevel yang lupa saya kasih gula. Sungguh pahit kan hidup ini jadinya?

Nah, 8 file itu belum apa-apa karena masih 42 lagi yang belum terunggah. Njuk aku kudu piye tuips? Aku kudu menek terus ngomong pucuk pucuk ngono?

Ya sudah. Pagi tadi saya capcus jam 5.15 pergi ke Lawson dekat kantor. Jadi mau hari kerja apa hari Sabtu, sama aja bangunnya. Harapannya tentu saja jam 5 belum banyak manusia dan jalur WiFi-nya cuma milik saya. Demi melancarkan urusan, saya beli segelas milo dan sepaket sushi. Biar ingat pacar yang doyan sushi.

Pas nanya password WiFi juga dikasih dengan baik. Sudah mau senang saja…

…sampai kemudian sesudah dicek, eh koneksinya limited. Dafuq. Untung saya bawa modem, dan untung di Lawson itu ada ATM BCA. Dengan mengais-ngais isi rekening saya isi pulsa si modem dengan paket seperti biasa ketika gaji saya masih banyak. Anggap saja masih kaya. Lalu saya mulai ngupload file satu per satu.

Dan ternyata juga seret abis. Fiuh.

Untungnya, tetiba malaikat muncul dalam diri seorang gadis manis yang saya tembak beberapa waktu yang lalu. Iya, untunglah saya punya pacar yang kece, baik hati, dan belum gemar menabung. Mungkin dia kasihan karena saya kemaren bobo jam 11-an dan bangun jam 4, dia langsung nyuruh saya ke kosnya untuk mengupload file-file itu, karena akses di kosnya memang lebih kece. Even si modem juga performanya baik-baik saja kalau di kosnya. Tristan juga performanya mumpuni kalau di kosnya pacar. Memang, semuanya konspirasi semesta, kalau deket-deket si pacar tetiba jadi bagus, kalau dekat saya malah nggak. Siaul.

Eh, btw, si pacar sendiri juga lagi nggak di kosan. Jadi bayangkan saja cowok jauh-jauh ke kos pacarnya bukan buat macar tapi buat ngupload. Hore bener kan ya.

Iya, ini memang cuma ngupload, tapi saya jadi alay Sevel Rawamangun, jadi alay Lawson Percetakan Negara, lalu lari ke Bintaro yang lumayan jauh dari kosan hingga akhirnya saya berhasil menuntaskan 80% gawean ngupload ini.

Iya, memang cuma ngupload.

Oya, saya jadi meluputkan jadwal nyari kos baru yang dekat kantor hari ini. Semoga kos incaran belum digebet orang. Sama satu lagi, saya jadi bingung ini nanti gimana caranya saya bisa sampai Cikarang yah kalau sampai sesore nanti saya masih berkeliaran di Jakarta Selatan hingga Tangerang Selatan ini.

Ah, besok itu tugas mulia, sesusah apapaun jadwalnya, pasti besok saya bisa sampai ke Cikarang dengan baik dan tampan.

Amin.

5 Hal Yang Diperlukan Oleh Cowok Yang Tidak Ganteng Untuk Mendapatkan Pasangan

Kalau cewek harus berhadapan dengan kenyataan hidup bernama PMS setiap bulannya, maka kalau cowok harus berhadapan dengan kenyataan hidup bahwa cowok itu harus berusaha dan berjuang agar tidak jomblo. Tidak jomblo ini definisinya dua, dari jomblo agar menjadi tidak jomblo, atau dari tidak jomblo agar jangan sampai menjadi jomblo.

Memang, dari 7 miliar lebih manusia di dunia, cewek lebih banyak jumlahnya. Akan tetapi, perkara jumlah itu tidak menjamin cowok akan menjadi lebih mudah untuk tidak jomblo. Lah, konstelasi hidup menyebabkan cowok berada pada posisi memilih dan cewek yang dipilih. Okelah cowok sudah memilih seseorang, tapi kalau seseorang itu ogah dipilih ya jadinya penolakan.

*kemudian gantung diri di pohon ubi jalar*

Nah, salah satu hal yang mungkin menjadi pertimbangan dalam memilih dan dipilih itu adalah tampang. Ya, coba cewek mana yang nggak klepek-klepek kalau melihat mas-mas dan mbak-mbak ini, formulasi ganteng dan cantik:

download

images

Ya, mungkin sudah takdir alam bahwa yang ganteng itu bakal dapat yang cantik. Eh, nanti dulu. Kalau memang logikanya begitu, bagaimana kisahnya dengan mas-mas dan mbak-mbak ini?

download (2)

images (2)Ya, okelah, mungkin memang keduanya sudah cerai. Foto-foto di atas jadul punya. Tapi kalau yang ini masih eksis berpasangan dan tetap tampak kece:

download (1)

NAH! Saya yakin, dalam terminologi apapun seorang Bacary Sagna nggak bisa dibilang ganteng jika dijejerin sama Lee Min-ho. Tapi nyatanya bininya cakep banget. Artinya? Ya, nggak perlu tampang ganteng maksimal untuk bisa menggaet cewek cantik.

Kalau saya ganteng nggak?

Tentu saja, tidak. Kalaulah ada yang bilang saya ganteng itu paling juga Emak saya. Dan emak-emak lain di dunia pasti bilang kalau anaknya ganteng. Itu adalah bentuk kewajaran ilmiah. Bahkan adek saya sendiri nggak pernah mengakui bahwa saya ganteng, apalagi para mantan saya.

Kalau Sagna saja bisa mendapatkan istri cantik jelita tiada dua, mestinya kita-kita yang nggak ganteng ini juga bisa. Nah, berikut beberapa hal yang diperlukan oleh cowok-cowok kurang ganteng untuk mendapatkan pasangan.

1-5

Reportase Ngawur: Bakti Sosial Pasca Banjir 2 Maret 2014

Jika dalam lagu ‘Pada Hari Minggu’ orang-orang pergi ke kota sambil duduk di muka Pak Kusir yang mengendali kuda supaya baik jalannya, maka lain halnya dengan Tim Pelayanan PITC pada hari Minggu, 2 Maret yang lalu. Dengan menggunakan mobil dan bukan delman, sejumlah orang yang dipilih untuk melayani ini justru pergi ke Perumahan Villa Mutiara Jaya di Desa Wanajaya, Cibitung. Tentu saja orang-orang ini tidak hendak tamasya, karena kalau tamasya mereka pasti pergi ke Ancol, yah, atau setidak-tidaknya Taman Seribu Janji.

IMG-20140302-WA0007

Selengkapnya!